Sunday, April 12, 2009

Bebas Merdeka

“Bingung kenapa hari gini masih ada orang yang jadi Golput! Heran kenapa sih udah punya hak, disuruh milih aja gak mau? Apa salahnya mempertahankan kemerdekaan? Belum juga disuruh perang!"

Omelan yang saya baca di sebuah situs pertemanan itu membuat saya cengar-cengir. Versi aslinya lebih puanjang dan galak, yang tentunya saya diskon untuk ditampilkan di sini in case kebaca sama yang nulis demi terjaganya perdamaian dunia.

Maaf kalau terkesan menyepelekan patriotisme, namun bagi saya, omelan itu menggelikan sekaligus mengundang niat usil. Tapi, berhubung koneksi internet sedang jelek, saya tidak jadi memberikan komentar.

Sejujurnya, saya tidak merasa ada yang salah dengan menjadi Golput. Tidak memilih adalah sebuah pilihan juga. Dan alasan di balik keputusan untuk ‘menjadi putih’ tentunya hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan, toh?

Kelucuan kedua, somehow saya merasa, urusan pilih-memilih ini tidak ada hubungannya dengan mempertahankan kemerdekaan. Silakan protes, tapi sungguh, bagi saya, memilih atau tidak memilih tidak lantas menjadikan seseorang berjiwa patriotik ataupun anti-kemerdekaan. Lepas dari berbagai pemikiran yang melatari keputusan seseorang untuk ‘mutih’, ia hanya menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih. Itu saja.

Membaca omelan tersebut, saya jadi bertanya-tanya sendiri, memang apa sebenarnya arti kemerdekaan? Istilah itu sangat familiar, karena saya murid teladan yang sejak SD tidak pernah absen upacara bendera dan tidak pernah melewatkan 17 Agustus-an. Tapi, entah kenapa, kata ‘merdeka’ sering sekali membuat telinga saya gatal. Mengganjal di pikiran. Kalau menurut ilustrasi teman saya, seperti upil yang ngegantung di dalam hidung. Kecil tapi ganggu. ;-D

Merdeka?

Memangnya sudah?

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu, saya begitu sibuk ‘bertempur’. Betapa sering saya merasa kurang, harus mencapai lebih, selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan berusaha mati-matian untuk berubah demi menyenangkan orang yang saya sayangi. Tidak pernah ada yang cukup dari diri saya, dan saya selalu bergumul untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang saya buat.

Entah berapa lama ini berlangsung. Seingat saya, pergumulan itu sudah ada sebelum saya menginjak usia remaja, dan stadiumnya semakin menanjak seiring bergulirnya waktu. Terus, dan terus. Sampai akhirnya saya terkapar.

Suatu malam, setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan dengan rasa frustrasi yang kian menumpuk, saya mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya.

Saya lelah bergulat dengan diri sendiri. Saya lelah lari. Saya lelah 'berperang', bahkan untuk sekadar membela apa yang saya anggap benar. Bukan karena saya tidak lagi percaya, bukan pula karena tidak ingin bertahan, melainkan karena ‘kebenaran’ yang dijejalkan terus menerus membuat saya penat.

Saya sampai pada satu titik dimana saya tidak lagi memiliki energi untuk melangkah; saya mengkerut di pojokan, bersimbah peluh, terengah-engah, dan di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya: “Buat apa?”.

Di sana, untuk pertama kalinya, saya tersadar, bahkan seandainya saya meraih segala hal yang saya perjuangkan, ketidakmampuan untuk berdamai dengan diri sendiri tidak akan membuat saya bahagia. Tidak akan membuat saya berhenti. Saya hanya akan menagih untuk mendapatkan lebih dan lebih, karena saya terus merasa kurang dan kurang. Dan apa gunanya semua yang saya capai, jika saya bahkan tidak bisa beristirahat untuk menikmatinya?

Di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Jawaban itu sederhana saja.

Saya ingin bebas.

Dan jawaban yang sama telah memutar hidup saya 180 derajat, hingga detik ini.

:-)

Bagi saya, bebas (atau merdeka, mumpung masih anget Pemilu ;-D) adalah ketika saya dapat jujur sepenuhnya kepada diri sendiri dan orang lain mengenai apa yang saya rasakan. Merdeka adalah ketika saya sanggup menyampaikan isi hati saya dengan tuntas, jelas, dan lengkap tanpa menuntut untuk dipahami.

Merdeka adalah ketika saya mampu mengalir dan berserah sepenuhnya kepada Hidup. Mengijinkan setiap rasa hadir tanpa berusaha menolak atau mencengkeram. Menerima jatah yang telah digariskan bagi saya sesuai dengan jalan yang saya pilih sebelum menandatangani kontrak dengan dunia.

Merdeka adalah ketika saya menatap diri saya di cermin dan mencintai sosok yang terpantul di sana, apa adanya, seutuhnya. Meski ia tidak serupa dengan gambaran mengenai kecantikan atau postur tubuh ideal.

Merdeka adalah ketika saya mampu berkata, “Saya bahagia, dan tidak ada yang ingin saya ubah dari hidup saya”, dan pada saat yang sama membuka tangan dan hati lebar-lebar untuk mengijinkan kebahagiaan pergi jika sudah waktunya.

Merdeka adalah ketika saya sanggup berkata kepada orang-orang yang saya cintai, “Saya sayang kamu, apa adanya”, dan menyediakan telinga bagi mereka tanpa menilai, tanpa menghakimi, karena tempat mereka bukan di otak, melainkan di hati.

Merdeka adalah ketika saya melongok ke dalam batin, menjumpai apa pun yang ada di sana dan mampu menerimanya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bertumbuh dan berproses. ‘Jenny’ tidak harus selalu baik. ‘Jenny’ tidak harus manis. ‘Jenny’ tidak harus senantiasa berwarna-warni cerah. Label itu tidak perlu ada.

Merdeka adalah ketika saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya dan merasakan kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama mereka.

Merdeka adalah ketika saya mengalami secara langsung apa yang saya sebut sebagai ‘kebenaran’, tanpa melalui tangan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dan mampu hidup di dalamnya tanpa berniat menjejalkan kebenaran yang sama kepada orang lain.

Saya paham jika kemudian timbul protes: “Jen, ‘merdeka’ versi lo dengan kemerdekaan bangsa lain kaleee konteksnya.” Memang. Namun, bagi saya, kemerdekaan sejati hanya bisa dimulai dari diri sendiri. Dan kemerdekaan bangsa pun tidak semata ditentukan oleh status ‘bebas-mandiri’ yang disahkan melalui teks proklamasi. Selama peperangan di dalam diri belum berhenti, barangkali makna ‘kemerdekaan’ yang kita ketahui patut dikaji ulang. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk mulai mempertanyakan, sudahkah kita merdeka? :-)

Semua orang berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, dan tulisan ini tidak dibuat untuk menetapkan ‘standar’ bagi siapa pun. Tulisan ini hanya proyeksi dari konsep personal yang saya miliki tentang kebebasan dan kebahagiaan, dan setiap orang bebas memiliki serta menyuarakan konsep masing-masing.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari hidup saya adalah kesempatan untuk menulis yang terus ada. Bagi saya, menulis adalah sarana pencarian jati diri, dan pada saat yang sama ia memberi saya peluang untuk menguras apa saja yang tersangkut dalam batin, membersihkan sumbat pikiran, dan melapangkan hati. Setiap kali saya membuka komputer untuk menulis, selalu ada lapisan-lapisan baru yang tersingkap. Selalu ada permata yang berhasil saya gali, dan salah satunya baru saja saya temui.

Malam ini, selagi benak dan jemari saya berlomba merangkum dan menuliskan kata demi kata, saya semakin tahu mengapa saya mencintai meditasi.

*"Meditasyi lagi, meditasyi lagiii... mbok yaaaaaa." Come on, say it! Hehehe.*

Meditasi mempertemukan saya dengan diri sendiri. Meditasi mempertemukan saya dengan ‘Jenny’ yang bukan hasil pengkondisian lingkungan sekitar. Saya mampu terbang mengatasi ranah ideal dimana konstruksi citra didewakan di atas segalanya, dan meski saya tidak bisa meninggalkan ranah itu untuk selamanya, sepasang sayap ini akan terus ada.

Meditasi memperkenalkan saya pada kehidupan yang sejati. Saya belajar mencintainya apa adanya, dan di sana, untuk pertama kalinya, saya sungguh-sungguh tahu, apa itu merdeka. :-)


*Gambar (masih) dipinjam dari http://www.sxc.hu

9 comments:

okke! said...

Setiap hal dalam kehidupan itu emang pilihan. :) Pilihan yang tentu ada konsekuensinya.

Eh, OOT nih, kalo gue yah, di mall mau beli baju, gue selalu milih untuk memilih sendiri, bok. Biarpun gue punya keterbatasan dalam soal fashion, untung aja referensi fashion cukup banyak.

Soalnya, konsekuensi kalau gue memilih orang lain untuk memilihkannya buat gue --- kalo ga suka gue ga bisa protes. (lha wong ga milih, kok rewel) :D

hehehe...

ezra said...

jadi inget film "instinct". di salah satu adegan karakter anthony hopkins mencekik karakter cuba gooding dari belakang. anthony lalu brkata: "apa yg kurenggut darimu skarang?". jawaban cuba pertama adalah "kontrol" yg kemudian disalahkan oleh anthony. ia kemudian menjawab "kebebasan" yg jg trnyata jawaban yg salah. dan akhirnya pada saat trakhirnya sblm mati tercekik, cuba pun menjawab "ilusi". anthony kemudian melepaskan jeratan tangannya lalu mengecup kepala cuba. hehe..
aku sih memaknai adegan ini sebagai pesan bahwa kita ga pernah benar2 memegang kendali atas hidup ini, jadi jangan takut kalo banyak hal yg ga sesuai dgn yg diinginkan. nah, kemerdekaan bwt aku berarti bebas dari rasa takut apapun itu bentuknya.
begh.. panjang amat ye..

-maynot- said...

Gw juga gol-put. Bukannya nggak cinta sama negara... tapi.... daripada gw merasa bersalah menyerahkan negara dan rakyat pada orang2 yang nggak gw tahu kualitasnya ... :)

Semua adalah rangkaian aksi & reaksi. Orang jadi gol-put bukan ujug2, tapi adalah reaksi terhadap rangkaian sebelumnya :)

Galuh Riyadi said...

Alasan gue untuk tidak menjadi golput adalah, gue ngga mau 'suara' gue disalah gunakan sama orang lain.. Bukan berarti gue yakin kalo MEREKA yang nama dan wajahnya terpampang di kertas selebar peta pulau Jawa itu akan mengemban tugasnya dengan baik kalo mereka terpilih....
Bukan berarti gue ngga golput juga... Karena gue cuma menyontreng dengan baik dan benar di satu surat suara buat DPR... Sisanya, gue contreng minimal lima nama... At least, kertas suara gue tidak disalah gunakan sama pihak lain... Sapa yang tau coba, kalo kertas suara yang 'nganggur' krn para pemilihnya ngga dateng itu ngga 'dikaryakan' sama pihak2 yang ngga bertanggung jawab?!?!
Btw, Ujung Jawa keren loh Jen.... Wakakakakakak... (intinya sih gue cuma mau ngomong ini...) LOL

Jenny Jusuf said...

Okke: gw juga selalu milih sendiri, yang jadi masalah adalah kalo perginya sama orang, dan dikomen, "Ih selera lo kayak emak-emak," biasanya gw suka ga PD dan naro lagi tu baju ;-D

Ezra: kenapa ya jawaban cerdas selalu munculnya terakhir2, pas udah mau mati gitu? hehehe!

Jeung May: betuuuuul! ;-)

Galuh: YEAH I KNOW, gw udah nunggu2 liputan lo dari Ujung Kulon ;-D BTW, coba ya calon suami lo itu Caleg, pasti contrengan lo jadi enam, hihihi

Shinta-story said...

alow jen. ikutan nimbrung neh masalah golput..

kayaknya bener, semua orang punya pilihan masing-masing. tapi tetap aja pilihan yang kita atau mereka ambil punya alasan sendiri-sendiri.seperti sekarang rame-rame orang pada mengkampanyekan golput, ga salah juga seh karena emang di jaman sekarang sulit membedakan antara orang yang bener dg orang yang bener-bener berhasil mengibuli kita.

terus ga sedikit juga yang menentang golput karena ada kepentingan dibelakangnya. ntar kalo banyak yang golput siapa donk yang bakal milih dia biar bisa duduk di "kursi panas" senayan...

masyarakat udah pada cerdas kok sekarang, tau mana yang bisa dipercaya dan mana yang bisa diberi amanat, dan kalau pun mereka akhirnya memilih golput atau ikutan serta "nyontreng" mereka tau ini bukan untuk kemerdekaan tetapi hanya untuk melanjutkan perjalanan...



-asd-

DiNok_MuMEt said...

hi jen..
aku suka tulisan2mu, tp seringnya cm silent walker aja, g kasi komen. txs y, dah bagi2 berkat dan inspirasinya. ak jg suka nulis, tp cm orek2an aja, ga sebagus tulisanmu. eia, blogmu tak link boleh ya..

kalo tentang pilihan, pilihan dan konsekuensi itu kayak kita sama bayangan kita, selalu bersama..hehe..

tetep semangat yuukk..
:)

Jenny Jusuf said...

Shinta: emang ada yang mengkampanyekan golput? kok saya nggak lihat spanduknya ya? ;-D

Dinok: silakan kalau mau di-link, makasih ya..

pandi merdeka said...

lagi ngomongin merdeka ya :">