Friday, January 16, 2009

Kamar Mandi

“Nangis lagi?”

“Iyalah. Ngapain lagi coba, udah sejam di dalem. Nguras bak?”

“Hah, sejam?”

“Yo'i.”

Pintu berderit, menampilkan seraut wajah sembab. Tria keluar sambil menjejalkan segumpal tisu ke hidungnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Menutupnya keras.

Lila dan Rida saling berpandangan.

“Duh, dia denger gak ya kita omongin?”

“Pastilah denger, bacot lo gede gitu. Kayak pake toa.”

“Sial.”

“Eh, bakpianya tinggal satu nih. Lo mau gak? Kalo nggak, gue embat.”

Mereka sudah terlalu terbiasa. Dengan Tria yang mengurung diri di kamar mandi minimal seminggu tiga kali, dan keluar dengan mata bengkak mirip kodok. Menghabiskan entah berapa bungkus tisu, dan memenuhi tempat sampah dengan gumpalan-gumpalan putih.

Mereka sudah terlalu terbiasa mendengar isakan lirih di balik pintu kayu yang tidak kedap suara itu. Dan hari ini hanya salah satu dari sekian banyak hari yang dihabiskan Tria di kamar mandi. Entah sudah berapa kali ruangan sempit itu menjadi saksi bisu kisah hidupnya yang mirip sinetron. Ditontoni gayung dan ember.

Lila, Rida, Santi, Menik dan anak-anak kos lain sudah hafal kebiasaan Tria yang bisa menghabiskan lebih dari sejam sekali bertandang ke kamar mandi, yang tujuannya jelas bukan untuk membersihkan badan. Mereka sudah terbiasa menggunakan satu kamar mandi bergantian. Toh, percuma, berapa kali pun diketuk, Tria tidak akan keluar kalau belum puas menangis. Dan kupingnya seakan sudah kebal terhadap protes semua orang tentang pentingnya bertoleransi dan memikirkan kebutuhan orang lain.

“Gimana coba, kalau pas lo di dalam, Menik di kamar mandi satunya, terus gue kebelet boker?” keluh Santi. Keluhannya memang bukan karangan. Dia betul-betul pernah nyaris kencing di celana, dan Tria yang asyik dengan tisu dan ingusnya hanya bergeming meski sudah digedor-gedor.

“Atau ada tamu yang perlu ke kamar mandi,” imbuh Menik, yang pacarnya pernah terpaksa meminjam toilet kos-kosan tetangga.

“Atau kalau kita semua lagi buru-buru, yang nggak mungkin banget ngandalin satu kamar mandi doang,” cetus Rida sedikit emosi, mengingat kebiasaan Tria yang memang tidak pernah kenal situasi. Mereka pernah panik lantaran Tria tidak kunjung keluar dari kamar mandi meski sudah pukul setengah tujuh pagi.

“Liat-liat sikon dong, Tri. Kita ngerti lo butuh waktu dan tempat buat menyendiri, tapi nggak gitu caranya dong. Yang punya kebutuhan itu bukan lo doang,” protes ini datang dari Lila, yang paling nyablak di antara mereka semua, sekaligus yang paling eneg dengan kelakuan Tria yang dianggapnya super-lebay.

Semua orang punya masalah, Cin. Nggak perlu jadi cengeng, kan?

Tapi, Tria tetap Tria. Yang hobi menghabiskan puluhan menit di kamar mandi. Yang tidak pernah bosan menjejalkan tisu ke hidung dan matanya yang bengkak seperti kodok. Yang selalu keluar dengan wajah sembab, untuk selanjutnya mengurung diri di kamar hingga esok menjelang.

Tidak terhitung berapa kali ia bolos sekolah, dan tidak terhitung berapa kali mereka mencoba menasehatinya –dengan berbagai cara, dari halus sampai kasar— demi kebaikannya sendiri (dan berfungsinya kedua kamar mandi secara normal), tapi Tria tetap tidak berubah. Seakan-akan kedua telinga itu hanya berada di sana sebagai pelengkap wajah. Aksesori belaka. Tidak berfungsi, alias cacat. Tuli permanen.

Sampai akhirnya, teman-temannya menyerah. Mereka memilih untuk tidak bicara lagi. Karena Tria memang tidak pernah mau mendengar. Dan mereka sudah terlalu terbiasa.


*****


Hari itu, Tria mengurung diri jauh lebih lama. Sudah berjam-jam ia di dalam, dan pintu itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka.

Menik, yang baru pulang sambil menenteng sebungkus Nasi Padang, terheran-heran mendapati kamar mandi masih tertutup.

“Belom keluar dari tadi?” bisiknya pelan, seraya meletakkan bungkusan plastik di atas meja.

Rida menggeleng cuek. “Biasaaa.”

“Tapi gue kan perginya udah tiga jam yang lalu!”

So? Penting gitu?” Lila menaikkan kaki ke atas kursi, membuka bungkusan nasi dan langsung terpekik senang. “Wah, asik! Padang! Bagi ya, Nik.”

“Makan aja, asal jangan diabisin.” Menik memandangi pintu yang masih terkunci rapat. Keningnya berkerut.

Tiga jam? Tuh anak gila kali, ya?

Guys, kayaknya ada yang nggak beres, deh…”

“Tria, maksud lo?” Lila mengerling santai, menjilati jarinya yang berlumuran bumbu rendang. “Biasa aja, kali. Dia gitu loooh.”

“Iya sih, tapi tiga jam?”

“Alah, ngapain dipikirin, nanti juga dia keluar. Makan nih, kalau nggak ntar keburu abis sama gue!”

Pintu geser yang memisahkan ruang makan dan dapur terbuka. Santi keluar dengan rambut basah dan daster belel. Di punggungnya masih tersampir handuk. Matanya sibuk mencari-cari.

“Lo mandi di dapur?” cetus Lila.

Santi hanya menoleh sekilas. “Ada yang liat pisau gue, gak? Yang tadi pagi gue pakai motong sayur.”

“Nggak. Emang lo taruh di mana?”

“Seinget gue sih di sini,” Santi menunjuk bak cuci piring. “Tadinya mau gue cuci, tapi terus kelupaan. Sekarang ngilang.”

“Yakin lo taruh di situ? Ada yang pinjem, kali?”

“Nggak. Anak-anak lain udah gue tanyain semua, nggak ada yang tau. Duh, gue mau bikin jus melon niiih. Gimana motongnya kalau gak ada pisau?”

“Makan langsung aja, San. Lebih sehat, apalagi kalau sekulit-kulitnya,” celetuk Rida garing.

Hanya Menik yang tidak ikut nimbrung dalam percakapan. Mendadak, rasa dingin yang janggal merambat naik, meliputinya dengan perasaan aneh. Entah apa.

Tanpa sadar, ia merapatkan kedua tangan menutupi dada. Seperti orang kedinginan.

Tria.

Kamar mandi.

Tiga jam.

Pisau.

Mendadak, semua menjadi jelas. Terlalu jelas.

Menik berlari ke kamar mandi. Menendang pintunya sekuat tenaga, tanpa repot-repot menggedor lebih dulu.

Teman-temannya membeku di kursi masing-masing, terlalu shock untuk mencerna apa yang terjadi. Lila nyaris memuntahkan daging rendangnya, saking kagetnya. Rida melotot. Santi bengong dengan mulut ternganga, tidak mempedulikan handuk yang jatuh ke lantai.

Pintu tersentak, membuka lebar. Menampilkan sosok beku yang terbaring di lantai, bergelimang cairan merah lengket.

Kental.

Pekat.

Amis.

“TRIAAAAA…!!!”


*****


Tria membuka mata. Tersenyum mendapati tubuhnya bergerak begitu ringan, seperti melayang di udara. Gravitasi Bumi seakan tidak punya pengaruh lagi terhadap dirinya.

Atau… memang begitu?

Ah, ya... ia ingat.

Kejadian itu. Ia bahkan masih bisa mendengar jeritan Menik dan teman-temannya sebelum terkulai sama sekali. Sebelum ia terbenam dalam kegelapan total. Sebelum tubuhnya seringan sekarang.

Tria tersenyum semakin lebar. Ia merentangkan tangan, lalu menari berputar-putar.

Enak sekali! Inikah rasanya?!

Tahu begitu… dari dulu saja!

Tapi, ia memang terlalu takut untuk mengalaminya langsung, meski selalu penasaran dan sudah berkali-kali tergoda mencoba. Ingin tahu bagaimana rasanya terbebas dari raga yang terasa begitu mengungkung. Sampai akhirnya, keberanian itu benar-benar muncul.

Akhirnya, monster yang telah sekian lama dikurungnya dalam penjara berteralis jauh di sudut jiwanya berhasil lepas dan memporak-porandakan seluruh kesadarannya. Monster bermata hijau dan bertanduk merah yang mengambil alih dirinya, memaksa tangannya meraih pisau yang ditinggalkan Santi di bak cuci piring, mengunci pintu kamar mandi –kali ini tanpa berbekal segenggam tisu— dan mengiris pergelangannya dalam-dalam.

Ternyata, rasanya sama sekali tidak sakit. Ia malah menikmati sensasi melayang yang timbul ketika cairan lengket yang bau amis itu semakin banyak mengalir, menggenangi lantai kamar mandi.

Ternyata… begini rasanya.

Tria tertawa-tawa. Meloncat-loncat seperti anak kecil. Berjoget tidak karuan. Berputar-putar seperti gasing. Belum pernah ia sebahagia ini.

Sayang, tidak demikian dengan teman-temannya. Mereka berkumpul mengelilingi tubuhnya, berjongkok sambil menangis dan menjerit-jerit -- sementara ia bergembira ria.

Seandainya mereka bisa melihatnya. Seandainya mereka tahu, ia justru sangat senang.

Tapi, biarlah. Ia terlalu bahagia untuk mengkhawatirkan mereka. Tidak saat ini. Tidak saat ia sedang amat bersukacita.

Mereka akan baik-baik saja, Tria yakin itu. Sementara itu, ia bisa bersenang-senang, merayakan setiap detik kehidupan barunya. Merengkuhnya sepenuh hati, karena untuk pertama kalinya, entah sejak kapan, ia benar-benar tahu arti bahagia.

Ya. Mereka pasti akan baik-baik saja. Dan esok pagi, akan ada satu lagi kamar mandi yang bisa berfungsi dengan normal.


-----

By the way, ABG sekarang masih pakai 'Yo'i' gak sih? Maklum, beda generasi. ;-)

Saturday, January 10, 2009

Yes, I Can! ;-)

Gila.”
Edan!”

Ih, nekat amat.”

A
lah, kayak berani aja lo.”
Bahaya, tauuu.”

Itu reaksi mayoritas yang saya terima ketika saya mengutarakan rencana kepergian ke Salatiga (Jawa Tengah) kepada beberapa orang, akhir Desember lalu. Saya tidak tahu kenapa komentar-komentar semacam itu muncul. Barangkali karena saya belum pernah berpergian ke tempat yang cukup jauh sebelumnya. Barangkali karena satu-satunya kota yang pernah saya sambangi hanya Bandung (Cirebon dan Semarang juga pernah, tapi berangkatnya serombongan, untuk menghadiri pernikahan. Jadi nggak dihitung ;-D). Barangkali karena saya hanya berbekal backpack pinjaman dan uang seadanya. Atau, barangkali, karena dalam perjalanan ini, tidak ada seorang pun yang menemani saya.

Saya akan pergi sendirian. Seorang sepupu yang berbaik hati meminjamkan backpack dan kamera hanya bisa geleng-geleng sambil berkomentar, “What you’re doing is pretty dangerous. But knowing you, there’s no way stopping you.” Saya hanya mesam-mesem.

Sama siapa perginya?”
Ada saudara di sana?”
Kenapa Salatiga?”
Nanti tinggal di mana?”
Di sana rencananya mau kemana dan ngapain?”

Itu top five questions dari beberapa teman yang sempat saya beritahu beberapa hari menjelang keberangkatan. Saya sengaja tidak mengabari semua orang, karena malas mendapat reaksi seperti di atas.

“Sendiri.” Itu jawaban untuk pertanyaan nomor satu. “Nggak,” untuk jawaban nomor dua, dan “Nggak tahu” untuk pertanyaan ketiga dan seterusnya. Saya tidak mempersiapkan apa-apa secara khusus. Secarik kertas berisi alamat penginapan murah dan beberapa tempat wisata yang saya dapatkan dari internet pun akhirnya hanya terlipat di dalam buku catatan yang sengaja saya bawa sebagai pengganti laptop.

Apa yang saya cari di sana? Apa yang ingin saya dapatkan dari perjalanan ini? Apa yang ingin saya capai?

Tidak tahu.

Sore itu, saya menaiki bis jurusan Jakarta-Solo dengan sebuah backpack. Tanpa ekspektasi. Tanpa tahu apa yang harus saya harapkan. Tanpa gambaran sedikit pun tentang apa yang akan saya temui, hadapi, dan lakukan setibanya di sana. Hanya saya dan backpack, yang terpaksa dipeluk erat-erat selama sebelas jam lantaran rak-rak di bagian atas bis sudah terisi penuh.

Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Perempatan Jetis, Salatiga, pukul setengah empat esok paginya, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah, “Ih gila, nyampe juga!” Sekilas, terbersit rasa bangga, yang cuma bertahan sebentar.

Okay, sudah sampai. Lalu, apa?

Tidak tahu.

Selama empat hari berikutnya, saya tinggal di sebuah wisma di Jalan Adisucipto. Saya bergaul dengan tamu-tamu yang menginap di sana, dan memperoleh informasi mengenai tempat-tempat yang layak dikunjungi di sekitar Salatiga. Saya mendapat keterangan dari petugas wisma berupa petunjuk jalan, nomor kendaraan umum, dan waktu yang diperlukan untuk mencapai sebuah lokasi. Berbekal itu semua, saya memberanikan diri memanggul backpack kemana-mana, menjajal berbagai jenis angkutan, dari andong, ojek, angkot, bis besar, minibis, sampai becak.

Suatu malam, saya mengobrol dengan seorang petugas wisma tentang rencana mengunjungi Ambarawa dan Kopeng, daerah sejuk yang berjarak sekitar duapuluh kilometer dari Salatiga, terkenal dengan pemandangan indahnya, dan dapat dicapai dalam tigapuluh menit. Seorang tamu yang kebetulan berada di situ ikut menimpali pembicaraan, dan tak lama kemudian ia mengubah pikiran saya dengan suksesnya.

Saya tidak jadi mengunjungi Ambarawa. Saya akan pergi ke Borobudur, yang berjarak tiga jam perjalanan dari Salatiga. Si petugas wisma hanya bengong ketika saya memantapkan niat itu sambil cengar-cengir.

Esok paginya, saya bangun pukul setengah empat, bersiap-siap sekadarnya tanpa sempat sarapan, dan langsung menuju pangkalan bis dengan angkot. Saya memakai baju tiga lapis, dan memang udara saat itu luar biasa dingin. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya saya merapatkan tangan di dada dan berulang kali menarik backpack untuk melindungi tubuh dari hawa dingin. Asap rokok dari beberapa penumpang yang ngebul seperti kereta dan asap knalpot –yang entah bagaimana terus tercium sepanjang perjalanan- tidak membuat suasana bertambah baik.

Setelah turun di terminal Magelang, saya dua kali berganti kendaraan sebelum akhirnya berhasil sampai di kawasan wisata Borobudur. Matahari bersinar terik. Menyengat. Entah kenapa bisa begitu, padahal satu jam sebelumnya saya baru menggigil di atas bis.

Tidak ada kalimat yang bisa mewakili apa yang saya rasakan tatkala melihat puncak Borobudur di kejauhan, sementara kaki saya terus melangkah, mendekatkan saya kepada monumen menakjubkan yang (pernah) menjadi salah satu keajaiban dunia.

The feeling was indescribable. Perempuan berjilbab yang berjalan di depan saya melafalkan nama Tuhan dengan lirih. Saya ingin meneriakkan hal serupa, tapi tak ada satu pun kata yang terucap. Pegal-pegal di tubuh, keringat yang terus bercucuran, lapar yang mulai mendera, haus yang belum terpuaskan sejak pagi, teriknya matahari yang membakar kulit… mendadak semua luntur. Luruh begitu saja. Digantikan senyuman yang tak henti-hentinya terkembang dan semangat untuk berjalan semakin cepat.

Pemandangan dari puncak Borobudur adalah hadiah tak ternilai yang membayar lunas segala pencarian, pertanyaan, kebimbangan, dan kelelahan saya selama enam bulan terakhir. Ketika menatap awan yang berarak menutupi pegunungan dan pucuk-pucuk pohon, tidak ada yang bisa saya lafalkan selain terima kasih dari hati yang terdalam kepada Sang Pemberi Hidup, Pencipta Semesta, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk hadir di sana.

Semua terasa bagaikan oase. Melihat Borobudur dengan mata kepala sendiri. Merasakan suasana sakral yang meneduhkan hati, meski saya menyayangkan banyaknya pedagang yang hilir-mudik dan wisatawan yang bertingkah sesukanya (seperti memanjati stupa dan membuang sampah sembarangan) – plis deh. Mengagumi pemandangan indah yang terhampar bagai foto di kartu pos dan kalender. Memuaskan imajinasi dengan berkhayal bermain di lembutnya awan.

Tanggal lima Januari, pukul lima sore, saya kembali ke Jakarta dengan berat hati. Susah rasanya berpisah dengan kota yang telah memberi begitu banyak kesan, kendati saya hanya tinggal selama empat hari. Kota yang telah saya anggap rumah sejak hari pertama. Kota yang telah membuat saya jatuh hati dengan udara sejuknya, suasana hangatnya, dan penduduknya yang ramah. Kota yang tenang, sunyi, dan damai, yang memberi ruang pada benak untuk bernafas lega. Amat berbeda dengan kehidupan di kota besar yang terus-menerus membombardir pikiran dan acapkali menghimpit hati, sehingga kesempatan untuk berdiam dalam hening dan melongok ke dalam diri sendiri menjadi sesuatu yang langka, bahkan mewah. Kemewahan seperti itu, lucunya, saya dapatkan dengan mudah di kota kecil nan sederhana bernama Salatiga, yang begitu kontras dengan gemerlapnya Jakarta – dimana segala sesuatu tersedia dan bisa diperoleh dengan gampang asalkan punya uang *cough*.

Sepanjang perjalanan pulang -dan beberapa hari sesudahnya- berulang kali saya merenung. Mencoba mencerna apa saja yang telah saya lalui empat hari terakhir. Enam bulan belakangan. Meski tahun baru sudah lewat seminggu, rasanya belum terlambat untuk sekali lagi berkaca pada diri sendiri. Pada berbagai pengalaman dan kejadian yang turut membentuk saya hingga mencapai tahap ini.

Saya tercenung tatkala menyadari sesuatu. Bertahun-tahun hidup dalam pengkondisian yang diciptakan oleh lingkungan sekitar, ternyata telah membentuk saya menjadi sosok yang bergantung kepada orang lain. Bukan dalam arti tidak bisa mengerjakan apa-apa sendiri (bekerja dan hidup mandiri di kos-kosan sudah cukup membuktikan, toh? *wink*), melainkan dalam hubungan personal dan ‘hubungan’ dengan diri sendiri.

Atas nama privasi dan etika, tidak banyak yang bisa saya ceritakan tanpa menghambur-hamburkan isi perut. Yang jelas, pengkondisian yang saya terima (dan patuhi) bulat-bulat lambat laun menjadikan saya orang yang sangat dependen. Saya sering merasa ‘kehilangan’ separuh diri saya dan membutuhkan kehadiran orang lain untuk melengkapinya. Orang yang saya sayangi. Yang saya puja, bahkan idolakan. Yang saya ikuti suri tauladannya *halah, tauladan*. Yang bisa saya jadikan contoh dan panutan. Yang dapat menunjukkan kepada saya, seperti apa hidup yang seharusnya. Yang dapat melengkapi saya. Tanpa kehadiran sosok tersebut, saya merasa hampa. Merasa serbakurang. Merasa tidak percaya diri. Merasa tidak dapat melakukan hal-hal ‘besar’, apalagi yang membutuhkan keberanian. Tidak sanggup mengapresiasi diri sendiri sebagaimana layaknya, betapa pun seringnya saya menerima pujian dari orang-orang.

Saya tidak tahu apa yang mendorong saya untuk mengemasi pakaian dan memesan tiket bis antarkota. Saya tidak tahu apa yang membuat saya melangkahkan kaki ke sebuah kota kecil yang sama sekali asing. Saya tidak tahu apa yang membuat saya begitu kekeuh ingin pergi seorang diri. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya nekat bangun pagi-pagi, menenteng ransel, dan pergi ke Borobudur. Saya bahkan tidak tahu apa yang saya tuju, apa yang ingin saya raih. Namun, satu hal kini menjadi jelas: pelan namun pasti, sebuah kesadaran mulai muncul. Tentang siapa saya. Tentang apa yang bisa saya lakukan. Tentang mendengarkan suara hati. Tentang tekad. Tentang keberanian. Tentang perubahan. Tentang hidup itu sendiri.

Malam ini, ketika menuliskan entri ini dengan gambar pegunungan dan arak-arakan awan yang menghiasi layar komputer, saya kembali diingatkan pada satu-satunya hal yang paling saya inginkan. Permohonan sederhana yang saya panjatkan menjelang pergantian tahun. Untuk hidup, seutuhnya.

Malam ini, ketika memandangi foto-foto hasil ‘buruan’ di tanah Jawa, kenangan itu kembali berhamburan. Menyerbu ruang-ruang kosong di benak, menghadirkan kembali segala rasa yang singgah selama perjalanan. Rasa nyaman itu. Kehangatan itu. Senyuman itu. Wajah-wajah berbinar itu. Oase itu. Saat-saat itu.

Dari sekian banyak kenangan yang tersisa, ada satu yang ingin saya kristalkan lebih dari yang lain: kenangan akan Candi Borobudur yang menjulang tinggi ketika saya berjalan menghampirinya dengan senyum terentang. Bukan karena ia salah satu monumen paling menakjubkan di dunia. Bukan karena saya bangga berhasil menapakinya sampai ke puncak tertinggi. Bukan pula karena saya telah bermimpi untuk bisa pergi ke sana sejak lama.

Kenangan itu menjadi harta paling berharga dalam laci memori saya, karena ketika saya menginjakkan kaki di anak tangga Borobudur, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar yakin: saya bisa.


You have brains in your head. You have feet in your shoes. You can steer yourself any direction you choose. You’re on your own, and you know what you know. And you’re the one who’ll decide where you’ll go. Oh the places you’ll go.” (Dr. Seuss)

Thursday, January 1, 2009

Farewell, 2008

Salah satu aktivitas favorit saya di kos-kosan tercinta adalah naik ke lantai dua selepas tengah malam, menghabiskan waktu di sana, sekadar menikmati keheningan dan udara sejuk. Kadang ditemani suara kipas dari kamar tetangga yang berdengung seperti nyamuk, atau gemersik daun yang diterpa angin.

Saya selalu suka menumpukan siku di pagar teras, hanya diam, tanpa melakukan apa-apa. Berserah pada irama alam. Merasakan udara malam membelai wajah, leher, dan lengan, yang terkadang berhembus keras, membuat kedinginan sampai ke dalam-dalam.

Biasanya, saya akan memejamkan mata. Membiarkan angin menerpa sekujur badan, terus-menerus. Saat-saat seperti ini selalu saya lewatkan tanpa banyak berpikir, karena inilah waktu dimana saya membiarkan otak beristirahat dan berdiam – menikmati kesunyian yang panjang. Anehnya, saat tubuh menggigil inilah, saya merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Ia hadir, dan sangat nyata. Lebih nyata dari dengung baling-baling kipas. Lebih nyata dari daun-daun yang bergoyang ribut. Lebih nyata dari alam realitas dimana kedua kaki saya berpijak.

Hembusan angin yang menerpa tubuh selalu membuat saya merasa dipeluk. Hangat, meski ia dingin. Nyaman, meski ia menggigit sampai ke tulang. Semua adalah isyarat alam yang tak pernah alpa mengingatkan bahwa Ia ada.

Beberapa minggu lalu, ketika sedang menjalankan ritual nongkrong di loteng, bunyi guruh dari kejauhan mengejutkan saya. Saya mendongak, mencari-cari. Tidak berapa lama, muncul kerlip kecil di bentangan hitam langit. Rupanya sebuah pesawat.

Menyaksikannya bergerak jauh di atas, entah bagaimana mengingatkan saya pada bintang jatuh. Yang konon bisa mengabulkan permohonan apabila diucapkan tepat sebelum ia membentur bumi.

Bisakah saya berpura-pura, menganggap pesawat itu bintang jatuh, dan menyebutkan sebuah permohonan? Kali-kali saja bisa. Barangkali akan dianggap sama sah oleh Sang Penguasa Semesta. Poin lain yang patut diperhitungkan, tidak seperti bintang jatuh yang berkelebat cepat, pesawat terbang bergerak lambat, sehingga kita punya cukup waktu untuk memilih impian terbaik yang ingin diwujudkan.

Sambil mengamati cahaya yang terus bergerak, pikiran saya berkejaran dengan waktu.

Permohonan apa? Apa yang paling saya inginkan? Apa yang ingin saya minta? Cepat, cepat, sebentar lagi ia menghilang di balik atap.

Pemikiran pertama segera singgah di benak: saya ingin bahagia.

Saya tersenyum. Sepintas.

Tentu saja. Siapa yang tidak mau bahagia?

Saya menggigit bibir, antara menahan dingin akibat angin yang tiba-tiba bertiup kencang, dan menimbang-nimbang (calon) permohonan, yang tiba-tiba terasa tidak pas.

Benarkah itu yang paling saya inginkan saat ini? Bahagia?

Bunyi guruh semakin samar. Sebentar lagi kerlip lampu itu akan hilang ditelan atap rumah tetangga dan pucuk-pucuk daun.

Saya masih mendongak, keras kepala menumpukan harapan atas pesawat terbang entah tujuan mana, dari maskapai mana, dan apa namanya; menyamakannya dengan bintang jatuh yang barangkali cuma lelucon alam paling menggelikan abad ini.

Senyum saya kembali terkembang. Kali ini sebabnya jelas.

Permohonan itu tak rumit. Sederhana saja.

Saya ingin hidup. Seutuhnya.


*****


Hal pertama yang terlintas di benak ketika saya menoleh ke belakang untuk menelusuri apa yang telah saya lalui dan alami selama setahun terakhir, dapat diwakili oleh satu kata: perpisahan.

Pertengahan tahun ini saya lalui nyaris dengan menghabiskan setumpuk tisu setiap hari. Perpisahan tidak pernah menjadi hal yang lazim dalam kamus saya, dan kini saya dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang paling saya hindari.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk diakhiri dengan perpisahan. Ada banyak luka yang mengiringi bulan-bulan terakhir kebersamaan kami, sebelum kami betul-betul berpisah. Kata orang, kebanyakan hal yang kita takuti tidak pernah betul-betul menjadi kenyataan. Namun, saya berhadapan dengan ketakutan yang akhirnya memang menjadi kenyataan.

Saya masih ingat percakapan tigapuluh detik yang kami lakukan –salah satu percakapan terpanjang via telepon dalam enam bulan terakhir— dimana setelah tombol ‘end’ ditekan, saya duduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya. Saat itu, saya merasa rela memberikan apa saja yang saya miliki –literally, everything—untuk bisa bersamanya lagi. Saya tidak peduli dengan masa depan. Saya tidak peduli dengan sejuta kesempatan yang terbentang di hadapan. Saya tidak peduli dengan orang-orang baru yang bisa saya temui. Saya tidak peduli dengan kehidupan yang bisa saya jelang selama hayat masih dikandung badan. Apa pun... asalkan bisa kembali bersama. Sayangnya, waktu untuk berpisah memang sudah tiba. Dan segala upaya saya untuk mengulurnya menjadi percuma.

Saya ingat, beberapa minggu sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi, mendadak saya menangis sesenggukan tanpa tahu sebabnya. Apa, dan kenapa. Saya hanya duduk dan airmata terus mengalir. Pikiran saya berkata, “Kenapa? Ada apa?” dan menyerukan beratus pertanyaan lain. Hati saya, sebaliknya, berbisik lirih: “Ini saatnya.” Kendati saya berulang kali menangguhkan keputusan dan mengabaikan suara kecil itu, saya tahu, hati saya tahu.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ada masa-masa dimana saya begitu putus asa dan ingin menghilang dari dunia. Ada waktu-waktu dimana saya ingin mengubur diri di bawah selimut dan tidak bangun lagi. Ada saat-saat dimana saya hanya bisa duduk meringkuk, memeluk lutut sementara airmata tidak berhenti bergulir. Menyedihkan, tapi itulah yang terjadi. Dan, ya, ada masa-masa dimana saya begitu ingin berteriak keras-keras, menggugat-Nya atas segala hal yang tidak bisa saya terima.

Namun, lambat laun, saya tersadar. Bukan perpisahan yang tidak bisa saya terima, melainkan kenyataan bahwa inilah yang menjadi porsi saya dalam hidup. Inilah jatah yang digariskan untuk saya. Inilah pil pahit yang menjadi bagian saya, dan di atas segalanya, sayalah yang harus menelannya. Saya, yang mengagungkan kesatuan dan mendewakan ikatan janji, kini menghadapi kenyataan dimana waktu untuk berpisah telah tiba. Dan sekuat apa pun saya memberontak –satu setengah tahun hidup dalam penyangkalan bukan hal yang mudah— selama apa pun saya mencoba bertahan, toh waktu juga yang akhirnya menentukan tanggal dan hari perpisahan itu. Sekeras apa pun saya mencoba menawar.

Saya bahkan tidak tahu kapan persisnya titik penyadaran itu tiba. Yang saya tahu hanya, saya berusaha untuk tetap bertahan, hari demi hari, dengan segala kekuatan yang ada. Dengan semangat yang tinggal sisa-sisa. Dengan harapan yang cuma sekelumit, karena saya tidak lagi tahu apa yang harus saya genggam. Saya hanya mencoba melangkah, setapak demi setapak. Tanpa tahu apa yang akan saya temui di depan.

Kini, berbulan-bulan setelahnya, saya memberanikan diri untuk menengok ke belakang, dan tercengang mendapati luka itu berangsur sembuh. Bekasnya tentu saja masih ada, dan tidak sedap untuk dipandang, namun ia berangsur sembuh. Dan saya larut dalam haru ketika menyadari bahwa semua proses yang saya lalui –segala rasa yang mengiringi saya dalam perjalanan ini: pahit, manis, kegagalan, keberhasilan, kekecewaan, kebanggaan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, dan tangis— telah membuahkan begitu banyak pelajaran berharga yang membawa saya ke tempat dimana saya berada sekarang. Di sini. Di masa ini.

Tahun 2008 adalah semester ke-24 saya di Universitas Kehidupan. Di semester ini, saya belajar banyak. Saya belajar berpisah. Saya belajar menerima. Saya belajar memaafkan. Saya belajar melepaskan. Saya belajar beradaptasi dengan perubahan. Saya belajar berproses. Saya belajar mengalir. Dan saya belajar hidup.

Hari ini, ketika melakukan kilas balik tahun 2008, rasanya tidak berlebihan kalau saya berkata, kesan yang paling membekas bagi saya bukan lagi seberapa besar pencapaian yang saya raih maupun prestasi yang saya ukir. Bukan berapa banyak hal yang bisa saya kumpulkan, genggam erat, dan labeli ‘Kesuksesan’. Bukan juga berapa hubungan yang berhasil saya pertahankan, berapa orang yang sanggup saya senangkan, berapa orang yang menjadi sahabat saya, dan sebagainya.

Hari ini, yang paling berarti bagi saya bukan apa yang saya dapatkan, melainkan apa yang saya lepaskan. Karena dari apa yang saya lepaskan itulah, saya belajar hidup.

:-)

Sebelum menjelang hari baru di detik-detik terakhir penghujung tahun, ijinkan saya berdoa bagi kita semua, dan seluruh makhluk di muka bumi. Kiranya kebahagiaan menjelma menjadi bunga yang tertabur di sepanjang jalan ketika kita sama-sama melangkah dalam lingkaran tak berujung ini. Kiranya kebahagiaan bukan hanya menjadi milik segelintir orang, melainkan setiap makhluk, karena, mengutip perkataan seorang sastrawan, tidak ada yang tidak ingin bahagia.

Kendati begitu, karena hidup yang senantiasa berubah ini selalu terdiri dari dua sisi, dan sekeras apa pun kita berupaya mengkristalkan kebahagiaan tak pelak kita tetap akan menjumpai sisi sebaliknya, doa saya yang terakhir adalah: semoga kita akan selalu hidup. Seutuhnya.

Untuk kalian semua yang telah menyertai saya dalam perjalanan ini, terutama kepada Sang Pemberi Hidup yang tak pernah meluputkan tangan-Nya dan senantiasa hadir, saya ucapkan terima kasih dari hati yang terdalam. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih telah ada.

Monday, December 29, 2008

Joker


Sebut saya ketinggalan jaman karena baru menonton ‘The Dark Knight’ saat orang-orang sudah hafal ceritanya dan mengoleksi DVD bajakannya.

Sebut saya aneh karena meski Batman dicanangkan sebagai tokoh utama, buat saya Joker adalah juaranya. Lepas dari ia diperankan seorang aktor yang mati overdosis sebelum sempat menyaksikan penampilan terbaiknya diputar di bioskop. Lepas dari kejeniusan Christopher Nolan. Dan lepas dari betapa kurang gantengnya si pemeran Bruce Wayne.

Sebut saya anomali karena menganggap Joker lebih dari sekadar penjahat psikopat di film-film superhero made-in Hollywood, yang membuat saya berhenti menonton Superman dan Spiderman sejak lama. Joker lebih dari itu. Dia penjahat yang pantas diacungi dua jempol. Empat, dengan jempol kaki.

Sebut saya sinting, karena seandainya Joker betul-betul ada di kehidupan nyata, saya akan menjabat tangannya erat-erat sambil bilang, “Senang bertemu Anda,” meski sehabis itu saya terkencing-kencing di celana dan mimpi buruk selama seminggu.

Sebut saya gila, karena berjam-jam setelah film itu usai, kalimat-kalimat Joker tidak sudi lepas dari otak saya, dan entah bagaimana, buat saya sekarang, dialah pahlawannya.

Wednesday, December 24, 2008

hadirmu

kau pernah hadir sebagai penebus
kau juga hadir sebagai penyembuh
lalu kau hadir sebagai penolong

kau pernah datang sebagai yang adil
kau juga datang sebagai yang menjawab doa
lalu kau datang sebagai yang mencukupkan

kau tunjukkan dirimu sebagai raja
kau juga tunjukkan dirimu sebagai bapa
lalu kau tunjukkan dirimu sebagai sahabat

kini aku menyambutmu sebagai engkau
dan di antara jajaran nama
kini aku menemukanmu sebagai yang tak bernama
namun nyata. lebih dari yang kutahu.

: selamat datang.




Bagi yang merayakan, saya ucapkan Selamat Natal, dan untuk kita semua, saya ucapkan Selamat Tahun Baru.

May your days be merry. :-)







*Gambar dipinjam dari fotosearch.com.

Saturday, December 20, 2008

Jatah

Seorang sahabat belum lama ini menumpahkan kekecewaan mengenai boss-nya di kantor (dimana ia sudah bekerja selama empat tahun) yang menolak meminjaminya uang ketika ibunya sakit dan sangat membutuhkan dana pengobatan. Padahal, menurutnya, selama ini ia belum pernah sekali pun meminjam uang dari perusahaan. Sementara itu, atasan yang sama dengan murah hati memberikan pinjaman kepada rekan kerja sahabat saya untuk membeli mobil baru -yang jumlahnya sama sekali tidak sedikit- dan membebaskannya untuk mengembalikan kapan saja.

Sepanjang hari, sahabat saya cuma bisa menangis di cubicle-nya. Kecewa, jengkel, sedih, marah. Ketika ia bercerita, saya mendengarkan dalam diam. Bukan karena tidak mau berkomentar, tapi saya memilih berhati-hati dalam berucap supaya tidak menambah kekeruhan pikirannya.

Selama berhari-hari, saya berusaha menjadi pendengar yang baik, dan ternyata itu sama sekali tidak mudah. Berkali-kali saya ikut jengkel, sedih, bahkan sebal terhadap seorang atasan yang sama sekali tidak saya kenal, semata-mata karena saya bersimpati terhadap apa yang dialami sahabat saya. Sungguh tidak mudah duduk diam, memasang telinga, dan mendengarkan, tanpa membiarkan hati ini turut memberi penilaian, yang ujung-ujungnya ‘mengharuskan’ saya untuk berpihak. ‘Memilih’ salah satu: sahabat saya, atau sang atasan, yang sekali lagi, tidak saya kenal.

Setelah beberapa minggu, persoalan itu mereda, dan sahabat saya melunak. Tidak terlalu sering lagi meluapkan kekesalan, meski sekali-dua ia masih mengeluh, kerap merasa diperlakukan tidak adil. Saya pun menyadari satu hal: ketika ia mulai berhenti bercerita, hati saya ikut melunak. Iba yang saya rasakan ketika bertemu dengannya mulai memudar. Bukan karena saya tidak bersimpati lagi padanya, namun karena penilaian saya turut melambat seiring berkurangnya frekuensi curhat. Rasa kesal yang sering muncul setiap mendengar cerita-ceritanya juga luntur karena topik itu mulai jarang disebut-sebut lagi.

Dan saya berpikir, betapa tidak mudah menjadi pendengar yang baik –hanya mendengar, tanpa menilai— dan tidak terkontaminasi oleh berbagai persepsi dan pemikiran yang ribut simpang-siur di dalam benak. Betapa tidak mudah menempatkan hati pada posisi netral ketika kita berhadapan dengan situasi yang melibatkan orang-orang terdekat yang disayangi tanpa terpancing untuk ikut menilai dan menjatuhkan penghakiman.

Betapa tidak mudah menerima sebuah kasus sebagai kasus, sebuah situasi sebagai situasi, dan sebuah kondisi sebagai kondisi, apa adanya, tanpa terjebak untuk menjadikannya masalah dengan berbagai penilaian dan observasi yang secara otomatis dirancang oleh segumpal benda bernama otak ini.

Sungguh, sama sekali tidak mudah. Padahal, itu hanya sebatas perkara ‘meladeni-teman-curhat’, dimana kasus yang dicurhatkan sendiri sering kali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita sebagai teman atau pendengar. Boro-boro melibatkan kita, lha wong kenal dengan objek curhatnya aja nggak.

Itu baru satu.

Masih ada yang jauh lebih sulit, seperti menerima berbagai hal tidak enak yang terjadi dalam hidup apa adanya, sebagai ‘jatah’ yang memang harus kita jalani, tanpa berusaha keras mengubahnya. Melapangkan hati untuk menyambutnya dengan ikhlas, tatkala ia bertentangan dengan ekspektasi dan konsep ideal yang selama ini kita genggam erat.

Saya, termasuk yang masih sering (sekali) bergumul dengan hal satu ini. Saya sulit menerima keadaan yang berseberangan dengan ekspektasi, keinginan dan persepsi ideal saya. Saya tidak mudah menerima berbagai kejadian tidak enak (yang sebetulnya hanya sebuah kondisi, yang bertransformasi menjadi masalah karena saya tidak menyukainya) sebagai sesuatu yang ‘memang sudah jatah saya’, atau bahasa religiusnya: takdir.

Saya tidak mudah merangkul berbagai perasaan tidak nyaman yang berkecamuk tatkala situasi berubah pelik, dan acap kali saya berusaha menyingkirkan perasaan-perasaan tersebut, atau menempuh jalan pintas dengan mengambil sikap cuek, semata-mata karena saya tidak ingin terganggu dengan kerikil-kerikil itu.

Persoalan selesai? Boro-boro.

Yang ada, batu-batu yang awalnya saya anggap kerikil kecil, berubah menjadi timbunan yang terus menggunduk dan membesar. Menjadi bukit, bahkan gunung masalah. Dan akhirnya, setelah babak belur berusaha menghancurkan gunung, saya menyerah, lalu mendesah, “Mungkin memang sudah jatah saya” – yang sering kali sudah terlambat. Bukan karena masalahnya tidak bisa lagi dibereskan, namun karena sudah terlalu banyak luka di tubuh saya sehingga perlu waktu dan energi yang tidak sedikit untuk memulihkannya.

Ikhlas. Betapa sering saya mendengarnya. Betapa sering saya mengira telah memahaminya. Betapa sering saya harus kembali ke titik nol dan mengangkat tangan. Melakukan gencatan senjata dan mengaku kalah. Pasrah. Bahwa saya memang tidak paham apa-apa. Bahwa semua pengetahuan yang tersembunyi di balik tempurung kepala ini tidak cukup untuk membuat saya menjadi manusia yang ikhlas.

Jatah. Betapa sering saya mendengarnya, membacanya, bahkan menuliskannya. Kenyataannya, ketika ia hadir tanpa bisa dielakkan, saya tetap kelimpungan dan bergulat untuk sekadar ‘lari’ darinya. Berusaha mati-matian mengubahnya, tanpa mau tahu bahwa seperti cuaca, ada hal-hal dalam hidup yang tercipta hanya untuk diterima dan dipetik pelajarannya. Bukan digeluti, bukan digumuli.

Lalu, untuk apa saya menuliskan ini? Buat apa saya ‘membuka isi perut’ di wadah yang bisa dibaca semua orang seperti ini?

Alasan pertama, karena menulis, bagi saya, adalah terapi. Dan mengungkapkan isi hati melalui tulisan adalah upaya saya untuk jujur terhadap diri sendiri – untuk mengenal diri dengan lebih mendalam.

Meski terkadang kejujuran bisa menyakitkan, saya percaya tidak ada yang lebih penting dari kejujuran. Seorang sahabat pernah berkata, ada hal-hal yang tidak dapat diingkari dalam hidup, namun kita selalu bisa memilih untuk jujur. Dan rasa sakit yang timbul dari kejujuran tidak akan lebih fatal dari luka yang disebabkan ketidakjujuran.

Alasan kedua, karena melalui tulisan ini, saya ingin berkata kepada seseorang –seandainya ia mampir ke sini dan menemukan entri ini— bahwa kini saya mengerti apa yang ia maksud dengan ‘jatah’. Kini saya paham. Dan kendati saya tetap ingin memelihara kejujuran dengan berkata terus terang bahwa ini bukan hal mudah, saya ingin dia tahu, saya bisa menerima.

Jatah, sebagai jatah. Sebuah momen dalam hidup yang hadir untuk diambil maknanya; bukan untuk disesali, bukan untuk dihindari.

Dan untuk itu, dari hati yang terdalam, saya berterimakasih.

:-)

Friday, December 19, 2008

Kata Mereka tentang VAJRA...

Sebelum VAJRA lahir, ia hanya milik saya sendiri. Tersimpan dalam file berukuran 728 kilobytes di komputer, bersama segala impian dan cita-cita untuk menjadi ‘emak sungguhan’ dari sebuah karya yang terwujud dalam bentuk buku, yang nyata, dan ada.

Setelah ia terbit dan nampang di rak-rak toko buku, file itu masih tersimpan rapi di komputer, kali ini bersama sederet foto hasil hunting saya di sejumlah toko, persis seperti emak yang bangga akan anaknya dan tak bosan-bosan mengoleksi fotonya, meski gambarnya selalu sama dan cenderung membosankan: setumpuk buku dalam rak kayu cokelat muda yang bersanding dengan tumpukan buku lain.

Bukan hanya itu pembedanya. Jika dulu ia hanya milik saya sendiri, kini saya mempertemukannya dengan dunia – membaginya dengan Anda semua. VAJRA menjadi milik kita bersama. Saya dan Anda yang mengijinkannya menghuni rak buku Anda.

Berikut adalah beberapa dari mereka yang telah bersua secara langsung dengan VAJRA. Mereka yang telah berkenalan dan memberikan testimoni mengenai anak sulung saya. Thanks a bunch you all. Terima kasih telah menempatkan VAJRA dalam rak kalian, dan terima kasih atas kesediaannya memberikan review dan komentar.

Yang mau nyusul, boleh banget. Yang merasa masih punya 'utang', monggo dilunasi sebelum jatuh tempo *wink-wink*. ;-)

Ditunggu, yaaa!


-----


"Untuk kumcermu, udah baca semua! Untuk sebuah debut, karya kamu ga bisa dipandang sebelah mata. Kudos 4 u!"
(Sitta Karina - novelis dan kontributor majalah “CosmoGIRL!”)


"
Fascinating. Jarang sekali ada tulisan-tulisan yang begitu kaya, tapi tidak kehilangan unsur entertainment-nya. Cinta anak SMA, sampai kloningan abad 22, sampai kehidupan penjaga tol dan pengamen jalanan, ada semua di sini. Kumcer terbaik yang pernah saya baca. Nyesel juga nggak baca abis ini dari dulu. Bagus banget Jen. I’m so proud of you. Damn proud, untuk jujurnya. Keren."
(Farida Susanty - novelis, pemenang Khatulistiwa Literary Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat)


Pernah nonton
Desperate Housewives? Kenal tokoh yang namanya Susan Mayer? Naah... seperti yang diakuinya sendiri, Jenny Jusuf ini seorang "Susan Mayer": gadis romantis penuh cinta :) Pokoknya, beda banget dibandingkan gw yang campuran antara the perfectionist Bree van de Kamp dan the practical Lynette Scavo ;-)

Dengan semangat saling mendukung ala tokoh2 DH lah, gw membeli VAJRA. Jujur, by my usual standard, rak chicklit & teenlit di toko buku bukanlah tempat bermain gw ;-)

Tapi akhirnya gw cukup menikmati membacanya. True, Jenny Jusuf is Susan Mayer at heart. But, she is definitely less naive than that romance-hungry character ;-) Cerita2 di Vajra memang ringan, penuh roman, dan terkesan cinta mengalahkan segalanya seperti jalan hidup seorang Susan Mayer.

... tapi, Jenny membekali dirinya dengan pengetahuan yang up-to-date tentang berbagai hal. Dengan demikian, meskipun ceritanya ringan dan penuh cinta, cocok buat remaja2 putri, tapi tulisannya membuat remaja2 itu sedikitnya menambah pengetahuan dan "nggak cuma mikir cinta" ;-)

Yang jelas, Jen, VAJRA gw simpan buat bacaan Ima 1-2 thn lagi ;-)
(Maya Notodisurjo - blogger)


"
Damn! VAJRA KEREN euy! Emang jago deh lo, IRI huehehe. Simpel, menyentuh tapi berisi. Cool debut! Ada beberapa yang KENA banget Mbak, cuma emang ada yang kurang tapi tetep oke. Tapi keren euy! Overall nice, gue seneng bacanya dan gak mau berhenti."
(Haqi - blogger, scriptwriter)


"Jenny tapped the essence of life and brewed it into riveting, page turning stories. Can’t wait for your next book!"
(Tommy Fransiscus)


"
Congratsss... Ada yang sukses bikin mata berkaca-kaca, ada yang sukses bikin nyengar-nyengir ga jelas. Paling suka "Anugrah Terindah”, khas Kakak banget."
(Noviana Roselie)


"Waahhh... Kak Jenny aku udah baca bukunya.... kereeennn!!!! Huhuhuhu... Ayooo ditunggu lagi yaaa bukunyaa!!! Cmangattzz!!!"

(PS: aku paling suka cerpen tentang Faris dan pacarnya... hehehehe pengalaman pribadi soalnya :p)
(Purple_Loverz)


"Halo Kak Jenny :) Salam kenal ya, aku Clarissa... aku tau bukunya dari milisnya Kak Arie dan aku udah beli bukunya, sekarang udah selesai baca. Bukunya bagus banget! Aku suka banget, life lessonsnya bagus-bagus banget :) Selamat ya :D And keep writing!"

(Clarissa)


"Udah beli bukunya... udah baca... gw paling suka ama cerita yang ada quotenya. Gw lupa bahasa inggrisnya, tapi kira-kira gini: kasih yang paling besar adalah saat seseorang mengorbankan nyawanya untuk sahabatnya... dalam banget..."
(Desty)


"Udah beli kumpulan cerpennya Jenny… ^_^ Suka banget ama cerita-cerita di dalamnya…"

(Maggie)

Friday, December 12, 2008

Pelita Hati

Teman-teman tersayang,

Terima kasih untuk semalam, ketika kita duduk mengelilingi meja bundar dengan kursi-kursi kayu keras, mengerjakan segala aktivitas biasa –mengecek HP, menyelesaikan sisa pekerjaan yang terpaksa dibawa pulang, sampai mengecat kuku- sambil berceloteh panjang lebar. Tentang segala hal dalam hidup. Tentang rencana menikah tahun depan. Tentang pacar yang menjengkelkan. Tentang rekan kerja yang menyebalkan. Tentang kejadian-kejadian yang membuat naik darah.

Lalu, setelah puas mengutuk orang-orang yang kita salahkan membuat hidup jadi lebih sulit, kita berkhayal, alangkah asyiknya kalau tahun depan bisa berlibur bersama ke sebuah tempat indah nan eksotis. Pokoknya harus yang ada pantainya. Kemudian kita mulai menghitung-hitung, membuat perencanaan, dan membahas segala sesuatu.

Kita sepakat, tidak akan pergi naik pesawat. Mahal, Jendral. Kita akan menyewa kendaraan. Lalu, kita akan melakukan segala macam trik untuk menyiasati bawaaan yang segudang. Kenapa segudang? Karena kita akan membawa bahan makanan dan memasak sendiri selama liburan, supaya hemat. Dan kita tertawa-tawa membayangkan orang yang dipercaya membawa segala makanan itu kabur meninggalkan kita, menghilang, atau nyasar entah dimana, dan kita termangu kelaparan.

Ketika nominal disebutkan, kita beramai-ramai sepakat bahwa kita akan rajin menabung, mulai dari sekarang. Angka itu sama sekali tidak kecil, meski kita memilih liburan ala backpacker miskin. Jadi, tidak ada alternatif lain kecuali menabung dan mengencangkan ikat pinggang. Mulai detik ini. Demi sebuah liburan yang menyenangkan, tahun depan.

Kita menyimpan harapan itu dalam hati, rapi-rapi, serta berjanji pada diri sendiri untuk tak alpa menyisihkan uang setiap bulan. Kemudian kita kembali pada aktivitas masing-masing. Mengecek HP. Menyelesaikan sisa pekerjaan yang terpaksa dibawa pulang. Mengecat kuku. Sambil mengobrol panjang lebar tentang segala macam hal dalam hidup.

Saya tahu, seperti kalian pun (mungkin) tahu. Liburan itu tidak akan terwujud. Meski kita lebih suka membungkam mulut rapat-rapat dan tidak membicarakannya. Hidup memang tidak pernah menutup peluang terhadap berbagai mujizat dan keajaiban, namun, jika menilik realitas, kita semua sadar, kita takkan menjejakkan kaki ke pantai impian itu. Setidaknya, tidak tahun depan.

Saya memilih realistis dengan merangkul kenyataan bahwa serajin apa pun saya menabung dan berhemat dalam setahun, tabungan saya tidak akan cukup untuk membawa saya ke sana. Teman kita yang satu lagi, juga tidak akan mampu membiayai perjalanannya karena ia bahkan tidak punya tabungan sama sekali. Tidak bisa menabung, tepatnya. Setiap bulan, seluruh gajinya habis untuk hidup sehari-hari, menyekolahkan dua keponakan, dan diberikan kepada orang tuanya yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Lalu, teman kita yang satu lagi, yang wajahnya selalu berhasil membuat tertawa meski batin sedang gundah, tahun depan akan menikah. Kita semua tahu, biaya pernikahan tidak sedikit. Dan adik kita tersayang, Batak Tembak Langsung yang jagoan membuat orang terpingkal-pingkal itu, berniat melanjutkan kuliah, mengambil S2. Itu juga butuh biaya yang tidak sedikit.

Lantas, kenapa kita repot-repot merencanakan sebuah perjalanan yang tidak akan terwujud?

Karena kita masih ingin punya mimpi. Karena impian memberi semangat pada diri yang mulai jenuh menghadapi dunia. Karena impian memberi bahan bakar untuk menyalakan api di hati. Untuk terus melangkah. Untuk terus berjalan. Meski kaki-kaki kita sudah penat dan lelah. Meski tubuh ini sudah menjerit-jerit minta time-out.

Teman-teman tersayang,

Terima kasih banyak untuk semalam, ketika untuk kesekian kalinya kita duduk bersama. Mengelilingi meja bundar dengan kursi-kursi kayu keras, ditemani sebungkus keripik dan air mineral. Mengobrolkan segala macam hal. Menertawakan hidup, karena cuma itu yang kita bisa. Karena terkadang hidup tidak menyisakan pilihan selain tertawa, meski itu tawa getir. Sepat.

Terima kasih untuk senantiasa berbagi. Tawa, tangis, amarah, bahagia, kecewa, takut, dan segala rasa lain yang silih berganti hadir dalam perjalanan panjang ini. Dan, kendati liburan impian kita nanti betul-betul tidak terwujud (kenapa ‘betul-betul’? Ya karena saya masih ingin menyimpan harapan akan datangnya mujizat :-D), saya ingin berterima kasih karena kalian telah menemani saya dalam perjalanan yang sesungguhnya. Perjalanan panjang bernama Kehidupan.

Terima kasih untuk setiap bungkus keripik singkong, snack keju, wafer cokelat, permen jeli, mie instan, bakwan sayur, sirup jeruk, dan teh manis dingin yang kita bagi bersama. Terima kasih untuk kedamaian yang selalu singgah setiap pandangan saya bertemu dengan wajah-wajah kalian, yang seringnya tampak kusut dan jemu, meski kalian –seperti juga saya— selalu berusaha menyamarkannya dengan senyuman. Betapa saya tahu, sesungguhnya saya tak pernah sendiri.

Terima kasih untuk kegembiraan yang timbul kala kita beriringan menyusuri pinggiran jalan yang berdebu, berpayung berdua-dua, menyetop angkot dan urunan seorang dua ribu, lalu berjalan ke mall terdekat di bawah siraman rintik gerimis dan hawa dingin sambil tak henti-hentinya bercanda dan terpingkal-pingkal.

Terima kasih untuk setiap curhat yang meyakinkan bahwa saya memang tidak perlu kesepian. Terima kasih untuk setiap kegilaan yang mengocok perut, yang selalu berhasil menghadirkan kehangatan dan cahaya ketika hidup sedang suram-suramnya. Meski kita tidak pernah tahu sampai kapan kita bisa bersama (sebelum salah satu dari kita akhirnya resign dari kantor dan pindah ke kos-kosan lain, misalnya, atau menikah dan tinggal bersama suami), saya ingin berterima kasih karena kalian selalu ada.

Meski saya tidak akan pernah mengucapkan ini secara langsung (karena kalian pasti akan terbahak-bahak dan meledek saya habis-habisan, huh!), saya ingin kalian tahu, kalian adalah pelita hati. Each one of you. Dan ketika memandang wajah kalian, satu persatu, saya tahu, kita tidak butuh banyak untuk bisa bahagia.

:-)

Sunday, December 7, 2008

Buat Kamu

Terima kasih untuk menelepon di saat yang sangat tepat. Ketika saya merasa penat dengan segala kegilaan yang terus bergulir; saat saya sedang ingin meninggalkan semuanya untuk mencicipi kehidupan ‘normal’ – sebentar saja.

Don’t be sad,” katamu, padahal saya tak bercerita apa-apa. Mungkin gelombang otak kita sedang berada dalam frekuensi yang sama, atau kemampuan telepati mendadak muncul karena kita saling merindu.

Kamu, ya, kamu. Saya selalu sayang kamu. Saya tahu kamu tahu. Dan terima kasih karena selalu ada.

(Tidak, yang saya maksudkan bukan kehadiranmu secara fisik. Tapi hatimu.)

I love you, Papa.

Dan, ya, saya janji tidak akan terlalu sering mandi malam dan begadang lagi. :-)

Friday, December 5, 2008

Reputasi itu Penting, Jendral!



Nomor teleponnya sengaja nggak ditutupin. Siapa tahu ada yang butuh... ;-)