Saturday, October 4, 2008

...dan makhluk itu bernama Cinta.

“Itu siapa?”

Saya mengalihkan perhatian dari layar laptop dan menoleh ke arah yang ditunjuk teman saya dengan dagunya.

Seorang bapak tua baru saja memasuki ruangan seminar tempat kami menjadi panitia. Seminar tersebut dilangsungkan selama sembilan hari dan diikuti oleh peserta dari berbagai kota. Selain menjadi seksi sibuk yang merupakan kewajiban setiap orang berlabel panitia, saya juga kebagian tugas mendata dan mengumpulkan foto setiap peserta.

“Nggak mungkin peserta,” saya menjawab pelan, supaya tidak terdengar oleh si bapak yang kini sibuk menata bawaannya di pojok ruangan, tanpa permisi sama sekali, bahkan tanpa memandang kami. Barang-barangnya tidak terlalu banyak, hanya sebuah ransel lusuh dan dua dus berukuran sedang yang tampak kontras dengan karpet tebal dan interior ruang seminar.

Teman saya menghampirinya dan berbasa-basi menanyakan namanya. Setelah menjawab sekenanya, bapak tua itu menarik sebuah kursi yang menganggur di sudut, duduk bersandar di sana, dan tidur.

Hayah.

Saya dan teman-teman panitia cuma bisa berpandang-pandangan.

Tabir misteri itu baru tersingkap ketika si bapak membuka matanya yang memerah dan tersenyum penuh kantuk. Ternyata beliau hanya tidur-tidur ayam (BTW, ada yang bisa menjelaskan kenapa disebut ‘tidur-tidur ayam’? Hehehe).

“Saya mau nengok istri,” jelasnya sederhana. “Dia ikut seminar di sini.”

“Nama istrinya siapa, Pak?”

“Indrawati.”

Saya terdiam. Pandangan saya beralih ke balik pintu kaca, tempat dimana para peserta mengikuti jalannya seminar.

Itu dia. Orang yang dimaksud sedang duduk di deretan tengah, agak ke belakang. Penampilannya sangat sederhana. Rambutnya yang keabuan disanggul, punggungnya sedikit bungkuk dan wajahnya yang berkeriput tampak lelah, namun ia tetap semangat menyimak seminar. Sibuk mendengarkan dan mencatat.

Ibu Indrawati adalah peserta tertua yang berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Ragu-ragu, saya melirik si kakek.

“Bapak dari mana?” Saya bertanya hati-hati.

“Salatiga,” jawabnya sambil tersenyum, memamerkan gigi-gigi kecoklatan yang sebagian sudah mengeropos, bahkan patah.

“Di Jakarta Bapak tinggal di mana?” Saya penasaran.

“Ada saudara di Kramat,” ia menjawab dengan mata berkaca-kaca, sepertinya masih ngantuk berat. “Tapi saya ndak lama di sini, paling dua hari. Habis itu pulang ke Salatiga.”

“Kangen sama Ibu ya, Pak?” Duh, Bapak, maafkan saya yang terlalu cerewet, tapi sungguh saya tak bisa menahan diri untuk terus bertanya.

Beliau tidak menyahut. Hanya senyumnya yang merekah semakin lebar. Dan binar matanya lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan saya.

Saya meninggalkan beliau dan kembali ke kursi saya (karena ‘kembali ke laptop’ agak mengingatkan pada bapak pelawak berinisial T ;-D). Sambil mengetik, berulang kali saya menengok ke arahnya (bapak tua, bukan bapak pelawak – ini apaan sih? Hahaha!). Menatapi punggungnya. Mengamatinya bersandar di sana dan tertidur pulas. Sekadar melihat tanpa bersuara.

Jam makan siang tiba. Para peserta berhamburan keluar, berebut menyerbu tumpukan kotak styrofoam putih yang berisi makanan dengan ganas. *Ehm, nggak usah dibayangin, hiperbola. ;-)*

Bapak tua itu tak ikut beranjak, agaknya maklum bahwa ia tak mendapat jatah karena bukan peserta. Namun matanya mencari-cari.

Sosok yang ditunggunya keluar tak lama kemudian. Mereka saling merangkul. Di depan orang-orang yang lalu-lalang. Dengan ransel lusuh dan dus-dus Aqua diikat tali rafia yang kontras dengan karpet tebal dan interior ruangan.

Untuk sejenak, ruangan itu hanya milik mereka berdua. Dan tak ada lagi yang nampak kontras di sana.

Ijinkan saya punya cinta seperti itu jika saya tua nanti, saya membatin, entah pada siapa.

Cinta yang tak lekang oleh wajah keriput, rambut beruban, gigi keropos, ransel lusuh dan pakaian seadanya. Cinta laksana embun pagi, sinar mentari, dan semilir angin yang selalu ada setiap hari. Sederhana, dan senantiasa baru.

-----

Dalam perjalanan pulang, saya duduk di angkot dan tak henti-hentinya berpikir. Bukan tentang bapak tua dan istrinya. Belakangan ini otak saya dipenuhi begitu banyak persoalan, yang kalau dipikir-pikir lagi, kebanyakan sampahnya daripada pentingnya. Namun sampah-sampah itu tak sudi pergi meski saya sudah berusaha keras. Semakin ditepis, semakin awet bercokol.

*Oh, well, what you resist persists, right? ;-)

Lelah. Jengkel. Muak.

Khawatir. Risau. Gelisah. Tak menentu.

Jalanan macet. Udara gerah. Penumpang berjejalan. Keringat bertetesan.

Hidup saya sebulan terakhir. Rollercoaster tanpa ujung. Tanpa operator, tanpa karcis, tanpa durasi, dan saya tak bisa berteriak minta berhenti meski sudah penat meluncur naik-turun.

Saya duduk bertopang dagu, menghela nafas dalam-dalam.

Angkot berhenti di pinggir jalan. Seorang ibu yang sedang menggendong anak berjalan mendekat. Spontan saya menggeser tubuh, merapatkan diri ke sudut. Tempat yang tersisa hanya cukup untuk satu orang. Si ibu harus memangku anaknya selama perjalanan.

Pintu angkot yang terlalu rendah membuatnya terpaksa mengeluarkan upaya ekstra untuk bisa masuk dan duduk di samping saya. Seketika pandangan seluruh penumpang tertuju pada sosok sederhana berbalut jarit itu.

Bocah yang digendongnya menderita hydrocephalus.

Tidak ada penumpang yang bersuara tatkala si ibu membetulkan posisi duduk anaknya agar nyaman dipangku dan meluruskan letak kain jarit di sekeliling tubuh si bocah, melindunginya dari hembusan angin.

Si bocah mengeluarkan suara-suara aneh. Baru saya sadar, bibirnya tak mampu mengatup. Kedua mata dan mulutnya tertarik sedemikian rupa hingga terus mendelik dan menganga.

“Haaaa... aaaaaa... haa.”

Sang ibu tertawa pelan mendengar bahasa yang hanya dipahami mereka berdua. Ia mengangguk-angguk, senyumnya lepas tanpa beban. Ia merogoh tas, mengeluarkan dot dan memasukkannya ke mulut si bocah.

“Umurnya berapa, Bu?” seorang penumpang menyela aktivitas kecil itu.

“Lima,” sang ibu menjawab ramah. Tak disangka, bocah di pelukannya ikut tersenyum. Seolah mengerti apa yang sedang diobrolkan dan menganggapnya lucu.

“Haaaa... aaaaa... aaaa.”

Senyum itu terus merekah dari mulut yang tak mampu mengatup dan disumpal dot bayi. Bahkan sepasang mata yang mendelik itu ikut tersenyum. Kepala yang terayun lemah dalam gendongan sang ibu tak sanggup menahannya untuk membagi kegembiraan pada seluruh penumpang angkot yang kini menontoni mereka.

Sang ibu mengayun anaknya perlahan. Menyambut senyumnya dengan mata berbinar, seolah ingin berkata sederhana, “Aku sayang kamu, apa adanya.”

Mata saya membasah.

Mendadak, seluruh jaringan kusut di otak saya kehilangan maknanya.

Mendadak, apa yang saya sebut beban dan masalah seperti mengambang begitu saja, menyisakan ruang hening, dan saya terhanyut di sana.

Mendadak, saya tak peduli lagi pada rollercoaster yang masih terus meluncur naik-turun, dengan saya di dalamnya. Tak ingin berteriak minta berhenti.

Jenis cinta apa yang kau punya, Ibu?
Aku ingin sekali memilikinya.

Cinta itu tak terbeli, dan tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun, si anak telah mendapatkannya. Lunas.

Mendadak, saya hanya ingin punya cinta.


secarik kenangan yang tersisa, agustus 2008

16 comments:

Andri said...

Saat koass di bagian mata,aku pernah berkata pd temenku,"Itu lho yg namanya cinta sejati".Sambil menunjuk kakek nenek yg saat itu sedang mengantri untuk diperiksa.Temenku cuma tersenyum.

Kakek nenek itu adalah pasien saya di sebuah klinik sosial yg kemudian saya rujuk ke RS.Si nenek menderita sakit mata yg bernama trikiasis,suatu keadaan dimana bulu matanya membalik ke dalam shg menyentuh permukaan mata.Akibatnya dia tidak bisa membuka mata.Untuk berjalan pun harus dituntun.

Yg bikin salut itu si kakek.Sebenarnya si kakek msh sehat walafiat (bila nyari istri lg mungkin msh bisa..hehe..),tp dia dg begitu sabar mengantar istrinya berulang kali ke RS (mengingat pasien spt ini harus kontrol berulang kali).

Ternyata,cinta yg tulus masih banyak dijumpai di dunia yg kejam ini.

Jenny Jusuf said...

Dan cinta seperti itu membuat dunia ini layak ditinggali.

Thanks for sharing, Andri :-)

gadisbintang said...

jennyyyy..

posting ini membuatku mewek.
huhuhu..

;)

mediana said...

kekuatan cinta memang luar biasa..

Jenny Jusuf said...

Feba: Iyaaa... akyu juga mewek waktu ituuu...

Mediana: Jadi, mari kita ramai-ramai mencinta *halah* ;-)

plain said...

huuuhu iya gw juga berkaca2 baca cerita si kakek itu.. =,(

ah kau, J.

Jenny Jusuf said...

Ami: Iyah, mengharukan lah.. besoknya dia juga masih dateng, nungguin istri. Dari Salatiga dia bawa beberapa bungkus semprong buatan sendiri, yang akhirnya dijualin sama istrinya di tempat seminar.

Duh, apa kabarnya ya mereka sekarang..

lilmarch said...

Salam kenal... Baru dapet link ke blog ini dari dee-idea.blogspot.com

Love this post... ^__^ huhuhu... dalem banget ampe pengen nangis bacanya... T_T

Thanks for sharing this ;)

Brokoli sehat said...

Ah cerita tentang bapak itu bikin merinding. dan kata-kata "Ijinkan saya punya cinta seperti itu jika saya tua nanti, saya membatin, entah pada siapa"


itu nanceb bangeeet hehehehe

Mya Saraswaty said...

Bagus banget Mbak ceritanya.Kata-katanya bikin saya menangis.Senang sekali jaman serba teknologi ini masih ada suami istri seperti ini . Cetakan perkawinan jaman dulu memang top banget deh..hehe. Saya juga pernah bertemu kakek2 tukang semir sepatu yang umurnya 67 tahun tapi tiap hari masih keliling2 dari pagi sampai sore. Rumahnya di Garut,mencari uang di Bandung. Kalau ada uang baru dia pulang ke Garut. Ketika ditanya kenapa dia masih mau susah,dia bilang : "Kalau Aki ga gini,Nini makan apa di rumah?"

Jenny Jusuf said...

Lilmarch: Salam kenal juga, thanks yaaa udah mampir & meninggalkan jejak ;-)

Brokoli Sehat: Iya, pas ngebatin juga serasa nancep, gyahahaha..

Mya: Aaaaawwwww... jadi terharu lagi :-)

narcistastrajingga said...

Ijinkan saya punya cinta seperti itu jika saya tua nanti,
Cinta yang tak lekang oleh wajah keriput, rambut beruban, gigi keropos, ransel lusuh dan pakaian seadanya. Cinta laksana embun pagi, sinar mentari, dan semilir angin yang selalu ada setiap hari. Sederhana, dan senantiasa baru.

thanks telah menceritakan cinta pada saya hari ini.
ternyata mencintai dan dicintai adalah hal yang paling terindah dalam hidup....
i learn much from this post...

Liza said...

hi jenny,salam kenal..what a wonderful post,makasiiihh banyak yaa.langsung nyuuusszz gitu dihati pas baca :) pengen nangis jg huhuhuhu..

oia,aku liza,blog reader yg dtg dr blognya dewi lestari..

ita said...

terharu,,,

pomponette! said...

halo, saya pembaca blog dari jauh. begitu baca postingan ini langsung air mata menetes dan bikin saya sesenggukan, kata2nya dalem banget mbak Jenny... terima kasih sudah berbagi cerita :)

_rudy said...

_bagaimana mau merasakan cinta bila tidak tahu cinta itu seperti apa, tidak tahu apa perlu nya cinta, apa rasa nya cinta, mana itu cinta... coba jelaskan ke orang yang tidak tahu rasanya dicinta...