Saturday, May 10, 2008

"I Did the Best Already."

Jelang jam 10 malam, ketukan di pintu kamar mandi mengagetkan saya yang sedang asyik jebar-jebur. Saya mematikan keran supaya bisa mendengar dengan jelas. Di luar, Mira, seorang kawan yang membantu saya mencari kamar kos, berseru minta nomor handphone sahabat saya yang juga sepupunya. Ada urgensi dalam suaranya.

Saya menyebut 11 digit angka yang sangat saya hafal sambil bertanya-tanya dalam hati.
Belum sempat saya menanyakan apa-apa, Mira sudah mendahului menjawab.

“Papaku sudah nggak ada, Jen. Kecelakaan…”

Gayung yang siap saya siramkan ke tubuh terhenti di udara. Mendadak tangan saya –tidak, sekujur tubuh saya- kaku.

“Ya ampun, Mir…,” hanya itu yang sempat saya lisankan. Mira sudah turun kembali ke kamarnya di lantai bawah. Saya menyudahi acara mandi dengan terburu-buru, mengeringkan tubuh seadanya dan bergegas menyusulnya. Rambut yang basah saya biarkan tergerai tanpa sempat diapa-apakan.

Di bawah, Mira dan 2 orang teman duduk mengelilingi meja kayu bundar. Saya mendekati mereka tanpa bisa berkata-kata. Hati saya mencelos melihat Mira yang tidak mengeluarkan airmata sedikitpun, namun mulutnya terus komat-kamit melafalkan doa.

Saya duduk, bertukar pandang dengan teman-teman. Kami sama-sama diam. Hanya suara Mira yang terdengar lirih, mengucapkan sebaris ayat dalam kitab Mazmur.

Saya tak tahu harus berkata apa. Yang ada hanya risau yang dalam. Saya mengenal Mira dan Lisa –adiknya- saat mereka pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta, bertahun-tahun silam. Kedekatan saya dengan sepupu mereka membuat kami jadi akrab dalam waktu singkat. Saya, Mira dan Lisa sering sekali menginap bersama dan hang out bareng, layaknya saudara sendiri.

Kini, mendengar mereka kehilangan Ayah dengan cara yang tragis, saya merasa sebagian jiwa saya ikut melayang. Entah kemana.

Mira masih komat-kamit melisankan doa dan segala kalimat untuk menenangkan diri. Saya meraih handphone untuk menelepon Lisa. Telepon tersambung. Di ujung sana, Lisa menangis histeris bahkan sebelum saya sempat berkata apa-apa.

Saya menyerahkan handphone kepada Mira. Mira berbicara dengan lembut, menenangkan adiknya.

“Nggak apa-apa ya, Lisa. Papa sudah di surga. Lisa harus kuat, ya.”

Sejurus kemudian, Mira masuk ke dalam kamar. Saya mengira ia akan menumpahkan tangis di sana, tapi tak lama kemudian ia keluar dengan bungkusan besar yang diletakkannya di atas meja.

Saya memandangi kantung plastik putih itu dalam diam. Teman-teman saya melakukan hal yang sama.

Bungkusan itu berisi 6 kotak susu, minyak goreng dan 2 bungkus besar havermut. Mira yang sudah punya firasat buruk jauh hari sebelum peristiwa itu, menghabiskan simpanan uangnya untuk berbelanja bagi sang Ayah, yang rencananya akan ia paketkan ke Jawa dalam waktu dekat. Sayang, sebelum niat itu terlaksana, Ayahnya telah mendahului menghadap Sang Kuasa.

“Nggak apa-apa ya, Pa?” ucapnya lirih, “Papa sudah di surga sekarang,” kalimat itu terhembus kelu, perih, meski tak ada setitik pun airmata yang jatuh.

I did the best already,” bisiknya. Lagi-lagi dada saya sesak.

“Nggak ada yang aku sesali…” kali ini ada seuntai senyum di wajah Mira. Tipis. Matanya lekat menatapi kotak-kotak susu yang terjajar bisu. “Beneran nggak ada. I did the best already...”

Handphone saya berdering. Sepupu Mira menelepon, meminta saya menguatkan Mira dan memberitahunya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan dijemput. Mira beranjak masuk ke kamar, sementara kami anak-anak kos sibuk kasak-kusuk urunan seadanya untuk membantu meringankan bebannya.

Selesai menitipkan rupiah yang tak seberapa pada seorang teman untuk diamplopi, saya meraih handphone dan beranjak keluar. Di teras yang sepi, ditemani angin malam yang membelai lembut, saya menekan sebaris angka.

Tak tersambung. Saya menunggu, kemudian menelepon lagi.

Tetap tak tersambung.

Saya termangu, memikirkan begitu banyak hal yang tiba-tiba berserabutan di otak tanpa bisa terkendali.

Ah, hidup. Berapa panjangkah?

Dengan apa saya akan mengisi lembaran hari yang terus berlalu ini? Apa yang akan saya tuliskan pada halaman-halaman bersih yang saya temui setiap pagi? Ketika esok menjelang, akankah saya mengisinya dengan sebait bahagia bersalut syukur? Ketika hari berlalu, akankah saya menengok ke belakang dan menemukan sesal?

Dan bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai? Mereka yang mengisi hati ini setiap harinya? Mereka yang saya kasihi, meski rasa itu jarang terverbalkan?

Deru motor menyentakkan saya dari lamunan. Sepupu Mira telah datang, siap membawanya pergi. Berdua, kami menunggu Mira di teras.

Handphone saya kembali berdering. Kali ini dari nomor yang saya tunggu-tunggu sejak tadi.

“Kamu cari Papa?” suara itu bagaikan angin sejuk di telinga saya. “Kenapa?”

Konversasi itu tidak panjang. Tidak perlu bertele-tele. Tidak perlu banyak basa-basi dengan sosok yang telah saya kenal puluhan tahun. Tidak perlu kata-kata indah penuh puisi, karena kami telah saling mengerti.

Malam ini, saya hanya ingin berbagi dengannya. Memberitahu bahwa saya punya cinta untuknya. Selalu.

Di penghujung dialog, saya bisikkan 3 kata sederhana: “I love you.”

Ayah saya membalasnya dengan kalimat yang sama, meski tersirat kebingungan dalam suaranya.

Mira telah selesai berberes. Bertiga, kami bermotor menyusuri malam, menuju rumah sang sepupu yang tak jauh dari situ.

Di atas motor, tak henti-hentinya saya bersyukur. Bahwa saya masih bisa mengucapkan sayang pada orang yang saya kasihi. Bahwa kesempatan untuk memverbalkan cinta masih bisa saya nikmati. Bahwa saya masih diberi peluang untuk mengisi lembar-lembar hidup ini dengan tinta emas yang indah, dengan sebentuk rasa bernama bahagia dan syukur.

Terima kasih, Tuhan.

Tak putus saya melisankan syukur atas sebuah pelajaran berharga yang saya terima malam ini – bahwa sebagaimana kematian memisahkan kita dari kehidupan, kematian juga dapat mendekatkan kita pada kehidupan.

8 comments:

rina said...

Jen, turut berduka cita untuk sahabat kamu. Iya benar, kita nggak pernah tahu kapan dan bagaimana. Dan kata terlambat selalu mendatangkan penyesalan. Yang bisa kita lakuin sekarang ialah menyayangi keluarga dan sahabat kita selama masih diberi waktu. Thanks ya, sharingnya. Mengingatkan saya juga lho...

gadisbintang said...

turutberdukacita ya, jen.

uhuk..uhuk.. aku sampe mewek baca postingan kamu ini. huhuhu..
X'( kangeenn keluarga..

thx for reminding me to cherish the love and time we have, dear! ;)

Jenny Jusuf said...

Guess what? Tanggal 10 kemarin, saya dapet kabar lagi, kali ini dari sahabat. Ayahnya meninggal karena sakit jantung. Sampai hari ini saya masih gloomy, rasanya pengen menghilang sejenak dari dunia, tanpa alasan jelas :-)

titi said...

turut berduka cita,, hal yang sama baru aja terjadi sama gw, tapi awalnya gw ngga bisa terima namun demi mama gw berusaha lebih tegar dan sanggup menghadapinya dengan lebih baik. terlebih kami semua menyadari bahwa ada hal baik tersimpan di balik semua peristiwa. gw sudah berusaha menjadi yang terbaik, dan hubungan dengan papa belakangan membaik, sukurlah bisa mengenang papa sebaik-baiknya ingatan. kepergian papa juga membuat gw ma mama lebih dekat, dengan adik-adik, dengan kakak. yang biasanya cuek, sekarang care. yahh perpisahan bisa jadi mendekatkan kehidupan yang lain, gw setuju banget.

GBU everybody

titi said...

oh ya, lam kenal buat yang punya blog.. hehehe..

Jenny Jusuf said...

Salam kenal juga Titi ;-)

Turut berdukacita atas apa yang kamu alami. Semoga kamu sekeluarga senantiasa diberi kekuatan dan anugerah oleh Yang Di Atas. Terima kasih ya sudah berbagi :-)

Hanny said...

Mbak jenny, walaupun temenmu (si Maya) itu sama sekali ga menangis ketika dapat kabar itu, tapi percayalah, pasti pada suatu masa kedepannya, dia akan sangat sedih sekali. Dan pada saat itulah, peran mbak sebagai sahabatnya sangat penting.

Aku bisa bilang gitu karena seperti itulah yang aku alami tanggal 4May kemarin. Semua temen2ku bilang aku tegar, tapi mereka ga tau bahwa setelahnya ada rasa hilang yang sangat besar dalam hati, yang ga bisa keluar dalam bentuk airmata.

Dan sayangnya, pada saat itu ga ada temen2ku yang menghibur aku karena mereka kira aku sudah sangat tegar, hehe.. kasian ye eike :)

Anyway, postingan ini bikin aku pengen nangis karena inget papaku lagi.. pffff..

purnama said...

mbak jenny,..

salam kenal ya..aku baru pertama kali liat blog kamu mb..

aku dah berhasil baca ampir semua cerpen di blog kamu,,tp cerpen ini yg paling kena di aku..

hub ak sm papaku gak baik...dan sampai saat in ak blm bisa blg i love u pa'...walau ak ingin banget..