Monday, April 6, 2009

Wajah Jakarta

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah yang hilir mudik memainkan kecrekan sambil menempelkan wajah di jendela mobil pada suatu siang yang panas terik, sementara tak jauh dari situ seorang bayi kurus menggeliat dalam gendongan seorang perempuan di perempatan lampu merah.

Wajah Jakarta adalah tongkat bergagang besi yang mengoreki tempat sampah semen. Pemiliknya adalah pemulung yang harap-harap cemas berebut rezeki dengan kucing gendut, tikus got dan lalat.

Wajah Jakarta adalah aroma menyengat di bantaran sungai yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah berdinding papan. Bila kau pasang telingamu baik-baik, dapat kau dengar dari dalam isakan bocah perempuan yang sudah dua hari panas demam.

Wajah Jakarta adalah pisau dingin berkarat yang dipakai menakut-nakuti pelajar berseragam dan wanita berkalung emas di angkutan kota. Sebuah pelajaran berharga bisa kau petik dari sana: jangan menaruh HP di saku celana, jangan memakai perhiasan di dalam bis, dan simpan dompetmu jauh-jauh di tempat yang tak terogoh.

Wajah Jakarta adalah pengamen yang bernyanyi sumbang di bis oranye sambil menadahkan kantung bekas keripik dan preman yang menadahkan tangan minta uang dengan paksa. Pelajaran berharga kedua: selalu siapkan recehan lebih dari cukup. Kita tak pernah tahu.

Wajah Jakarta adalah kelelahan yang menggurat wajah seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan map berisi surat lamaran kerja yang mulai lecek setelah ditenteng seharian. Di rumah, anak-istrinya menunggu dengan penuh harap. Hari ini Ayah pasti pulang bawa rejeki.

Wajah Jakarta adalah letusan kembang api yang gegap-gempita membelah angkasa dan bisa kau saksikan dari jarak belasan kilometer pada malam pergantian tahun, yang kata tetangga sebelah, “Nggak mahal kok, delapan juta aja.”

Wajah Jakarta adalah jendela-jendela mobil yang kacanya dihitamkan sehingga mustahil untuk sekadar diintip. Hawa di dalam situ tak pernah segarang terik matahari. Udaranya sejuk dan selalu wangi parfum, dan selalu tersedia air mineral penangkal dahaga jika kau haus.

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah berseragam yang menenteng telepon genggam dan permainan elektronik, sementara pengasuhnya berjalan di belakang membawakan tas sekolah, botol minum, dan kotak bekal makanan.

Wajah Jakarta adalah remaja belasan tahun bergaya Harajuku yang sakunya terisi kartu kredit warisan orang tua dan Blackberry seri terkini yang baru saja di-upgrade. Dan jangan lupakan Louis Vuitton KW-1 yang sesekali mereka tenteng dalam gaya yang berbeda.

Wajah Jakarta adalah butik berskala internasional yang dengan mudah kau temui di pusat perbelanjaan raksasa, yang menempelkan label puluhan hingga ratusan juta pada sebuah tas cantik dari kulit.

Wajah Jakarta adalah langkah tergesa kaki-kaki yang dibungkus sepatu berhak tinggi dan pantofel berkilap yang bersanding dengan tangan-tangan menengadah di jembatan penyeberangan.

Wajah Jakarta adalah gemerlap lampu warna-warni yang berpendar diiringi musik menghentak dan cairan merah di gelas-gelas kristal dalam geliat malam yang masih muda.

Wajah Jakarta adalah anak laki-laki berbaju kusam yang menatap iri saat kita bergandengan tangan menyusuri trotoar di sebuah malam minggu sambil makan es krim. Wajah Jakarta adalah senyumnya yang terkembang saat kau gandeng tangan mungilnya ke abang penjual es dan mempersilakannya memilih rasa yang ia suka.

Wajah Jakarta adalah pengemis berkaki buntung yang tak henti-henti mengucapkan terima kasih saat kau cemplungkan selembar ribuan ke gelas plastiknya. Dalam syukurnya ada doa agar panjang umurmu selalu.

Wajah Jakarta adalah anggukan tulus pedagang kaki lima saat kau bayarkan sejumlah rupiah sebagai penglaris jualannya pagi ini tanpa minta kembalian.

Tahukah kau apa yang terlintas di benakku hari ini, saat memandangi Jakarta dan pencakar-pencakar langitnya dari kaca gedung bertingkat tempat kita menghabiskan sembilan jam dalam sehari?

Jakarta sesungguhnya tak pernah miskin. Ia hanya lupa menoleh pada yang terpinggir.


(suatu malam, dalam keramaian sebuah festival musik di jantung ibukota)


*Gambar dipinjam dari: http://media.photobucket.com/image/monas,%20foto/dave_win2/jakarta/monas.jpg

16 comments:

okke! said...

kisah klasik hidup...oh hidup.
Tragis, ironis, bikin miris dan sedikit berkumis.

ine said...

Wajah Jakarta adalah ketika seorang anak kost tawakal 2A kehabisan uang saku kiriman orangtua dan seorang malaikat memberikan amplop yang didalamnya terdapat beberapa lembar uang.... :)

ezramayo said...

haha.. untung aku sejak sma diungsikan babe ke jokja. tp sbenernya dimana2 sama jg sih. kita tetap membayar ongkos peradaban.
btw, bagus ni tulisanna..

tantia. said...

bagus tulisannya..
tp jakarta miskin, miskin hati, kaya jadi sia-sia kalau ga pny hati untuk berbagi, yakan?
tapi bagus mbak tulisannya =)

a seeker said...

akhirnya.. tulisan yang jleb lagi.. yang bikin mikir dan bikin bertindak.. makasih atas tulisan tulisannya.. udah lama saya tongkrongin setelah tulisan-tulisan tentang ubudnya.. :)

Jenny Jusuf said...

okke!: demen gw baca komen lu, sebelum kata terakhir, ahahahahah

ine: aaaawhh.. but life's getting better now, yes? :-)

ezra: dimana-mana sebenernya sama sih, cuma beda 'level' aja. jakarta contoh yang rada ekstrim..

tantia: yup. kalau ada yang bilang jakarta miskin, maka miskinnya di hati. kadang saya mikir, orang-orang yang tinggal di desa (dalam beberapa hal) bisa dibilang lebih kaya dari kita meski mereka nggak naik mobil dan nggak bawa blackberry ;-)

a seeker: ehehehee.. makasih juga ya udah mau nunggu sekian lama..

Pepi Hardiyanto said...

Jen, I like the way you define this place - Jakarta. Indeed what you observe there coincides with what I have been studying for so many years in the confinement of the economics. Thereby I see a typical economic analysis, which is why I like your writing even more. Such a cunning observation that comes out of a plain and unpretentious observation about life. I know it is coming from a person with passion for better well-being of all humankind, from every walk of life.

There you put forward the urge to let the people to maximize their own utility functions, thereby they need to have freedom to choose the best for their own life. Acquiring it, economists assume that the best outcome will take place in a general life, because everybody is happy with the best choice for the well-being based on the free-will.

Jen, you can make a good economist with an agenda of life. That's even better than just a plain economist. Connect it w/ the 'Divined Destiny' that comes only from our Il Supremo..

boy said...

kenapa gak ada mengenai manusia-manusia yang bekerja keras...demi keluarga, masa depan, dan lain sebagainya?

kerja keras bukan wajah jakarta?

tantia. said...

intip2 blog ku yuk http://citygeek.blogspot.com/ di comment ya mbak =) thanks

Galuh Riyadi said...

Kenapa Jen?

orang-orang yang tinggal di desa (dalam beberapa hal) bisa dibilang lebih kaya dari kita meski mereka nggak naik mobil dan nggak bawa blackberry ;-)

*disentil

Setuju!!

Wakakakakak.....

chindy tan said...

saya selalu g abis kagum sm temen2 yang bisa survive di jakarta,
dijamin kesabaran'e ude teruji,
semua jari saya jadi jempol deh untuk spesies jakarte;)

Jenny Jusuf said...

boy: kalau menurut saya, itu angle-nya sudah beda, mungkin lain kali :-)

galuh: kenapa apanyah?

cindy: saya sendiri sejujurnya udah berulang2 pingin 'kabur' dari jakarta, mbak. pingin hijrah ke manaaa gitu, hehehe

ima said...

jakarta memang tidak pernah miskin mba :)
pengemis pada pakai HP..

wajah jakarta adalah orang2 kreatif dan pejuang...

anak2 ngamen di pagi hari, sekolah siang harinya.
waktu saya tanya cita2 ny apa: dia bilang mau beliin rumah buat ibunya mba :)

hebat emang anak jakarta :)

plain said...

punchline-nya okeeee!

krismariana widyaningsih said...

Aku baru setahun tinggal di Jakarta. Sampai sekarang aku tak tahu harus menikmati Jakarta dari sisi mana. Tak jarang aku bingung melihat wajah Jakarta yang "njomplang": Ada yg sangat kaya, ada pula yg sangat miskin; ada yg baik dan ada pula yg brengsek. Tak jarang dalam waktu 1 jam, semua fenomena yang sangat berkebalikan itu dipaparkan ke hadapanku. Kadang sedih melihatnya. Dan jujur saja, muak...

Anonymous said...

hehehe jakarta,yang penting hati kaga mini