Sunday, July 29, 2007

Tentang Menikah, Reproduksi dan Sebuah Proses Bernama Kehidupan

kawanlama: Lo udah harus siap buat berkeluarga dong.
kawanlama: Untuk ukuran cewek, loe udah ada umur lah.
kawanlama: Cewek umur 25 – 27 biasanya udah merit.
jennyjusuf: ? Emangnya kenapa?
kawanlama: Karena kalo nggak, nanti punya anaknya susah.

Kalimat terakhir itu membuat saya cengar-cengir di depan monitor persis orang sinting. Kalimat yang diucapkan seorang teman pria dalam kontak cakap maya itu tiba-tiba menstimulasi saya untuk menanggapi topik yang biasanya saya hindari dalam percakapan-percakapan sejenis.

FYI, saya menghindar bukan karena nggak bisa menjawab… tapi ya karena malas aja.
Saya membuka diri seluas-luasnya untuk makhluk bernama Bina Hubungan. Tapi (saat ini), saya masih memilih untuk tutup mata dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Pernikahan.

Alasannya sederhana saja: Saya belum siap.

Walau secara medis kantung rahim saya sudah matang dan siap dibuahi untuk menghasilkan calon penerus bangsa, sumpah, hal terakhir yang ada di pikiran saya (sekali lagi, untuk saat ini) adalah pernikahan. Nanti dulu, Jendral. Itu masih jauh sekali.

Kenapa?
Karena bagi saya, pernikahan membutuhkan tingkat kematangan dan kedewasaan tertentu dari masing-masing pihak yang terlibat (baca: calon suami dan calon istri). Saya termasuk spesies yang selalu percaya bahwa kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari umur belaka. Karenanya, tolong jangan kutuk saya bila saya tidak setuju dengan dalil ‘menikah-karena-desakan-usia’ atau ‘kantong-rahim-tuh-punya-expired-date-makanya-buruan-kawin. Saya adalah pendukung sejati konsep ‘menikah-karena-sudah-siap’.

Saya tidak membantah fakta bahwa usia 25-27 tahun adalah usia reproduksi paling ideal bagi perempuan (lagian, emangnya bisa gitu, membantah fakta medis? *wink*). Tapi, kalaupun di usia 35 tahun saya belum juga merasa siap untuk menikah, percayalah, saya lebih memilih menunda dan banyak-banyak berdoa di ruang bersalin daripada menghabiskan seumur hidup untuk mendoakan anak saya yang mbeling’e pol lantaran saya menjadi Ibu dalam kondisi belum siap (mental dan emosional), sehingga tidak bisa mendidik anak saya dengan baik.

kawanlama: Gua rasa pendidikan yang kita tempuh udah cukup membantu dalam proses kematangan dan kedewasaan.
jennyjusuf: Pendidikan gak menentukan kematangan. How a person live his/her life, that does.
kawanlama: Tapi seiring dengan waktu, pasti kita terus berkembang.
jennyjusuf: That’s right. Makanya sekarang gue mengizinkan WAKTU untuk mendidik gue. Gue berkembang dalam WAKTU. Makanya gue gak merasa perlu cepet-cepet married hanya karena desakan umur.
kawanlama: Tapi gua tetep sama pendirian gua (cewek umur 25 – 27).
kawanlama: Untuk cewek, maksimal 30 lah. Udah korting tuh.

@$#@$#^&...!!!

KORTIIIIING??

GIGI LO KERITING!! LO KIRA NAWAR BAYEM DI PASAAAR???

Halah.

Jujur, saya sempat tergoda untuk bilang, “Dasar COWOK!” dengan gaya nyolot-hiperbolis. Tapi, mendadak sebuah pemikiran mampir di kepala saya.

Ini kali, ya, yang menyebabkan banyak perempuan lajang berusaha mati-matian dengan ‘segala cara’ untuk mendapatkan Prince Charming sebelum usia 30 tahun?

Karena 30 angka kiamat. Karena 30 identik dengan stempel perawan tua. Karena 30 adalah …well, let’s say… saat untuk menggelar mid-life sale?

Saya lantas teringat pada seorang teman yang ngotot ingin menikah sebelum usia 30 tahun. Ketika 'deadline' itu belum tercapai, ia mengundur tenggat waktu sampai 30 pas. Semacam tawar-menawar yang sering terdengar di antara pembeli dan penjual di ITC Mangga Dua:

“Tigapuluh, Neng.”
“Ah, mahal banget! Limabelas aja!”
“Nggak dapet, Neng. Modalnya aja gak segitu.”
“Ya udah, pas-nya aja deh berapa…”

:))

Ketika deadline tidak terpenuhi menjelang ulang tahun ke-30, teman saya mengundur tenggat waktunya lagi: maksimal sampai 31 tahun. Kali ini, karena tidak sudi kebablasan untuk kesekian kali, ia melakukan usaha preventif dengan mengumpulkan brosur wedding organizer, mengoleksi foto gaun pengantin dan mencari informasi tentang kisaran harga wedding package.

Masalahnya cuma satu: dia belum punya pacar, bow. Mau nikah sama siapa, mbuh. Pokoknya sedia payung sebelum hujan. Karena itu tadi, 30 bagaikan angka kiamat. Identik dengan cap perawan tua. Identik dengan mid-life sale. Identik dengan Top Three Questions yang diajukan secara intimidatif pada setiap reuni dan acara keluarga: Pacarnya mana? Kok nggak dibawa? Kapan nikah??

kawanlama: Jangan-jangan loe nyari cowok yang nurut sama kemauan loe.
kawanlama: Kacau, kacau...
jennyjusuf: Nggak. Gue nyari cowok yang bisa jadi partner dalam hidup.
jennyjusuf: Gue nyari cowok yang bisa jadi suami buat gue, dan ayah untuk anak-anak.
kawanlama: Loh, tapi kan tiap cowok kalo udah merit ya jadi suami, dan kalo udah punya anak ya jadi ayah.

Saya terdiam. Maafkan kalimat saya, tapi gara-gara konversasi terakhir ini, somehow saya merasa sudah salah memilih teman berdebat. :)

Life is a process.

Itu yang selalu saya percayai. Dan dalam proses tidak ada kata instan, kecuali dalam pembuatan semangkuk mie. Bahkan mie instan pun memerlukan setidaknya 3 menit untuk betul-betul matang.

Karena menikah, otomatis menjadi suami (atau istri).
Karena punya anak, otomatis menjadi ayah (atau ibu).

Plis dong ah.

Sekali lagi maafkan saya, tapi untuk urusan satu ini, saya memilih untuk tidak menggunakan kata ‘menjadi’. Saya lebih suka memakai kata ‘disebut’.

Karena menikah, otomatis disebut suami (atau istri).
Karena punya anak, otomatis disebut ayah (atau ibu).

Hmmmpfff…

Setelah percakapan di kanal maya itu berakhir, saya termenung lama. Memuaskan diri dengan memikirkan hal-hal nggak penting seperti:
Kenapa oh kenapa status lajang di usia tertentu bisa membuat seseorang tampak nista?
Kenapa oh kenapa tampilan lahiriah selalu dijadikan parameter untuk menilai keberadaan seseorang?
Apa kabarnya ‘don’t judge a book by its cover’?
Apakah kalau seseorang (dalam hal ini perempuan) tidak bisa memenuhi standar ideal kecantikan, tidak bisa mendapatkan Prince Charming dan belum bisa menghasilkan calon penerus bangsa sebelum usia 30, lantas ia layak disejajarkan dengan tumpukan kaus berlabel ‘UP TO 50%’?

Mendadak saya ingat pada sebuah kalimat dalam novel Beauty Case karya Icha Rahmanti.

“...mungkin pelajaran sesungguhnya adalah waktu kita masih bisa tersenyum dan bersyukur, berpikir bahwa kita sempurna apa adanya…”

... ...

Dia benar.

Lepas dari 'kenapa' dan 'bagaimana'; lepas dari berbagai perspektif dan konsep ideal yang simpang-siur; kehidupan itu sendiri tetaplah patut disyukuri dengan senyuman, karena ia berharga apa adanya.

Hidup adalah hadiah terbesar yang diberikan Sang Pencipta -entah dijalani sendirian atau berpasangan; pada usia 25-27 atau di atas 30; dengan Prince Charming atau sekedar the-boy-next-door; dengan kantung rahim yang segar atau mendekati expired date- … karena ia sempurna, apa adanya.


Entri ini dipersembahkan untuk setiap makhluk bernama Perempuan.
Banggalah dengan dirimu. Kamu sempurna, karena kamu berharga.

Untuk Kawanlama: Kalau elo baca entri ini, jawaban gue masih tetep sama, Jendral. :)

17 comments:

d^rezt said...

well well..nice posting sista..
gw stuju banget ma loe..
Menikah itu dilakukan bukan karena desakan umur melainkan kesiapan pada waktu yang tepat tentunya..
kasian banget ada orang yang pengen cepet2 kawin cuma gara2 umur makin bertambah [secara ada kenalan gw kayak gitu]
knapa juga harus maksain diri kalo qtanya sendiri belom siap??!!
lebih parah lagi kalo harus menikah karena sesuatu 'pembuktian' akan hal tertentu..duuuuuuuuuuuuuuuuu gimanaaaaa yaaaaaaa

ibunyaima said...

Eh, Jen, gw kasih tahu ya! Gw tuh nikah umur 25. And I'm still happily married, blessed with one great hubby and an even greater daughter :)

Tapiii.... gw selalu bilang sama temen2 gw di kantor: nggak usah buru2 nikah. Untuk segala blessing yang gw dapat, ada banyak kesempatan yang gw buang :)

Santai aja :)

jenny jusuf said...

d^rezt:
Pembuktian gimanaaaaa yaaaaa kamsudnyaaa? Hihi...

ibunyaima:
"Untuk segala blessing yang gw dapat, ada banyak kesempatan yang gw buang :)"

Cerita, cerita..! ;)

d^rezt said...

secara seseorang itu kesannya mau ama siapa aja cuma untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dia "bisa" meskipun seseorang itu ga bener2 dihati..parah ga seh...

jenny jusuf said...

Hehe.. Padahal mau ama siapa aja dan untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dia "bisa" itu sebenernya 2 hal yg bertolak belakang tho?

Kalo emang "bisa", kenapa harus "ngobral"? Hihihi ;)

d^rezt said...

wekz..
menurutku itu bagian dari "putus asa" karena dikejar usia..gw cuma kasian aja..knapa harus dia yang membuktikan ke orang2..knapa ga dia aja yang nunggu Tuhan membuktikan ke dia..

kalo di runut akan banyak banget knapa knapa yang laen..

ngobral..waduh..gw pengen yang full price deh kalo soal itu..hehehhe

Fery GFRESH! said...

hai. Saya cowok. Tapi mau nimbrung. Kalo ada pertanyaan: "Apa yang membuat kamu gak mau mati hari ini?", maka jawaban paling populer adalah "Belum kawin!" (yang jawab yang masih single tentunya).

Ada dua kemungkinan kenapa jawaban ini populer. Kalo cowok biasanya karena alasan seks. Kebanyakan cowok mengagungkan seks, sehingga timbul pemikiran spontan, kalo udah ngerasain seks maka dia siap mati en gak nyesel di surga. Hehehe.

Yang lain adalah karena budaya kita menjadikan status menikah adalah tujuan hidup. Cewek berumur yang belum menikah akan dipandang sebelah mata. Cowok berumur yang belum menikah bakalan dianggap gay, hehe.

Padahal, tujuan hidup kita adalah Tuhan. Jalannya bisa lewat pernikahan ataupun tidak.

Jen, masukin blogku www.idekeren.com dalam linkmu dong. (Lho kok terakhirnya gak nyambung, hehe)

Jenny Jusuf said...

d^rezt: Gak usah dirunut Say, ntar seteres. Hehe.

Fery: "Apa yang membuat kamu gak mau mati hari ini?"

Gw belom puas bertualang. Masih pengen living life to the fullest. Dan oh ya, kalau mokat pun, harus penuh gaya. Hahahah.

ibunyaima said...

Fery: "Apa yang membuat kamu gak mau mati hari ini?"

Anak gw masih kelas III SD. Ntar kalo kewajiban gw ngongkosin dia kuliah udah selesai, baru tanya lagi ya.. HAHAHAHA

*jawaban emak2 ;)*

jenny jusuf said...

Mbak May: Jawaban khas induk burung.. Hahahahah :D

Eh tapi serius nih Mbak, si kecil beruntung punya Ibu seperti loe. I mean it. :)

ydoea said...

mbak. couldn't be more agree to your post.

lagian, sejak kapan pernikahan itu semata reproduksi. dan kita balik ke jaman dinosaurus. gak?

it's about finding someone that makes you hear the oh-so-beautiful-sound.
'click'
and staying with her/him till the end of time. isn't it?

oh, iyah, salam kenal mbak.. blogwalking tengah malam nih. :D

agnes said...

WAUUUU
sumpah blog kamu aq setuju banget....
aq jg nggak mau menikah karena" kepepet umur" karena pernikahan bukan tujuan akhir tapi awal kehidupan dimana aq dan pasangan aq harus siap bertanggung jawab untuk keluarga inti aq , keluarga besar aq dan pasangan aq, daan banyak lageeee....
thanks ya

plainami said...

wedew.. kemaren gw baru ngakak di kantor denger cerita temen kerja. dia orang betawi, trus tiap acara keluarga pasti ditanya, "neng, kok belom DITENTENG aje?"

astaga.. new vocab buat gw, J.. 'ditenteng'.. hihi

frozenmenye2 said...

Satuju sama tulisan mba jenny. bo'...hare geneh...nikah dengan alasan sel telur ada batas kadaluwarsa-nya....halah-halah...

31maya said...

hi jen..
hehe jd inget lagunya oppie..mending single by choice dulu deehh..
and very happy..:D

tp kdg emang msh ada faktor X yg bikin org blg Ok,nikah.

misalnya krn pgn ngajeni* ortu-yg pgn mantu,trs pny cucu,bla bla bla akhirnya nikah (juga...)
..hmm..

asal dah mantep sglnya..why not,mgkn ya...


* menghargai tp lbh dalem artine..

ok...hv a great day everybody

p33dol said...

wew...mbak jenny TOP bgt dah tulisannya...even uda basi..boleh yak post comment (hehehe)

yap...u know im 28 now...and still single ..yap i agree,,,,kaka ku aja merit 36 thn (cewe loh),,,,and she happy for that,,coz dapetin apa yg dy mau soal suami impian dr dulu (walaopun ttp ada minusnya ,,tp almost perfect bagi dy lah)...

hopely u get 1 soon ...sista !!!! and me tooo ,...huehehhe

riri said...

quote kalimat terakhirnya keren mbak,kujadiin status fb yak,nuhun :)