Thursday, April 14, 2011

Pindahan!

2006-2011.

Nggak kerasa. Waktu cepat sekali berlalu. Menjelang 5 tahun menempati rumah maya ini, saya merasa sudah waktunya pindah. Ke tempat baru, dengan suasana baru, yang (moga-moga) lebih nyaman dari sebelumnya.

Dan inilah alamat baru saya:


Monggo, monggo. Silakan dikunjungi, disinggahi, dikomentari, apa pun.

Semoga betah. Semoga terhibur.

Nyok, pindahan!

-----

Saturday, April 2, 2011

On Getting Used To

"Eight people died in Afghanistan," my friend told me.

"Huh?"

That was my only response.

Afghanistan.

What's the first thing that comes into your mind when you hear the word?

"Eight people died in Afghanistan."

Why wasn't I surprised?


And now, take a glimpse of this beautiful country.

When was the last time you felt the sickening agony of the killings done by some people who called themselves the servants of God?

When was the last time you were shocked by the news about someone who jumped from the 5th floor of a shopping mall?

When was the last time you felt the painful stab on your chest when you saw the polices bringing out a package that contains bomb out of a building?

We are getting used to it. And that's the scariest thing of all.


-----

Thursday, February 10, 2011

Pesan dari Cancun: Kiamat Modern Tak Perlu Datang Lebih Awal

















Saya cukup beruntung mendapatkan kesempatan untuk meliput konferensi perubahan iklim internasional yang diadakan di Cancun, Meksiko, November-Desember 2010. Pengetahuan saya tentang perubahan iklim selama ini bisa dibilang cukup, tapi saya tak pernah betul-betul memahami dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global yang sering saya baca di media cetak dan internet. Di Cancun, selama dua minggu penuh, saya melihat dan mendengar banyak hal yang membuka mata dan hati saya.

Perubahan iklim dirasakan oleh seluruh negara di dunia, namun ada negara-negara tertentu yang paling parah merasakan pengaruhnya. Dampak perubahan iklim tidak saja meliputi kekurangan bahan makanan, namun juga berpengaruh terhadap kemakmuran dan kesehatan penduduk—yang dipicu kelaparan dan kekurangan gizi—di daerah yang bersangkutan.

Dalam salah satu sesi di Cancun Messe, delegasi dari Uganda—betul, Uganda, tempat yang selama ini cuma saya dengar di televisi—menceritakan kondisi negaranya di mana bencana alam kian sering terjadi. Temperatur meningkat kurang lebih 0.28 derajat Celcius setiap dekade. Kalikan sepuluh, maka persoalan ini tak bisa dianggap remeh.

Perekonomian Uganda saat ini amat bergantung pada sumber daya alam, namun perubahan iklim telah mengakibatkan berbagai peristiwa cuaca ekstrim yang berujung pada rusaknya lahan pertanian. Kegagalan panen. Hama. Meningkatnya kelaparan dan kemiskinan. Kekeringan, kelangkaan air dan erosi tanah bukan hal asing di Uganda. Dan jangan lupakan pertumbuhan populasi yang mengakibatkan situasi bertambah parah, karena jumlah penduduk tak berimbang dengan ketersediaan air dan pangan.

Belum habis keterkejutan saya mendengar fakta-fakta itu, naik ke podium seorang pria berkulit gelap. Ia memperkenalkan diri sebagai delegasi dari Republic of Seychelles di benua Afrika. Namanya Ronny Jumeau. Dengan pelan ia menjelaskan bahwa situasi yang disebabkan kekurangan air dan kekeringan jauh lebih kompleks dibanding dugaan orang selama ini.

Suara Jumeau meninggi saat ia menegaskan bahwa negaranya bukanlah negara miskin. Kelangkaan air itu disebabkan oleh perubahan iklim. Musim hujan menjadi lebih pendek dan kekeringan menjadi ancaman yang tidak hanya merugikan, namun juga mematikan. Untuk mengatasi masalah ini, penggunaan air terpaksa dibatasi secara ketat. Beberapa daerah malah tidak mendapatkan jatah air sama sekali sehingga penduduk harus mengantri demi seember-dua ember air. Masalah berhenti sampai di sana? Tidak. Meningkatnya harga barang kebutuhan pokok seperti makanan dan minyak amat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat.

Ruangan menjadi hening ketika Jumeau bicara dengan suara bergetar, “Bangsa kami adalah bangsa yang ramah. Kami senang tersenyum. Tidak mudah bagi kami untuk tersenyum, namun senyuman bisa meringankan beban hidup karena kami tidak mampu membayar terapis. Kami tersenyum, namun kami menderita. Seychelles adalah negeri yang indah, namun kami tidak bisa hidup dari keindahan belaka. Kami tidak bisa makan pasir. Kami tidak bisa minum air laut. Perubahan iklim yang disebabkan tingkah laku manusia telah menyebabkan semua kesusahan ini.”

Delegasi yang bercerita tentang kondisi negara mereka tak cuma orang dewasa. Anak-anak—bahkan yang berusia di bawah remaja—yang turut hadir dalam konferensi iklim Cancun tak mau ketinggalan.

Walter dari Belieze, yang usianya tak lebih dari 10 tahun, dengan berani bercerita tentang banjir yang melanda kotanya dan mengubah hidupnya. Bencana tersebut menyebabkan keluarganya kehilangan hasil pertanian selama berbulan-bulan dan menyisakan trauma mendalam.

“Saya adalah korban perubahan iklim. Saya hidup di daerah yang terus menerus mengalami bencana. Orang-orang kehilangan rumah, hasil panen, bahkan nyawa mereka,” lugas ia bercerita.

“Tolong lakukan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Berikan contoh kepada kami. Anak-anak akan mengikuti apa yang orang tua dan guru-guru lakukan. Tolong berikan contoh yang baik kepada kami.” Permintaan itu sederhana.

Coraline Norris, remaja manis berkulit hitam dari Haiti bercerita tentang badai topan yang menggerogoti negaranya. Juga tentang hidupnya yang tak pernah sama lagi sejak peristiwa tersebut.

“Usia saya baru 14 tahun dan saya sudah mengalami badai topan yang dahsyat. Saya beruntung bisa selamat, tapi setiap malam saya tidur dengan rasa takut karena saya tidak tahu bencana apa lagi yang akan melanda Haiti esok atau lusa,” tutur Norris.

“Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Di Haiti, ada ribuan anak seperti saya—kami selamat, kami bertahan hidup dan menginginkan kesempatan. Impian saya adalah menyumbangkan kebaikan bagi Bumi agar semua orang dapat hidup aman dan damai.” Saat Norris mengakhiri kalimatnya, banyak orang menyusut air di mata mereka.























Coraline Norris membacakan pidatonya


Protokol Kyoto
akan segera berakhir tahun depan. Konferensi Iklim Cancun diharapkan membawa terobosan agar kerja sama internasional yang mengikat negara-negara di dunia dan akan berdampak secara langsung pada eksistensi planet ini dapat tercapai. Sayangnya, bagi banyak negara yang rentan terhadap perubahan iklim, menunggu bukanlah pilihan. Bencana akan tetap terjadi, dengan atau tanpa perjanjian yang mengikat. Kelaparan dan kekurangan mengintai layaknya monster yang bisa menyerbu dan mencabik kapan saja. Negara-negara ini tak bisa menunggu dunia bertindak. Mereka harus menyelamatkan diri sendiri.

“Lepas dari ada atau tidaknya perjanjian yang mengikat, kami memerlukan tindakan nyata. Kami harus beradaptasi dengan perubahan yang terus terjadi. Kami tidak dapat makan pasir dan minum air laut sambil menunggu perjanjian internasional terbentuk. Setidaknya tunjukkan kepada kami apa yang harus kami lakukan.”

Jumeau tahu ia tidak memiliki pilihan. Afrika tidak seperti negara-negara adidaya yang berlimpah hasil bumi, di mana mayoritas penduduk hidup tenteram dan sejahtera. Afrika tidak seperti benua-benua lain yang penduduknya hingga kini masih menikmati mewahnya air bening di rumah masing-masing. Urgensi itu nyata.

Saya terpaku di tempat duduk saya. Semua yang baru saja saya dengar terasa tak nyata, sekaligus mengguncangkan. Bagai tamparan pedas yang tak ingin saya percayai. Di belahan dunia lain, yang selama ini cuma saya saksikan di televisi, jutaan orang menderita kelaparan dan kehausan. Bukan karena mereka miskin, namun karena alam berhenti memberi mereka makan.

Mendadak, saya merasa sangat bersyukur bisa datang ke tempat ini. Di mana mata hati saya dibukakan secara langsung oleh orang-orang yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Di mana saya mendapatkan pembelajaran berharga mengenai kelangsungan hidup planet yang kita tinggali bersama. Di mana saya sekali lagi diingatkan.

Ada orang-orang yang datang ke Cancun sebagai wakil negara untuk bernegosiasi dalam Konferensi Iklim. Ada yang datang atas nama pekerjaan—saya salah satunya. Ada pula yang datang untuk berlibur. Namun tak sedikit orang yang terbang ke tempat ini dengan harapan membuncah. Melintasi ribuan mil karena hanya di sini suara mereka dapat didengar oleh dunia. Mengarungi benua karena cuma di sini jeritan mereka dapat disuarakan. Dan barangkali... barangkali, di suatu tempat, puluhan ribu mil jauhnya, sebuah doa tengah dipanjatkan. Agar kesusahan cepat berlalu. Agar peristiwa alam tak perlu lagi jadi sesuatu yang ditakuti. Agar makanan dan air tak lagi jadi barang istimewa yang dikejar bagai berlian.

Perubahan iklim adalah sesuatu yang nyata—lebih dari itu, ia tak terhindarkan. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya berupaya agar kiamat modern tak perlu datang lebih cepat dari perhitungan para ahli dan ilmuwan. Merubah gaya hidup bisa merupakan langkah sederhana yang besar artinya bagi eksistensi Bumi. Menanamkan kesadaran akan pentingnya mencintai dan merawat lingkungan hidup bisa jadi penyelamat bagi adik, anak, bahkan cucu kita kelak. Tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri—dari rumah kita sendiri—bisa menyelamatkan jutaan orang di dunia.

Perubahan iklim boleh terus terjadi. Pemanasan global boleh jadi sesuatu yang tak terhindarkan. Namun kita dapat melakukan sesuatu agar Jumeau-Jumeau dan Norris-Norris yang tersebar di seluruh penjuru dunia tidak perlu hidup dalam ketakutan akan hari esok.

Sadari bahwa perubahan iklim adalah sesuatu yang nyata. Sadari bahwa merawat lingkungan hidup bisa jadi merupakan satu-satunya hal yang memungkinkan planet ini tetap ada bagi kelangsungan hidup anak-cucu kita kelak. Dan bertindaklah.




















Saya dan Coraline Norris


-----

Monday, February 7, 2011

Pulang

Kartono baru menyelesaikan doanya ketika telepon di ruang tengah berdering. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan dan bangkit, namun dering itu keburu terputus. Sayup-sayup terdengar suara Ahdiyat.

Kartono melipat sarungnya. Keningnya berkerut mendengar suara Ahdiyat yang meninggi, seperti sedang berdebat. Saat ia keluar, Ahdiyat sedang duduk termangu di sofa usang di samping meja telepon.

“Itu tadi Pak RT,” jelas Ahdiyat tanpa diminta. “Kita diperingatkan supaya Minggu besok tidak berkumpul, atau tanggung sendiri akibatnya.”

Kartono memijat keningnya yang tidak sakit. Peringatan ini sudah yang ketiga kalinya. Terlalu banyak dalam satu bulan.

“Bapak sudah tahu?” Kartono menuang air es ke gelas beling, memberikannya pada Ahdiyat.

Ahdiyat meneguk air itu dan ketegangan di wajahnya berangsur reda. “Belum. Nantilah.”

Kartono dan Ahdiyat adalah mantan pengangguran, perantau dari Jawa Timur yang nyaris jadi gelandangan andai Pak Sugeng, pemuka agama yang dihormati di kampung itu, tidak menawari mereka bermalam di rumahnya dan membolehkan mereka tinggal di sana sampai mendapatkan pekerjaan. Bahkan setelah Kartono dan Ahdiyat memperoleh pekerjaan, Sugeng dan Rahmi, istrinya, mencegah mereka pergi dari rumah itu karena sudah kadung menganggap mereka anak sendiri.

Kartono pernah menanyakan soal itu kepada Sugeng. Kenapa mereka dilarang berkumpul dan beribadah di tanah mereka sendiri—lebih buruk lagi, rumah mereka sendiri.

Sugeng menatapnya sambil tersenyum, tapi Kartono belum pernah melihat wajahnya sesuram itu.

“Karena kita dianggap sesat.” Penjelasan itu rasanya tak cukup, tapi Kartono tak berkata apa-apa lagi.

Malam itu, meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Mereka bersantap dalam diam.

“Jadi Minggu besok tidak ada ibadah, Pak?” Kartono memecah kesunyian.

Sugeng menghentikan suapannya. Semua mata tertuju pada pria setengah baya itu. Kartono baru menyadari betapa wajah lelaki yang sudah dianggapnya ayah sendiri itu kini dihiasi kerutan yang membuatnya tampak jauh lebih tua.

“Kita tetap berkumpul dan beribadah seperti biasa,” jawab Sugeng, “tapi kalau kalian ndak mau ikut, ndak apa.”

“Pak, Bapak tahu kami nggak akan ke mana-mana,” tegas Ahdiyat.

Sugeng tersenyum dan meneruskan suapannya.

Jemaah yang hadir minggu itu tak sebanyak biasanya. Sugeng berdiri dan menyampaikan ceramah dengan suaranya yang jernih dan tenang. Ahdiyat dan Kartono duduk di depan. Di dapur Rahmi sibuk menyiapkan jajanan pasar dan teh yang akan dinikmati bersama usai ibadah.

Semua berjalan seperti biasa. Hingga terdengar derap kaki disertai teriakan dari kejauhan. Riuh yang mendekati rumah kecil tempat mereka berkumpul.

“Cepat! Cepat!”

“Itu rumahnya! Mereka semua di sana!”

Jemaah berpandang-pandangan dengan bingung. Sugeng menghentikan ceramahnya. Ahdiyat yang pertama bangkit. Ia berjalan ke jendela dan menyibak tirai. Wajahnya seketika mengeras.

“Kita diserbu.”

Jemaah serentak bangkit. Mereka berebut melihat melalui jendela. Kerumunan orang semakin dekat. Teriakan semakin jelas terdengar dan dari jendela kusam itu tampak benda-benda yang berada di tangan mereka; parang, bambu, kelewang. Ketenangan musnah sudah.

Sugeng mengangkat tangannya.

“Jangan panik. Kita harus tetap tenang. Kartono, buka pintu belakang. Kita keluar lewat belakang. Jangan ribut.”

Dengan sigap Kartono melakukan perintah itu. Sebagian jemaah langsung mengikutinya, keluar lewat pintu belakang yang menghadap sawah dan melarikan diri secepat yang mereka bisa. Sebagian jemaah masih berkerumun dekat jendela, seperti terbius menyaksikan arak-arakan manusia yang kian dekat, mengacungkan senjata dengan penuh amarah.

“Jangan sampai ada yang lolos! Kepung kafir-kafir itu!”

“Tumpas semuanya! Binasakan!”

“Singkirkan kesesatan! Tolak kemaksiatan!”

“Pak, ayo cepat kita pergi,” Rahmi menarik tangan suaminya. Suaranya bergetar.

“Kamu duluan saja, sama Ahdiyat dan Kartono. Saya pergi kalau semua sudah keluar,” Sugeng menjawab tenang.

“Aku ndak akan ninggalin Bapak,” isak Rahmi, mendekap lengan Sugeng dengan kedua tangan seperti anak kecil memohon pada ayahnya. Sugeng memeluk istrinya. Tidak tersirat takut di wajah itu. Yang tampak hanya kesedihan.

Ahdiyat dan Kartono berhasil mengeluarkan semua orang dari rumah. Mereka merangkul Sugeng dan Rahmi, berjalan secepatnya ke belakang. Terdengar derakan keras disusul suara kaca pecah. Pintu terbentang lebar.

“Mereka kabur!”

“Itu pimpinannya!!”

“Kejar! Tangkap! Bunuh!!”

Kartono tak pernah merasa setegang itu. Lengannya yang merangkul kuat bahu ringkih Sugeng—yang menggandeng Rahmi yang kini tersedu-sedu—bagai mati rasa. Ahdiyat merangkul mereka dari belakang, menggunakan tubuhnya sebagai tameng.

“Itu mereka! Di sawah! CEPAT! KEJAR!”

Puluhan—tidak, ratusan—orang berjubah dan berkopiah putih berlari ke arah mereka. Parang dan bambu teracung ke udara.

“ANJING!” Bertahun-tahun mengenalnya, baru kali itu Kartono mendengar Ahdiyat berserapah.

Untuk pertama kali seumur hidupnya, ia merasakan ketakutan yang begitu hebat. Sekaligus kepasrahan luar biasa.

“Tangkap! Hajar! BASMI!!”

“Binasakan orang kafir!”

“BUNUH!!”

Tarikan kuat di kerah bajunya membuat Kartono terjungkal. Rangkulannya terlepas. Terdengar jeritan Rahmi.

Sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Dan punggungnya. Terdengar suara berderak, tulang-tulang yang patah. Kartono tersungkur. Semua menjadi gelap.


* * *


Kartono membuka mata perlahan. Setengah linglung ia berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia mengerjapkan mata dan ingatannya berangsur pulih.

Orang-orang berjubah dan berkopiah. Bambu, batu, kelewang, dan parang.

Apakah mereka sudah pergi?

Tidak, belum. Teriakan-teriakan itu masih membahana.

Kartono tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tubuh-tubuh bergelimang lumpur itu tergeletak tanpa nyawa. Darah menggenang di tanah dan rerumputan. Pemandangan itu mengingatkannya pada hari raya kurban, namun kali ini, yang dipersembahkan adalah manusia.

Kartono tak sanggup berbicara. Tubuhnya seperti beku. Hanya matanya yang terus merekam apa yang sedang terjadi di hadapannya.

Sugeng, Rahmi dan Ahdiyat tak terlihat. Barangkali mereka berhasil selamat. Barangkali Ahdiyat berhasil membawa mereka kabur. Semoga mereka semua aman.

Kartono merasa seseorang mendekatinya. Ia menoleh. Seseorang berjubah putih berdiri di sampingnya. Ia tak mengenakan kopiah. Sorot matanya ramah.

Sosok berjubah putih itu tersenyum, mengulurkan tangan. Kartono menatapnya dan menyambut tangan itu. Tanpa perlu diberitahu, ia tahu ke mana mereka akan menuju. Pulang.

Sosok itu berbalik. Kartono mengikutinya. Sebelum beranjak, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Ke bawah pohon akasia tempatnya membuka mata.

Di sana, sekelompok orang berjubah dan berkopiah mengerumuni tubuhnya. Menghantamkan batu sebesar nampan ke kepalanya. Darah muncrat. Orang-orang itu berteriak menyerukan nama Tuhan yang juga ia sembah.

-----

Jakarta, 7 Februari 2011. Sebagai tanda belasungkawa atas mereka yang pergi demi nama Tuhan.

Sunday, January 30, 2011

27

Saya tidak pernah berusaha memaafkan.

Saya percaya, berusaha memaafkan hanya akan menghasilkan pemaafan yang prematur. Pemaafan tidak perlu diupayakan. Ia akan hadir dengan sendirinya ketika hati sudah siap memaafkan, dan saya percaya hati punya waktunya sendiri.

Saat saya belum bisa memaafkan, yang saya lakukan adalah mengizinkan diri sendiri untuk merasakan apa pun yang muncul dalam hati saya sepenuhnya. Amarah. Kesedihan. Kekecewaan. Dendam. Dan yang paling sering saya lakukan adalah menulis. Menyampaikan apa yang saya rasakan kepada orang yang bersangkutan lewat berlembar-lembar tulisan, sekalipun tulisan itu hanya tersimpan di komputer saya.

Saat saya belum bisa memaafkan, saya mengizinkan diri saya menangis. Mengutuk. Memaki. Menyesali diri. Saya memberikan tempat dan ruang khusus agar emosi-emosi ini bisa hadir, seperti di malam hari sebelum tidur, satu jam setelah saya terbangun, atau setelah pekerjaan saya selesai. Dan pemaafan selalu hadir pada waktunya—setelah PR batin (meminjam istilah seorang teman) saya usai.

Hari ini saya berusia 27 tahun. Saat terbangun di pagi hari, saya memikirkan apa yang akan saya tuliskan di sini. Banyak pemikiran berlintasan, namun tak satu pun terasa pas. Setelah lama berusaha mengumpulkan kata, saya pun menyerah dan kembali tertidur.

Ketika saya membuka mata di siang hari, hal pertama yang melintas di benak saya adalah dia.

Tahun lalu kami melewatkan 30 Januari bersama. Dia memeluk pinggang saya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dia yang menjadi topik banyak tulisan di blog ini setahun terakhir. Dia yang—meminjam istilah banyak orang—adalah sosok pertama yang saya sebut cinta.

Perpisahan itu meninggalkan bekas yang mendalam. Begitu dalam hingga saya tak punya nyali untuk menjajaki hubungan dengan orang lain. Saya bersikap defensif dan kendati saya tak berusaha menghindari pria lain, saya akan jadi pihak pertama yang kabur ketika hati mulai bereaksi. Saya demikian takut terluka dan setiap ingatan tentangnya memicu luka baru.

Siang ini, ketika saya membuka mata, hal pertama yang melintas di benak saya adalah dia. Apa yang seharusnya kami lakukan. Janji-janji yang tak terpenuhi. Namun anehnya, kali ini ingatan itu tak lagi memunculkan rasa sakit—pedih, marah, kecewa… apa pun.

Saya mengingatnya dan riak-riak itu tak lagi ada. Hati saya terasa… netral.

Dan tahulah saya, saya sudah siap memaafkan.

Saat saya duduk dalam hening—meditasi pertama saya di tahun 2011—air mata yang mengalir di wajah saya tak lagi disertai rasa sakit. Pemaafan muncul dengan sendirinya tanpa perlu saya usahakan. Dan ia hadir dengan indah.

Hari ini saya meninggalkan 26, dan inilah ‘bekal’ yang saya bawa untuk menjalani 27: penyadaran bahwa hati tidak butuh alasan untuk memaafkan.

Untuk itu, terima kasih, Hidup.

----

Thursday, January 13, 2011

Cerita Gadis

Gadis duduk di sudut tempat tidur, bergelung serupa bola. Di sekitarnya, bola-bola putih tersebar di atas kasur, bantal, lantai.

Gadis mengambil dua lembar tisu sekaligus dan membersit cairan dari hidungnya. Kepalanya pening dan ia baru sadar, sedari pagi perutnya belum terisi makanan. Hanya beberapa butir cokelat warna-warni yang kemarin dibelinya di toko kecil serba ada. Namun ia tak peduli.

Kalender di sisi meja rias penuh coretan merah. Kalender yang nyaris disobek-sobeknya namun urung mengingat akhir tahun masih lama dan ia tak punya kalender cadangan. Kalender tempat ia menghitung bulan, minggu, hari demi hari, menuju sebuah tanggal keramat.

Ulang tahunnya.

Sekaligus tanggal perjumpaannya dengan Lelaki.

Pria yang telah mengisi hidupnya satu tahun terakhir. Yang sudah ratusan kali menjadi alasannya menangis dan membenci hidup. Pria yang dicintainya setengah mati, yang meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Pria yang berjanji menghadiahinya makan malam sebagai peringatan satu tahun perjumpaan mereka. Pria yang menghilang sebulan sebelum tanggal itu tiba, lenyap seperti direnggut angin, membawa hatinya, menyerpih jiwanya.



Berhari-hari, Gadis bagaikan lumpuh. Teman-temannya mulai menyadari perbedaan pada dirinya.

“Kamu kurus sekali sekarang, Dis?”

“Ah, masa sih?” Gadis menjawab ceria, berharap mereka tak menyadari redup matanya. Tak semua orang perlu tahu.

Hari berlalu lambat.

Gadis tak lagi bisa membedakan kekuatan yang membuatnya mampu bangun setiap pagi dan menjelang hari dengan senyum—penyangkalan, perih yang ditutup-tutupi, atau tanda kesiapan bahwa ia bisa meneruskan hidupnya tanpa dibayang-bayangi Lelaki?

Jika itu tanda, mengapa air matanya masih turun setiap malam? Mengapa perih membuatnya menghabiskan lagi setengah pak tisu di tempat tidur, bergelung seperti anak kesakitan dan membuat amarahnya bergolak hingga nyaris dilemparnya benda-benda ke dinding?



Nada dering yang tak asing menggugah kesadarannya. Nada dering itu dipasang khusus untuk orang-orang terdekat—keluarga, sahabat dan siapa lagi kalau bukan Lelaki.

Jantungnya berdetak cepat.

Mungkinkah itu Lelaki?

Mungkinkah nuraninya tergugah?

Mungkinkah ia menelepon untuk mengucapkan maaf, atau sekadar menyapa?

Sigap, Gadis meraih benda mungil seukuran tak lebih dari telapak tangan itu.

Di seberang sana terdengar isak tangis.

Jantungnya bagai membeku.

Isak tangis itu semakin keras. Gadis menggenggam telepon dengan hati tak karuan.

Sahabatnya, seorang perempuan, baru saja kehilangan bayinya. Sepuluh menit lalu dokter meninggalkan kamar rumah sakit tempatnya berbaring dengan sebuah vonis: bayi mungil mereka tak lagi punya denyut nadi. Lilitan tali pusar di lehernya telah mengambil nyawanya.

Delapan bulan usia janin itu, siap menjenguk dunia, yang harus pergi hanya beberapa hari sebelum ulang tahun ibunya. Hadiah paling berharga yang sudah dinanti-nantikan itu kini harus direlakan, entah bagaimana caranya.



Gadis tergugu. Tak sepatah kata pun sanggup terucap.

Embun hangat jatuh pelan-pelan. Menyusuri pipinya. Menderas, jatuh ke pangkuan.

Mendadak, perihnya lenyap tak tersisa. Mendadak, yang ia inginkan hanya berlari, secepat kedua kakinya sanggup membawa, atau terbang sekalian kalau bisa, ke sisi sahabatnya untuk memeluk dan menggenggam tangannya.

Mendadak, segala kalut dan sengsaranya tak lagi punya arti.

Mendadak, Gadis tersadar.

Barangkali, air matanya malam ini, adalah cara Semesta memberitahu.

-----

Saturday, January 8, 2011

Just a Little Wish...

"May your coming year be filled with magic and dreams and good madness.

I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you're wonderful, and don't forget to make some art -- write or draw or build or sing or live as only you can.

And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself."

(Neil Gaiman)


Amen to that. :-)

Thursday, January 6, 2011

Tuhanku

Kau datang padaku dan bertanya,
Apakah kau percaya Tuhan?

Tentu.
Sudah terlalu banyak kualami untuk berkata tak ada tuhan
Ia bagiku senyata embusan napas dan senyaring suaramu.

Tuhanku tak punya nabi dan rasul untuk menyampaikan pesan
Ia tak butuh sekelompok orang untuk membelanya
Dan tak merasa perlu mendirikan kerajaan di muka Bumi.

Tuhanku mencintai tanpa syarat dan tak pandang rupa
Ia tak mengenal benci dan umatnya tak perlu berjuang menyatukan perbedaan
Karena perbedaan diciptakannya untuk memberi warna dunia.

Tuhanku kutemui di mana-mana, setiap hari
Tanpa perlu kuinjak tempat ibadah, tanpa kubuka kitab suci.

Tuhanku tak minta kau percaya padanya dan tak mesti disanjung
Ia hanya ada dan cuma itu yang perlu kutahu.

Kau tanya padaku,
Apakah kau percaya Tuhan?

Tentu.
Namun barangkali
Kita tak sedang membicarakan Tuhan yang sama.


Jakarta, Januari 2011. Diiringi sebuah doa, agar tak perlu lagi darah tumpah karena Tuhanku dan Tuhanmu tak sama.

Sunday, December 26, 2010

Natal, Kata dan Cinta

24 Desember 2010.

Saya duduk dengan seorang sahabat di dalam restoran yang mulai temaram. Lampu-dimatikan satu persatu, kursi-kursi disusun di atas meja—pengusiran secara halus. Namun kami bergeming. Ia dengan sebatang rokok, saya dengan suapan nasi dan kuah hangat.

Entah siapa yang mengawali, kami mulai saling bertutur. Tentang bersyukur. Tentang belajar. Tentang hidup yang selalu punya 1001 macam cara untuk memberi, mengingatkan, mengajarkan. Dan pembicaraan di ruang temaram itu menghasilkan kesimpulan yang sama: selalu ada banyak hal dalam hidup yang bisa disyukuri, tak peduli situasi yang sedang dihadapi. Selalu ada banyak hal yang bisa mengingatkan betapa hidup tak melulu terdiri dari pencobaan—bahwa hidup sebenarnya indah.

Asap rokok menari-nari di udara. Saya menyeruput sisa kaldu ayam. Saya harus bergegas. Empatpuluhlima menit lagi kebaktian Natal dimulai.

Saya duduk sendiri di ujung barisan, dalam ruangan besar yang dingin luar biasa. Kedua kaki saya gemetar. Namun denting piano yang memainkan lagu-lagu Natal lambat laun menghilangkan perasaan tidak nyaman.

Melewatkan malam di gereja bukanlah kebiasaan saya. Baru kali ini saya menghadiri kebaktian Natal yang diselenggarakan pada malam tanggal 24, namun entah bagaimana, semua terasa… tepat.

Kebaktian dimulai. Lagu-lagu dinyanyikan. Saya ikut bernyanyi, perlahan. Dan tiba-tiba, seluruh beban di hati saya seakan terangkat begitu saja. Bukan peristiwa ilahi. Bukan juga mujizat Natal. Tidak ada malaikat menampakkan diri, dan saya tidak sedang mabuk anggur Perjamuan.

Apa ini?

Lamat-lamat, saya mencoba mencerna apa yang terjadi. Hingga jawaban itu datang.

Saya sedang memaafkan.

Betul, memaafkan.

Saya tercenung sendiri ketika jawaban itu muncul di benak saya.

Memaafkan? Memaafkan siapa?

Entahlah. Yang saya tahu hanya, hati saya membuka lebar dan malam ini ia melepaskan semua yang menyumbatnya satu tahun terakhir. Segala sedih. Segala kecewa. Segala gundah. Segala khawatir. Segala gembira. Segala bahagia. Segala senang. Semua dilepasnya tanpa kecuali.

Berbagai nama dan wajah muncul di benak saya, silih berganti, sebelum saya sadar, saya tidak sedang memaafkan orang lain. Saya sedang memaafkan hidup. Memaafkan setiap hal yang dihantarkannya kepada saya setahun terakhir, kadang melalui orang-orang yang saya kenal, kadang melalui peristiwa yang terjadi begitu saja, yang tidak saya sukai, yang mengecewakan, yang membuat saya terluka. Dan akhirnya saya sadar, saya sedang memaafkan diri sendiri.

Penyadaran itu muncul dengan amat sederhana. Benak saya tak punya banyak waktu dan energi untuk menganalisa. Batin sayalah yang mencerna semuanya, dan saya tahu. Saya sedang berdamai. Dengan apa pun yang menjadi jatah saya. Dengan apa pun yang digariskan bagi saya. Suka atau duka. Senang atau susah. Sulit atau mudah.

Dua jam berlalu dengan cepat. Saya meninggalkan gereja yang baru pertama saya kunjungi itu dengan perasaan campur aduk; senang, terharu, terkejut dan setengah mati kedinginan. Sebuah santapan manis untuk menutup tahun yang akan memasuki penghujungnya tujuh hari lagi.

Kebaktian ini barangkali kebaktian terindah yang pernah saya ikuti selama tiga tahun terakhir, dan Natal ini adalah Natal paling menyentuh selama entah berapa tahun terakhir, namun keduanya bukan hal terbaik yang saya alami hari ini.

Peristiwa terbaik hari ini?

Sahabat yang mengantarkan saya ke gereja untuk mengikuti kebaktian Natal adalah seorang Muslim.

Cinta, tidak paham arti perbedaan.

-----

Gambar diambil dari sini.

Monday, November 22, 2010

Yang Kukira Cinta

Pagi akan menjelang dalam hitungan jam. Tubuhku letih, namun mataku belum mampu terpejam. Seperti yang sudah-sudah, wajahmu kembali hadir. Namamu kembali terngiang, sembari benakku melafal segala yang kuingat tentang kamu. Namun entah kenapa aku tak lagi terlalu merindukanmu.

Bagaimana bisa, aku pun tak paham. Baru beberapa malam lalu pedih datang menggigit. Namun kini ia menyublim, menguap. Patah hati seharusnya tak sesingkat itu.

Barangkali yang kusebut cinta cuma fatamorgana. Barangkali aku belum tenggelam dalam impian tentangmu. Barangkali otakku mengabadikanmu namun hatiku belum terlanjur menyimpanmu. Atau barangkali, semua cuma kabut yang mampir untuk berlalu.

Aku ingin memahami kita. Aku ingin memahami kamu. Bukan sekali dua aku berkhayal; seandainya kita mengawali semua dengan benar. Tetapi yang terjadi jauh dari benar. Kamu dan aku sama-sama tahu, kita memulai dengan salah. Dan barangkali ini yang menjadi upahku—aku tergelincir dan tak ada lenganmu di sana.

Kamu tidak pernah menjadi milikku. Tidak sesaat pun. Otakkulah yang merekam begitu banyak kenangan, merangkainya bersama ilusi dan menipuku. Namun hati selalu tahu. Hatiku tahu.

Sekejap, kusayang kamu lebih dari siapa pun. Tanpa sempat kucegah. Tanpa sempat kukekang. Bukan bibirmu. Bukan lidahmu. Bukan lenganmu. Bukan jemarimu. Bukan pula tanggal lahir kita yang beda sehari. Aku menyayangimu tanpa tahu kenapa. Mungkin inilah yang mereka bilang karma. Barangkali. Aku tak paham.

Tak pernah kusayangi orang tanpa apa dan mengapa. Kamu yang pertama, namun mudah-mudahan bukan yang terakhir. Karena hatiku perlu terus mengalir. Ia perlu terus hidup.

Malam ini kulepas kamu dengan sebuah doa. Kiranya cinta mengisi hari-harimu dengan senyum dan tawa. Kiranya hatimu senantiasa hidup dan bersinar. Kiranya jiwamu menemukan damai yang kau cari. Kiranya bahagia selalu ada untukmu.

Kiranya kita bahagia. Dengan jalan yang kita tempuh sendiri-sendiri.



Pedih ini perlahan memudar, menguap. Namun aku akan selalu ingat, ia pernah ada.


~ Ubud, 11.11.10 ~

-----

Tuesday, November 16, 2010

Ubud, Saya dan Keberuntungan

“Kamu sangat beruntung.”

Saya tersenyum pada perempuan asal Polandia yang mengucapkan kalimat itu. Entah sudah berapa orang mengatakan hal yang sama ketika mereka mengetahui saya akan menghabiskan seminggu di resort di pinggir kota Ubud ini. Sebelumnya, Tammy, perempuan asal Thailand yang sempat tinggal dua malam di sini, mengatakan hal yang persis sama.

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka berkata seperti itu. Faktanya, saya berada di sini hanya karena sudah terlampau penat dengan kehidupan di kota besar. Seminggu sebelum memesan tiket pesawat, saya pulang ke kamar pukul dua pagi, dengan kepala bagai dipalu dan sukar berjalan lurus—hasil dari menggelontor empat gelas minuman beralkohol sepanjang malam.

Esoknya, saya terbangun dengan kepala berdenyut. Sekujur tubuh saya lemas. Saya tergolek di tempat tidur, dan sebuah pertanyaan menghampiri saya.

Apa ini, Jen?”

Saya tidak bisa menjawabnya.

Saat itulah saya tahu. Saya harus pergi.

Saya menjelajah internet, mencari tiket murah yang bisa membawa saya ke Jawa Tengah. Yang terbayang di benak saya adalah Salatiga, kota kecil indah yang selalu saya anggap sebagai rumah kedua. Namun Merapi yang terus memuntahkan debu membuat saya mengurungkan niat.

Kota berikutnya adalah Ubud. Saya jatuh cinta pada Ubud sejak mengunjunginya pada bulan Februari 2009. Lebih dari satu setengah tahun saya merindukan tempat itu.

Saya berhasil menemukan tiket dengan harga bersahabat. Selanjutnya, penginapan. Saya tidak tahu harus menginap di mana.

Seorang kawan yang baru-baru ini pergi ke Ubud bercerita tentang sebuah resort yang membuatnya jatuh cinta. Dari resort tersebut para tamu dapat menikmati dua pemandangan sekaligus: sawah dan sungai. Saya membuka situs resort itu dan nyaris mengurungkan niat. Anggaran saya tidak memadai.

Namun tiket sudah saya dapatkan. Saya harus pergi. Saya pun menelepon Michi dan berbicara dengan wanita pengelola resort. Setelah berbincang singkat, ia memberikan harga khusus kepada saya. Bukan diskon, sebenarnya. Hanya harga kamar utuh tanpa dikenai pajak dan service charge 15%. Setelah menghitung-hitung, saya memutuskan untuk berangkat. Sendirian.

Sejujurnya, saya sendiri tidak tahu apa yang salah. Baru kali ini saya merasakan penat dan jenuh yang luar biasa selama tinggal di Jakarta. Saya lahir dan besar di sini. Adalah sesuatu yang tidak masuk akal—setelah 26 tahun menjalani semuanya dengan baik-baik saja—untuk merasa muak luar biasa pada kehidupan di metropolitan yang penuh gempita. Jakarta adalah rumah saya. Saya memiliki kehidupan yang baik, pekerjaan yang baik, dan teman-teman saya berada di sini. Apa yang salah?

Entahlah.

Yang saya tahu hanya, saya harus secepatnya pergi, atau saya akan mati pengap. Julangan gedung dan ribuan kendaraan yang bagaikan parkir di jalan selepas pulang kantor menghimpit kewarasan saya. Kehidupan yang penuh hiruk-pikuk dan hingar-bingar telah menggerogoti saya. Kebosanan teramat-sangat pada rutinitas yang saya jalani setiap hari—tanpa jeda, tanpa perbedaan—mencuri kebahagiaan saya.

Barangkali tidak ada yang salah. Barangkali memang sudah waktunya untuk pergi.

Saya tiba di Michi pada pukul 21:30 waktu setempat, setelah pesawat saya mengalami tunda terbang selama dua jam. Sesampainya di resort, saya disambut pengelola hotel dan housekeeper yang memberikan saya tur keliling sebagian wilayah resort.

Setelah memilih kamar, saya menikmati makan malam di restoran. Melihat saya sendirian, Wayan, pria paruh baya pengelola resort, menemani saya. Ia menjelaskan asal-usul dipilihnya nama Michi, filosofi yang terkandung di baliknya dan sebagainya. Di akhir percakapan, ia menawarkan diri untuk membaca telapak tangan saya.

Saya sempat risih, namun akhirnya membiarkannya mengamati telapak tangan kiri saya. Setelah mengutarakan beberapa hal tentang diri saya, ia kembali bercerita tentang Michi. Tentang aliran sungai. Tentang hidup yang hendaknya dibiarkan mengalir, ke mana pun ia mau; tanpa dibebani ambisi dan keinginan yang memberatkan. Tentang kesederhanaan. Tentang kebahagiaan. Tentang senyuman.

Mendengar Wayan bicara, entah mengapa mata saya membasah. Saya tahan agar cairan itu tidak mengumpul dan menetes. Saya tidak tahu mengapa, dan tidak ingin tahu. Yang saya tahu, saya berada di sini. Jauh dari gegap-gempita metropolitan yang menyesakkan. Itu sudah cukup.

Setelah makan, saya kembali ke kamar. Kamar saya terletak persis di atas sungai berarus deras. Saya sempat menyangka hujan lebat turun dan akhirnya sadar bahwa suara menderu itu adalah arus air.

Esok paginya, ketika saya keluar dari kamar, pemandangan indah menyambut saya. Hamparan hijau sawah dan pepohonan, air sungai yang memecah bebatuan dan hawa sejuk yang dibawa aliran deras itu menemani pagi pertama saya di Ubud. Saya melangkah ke restoran untuk sarapan. Sejumlah karyawan tersenyum menyambut kedatangan saya dan mengucapkan selamat pagi.

Sejenak, saya tercekat. Tidak terbiasa dengan keramahan itu. Bukannya saya tidak pernah menemui keramahan di kota besar, namun keramahan itu adalah keramahan yang sudah dilatih. Senyum itu adalah senyuman yang tersungging secara otomatis, karena pembeli dan pengguna adalah raja. Di resort kecil ini, semua orang menyambut saya dengan senyum lebar. Bukan senyum basa-basi, bukan pula senyum formal penyedia layanan kepada customer-nya. Ketika saya menatap mereka, mata mereka ikut tersenyum.

Pada hari kedua, saat saya sedang menikmati camilan sore sambil bekerja, seorang karyawan menghampiri saya.

“Ini jatuh kemarin...” Ia menyodorkan secarik kertas berukuran kecil. Saya mengambil kertas itu dan terbengong sesaat. Kertas putih itu adalah tiket bioskop bekas yang belum sempat saya buang. Barangkali kertas itu jatuh dari dompet ketika saya mengeluarkan uang untuk membayar makan malam saya hari sebelumnya.

Saya memperhatikan kertas itu dan secercah haru menyusupi batin saya.

Betapa remehnya. Betapa sederhananya. Betapa bermaknanya.

Setiap hari saya menikmati sarapan sambil melihat hamparan sawah, merasakan semilir angin dan mendengarkan arus sungai. Siangnya saya berkunjung ke pusat kota, mencicipi makanan di beberapa restoran yang direkomendasikan kawan dari Jakarta dan jalan-jalan tak tentu arah. Di malam hari, saya mematikan kipas angin dan tidur dengan selimut sambil mendengarkan deruan air di bawah sana. Dan esok paginya saya akan kembali bangun, keluar kamar, menarik napas dalam-dalam menghirup udara segar yang bersih, memanjakan mata dengan hamparan hijau dan kembali melangkahkan kaki ke restoran untuk sarapan.

Saya akan menjumpai senyum ramah di wajah setiap karyawan hotel. Tak jarang mereka menyapa, “Tidurnya enak semalam?” “Hari ini mau ke kota?” dan sebagainya. Dan mata mereka selalu ikut tersenyum. Wayan yang lebih banyak bekerja di lantai dua sering melongokkan kepala ketika saya melintasi kolam renang di bawah. Ia akan berseru, “Apa kabar?” dan saya akan menjawab dengan seruan pula.

Wajah-wajah tersenyum itu ada di mana-mana. Seorang karyawan perempuan bahkan menitipkan pesan, “Hati-hati di jalan, ya...” ketika saya berkata bahwa saya berniat mengunjungi kota untuk makan babi guling. Saya tertegun dan bibir saya otomatis mengembangkan senyum dan mengucapkan terima kasih, namun hangat yang merambati hati saya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Karena lokasi yang sedikit terpencil dan berada di antara hamparan sawah dan sungai, sinyal telepon genggam sering sulit didapat. Koneksi internet sering terputus, bahkan mati sama sekali, padahal telepon genggam dan internet adalah dua hal yang sangat esensial bagi saya di Jakarta. Anehnya, saya tak terlalu merasa kehilangan. Di tempat ini, setiap hari saya tersenyum.

Wanita Polandia itu menghabiskan jus semangkanya dan berpamitan. Ia datang hanya untuk melihat-lihat dan akan segera pergi ke kota lain.

“Kamu sangat beruntung.”

Saya memandangi punggungnya yang bergerak menjauh. Saya menatap seorang karyawan resort tak jauh dari kami yang berdiri dengan senyum ramahnya.

Mendadak senyuman itu terasa jauh lebih berarti ketimbang hal-hal lainnya.

Ya, saya memang beruntung.

-----

Sunday, October 31, 2010

Bertanya (tentang) Cinta

Kau tanya padaku apa itu cinta.

Aku termenung
Tak sepatah pun keluar dari bibirku.

Cinta itu apa?”

Pertanyaan yang sama sudah kuulang entah berapa ribu kali kepada diriku sendiri, dan aku masih tak paham.

Adakah ia desir-desir aneh yang merambati hatimu saat kau lihat pujaanmu berdiri tak jauh darimu?

Adakah ia getar-getar geli yang membuat harimu jadi indah ketika mendengarnya menyebut namamu?

Adakah ia bahagia yang mengusikmu dan memunculkan senyum di wajahmu yang biasa kelabu?

Adakah ia air mata yang menyusuri lekuk pipimu saat rindu menyerang, pertengkaran melahirkan gundah dan perpisahan terucap?

Adakah ia semburat panas di dadamu ketika melihatnya bersama orang lain dan bahagia tanpamu?

Adakah ia amarah yang tak bisa kau jelaskan, seribu perasaan yang tak bisa kau gambarkan dan jutaan cahaya dalam matamu saat kalian bertatapan?

Adakah ia hitam, putih, warna-warni?

Kenalkah ia pada dosa, pahamkah ia akan tabu, pedulikah ia akan benar-salah?

Entahlah.

Kau jelas bertanya pada orang yang salah, karena bahkan sufi dan pujangga gagal merangkum maknanya.

Yang kutahu cuma, ia hadir sewajar hembusan udara pagi, lenyap seperti embun di siang hari, mengalir ke mana pun ia suka. Tanpa bisa diperintah. Tanpa bisa dicangkangi. Dan kita terhanyut-hanyut di dalamnya tanpa pernah berhasil merumuskan artinya.

Yang kutahu cuma, cinta tak membiarkanmu memilih jiwa. Namun kau bisa memutuskan untuk memberangusnya atau membiarkannya tumbuh, menjaganya dengan hatimu.

Dan aku tahu ia tak pernah berjanji. Bahagia, gembira, gelisah, getir, sedih, amarah, semua bisa hadir tanpa sanggup kau pilah.

Jadi, apa itu cinta?” desakmu.

Diam adalah jawabanku.
Bukan karena angkuh namun sungguh tak paham
Puluhan tahun usiaku dan aku masih gagap mendefinisikan cinta.

Namun inilah yang bisa kukatakan kepadamu:
Barangkali cinta tak perlu ditanyakan
Alamilah sendiri. Biarkan ia menjemputmu dan kau akan tahu.


Sebuah persembahan untuk sahabat yang tengah jatuh cinta—perempuan beruntung yang saya sayangi. Semoga diberkahi kebahagiaan. :-)

-----

Gambar dipinjam dari sini.

Wednesday, September 29, 2010

Surat Buat Presiden

Bapak Presiden yang Terhormat,

Beberapa minggu lalu, seorang pejabat tempat ibadah mengalami luka berat akibat penusukan yang dilakukan sekelompok orang dari sebuah organisasi pembela agama. Sebelumnya, tempat ibadah yang dilarang berdiri itu sudah menjadi saksi unjuk rasa dan adu jotos kepentingan atas nama agama. Jemaat pun terguncang. Bukan saja mereka kehilangan tempat beribadah, mereka harus menyaksikan orang yang mereka hormati berlumuran darah di depan mata mereka sendiri.

Kemarin, ratusan orang dari sebuah organisasi agama menyerbu sebuah festival film. Mereka mengancam akan membakar tempat itu. Kemudian Bapak Menteri mengeluarkan pernyataan yang membuat kami terhenyak. Kegiatan itu menyimpang dari etika masyarakat, katanya. Kami pun termangu. Sejak kapan preferensi seksual seseorang menjadi tolok ukur etika dan moral masyarakat?

Hari ini, terjadi kerusuhan di Jalan Ampera. Mereka bilang, korban tewas sejauh ini sudah tiga orang. Empat luka-luka. Seorang polisi tertembak. Potongan tubuh terserak di jalan. Jalan ditutup. Kemacetan mengular. Masyarakat diperingatkan untuk menjauhi area itu.

Bapak, saya tak mengerti politik dan tak ingin tahu banyak tentang politik. Saya warga negara biasa yang sudah cukup puas dengan kehidupan yang layak dan pekerjaan yang baik. Saya yakin di negara ini banyak yang seperti itu. Politik bukan bidang kami, dan barangkali kami memang tak perlu memahaminya, karena seperti yang sering dibilang orang, politik itu bau tai. Kami lebih suka mencium aroma makanan ketimbang kotoran, maka kami serahkan ranah itu kepada orang-orang yang sudah ahli berkecimpung di dalamnya. Namun, kali ini, izinkan kami bersuara.

Bapak, kami marah bukan karena benci. Kami marah karena cinta. Cinta yang kepalang besar bagi pertiwi yang tanahnya sudah kami injak puluhan tahun, yang udaranya kami hirup setiap hari, yang hasil buminya memberi makan mulut-mulut kami.

Prihatin tak lagi cukup, Bapak. Beragam janji dan instruksi tidak lagi mampu membungkam mulut kami, karena kami sudah kenyang dengan janji. Kami lelah menunggu tanpa daya. Kami letih menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.

Nyanyian dari bibirmu sudah kami dengarkan, Bapak. Kini kami menanti sesuatu yang lain. Yang bukan cuma bisa kami simpan dalam bentuk kepingan cakram. Yang bukan cuma bisa kami baca di internet, kami lihat di televisi, kami simak di koran, tanpa pernah menghasilkan apa-apa.

Kami tak minta banyak, Bapak. Kami hanya ingin orang yang kami pilih mampu menyediakan keamanan bagi kami. Kami ingin bisa beribadah dengan damai. Kami ingin bisa melalui jalan-jalan kota dengan tenteram. Kami ingin menikmati film dan pergi ke tempat-tempat hiburan dengan leluasa. Kami ingin bebas dari rasa takut dan teror.

Kami ingin pajak yang kami bayarkan digunakan untuk sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan pembangunan negara, karena sekalipun kami hidup berkecukupan, jutaan penduduk Indonesia belum menikmati kehidupan yang layak. Sudah cukup kami merasa pedih melihat uang hasil jerih payah kami digunakan untuk plesiran anggota dewan yang terhormat, sementara jutaan rakyat miskin makan nasi yang sudah kotor setiap hari.

Kami muak dengan kekerasan. Kami muak dengan aksi semena-mena. Kami muak melihat nama Tuhan digadaikan demi hawa nafsu segelintir orang tertentu. Kami sudah lelah mencaci dan menangis.

Bapak, tolong dengarkan kami. Lakukan sesuatu. Bertindaklah agar kami tahu orang yang kami pilih memang layak mengemban kepercayaan kami.

Kami tak minta banyak, sungguh. Jangan bilang itu terlalu sulit.

-----

Monday, September 27, 2010

9

Entry ini saya tulis pukul dua pagi, sambil merebus air yang akan saya pakai untuk mandi. Hari ini, duabelas jam saya habiskan di sebuah stasiun televisi yang belakangan ini menjadi tempat saya mencari penghasilan tambahan demi menyokong kehidupan di pusat kota.

Dalam keheningan yang menyertai limabelas menit perjalanan saya kembali ke kos-kosan, saya memejamkan mata dan membiarkan tubuh beristirahat. Di luar dugaan, pikiran yang seharian terus berceloteh dan berlompatan ke sana kemari, mendadak ikut meresapi kesunyian.

Alangkah banyak yang ingin saya tuliskan di halaman ini. Berkali-kali saya menerima pertanyaan, “Kapan diisi lagi blog-nya?”, “Kok sekarang jarang posting?”, dan sebagainya. Berkali-kali berbagai pemikiran singgah di otak. Berkali-kali pula saya meniatkan hati untuk menulis barang sehalaman-dua. Toh akhirnya semua niat cuma mengendap.

September nyaris berakhir. Bulan kesepuluh akan segera saya jelang. Rasanya baru kemarin tahun 2009 berlalu. Kadang benak tergoda untuk melontarkan pertanyaan, apa saja yang sudah saya raih selama sembilan bulan? Apa saja pengalaman yang berhasil saya kumpulkan? Pembelajaran apa yang sudah saya petik? Berapa banyak teman yang saya punya? Pencapaian materiil apa yang bisa saya banggakan?

Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan ini hadir dan menganggu, tidak peduli sekeras apa pun saya berusaha mengabaikannya. Kadang saya berpikir, jangan-jangan sindrom krisis seperempat abad itu bukan mitos. Tidak jarang pula saya membandingkan diri dengan orang-orang lain dan merasa kecewa—bahkan putus asa—karena sepertinya saya tidak pernah bisa menjadi lebih baik dari mereka.

Namun ada kalanya—ada kalanya—benak yang selalu ribut mengoceh ini menemukan jalan buntu, berulangkali membentur garis pembatas, berputar-putar kebingungan, hingga akhirnya terdiam kelelahan.

Ketika ia terdiam—dalam waktu yang kadang tak lebih dari sekian menit—batin saya mengambil alih. Dengan ketenangan yang tak pernah saya duga ada. Dalam kesunyian yang mendamaikan. Dalam keheningan yang menyejukkan. Ia hadir dan berbisik, “Tidak apa-apa...”

“Tidak apa-apa.”

Dan sepotong kalimat pendek itulah yang membuat saya kembali berdiri.

Malam ini, kesunyian itu hadir lagi. Dalam limabelas menit perjalanan pulang saya. Kesunyian yang sama, yang akhirnya menggerakkan saya untuk menyalakan komputer dan menuliskan ini.

Bukan sebuah artikel. Bukan tulisan penuh kalimat indah. Hanya sepotong curhat singkat disertai sebuah doa. Beberapa orang menyebutnya harapan.

Apa pun yang terjadi selama tiga bulan ke depan, sebelum akhirnya kita bersama-sama melepaskan tahun 2010 ini, saya berdoa agar kita semua senantiasa diingatkan—melalui peristiwa sehari-hari, keajaiban-keajaiban kecil yang kita alami dan siapa pun yang kita temui—bahwa sesungguhnya hidup tidak pernah berhenti menawarkan hadiah. Bahkan tanpa kita perlu berusaha menggapainya.

Bahwa sesungguhnya segala pedih akan berlalu pada waktunya. Kesedihan akan sirna jika sudah saatnya, dan getir tidak akan tinggal tetap. Pun kebahagiaan, kegembiraan dan sukacita.

Bahwa cinta adalah sesuatu yang nyata, ada dan layak dipercayai. Tanpa perlu diwadahi. Tanpa perlu dipaksakan. Tanpa perlu diundang, atau diusir.

Bahwa sesungguhnya, di mana pun kita semua berada, dan kapan pun, Anda dan saya tidak butuh banyak untuk bisa bahagia.

Itu saja.

-----

Wednesday, August 18, 2010

Indonesia65

"Lu mah bukan orang Indonesia. Lu orang Cina."

"Woy, ada amoy! Amoooy!"

"Eh, Cokin. Mau ke mana?"

"Weee, yang matanya sipiiit..."

-----

Darah yang mengalir di tubuh ini barangkali berasal dari negeri di seberang lautan, nun jauh di sana. Namun kedua kaki ini berpijak di tanah Indonesia, dan paru-paru ini menghirup udaranya setiap hari.

Saya orang Indonesia. Sampai kapan pun.

Selamat Hari Jadi, Negeriku.

*Gambar dipinjam dari: http://www.indonesiapusaka.info/wp-content/uploads/2010/03/bendera.jpg

Tuesday, August 3, 2010

Jika Aku Mati

Jika aku mati
Tak perlu tangisi aku berlama-lama
Karena lihatlah, aku tak pernah jauh
Langit dan udara adalah caraku berbicara
Aku tak lenyap, hanya berganti

Jika aku mati
Tak perlu tangisi aku berlama-lama
Kenang aku dengan senyummu
Dan tiap kali kau mengingatku
Kau akan tahu aku ada

Jika aku pergi
Tak perlu sesali kehilanganmu
Aku tak mau mengisi harimu dengan mendung
Aku ingin bercahaya di hatimu

Tak perlu tangisi aku
Aku tak ke mana-mana
Aku hanya pulang
Karena rumahku itu kamu.


*untuk mengenang mereka yang telah pergi.

-----

Monday, July 26, 2010

Rotan

Suatu senja di Jahanjang, Kalimantan Tengah
Dia membersihkan rotan dengan sarung kumal dan rantai
Pakaiannya seadanya, mukanya masih tersaput bedak
Hasil beramai-ramai menyambut rombongan yang datang dari Jawa


Dia bekerja sambil tersenyum
Sadar bahwa kamera mengintai, siapa tahu nanti bisa masuk TV
Ketika ditanya upahnya
Dia menjawab lugas


“Seharian begini bisa dapat empatpuluh sampai enampuluh…”


Ribu rupiah, maksudnya
Untuk empat ratus pucuk rotan berukuran tiga kali lipat tinggi badannya
Yang dibersihkan dengan cara ditarik dan digerus rantai
Sehari penuh, tak henti, tanpa jeda


Matahari terik menyengat
Tak sanggup ditahan terpal rombeng di atas kepala
Kakinya beralas sandal usang
Barangkali sudah kebal disengat duri rotan


Saya tergugu
Kamera cuma mampu mengambil sebuah gambar
Mata saya membasah
Teringat segelas kopi berharga sama yang mudah saya reguk tanpa kerja keras


Hidup memang tidak adil buat sebagian orang,
Mungkin kau bilang begitu
Tapi senyum di wajahnya
Tak bisa kau beli, kawan.


Friday, July 9, 2010

Jarak

Sinar keemasan sudah menerobos dari tadi, tak mampu dibendung tirai coklat yang menjuntai sampai lantai.

Kau menggeliat. Bisa kudengar desahanmu karena punggung kita cuma terpaut belasan senti. Desah panjang pertamamu di pagi hari.

“Jam berapa?” kau bergumam. Separuh nyawamu masih di dunia lain. Aku tak menyalahkan. Semalam memang cukup melelahkan.

Aku sudah bangun satu jam lalu, menatapi ruangan gelap yang perlahan menjadi terang.



Tidak satu hari pun berlalu tanpa kucoreti angka-angka di kalender yang tergantung di kamar. Setiap hari kuhitungi jarak ke pertemuan berikutnya di mana aku bisa menatapmu, mendekapmu, dan merasakan hangat napasmu di leherku. Tubuhku yang telanjang. Jiwaku yang merindu.

Tak satu hari pun kulewatkan tanpa mengingatmu. Sekadar menyebutkan namamu dalam hati, atau tersenyum saat melewati foto dalam pigura di meja kopi. Foto yang kerap kau protes, “Taruh di kamar aja lah, Say. Nggak enak kalau kelihatan orang.”

“Cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda,” itu yang sering kau bilang. Dan aku setuju.

Kau kemari setiap bulan untuk memuaskan yang kedua.

Payudara kanan istrimu tak mampu lagi merasa. Pengangkatan dan implantasi telah mengubah segalanya. Mengubah hidupnya, dan pernikahan kalian. Tubuh ringkihnya sudah menggemuk sejak pertemuan pertama kita di lorong rumah sakit empat bulan silam, namun semuanya memang tak pernah sama lagi.

Penyakit itu muncul setahun yang lalu. Jam-jam panjang penuh duka, air mata, rintihan dan keluhan terlalu lama menderamu. Mengurasmu. Kini ia kembali ke sisimu. Tempat tidurmu tak lagi terlalu luas, namun ada jarak lain yang lebih sukar diseberangi.



Setiap bulan kita mengulangi ritual yang sama.

Kau akan muncul di apartemen ini, mendekapku erat dan berkata betapa kau merindukanku. Aku akan tersenyum dan membuka sebotol anggur yang tak pernah absen tersedia di meja makan.

Kau akan bercerita, kadang dengan kelelahan di matamu, kadang dengan senyuman. Tentang pekerjaanmu, tentang anak-anakmu. Si Sulung yang mulai menyesuaikan diri di sekolahnya yang baru. Si Bungsu yang sudah lincah dan tidak bisa duduk diam barang semenit. Dan, kadang, tentang istrimu. Aku akan mendengarkan dengan antusias. Cerita-ceritamu selalu menarik, dan yang terpenting, kau membaginya denganku.

Sambil bercerita, sesekali kau melirik telepon genggam.

Kau tak pernah meninggalkan benda itu barang sekejap. Satu meter maksimal jaraknya darimu, bahkan ketika kita sedang memadu nafsu. Teleponmu akan berdering minimal satu kali, pada waktu yang nyaris selalu sama. Sikapmu biasa-biasa saja, namun tak bisa kau bohongi gerak gesitmu saat nada dering yang kau pasang khusus untuknya berbunyi, dan tak bisa kau pungkiri betapa tuturmu menghalus saat berbicara dengannya. Betapa matamu berbinar penuh cinta meski kalian tidak sedang bertatapan.

“Aku masih meeting. Tidurlah. Besok aku pulang,” demikian ucapmu selalu. Diakhiri dengan tiga kata yang memang menjadi jatahnya. Yang sudah kau ukir di hatimu sebelum kau memintanya mendampingimu seumur hidup.

Kau menutup telepon dan meletakkannya di meja kecil di sisi tempat tidur agar mudah dijangkau. Lalu kau merengkuhku, menciumku. Aku mendekapmu, membiarkanmu beristirahat, merasakan desah napasmu di pundakku yang telanjang. Napasmu yang perlahan memburu.

Selama beberapa jam berikutnya, kau menjadi milikku sepenuhnya. Selama itu pula, cuma aku yang ada di pikiranmu. Bukan pekerjaanmu. Bukan anak-anakmu. Bukan dia. Cuma namaku yang akan kau sebutkan, cuma harumku yang akan kau hirup, bercampur dengan erangan dan peluh yang menetes. Beberapa jam yang rela kutukar dengan mencoreti kalender setiap hari, menyebut namamu, memandangi fotomu.

30 hari yang kadang bagai neraka, namun takkan kutukar dengan apa pun.

30 hari yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan beberapa jam keberadaanmu di sini. Meskipun setelahnya kau membalikkan badan dan tertidur pulas, membiarkanku terjaga sendirian. Meskipun esoknya kau tergesa-gesa meninggalkan kamar ini untuk mengejar pesawat terpagi.



Cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda. Kau datang ke sini setiap bulan untuk memenuhi yang kedua, lalu kau akan pulang untuk memberikan cinta pada dia yang menunggumu.

Dan sejauh itulah jarak yang bisa kuarungi untuk pulang ke hatimu.

-----

Friday, June 11, 2010

Sebuah Maaf untuk Suatu Masa

Kaset-kaset itu saya temukan di pojok kotak plastik besar, tempat saya menyimpan buku dan berkas-berkas yang tidak pernah lagi dibaca. Entah sudah berapa lama mereka ada di sana. Saya mengeluarkan semuanya satu-persatu sambil mengamati tahun-tahun yang tertera di label.

Kaset-kaset itu berisi rekaman khotbah saya dari tahun 2003 hingga 2005. Jumlahnya tidak banyak. Hampir semuanya direkam menggunakan walkman pinjaman dengan kualitas suara yang jauh dari memuaskan. Waktu itu, tidak banyak tempat ibadah yang memiliki alat perekam.

Saya memilih sebuah kaset yang hasil rekamannya cukup jernih dan memasangnya. Khotbah saya di sebuah gereja di bilangan Kelapa Gading lima tahun silam. Semenit pertama, saya tertawa-tawa mendengar suara saya sendiri; betapa lantangnya saya berkhotbah, betapa cepatnya saya bicara, betapa gugupnya saya.

Menit-menit berikutnya, senyum saya lenyap, berganti kegelisahan. Saya nyaris tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Saya sulit mempercayai apa yang terlontar dari mulut saya sendiri. Bukan hanya saya. Seorang anggota keluarga yang turut mendengarkan rekaman itu berkomentar polos, “Itu kayak bukan kamu.”

Tidak. Pasti ada yang salah. Tidak mungkin itu saya.

Saya tidak ingin mempercayai telinga saya sendiri. Kebaktian itu dihadiri lebih dari seratus remaja, namun tidak ada humor di dalamnya. Si pengkhotbah berbicara bagaikan mobil yang gasnya diinjak dalam-dalam. Kalimat-kalimat yang terlontar keras, tajam menusuk.

Saya mematikan player kurang dari limabelas menit. Saya tidak tahan mendengarkan suara saya sendiri. Saya tidak sanggup mendengarkan begitu banyak tuntutan bernada memaksa yang keluar dari mulut saya sendiri.

Saya meninggalkan tumpukan kaset dan duduk di depan televisi tanpa menyimak acara yang sedang disiarkan. Saya tercenung. Lama. Yang muncul berikutnya adalah air mata.

Saya telah meninggalkan mimbar lima tahun yang lalu. Hari ini saya sadar, meninggalkan tidak sama dengan menyelesaikan. Fase itu sudah lama berlalu dan hidup menghantarkan saya ke titik yang sama sekali baru, namun ada banyak hal yang belum selesai—setidaknya dalam batin saya sendiri.

Permohonan maaf adalah salah satu di antaranya.


* * *


Kepada semua orang yang pernah duduk di depan mimbar dan mendengarkan saya berkhotbah,

Maafkan saya atas segala tekanan yang saya berikan melalui pengajaran-pengajaran saya.

Maafkan saya atas penghakiman yang saya lontarkan tanpa mendengar dan menilai dengan bijak.

Maafkan saya atas ‘harus ini dan itu’, ‘lakukan ini dan itu’, ‘tidak boleh begini dan begitu’, dan segala tuntutan lain yang saya paksakan tanpa benar-benar mengenal satu orang pun di antara kalian.

Maafkan saya karena telah bersikap seolah-olah tahu yang terbaik tanpa memberi kesempatan kepada kalian untuk mencari kebenaran kalian sendiri.

Maafkan saya karena telah meminta kalian mengikuti kehendak saya dan melakukan apa yang saya inginkan.

Maafkan saya atas segala ketidakpuasan, kekecewaan terhadap diri sendiri, dan kemarahan yang saya lampiaskan dalam ceramah-ceramah saya. Maaf karena telah menjadikan kalian sasaran dari masalah batin saya sendiri.

Dan untukmu, Jenny,

Maafkan saya karena telah menuntut begitu banyak darimu.

Maafkan saya karena menginginkanmu menjadi yang paling sempurna. Menghendakimu menjadi teladan dan panutan bagi orang lain. Menetapkan standar yang terlampau tinggi hingga kamu kelelahan dan kehabisan daya. Menghakimimu sedemikian rupa hingga kamu tak mampu lagi percaya pada diri sendiri.

I am truly sorry.


* * *


Tulisan ini saya persembahkan kepada diri saya sendiri, sebagai salam pamit sekaligus penutup sebuah fase hidup yang telah berlalu. Juga kepada semua orang yang pernah bersilangan jalan dengan saya di masa itu—mereka yang pernah mendengarkan saya berkhotbah.

Terima kasih banyak. Kalian semua adalah guru saya, meski yang tampak di luar adalah sebaliknya. Kalian telah mengajar saya jauh lebih banyak dari yang kalian ketahui.

Thank you for being a part of this grand journey. Each one of you.

-----

Friday, May 21, 2010

Pada Sebuah Perpisahan

“Memang ini adanya. Bukan salah siapa-siapa. Aku berharap bisa bersamamu lebih lama, tapi semua sudah berubah.”


Aku selalu mendambakan laki-laki tegap berkulit eksotis dengan sorot mata yang bisa melelehkan perempuan. Bahkan sekejap aku pernah mengangankan laki-laki yang matanya cokelat muda, berhidung mancung, Kaukasian. Segala hal yang dijual sinetron murahan. Barangkali karena tak peduli betapa aku berusaha jadi pandai dan berkelas, perempuan memang mudah takluk pada keindahan.

Kamu tidak indah. Usia kita terpaut belasan tahun. Tidak ada kotak-kotak kekar di perutmu. Dadamu tidak bidang. Kulitmu terang, bukan cokelat eksotis. Namun aku menyayangimu lebih dari yang kutahu. Lebih dari yang kumampu.

Sayang itu tidak lahir sekejap mata. Butuh berkali-kali pertemuan dan entah berapa puluh pertukaran pesan melalui jagat maya dan komunikasi selular sampai aku sadar, hatiku jatuh sudah. Cinta itu lahir tanpa permisi, seperti Tuhan yang kadang mengetuk pintu kita tanpa diminta.

Seharusnya kamu menjadikan dia percobaan belaka. Seharusnya kamu tidak jatuh cinta. Seharusnya kamu sadar dari dulu.”

Aku tahu itu lebih dari kuhafal perkalian matematika. Lebih jelas dari satu ditambah satu sama dengan dua. Aku tahu itu sejak kamu menyatakan bukan aku satu-satunya dalam hidupmu. Bahwa sudah belasan tahun kamu menjalani pilihan ini. Bahwa kamu tidak siap untuk terikat. Bahwa manusia tidak pernah berubah.

Aku membuat diriku percaya bahwa aku mampu mengendalikan cinta dan ia takkan muncul tanpa diundang. Kututup hatiku rapat-rapat dan kubuat pengingat yang kutengok belasan kali dalam sehari. Pengingat untuk selalu berpegangan. Agar aku tak perlu tergelincir.

Namun hati memang curang. Didesaknya aku ke tepi jurang dan aku tak pernah sama lagi. Kubiarkan diriku jatuh kendati kutahu akan terhempas hancur. Tidak ada jaring pengaman di sana dan aku tetap melompat. Aku menjadi orang yang berbeda. Egoku membengkak dan membuncah. Mendorongmu menjauh, membuatmu jengah.

Hingga sampailah kita ke titik ini.

Apa ini gara-gara seks?”

Pertanyaan itu menghantuiku seperti perempuan berambut panjang yang kadang muncul di sudut kamar, sebelum akhirnya aku menyerah.

Barangkali iya. Barangkali juga tidak. Apa gunanya mencari tahu? Setahuku cinta tidak butuh alasan. Manusialah yang bersusah payah merangkai formula untuk merumuskan cinta. Jatuh cinta karena begini. Jadi sayang karena begitu. Toh akhirnya kita menyerah pada kesederhanaan itu: Mencintai karena mencintai.

Ini bukan salah siapa-siapa. Aku berharap bisa bersamamu lebih lama, tapi semua memang sudah berubah.”

Aku tak bisa mencegahmu pergi. Dan aku tak ingin merengkuhmu kembali jika itu cuma akan menderamu.

Kamu layak untuk bahagia seperti aku juga ingin bahagia. Namun izinkan aku menyampaikan apa yang tak pernah tuntas diucapkan bibirku. Sekali saja.

Aku mencintai dadamu yang tidak bidang, bulu-bulu kasar di tubuhmu, tahi lalatmu. Aku mencintai caramu tertawa, tarikan sudut bibirmu, senyum lebarmu. Aku mencintai lipatan perutmu, pundakmu, lengan-lenganmu yang besar. Aku mencintai kening lebarmu, mata teduhmu, bibirmu. Aku mencintai caramu menatapku. Aku mencintai kecupanmu yang berkali-kali. Aku mencintai pelukanmu lebih dari aku mencintai hujan.

Aku mencintaimu lebih dari hamparan pasir hangat, merdu gelombang laut, semburat keemasan senja, dan lengkungan pelangi.

Aku mencintaimu lebih dari semua keindahan yang pernah kutemui.

Serumit dan sesederhana itulah aku menyayangimu.

-----

Gambar dipinjam dari gettyimages.com