Friday, November 28, 2008

kepada yang merasa media gosip se-tanah air

Ketika kau gebrak itu pintu mobil
Sambil berteriak-teriak tak karuan seperti menyerbu maling
Dengan kalimat yang membuat pekak telinga dan nyali ciut
Sadarkah kau berapa yang terduduk lemas di balik kaca itu?

Ketika kau ketok itu palu untuk menjatuhkan vonis atas hidup orang
Adakah benakmu berbisik, salahkah ini
Atau memang otakmu tak lagi punya ruang untuk hati?

Ketika kau curi itu orang punya suara
Lalu kau palsukan, dibalur narasi dan aksara
Seperti pil pahit bersalut gula untuk membohongi lidah
Pernahkah kau bertanya apa karmamu kelak?

Ketika kau pakai itu orang punya nama
Dan kau jejalkan di bawahnya kebohongan demi kebohongan
Sempatkah kau berpikir, bagaimana kalau namamu yang ada di sana?

Ketika kau hujani itu orang punya hidup
Dengan lampu sorot besar-besar untuk kau kulik
Dan kau jadikan komoditi tanpa peduli bahwa orang juga berhak punya privasi
Tahukah kau resah dan gelisah yang hadir merampok batin?

Ketika kau angkat itu lensa hitam tinggi-tinggi
Dan kau dekatkan tigapuluh senti dari wajah seperti polisi memburu tersangka
Adakah kau mengerti semburat teror yang berlintasan di sana?

Jadi, kawan-kawan tersayang, teruslah mendulang apa yang kalian sebut rezeki dengan mendagangkan sejumput hidup orang. Tak usah khawatir akan karma, fakta dan etika, karena di sini kita cuma berdagang, dan dunia yang kita tinggali memang tak menyisakan tempat untuk nurani. Teruslah bekerja, dan sebut itu karya. Sebut yang kau kabar-kabari itu informasi faktual, akurat, terpercaya, setajam silet. Teruslah merampok hak dan kebebasan orang lain untuk punya ranah privat, toh kita cuma sama-sama cari makan. Toh, mereka yang terus kalian kutak-katik itu hanya segelintir orang yang sial karena ketempelan cap publik figur.

Saya di sini, menonton. Anda dan lakon-lakon yang silih berganti menjelmakan dagelan di panggung berjudul industri hiburan ini. Karena cuma itu yang saya bisa.

Kendati ini bakal sia-sia, saya tetap belum bosan berharap dan menunggu
Saat ketika manusia bisa jadi manusia.

:-)

23 comments:

jemarihaqi said...

yah bow namanya juga dunia showbiz, begitulah

Enno said...

hmm, itulah sebabnya sepanjang karir jurnalis, gak pernah mau dikasih desk entertainment, kecuali buat ngeliput konser (gratis bo!) hahaha...

salam, JJ :)

Jenny Jusuf said...

Haqi: pasrah ya bow? Hihihi..

Enno: aaah.. kalo yang itu saya juga mau! ;-D Salam juga, No.

Punggung said...

ga ada yang bilang kalau dalam hidup akan selalu ada keramahan ;)

~punggung

Andri said...

Biarkan aja mbak..Nyari uang skr susah.

Reza Gunawan said...

Komentar "biarkan saja, nyari uang skr susah" memang menarik.

Komentar tersebut bisa juga digunakan dalam konteks hal kurang etis yang kita anggap normal seperti jadi perampok, koruptor, penipu dan juga pekerja seks.

Hanya karena cari uang susah, tidak otomatis ketidakmanusiaan boleh diamini :)

Terimakasih sudah menuliskan ini.

Dewi Lestari said...

Memang kalau belum merasakan sendiri, kebanyakan reaksi atau komentar lebih menjurus ke "hypothetical compassion", ke mana pun compassion itu ditujukan, bisa ke para wartawan, masyarakat, atau ke para selebriti yang didagelkan. Semuanya hipotesis sampai kita benar-benar langsung berada di tengah-tengah kancah.

Setidaknya itu yang bisa kita sadari dan amati sebelum komentar pedas dan sok tahu kita terlontar dari mulut atau di dalam hati saat cuma menontoni hidup orang lain di layar kaca.

~ D ~

Jenny Jusuf said...

Punggung: memang tidak. Itulah sebabnya kita diberi kesempatan untuk memilih. :-)

Andri: *hela nafas panjang*

Mas Reza: jadi, mendingan mana, pekerja seks atau pekerja infotainmen? ;-D

Mbak Dewi: dulu itu juga yang saya lakukan, Mbak. Menjatuhkan penilaian seenak udel atas hidup orang yang cuma saya saksikan di layar kaca, bahkan tidak jarang ikutan mencela. Termasuk ketika media beramai2 mencibir kelakuan seorang artis yang keukeuh menolak kehidupan pribadinya dikulik dengan selalu menjawab "No comment" kepada setiap wartawan. Sekarang, seandainya saya ketemu artis itu, saya kepingin sungkem ke dia. :-)

Reza Gunawan said...

Kalau pekerja seks, dia melanggar privasi dan perasaan dirinya sendiri, dan umumnya dihujat banyak orang karena profesinya.

Kalau pekerja infotainment, dia melanggar privasi dan perasaan banyak orang lain yang jadi targetnya, namun umumnya dimaklumi banyak orang atas profesinya.

Saya tidak tahu mendingan yang mana. Kalau saya membuat penilaian dan penghakiman sendiri, nanti jadi sama saja dengan penikmat gosip :)

Andri said...

"Setiap pekerjaan ada resikonya",demikian ayah saya berkata pada suatu saat.
"Ayah kan guru..Memang apa resikonya jd guru?",kata saya.
"Ada nak..Kalo kita mengajari sesuatu yg salah,murid kita bisa menjadi orang yg berbahaya nantinya",kata ayah saya.

Kata pepatah,"semakin besar kapal,semakin besar gelombangnya".Yg sabar ya.. :)

Niftira said...

cari rezeki memang susah, tapi tergantung rezeki yang seperti apa yang kita cari... Mudah2an saya tidak tergoda utk mencari rezeki dg menghancurkan hidup orang lain.

Imam Wahyudi said...

Dan secuil pikiran mbak pernah berharap media mengulas mbak ketika makan siang di Warung Tegal.
Headline :
Jenny Jusuf penulis yang baru naik daun kepergok sedang makan siang di warteg bersama seorang pemain Band ganteng ;-p

Trus disiarin di Infotainment yang female presenter2nyaseksi abis. Hihihi, hidup Insert !!

Fery! said...

Jennnnnnyyyyyy... stop nonton infotainment! :D wkwkwk. We are too smart buat nonton acara-acara 'pembodohan' masyarakat seperti: (1) infotainment murahan, (2) sinetron kacangan, (3) reality show boongan dan (4) drama pelecehan seksual yang diberi judul 'komedi'.
Dan saya sarankan juga buat pembaca setia blog jenny juga untuk mematikan tipi atau segera pindahkan channel ke spongebob squarepants daripada empat jenis acara tersebut, karena hanya akan menaikkan rating yang merupakan dewa bagi produser acara tersebut.

Stop pembodohan. Lebih baik segera ambil buku bermutu dan manjakan imaginasi, (misalnya Vajra, hehe, udah baca belum Jen?)

Jenny Jusuf said...

Kak Fery: wah, saya mah udah dari kapan tau berhenti nonton infotainment, Kak. Suka berasa 'nista', hyahahahah.

Vajra? Katanya bagus ya? Kakak udah baca? ;-p

-maynot- said...

Kalau gw melihatnya hubungan antara media gosip vs seleb itu mungkin sama dengan hubungan antara loe/pawang sobek vs uang di posting lalu :)

Seperti ketika loe & si pawang sobek melihat uang itu nggak berharga, harganya hanya dalam persepsi individu, sehingga menafikan bahwa uang itu bukan hanya memuat persepsi loe, melainkan juga persepsi orang lain, termasuk nilai nominal (kemarin gw nulisnya intrinsik ya ;)) uang itu sendiri.

Buat mereka, menyobek2 hidup seleb sama mudahnya dengan menyobek duit yang kalian lakukan :) It's just a matter of perception :)

So, menjadi aneh buat gw ketika loe (dan si pawang sobek) tidak bisa melihatnya demikian.. hehehe.. sementara dengan gagah kemarin loe (dan si pawang sobek) bisa menafikan bahwa "pencerahan" yang kalian dapatkan adalah dengan mengorbankan orang2 yang bisa mendapatkan manfaat dari uang itu :)

Just my five cents, Jen :) Tapi menurut gw, loe mulai bias dalam memandang masalah ini. Too much emotional involvement with the players, eh ;)?

*in case loe lupa, gw masih Jendral Gerwani yang bisa nyilet2 orang based on logic and facts. No emotion involved, apalagi prejudice :) Hanya melihat kedua posting terakhir loe, dan mengambil benang merah :) No offense :)*

Brokoli sehat said...

hehehehehe, jadiii kapan kita ngobrol ngalor ngidul lagi sampe lewat tengah malam? huahauhauahuah

Jenny Jusuf said...

Jeung May: hyahahahaha... I know, Bu Jendral! No hard feeling kok ;-D BTW, itu Shiloh sama Vajra masih nunggu siletan-siletan lo ^_^

Popi: ayuuuuuuuuuk! Lo pinjem XL temen lo lagi yak? Biar ngirit nelepnya hueheueheueheu.

Fery! said...

Maafkan saya kalo salah, hanya opini doang. Masalah utamanya bukan media vs seleb, tapi produser gila uang dan penonton tipi aneh. Saya dulu punya temen wartawan dan penulis naskah infotainmen. Mereka punya idealisme untuk 'memberkati' dan menularkan hal positif dan kejujuran lewat media. Tapi mereka harus keluar karena produser tidak menghendaki idealisme mereka. Mereka dipaksa untuk menggedor mobil artis atau mengarang naskah 'jelek' ttg artis. Sekalipun artis itu hanya mengucapkan satu kata positif, naskah harus jadi heboh, negatif, berprasangka.

Dan produser itu gak sepenuhnya bisa disalahin, karena mereka mendewakan uang, dan uang datang dari penonton. Penonton hanya menonton artis negatif dan berkasus (atau komedi pelecehan dsb seperti komen saya sebelumnya).

Dan penonton gak ada pilihan lain karena tipi semuanya isinya kayak gitu! Jadilah lingkaran setan.

Artis? Hanya korban, yang kadang dirugikan atau diuntungkan karena mau gak mau mereka butuh popularitas.

Jadi tolong para produser untuk punya nurani, jangan memperbejat akhlak masyarakat yang labil, dengan sinetron kekerasan, plecehan seksual, penipuan terselubung, hanya demi uang.

Herli said...

Hahahaha...

Numpang komen ya :D

Mungkin ini sebabnya saya berhenti nonton televisi, beberapa tahun yang lalu.

Informasi yang disajikan, seperti di"cecoki" masuk ke otak kita, tanpa sempat memilah-milah, mana yang benar-benar berguna buat saya.

Saya sering bertanya, si X itu siapa sih? Dan sekeliling saya akan menganggap saya aneh karena tidak mengetahui artis sepopuler "X".

Buat saya ga penting untuk tau X itu siapa. Mending cari informasi yang berguna saja, jangan mau dicekoki gosip pencuci otak :P

Cheers

Rayaa Riyadi said...

sebagai yang pernah 'menikmati' kejeduk mic yang disodorkan mereka,
jatuh tersandung kabel ditengah lautan kamera dan kilatan lampunya,
tiba dirumah dengan tangan memerah akibat cakaran tangan mereka,
saya mengerti maksud anda....

tidak pernah terjadi disana 'keanu reeves dikerubuti wartawan karena ingin meminta kepastian "benarkah ia diserang flu?"' 'pernikahan yang diboikot karena tidak memperbolehkan satu wartawan pun masuk.'

aneh, alasan 'publik memiliki hak untuk mengetahui kejadian sebenarnya tentang sang idola' dijadikan pembenaran, lalu bagaimana dengan 'sang idola memiliki hak untuk menjalankan hidup yang sewajarnya ketika ia meninggalkan panggung dan menjadi makhluk biasa?'

Bubble-pinkz said...

Itu pilihan mereka buat makan.... Yaaa.... nyari duit skrg mang susah sech....

Pearl said...

Haii...
Salam kenal... (^_^)

mau share some comments,
saya sendiri udah jarang banget nonton TV lokal, bukan tidak menghargai Ploduk2 dalam negri, tapi sebagian jam tayangnya yang diisi dengan Infotainment, sinetron *air mata darah*, reality show *yang ga real*... ga cukup menghibur...

emang nonton Infotainment itu Guilty Pleasure.. membangun opini public yang mungkin jauh dari fakta. malah yang ada mengaburkan kenyataan dan semakin memperkeruh situasi si objek..
kasus rumah tangga yg ujung2nya cerai, menurut saya, Medialah salah satu pendukungnya..
Too bad, mereka hanya memandang dari segi commercial consumtion.. a bit amoral ga sih??
yaa call me exaggerate, but deep down inside.. i know people feel the same...

Saya rindu, acara2 TV ringan kaya film Bill Cosby, Rags to Richies, Who's The Boss, American Superhero, Wonderwoman... kayanya itu lebih entertaining deh buat whole family .. dan yang pasti membuat suasana hati lebih menyenangkan daripada nonton sinetron...

makanya saya bisa stress klo sampe lupa bayar TV kable, dan keputus.. ato bahkan gangguan yang cuma bbrp jam ... oouuucchhh....

hehehhehe...
Peace...

ezra said...

saya merasa sedikit iba pada mereka yg disorot kamera2 itu. bagaimanapun juga, kamera2 itu hanya mengambil sepotong2 dari hidup mereka. sementara potongan yang lainnya masih tersembunyi
--atau disembunyikan. dan bagaimana jika potongan2 yang kemudian disatukan kebetulan menggambarkan sisi mereka yg gelap?
saya rasa solusinya adalah dgn menempatkan kamera utk mengikuti sang artis itu kemanapun hingga didapatlah gambaran lebih utuh tentang hidupnya.
*membayangkan diri sendiri sdg melakukan hal2 gila sementara kamera sdg merekam*
ah, saya tarik kembali usul saya. bukan solusi yg bagus. :)