Thursday, November 29, 2007

Bener-Bener Bosen

Pernah nggak merasa bosen BERAT pada pekerjaan rutin yang sudah dijalani selama kurun waktu tertentu?

Saya pernah. Dan nyebelinnya, sekarang juga sedang.

Saya ingat banget, waktu awal-awal bekerja, saya sangat bersemangat karena merasa menemukan tantangan baru (di samping mendapat aktivitas yang membebaskan saya dari perasaan sumpek akibat kelamaan jadi pengangguran). Saking semangatnya, saya nggak keberatan nginep berhari-hari di kantor demi menyelesaikan pekerjaan, malah saya sempat, lho, mikir, “Ini office hour-nya kok cepet amat, ya? Mestinya dipanjangin nih.”

*Tsah* :)

Setelah 3 bulan, perasaan ‘terbiasa’ itu mulai datang, tapi saya cuek dan tetap menjalani pekerjaan seperti seharusnya. Masuk bulan ketujuh, saya mulai gelisah mirip cacing dituangin garam (belum pernah liat? Coba deh, tapi dikit aja, kasian cacingnya, hehehe). Semua yang awalnya begitu menyenangkan dan penuh tantangan sekarang tidak lebih dari rutinitas yang harus diselesaikan tepat waktu. Bulan kedelapan sampai keduabelas, saya mulai gampang uring-uringan di kantor. Bosen kuadrat pangkat tiga dikali lima.

… sampai akhirnya atasan saya mempercayakan sebuah proyek yang cukup besar untuk saya tangani.

JRENG–JRENGGG…

Semangat yang tadinya redup –kayak bohlam 5 watt yang udah mau putus- lantaran kurang pasokan listrik mendadak berkobar-kobar lagi. Saking semangatnya dengan proyek baru ini, saya sampai nggak tidur berhari-hari, memikirkan segala macam hal dan merancang semua detil, sampai sekecil-kecilnya.

Proyek itu memakan waktu sekitar 1,5 bulan. Setelah selesai, beberapa teman melontarkan pujian, karena konon proyek serupa pernah dipercayakan kepada seorang (mantan) staff dan butuh setahun (!) untuk menyelesaikannya. Setelah larut dalam euforia selama beberapa minggu, perasaan familiar durjana itu lagi-lagi menyerang, dan saya kembali dilanda kejenuhan akut.

Akhirnya saya memberanikan diri mengajukan ide kepada atasan untuk melakukan inovasi pada job description, yang –edannya- disetujui. Sambil mikir, “Giling ih, ternyata gue mantep juga,” saya keluar dari ruangan beliau dengan cengiran lebar. Semuanya kembali terasa menyenangkan dan menggairahkan. Saya bekerja seperti kelinci kebelet beranak selama beberapa bulan…

…dan bosan lagi (!!!).

Buseeeeeet.

Dengan memasrahkan diri pada kehendak Yang Di Atas, saya pun kembali nekat mengetuk kantor pimpinan.

Usul diterima, dan saya bergembira ria.

Itu terjadi beberapa minggu lalu, ketika saya keluar dari ruangan atasan sambil siul-siul senang.

Sekarang?!

Udah jenuh LAGI…!

Alamaaak… TOBATTT!!!

MAYDAY, MAYDAY… Help me please!

*suntuk mode: on (kali ini nggak bisa di-off-in, tombolnya lagi rusak)*

*sigh*


By the way, kalau ada yang ngerasa inisial judul entri ini mirip nama grup musik atau film tertentu, emang sengaja, kok *wink wink*.

Friday, November 23, 2007

Ramah-Tamah

“Penting ya, beramah-tamah sama pimpinan?”

Meta berhenti mengaduk vanilla latte-nya yang baru dituangi brown sugar. Ia nyengir sambil menatap Ninda yang balik menatapnya dengan sedikit cemberut.

“Emang kenapa?”

“…”

“Kantor elo, ya?”

“He eh. Malesin.”

Meta menyesap vanilla latte-nya. Ia meletakkan gelas styrofoam sambil memaki kecil. “Sial! Panas banget.”

“Beramah-tamah itu penting kaliii, Nin. Dalam hidup bersosialisasi, kita per…”

“Gak usah sok bijak,” tukas Ninda, bertahan dalam ekspresi sebalnya. “Lo tau apa yang gue maksud.”

Lagi-lagi Meta nyengir innocent. “Idealisme lo?”

Ninda tidak menjawab. Ia menyeruput mochacinno-nya seraya membuang pandangan ke luar jendela. Suasana Coffee Corner sore itu sangat comfy. Café mungil ini adalah tempat favorit Meta dan Ninda. Ambiance-nya selalu membuat mereka kangen ngopi-ngopi sambil curhat sana-sini.

Beberapa bulan terakhir, kebanyakan sesi ngopi Meta-Ninda diwarnai curhat Ninda tentang suasana kantor yang ditempatinya 10 bulan ini. Meta hanya nyengir-nyengir kuda mendengar curhat sahabatnya yang kali ini bukan tentang cowok super ganteng pacar barunya, dosen nyebelin nan genit yang hobi colak-colek seenak jidat atau cardigan Zara yang sudah lama diincarnya, melainkan setumpuk cerita tentang rasanya kerja kantoran, senangnya menerima gaji pertama, serunya belanja dengan uang hasil keringat sendiri, sampai tingkah rekan-rekan sekantor yang (menurutnya) super-duper-ngeselin.

“Gue gak ngerti kenapa orang-orang itu demen banget beramah-tamah sampe berlebihan sama pimpinan. Bikin sakit mata. Gerah.” Omel Ninda.

“Menjilat, maksud lo?”

Sort of.”

“Ngapain dipusingin, Neng. Biarin aja. Yang penting kan elo nggak,” cetus Meta geli.

“Gue gerah aja,” Ninda melipat kedua tangannya di dada, persis anak kecil yang merajuk. “Awalnya gue berusaha cuek. Tapi karena gue seruangan rame-rame, lama-lama ganggu banget. Dan mereka ngelakuin itu terang-terangan tiap kali atasan nongol. Pengen gue sambitin satu-satu,” Ninda bersungut-sungut, membuat Meta ingin sekali ngakak sepuasnya di depan fresh grad berlidah cabe rawit itu.

“Lo bayangin, ada gitu, yang tiap boss nongol, cara ngomongnya udah kayak ketemu menteri. Ngerunduk-runduk, nada dibikin semanis mungkin, intonasi direndah-rendahin biar terkesan hormat.”

“Hehehehe…”

“Ada juga yang kerjaannya ketawaaa melulu. Gue rasa dia digaji buat ketawa daripada buat kerja.”

“He?” Meta melongo bodoh. “Maksud lo?”

“Yaaa… boss gue kan orangnya ramah. Suka banget cerita. Apa aja diceritain. Jadi tiap boss gue cerita, lucu ga lucu, seru ga seru, dia selalu KETAWA. All the time.”

“Kok aneh sih?”

“Tau. Biar disayang, kali.”

“HUAHAHAHAHAHA.”

“Trus ada juga yang pendekatannya lewat anak boss.”

“Hah?”

“Iya. Pimpinan gue punya anak perempuan umur 5 tahun. Abis pulang sekolah, ‘ni anak sering diajak ke kantor. Ada satu staff yang selalu nurutin kemauan ‘tu anak. Minta apapun dikasih, mau apapun dibolehin. Padahal ya bo, gue ngeliat sendiri boss gue justru ngelarang hal-hal yang dibolehin itu. Otomatis ‘tu anak jadi deket sama staff yang satu itu. Nempel mulu. Dan ‘tu anak cerita deh ke nyokapnya kalo staff itu baik banget sama dia.” Ninda misuh-misuh panjang lebar. Embun di gelasnya sudah lama membentuk genangan di atas meja.

“Ya biarin aja lah, Say. Mau mereka licking ass pemimpin, itu urusan mereka. Yang penting kan lo nggak gitu.”

“Iyaaa, tapi gue jadi ngerasa gak fair ajaaa.” Bibir Ninda semakin maju. Meta tertawa geli. Di saat-saat seperti ini Ninda lebih mirip anak SMU yang lagi ngambek sama pacar ketimbang karyawan perusahaan swasta.

“Gak fair gimana maksud lo?”

“Gak fair, karena mereka ngedapetin perhatian lebih dari pimpinan dengan cara-cara kayak gitu, sementara mereka-mereka itu sebenernya pada gak becus kerja.”

“Dih, segitunya amat sih,” Meta menukas. “Sah-sah aja lo sebel, tapi ga usah segitunya kali.”

Seriously, Met.” Ekspresi Ninda berubah sungguh-sungguh. ”Gue kan seruangan sama mereka. Gue tau kualitas dan cara kerja mereka kayak gimana. Tipe yang dikit-dikit nanya, dikit-dikit minta tolong, dikit-dikit ngeluh. Trus kalo diajak diskusi, keliatan banget telminya. Gue sampe capek.”

“HUAHAHAHAHAHA. Nasib lo, Nin.”

Yeah,” Ninda menghela nafas pasrah. “Itu sebabnya gue mati-matian nge-push kapasitas gue. Pokoknya kinerja dan kualitas gue harus di atas rata-rata. Gue pengen –dan harus- nunjukin prestasi lebih dari mereka-mereka itu.”

“Supaya lo eksis di mata boss?”

“Sebagian, iya. Sebagiannya lagi, karena gue pengen buktiin kalo gue bisa berhasil tanpa perlu licking ass.” Ninda menuntaskan mochacinno-nya. Ia menghempaskan gelas kosong ke atas meja, membuat genangan air di atasnya terpercik kemana-mana.

Meta manggut-manggut sambil menyapukan tisu ke lengannya yang basah kena air. “Moral of the story…” ia mengembangkan senyum kocak, “Kalo gak bisa beramah-tamah sama pimpinan, mendingan punya prestasi.”

“Ember.” Ninda mengangkat alis sambil bertopang dagu. “I know I can do it.” sambungnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Buktinya, ada satu produk -namanya Concept- yang sama anak-anak disebut produk gagal. Penjualannya amblas, tapi sejak gue handle 3 bulan ini, penjualan mulai naik dan ordernya lumayan.”

Meta tersenyum. Bangga akan pencapaian sang sahabat yang belum genap setahun bekerja di kantor barunya. Bangga akan sifat keras kepala Ninda yang tidak takut menentang arus dan berani berkompeten secara sehat. Sesuatu yang sama sekali tidak mudah -- Meta tahu itu, karena ia pernah tersingkir dari area persaingan yang sama, di mana ia tidak sanggup bertahan. Tapi Ninda adalah cerita lain. Ninda, dengan kapasitas otak dan idealismenya yang sekeras batu, akan mampu bertahan, bahkan terus naik.

I know you can.”

Saturday, November 17, 2007

Hei... Kamu.

Hei, kamu yang di sana…

Lagi ngapain?

:-)

I know this is ridiculous. Baru 1 jam lalu kita pisahan, tapi saya sudah ngerasa kangen sama kamu.

Kamu yang selalu mengisi hati saya dengan cara-cara yang unik, dari dulu sampai sekarang. Anehnya, saya sering, lho, nggak sadar bahwa kamu ada di situ -- di sudut terpencil itu. Saya sangat jarang berpikir tentang kamu, tapi setiap habis bertemu kamu, otak saya pasti dipenuhi khayalan-khayalan menggelikan. Tentang kamu. Tentang kita.

Kamu adalah pahlawan masa kecil saya. Kamu selalu jadi ksatria buat saya, walau tidak ada naga yang harus dikalahkan atau musuh jahat yang harus ditumpas. Kamu ada di sana, dan itu cukup untuk membuat saya merasa seperti putri yang dijagai ksatria. Aneh sebetulnya. Kalau saya bertengkar dengan anak lain, kamu tidak terlalu membela saya. Malah, kamu lebih banyak diam. Tapi kamu ada di sana, dan kehadiran kamu selalu lebih dari cukup.

Kamu ingat nggak, waktu saya SMP (eh, atau SD tingkat akhir ya?), mereka mengolok-olok saya waktu saya bilang saya suka kamu. Mereka ngetawain saya habis-habisan, sampai saya ogah ketemu mereka selama berhari-hari. Malu! Saya sempat sebal pada mereka, tapi saya nggak bisa berbuat apa-apa karena saya tahu mereka punya alasan untuk berbuat seperti itu. Dan sialnya, alasan mereka benar.

Konyolnya, gosip bahwa saya suka kamu sempat tersebar luas, dan saya kembali jadi bulan-bulanan. Saya cemas banget, kuatir kalau kamu mendengarnya. Bukan, saya bukan takut kamu akan marah atau menjauhi saya. Saya hanya tidak mau kamu mendengar itu dari orang lain.

Mereka bilang itu cuma cinta monyet, dan saya percaya. Saya yakin perasaan itu hanya bagian dari sebuah fase hidup yang akan hilang dengan sendirinya ketika saya menapak ke fase berikutnya. Dan memang itu yang terjadi. Seiring bertambahnya usia, kamu mulai tenggelam dalam dunia kecilmu, begitu juga saya. Kita tak lagi sering bertemu. Kita tak lagi bermain bersama, karena kita telah tumbuh besar. Hidup tidak sesederhana dunia kanak-kanak di mana segalanya tampak begitu mudah. Hidup tidak sesimpel masa-masa di mana kita tak perlu bersusah-susah memikirkan karir, cinta dan tetek-bengek kehidupan yang menyebalkan (heran, kenapa dulu kita pengen banget cepat-cepat tumbuh dewasa, ya?).

Kita makin jarang bertemu, sampai akhirnya tidak pernah sama sekali. Saya hanya mendengar berita tentang kamu dari adik-adikmu. Kamu lulus kuliah. Kamu diterima di sebuah perusahaan jasa. Kamu menjalin hubungan dengan seorang perempuan berkacamata minus (pssst, mereka bilang, perempuan itu mirip saya!). Kamu putus dengan dia (yaaay!). Karirmu terus menanjak. Kamu mendapat promosi yang cukup besar dengan jabatan dan fasilitas yang membuat saya terkagum-kagum. Saya sangat bangga mendengarnya. Kamu hebat.

Ketika akhirnya saya bertemu lagi denganmu, sumpah, saya kaget melihat ‘penampakan’mu. Kamu, yang dulu bermain bersama saya dengan kaus oblong dan celana pendek, sekarang mengenakan kemeja lengan panjang dan dasi. Raut lugu dan cupu (maaaaap!) yang dulu selalu menghiasi wajah kamu, sekarang digantikan aura maskulin dan kematangan pria dewasa. Hanya satu yang tidak berubah dari kamu: ketulusan yang selalu terpancar dari mata jernih kamu. Kebaikan hati yang selalu membuat saya leleh sama kamu.

Saya tersentak.

Mereka bilang itu cuma cinta monyet. Tapi kenapa hati saya jadi deg-deg-serrr nggak jelas begini? Kenapa pipi saya jadi panas? Dan kenapa juga saya jadi tergoda memasang foto kamu sebagai wallpaper HP saya?!

O-H M-Y G-O-D.

Nggak. Nggak boleh. Pokoknya NGGAK.

Saya terus menggaungkan kata-kata itu pada diri sendiri -- berkali-kali, demi mengusir imaji yang terus menyelinap usil di otak saya. Imaji tentang kamu. Tentang KITA. Konyol.

Saya merasa sangat bodoh. Memelihara cinta monyet sampai setuir ini, padahal jelas-jelas itu mustahil terwujud.

Jadi, saya kembali berusaha menguasai diri, sekuat tenaga. Saya mencoba segala cara untuk melenyapkan pikiran tentang kamu dari sel-sel otak ini.

Saya cukup berhasil. Selama berbulan-bulan, kamu hanya singgah sesekali di benak saya, dan itu tidak mengganggu saya. Saya lumayan repot dengan berbagai hal sehingga tidak punya banyak waktu untuk memanjakan diri dengan bayangan kamu.

Sampai saya ketemu kamu lagi, hari ini.

DAMN.

Semua usaha saya jadi mentah begitu saja, karena dengan bodohnya saya kembali termehe-mehe dengan kehadiran kamu. Saya kembali deg-deg-serrr nggak penting ketika berada di dekat kamu. Saya kembali salting seperti anak SMP baru pacaran.

Ah, sungguh tolol.

Sekarang saya harus berusaha ekstra keras (lagi) untuk melupakan kamu; kali ini untuk seterusnya.

(Eh, atau sebaiknya nggak usah berusaha terlalu keras aja, ya? Soalnya ada yang bilang, semakin diusahakan, malah makin susah lupanya.)

Kamu tahu, saya sering berkhayal nakal: alangkah enaknya kalau kita tidak pernah tumbuh dewasa. Kita bisa terus bermain-main. Saya jadi putri, dan kamu adalah ksatria; meski tidak ada naga yang harus dikalahkan dan musuh jahat yang harus ditumpas.

Sayangnya, itu nggak mungkin.

Kita tetap tumbuh dewasa, dan kita tetap tidak bisa bersama-sama.

Kenapa?

Karena kamu sepupu saya.

:-)

Saturday, November 10, 2007

Kekuatan Sang Pemimpi

Saya tidak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Satu-satunya kesempatan di mana saya belajar mengetik adalah saat duduk di kelas 3 SMU, di mana syarat kelulusan mutlak adalah mengantongi sedikitnya SATU dari dua ijazah ujian nasional: Akuntansi dan Mengetik.

Sebagai pembenci angka sejati, saya mengandalkan kelulusan pada ijazah mengetik, yang sialnya, sama sekali tidak saya kuasai. Alhasil, selama 3 jam setiap minggu -di ruangan sumpek di sudut gedung sekolah- saya berkutat dengan mesin tik butut yang huruf-hurufnya ditempeli stiker hitam, merelakan mata saya ditutup dengan kain buluk dan belajar menghafal letak huruf di bawah ancaman hukuman. Jangan tanya kenapa. Itulah metode mengajar guru saya yang herannya terbukti efektif membuat kami lulus hanya dengan persiapan selama 6 bulan, walau tentu saja, sebagai efek sampingnya kami membenci beliau setengah mati.

Setelah belajar mati-matian, saya lulus dengan nilai seadanya. Sangat tidak sebanding dengan jerih lelah selama 6 bulan, tapi itulah hasil yang didapat jika terbalik memasang kertas stensil pada ujian mengetik berstandar nasional. :-)

Saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan ‘ilmu’ yang didapat dengan susah payah itu. Saya selalu ingin menjadi penulis. Sejak belajar mengetik, saya menguasai satu-satunya mesin ketik di rumah dan saya bertekad akan mengoptimalkan kinerja mesin tua itu. Jadi, mulailah saya menulis, eh, mengetik. Tidak tanggung-tanggung. Saya mengetik cerpen sepanjang 9 halaman.

Pekerjaan itu memakan waktu semalaman. Hasilnya adalah berlembar-lembar kertas HVS yang penuh tipp-ex dan jari telunjuk yang pegal setengah mati. Tim penilai ujian nasional telah melakukan kesalahan besar dengan meluluskan saya. Berulang kali saya menjebloskan jari ke sela-sela tombol huruf dan membuat kesalahan konyol yang (sialnya) tidak bisa di-undo.

Dengan penuh percaya diri saya mengirim cerpen itu ke majalah; mahakarya pertama yang dibuat dengan mesin ketik usang. Saya sangat bangga. Optimis luarbiasa. Redaksi majalah itu pasti terkesan.

*Sebelum ditanya, mending saya jawab dulu: Nggak tuh, saya nggak mikir panjang sama sekali. Dengan bego polos saya berasumsi, kalau redaksi menganggap naskah saya bagus, ya tugas mereka dong untuk ngetik ulang. Hihihi.

Cerpen tersebut saya tulis lebih dari 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ada kabar apapun dari majalah yang bersangkutan. Sejujurnya, saya bahkan ragu naskah itu DIBACA, secara penuh tipp-ex dan ‘lo-taulah-gimana-hasil-ketikan-mesin-tik-butut’.

:-D

Menjadi penulis adalah cita-cita terbesar saya. Melihat karya saya diterbitkan adalah mimpi yang selalu saya jaga baik-baik agar tidak layu. Sayangnya, berapa kali pun mencoba, saya tidak pernah melihat mimpi itu terwujud.

Saya melihat mimpi berbunga di pekarangan rumah orang. Mimpi saya sendiri tetaplah berupa benih dalam pot yang tidak kunjung bertunas.

Bahkan setelah saya mengganti mesin ketik dengan seperangkat komputer, bunga yang saya lihat tetap tumbuh di pekarangan orang. Novel atas nama orang. Cerpen atas nama orang. Artikel atas nama orang. Mimpi saya tetaplah benih yang bersemayam jauh di dalam lapisan tanah kotor dan lembap.

Awal 2006, saya menemukan sebuah majalah yang langsung membuat liur saya bertetesan. Majalah itu adalah sebuah kompilasi cerpen yang terbit setiap bulan dengan mengusung penulis-penulis kawakan sebagai editor: Putu Wijaya, Seno Gumira, Jujur Prananto dan entah siapa lagi.

Saya berdiri di depan rak Gramedia sambil memegangi majalah itu. Ketika saya membawanya ke kasir, semua kegagalan saya terlupakan. Saya tahu, nama saya akan tercatat dalam majalah tersebut.

Beberapa minggu setelahnya, saya pergi mengunjungi kawan di Jakarta Selatan. Ketika berhenti untuk membayar tol, pandangan saya singgah pada si penjaga loket; wanita berusia awal duapuluhan berambut sebahu yang wajahnya superkecut. Malamnya, saya duduk di depan komputer dan menulis cerita berjudul ‘Anugerah Terindah’ dengan tokoh utama gadis jutek penjaga loket. Saya mengirim cerpen itu ke redaksi majalah impian, dan memasrahkan diri pada hasilnya.

Que sera-sera. What will be, will be.

3 bulan kemudian, menjelang malam, sebuah e-mail mampir di inbox saya. Cerpen saya diterima.

Malam itu menjadi malam yang ajaib dalam hidup saya. Saya tersenyum-senyum di depan komputer warnet selama setengah jam penuh.

Saya membayar ongkos warnet sambil tersenyum lebar.
Saya berjalan ke tempat parkir dengan senyum superlebar.
Saya berhenti di tukang jagung bakar –untuk membelikan pesanan si Papah- masih dengan senyum lebar.
Saya menunggui jagung matang sambil cengar-cengir. Encik paruh baya penjual jagung tampak begitu cantik, dan pengipas arang berkaus kumal menjelma menjadi pangeran tampan.

*Okay, okay, HIPERBOLA. Hehehe.

Malam itu, saya mengalihkan pandangan dari pekarangan tetangga. Benih di pot saya mulai bertunas.

Beberapa minggu lalu, saya mampir ke toko buku dan iseng membeli novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata: Sang Pemimpi. Karena sibuk, saya mengabaikan novel itu selama beberapa hari. Ketika akhirnya punya waktu luang, saya mulai membaca dan tidak bisa berhenti.

Ikal dan Arai, tokoh utama dalam kisah nyata ini, adalah sosok-sosok yang bukan hanya memahami makna ‘bermimpi’. Mereka bertahan demi mimpi. Mereka mengejar mimpi. Mereka hidup untuk mewujudkan mimpi.

Ikal dan Arai hanya 2 dari sekian banyak pemuda Melayu pedalaman yang terpaksa pasrah menerima kenyataan terlahir sebagai rakyat miskin di daerah terpencil yang penduduknya bahkan belum pernah melihat kuda. Dalam kondisi serba sulit, mereka tidak punya pilihan selain berjuang mempertahankan hidup sambil menggali keindahan sebuah mimpi. Menahan berat peti dan bau amis ikan sebagai konsekuensi dari pekerjaan kuli angkut pelabuhan sambil terus memeluk mimpi-mimpi.

Tekad untuk tidak mendahului nasib telah menghantar 2 pemuda yang hingga lulus SMA tidak pernah mengenal Kentucky Fried Chicken ini ke Sorbonne, Perancis, sebuah tempat yang bertahun-tahun silam digaungkan oleh seorang guru dan menjelma menjadi sebutir benih dalam hati mereka. Benih yang terus dipelihara dan dijaga dengan setia, tidak peduli semustahil apapun tampaknya, sesukar apapun kondisinya.

“Bermimpilah, sebab Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

Itulah kalimat yang selalu mereka ucapkan. Kalimat yang kesaktiannya menyaingi daya magis ilmu madraguna -- bukan karena jampi bertuah, melainkan karena kata-kata sederhana itu telah memberi kekuatan pada kaki-kaki mereka untuk terus berlari.

Saya menutup buku dengan perasaan campur aduk; antara terharu, senang dan geli.

Mereka benar.

Kekuatan yang sama telah membuat mimpi saya bertunas, walau saya tetap tidak bisa mengetik sepuluh jari. :-)


* Untuk versi ‘serupa tapi tak sama’ dari tulisan ini, silakan klik di sini.

*Makasih banyak ya Ami, atas kesempatannya.. I really appreciate it! :-)

Gambar diambil dari www.fotosearch.com

Monday, November 5, 2007

Sosok Sejati

Saya mengenalnya beberapa tahun lalu, ketika kami datang ke sebuah acara yang sama dan saya melihatnya dikerumuni perempuan-perempuan yang heboh meminta tips seputar kecantikan dan kesehatan kulit. Karena penasaran, saya ikut mendekat.

Informasi yang dipaparkan beliau tentang banyaknya penderita kanker kulit di Indonesia akibat pemakaian produk perawatan dan make-up yang mengandung merkuri sangat menarik perhatian (kala itu belum banyak orang yang tahu bahwa sebagian besar produk kecantikan yang beredar di pasaran mengandung zat berbahaya ini). Jadilah saya bergabung dalam kerumunan kecil itu, menjadi salah satu perempuan bawel yang bertanya ini-itu tentang perawatan kulit -- walau pada akhirnya informasi tetaplah informasi, alias nggak dilakukan, hehehe.

Ketika acara itu selesai, pertemanan kami berlanjut. Seorang wanita kharismatik yang usianya menginjak pertengahan limapuluh dengan perempuan yang baru menamatkan masa ABG. Dua ‘dunia’ yang sangat nggak nyambung, sebetulnya, karena usia beliau bahkan jauh di atas Ibu saya. Tapi herannya, saya betah-betah saja bergaul dengan beliau (malah enjoy!), begitu pula sebaliknya. Believe it or not, kami bisa menghabiskan 3 sampai 5 jam sekali ngobrol.

Beliau selalu bermurah hati memberikan tips dan nasehat berharga mengenai perawatan kulit dan berbagai aspek kesehatan ditinjau dari segi medis *sedap, bahasa gua!*. Dan kami, perempuan-perempuan haus informasi ini, selalu mendengarkan dengan senang hati, karena tips-tips canggih seperti itu tidak mudah didapatkan secara gratis dari pakar kecantikan sekaliber beliau *ihiwww*.

Beliau telah beberapa kali memperoleh penghargaan dari pemerintah atas jasa-jasanya dalam dunia medis, secara spesifik dalam bidang kosmetologi. Beberapa bulan yang lalu, atas undangan dari Oom Bush, beliau menginjakkan kaki di Gedung Putih. Meski begitu, di tengah kesibukannya yang segudang beliau selalu bersedia meluangkan waktu untuk menolong kami-kami yang buta ilmu kesehatan.

Ketika seorang kawan melahirkan anak pertama, beliau memonitor perkembangan si calon ibu dan jabang bayi melalui teman baiknya -seorang dokter kandungan- untuk memastikan proses persalinan berjalan dengan lancar sesuai keinginan si ibu: melahirkan dengan normal. Ketika putra sahabat saya menderita penyakit berbahaya Stevens-Johnson syndrome, beliau ikut repot mencari informasi mengenai penyakit yang terbilang langka itu dan menghubungi teman-temannya sesama dokter untuk mencari penanganan terbaik yang dapat ditempuh demi kesehatan si bayi. Ketika tante seorang teman lain menderita tumor otak ganas, beliau memberi rujukan ke rumah sakit terpercaya (baca: kemungkinan malprakteknya bisa diminimalkan) dan dengan sukarela memantau perkembangan si pasien yang notabene tidak dikenalnya sama sekali.

Salah satu omelan favoritnya setiap bertemu saya adalah, “ITU MUKA KENAPA MERAH-MERAH LAGI? Kemarin perasaan udah mulusan! Pasti makan donat lagi ya?”

Hehehe.

Yup, beliau ‘mengharamkan’ saya sering-sering makan donat dan telur demi mengendalikan populasi jerawat di wajah saya. Masalahnya oh masalahnya, sebagai penggemar sejati donat –khususnya yang dijual di mal-mal dengan brand berupa inisial seorang tukang cukur yang berkonversi jadi tukang roti dan donat- saya sangat sulit menahan keinginan untuk tidak nyemil kue bolong itu. Dan buat saya, tidak ada yang bisa menyamai kenikmatan makan telur ceplok pakai kecap asin dan cabe rawit. Alhasil, jerawat pun terus berkembang biak. Setiap kali diomeli, saya cuma cengar-cengir sambil minta ampun dan mencoba mengurangi konsumsi 2 makanan ‘haram’ itu, yang biasanya cuma bertahan beberapa bulan sebelum saya kembali memamahnya secara konsisten. Hihihi. (duhhh, maap, Tan!)

Kemarin siang kami kembali bertemu. Saya, beliau dan beberapa teman duduk membentuk kerumunan kecil yang superberisik. Beliau memukul saya dengan bercanda ketika saya berkomentar bahwa larangannya makan donat dan telur sangat menyiksa kesejahteraan jiwa. Seorang teman yang wajahnya sedang jerawatan parah juga tidak luput dari omelan. Kami sedang sibuk ngeles sambil tertawa-tawa heboh, ketika seorang kawan mendadak menyeruak ke dalam kerumunan sambil mengulurkan sebuah bungkusan kepada si Tante.

“Titipan dari Edo,” ia menyebut nama anak bungsu Tante yang sedang menempuh pendidikan di London. Rupanya si kawan baru kembali dari perjalanan dinas di kota yang sama.

“Oh, dari Edo?!” wajah si Tante berubah sumringah. Surprised campur senang.

Kawan tersebut hanya mampir sebentar untuk menyerahkan titipan. Setelah ngobrol beberapa jenak, ia pamit dan Tante memasukkan bungkusan itu ke dalam tasnya. Saat saya mengira obrolan akan kembali berlanjut, Tante membatalkan niatnya menutup tas. Ia melongok ke dalam tas dan membuka bungkusan itu, mengintip isinya cepat-cepat. Ketika mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca.

“Makasih ya, Pepi,” serunya pada si kawan yang sudah beranjak menjauh. Beliau mengeluarkan bungkusan itu dari tas dan mendekapnya erat-erat di dada dengan kedua tangan.

“Aduh, senengnya…” komentarnya lirih. “Baiknya… dia inget sama Tante. Kalo yang dua lagi kan udah cuek, udah pada gede…” ia merujuk pada dua putrinya yang tinggal di Eropa.

Obrolan tidak jadi berlanjut. Tante terus mendekap bungkusan itu di dadanya. Saya memperhatikan beliau menyusut airmata dengan ujung jari, sementara sepasang manik itu terus berbinar dengan kebahagiaan yang sulit dideskripsikan.

Tanpa bermaksud mengecilkan makna sebuah pemberian, saya yakin isi bungkusan itu tidaklah seberapa dibandingkan tas buatan perancang yang disandang beliau maupun perhiasan yang sangat mencolok dan tidak pernah absen dikenakannya.

Bertahun-tahun mengenalnya, saya tidak pernah melihat beliau memegang sertifikat penghargaan dari pemerintah maupun trofi bergrafir indah -yang menunjukkan catatan prestasi nan fantastis dan selalu mengundang decak kagum orang- seperti mendekap hadiah sederhana dari putra tersayangnya.

Ia adalah seorang wanita berkharisma yang memancarkan aura kesuksesan sejati. Namanya tercatat dalam kumpulan profil orang-orang yang berjasa memberikan kontribusi secara langsung bagi kemajuan Negara, dan prestasinya telah menghantarnya ke Gedung Putih untuk bertemu orang nomor 1 di Amerika.

Kemarin siang, jauh di balik pesona gemerlap nan berkilau yang disandang beliau sebagai figur masyarakat -dengan segala pencapaiannya- saya memandang dengan kagum ketika sosok yang bersembunyi di lapisan terdalam itu memunculkan diri.

Sosok sejati itu adalah seorang Ibu.

Sunday, October 28, 2007

Sunset

“Mau nambah lagi?”
Ingga menunjuk gelas fruit punch di depan Nadine dengan dagunya. Gelas jenjang itu sudah kosong sejak tadi. Isinya berganti menjadi gumpalan-gumpalan tisu yang terus dijejalkan Nadine sejak 1 jam yang lalu.

Nadine menggeleng sekilas dan kembali mengalihkan pandangan ke laut lepas. Ingga melakukan hal yang sama sambil bertopang dagu, bersyukur bahwa mereka makan di tepi pantai yang panoramanya indah. At least ada yang cukup menarik untuk dilihat dalam suasana awkward begini.

Sejak mereka tiba di Pulau Dewata kemarin siang, Nadine tidak henti-hentinya bersikap seperti orang yang mau mati besok. Pandangannya nyaris selalu kosong. Sorot matanya mirip orang yang siap bunuh diri. Untung diajak ngomong masih nyambung, walau untuk yang satu ini Ingga memilih menahan diri karena obrolan pasti akan didominasi topik yang sama.

Ingga memasukkan daging kelapa terakhir ke mulutnya, mengunyah malas-malasan. Mereka berada di salah satu tempat wisata terindah di dunia, di pantainya yang terkenal. Segala keindahan yang bisa ditawarkan hidup ada di sini, namun sikap Nadine yang terus-terusan gloomy merusak suasana liburan yang (seharusnya) nikmat ini. Dan Ingga terpaksa stuck di sini demi menjaga sahabat sehidup-sematinya agar tidak melakukan perbuatan tolol seperti menenggelamkan diri di laut atau loncat dari balkon kamar hotel.

Ingga tersenyum kecil, mendadak ingat pada Lintang Triwardhana, sepupu yang usianya hanya terpaut 2 tahun dengannya.

Seperti Nadine dan dirinya, Lintang juga sangat dekat dengan Ingga. Praktis hampir seumur hidup Ingga bergaul dengan kedua orang ini. Nadine adalah sahabatnya sejak kecil, sedang Lintang dan Mamanya pernah tinggal di rumah Ingga untuk waktu yang cukup lama.

Lintang adalah sosok perempuan yang mandiri, super cuek, blak-blakan dan keras kepala. Sampai sekarang ia belum pernah pacaran, karena 1 alasan yang sangat simpel: Pacaran itu ribet.

Lintang mencintai kebebasan seperti mencintai hidupnya sendiri. Mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, walau judulnya ‘cuma’ pacaran, menurutnya hanya akan membatasi dirinya. Lintang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang berpotensi mengekang kebebasan. Ingga hanya bisa manggut-manggut blo'on kala sepupunya mengutarakan hal itu, meski baginya pendapat Lintang agak berlebihan.

Tapi Nadine adalah cerita yang sama sekali berbeda. Paradoks segala paradoks. 2 tahun sudah cinta pertamanya kandas di tengah jalan. Cinta pertama adalah cinta terindah yang paling sulit dilupakan. Okay, mungkin itu benar. Tapi, hellowwww… 24 bulan?!

Perempuan lain mungkin akan marah dikhianati orang yang sangat dicintai. Atau kecewa. Sedih. Mengutuk. Semua adalah reaksi normal dari seorang gadis yang baru kehilangan cinta pertama. Tapi menangisi sampai 2 tahun? Itu cuma Nadine yang bisa.

Okay, mungkin Ingga agak keterlaluan membanding-bandingkan sahabatnya dengan orang lain, karena toh setiap orang memiliki pembawaan dan karakter yang berbeda. Tapi sikap Nadine bukan hanya menyusahkan dirinya sendiri, namun juga orang-orang yang menyayanginya. Keluarganya. Sahabat-sahabatnya. Juga seorang pria berinisial S yang berinisiatif mendekati Nadine dan mundur teratur saat menyadari sang putri tidak sanggup berpaling dari cinta pertamanya.

Nadine kembali menyusut matanya dengan selembar tisu. Tisu yang sama kemudian pindah ke hidungnya, sebelum masuk ke dalam gelas fruit punch sebagai persinggahan terakhir. Gelas itu hampir penuh. Ingga memperhatikan semuanya dalam diam, meski ia ingin sekali bertanya, ‘nggak capek ya nangis terus?’.

Padahal semalem udah maraton nangisnya. Sejak siaran berita Liputan 6 sampai 'Satu Nusa Satu Bangsa', which is, jam 2 pagi! Sayangnya, volume yang dikeraskan Nadine demi menyembunyikan isakannya malah membuat Ingga sukses begadang sampai subuh.

Thanks ya, Ing…” ucap Nadine lirih. Mata sembap itu lagi-lagi digenangi air. “Thanks udah jadi orang yang ngertiin gue selama ini, yang selalu paham kondisi gue…”

Ingga tidak tahu harus berkata apa.

Paham? Sebenarnya tidak. Entah sudah berapa kali ia meminta, membujuk, bahkan memohon agar Nadine merelakan pengharapan yang masih terus disimpannya bagi Pangeran Cinta, terlebih karena pengharapan itu tidak mungkin terwujud.

Pangeran Cinta sudah menemukan Putri Cantik belahan jiwanya. Ia tidak lagi berlayar di samudera luas karena sauh telah ditambatkannya di altar pelaminan. Nadine menerima undangan itu seminggu yang lalu. Dan itulah alasan mereka berada di Jimbaran sekarang, menatap laut yang terhampar indah tanpa bisa menikmatinya. Duduk di pantai berpasir lembut sambil sibuk dengan pikiran masing-masing. Ini sama sekali bukan liburan. Ini misi menyembuhkan hati, yang kalau dilihat dari sudut manapun, sepertinya si penderita malah tidak ingin sembuh.

Hari semakin gelap. Matahari sudah terbenam sejak tadi. Ingga sempat berdecak kagum melihat pemandangan fantastis yang tersaji di depan matanya saat sunset menjelang. Ia melirik Nadine, namun reaksi gadis itu datar saja. Sama seperti sunset yang memperoleh tepuk tangan meriah dari bule-bule yang berjajar di pinggir pantai, 2 tahun ini berbagai keindahan yang ditawarkan hidup seperti lewat begitu saja di depan Nadine. Terlihat, tapi tak tampak. Ada, namun tak disadari.

Tetapi, sekali lagi, hidup adalah pilihan. Setiap orang berhak untuk menjalani hidup dengan cara masing-masing. Apapun itu.

Ingga meraih ujung-ujung jari Nadine yang terasa dingin dan menggenggamnya. “Lo tahu, apapun yang terjadi, lo selalu punya gue.”

Nadine menatap sahabatnya dengan rasa terima kasih yang besar. “Thanks, Ing. Lo emang sahabat yang paling ngerti gue.”

Ingga tersenyum. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengusap lembut punggung tangan Nadine, menularkan dukungan dan kekuatan. Hanya Nadine yang bisa menolong dirinya sendiri. Bukan Ingga, bukan keluarganya, bukan sahabat-sahabatnya yang lain.

Ingga berharap itu akan segera terjadi. Dan ketika hari itu tiba, mungkin mereka akan bisa menikmati sunset dengan cara yang berbeda.

-----

Saturday, October 20, 2007

Menjaga Hati

Saya selalu nggak habis pikir kagum dengan orang-orang yang bisa selalu menahan diri dalam menghadapi sesuatu yang tidak enak atau menyakitkan tanpa pernah terpancing untuk membalas, atau setidaknya melampiaskan emosi. Jujur, walau saya nggak suka berantem, saya termasuk manusia yang tidak sabaran dan mudah naik darah, walau sering kali kekesalan saya hanya terlafalkan dalam hati, tidak sampai terucap.

Saya punya beberapa teman yang seperti itu: supersabar, nggak pernah marah, tutur katanya selalu halus, ramah budi bahasa, nggak pernah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, ringan tangan (dalam arti suka menolong, bukan ngegampar orang)… pokoknya TOP lah, sampai saya sering merasa minder sendiri berdekatan dengan mereka, karena meski termasuk golongan Pencinta Damai, tidak jarang saya mengeluarkan kalimat protes maupun celaan *uuups* dalam menghadapi hal-hal tertentu yang melanggar batas kesabaran saya, mulai dari yang paling nggak waras (komat-kamit ngedumel nggak jelas), curhat ke teman, sampai ngomel langsung ke orang yang bersangkutan.

Sejujurnya, tiap selesai menyalurkan kejengkelan, sering saya menyesal dan berpikir, “Ya elah Jen, segitu aja kok dibawa kesel…” dan saya lantas membuat janji pada diri sendiri untuk lebih menguasai temperamen dan menjaga lidah, walau seringnya… gagal lagi.

Salah 1 hal yang paling cepat memancing emosi saya adalah jika saya merasa sudah melakukan yang terbaik, namun tindakan itu justru disalahpahami oleh orang yang bersangkutan, apalagi jika diembel-embeli prasangka. Duuuh, berasa disilet, hehehe. Menyangkut hal ini, seorang teman pernah berkata dengan bijaknya, “Kalau kita melakukan yang terbaik dan disalahpahami, biarkan saja. Itu malah bisa menguji keikhlasan kita. Kalau kita-nya betul-betul ikhlas, mau dianggap bagaimana pun, diperlakukan kayak apapun seharusnya nggak terpengaruh.”

Dia mengucapkan itu setahun yang lalu, ketika kami bercakap-cakap persis sehari setelah lebaran. Saya terdiam. Sampai hari ini, 12 bulan setelah mendengar kalimat itu, saya masih mengakui: itu nggak gampang, bok.

Sama sekali tidak gampang.

Menjaga nurani agar selalu bersih dan murni bukanlah sesuatu yang mudah. Menjaga hati dari kontaminasi agenda pribadi, walau terdengar sepele, sama sekali bukan hal remeh yang dapat dilakukan sekejap mata. Berkali-kali, dalam banyak hal, saya merasa tertohok menyadari bahwa tindakan saya dimotori oleh ketidaktulusan yang meski tidak kasat mata, tetap diketahui oleh suara kecil bernama nurani ini. Berkali-kali juga saya menegur diri agar lebih mampu melindungi hati dari motif terselubung, setiap kali saya melakukan sesuatu yang (menurut saya) baik.

Menjaga hati, lidah, tindakan dan khususnya menjaga nurani adalah sesuatu yang masih terus saya ‘gumuli’ hingga detik ini. Bukan untuk menjadi manusia serba sempurna yang tidak pernah berbuat kesalahan, namun untuk menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Saya ingin menjadi manusia yang lebih baik, terutama dalam hal-hal sederhana seperti lebih banyak bersyukur, bermurah hati memberi maaf, melupakan kesalahan (it’s easier to forgive than forget, right?), tidak mudah terbawa emosi, menjaga perkataan, sikap, tindakan maupun pikiran agar senantiasa tulus, melapangkan hati, dan yang terpenting, terus mendengarkan bisikan kecil yang bersemayam jauh di dalam kalbu tanpa tergoda untuk menepisnya demi sesuatu yang bernama ego.

Semoga saya bisa… :)

*Dedicated to Steven & Elly Agustinus, manusia-manusia terbaik yang saya kenal, yang telah menjadi 'rumah' bagi begitu banyak orang. Terima kasih karena tak pernah lelah mengingatkan, menegur serta memberi inspirasi. Dan terima kasih untuk sebuah 'kamar' yang senantiasa tersedia bagi saya... :)

Friday, October 12, 2007

‘Stila-Aria: Sahabat Laut’ vs. Mayer Complex

Jelang lebaran, saya sudah pasrah dengan kenyataan bahwa libur kali ini saya harus tinggal di rumah layaknya satpam, karena orang rumah punya acara sendiri-sendiri yang tidak bisa diganggu-gugat.

Saya nggak keberatan, sebetulnya. Malah senang, karena saya termasuk spesies yang demen ngendon di rumah. Mencari damai *tsah* dengan setumpuk DVD, novel, hot cocoa dan Chitato.

Tahun ini, selain memanjakan diri dengan hal-hal di atas, saya –yang sedang terobsesi menyelesaikan novel perdana- berniat menghabiskan waktu di depan komputer; menulis dan mengunduh riset sebanyak 100 halaman *sedap!* yang belum tersentuh kemarin-kemarin. Kenap nap harus pakai riset segala? Itulah hasil kesombongan penulis pemula yang dengan belagu menciptakan setting nan ribet.

;-D

Anyway, selain menulis, rencananya saya akan menghabiskan waktu dengan leyeh-leyeh sambil menonton ulang Desperate Housewives dan membaca novel terbaru Sitta Karina yang terbit awal bulan ini. Rencana itu tersusun dengan rapinya, dan saya bergirang hati saban membayangkan bahwa lebaran kali ini akan jadi liburan yang damai-tenteram-menyenangkan…

… sampai saya mampir ke blog Haqi, 2 hari menjelang lebaran, dan baru sadar kalau… novel itu belum kebeli.

Halah.

Padahal, waktu pengumuman tentang novel itu muncul di milis, saya sempat menelepon penerbitnya untuk memesan di muka. Saya suka memesan novel-novel terbitan Terrant Books secara langsung, karena selain dapat diskon 25%, buku dikirim ke rumah tanpa dikenakan biaya sedikit pun. Ngirit, bo. :-)

Sayangnya, beberapa kali menghubungi Terrant Books, saya selalu mendapat jawaban yang sama: harga buku belum bisa dipastikan. Saya menelepon terlalu awal.

Ya wis, sebagai orang yang senantiasa menggampangkan perkara, saya pun berpikir, sutralah, nanti aja deh…

Sialnya, saya lupa bahwa selain sindrom penggampangan perkara, saya juga menderita Mayer Complex. Berpedoman pada rumusan Jeng May yang senantiasa tajam-akurat-terpercaya, mungkin saya bisa menyimpulkan Mayer Complex sebagai sebuah anomali psikologis yang ditandai dengan kerapnya si penderita mengalami distraksi fokus dan melakukan tindakan-tindakan impulsif yang berujung pada kedodolan tingkat tinggi dan degredasi memori akut.

*Do I sound smart?* ;-D

Jadi begini…

Pengumuman terbitnya novel sengaja tidak saya hapus dari e-mail, dengan tujuan mengingatkan saya agar segera memesan ke pihak yang berwenang. Setiap hari saya membuka e-mail. Setiap hari juga saya melihat e-mail dengan subjek yang sama. Dan saya tetap lupa.

Saya beberapa kali mengunjungi situs Sitta Karina. Cover novel yang bersangkutan terpampang jelas pada halaman muka, dan saya tetap nggak ngeh.

Parah?

Belum seberapa.

Puncak Mayer Complex ini adalah beberapa hari lalu, ketika saya membahas sesuatu dengan Mbak Sitta melalui SMS, di mana sepanjang proses jempol memencet keypad, mencari nama dalam phone book, memasukkan nomor, menekan ‘send’, menerima delivery report dan mendapat pesan balasan; saya sama sekali tidak ingat bahwa saya punya rencana luhur berkaitan erat dengan sang penerima pesan: membeli novelnya untuk pengisi liburan.

Gedubrak.

Yes, saya baru benar-benar ngeh waktu membaca reviewnya di blog Haqi.

Sejutatopanbadai.

Kalau pesan ke penerbit sekarang, novel baru akan saya terima -paling cepat- beberapa hari setelah lebaran. Sama juga bohong.

Maka, demi rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari, saya pun melanggar komitmen suci atas nama ngirit.

Karena mobil dipakai adik saya ke Puncak, motor adalah alternatif satu-satunya untuk mencapai Gramedia terdekat di Puri Indah. Setelah menuntaskan beberapa daily chores, jam 11 saya sudah siap tempur untuk mendapatkan ‘Stila-Aria’ (yup, judul novelnya). Sebelum berangkat, dengan pintar saya menelepon Gramedia, memastikan novel itu ada di sana. Well, you know… just in case.

Saya mengganti kostum rumah dengan jins dan kaus, menyambar kunci, dan baru sadar…

…helm satu-satunya ketinggalan di kantor.

Aaaarrrghhhhh.

Dengan menyalahkan Mayer Complex, saya pun memutuskan untuk nekat pergi. Di lampu merah perempatan, hal pertama yang saya lakukan adalah clangak-clinguk memastikan tidak ada polisi. Betapa leganya ketika melihat 2 orang ibu dan 1 Mas-mas yang juga tidak pakai helm. At least, sesial-sialnya (baca: kalau sampai ketangkep), penderitaan yang ditanggung bersama akan terasa jauh lebih ringan.

Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum (walau masih menganut prinsip bahwa menghindari polisi adalah alasan dominan untuk penggunaan helm *wink*), akhirnya saya berhenti di toko pinggir jalan untuk membeli helm a la tukang bangunan seharga 12 ribu rupiah. Jiwa tenteram, hati sejahtera.

Semua kedodolan berakhir ketika saya sampai di rumah 2 jam kemudian, dengan Stila-Aria di tangan.

Pfiuuuuuh... :-)

Now, the review.

Walau saya merasa Stila-Aria tidak se’nampol’ Lukisan Hujan dan Pesan Dari Bintang, saya sangat menikmati novel terbaru dari Sitta Karina ini. Novel ini penuh dengan pesan moral yang diselipkan di mana-mana tanpa berkesan menggurui -yang sangat khas Sitta Karina- dan dialog-dialognya sukses membuat saya kangen pada kejayaan masa sekolah. Stila-Aria disajikan secara lugas dan cerdas, dengan taburan informasi yang memperluas wawasan. *sedap gak bahasanya?* Novel remaja ini sukses membuat saya yang sudah tidak remaja berkali-kali senyum-senyum edan, tertawa, terharu, surprised… plus tergoda untuk mencoba neenlit lagi. (halah, novel satu aja nggak kelar-kelar mau ganti haluan.)

Four thumbs up for Sitta Karina! ;-D
*Tuh, Dol, gue masih pake ‘remaja’! Gyahahahahah.

Tuesday, October 9, 2007

Desperate Housewives Season 3

Baru menamatkan Desperate Housewives Season 3, dan agak kecewa dengan endingnya. Tapi, biar gimana juga, serial ini akan selalu jadi favorit saya dan tidak akan membosankan untuk ditonton berulang-ulang. Kalau Ibu ini menyamakan diri dengan Bree Van de Kamp (eh, sekarang Bree Hodge ya?) yang living the life of Lynette Scavo, maka figur yang paling pas buat saya adalah Susan Mayer (when you meet me in person, you will know why. Hahaha!).


Life sucks and they deal with it.

Itulah yang paling saya suka dari serial ini. Selain plot yang selalu sukses membuat saya mehe-mehe dan sok mikir keras untuk nebak ‘ini pasti nyambungnya ke sini, ntar pasti jadinya kayak gini, de-es-te’ (yang ternyata salah ;-D), saya sangat suka dengan karakter-karakternya yang kuat dan kutipan-kutipan dalam dialog maupun narasi yang nggak pernah ada matinya. Dalem, bok!

Banyak scene dalam season 3 ini yang menjadi favorit saya, di antaranya ketika para housewives ini berusaha melakukan yang terbaik untuk diri mereka dan malah mengakhirinya dengan kesalahan besar -- seperti Susan yang memutuskan untuk kencan dengan pria lain setelah sia-sia menunggui Mike yang koma selama 6 bulan dan mendapati bahwa Mike siuman justru ketika ia pergi berlibur dan Edie Britt telah menggantikan tempatnya saat ia kembali; atau seperti Bree, yang berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ia cintai, dan justru mendapati hasil berkebalikan.


Bree: I’m so tired of feeling like the worst mother who ever lived. I’ve tried so hard to set a good example. I’ve done the best to teach you kids right from wrong. Why isn’t it taking?
Andrew: It took. I mean, we know the difference between right and wrong. We just chose wrong.
Bree: Why?
Andrew: Sometimes when you push a kid really hard to go one way, the other way starts to look more entertaining.

Somehow, saya menemukan korelasi antara para desperate housewives ini dengan percakapan saya dan seorang teman, beberapa minggu lalu, ketika lagi-lagi membahas tentang pilihan hidup.

+ “Terus, kalo pilihan yang kita buat ternyata salah, gimana? Shouldn’t we regret it?”
- “Ngapain nyesel? Berguna? Nggak kali. Hidup itu untuk jalan maju terus, keputusan adalah awalnya. Kalo gak seneng sama apa yang dijalanin, ya bikin keputusan lain aja. Ganti arah.”

Entah korelasi beneran atau saya aja yang nyambung-nyambungin, tapi kok ya sepertinya tidak ada yang lebih tepat untuk merefleksikan kalimat nyebelin-tapi-bener teman saya itu, selain dialog Lynette dengan Caroline Bigsby saat ia disandera di supermarket.

Lynette: What is the matter with you?
Caroline: Have you not been paying attention? My husband cheated on me!
Lynette: Who cares? We all have pain, but we deal with it! We swallow it and get going with our lives! What we don’t do is go around shooting strangers!

Okay, ini nggak penting, tapi saya sampai memutar episode yang sama 3 kali cuma untuk nonton scene ini, bow. :-)

Moral of the story?
1. ‘Desperate Housewives’ ROCKS.
2. Do your best. When life sucks, hang on. Deal with it, swallow it and get going. :-)

*Eh, eh, gue udah punya Fesbuk! YAY! :-D*

Gambar diambil dari http://www.starpulse.com/

Wednesday, October 3, 2007

Di Bawah Langit (Tanpa) Bintang

Kemarin malam, saya duduk sendirian di teras rumah seorang teman. Sambil mengeringkan rambut yang basah setelah keramas, saya menengadah ke langit.

Kosong. Yang ada cuma hamparan gelap dengan dua titik cahaya. Sesepi rumah yang sedang saya tunggui, yang ditinggalkan pemiliknya mudik ke Jawa Tengah.

Sumpah, susah banget nemu langit berbintang di kota yang penuh polusi seperti Jakarta. Tapi, somehow saya merasa cukup dengan keheningan yang tenteram itu.

Kemarin, saya lelah berpikir. Lelah mempertanyakan segala sesuatu. Lelah menguras emosi.

Saya hanya ingin beristirahat dan membiarkan sel-sel otak bernafas lega.

So there I was, sitting alone. Menikmati setiap menit yang diberikan malam sunyi tanpa bintang.

Dan saya merasa damai.

Sesaat, saya ingin waktu berhenti supaya saya bisa lebih lama menikmati keheningan itu. Keheningan yang menggerakkan saya untuk memulai dialog sederhana dengan Sang Pencipta, yang kerap terlupa oleh egoisme atas nama kesibukan.

Kemarin, saya kembali diingatkan.

Bahwa bersyukur, meski terdengar remeh, dapat mengangkat begitu banyak beban.

Bersyukur tidak menyelesaikan masalah, namun membuat kita mampu menghadapinya tanpa menjadi terlalu penat.

Bersyukur tidak menghilangkan persoalan, namun membuatnya terasa jauh lebih ringan.

Kemarin, di bawah langit tanpa bintang, saya kembali diingatkan.

Bersyukur itu tidak bisa cuma sekali.