Monday, August 27, 2007

Proses Itu Tak Pernah Berhenti

Beberapa hari lalu, saya iseng melihat-lihat entri yang saya posting di blog saya yang lain. (Iya, saya punya dua blog, tapi yang satu lagi khusus untuk mencurahkan unek-unek, buka isi perut). Saya tertawa-tawa melihat entri yang berjumlah 40-an, yang hampir semuanya berisi hal-hal nggak penting. Salah duanya adalah foto koleksi Seri Kumbang-nya Enid Blyton dan foto cover CD bajakan yang menampilkan tulisan ‘Copying This CD Without Permission Is A Crime’ (dan ditayangkan di Museum ini, haha!). Sisanya kebanyakan berisi celoteh nggak penting yang jauh dari bermakna.

Saya mesam-mesem sambil membaca ulang entri-entri itu satu persatu dan berpikir, kok tulisan saya yang di sini, beda ya dengan entri di blogspot? Entri-entri saya di blogspot sangat serius, mellow dan kadang ‘sok bijak’. Mungkinkah saya punya alter ego seperti Beyonce Knowles atau seorang blogger old-skool *hai, Teh! :)* yang memposting hal serupa di sini? Maka mulailah saya berkhayal gila, seandainya punya alter ego, saya akan menamakannya Janice. (Ha!) ;-D

Kemarin saya membaca entri seorang sahabat yang berjudul Sekolah Kehidupan. Isinya sangat menggugah. Sekolah yang terbaik di dunia adalah Universitas Kehidupan - lengkap dengan mata kuliah yang beragam, yang semuanya memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan; bagaimana menilik hidup dari sudut yang berbeda, memandang dengan bijaksana dan menjadi orang yang lebih baik.

Saya pernah menjalani sebuah fase dalam hidup, di mana saya ‘terobsesi’ dengan makhluk bernama Kesempurnaan. Segala sesuatu pada diri saya harus sempurna. Bukaaaan, bukan dari segi penampilan atau penampakan lahiriah. Saya tidak terlalu peduli dengan keindahan tampak-luar, yang menjadi ‘obsesi’ saya adalah kesempurnaan perilaku.

Kedengaran aneh?

Itulah yang saya kejar, dulu. Saya berusaha terlalu keras menjadi figur yang sempurna di depan keluarga dan teman-teman. Saya menjaga sikap, pembawaan dan tutur kata sedemikian rupa agar selalu tampil tanpa cacat-cela. Alasannya sederhana, saya ingin menjadi seorang teladan terpuji. Seseorang yang bisa memberi contoh perilaku mulia.

Masalahnya adalah, tanpa sadar motivasi itu bergeser dan saya mulai menganggap diri saya lebih baik dari orang-orang lain. Saya menganggap diri saya yang paling benar, paling sempurna, tanpa cacat.

Usaha terlalu keras itu berhasil, awalnya. Orang-orang yang saya temui memberi komentar baik tentang saya. Beberapa bahkan diungkapkan secara berlebihan, dan saya enjoy saja dengan semua itu. Ini berlangsung bertahun-tahun, dan saya tenggelam dalam sindroma ‘look-at-me-I-am-damn-good’… sampai saya sadar, ‘kesempurnaan’ itu telah menjauhkan saya dari keluarga saya sendiri.

Adik, sepupu-sepupu, bahkan pacar sepupu saya (!) jadi segan berdekatan dengan saya. Somehow, perilaku dan sikap sempurna yang saya tunjukkan mulai mengintimidasi mereka sampai taraf tertentu. Ya iyalah, gimana nggak, saya memang kelewatan, bow. Saya sangat menjaga omongan. Saya menjaga cara saya tertawa, bercanda dan berkomunikasi, bahkan saat berkumpul dengan orang-orang terdekat.

Saya memasang ‘garis pembatas’ yang sangat sempit, padahal sumpah mati, diva Indonesia aja nggak segitunya, 'kali. Saya memasang batasan yang ketat dalam berteman. Saya memilih teman-teman saya. Hal yang sama saya terapkan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, bahkan standarnya lebih tinggi lagi (jangan tanya berapa kali saya pacaran selama masa kesintingan itu). Mungkin yang paling ekstrim adalah ketika saya memutuskan untuk tidak nonton bioskop sama sekali, namun dengan gilanya tetap berburu DVD bajakan di kaki lima. Saya menjadi figur yang terpuji di mata banyak orang, namun hati kecil ini mengakui bahwa saya tak lebih dari orang saklek. Songong karena merasa diri ini lebih baik dari orang lain.

Saya mendapat pujian dari banyak orang, namun mulai kehilangan keakraban dengan orang-orang terdekat. Adik saya menjaga jarak dengan saya. Sepupu saya menjaga sikap setiap bertemu dengan saya. Dan dengan sintingnya saya mengira sudah berhasil memberi teladan bagi mereka. Untungnya, kegilaan ini berakhir tidak lama kemudian, ketika saya mulai serius menekuni pelajaran di Universitas Kehidupan.

Saya mengambil mata kuliah ‘Membuka Diri’, ‘Memahami Perbedaan’ dan ‘Tenggang Rasa’. Saya belajar untuk tidak menganggap diri sendiri yang paling benar. Saya belajar membuka mata dan hati seluas-luasnya. Saya belajar melihat keindahan dalam setiap ketidaksempurnaan.

Dan ternyata memang benar, ketidaksempurnaan itu indah adanya.

Saya tidak lagi menghakimi ketika seorang teman memasang anting di hidung dan bibir. Saya tidak lagi mengernyit kepada mereka yang merajah tubuh dengan tattoo. Saya yang dulu selalu mencibir, kini membukakan mobil untuk teman yang kebelet merokok saat bertamu ke rumah seorang kenalan baru (secara tuan rumahnya wanita paruh baya yang superramah lagi baik budi, rasanya agak kurang pas ajaaa menjadikan terasnya tempat buangan asap rokok pada pertemuan pertama gitu, ganti). Saya tidak lagi anti dengan gedung bioskop. Dan saya tetap berburu DVD bajakan di kaki lima. *wink*

Saya belajar bahwa hidup adalah pilihan, dan setiap orang memiliki kehendak bebas untuk memilih secara sadar (serta bertanggung jawab atas pilihan itu, tentunya). Perlahan, saya mulai merasa damai karena hati ini tidak lagi gemar menghakimi.

Saya masih terus belajar. Saya percaya tidak ada satu orang pun yang akan lulus dari Universitas Kehidupan, karena proses belajar di tempat ini tidak pernah berhenti.

Harapan saya cuma satu: saya bisa menjalani setiap mata kuliah yang saya ambil dengan baik dan memperoleh nilai yang memuaskan. Tidak harus sempurna, tapi minimal baik. Dan siapa tahu, kita akan bertemu di salah satu kelas. :)

Selamat belajar! :)

2 comments:

ibunyaima said...

Hmm.. kalo gw kebalik, Jen. Gw suka menampakkan diri gw seburuk2nya.. dan sangat menghargai orang2 yang bisa melihat beyond my weaknesses :)

jenny jusuf said...

AHA! itu sebabnya tercipta image Gerwani? :-D