Sunday, October 19, 2008

?

Seorang anak bertanya kepada Tuhan:

Engkau itu sebenarnya siapa?

Tuhan balas bertanya:

Menurutmu, siapa aku?

Anak itu terdiam, lama. Matanya mencari. Tapi yang ada hanya sosok familiar yang dijumpainya setiap hari sebelum ia berani menanyakan hal paling muskil di dunia.

Sosok itu menemuinya tiap malam saat ia duduk bersimpuh dengan tangan terkatup. Sosok itu mengabulkan doa-doanya dan mewujudkan mukjizat dengan cara yang tak terselami akal. Sosok itu berada di sana, mendengar semua keluhan dan ocehnya yang disampaikan dalam larik-larik kalimat bernama doa. Namun ia masih merasa asing. Hatinya kerap tak puas, sibuk mendamba, entah apa.

Mempertanyakan keberadaan Tuhan yang hakiki sama saja menyangkalnya. Ia tahu itu. Sejak kecil ia telah diajari untuk tidak mendebatkan Tuhan yang mahakuasa. Tuhan itu ada untuk disembah. Untuk diagungkan. Untuk menerima dan menjawab doa. Sejak belum fasih bicara ia telah mendengar itu. Sejak belum lancar berjalan ia telah duduk dalam kumpulan orang-orang suci; mendengarkan kidung yang tak dipahaminya, berdiri tertatih mencoba mencerna dengan akal secuil. Tahun-tahun berlalu, tak pernah sedikitpun ia sangsi dirinya akan masuk surga begitu habis masa kontraknya dengan dunia. Kavling itu telah dipatok atas namanya; orang saleh yang taat beribadah dan tak pernah melenceng dari ajaran agama. Tak sekejap pun ia meragu.

Namun, jiwanya tak pernah berhenti mencari. Sesuatu, entah apa. Ada sepotong rindu yang terus mengusik, mengingatkan bahwa pencarian itu belum selesai, meski ia tak tahu apa yang perlu ditemukan. Karena itu, malam ini diberanikannya dirinya. Mengangkat kepala yang selalu tertunduk. Melepaskan jemari yang selalu bertaut. Berdiri tegak bagai menantang. Menatap sosok dalam balutan putih yang bergeming dalam segala kemahakuasaannya:

Engkau itu sebenarnya siapa?

Sosok itu balas bertanya:

Menurutmu, siapa aku?

Lelah sudah ia. Murka, ditudingnya sosok itu. Sosok yang bertahun-tahun dipujanya. Disembahnya tanpa pertentangan. Diagungkannya tanpa penat dan bosan, meski hatinya tak pernah berhenti mendamba.

Apa susahnya bagimu untuk menjawab?!

Sang sosok tersenyum.

Kau tak memerlukan jawaban. Yang kau butuhkan hanya terus bertanya. Dan lebih banyak bertanya.

Kali ini, gantian si anak bergeming. Matanya menyala. Namun riak hatinya tak sedahsyat tadi. Setidaknya, sosok sialan di depannya sudah bicara lebih dari satu kalimat. Itu sebuah kemajuan.

Apa maksudmu? Jelaskan. Buat aku mengerti.

Belum lagi kalimatnya usai, sosok itu sudah menghilang. Lenyap tanpa bekas bagai ditelan kabut tak berwujud. Menyisakan kebingungan yang kian lama kian hampa.

Si anak menatap nanar. Tak sanggup terisak, apalagi terbahak. Hanya mampu diam, mencoba mencerna penjelasan sepotong dari sosok yang sejak kecil dipanggilnya Tuhan. Yang disembahnya tanpa syarat. Yang diagungkannya tanpa prasangka. Malam ini, seluruh keyakinannya terguncang. Tuhan yang sudah disapanya sejak lidahnya belum fasih berucap bahkan tak sudi diajak berkenalan.

Malam-malam berikutnya, ia langsung naik ke tempat tidur. Tanpa merasa perlu bersimpuh dan mengatupkan tangan. Selimut langsung ditarik menutupi dagu. Mata terpejam rapat. Tak ada lagi larik-larik kalimat bernama doa. Tak terdengar lagi lantunan kidung merdu bernafaskan ibadah. Lantainya terlalu dingin untuk dijadikan alas lutut telanjang. Malam terlalu singkat untuk dihabiskan dengan celoteh-celoteh panjang. Dan kebisuan itu terlalu menyakitkan untuk dilewati sendirian. Yang tersisa hanya kegelapan dan sunyi. Hingga pagi menjelang.

Ia tak menyesal.

Mungkin memang lebih baik begitu. Mungkin teka-teki itu memang tak butuh pemecah. Mungkin pertanyaannya memang tak berjodoh dengan jawaban.

Mungkin yang perlu dilakukannya hanya terus bertanya. Dan lebih banyak bertanya. Sampai tiba waktunya nanti.

Entah kapan.

5 comments:

narcistastrajingga said...

sepert Ayub, seperti Daud. Kadang Tuhan diam...tak menjawab. membiarkan Kasih Nya mengalir....dalam keheningan, dalam kesendirian, ....

ribkhaa said...

ini yang aku blg keren kak :)

Babisuper said...

Pertanyaan...dan pertanyaan.
Dan memang Tuhan selalu diam :)

Apa memang Dia yg diam, atau kita yang tidak tahu kapan Dia bergerak.

ah, tulisan mba ini memberi angin segar lagi..

:)

31maya said...

..Dia sosok yang mengijinkan dan kita untuk mencariNya dengan cara kita, mungkin ya..
Dia terlalu besar untuk dimengerti, dan kita akan diberi pengertian sesuai kebesarannya juga..

denioktora said...

God keep silent because there is No such thing as God's existence.

God did not create us.

we had created our own God since the ancient times. from time to time, from generation to generation.

nice story though.