Thursday, July 19, 2007

Tentang Seorang Sahabat Dan Persilangan Jalan

Pertemanan kami dimulai bulan Januari lalu, ketika saya menghubunginya lewat e-mail dan menanyakan kesediaannya memberi komentar untuk (calon) kumpulan cerpen saya.

Ia menyanggupi permintaan tersebut dengan ramahnya. Sejak itu kami terus berkomunikasi, walau hanya melalui e-mail dan commenting system di blognya. Buat seorang blogger pemula seperti saya, kemampuannya mengurai opini dan merangkai kata betul-betul mengagumkan. Jadilah saya ‘berguru’ secara tidak langsung kepadanya dan dengan excited menunggu-nunggu setiap entri baru (sambil tidak lupa berkomentar tentunya).

Sekali waktu, tidak lama setelah bertukar nomor handphone, saya iseng mengiriminya SMS. Selanjutnya, pertemanan kami terbangun melalui pesan-pesan pendek yang sebagian masih saya simpan hingga sekarang. Kenapa? Karena pesan-pesan itu membuat saya tertawa. Iya, dia orang yang sangat kocak. Kata-katanya selalu berhasil membuat saya senyum-senyum gila.

Melalui pesan pendek yang melelahkan jempol juga, kami sepakat mengerjakan sebuah project bersama. Walaupun project itu belum selesai sampai sekarang (dan tidak tahu kapan selesainya, karena kami berdua sama-sama penunda pekerjaan sejati :D), saya sangat menikmati proses pengerjaan yang dilakukan jarak jauh itu.

Beberapa bulan kemudian -April kalau nggak salah- saya bertemu dengannya untuk pertama kali. Ternyata dia orang yang fun dan sangat suka bercanda. Cerita-ceritanya selalu menarik. Pembawaannya yang cuek dan santai membuat saya betah ngobrol berlama-lama dengannya, mulai dari curhat serius sampai bercanda heboh dan membicarakan hal-hal supertidakpenting seperti:
“Kalau makan pake tambel serasi, minumnya apa?”
“Juk jerus.” :D

Persahabatan kami terus terjalin. Ketika saya sedang dilanda penyakit jenuh akut, dengan baik hatinya ia memperbolehkan saya menginap di rumahnya dan mendengarkan curhat saya. Ketika penyakit BT kronis saya kambuh, dengan murah hatinya ia kembali membukakan pintu dan meminjamkan telinganya. Ia tidak banyak memberi nasehat, saran ataupun kritik. Yang ia lakukan hanya mendengarkan, dan itu sudah cukup. Ia tidak menghakimi kelakuan emosional saya. Yang ia lakukan adalah menjadi seorang sahabat. Dan ajaibnya, tindakan tersebut justru membuat saya tidak ingin mengulangi kebodohan yang sama.

Saya menemukan figur seorang kakak dalam dirinya. Kakak perempuan yang tidak pernah saya punyai (karena saya anak sulung), sekaligus sahabat yang selalu siap memberi dukungan dan membuat saya tertawa. Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, saya merasa ‘hidup’ oleh sebuah persahabatan.

Melalui spontanitasnya, ia menularkan semangat kepada saya.
Melalui sikapnya yang selalu ceria-optimis-tanpa beban, ia menularkan energi positif kepada saya.
Melalui idealisme dan pemikiran-pemikirannya, ia menularkan passion kepada saya.
Melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya, ia menularkan keberanian dan cara pandang baru dalam menilik hidup.

Keberanian untuk apa?
Untuk mendengarkan panggilan hati dan mengikutinya, meski untuk itu ada harga yang harus dibayar dan konsekuensi yang harus dijalani.

Menemukan panggilan hidup dan mengambil keputusan untuk menjalaninya adalah dua hal yang berbeda. Untuk memperoleh yang pertama, dibutuhkan hati yang senantiasa terbuka dan telinga yang peka terhadap bisikan nurani. Untuk menjalani yang kedua, dibutuhkan tekad dan kesungguhan hati yang tidak kecil. Setiap pilihan selalu memiliki resiko, dan bicara tentang panggilan hidup berarti bicara tentang meninggalkan zona nyaman untuk menempuh medan baru - yang kadang kala sulit, berkelok-kelok dan menyakitkan.

Sahabat saya bukanlah pengangguran kurang kerjaan yang bisa pergi kemana pun dan melakukan apa saja sesuka hati. Ia memiliki kehidupan yang mapan, pekerjaan yang bagus dan karir yang mulai menanjak sebagai pekerja kreatif yang karya-karyanya disukai banyak orang. Still, dalam kondisi serbaenak itu, ia memilih untuk mengikuti desakan panggilan hati. Meninggalkan zona nyaman untuk mendengarkan bisikan nurani yang sudah terngiang bertahun-tahun lamanya.

Dia telah mengajari saya banyak hal.

Untuk berdiri dan menyuarakan pendapat.
Untuk yakin terhadap diri sendiri.
Untuk tidak mudah menyerah pada keadaan dan tekanan lingkungan sosial.
Untuk berani berbeda dan tidak takut disebut aneh.
Untuk mencintai hidup dengan segala warna dan rasanya.
Untuk berani membuat pilihan secara sadar, meski konsekuensinya menyakitkan.
Dia telah mengajari saya bagaimana menjalani hidup.

Sebentar lagi kami akan berpisah, karena panggilan hidup sahabat saya mengharuskannya pindah ke tempat lain. Mungkin kami tidak akan berjumpa untuk waktu yang cukup lama. Mungkin tidak ada lagi SMS jenaka yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal seperti orang gila. Mungkin tidak ada lagi celaan yang membuat saya cengar-cengir geli dan sebal. Mungkin tidak ada lagi obrolan yang menggugah nalar di tempat tidur, mobil, meja makan, atau di dapur sambil mencuci peralatan masak. Mungkin tidak ada lagi nongkrong santai di depan laptop sambil berkomentar ini-itu dan begadang sampai jam 3 dinihari.

Tapi, lebih dari segalanya, saya bersyukur bisa mengenalnya sebagai seorang sahabat.
Saya bersyukur bahwa –meskipun singkat- garis-garis hidup kami pernah bersilangan.
Saya bersyukur bahwa ia telah (dan akan selalu) menjadi bagian penting dalam hidup saya.

Dan khusus untuknya, saya ingin bilang:
“Ini bukan farewell entry, karena gue percaya suatu saat nanti garis-garis kita akan bersilangan lagi. Jadi bukan ‘Selamat Tinggal’, tapi ‘Sampai Ketemu Lagi’. Sampai jumpa di persilangan jalan berikutnya, Ms. Avonturir!” :)

Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
S’lamanya rasa ini
Jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini.
(Ingatlah Hari Ini – Project Pop)

3 comments:

ibunyaima said...

Hahaha.. udah bikin tulisan tentang Jeng itu aja nih si Non JJ ;)

Eh, tinggal 8 hari sih ya ;)

Kapan kumpulan cerpennya terbit, Non?

d^rezt said...

wah wah..

keren neh tulisannya..
seneng bacanya karena saya temasuk salah satu orang yang meng"agung"kan persahabatan..

tidak akan pernah ada Gud Bye dalam persahabatan sejati..yang ada hanya See u...

Jenny Jusuf said...

Jeng May: Huhu.. tinggal kurang dari seminggu kalo ga salah. Gw jadi mellow-sumellow ginih. :D

D^rezt: Tul! :)