Friday, August 3, 2007

Just In Case...

Bo, setaun itu lama ya.
Halah. Promise me you’ll always be fine. Gue bakal kangen ama loe. I mean it. :)
Thank you ya Bebe, you’re really my sister. :)
Happy rock ‘n roll. Take care!

...
Anyway, just in case... Nice knowing you. And I do care about you.

Jempol saya berhenti di tombol ‘options’.

JUST IN CASEEEEEE???

Maksudnyaaaa?!

Saya menekan ‘reply’ dan dengan cepat membalas SMS sahabat saya itu, dengan sejumlah kalimat protes yang intinya mengatakan ‘jangan-ngomong-yang-aneh-aneh!’.

Message Sent.

Delivered.

...

Just in case.

Tadinya saya pikir kalimat seperti itu hanya ada di film. Semacam dramatisasi untuk menggugah suasana emosi penonton yang biasanya dilanjutkan dengan acara peluk-cium-nangis-‘I’ll be waiting for you’ walaupun pada endingnya yaaa... teteub aja si tokoh utama kembali dengan selamat meski agak berdarah-darah. Membuat airmata yang tumpah di awal film tampak sia-sia. :P

*Eh, saya kok mulai kedengaran seperti Gerwani berkutang hitam ya? :D

Anyway, saya yang kerap kali mencela “Alaaah, sok dramatis, paling ntarannya juga selamat, gak kenapa-napa, secara dese tokoh utamanya gitu loooh...” mendadak berhadapan dengan situasi serupa... tapi bedanya, yang ini BENERAN!

Respon pertama?
Panik jaya.

Respon kedua?
Ya, itu... protes dan ‘memaksa’ sahabat saya berjanji untuk kembali dengan selamat.

Sumpah, saya betul-betul panik, apalagi ketika SMS terakhir yang saya kirim tidak berbalas. Pikiran yang aneh-aneh langsung memenuhi otak dan sukses membuat saya insomnia mendadak (okay, agak hiperbola, tapi wajar dong, namanya juga panik :p)...

... sampai besok paginya, ketika sebuah SMS mampir di inbox:

Bo, maab, semalem gue ketiduran. Hehe..

Halah.

Sekali lagi, halah.

:DD

Setelah puas ketawa, saya meletakkan HP dan tiba-tiba... ...kok jadi kepikiran yaaa tentang ‘just-in-case’ itu? Dan jadi teringat pada ini, ini dan ini. (Saturation of blogosphere eh, Jenk? :D)

Just in case.

Semalam, sahabat saya yang mengatakan itu. Tapi gimana, ya, kalau posisinya dibalik dan saya-lah yang harus mengatakan hal serupa kepada orang-orang yang saya tinggalkan?

Katakanlah saya berada di posisi sahabat saya itu. Atau lebih sederhana, seandainya Sang Mahakuasa memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja saya di dunia ini, what would I say... just in case...?

...

Saya menekan tombol ‘reply’.

Jaga diri baik-baik. I’ll see you next year. Kita bakal bercanda gila lagi. Ngakak edan. Cela-celaan. Ngeceng makhluk ganteng. Ngomongin yang gak penting. All when we meet again, next year.

Message Sent.

Delivered.

Yup, my dear Sister, kita akan lakuin itu semua lagi. Kegilaan dan kecacatan yang sama. Tahun depan. Bareng-bareng.

But, anyway...

...just in case...

Thank you for everything. :)

Eh, ya, satu lagi... lain kali TOLONG YA, jangan ketiduran setelah bikin shock orang. :DD


*Gue nyerah deh Jeng May, emang mellow-gumellow udah ngalir di darah kayaknya. Hahaha!

4 comments:

ibunyaima said...

Biarpun mellow goeslaw itu udah ada di darah loe, stidaknya sisi2 kutang item loe mulai menyeruak keluar. Itu kemajuan.. HAHAHAHA..

*kayaknya setaon cukup nih buat meng-convert loe jadi gerwani ;)*

jenny jusuf said...

Kayaknya sih cukup Jeng. Setengah tahun bergaul dengan anak tiri gerwani, setaun kemudian dengan emak tirinya. Lengkaplah sudah.

Taun depan kita idupin lagi yuk, tuh partai. :D

Vina Revi said...

just in case pengen baca tulisan saya, klik disini aja. xixixi ...
itu just in case loh, ya!

jenny jusuf said...

Vina:
Beli kayu buat lemari,
yyyyuukk mariii ;)