Monday, March 30, 2009

Hadiah Paling Sempurna

Senja di taman. Dinaungi pohon rindang, aku bersimpuh. Tidak pada siapa-siapa. Aku sedang memanjatkan doa.

Hatiku rindu dia. Lama aku tak menjumpainya. Tak berbicara kepadanya lewat sembahyang, kendati kutahu ia selalu ada, dan tak perlu ritual untuk menemuinya.

Rindu kini membuncah, membuncit, sampai aku mau meledak. Tak bisa tidak, aku harus bercakap dengannya, meski hanya sepatah. Maka, di sinilah aku. Bersimpuh tidak pada siapa-siapa.

Mataku masih setengah terpejam saat kurasakan ada sosok lain mendekatiku. Aku terperanjat. Taman ini biasanya kosong. Aku tak ingin diganggu.

“Ini aku,” demikian sapa itu.

Aku menghentikan rapalanku, membuka mata, dan di situlah ia berdiri. Cahaya putih dari jubahnya, kulit yang bak pualam, dan wajah bersinarnya, memberi keyakinan tak terbantahkan.

“Aku sudah datang. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Matanya begitu lembut, dan aku terpesona.

Sesaat kemudian, kami sudah berbincang akrab, layaknya sahabat lama. Aku punya begitu banyak pertanyaan, dan ia mendengarkan dengan sabar. Dibiarkannya kepalaku bersandar di pundaknya sementara ia meladeni setiap ocehanku. Dipeluknya aku erat, tubuhku aman dalam lengan-lengannya, dan seketika aku merasa nyaman, seperti gadis kecil di dekapan ayahnya.

Mendapati penerimaannya, sirna sudah segala bimbangku. Dan kuberanikan diri mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah berabad-abad tabu.

“Haruskah aku mengabdi kepadamu?”

Kini kau tahu mengapa aku menyebutnya tabu. Manusia waras mana yang berani mempertanyakan keyakinan terhadap Sang Maha sebagai satu-satunya jalan sah menuju surga. Tempat peristirahatan abadi yang hanya bisa kau masuki dengan kunci bernama agama.

Di luar dugaanku, ia tertawa. Sembari ia pererat pelukannya di tubuhku, matanya berbinar menatapku.

“Tidak.”

Jawaban itu hanya satu kata. Aku terperangah, namun senyumnya tak terbantah.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Terbata karena tak percaya, aku kembali bertanya.

“Tidak ada.”

Perbincangan itu tidak lama, karena sisa waktu yang ada kupakai untuk bersandar di dadanya. Pertanyaan telah lama lenyap dari benakku dan yang kuinginkan hanya berada bersamanya. Di sini. Sekarang. Yang lain tidak penting lagi.

Seandainya saja. Seandainya saja bisa kucegat Penjaga Waktu dan kurampas bandul raksasanya agar berhenti bergerak. Seandainya saja bisa kutekan tombol ‘pause’ layaknya pemutar cakram agar momen sempurna ini berhenti di sini, selamanya.

-----

Saat matahari tenggelam sempurna di ufuk barat, ia longgarkan pelukannya di tubuhku. Dengan mata bertanya kuikuti kemana ia bergerak.

Ia bangkit, meluruskan jubah putihnya, dan mengucapkan pamit.

“Jangan pergi,” protesku. “Aku masih ingin bersamamu.”

“Aku tak pernah pergi jauh,” jawabnya. “Aku selalu bersamamu.”

“Tapi sekarang kau akan pergi,” rengekku, seperti bocah kecil yang tidak rela ditinggal ibunya. “Kau akan meninggalkan aku,” tuduhku.

Suara tawanya menggelitikku. Ia membungkuk di depanku, menjajari wajah marahku.

“Jangan cari aku di luar,” diletakkannya tangannya di dadaku. “Temukan aku di dalam sini.”

Dan aku mengerti.

Aku memang mengerti. Aku hanya tidak ingin ia beranjak, karena semenit bersamanya jauh lebih berharga dari tahun-tahun terbaik hidupku.

Namun, kini tiba waktunya untuk melepas. Ia harus kembali. Entah pada siapa. Mungkin pada tugas-tugasnya sebagai penguasa jagat. Mungkin masih banyak orang yang harus dikunjunginya. Mungkin jatahku memang hanya sampai di sini.

Tubuh itu berbalik, pergi.

“Pertanyaan terakhir...” aku tidak kuasa menahan diri.

Ia menoleh. Mengurungkan langkah dan kembali mendekatiku.

“...apa yang kau inginkan dariku?”

Pertanyaan sempurna untuk mengakhiri hari yang sempurna. Dan apa pun yang ia katakan nanti, aku rela berkorban raga dan nyawa untuk memenuhinya.

Berlutut hingga wajahnya sejajar dengan dadaku, ia berbisik,

“Hadiah terbesar yang bisa kau berikan kepadaku adalah dengan menjadi dirimu sendiri.”

Aku memandangnya, tidak percaya.

Aku baru saja menawarkan seluruh hidupku kepadanya. Tidak mungkin hanya itu yang ia inginkan. Namun, matanya, dan senyumnya, berkata bahwa ia tidak menginginkan yang lain.

“Tapi, tidakkah kau ingin aku mengubah dunia bagimu?”

Seumur hidup aku telah diajar bahwa dunia adalah tempat yang rusak. Kejam dan tak berperikemanusiaan orang-orang di dalamnya. Seseorang yang kusebut guru pernah mengajar, karena dunia telah rusak, adalah kewajiban kami untuk memperbaikinya. Menjadikannya tempat yang lebih layak untuk ditinggali bagi semua, dengan menaikkan kebenaran yang kami percayai ke puncak tertinggi.

Berperang dan menjadi martir bagi keyakinan suci. Hanya itu satu-satunya cara, demikian diajarnya kami. Dan aku sungguh percaya.

Namun, kini ia berdiri di depanku. Ia, yang diperkenalkan guruku sebagai Sang Agung yang kekuasaannya tak terbatas, yang untuknya kami harus martir tanpa menyayangi nyawa, baru saja berkata sebaliknya.

Tatapannya lembut. Dan senyumnya bukan senyum seorang panglima. Senyumnya adalah yang tampak di wajah seorang sahabat, dan aku mengenalinya.

“Mengubah dunia? Aku memiliki dunia.”

Seakan menjawab keterkejutanku, ia menambahkan, dan mengulangi,

“Aku memiliki dunia, namun dirimu –engkau— adalah milikmu. Hadiah terbaik yang bisa kauberikan bagiku adalah dengan menjadi dirimu sendiri.”

Dengan kalimat itu, dan dengan senyum yang sama, ia berlalu.

Aku terpekur. Lidahku kelu.

Mendadak, taman itu tak lagi sesepi biasanya. Atau barangkali, jiwaku yang tak lagi sunyi.



Cintanya selalu tanpa syarat, hatiku menyimpulkan. Manusialah yang membuatnya bersyarat. Dan kini, aku telah menemukan jawabannya.


Gambar dipinjam dari gettyimages.com

16 comments:

okke said...

quote: Namun, kini tiba waktunya untuk melepas. Ia harus kembali. Entah pada siapa. Mungkin pada tugas-tugasnya sebagai penguasa jagat. Mungkin masih banyak orang yang harus dikunjunginya. Mungkin jatahku memang hanya sampai di sini.




Emangnya lo (kita) pernah ditinggal? Ada juga kita yang ninggalin.

Galuh Riyadi said...

Mau sholat dulu aaaahhhh......... *pelan pelan kabur sambil nutupin muka.. malu...

;-)

My favorite!!

Jenny Jusuf said...

okke: heheheh, iya sih. tapi scara ini fiksi, agak gimanaaa gitu kalo gw bikin 'they live happily ever after', asa ga nendang.

galuh: titip donat sama kopi satu yaaak

ezra said...

hey, kamu.. ijinkan aku menyayangimu sbagai diriku sndiri, dengan caraku sendiri, dengan pemahamanku sendiri, seperti ketika aku menghayati segala sesuatu dengan caraku sendiri..
*mengulurkan jari kelingking ke tuhan*
btw, kopinya masi nggak? yg black ya..
:)

Jenny Jusuf said...

kopinya nitip sama galuh..

btw, gue kok berkali2 nyoba komen di blog lo gak bisa-bisa ya? box-nya (yang mestinya ditulisin nama, url, dsb) ga mau ngebuka :-(

chindy tan said...

iya tuh Jen, aku juga sulit banget nitip komen ke blog Ezra...ayo Bang dibenahin...

ine said...

Seandainya sang guru berdiri didepan lo coba tebak kalimat apa yang pertama kali keluar dari mulutnya? hehehehe.

entah kenapa g ngerasa 'you're back'.

Ivy.Puppy said...

coolz...
buat merinding euy!!
inspiratif bgt.. >,<
be ur self?!
hahah...

mynameisnia said...

Tapi kenapa, setangkap saya, si tokoh kok sepertinya lebih merasa nyaman karena wujud yang kebapakan dengan jubah putih, kulit pualam, dan senyuman sahabat ketimbang hasil perbincangan itu sendiri?

Jenny Jusuf said...

mynameisnia: barangkali karena wujud kebapakan dan senyuman sahabat itulah yang sedang ia butuhkan. dan itu bisa jadi lebih penting -atau sama penting- dengan hasilnya :-)

vendy said...

oke
image Yesus (atau setidaknya itu pengertian harafiah gw) muncul ketika gw membaca tulisan ini

you have an interesting point of view, dear sister :)

Jenny Jusuf said...

maybe that's why i'm crazy ;-)

ima said...

percakapan 'ringan' yang ngubah tahun2 hidupmu yang paling maniss sekalipun.. aku suka jen..tulisan ini, sumpah deh.. hehe :p

Jenny Jusuf said...

iya mbak, percakapan ringan yang mengubahkan, yang diperoleh setelah 'kelojotan gak karuan'. hehehe! jadi pengen surrender lagi :-)

Denta Felli Ananda said...

My fave...ever!
:)

Denta Felli Ananda said...

kelojotan nggak karuan yang mencerahkan ya jen ? :)