Thursday, May 14, 2009

T

wahai Tuhan,
sedang apa di sana?
apakah mataMu melihat ke bawah
atau setiap hari kita bertatapan?

wahai Tuhan,
apa kabarMu?
lama tak bersua
atau kita baru saja berjumpa?

wahai Tuhan,
mari bertemu
berjabat sekali lagi
biar kusebutkan namaku

aku
tak perlu mengenalMu
bagiku Kau ada
itu sudah cukup

-----

Friday, May 8, 2009

Persatuan dan Kesatuan di Negara Republik Indonesia

Rabu malam, pukul setengah sebelas.

Saya merapatkan tangan di depan dada, melindungi diri dari hawa dingin yang menusuk. Hujan baru saja reda, dan celana jeans saya yang terciprat air belum kering. Saya duduk dengan hati-hati di atas motor yang terus melaju, berjaga-jaga agar tidak ada genangan air yang luput dari pandangan. Jeans saya baru dicuci. Saya tidak rela bercak-bercak kotor itu bertambah lebar.

Motor menikung dengan cepat. Sebentar lagi saya akan sampai di kos-kosan. Saya menyusun rencana di kepala, apa saja yang harus dilakukan setibanya di sarang yang nyaman. Mandi, berberes, menyalakan komputer, mengecek e-mail

Kerumunan orang di depan membuat saya menyipitkan mata, mencoba melihat dengan jelas di sela-sela hembusan angin. Di kiri-kanan jalan, orang-orang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Tidak jauh dari situ, sepeda motor terparkir asal-asalan, dan aparat-aparat keamanan berseragam cokelat mengelilingi mereka.

Saya menghela nafas, sadar apa yang akan saya alami dalam hitungan detik. Saya mengumpat dalam hati karena tidak mengenakan helm. Razia versus Tidak Pakai Helm. Satu ditambah satu sama dengan dua.

Tukang ojek yang saya tumpangi (motornya ya, catet) mengurangi kecepatan sedikit. Sambil mengangguk sopan kepada polisi-polisi tersebut, ia menyerukan semacam salam bernada permisi. Santun dan cukup keras sehingga mereka semua bisa mendengar. Polisi-polisi itu memandang kami sekilas, kemudian membiarkan kami berlalu.

Beberapa meter di depan, kami kembali bertemu polisi. Si tukang ojek mengulangi hal yang sama. Tiga atau empat kali, sampai jalan yang kami lalui benar-benar bebas polisi.

Saya terbengong-bengong dengan jayanya mendapati kami meluncur mulus di jalanan becek itu, sementara di kiri-kanan banyak motor diparkir seenaknya karena para pemiliknya sedang berurusan dengan aparat.

“Kok kita nggak di-stop, Bang?” Seru saya.

“Apa, Neng?” Si tukang ojek berseru balik.

“Kok kita bisa lolos? Nggak ikut di-stop? Padahal saya nggak pakai helm?” Saya memberondong dengan penasaran.

“Kan saya pribumi,” si tukang ojek menjawab kalem.

Saya terdiam.

Rasanya seperti disengat. Pedih.

Kalau pengendara motor yang saya naiki bukan pribumi, apakah kami juga akan dihentikan, disuruh memarkir motor di pinggir jalan, diminta menunjukkan kartu identitas, lantas disuruh membayar sejumlah uang ditilang?

Kalau saya tidak menyembunyikan kepala di balik punggung si tukang ojek, apakah kami akan dihentikan karena wajah saya memperlihatkan sepasang mata yang sipit?

Kalau saja kami tidak berkendara pada pukul setengah sebelas malam, melainkan setengah sebelas siang, apakah kami akan dihentikan karena sinar matahari tidak bisa menyembunyikan warna kulit saya yang terang?

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan yang bersifat homogen. Di rumah, di lingkungan sekitar, di sekolah, saya selalu bertemu orang-orang yang ‘sama’ seperti saya. Begitu pula ketika saya tumbuh dewasa, lulus dari bangku sekolah dan mulai bekerja. Atasan saya, rekan-rekan kerja saya, semua berasal dari suku yang sama dengan saya, dan saya hanya mengenal dua kata pengganti untuk memanggil mereka yang berusia lebih tua: Koko dan Cici.

Kerusuhan Mei 1998 adalah momen yang cukup besar dalam hidup saya, ketika untuk pertama kalinya saya dan keluarga mengalami dampak kebencian hebat yang sudah berakar di negeri tercinta yang semboyannya (konon) mengagung-agungkan persatuan dan kesatuan ini.

Usaha yang dikelola Oom dan Tante saya musnah dalam semalam karena toko mereka dibakar. Bengkel Oom saya yang lain nyaris diserbu massa; untungnya penduduk setempat berbaik hati melindungi mereka hingga kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu berat. Selama berbulan-bulan setelah peristiwa itu, saya tidak pernah keluar rumah tanpa mendapat sedikitnya satu ejekan bernada merendahkan. Pelecehan seksual yang diumbar secara verbal, panggilan-panggilan kasar, berbagai kalimat menyakitkan yang terus mengingatkan betapa bencinya mereka kepada kami –barangkali karena kami dianggap parasit dan tidak layak dibiarkan hidup tenteram— menjadi makanan sehari-hari yang harus ditelan mentah-mentah.

Selama berbulan-bulan, saya dan keluarga hidup dalam gelisah, cemas, dan takut. Saya, yang waktu itu duduk di bangku SMP, mendadak merasa dunia menjadi tempat yang tidak aman lagi. Dan saya tidak tahu harus berlindung kemana.

Rasa takut itu perlahan berubah menjadi kebencian. Rasa cemas itu menjelma menjadi kemarahan. Untungnya, tidak lama berselang saya menghadiri sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani berskala nasional yang mengusung tema persatuan. Di acara yang bertajuk ‘Jadikan Kami Satu’ itu hati saya kembali terbuka. Kebencian bukan jawaban bagi penderitaan umat manusia. Kemarahan tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi. Di sana, saya belajar memberi maaf.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai berjumpa dengan orang-orang yang ‘berbeda’ dengan saya, dan meskipun saya tidak terbiasa, saya belajar menerima dan menghargai mereka apa adanya. Lambat laun, saya bukan hanya mengenal orang-orang ini. Saya berteman dengan mereka. Saya bersahabat dengan mereka.

Orang tua saya mulai terbiasa bertemu dengan kawan-kawan saya yang berkulit lebih gelap. Keluarga saya mulai terbiasa melihat saya membawa (bahkan mengajak menginap) teman yang matanya tidak sesipit saya. Yang tidak mengenal berbagai istilah dalam bahasa Mandarin (saya sendiri tidak bisa berbahasa Mandarin, namun dalam percakapan sehari-hari ada beberapa istilah yang selalu kami gunakan). Yang tidak tahu kenapa orang yang sudah menikah memberikan angpau kepada kerabat yang masih lajang pada hari raya Imlek. Yang tidak paham tradisi, kebiasaan dan adat-istiadat yang dianut saya dan keluarga. Yang memanggil sepupu-sepupu saya yang lebih tua dengan kaku karena lidahnya tidak terbiasa menyebut ‘Koko’ dan ‘Cici’. Yang berbeda dengan kami.

Waktu terus bergulir, dan hidup membawa saya mengalir.

Saya mendapat pekerjaan baru. Kali ini, atasan saya tidak berasal dari suku yang sama dengan saya. Saya memperoleh teman-teman baru, dan mereka tidak sesipit saya. Saya berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kalangan, dan mereka tidak bisa memakai istilah-istilah yang saya gunakan, sama seperti saya tidak memahami kata-kata yang mereka ucapkan dalam bahasa Sunda, Batak, Manado, dan sebagainya. Namun, semua itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk menjalin hubungan baik. Saya tidak pernah menganggap perbedaan tersebut sebagai masalah besar. Saya bahkan bangga. Saya menganggap diri saya ‘kaya’.

Saya belajar memanggil atasan dan teman perempuan yang lebih tua dengan sebutan ‘Mbak’. Saya belajar memanggil kawan pria yang lebih tua dengan sebutan ‘Mas’. Kepada mereka yang bukan orang Jawa, saya memanggil dengan sebutan ‘Teteh’, ‘Kakak’, atau ‘Abang’. Saya bahkan pernah terpeleset menyebut teman saya ‘Mbak’ ketika saya seharusnya memanggilnya ‘Cici’. Saya sudah demikian terbiasa, hingga perbedaan itu rasanya nyaris tak pernah ada.

Sahabat-sahabat terbaik saya adalah pribumi. Ambon. Batak. Jawa. Sunda. Padang. Saya bangga berteman dengan mereka, meski warna kulit mereka tidak seterang kulit saya. Dan mereka mencintai saya apa adanya, meski mata saya tidak selebar mata mereka.

Di kos-kosan tempat saya tinggal, saya adalah satu-satunya penghuni yang bukan pribumi, dan hubungan saya dengan teman-teman sudah demikian akrab – tak ubahnya saudara ketemu gede. Jika beberapa hari saja saya tidak pulang, mereka akan mengirim SMS, menanyakan dimana saya berada dan kapan kembali. Merekalah yang berpesan “Hati-hati di jalan” setiap saya pamit untuk pergi. Merekalah yang membelikan makanan saat saya terkapar sakit. Mereka juga yang mendengarkan keluh-kesah saya dan selalu ada untuk saya, sebagaimana saya ada untuk mereka. Warna kulit kami berbeda, bahasa yang kami pakai berlainan, namun cinta itu sama. Karena cinta memang tidak pernah butuh alasan.

Saya pikir, saya telah melampaui semua batasan itu. Saya telah membangun jembatan di atas jurang perbedaan, dan saya telah menyeberanginya. Saya sampai dengan aman. Saya berhasil. Saya menang. Perbedaan tidak bisa mengalahkan saya. Dan di atas segalanya, persatuan ternyata memang ada. Butir ketiga Pancasila tidak berbohong.

Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Kejadian sederhana di Rabu malam itu memberitahu saya dua hal: pertama, saya harus segera membeli helm. Secepatnya. Kedua, di suatu tempat di negeri ini, saya tetap diperlakukan tidak adil karena warna kulit saya berbeda. Dan di belahan lain negeri ini pula, ada orang-orang yang tidak diterima apa adanya karena mereka yang ‘sejenis’ dengan saya menolak mengakui persamaan derajat di antara kami.

Malam itu, saya sadar.

Kita memang belum merdeka. Kita bahkan belum bersatu. Kita hanya diikat menjadi satu dengan selembar kain separuh merah separuh putih dan status legal yang terdiri dari tiga kata: Warga Negara Indonesia.

Warna kulit –dan persepsi kerdil yang terpenjara dalam batok kepala ini— barangkali akan selamanya menjadi pembeda yang memisahkan kita.

-----

Gambar tentunya masih meminjam dari sxc.hu.

Saturday, May 2, 2009

Menulis Jujur (Belum) Tentu Mujur

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk hengkang sejenak dari kos-kosan dan pulang ke rumah. Di sana, saya menyempatkan diri membongkar koleksi novel yang sudah lama tidak tersentuh. Ini salah satu kegiatan favorit saya setiap pulang ke rumah: membaca tumpukan novel yang tersimpan di kamar, karena saya terlalu malas membawa buku-buku tersebut ke kos-kosan.

Saya memilih sebuah novel dan membaca sambil leyeh-leyeh di tempat tidur. Belum sampai setengahnya, saya berhenti. Saya merasa ada yang ‘aneh’ dengan novel tersebut, dan perasaan itu cukup mengganjal. Tapi saya tidak tahu apa.

Sejurus kemudian, baru saya sadar. Novel itu memuat begitu banyak pesan dan nilai moral. Saking ‘padat’nya, tidak jarang dalam sebuah adegan diselipkan beberapa paragraf berisi petuah bijak yang tidak ada hubungannya dengan cerita. Si penulis juga menyisipkan konsep idealnya di sana-sini, yang meski terbungkus rapi dalam kemasan fiksi, tetap saja (bagi saya) terkesan dipaksakan. Sejujurnya, saya merasa digurui. Dan itu cukup mengganggu, meski akhirnya saya tetap menamatkannya.

Itu kasus pertama.

Kasus kedua, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah diskusi kecil-kecilan di Facebook yang membahas seorang penulis yang karya-karyanya pernah dijuluki ‘sastra selangkangan’ lantaran banyak memuat isu seks dan perempuan. Di forum mini tersebut, beberapa orang mengkritiknya dengan tajam. Salah satu pemicunya (barangkali) karena selain blak-blakan mengedepankan isu seputar ranjang dalam novelnya, penulis ini juga kerap tampil dengan minuman keras dalam acara-acara publik yang menggunakan jasanya.

Membaca kritik-kritik pedas itu, saya termenung. Lambat laun, saya merasa menemukan benang merah antara kedua peristiwa di atas dengan novel-novel saya yang tak kunjung selesai. FYI, beberapa hari sebelum menulis artikel ini, saya membongkar harddisk dan menemukan sepuluh draft (!). Sebagian sudah nganggur bertahun-tahun lamanya, sebagian sudah memiliki outline yang jelas dan lengkap, sebagian lagi sudah jadi, hanya membutuhkan revisi, dan tetap tidak selesai.

Berhari-hari saya merenung dan bertanya-tanya, sampai eneg sendiri. Akhirnya saya mendapati bahwa salah satu faktor yang menyebabkan saya tidak kunjung menyelesaikan novel saya adalah, karena setiap kali saya menulis, di kepala saya selalu muncul berbagai rambu yang mengingatkan saya akan banyaknya batasan yang harus ‘dipatuhi’ dan ‘tidak boleh dilanggar’ demi menciptakan suatu karya yang tidak hanya bermutu, namun juga mengandung pesan moral yang baik dan membangun bangsa. *Halah*

Setelah sekian tahun berkutat dengan draft yang tidak selesai, saya baru menyadari ada begitu banyak batasan yang menghalangi saya untuk menulis apa adanya, seutuh-utuhnya. Dan keterbatasan itu mendorong saya ke titik jenuh, bahkan sampai pada satu titik dimana saya berpikir untuk mengaborsi semua naskah fiksi saya dan memusatkan diri pada tulisan non-fiksi. Saya ‘mendengar’ begitu banyak suara di pikiran yang mengingatkan saya akan kewajiban dan tanggung jawab saya kepada pembaca. Ada semacam ‘kesadaran palsu’ yang akhirnya membuat saya lebih mendengarkan apa kata orang dan merasa khawatir berlebihan untuk ‘melanggar’ rambu-rambu tertentu yang berlaku di masyarakat.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya membombardir otak saya seperti senapan mesin: kenapa juga saya harus merasa bertanggung jawab kepada pembaca? Apakah saya sanggup mengubah pemikiran orang dengan tulisan-tulisan saya? Kalaupun ya, berapa persen tingkat keberhasilannya? Kalaupun ya, apakah benar orang tersebut berubah karena tulisan saya thok, dan bukan karena faktor-faktor lain seperti –katakanlah— memang dia sedang ingin berubah, habis dinasehati oleh orangtua, dikompori teman, dan sebagainya. Kalaupun tidak, apakah saya harus merasa bersalah jika tulisan saya tidak memberi dampak positif bagi orang lain? Apakah saya harus merasa berdosa jika tulisan saya dianggap tidak bermanfaat? Apa itu baik? Apa itu buruk? Apa itu benar? Apa itu salah? Mengapa sastra selangkangan dianggap nista sedangkan tulisan berpetuah bijak dipuji-puji? (RETORIS, by the way. ^_^)

Dan mengapa saya begitu sulit merampungkan naskah fiksi, sementara saya telah menyelesaikan ratusan artikel di blog ini? Apakah perbedaannya hanya terletak di ‘ngeblog nggak perlu pakai plot’ atau ‘ngeblog nggak butuh banyak imajinasi’? Mungkin iya. Tapi, setelah saya meluangkan waktu untuk ‘mengamati ke dalam’, saya mendapati, yang membuat saya bertahan dengan rumah maya ini dan bisa terus menulis adalah, karena di blog saya mampu jujur kepada diri sendiri.

Di blog, saya bisa menuangkan apa saja yang saya mau. Saya bisa nyolot sepuas hati dan tinggal melirik kepada orang yang mencela sambil bilang, “Blog, blog gue.” Saya menulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Karenanya, saya tidak terlalu peduli pada mereka yang tidak menyukai tulisan saya, pun tidak terlalu ambil pusing ketika ada yang mengecam tulisan saya ‘sesat’ lantaran saya menceritakan berbagai pengalaman spiritual yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut agama tertentu. Karena, sekali lagi, blog, blog gue. ;-)

Beberapa bulan lalu, saya berbincang dengan seorang sahabat via telepon. Ia sempat melontarkan pertanyaan yang membuat saya merenung.

“Apa lo mau seterusnya nulis tentang meditasi kayak gini?”

Waktu itu, bulan Maret tepatnya, saya mendedikasikan lima entri untuk menuliskan pengalaman-pengalaman saya selama mengikuti retreat di Bali. Selama sebulan penuh, isi blog saya berkisar di topik meditasi, pengalaman spiritual, dan insight yang saya dapatkan dalam retreat.

Saya tertawa, “Nggak, lah. Ini lagi special edition aja. Blog gue bukan tentang meditasi..."

Saya terdiam sejenak. Apa yang sebenarnya ingin saya tulis di blog? Tidak sedikit yang berkomentar bahwa tulisan-tulisan saya menginspirasi. Tapi, apa memang itu tujuan utama saya? Untuk menginspirasi? Untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan? Untuk menanamkan nilai-nilai moral?

Jawaban saya berikutnya adalah, “Gue cuma nulis apa yang ingin gue tulis. Apa pun yang lagi nyangkut di pikiran dan hati. Nggak masalah apakah itu tentang pengalaman spiritual, meditasi, pemikiran, curhat, hal-hal remeh, bahkan kalau perlu, omelan-omelan gue.”

Dan saya ingat betul, kalimat terakhir yang saya ucapkan adalah, “Gue nulis bukan buat siapa-siapa, dan bukan untuk menginspirasi atau menanamkan nilai ke siapa pun. Gue nulis buat gue. Kalau ada yang merasa tulisan gue bermanfaat, syukur, kalau nggak ya nggak apa-apa.”

Lantas, apa yang membedakan ngeblog jujur dengan menulis (fiksi) jujur? Kenapa saya bisa membongkar-bongkar isi perut di blog, sedangkan di buku tidak? Kenapa saya mampu curhat di blog, namun sukar menulis apa adanya di buku? Kenapa saya sanggup ngebacot sesukanya di blog, namun kesulitan untuk menuangkan kejujuran dalam manuskrip fiksi saya, padahal kedua-duanya punya akses tak terbatas untuk dibaca orang? Saya tidak bisa mengontrol siapa yang mengunjungi blog saya, sama seperti saya tidak bisa mengontrol siapa yang membaca buku saya. Tidak banyak bedanya, sungguh. Tapi… kenapa?

Pertanyaan ini kembali membuat saya pusing. Dan lagi-lagi butuh waktu yang tidak sedikit untuk ‘menyelam’ dan menemukan jawabannya.

Jawabannya ternyata sederhana saja: untuk mengakses blog saya, para pengunjung tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Untuk membeli buku saya, diperlukan puluhan ribu rupiah. Dan itu pula yang membuat saya begitu concern dengan draft-draft saya. Saya merasa bertanggungjawab kepada orang-orang yang (nantinya akan) mengeluarkan uang untuk membeli buku saya. Saya merasa berkewajiban untuk menulis sesuatu yang bermanfaat, agar setidaknya, ada nilai positif yang bisa dinikmati oleh pembaca. Syukur-syukur bisa membuat mereka punya kehidupan yang lebih baik. Blog? Hanya dibutuhkan lima ribu perak untuk mendapatkan akses internet berkecepatan tinggi di warnet. Itu pun sudah bonus Aqua gratis, dan bisa sambil buka Facebook, Friendster, Yahoo!, dan Google.

;-)

Perlahan-lahan, sebuah kesadaran baru muncul di benak saya. Selama ini, selama bertahun-tahun, saya telah bersikap tidak adil. Kepada diri saya sendiri. Kepada Jenny yang menanti-nanti untuk bisa bersuara dengan bebas. Kepada berbagai ide kreatif yang terus-menerus diaborsi dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjenguk dunia. Kepada dorongan hati yang begitu sering saya tekan setiap kali muncul ke permukaan.

Seseorang pernah berkata, “Sebuah pilihan akan menjadi benar apabila pilihan itu sesuai dengan isi hati dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang.”

Sebuah pernyataan yang barangkali sangat layak diaminkan dan dijadikan quote of the day. Tidak bagi saya. Saya memilih untuk berhenti sebelum kata ‘dan’. Karena, pada kenyataannya, apa yang saya lakukan, apa yang saya pilih, apa yang saya putuskan, tidak pernah betul-betul bisa mengubah apa pun dalam hidup seseorang – entah itu mendatangkan manfaat, atau menghilangkan manfaat.

Jika ada enam juta orang di muka Bumi, maka ada enam juta ukuran kebaikan dan kebahagiaan. Sebaliknya, juga ada enam juta ukuran keburukan dan kesengsaraan, yang menjadikan semuanya amat relatif, tergantung dari kondisi hati dan persepsi tiap-tiap orang.

Kita bisa bilang, “Saya bahagia karena dia melakukan ini untuk saya,” namun sesungguhnya kita tidak berbahagia karena perlakuan dari orang yang bersangkutan. Kita bisa mengatakan “Saya berubah karena dia,” namun sesungguhnya kita tidak pernah berubah karena orang lain. Dan kita bisa menempelkan label ‘baik-buruk-benar-salah’ pada ribuan hal di dunia, dan pada saat yang sama, tidak pernah ada yang betul-betul ‘baik’ atau ‘buruk’, ‘benar’ atau salah’. Semua hanya dibatasi oleh lapisan persepsi dan konsep ideal yang kita bawa.

Itu sebabnya, saya berhenti sebelum kata ‘dan’. Karena saya tidak percaya bahwa pilihan yang benar HARUS mengandung azas-sosial-manfaat-bagi-banyak-orang. Mungkin kedengarannya egois, namun bagi saya, pilihan yang saya ambil menjadi benar karena itulah yang cocok untuk saya saat ini. Yang terbaik. Yang paling pas. Sejauh mana kecocokan tersebut, hanya saya yang tahu, sama halnya dengan enam juta orang lain di dunia – hanya diri mereka yang paling tahu. Bukan saya.

Kenapa saya harus berpikir bahwa apa yang saya tulis bermanfaat bagi pembaca, sedangkan saya tidak tahu apa yang terbaik bagi mereka? Kenapa saya harus berpikir bahwa tulisan saya punya pengaruh signifikan atas hidup pembaca, sedangkan saya tidak tahu apa yang bisa membuat mereka bahagia? Kenapa saya harus bertanggungjawab atas buah pikiran saya, sedangkan saya tidak pernah tahu isi pikiran pembaca?

Kejujuran kadang memiliki harga, dan harga itu tidak murah. But for once in my life, I want to be honest. To myself. Saya ingin bebas dari ‘kewajiban’ bertanggungjawab terhadap hasil persepsi orang lain, dan saya tidak ingin merasa bersalah hanya karena ‘gagal’ melunasi ‘tanggung jawab moral’ saya. Saya ingin merasa puas karena saya menulis apa yang saya inginkan. Menulis demi Jenny, bukan demi Anu, Inu, atau Uni.

Dan itulah yang terpenting buat saya, setidaknya untuk saat ini. Menulis bukan untuk siapa-siapa. Menulis untuk saya sendiri. Cuma itu.

Saya ingin memberi kesempatan pada Jenny Jusuf. Saya ingin membiarkannya bersuara. Saya ingin mengijinkannya menyampaikan apa pun yang ia mau katakan. Dalam wadah apa pun. Fiksi atau non-fiksi. Buku atau blog. Apa saja.

Saya, hanya ingin jujur.

------

Gambar dari sxc.hu.

Thursday, April 30, 2009

Maaf

Tak pernah kuduga saat ini akan tiba
Tak pernah kubayangkan hari ini akhirnya datang
Saat aku berdiri tegak di sini
Memandangmu dengan syukur, tanpa sesal dan perih

Maaf itu akhirnya hadir tanpa kuusahakan
Maaf itu akhirnya ada tanpa kuupayakan


Dan barangkali, inilah maaf yang sejati
Kala aku tak perlu lagi bergumul untuk memaafkanmu
Barangkali, inilah pendamaian yang sesungguhnya
Kala aku tak perlu lagi mencoba melupakanmu

Terima kasih untuk semua.
Pelajaran hidup yang kupetik dari aku, kamu, kita.

Terima kasih telah ada, dan pernah ada.

Aku
Telah memaafkanmu.

-----

Gambar, seperti biasa, dari sxc.hu

Tuesday, April 21, 2009

Sehari di Situ Gintung

“Ada apa, Mas?”
“Nggak apa-apa. Tadi saya liat sesuatu. Saya pikir kaki. Taunya bukan.”
“Kaki?”
“Iya. Kalo bener, mau saya ambil.”
“Hah? Caranya?”
“Dibuntel.”
“Hah?! Pakai apa?”
“Ya pakai apa aja, yang ada di sini.”


Jawaban terakhir itu membuat saya mingkem dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Saya mempercepat langkah sambil terus merunduk, berhati-hati agar tidak menginjak paku atau benda tajam yang menyembul dari retakan lumpur. Di depan, relawan yang berbaik hati mengajak saya turun ke lokasi bencana paling parah di Situ Gintung terus berjalan dengan langkah-langkah mantap. Sesekali ia menoleh untuk memastikan saya tidak tertinggal, dan sekali-dua kali mengulurkan tangan untuk membantu saya berjalan di atas lumpur licin.

Sambil berjalan, ia terus bercerita. Tentang arwah-arwah yang mendatangi para relawan dan penduduk setempat untuk memberitahu dimana jasad mereka terkubur. Tentang satu keluarga yang tidak mampu menyelamatkan diri sehingga mereka semua meninggal di tempat. Tentang seorang laki-laki yang ditugaskan keluar kota dan kembali hanya untuk mendapatkan rumahnya telah berubah menjadi timbunan puing. Tentang seorang ayah yang anak-istrinya tewas mengenaskan. Tentang seorang ibu dan bayinya yang sampai sekarang belum ditemukan. Tentang seorang anak yang selamat gara-gara tersangkut di pohon nangka, sementara seluruh keluarganya tewas. Tentang seorang tukang bakso yang kehilangan istrinya yang sedang mengandung, lantaran pegangannya tak cukup kuat untuk menyelamatkan mereka berdua.

Saya mendengarkan sambil membisu. Mendadak saya tak tahu harus mensyukuri atau menyesali keputusan saya turun ke lokasi paling parah ini, ditambah lagi, kami hanya berdua. Relawan-relawan lain memilih untuk tetap tinggal di posko sambil menunggu beberapa rekan menyelesaikan tugasnya. Saya, yang sejak awal sudah penasaran ingin menyambangi lokasi, tidak menyia-nyiakan ajakan seorang relawan yang sudah khatam setiap inci daerah pusat bencana tersebut.

Media cetak dan elektronik telah membuat musibah Situ Gintung tampak lebih bombastis –kalau tidak bisa dibilang gigantis— dari kondisi sebenarnya, dan tidak sedikit pihak yang memanfaatkan peristiwa yang berdekatan dengan Pemilu ini untuk menangguk keuntungan pribadi; namun lepas dari apa pun yang saya amati, lepas dari derasnya informasi yang membombardir otak seperti senapan mesin, saya menyadari satu hal: luka itu nyata.

Beberapa saat sebelum terapi relaksasi ‘Tentram Ikhlas’ untuk para korban bencana dimulai, koordinator regu kami memberikan pengenalan singkat kepada puluhan warga yang berkumpul untuk menerima santunan di sebuah posko. Lima menit waktu yang diberikan. Baru semenit ia berbicara –bahkan belum sempat menuntaskan kalimatnya— seorang wanita paruh baya yang duduk di pojokan sudah berkali-kali menyusut mata dengan kain jarit yang dipakainya. Beberapa warga memandanginya dengan nanar. Ada pula yang membisu dengan sorot mata hampa. Luka itu ada, dan terlalu nyata untuk diabaikan.

Berjam-jam kemudian, saat terapi berbasis metode Tapas Acupressure Technique (TAT) diberikan kepada sekitar delapanpuluh warga, saya terpukau sendiri melihat perubahan rona wajah orang-orang yang silih berganti mendatangi posko tempat kami berpraktek. Kebanyakan dari mereka masuk dengan ekspresi sarat beban, mata sayu, langkah setengah diseret, dan sebagainya. Setelah terapi diberikan, mereka keluar dengan air muka yang sama sekali berbeda. Penderitaan itu belum hilang sepenuhnya, namun mata mereka tidak lagi hampa. Mereka mampu berjalan lebih tegak, dan harapan baru yang bersinar di sana menghangatkan hati saya.

Selama proses, berkali-kali saya merasakan haru yang besar. Terbersit pula keinginan untuk mendalami metode terapi sederhana ini. Siapa tahu kelak saya bisa menggunakannya untuk menolong orang lain, atau setidaknya, menolong diri saya sendiri, karena TAT tidak hanya diperuntukkan bagi korban bencana. Teknik yang masuk ke Indonesia pada tahun 2006 ini dapat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis trauma, alergi, masalah batin, dan banyak lagi.

Selama proses itu pula, berkali-kali saya membayangkan, apa saja yang telah dialami orang-orang tersebut. Apakah mereka kehilangan anggota keluarga? Apakah mereka kehilangan rumah? Apakah mereka kehilangan seluruh harta benda? Apakah mereka menyaksikan kejadian mengerikan itu dengan mata kepala sendiri? Separah apa trauma yang mereka alami?

Salah satu relawan bercerita, seorang bocah mendadak lari terbirit-birit ketika melihat air mineral, dan seorang ibu berteriak-teriak ketakutan melihat air mengucur dari keran. Musibah itu telah memicu rasa takut yang demikian hebat pada air, dan trauma yang ditimbulkannya dapat menyebabkan ‘kerusakan’ yang lebih parah dari sekadar kerugian fisik dan materi.

Melihat dan mendengar itu semua membuat saya berkali-kali membisikkan terima kasih; bukan saja karena saya tidak mengalami bencana dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik, melainkan karena saya bisa menjadi bagian dari rombongan kecil ini. Sekumpulan orang yang tidak berasal dari organisasi mana pun, tidak dikomando siapa pun, dan tidak mewakili kepentingan pihak mana pun. Yang kami punya hanya niat dan tenaga, dan sepenuh hati saya bersyukur diberi kesempatan untuk berada di sana.

-----

Relawan yang memandu saya memperlihatkan lebih banyak lagi reruntuhan dan puing, lantas mengajak saya menyeberangi lahan luas. Di ujung lahan ini terdapat jalan setapak yang akan kami tempuh untuk kembali ke posko. Nyaris tidak ada bangunan utuh di atasnya. Lahan yang dulunya pemukiman padat penduduk telah menjadi tanah rata.

Ralat. Lumpur kering rata. Lahan itu tertutup lumpur kering yang meretak akibat panas matahari.

“Sekarang mah mendingan Mbak, udah bisa buat jalan. Dulu lumpurnya basah, kalo nggak pake sepatu bot, nggak boleh masuk ke sini,” ujar pemandu saya. Saya terdiam. Teringat pada ceritanya sebelum kami berdua sampai ke situ. Hingga hari ini, masih ada beberapa warga yang hilang dan diperkirakan tewas tertimbun lumpur.

“Ada kemungkinan warga yang belum ketemu itu ketimbun di bawah sini?” Mendadak tenggorokan saya seret.

Pemandu saya mengangguk. “Bisa jadi. Tapi udah susah dicari, sih…” ia berjalan mendahului saya. Perlahan, saya menjejakkan kaki di atas lumpur, berusaha mencerna kemungkinan bahwa tanah yang saya pijak masih menyimpan jasad-jasad yang belum sempat dievakuasi. Jasad yang dulunya punya nyawa. Hidup. Manusia. Seperti saya.

Di bawah sini mungkin ada orang.
Di sana pernah ada rumah.
Di situ dulunya kos-kosan tingkat dua...
...dan sebulan yang lalu, mereka semua masih ada.

Kaki saya terus melangkah, namun benak saya tidak henti-hentinya melisankan begitu banyak hal.

Sesampainya kami di posko, rekan-rekan relawan sudah menunggu untuk meninggalkan lokasi. Setelah berpamitan kepada warga setempat, kami berjalan beriringan ke tempat parkir.

“Seneng, udah berhasil lihat tempatnya?” Sahabat saya –penggagas kunjungan ini sekaligus koordinator regu kami— bertanya sambil nyengir.

“Puas, iya. Seneng, nggak,” sahut saya.

Keinginan saya memang kesampaian, namun rasa sakit itu terlalu pekat untuk ditanggung berlama-lama. Luka itu ada dimana-mana. Saya merasa ‘perih’ hanya dengan menjejakkan kaki di atas lumpur kering yang pernah mengubur begitu banyak orang. Saya bersyukur bisa menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri, namun saya tidak yakin ingin kembali ke puing-puing itu.

"Thanks ya, udah bantuin,” celetuk sahabat saya. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan itu seharian ini. Saya mengiyakan. Namun suara kecil di sudut hati saya berbisik, sayalah yang seharusnya berterimakasih.

Waduk yang jebol, bangunan yang luluh lantak, rumah-rumah yang tinggal puing dan rangka, lahan berlumpur yang menyimpan begitu banyak duka dan cerita perih di bawahnya, para korban yang menanggung derita, sorot wajah redup, sinar mata sayu, dan kaki-kaki yang berjalan setengah terseret; kepada kalianlah saya berhutang terima kasih. Bukan karena kalian menyadarkan betapa beruntungnya saya, melainkan karena kalian telah mendekatkan saya kepada hidup.

Tak lama berselang, saya dan sahabat berkendara pulang. Hari semakin sore. Mobil melaju perlahan, bersaing mencapai gerbang tol dengan ratusan kendaraan lain yang menyemuti jalan. Badan saya mulai berteriak-teriak minta istirahat karena malam sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam, namun pikiran saya tidak sudi tenang.

Saya duduk tegak, menatap sahabat saya yang sibuk memindahkan persneling.

"Can you imagine, losing everything in one night?”

Retoris. Saya tahu. Saya hanya harus mencetuskannya, agar benak saya kembali punya cukup ruang untuk memproses berbagai pemikiran yang menyerbu silih berganti. Pemikiran yang mengusik dan menantang saya untuk menilik kembali daftar prioritas yang selama ini tersusun rapi dalam sel-sel kelabu otak saya.

Situ Gintung telah meluluhlantakkan daerah sekitarnya dan menelan korban ratusan jiwa. Menyisakan timbunan lumpur setinggi dua meter, bocah-bocah yang menangis kehilangan orang tua, suami yang kehilangan istri, ibu yang kehilangan anak, dan entah berapa keluarga yang kehilangan tempat berteduh dan harta benda. Pada saat yang sama, ia mengajarkan saya untuk mengalir.

Bila umur memang tidak dapat ditebak, bila tidak ada yang bisa menggaransi berapa sisa waktu saya di dunia, bila saya tidak pernah tahu kapan perjalanan ini akan tiba di ujungnya, bila setiap detik yang berharga ini tidak akan bisa diulang kembali, dan bila perpisahan dengan hidup bisa menggedor pintu saya kapan saja, barangkali daftar prioritas saya memang layak ditata ulang. Dan kali ini, saya tidak menginginkannya tersusun rapi-matang-terencana.

I want a journey. A real one. A grand one. It doesn’t have to be beautiful, but I want it to be real.

Sore itu, saya menggeser beberapa hal yang selama ini bertengger di urutan pertama daftar prioritas saya. Bersamaan dengan itu, runtuh pula sebuah keyakinan yang selama ini saya genggam erat.

Yang terpenting bagi saya ternyata bukan mengisi hidup dengan hal berguna sebanyak-banyaknya. Bukan lagi berpacu dengan waktu untuk memenangkan apa yang disebut kesuksesan. Bukan pula menumpuk amal dan kebaikan. Bahkan, bukan mengisinya dengan jam-jam ibadah panjang demi selembar tiket emas ke Surga.

Yang terpenting bagi saya kini adalah mengalir bersama hidup. Sebaik-baiknya. Seutuhnya. Menjalani setiap momen sebagai sesuatu yang baru tanpa terus terlempar ke masa lalu dan terseret ke masa depan. Menjelang setiap detik sebagai anugerah.

Hidup sepenuh-penuhnya. Itu saja.

Sahabat saya menggeleng, “No.”

Perlahan, saya merebahkan kepala ke sandaran kursi yang dingin terpapar AC. Membiarkan pertanyaan itu tergusur oleh kemacetan Minggu sore dan mobil-mobil yang merayap padat. Membiarkannya tergerus tuntas, karena yang saya perlukan memang hanya melontarkannya agar hati ini kembali lapang.

I can’t, either.

But one thing I know for sure;
Life is precious. Go with the flow.


*Gambar dipinjam dari http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=22257&page=0

Saturday, April 18, 2009

Dilarang Buang Sampah Sembarangan

Sebagai seseorang yang belum lama beredar di blogosphere (dua tahun? Nggak ada apa-apanya itu mah, dibanding ibu ini, jeung ini, dan bapak ini – hai, Senior! ;-D), saya tidak terlalu paham kebiasaan para peselancar maya ketika berinteraksi melalui commenting system. Sejauh yang saya tahu, comsys merupakan sarana interaksi antara seorang blogger dengan para pembaca blog-nya, juga wadah komunikasi antar sesama blogger. Itu thok.

Di awal perintisan karir (halah!), saya sering sekali ‘meloncat’ dari satu blog ke blog lain, melihat-lihat isinya sekilas, dan tancap gas setelah meninggalkan jejak di comsys. Tujuannya? Biar eksis ateuh. Saya sendiri sangat suka membaca komentar-komentar yang dituliskan orang di comsys saya, entah itu respon pembaca, sesama blogger yang juga sedang berjuang untuk eksis, atau sekadar balasan basa-basi dari pemilik blog yang pernah saya singgahi.

Setelah menjalin pertemanan dengan beberapa blogger, kebiasaan saya berkomen-ria-supaya-eksis digantikan dengan kegemaran baru: menyampahi blog orang. Salah dua rumah maya yang sering saya ‘sampahi’, tentunya milik ibu ini dan jeung ini.

Maksud ‘nyampah’ di sini adalah meninggalkan komentar garing atau celetukan omong-kosong nan sektoral yang tidak ada kaitannya dengan entri yang dipublikasikan. Atau, kalaupun ada, porsinya kecil. Yang penting bukan korelasi antara komentar dengan entri, tapi ya... sekadar memeriahkan suasana. Dan walaupun sudah dianggap basi oleh sebagian blogger senior orang, saya tetap suka menuliskan PERTAMAX kalau kebetulan menemukan entri baru yang masih gersang. ;-D

Di satu sisi, meskipun judulnya ‘nyampah’, saya selalu berusaha memperhatikan rambu-rambu etika dalam berkomentar, seperti tidak mendiskreditkan siapapun, tidak mencela orang (dalam konotasi negatif ya, kalau bercanda mah sering), dan kalau kebetulan tergerak untuk berkomentar dengan benar mengungkapkan pendapat –meskipun perspektif saya berseberangan dengan penuturan sang empunya blog— saya selalu berusaha menuliskannya dengan baik. Minimal sopan. Setidaknya, saya menghindari unsur-unsur brutalisme dalam komentar yang saya berikan (maksudnya brutalisme? Kasar, sradak-sruduk, main hakim sendiri, main hajar).

Sebagai peselancar ranah maya yang juga punya blog sendiri, saya tidak memungkiri bahwa setiap tulisan yang saya taruh di blog –begitu ia muncul di halaman utama sebagai sebuah entri— secara otomatis menjadi ‘milik umum’ yang bisa dibaca dan dikomentari siapa saja. At least, itu konsekuensi dari mempublikasikan tulisan yang bisa diakses semua orang.

Sampai sekarang, saya belum berminat memoderasi comsys, meski beberapa teman sudah melakukannya dari jauh-jauh hari. Saya juga tetap anteng ketika seorang kawan berkomentar, “Tunggu aja, nanti juga ada waktunya kamu harus moderasi komen-komen yang kamu terima.”

Sejauh ini, saya belum pernah mendapatkan komentar ngajak berantem yang langsung di-posting di blog saya, meski comment box tidak dimoderasi. Namun, saya sempat merasa prihatin ketika menjelajah blog milik beberapa teman, yang karena satu dan lain hal, menuai cukup banyak komentar miring. Bahkan tidak hanya di comsys.

Seorang teman baru-baru ini menutup shout box di blog-nya, lantaran tidak tahan dengan sampah yang terus dijejalkan ke sana oleh orang-orang tanpa identitas jelas yang -entah bagaimana- merasa berhak ikut campur dalam kehidupan pribadinya seenak jidat. Kasar. Nyinyir. Semena-mena. Main hakim sendiri. Kadang sampai melontarkan kata-kata yang tidak pantas dituliskan di blog pribadi orang lain. Pasalnya sederhana saja, persepsi yang dimiliki teman saya tidak bisa diterima oleh para pengunjung blog-nya. Tidak sejalan dengan paham yang mereka yakini. Tidak seiring dengan konsep ideal mayoritas. Atau semata-mata dianggap berseberangan dengan logika. Dan lucunya, para pengunjung blog ini seolah lupa bahwa mereka hanyalah tamu di rumah maya milik orang lain.

Saya membaca komentar-komentar itu dan bertanya-tanya, begitu tipiskah toleransi yang kita miliki atas kesenjangan persepsi, perbedaan prinsip, atau apa pun yang terjadi di rimba internet tanpa batas ini? Yup, dunia maya yang kita diami bersama ini memang bagai hutan rimba. Tanpa batasan. Tanpa aturan baku. Tanpa hukum. Yang ada hanya lajur tipis etika tanpa label yang muncul dari kesadaran pribadi para penghuninya dan mereka yang senang bermain-main di dalamnya. Dan, sejauh yang berhasil saya amati, memang hanya itu yang menjadi pagar kita dalam berinteraksi satu sama lain: kesadaran pribadi.

Tidak ada salahnya mengadu perspektif yang kita miliki. Tidak ada salahnya mengungkapkan pendapat secara blak-blakan. Tidak ada salahnya melontarkan ketidaksetujuan atas suatu hal. Tidak ada salahnya berseberangan pendapat dan mendiskusikannya secara terbuka. Semua patut dihargai. Semua patut mendapat perhatian. Objektif atau subjektif. Benar atau salah. Semua menjadi relatif, dan tidak ada yang keliru dengan itu. Namun, ketika kesenjangan persepsi dikomunikasikan dengan sesuka hati -melalui beragam asumsi dan komentar yang main hajar semaunya dan main hakim sendiri- bagi saya ada sesuatu yang tidak sehat di sana. Komentar-komentar semacam ini bukan lagi ‘sekadar’ pendapat yang layak memperoleh perhatian, melainkan sampah yang mengganggu. Bukan lagi tak sedap dibaca, namun sudah mencemari batin. Menjadi polusi hati dan pikiran. Mengundang penyakit.

Saya tidak ingin berceloteh panjang-lebar tentang bagaimana menyikapi perbedaan perspektif. Saya tidak akan mengoceh tentang prinsip-prinsip kesopanan seperti guru Pendidikan Moral jaman baheula yang jawaban ulangannya selalu ketebak. Saya tidak menuliskan ini untuk menggurui.

Saya hanya satu dari sekian banyak penghuni ranah maya yang mencintai lahan tempat saya bermain-main ini. Mungkin memang terlalu muluk untuk mengharapkan yang indah-indah di hutan rimba ini, tapi setidaknya saya ingin memelihara harapan itu sedikit lebih lama. Dan untuk itu, saya cuma punya satu pesan, yang mudah-mudahan layak mendapat tempat di hati kita semua, atau paling tidak, berhasil mencuri sepotong perhatian agar upaya saya menuliskan ini tidak sia-sia.

Rimba ini, meski tak berpagar dan tak memiliki undang-undang, adalah tempat yang patut kita jaga bersama agar tetap nyaman ditinggali.

Caranya?

Sederhana saja.

Jangan buang sampah sembarangan kecuali monyet.

-----

Tuesday, April 14, 2009

Catatan Kecil Buat Tuhan

Terima kasih untuk selalu menjadi tempat berpulang saat saya mendamba kehangatan rumah.

Terima kasih untuk senantiasa menjadi sauh saat kapal kecil ini kehilangan haluan.

Terima kasih untuk cinta tanpa syarat yang tidak pernah menuntut balasan.

Terima kasih karena selalu ada. Di dalam sini.

Dan yang terpenting, terima kasih untuk selalu mengingatkan, lagi dan lagi, mengapa saya jatuh cinta kepadaMu.

Ya. Sampai detik ini, saya masih jatuh cinta. :-)


You feel that you are lonely
It doesn’t prove that you are alone
You feel that nobody wants you
It doesn’t mean that no one cares about you

Listen to the word I say
That I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
‘Cause I love you so

You think that you are nothing
But for Me you are something beautiful
You think that you can’t do anything
But you can do a lot of things with Me

Listen to the word I say
That I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
‘Cause I love you so

No more fear about the future
And blame for the past
I’ll give everything
W
hen I say that I love you

When I say that I love you
I really do.

(When I Say That I Love You – Franky Sihombing)


*Inspired by this song, and this.

**Thanks to Franky Sihombing, jenius pencipta lagu-lagu di atas. Lo emang juaranya, Bang!
:-)

***Gambar masih dari www.sxc.hu.

Sunday, April 12, 2009

Bebas Merdeka

“Bingung kenapa hari gini masih ada orang yang jadi Golput! Heran kenapa sih udah punya hak, disuruh milih aja gak mau? Apa salahnya mempertahankan kemerdekaan? Belum juga disuruh perang!"

Omelan yang saya baca di sebuah situs pertemanan itu membuat saya cengar-cengir. Versi aslinya lebih puanjang dan galak, yang tentunya saya diskon untuk ditampilkan di sini in case kebaca sama yang nulis demi terjaganya perdamaian dunia.

Maaf kalau terkesan menyepelekan patriotisme, namun bagi saya, omelan itu menggelikan sekaligus mengundang niat usil. Tapi, berhubung koneksi internet sedang jelek, saya tidak jadi memberikan komentar.

Sejujurnya, saya tidak merasa ada yang salah dengan menjadi Golput. Tidak memilih adalah sebuah pilihan juga. Dan alasan di balik keputusan untuk ‘menjadi putih’ tentunya hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan, toh?

Kelucuan kedua, somehow saya merasa, urusan pilih-memilih ini tidak ada hubungannya dengan mempertahankan kemerdekaan. Silakan protes, tapi sungguh, bagi saya, memilih atau tidak memilih tidak lantas menjadikan seseorang berjiwa patriotik ataupun anti-kemerdekaan. Lepas dari berbagai pemikiran yang melatari keputusan seseorang untuk ‘mutih’, ia hanya menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih. Itu saja.

Membaca omelan tersebut, saya jadi bertanya-tanya sendiri, memang apa sebenarnya arti kemerdekaan? Istilah itu sangat familiar, karena saya murid teladan yang sejak SD tidak pernah absen upacara bendera dan tidak pernah melewatkan 17 Agustus-an. Tapi, entah kenapa, kata ‘merdeka’ sering sekali membuat telinga saya gatal. Mengganjal di pikiran. Kalau menurut ilustrasi teman saya, seperti upil yang ngegantung di dalam hidung. Kecil tapi ganggu. ;-D

Merdeka?

Memangnya sudah?

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu, saya begitu sibuk ‘bertempur’. Betapa sering saya merasa kurang, harus mencapai lebih, selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan berusaha mati-matian untuk berubah demi menyenangkan orang yang saya sayangi. Tidak pernah ada yang cukup dari diri saya, dan saya selalu bergumul untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang saya buat.

Entah berapa lama ini berlangsung. Seingat saya, pergumulan itu sudah ada sebelum saya menginjak usia remaja, dan stadiumnya semakin menanjak seiring bergulirnya waktu. Terus, dan terus. Sampai akhirnya saya terkapar.

Suatu malam, setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan dengan rasa frustrasi yang kian menumpuk, saya mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya.

Saya lelah bergulat dengan diri sendiri. Saya lelah lari. Saya lelah 'berperang', bahkan untuk sekadar membela apa yang saya anggap benar. Bukan karena saya tidak lagi percaya, bukan pula karena tidak ingin bertahan, melainkan karena ‘kebenaran’ yang dijejalkan terus menerus membuat saya penat.

Saya sampai pada satu titik dimana saya tidak lagi memiliki energi untuk melangkah; saya mengkerut di pojokan, bersimbah peluh, terengah-engah, dan di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya: “Buat apa?”.

Di sana, untuk pertama kalinya, saya tersadar, bahkan seandainya saya meraih segala hal yang saya perjuangkan, ketidakmampuan untuk berdamai dengan diri sendiri tidak akan membuat saya bahagia. Tidak akan membuat saya berhenti. Saya hanya akan menagih untuk mendapatkan lebih dan lebih, karena saya terus merasa kurang dan kurang. Dan apa gunanya semua yang saya capai, jika saya bahkan tidak bisa beristirahat untuk menikmatinya?

Di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Jawaban itu sederhana saja.

Saya ingin bebas.

Dan jawaban yang sama telah memutar hidup saya 180 derajat, hingga detik ini.

:-)

Bagi saya, bebas (atau merdeka, mumpung masih anget Pemilu ;-D) adalah ketika saya dapat jujur sepenuhnya kepada diri sendiri dan orang lain mengenai apa yang saya rasakan. Merdeka adalah ketika saya sanggup menyampaikan isi hati saya dengan tuntas, jelas, dan lengkap tanpa menuntut untuk dipahami.

Merdeka adalah ketika saya mampu mengalir dan berserah sepenuhnya kepada Hidup. Mengijinkan setiap rasa hadir tanpa berusaha menolak atau mencengkeram. Menerima jatah yang telah digariskan bagi saya sesuai dengan jalan yang saya pilih sebelum menandatangani kontrak dengan dunia.

Merdeka adalah ketika saya menatap diri saya di cermin dan mencintai sosok yang terpantul di sana, apa adanya, seutuhnya. Meski ia tidak serupa dengan gambaran mengenai kecantikan atau postur tubuh ideal.

Merdeka adalah ketika saya mampu berkata, “Saya bahagia, dan tidak ada yang ingin saya ubah dari hidup saya”, dan pada saat yang sama membuka tangan dan hati lebar-lebar untuk mengijinkan kebahagiaan pergi jika sudah waktunya.

Merdeka adalah ketika saya sanggup berkata kepada orang-orang yang saya cintai, “Saya sayang kamu, apa adanya”, dan menyediakan telinga bagi mereka tanpa menilai, tanpa menghakimi, karena tempat mereka bukan di otak, melainkan di hati.

Merdeka adalah ketika saya melongok ke dalam batin, menjumpai apa pun yang ada di sana dan mampu menerimanya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bertumbuh dan berproses. ‘Jenny’ tidak harus selalu baik. ‘Jenny’ tidak harus manis. ‘Jenny’ tidak harus senantiasa berwarna-warni cerah. Label itu tidak perlu ada.

Merdeka adalah ketika saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya dan merasakan kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama mereka.

Merdeka adalah ketika saya mengalami secara langsung apa yang saya sebut sebagai ‘kebenaran’, tanpa melalui tangan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dan mampu hidup di dalamnya tanpa berniat menjejalkan kebenaran yang sama kepada orang lain.

Saya paham jika kemudian timbul protes: “Jen, ‘merdeka’ versi lo dengan kemerdekaan bangsa lain kaleee konteksnya.” Memang. Namun, bagi saya, kemerdekaan sejati hanya bisa dimulai dari diri sendiri. Dan kemerdekaan bangsa pun tidak semata ditentukan oleh status ‘bebas-mandiri’ yang disahkan melalui teks proklamasi. Selama peperangan di dalam diri belum berhenti, barangkali makna ‘kemerdekaan’ yang kita ketahui patut dikaji ulang. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk mulai mempertanyakan, sudahkah kita merdeka? :-)

Semua orang berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, dan tulisan ini tidak dibuat untuk menetapkan ‘standar’ bagi siapa pun. Tulisan ini hanya proyeksi dari konsep personal yang saya miliki tentang kebebasan dan kebahagiaan, dan setiap orang bebas memiliki serta menyuarakan konsep masing-masing.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari hidup saya adalah kesempatan untuk menulis yang terus ada. Bagi saya, menulis adalah sarana pencarian jati diri, dan pada saat yang sama ia memberi saya peluang untuk menguras apa saja yang tersangkut dalam batin, membersihkan sumbat pikiran, dan melapangkan hati. Setiap kali saya membuka komputer untuk menulis, selalu ada lapisan-lapisan baru yang tersingkap. Selalu ada permata yang berhasil saya gali, dan salah satunya baru saja saya temui.

Malam ini, selagi benak dan jemari saya berlomba merangkum dan menuliskan kata demi kata, saya semakin tahu mengapa saya mencintai meditasi.

*"Meditasyi lagi, meditasyi lagiii... mbok yaaaaaa." Come on, say it! Hehehe.*

Meditasi mempertemukan saya dengan diri sendiri. Meditasi mempertemukan saya dengan ‘Jenny’ yang bukan hasil pengkondisian lingkungan sekitar. Saya mampu terbang mengatasi ranah ideal dimana konstruksi citra didewakan di atas segalanya, dan meski saya tidak bisa meninggalkan ranah itu untuk selamanya, sepasang sayap ini akan terus ada.

Meditasi memperkenalkan saya pada kehidupan yang sejati. Saya belajar mencintainya apa adanya, dan di sana, untuk pertama kalinya, saya sungguh-sungguh tahu, apa itu merdeka. :-)


*Gambar (masih) dipinjam dari http://www.sxc.hu

Monday, April 6, 2009

Wajah Jakarta

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah yang hilir mudik memainkan kecrekan sambil menempelkan wajah di jendela mobil pada suatu siang yang panas terik, sementara tak jauh dari situ seorang bayi kurus menggeliat dalam gendongan seorang perempuan di perempatan lampu merah.

Wajah Jakarta adalah tongkat bergagang besi yang mengoreki tempat sampah semen. Pemiliknya adalah pemulung yang harap-harap cemas berebut rezeki dengan kucing gendut, tikus got dan lalat.

Wajah Jakarta adalah aroma menyengat di bantaran sungai yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah berdinding papan. Bila kau pasang telingamu baik-baik, dapat kau dengar dari dalam isakan bocah perempuan yang sudah dua hari panas demam.

Wajah Jakarta adalah pisau dingin berkarat yang dipakai menakut-nakuti pelajar berseragam dan wanita berkalung emas di angkutan kota. Sebuah pelajaran berharga bisa kau petik dari sana: jangan menaruh HP di saku celana, jangan memakai perhiasan di dalam bis, dan simpan dompetmu jauh-jauh di tempat yang tak terogoh.

Wajah Jakarta adalah pengamen yang bernyanyi sumbang di bis oranye sambil menadahkan kantung bekas keripik dan preman yang menadahkan tangan minta uang dengan paksa. Pelajaran berharga kedua: selalu siapkan recehan lebih dari cukup. Kita tak pernah tahu.

Wajah Jakarta adalah kelelahan yang menggurat wajah seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan map berisi surat lamaran kerja yang mulai lecek setelah ditenteng seharian. Di rumah, anak-istrinya menunggu dengan penuh harap. Hari ini Ayah pasti pulang bawa rejeki.

Wajah Jakarta adalah letusan kembang api yang gegap-gempita membelah angkasa dan bisa kau saksikan dari jarak belasan kilometer pada malam pergantian tahun, yang kata tetangga sebelah, “Nggak mahal kok, delapan juta aja.”

Wajah Jakarta adalah jendela-jendela mobil yang kacanya dihitamkan sehingga mustahil untuk sekadar diintip. Hawa di dalam situ tak pernah segarang terik matahari. Udaranya sejuk dan selalu wangi parfum, dan selalu tersedia air mineral penangkal dahaga jika kau haus.

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah berseragam yang menenteng telepon genggam dan permainan elektronik, sementara pengasuhnya berjalan di belakang membawakan tas sekolah, botol minum, dan kotak bekal makanan.

Wajah Jakarta adalah remaja belasan tahun bergaya Harajuku yang sakunya terisi kartu kredit warisan orang tua dan Blackberry seri terkini yang baru saja di-upgrade. Dan jangan lupakan Louis Vuitton KW-1 yang sesekali mereka tenteng dalam gaya yang berbeda.

Wajah Jakarta adalah butik berskala internasional yang dengan mudah kau temui di pusat perbelanjaan raksasa, yang menempelkan label puluhan hingga ratusan juta pada sebuah tas cantik dari kulit.

Wajah Jakarta adalah langkah tergesa kaki-kaki yang dibungkus sepatu berhak tinggi dan pantofel berkilap yang bersanding dengan tangan-tangan menengadah di jembatan penyeberangan.

Wajah Jakarta adalah gemerlap lampu warna-warni yang berpendar diiringi musik menghentak dan cairan merah di gelas-gelas kristal dalam geliat malam yang masih muda.

Wajah Jakarta adalah anak laki-laki berbaju kusam yang menatap iri saat kita bergandengan tangan menyusuri trotoar di sebuah malam minggu sambil makan es krim. Wajah Jakarta adalah senyumnya yang terkembang saat kau gandeng tangan mungilnya ke abang penjual es dan mempersilakannya memilih rasa yang ia suka.

Wajah Jakarta adalah pengemis berkaki buntung yang tak henti-henti mengucapkan terima kasih saat kau cemplungkan selembar ribuan ke gelas plastiknya. Dalam syukurnya ada doa agar panjang umurmu selalu.

Wajah Jakarta adalah anggukan tulus pedagang kaki lima saat kau bayarkan sejumlah rupiah sebagai penglaris jualannya pagi ini tanpa minta kembalian.

Tahukah kau apa yang terlintas di benakku hari ini, saat memandangi Jakarta dan pencakar-pencakar langitnya dari kaca gedung bertingkat tempat kita menghabiskan sembilan jam dalam sehari?

Jakarta sesungguhnya tak pernah miskin. Ia hanya lupa menoleh pada yang terpinggir.


(suatu malam, dalam keramaian sebuah festival musik di jantung ibukota)


*Gambar dipinjam dari: http://media.photobucket.com/image/monas,%20foto/dave_win2/jakarta/monas.jpg

Friday, April 3, 2009

Bahagia Versi Saya

...adalah ketika saya melihat hidup saya, diri saya, apa adanya, dan menyadari tidak ada sesuatu pun yang ingin saya ubah.

Hidup tidak selalu indah. Tapi ia sempurna. Dan untuk itu, kata yang paling pas barangkali hanya "Terima kasih".

Sungguh, Tuhan. Tidak ada yang lain.

.....

Well, setidaknya untuk saat ini. ;-)



*Gambar dipinjam dari www.sxc.hu.