Sunday, July 22, 2007

"I Trust You."

Janji ama gue, you won’t get hurt.
I won’t.
I know you can handle everything well. I trust you.
Hehehe... sangkain mo ngomong apah...
Nyet! Serius!
Iyaaa.
Babe, been there done that, and it hurt. Elu, Nyet, elu gak boleh sampe kayak gue. Njis, gue parno.
...

Pesan pendek itu membuat saya cengar-cengir nggak karuan. Lantas, dengan bodohnya, sukses membuat airmata saya mengalir. (Did I tell you, selain predikat ‘queen of silly things’, saya juga ratu mellow sedunia?)

Alah, di mana sedihnya, coba?

Nggak sedih. Terharu. (eh tolong ya, sedih dan terharu itu, walau sama-sama bikin cengeng, artinya teteub beda. *wink*)

Kalimat-kalimat itu adalah sepenggal konversasi *alah* antara saya dengan seorang sahabat kakak melalui pesan pendek, ketika saya berbawel-bawel ria curhat dan menanyakan pendapatnya tentang sebuah pilihan yang akan saya buat.

Sungguh, saya tidak mengira ia akan menunjukkan respon seperti itu, karena hubungan pertemanan kami selama ini, kalau boleh ngomong jujur, lebih terbangun dari asas bercanda-salingcela-salingledek. Saya ratu mellow sedunia. Dia, ratu nyolot sedunia. Kalau mellow saya sedang kumat, dia akan berkata, “Alah, elo mah cengeng!” dan saya balas mencelanya, “Dasar Gerwani!” :D Kenapa kami bisa bersahabat, itu misteri yang tidak pernah terpecahkan. (Hai, Nek, kalo lo baca entri ini!)

Anyway, balasan pesan pendek itu membuat saya tercenung.

She does care… no, she really cares… about me. And in ‘different' way.

Selama ini, saya telah banyak sering mendengar orang mengatakan, “Ah, jangan macem-macem! Gak usah yang aneh-aneh lah!” - yang diikuti kuliah dan ulasan panjang-lebar mengenai ‘Kenapa lo gak boleh begitu. Kenapa lo harus begini, karena ini yang terbaik buat lo. Dan untuk itu, lo mesti… yadda yadda blah blah…' jika perbincangan mulai memasuki tahap kritis berjudul Pilihan Hidup.

Selama ini, saya telah banyak sering mendengar ‘petuah’ dalam bentuk kritik, tuntutan, larangan, peraturan dan lain sebagainya, baik yang dialamatkan kepada saya, maupun orang-orang lain di sekitar saya. Semua itu ditujukan untuk kebaikan. Untuk ‘menyelamatkan’ orang yang bersangkutan dari tindakan bodoh yang dampaknya bisa menyakitkan. Untuk memasang garis pembatas, agar orang-orang yang mereka sayangi tidak perlu terjerumus masuk lubang dan terluka karenanya. Untuk menjaga dan melindungi.

Walau terkadang jengkel dengan sikap macam itu dan sering berpikir, ngelarang sih ngelarang, tapi mbok yaaa o…, saya berusaha memandang tindakan itu sebagai wujud kasih sayang yang tujuannya adalah melindungi saya dari ‘bahaya’. Menjaga agar saya tidak perlu terluka. Menyelamatkan saya sebelum terlanjur kejeblos lubang.

Semuanya baik adanya, dan sungguh, saya menghargai setiap perbuatan itu. Saya mencoba melihatnya sebagai sebuah dukungan, walau apa yang disebut dukungan itu kadang membuat saya misuh-misuh sebel. Biar bagaimanapun, setiap tindakan dan perkataan yang ngeselin itu dilakukan karena mereka sayang saya. Mereka menginginkan yang terbaik bagi saya.

Tapi, baru kali inilah, saya mendapat dukungan dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Dukungan yang tidak berwujud kritik, tuntutan, larangan maupun peraturan.
Dukungan yang tidak mengatakan, “Jangan macem-macem lah, gak usah yang aneh-aneh,” melainkan, “Janji, bahwa kamu tidak akan terluka.”
Dukungan yang mengatakan,”Kamu boleh melakukannya. Saya percaya kamu.”

Menyayangi dengan cara melepaskan dan mempercayai. Dan akan selalu mempercayai.

Genangan itu kembali membasahi mata saya saat membaca ulang pesan pendek tersebut.

Once again, I trust you, Big Girl. :)

Saya tersenyum.

I won’t fail you. I promise.

And thanks for being a friend sister to me.

2 comments:

ibunyaima said...

Hhh.. emang mellow gumelow, Jen ;)

Jenny Jusuf said...

It's in the blood, Jeng May. :D

*deuuwh, pembenaran*