Friday, May 30, 2008

Sepotong Keindahan dari Langit

“Itu petir?”

Saya bertanya blo’on sambil menatapi langit malam yang kembali pekat, yang sedetik lalu diterangi oleh kerjapan cahaya, membuat atap-atap rumah dan pucuk pohon terlihat jelas.

Teman saya mengiyakan. Kami mempercepat langkah dan masuk ke dalam kos-kosan, menyapa seorang laki-laki yang sedang duduk menunggu istrinya di teras, masuk ke kamar dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya membawa ember ke kamar mandi, mengisinya dengan air dan deterjen, lalu merendam pakaian kotor yang sudah beberapa hari tak terjamah. Air mengucur dengan suara ribut. Saya menunggu sampai ember nyaris penuh dan kembali ke kamar untuk menyapu.

Selesai membersihkan lantai, saya menyeterika beberapa potong pakaian. Peluh bertetesan di dahi, pipi, leher. Di luar, rintik hujan mulai membasahi bumi. Saya terus melicinkan kemeja kusut saya. Di bawah terdengar suara ribut. Teman-teman mulai pulang dan saling menyapa.

Saya menyimpan pakaian di laci plastik dan turun ke ruang tamu, bergabung dengan 3 orang teman yang duduk mengelilingi meja bundar dengan kursi-kursi kayu dan beberapa piring plastik berisi makanan kecil. Pintu terbuka lebar, membebaskan angin sejuk masuk ke dalam rumah.

Hujan semakin deras. Sesekali langit diterangi oleh kilatan cahaya. Tidak ada gemuruh atau gelegar yang menakutkan, hanya kerjap megah di sela atap rumah dan cabang-cabang pohon. Alam sedang bercanda ria, menunjukkan kemahakuasaannya tanpa berniat mencelakakan.

“Suka udang mayoinase?” teman saya menyodorkan piring hijau berisi udang bersalut tepung dengan krim putih menggoda. “Abisin aja, kenyang nih.”

Dengan senang hati saya mencomot sepotong. Sambil mengunyah, saya mendengarkan obrolan (tepatnya, curhat) mereka tentang kelakuan seorang teman kos yang menyebalkan. Karena tidak terlalu akrab dengan objek pembicaraan, saya hanya mendengarkan sambil terus mengunyah.

Suara hujan yang makin keras mendera membuat saya menoleh. Angin dingin masuk ke dalam ruangan, kesejukan pertama yang saya rasakan sejak menempati hunian baru ini. Di luar, air bertemperasan tanpa ampun. Di telinga saya, mereka seolah bermain. Kejar-kejaran satu sama lain, berlomba menghantam tanah, siapa duluan dia yang menang. Nyaman sekali.

2 orang teman baru saja tiba, nekat menerobos hujan dan angin bermodal sebuah payung. Setelah menyapa sekenanya, mereka bergegas naik ke atas. Saya beranjak ke teras, meresapi udara yang basah dan dingin, mereguk sepuasnya kesejukan yang ditawarkan malam. Nikmat sekali.

Diam-diam, saya berharap agar hujan ini tak pernah berhenti, meski saya tahu, dari segala doa yang saya panjatkan, doa yang satu ini takkan mungkin terkabul.

Setidaknya, biarkan saya mengecapnya lebih lama lagi, mohon saya, entah pada siapa. Permohonan itu dikabulkan. Hujan bertambah lebat. Desir-desir angin membelai leher saya. Suara ribut itu mungkin terkesan suram dan mengintimidasi, namun bagi saya, hujan deras bagaikan musik alam yang melatari babak awal kehidupan saya di hunian sederhana ini.

Ternyata keindahan tak hanya bisa ditemukan di pegunungan tinggi yang menawarkan panorama hijau nan menyegarkan, pantai indah berair jernih dengan langit bersih dan bentangan horison… pun hujan rintik di sore hari jelang matahari terbenam. Keindahan juga tersimpan di langit kelam yang riuh-rendah oleh permainan alam, ketika semua makhluk berlindung dari siraman air dan udara menggigit. Keindahan ada dalam percakapan santai mengelilingi meja bundar sambil menikmati gorengan dan cemilan. Keindahan terdapat dalam tawa hangat dan obrolan ringan sesama penghuni kos yang berbagi hidup dalam sepetak rumah.

Malam semakin pekat. Seorang teman masuk ke kamar untuk belajar. Yang seorang lagi beranjak ke kamar mandi untuk mencuci. Satunya lagi melangkah ke dapur untuk menggoreng tempe. Saya masih duduk di kursi kayu, menyandarkan punggung di sandaran yang keras, berbekal sebuah buku dan biskuit susu.

Malam ini ada bahagia. Malam ini ada kehangatan. Malam ini ada sejuk yang memberi nyaman. Hidup memang indah. ;-)

2 comments:

me said...

hidup itu memang indah. yang gak indah buang ke laut ajah.

nidnod said...

Saya suka sekali kalau setiap orang mengambil keindahan dari setiap kejadian.
Life become meaningful.