Tuesday, March 17, 2009

Menyimak Tepian Sungai

Dalam retreat meditasi yang saya ikuti di Ubud belum lama ini, setiap peserta memperoleh waktu istirahat yang cukup panjang seusai makan siang, yang bisa digunakan untuk tidur atau melakukan kegiatan bebas. Pada hari kedua, saya memutuskan untuk sedikit bertualang. Setelah melanggar sebuah peraturan (tidak boleh berbicara dengan siapa pun selama masa hening) dengan meminta petunjuk jalan dari karyawan hotel, saya menuruni tangga batu yang berkelok-kelok hingga tiba di pinggir sungai. Udara panas membuat saya langsung mencelupkan kaki tanpa berpikir dua kali.

Saya duduk bergeming. Matahari bersinar terik. Nyaman sekali membiarkan kulit terpanggang sementara kaki terendam air dingin. Sesekali, saya kucurkan air mineral dari botol untuk membasahi betis.

Ketika memandang aliran sungai, saya tertegun. Di permukaan air berkilau ribuan permata mungil. Pendarnya lebih indah dari berlian mana pun yang pernah saya lihat (*ahem* kayak sering ngeliat berlian ajaaa ;-D). Saya tak sanggup mengalihkan mata dari pemandangan itu. Air kecoklatan yang sesekali menghantarkan daun layu kehitaman dan serpihan kulit kayu ternyata bisa memantulkan cahaya matahari dengan indahnya. Terik matahari yang menyiksa kulit ternyata sanggup menyulap sungai menjadi tambang permata. Lama, saya terpekur.

Sejurus kemudian, panas di tubuh saya lenyap. Sinar matahari meredup, tertutup awan. Spontan, saya mendongak. Langit mengelam. Permata di permukaan air ikut hilang. Sungai tak lagi berpendar. Namun, lagi-lagi, semua hanya sesaat. Tak lama kemudian, matahari kembali muncul dan membuat semua bercahaya. Demikian seterusnya. Entah berapa lama saya duduk di pinggir sungai, mengamati pantulan sinar matahari yang terus datang dan pergi. Permata-permata mungil yang silih berganti ada dan lenyap.

Bangkai laba-laba yang mengambang mengalihkan perhatian saya. Serangga itu terbawa riak air yang menerpa pergelangan kaki saya. Sejenak, saya terpesona menontoni derasnya arus yang dihantarkan air terjun dari belakang bukit batu. Saya sendirian, namun gemuruh itu sama sekali tidak terdengar menakutkan. Ini pertama kalinya saya bersentuhan dengan sungai, dan panggung kayu yang saya duduki terus bergoyang didera air. Di sekeliling saya banyak bebatuan yang cukup besar, namun entah kenapa tak terbersit sedikit pun rasa khawatir. Tiba-tiba, semua terasa …apa adanya.

Arus sungai ini, gemuruh ini, pancangan kokoh batu kali, derai air terjun di balik bukit, mendung di langit, sinar yang memanggang kulit, pantulan berlian di bawah kaki, bangkai serangga, kulit kayu, daun layu, ranting pohon… semua terasa apa adanya.

Mendadak, mendungnya langit menjadi sama berharganya dengan pancaran sinar mentari. Mendadak, kilau permata di permukaan air menjadi sama berharganya dengan riak kecoklatan yang menghantarkan bangkai serangga dan sampah sungai. Mendadak, batu-batu tajam di sekitar sungai menjadi sama berharganya dengan bebatuan warna-warni yang menghiasi anak tangga tempat saya turun. Mendadak, arus deras yang bergemuruh menjadi sama berharganya dengan aliran air yang datar dan tenang.

Mendadak, benak saya kehilangan kemampuan untuk melabeli apa pun yang saya jumpai di pinggir sungai. Mendadak, saya tak lagi punya keinginan untuk memilah apa pun yang saya lihat ke dalam kategori; bersih-kotor, indah-buruk, aman-bahaya, menakutkan-menyenangkan. Mendadak, segalanya terasa begitu netral.

Tidak ada yang buruk atau baik dari sungai. Ia hanya memantulkan dan menghantarkan apa pun yang diserahkan alam kepadanya. Sinar matahari, sampah, serangga, pasir. Bersih atau kotor, indah atau buruk, aman atau berbahaya, menyenangkan atau menyeramkan, menyegarkan atau melelahkan, semua adalah hasil bentukan persepsi yang secara otomatis saya berikan kepada segala hal yang saya temui. Ketika batin saya berhenti memberi label, semua menjadi sama berharganya. Ketika pikiran saya berhenti menilai, semua menjadi sama bermaknanya.

Lagi-lagi, saya tercenung.

Barangkali, itu juga yang terjadi pada kehidupan dan segala sesuatu di dalamnya. Tidak ada yang baik, buruk, benar, atau salah, kendati kita tak henti-hentinya berusaha melekatkan label pada semua yang kita lihat, alami, dan rasakan. Kita menarik garis berdasarkan citra tentang baik-buruk-benar-salah, dan berupaya meniti garis tersebut dengan harapan hidup akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kendati demikian, hidup adalah sungai. Ia hanya mengalirkan apa yang ‘dititipkan’ kepadanya, seada-adanya. Dan seringkali, ‘yang terbaik’ yang dijatahkan hidup tidak sesuai dengan ‘yang terbaik’ versi kita sendiri. Barangkali itu sebabnya kita menderita.

Barangkali, itu sebabnya kita tetap tak kuasa mencegah kematian sekalipun kita berjuang sekuat tenaga menepis maut. Barangkali, itu sebabnya kita tetap tak mampu menghindari perpisahan sekalipun kita mati-matian mempertahankan kesatuan. Barangkali, itu sebabnya duka tetap hadir meski kita berusaha meraih bahagia. Dan barangkali, tidak ada yang salah atau buruk dari perpisahan, kematian, atau kesedihan. Karena ia hanya sesuatu yang dihantarkan arus sungai kepada kita. Ia hadir secara alami. Ia tiba, karena memang sudah waktunya. Label yang kita lekatkan kepadanyalah yang membuatnya memiliki ‘arti lebih’, seperti cap yang juga kita tempelkan pada pertemuan, kelahiran, dan kebahagiaan.

Sepanjang hidup, tak henti-hentinya kita menempelkan label. Tak henti-hentinya kita bergulat. Tak henti-hentinya kita bergelut. Kita bergumul menghindari luka dan kesedihan, dan berusaha keras mempertahankan kebahagiaan dan kesenangan. Toh, akhirnya, semua akan berlalu pada waktunya.

Kapan terakhir kali kita datang ke sungai dengan tangan kosong? Kapan terakhir kali kita membersihkan saku dari berbagai label, cap dan stempel? Kapan terakhir kali kita menjalankan peran sebagai penonton yang hanya duduk di tepian; sekadar mengamati dan membiarkan semua berlangsung sebagaimana adanya?

Jika hidup adalah permainan, barangkali ada baiknya sesekali kita melipir ke pinggir lapangan. Menyingkir sejenak dari arena untuk sekadar menonton. Bukan untuk mempelajari strategi baru, bukan untuk menyoraki mereka yang sedang bermain, bukan untuk mencatat dan menghitung skor. Hanya duduk menonton.

Esok harinya, saya kembali ke sungai bersama beberapa teman. Duduk di panggung kayu yang sama -kali ini dalam posisi menyamping- saya kembali termenung.

Seumur hidup, saya dibesarkan di Jakarta, dimana sungai dan alam bukan alternatif lahan bermain nomor satu. Seumur hidup, baru kali ini saya merendam kaki di sungai yang mengalir deras. Di kota besar, sungai identik dengan sampah, banjir, penyakit, dan aroma tak sedap. Di tempat ini, sungai adalah tempat saya merenung. Berdoa. Bersyukur.

Selama empat hari berada di Ubud, tiga kali saya menyambangi sungai, setiap kali dengan kawan yang berbeda. Di hari pertama, saya sendirian. Di hari kedua, saya pergi dengan beberapa teman. Di hari terakhir, saya turun ke sungai dengan seluruh peserta retreat untuk bersama-sama mengakhiri keheningan panjang yang telah kami jalani.

Sebelum masa hening resmi berakhir, kami duduk bermeditasi di pinggir sungai. Di tengah gemuruh dan gemercik air yang melanda telinga, sepenuh hati saya berdoa.

Entah sendirian, entah berdampingan, tolong ingatkan saya untuk senantiasa ‘datang ke sungai’ sepulangnya saya kelak. Jika tak mungkin untuk tinggal selamanya, setidaknya izinkan saya sesekali kembali. Duduk di tepian untuk menontoni arus dan membiarkannya mengalir, apa adanya. Ia tak perlu jernih. Ia tak perlu bening. Ia tak perlu tenang. Ia tak perlu berkilau bak permata. Ia ada, dan itu sudah cukup.

-----

15 comments:

ndha said...

lively jenny...
pertama mendut dan sekarang ubud. kalau rasa "iri" itu diizinkan, aku akan iri dengan semua pengalaman batin yang telah kamu lalui.
Dan catatan yang kamu bagi ini benar-benar mengingatkanku bahwa kita memang harus "berkawan dengan semua yang tak bisa dielakkan". Seperti hidup yang mengalirkan takdir... suka atau tak suka...so simple...
Thanks for sharing....

Brokoli sehat said...

jj, ah maneeeeh! eh eh, lu harus ke tempat gw ya kalo ke bali!

Jenny Jusuf said...

ndha: sejujurnya, saya sendiri nggak pernah nyangka bisa dapat kesempatan dua kali mengikuti meditasi intensif seperti ini, khususnya yang di ubud. it's been such a magical journey to me :-)

popi: rumah lo itu benernya di bali apa jawa say?

Yoes Menoez said...

Menyenangkan sekali ya kalau kita bisa belajar menikmati hidup dari hal-hal kecil yg kadang luput dari perhatian kita karena "hal-hal besar" sudah merampas waktu kita.
Nice posting...salam kenal ya...!

onlyoneearth said...

"hidup adalah sungai. Ia hanya mengalirkan apa yang ‘dititipkan’ kepadanya, seada-adanya. Dan seringkali, ‘yang terbaik’ yang dijatahkan hidup tidak sesuai dengan ‘yang terbaik’ versi kita sendiri. Barangkali itu sebabnya kita menderita".
Jen bagian ini nancep banget, mengelopek selapis selaput katarak 'mata' titipanNya padaku. 'Mata' yang sudah terlalu lama pensiun, tak terawat hingga tertutup katarak.
Terima kasih Sahabat
semoga ruang dan waktu mengijinkan kita mengelopek selapis demi selapis lainnya

salam,
chindy tan

ezra said...

“sungai mengetahui segala sesuatu; segala sesuatu dapat dipelajari darinya. lihat, kamu sudah belajar dari sungai tentang kebaikan memiliki tujuan sederhana, tenggelam, mencari dasar,” begitu kata Vasudeva, sang tukang sampan, pada Sidharta. (Sidharta, Herman Hesse)

Jenny Jusuf said...

Yoes Menoez: dan ajaibnya, sering kali 'pencerahan' justru hadir dari hal-hal paling sederhana yang kerap terabaikan

Chindy: ruang dan waktu adalah sarana bagi hati yang mau menapak pulang ke dalam diri, bukan begitchu sistah? :-)
yuk yuk bikin paguyuban! hehehe...

Ezra: waaaaw... thanks a lot for sharing this..

chindy tan said...

Semuanya adalah sarana,
tubuh, pikiran, perasaan, dan altar hidup yang berisi ruang dan waktu adalah sarana yang punya masa kontrak,
kita tak pernah tau kapan akan jatuh tempo
ada yang tak kenal tempo, bersyukur hati mulai tergelitik untuk membedahnya...entah bisa tuntas ato tidak...ruang dan waktu bukan kendali dan bukan milik kita, karenanya dengan sarana yang sementara moga saja sekeping demi sekeping pemahaman yang terkuak dapat menyeberangkan kita ke pantai abadi

ezra said...

sungai mengingatkan kita pada filosofi jawa “ngeli tanpa keli” atau “menghanyut tanpa terseret arus”. kita sebaiknya menjalani hidup (dan semua tetek-bengeknya) dengan penuh kesadaran sambil selalu mengupayakan perbaikan keadaan.
hehe.. itu kata simbahku

Vendy said...

mungkin sungai itu tak harus berarti sungai dalam arti harafiah :)

Jenny Jusuf said...

Ezra: hehe.. jadi pengen kenalan sama mbah-mu. salam yak! :-)

Vendy: ga mesti kok. apalagi kalo sungainya di jakarta ya.. agak bikin ilfeel aja gitu ;-D

BTW, lo ga ikut reuni KY 2001? *teteub*

vendy said...

kagak Jen :))
"sungai"-nya mengarah ke tempat lain dulu :P

pandi merdeka said...

wow... ternyata hidup itu bukan panggung sandiwara lagi ya.. case solved. :D

Jenny Jusuf said...

Hidup, bagi saya, punya begitu banyak rupa. Dan panggung sandiwara adalah salah satunya.. :-)

lagulamabanget said...

ngikut dulu aja deh....