Sunday, February 25, 2007

Tentang Nurani, Untuk Semua.


Nurani itu...
Sesuatu yang nggak bakal bisa kita tutup-tutupin
Walau kecil, dia akan tetap berbisik
Cuma kadang-kadang, kita-nya aja yang nggak denger
Atau pura-pura budek.

Nurani itu...
Nggak akan bisa ditipu
Nggak peduli kita pake cara apa, gimana, kapan, dan sama siapa.
Karena dia murni
Dan dia nggak palsu.

Nurani akan selalu berusaha ngomong sama kita
Negur kalo kita salah
Ngingetin kita
Ngasih peringatan ke kita
Dan bikin kita nyaman saat kita ngelakuin sesuatu yang bener.

Tapi inget,
Nurani nggak bisa dibo’ongin
Karena dia adalah bagian terdalam dan tersejati dari kita
Nurani kita, ya diri kita sendiri.

Nurani nggak akan bisa dikibulin
Dengan perbuatan baik dan kata-kata manis
Karena dia selalu menyuarakan isi hati kita yang terdalam.
Motivasi kita, keinginan kita, alasan-alasan kita.

Kalo kita bersikap manis dengan sikap hati yang salah,
Itu namanya ngejilat.
Kalo kita berbuat baik dengan motivasi yang nggak bener,
Itu namanya nyogok.
Kalo kita ngomong yang bagus-bagus dengan ‘agenda’ terselubung,
Itu namanya muna.
Kalo kita berubah jadi ‘lebih baik’ tanpa disertai keinginan tulus dari hati, itu namanya palsu...

Tanya deh sama nurani elo,
Hari ini, berapa kali elo nggak dengerin dia?
Berapa kali elo nyuekin dia?
Berapa kali elo bilang ke dia, “ah tapi kan yang gue lakuin ini baik!”,
justru di saat dia ngomong, “tapi kan, ... (sebut nama elo), walaupun baik, motivasinya salah...”

Berapa kali elo ngebungkam suara nurani elo
Untuk ngedapetin yang elo mau?
Berapa kali elo nyuruh dia diem
Supaya dia gak ganggu-ganggu elo lagi?
Berapa kali elo ngebantah bisikannya
Demi mencapai keinginan elo?

Kalo seandainya nurani bisa ngomong,
Mungkin dia bakal teriak:
“Plis dong dengerin gue.
Gue cuma pengen yang terbaik buat elo.
Nggak lebih...”

Nurani adalah suara kecil yang berbisik
mengingatkan saat kita lupa,
menegur saat kita salah,
menenteramkan saat kita taat,
menguatkan saat kita ikuti,
dan diam saat kita membungkamnya...

Saturday, February 24, 2007

Senyum Itu Nggak Mahal, Kok...


Tadi sore saya mampir ke mal Taman Anggrek. Niatnya sih CUMA pengen beli Starbucks lantaran ‘ngidam’ Vanilla Latte-nya, sekaligus cari novel di Gramedia. Yang ada, saya malah ‘nyasar’ di Metro, asyik melototin lilin-lilin lucu, dan end up beli tiga biji, hihihi…

Jadilah saya antri di kasir, di belakang dua ibu-ibu. Awalnya, saya nggak terlalu memperhatikan mereka. Saya sibuk dengan pikiran sendiri. Tapi lama-lama, jadi merasa terusik juga. Tunggu punya tunggu, kok antrian di depan gue ini gak gerak-gerak yaaa... Mandek. Usut punya usut, ternyata ada perdebatan seru di meja kasir.

Yang mengantri persis di depan saya kayaknya ibu rumah tangga biasa (dari cara berpakaian dan belanjaannya – 3 buah piring). Yang di depannya lagi, mungkin ibu rumah tangga juga, tapi yang ‘luar biasa’. Ibu terakhir ini (sebut aja ‘Ibu X’) sepertinya kurang percaya dengan harga belanjaannya, sedangkan para petugas kasir (sekitar 4 orang) yakin bahwa mereka enggak salah harga. Kebayang, dong?

Ibu X bicara dengan nada tinggi.
Mbak di balik meja kasir berusaha tetap ramah dan sabar.

Ibu X mencondongkan badan ke atas meja, melotot.
Seorang karyawan pria mengambil alih kasir, mencoba menjelaskan duduk persoalan se-clear mungkin.

Setelah bermenit-menit.....

Ibu X: “Hhhh... ya udah deh. Gak salah, kan?! Nih." (membuka dompet, mengeluarkan credit card dengan dagu sedikit terangkat)
Petugas kasir: “Terima kasih, Bu. Barangnya mau dibawa atau dititipkan dulu?” (karena yang dibeli si Ibu adalah beberapa buah kalung)
Ibu X: “Bungkus aja deh! Saya mau langsung ke mobil.”
Sebelum si petugas sempat merespon, Ibu X sudah keluar dari antrian. Dagunya terangkat, keningnya berkerut, wajahnya jutek.

Yang ada di otak saya cuma satu, kasihan bener nasib karyawan nggak bersalah itu. Sudah capek melayani orang sepanjang hari (berdiri di meja kasir berjam-jam bukan pekerjaan enteng, apalagi pas weekend begini. FYI, di Metro lagi ada sale. Kebayang kan ramenya..), harus nerima omongan sinis dan wajah jutek mentah-mentah, dan setelahnya tetap harus melayani pembeli dengan ramah.

Saya cuma bisa maklum ketika Mbak kasir tidak bersikap seramah biasanya. Ketika menyerahkan kembalian saya, ia mengucapkan terima kasih dengan lirih dan senyum dipaksa.

Saya membawa belanjaan kecil saya menuruni eskalator. Di sana, sambil memandang orang yang sibuk lalu-lalang di antara tulisan sale dan karyawan-karyawan berseragam putih, muncul pemikiran kedua:
Apa salahnya, ya, kalau kita bersikap baik terhadap orang-orang yang sudah melayani kita dengan ramah? Nggak ada salahnya, kan? Being nice to customers memang sudah jadi kewajiban mereka, tapi kayaknya, seulas senyum yang kita berikan dengan tulus bisa membuat hari-hari mereka yang melelahkan terasa lebih berarti...


Ponakanku yang super ngguanteng --->
Nothing compares to your smile, Beyb! *halahhh*
Miss you so much :)

Thursday, February 22, 2007

Gerimis. Mendung. Kelam.


Satu hal yang bikin saya suka naik angkot: bisa ketemu banyak orang, mengamati mereka, dan (syukur-syukur) bisa mengambil 1 atau 2 pelajaran -- kalau pas ada peristiwa berkesan.

Rabu kemarin, cuacanya enak banget untuk tidur. Gerimis, agak dingin, dan saya duduk pas di seberang pintu angkot. Waktu sedang enak-enaknya ngehayal, wah enak nih kalo di rumah. Leyeh-leyeh di ranjang sambil nonton DVD, minum teh anget, sambil nyalain lilin arometerapi… mendadak HP penumpang di sebelah saya berbunyi.

Saya selalu takjub dengan para penumpang yang nggak segan-segan ngobrol pakai HP di angkot. Berhubung angkot yang saya tumpangi (dulu) pernah dinaiki 5 orang preman di tengah jalan -dan mereka mengambil dompet seorang penumpang yang hendak turun- saya selalu menganggap tindakan ber-HP ria dalam angkot adalah perbuatan yang super berani. Termasuk penumpang di sebelah saya itu.

“Elu kemaren dateng ke kawinannya si Putri? Nggak, gue gak dateng. Pas dia married kan banjir, gue gak bisa kemana-mana. Elu dateng?”

Saya memilih untuk pura-pura budek dan memejamkan mata. Anginnya enak banget.

“Tadi si Putri SMS gue. Dia bilang, ‘jahat lo, pas gue kawin gak dateng. Sekarang suami gue udah meninggal’. Iya Ji, dia beneran SMS gitu ke gue. Elo sebenernya tau gak sih dia udah married??"

..... --> ngedengerin dengan khusuk sambil pasang tampang innocent dan ngadep ke arah supir. Okay, okay, nguping obrolan orang emang perbuatan terlarang, tapi kalo elo jadi gue juga pasti tertarik kan? Lagian nih orang duduk persis di samping gue.

“Putri lagi di mertuanya sekarang. Ntar malem kita ngelayat ya? Ajak yang lain juga, bareng-bareng. Kasian tu anak, baruuu married kemaren. Gue kaget banget pas dapet SMS-nya... Kenapa? Suaminya? Kalo gak salah, sih, paru-paru basah…”

Mendadak gerimis di luar jadi terasa begitu suram buat saya.

Saturday, February 3, 2007

Hangatnya Cinta :)


Jam 7 pagi, seseorang menggedor pintu ruangan tempat saya menginap (di lantai 3 gereja). Si penggedor ternyata pembantu sahabat saya, yang terengah-engah lari untuk memberitahu, “Mbak Jenny dipanggil Ibu. Disuruh turun, katanya ada yang kebanjiran!”

Saya bengong sejenak, enggak mudeng. Banjir? Siapa? Kapan? KOK BISA??? Rumah sahabat saya terletak di bagian depan kompleks perumahan Gading Serpong, berpunggungan dengan ruko-ruko yang memiliki direct access dengan pintu keluar tol – atau dengan kata lain, nyaris mustahil disinggahi banjir.

“SIAPA yang kebanjiran?”
(ngos-ngosan) “Nggak tau, Mbak.”
“Banjirnya di rumah?” (belakangan baru nyadar, betapa begonya pertanyaan saya ini!)
“Rumah nggak banjir Mbak, hhh… hhh…”
“Jadi di tempat siapa banjirnya? Staff kantor?”
“Bukan Mbak. Nggak tau, Ibu cuma bilang ada yang kebanjiran.”

Yang kebanjiran adalah jemaat gereja kami, sebuah keluarga kecil dengan dua putri yang masih balita. Seberapa parah banjirnya? Sebatas dada orang dewasa. Ketika mendapat kabar tersebut, Gembala saya (dengan 2 orang teman) langsung menuju lokasi untuk mengevakuasi si jemaat. Rumah jemaat itu terletak di pemukiman sederhana yang memiliki 2 akses masuk. Salah satunya melalui ‘jalan belakang’ (dengan tepian rawa-rawa), satunya lagi akses langsung dari depan perumahan yang arus(banjir)nya deras. Aparat keamanan tidak berani memasuki kompleks tersebut, dan hanya ‘berjaga’ di depan pemukiman. Gembala dan 2 orang teman saya, dengan berani menerobos arus menggunakan ban karet bekas. Bekalnya? Keberanian, dan keyakinan bahwa Tuhan takkan pernah lepas tangan.

Ketika keluarga itu sampai di kantor gereja, yang pertama terlintas di benak saya cuma 2 kata: “YA TUHAN.”
Mereka basah kuyup, gemetar kedinginan dan kelaparan, tanpa membawa apapun kecuali selembar jaket dan handphone. Mata sang Ibu memerah karena menahan dingin dan tidak tidur semalaman. Saat kami menyodorkan teh hangat, matanya berkaca-kaca. Setelah dimandikan, kedua balita kami dudukkan di sofa. Pemandangan yang mengharukan bagi siapapun, melihat kedua bocah itu duduk berdempetan terbungkus selimut dan menatap polos pada orang-orang yang datang. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan momen berharga itu.

Bantuan demi bantuan tiba, dan terus mengalir. Seorang jemaat datang membawakan pakaian anaknya untuk dipakai bocah-bocah tersebut. Beberapa orang lain, memberi diri jadi sukarelawan dadakan untuk membeli makanan dan membagikan pada korban banjir lain yang masih terjebak di lokasi. Pakaian, makanan, peralatan, sandal, bahkan –maaf- pakaian dalam terus berdatangan. Tuhan mengetahui apa yang dibutuhkan keluarga kecil ini, dan Ia menitipkannya pada orang-orang murah hati yang dengan sukarela memberi yang terbaik dari yang mereka miliki.

Malam itu, mereka sekeluarga tidur nyenyak di lantai 3. Paginya, seorang jemaat dari Bintaro mengetuk pintu gereja, membawa tas besar berisi pakaian anak-anak, selimut bayi, dan sekantung kue kering. Ketika saya naik untuk mengantar benda-benda tersebut, saya tertegun.

Di ruangan itu, di antara tumpukan kasur dan spring bed tua, terletak berkantung-kantung pakaian, buku cerita anak-anak, Alkitab, botol-botol minuman, berdus-dus susu bayi, kue kering, dan banyak lagi. Ruangan luas yang tadinya ‘dingin’, kini terasa hangat oleh aroma minyak kayu putih… dan bergalon-galon cinta.

Cinta orangtua yang tidak tidur semalaman demi menjaga buah hati dan menyediakan secercah rasa aman, walau mereka sendiri ketakutan.
Cinta seorang gembala yang rela menempuh arus deras sebatas dada demi menyelamatkan sebilangan kecil jemaatnya.
Cinta para sahabat yang memberi dukungan dan bantuan untuk meringankan kesusahan mereka yang sudah dianggap keluarga sendiri.
Cinta sesama jemaat yang mengulurkan pertolongan tanpa berpikir dua kali demi membagi sekelumit kasih.
… cinta Tuhan yang tak pernah tidur, dan tanganNya yang tak pernah alpa melukis pelangi -- di tengah badai terburuk sekalipun.

Ruangan yang tadinya hampa, kini ceria dengan berbagai benda dalam bermacam jenis dan ukuran.
Dari hamparan luas kasur sampai dot bayi yang mungil, saya melihat kehangatan cinta sebuah Keluarga.





Kiara & Egi, semoga bahagia dan sehat selalu, ya...

Tuesday, January 30, 2007

There's A Kid In Every Grown-Up. Now and Then.


Hari ini, usia saya tambah 1 lagi. Gosh, I couldn’t believe I’m already 23!
Kayaknya baru kemarin saya berangan-angan dalam seragam sekolah, pengen cepat gede! It seemed so fun to be a grown-up. Sampai seorang teman (yang usianya sudah lebih dari kepala 2 kala itu) nyeletuk, “kamu mau cepet-cepet gede? Liat aja nanti, masuk 20 juga kamu pengen balik lagi ke masa kecil!”

Well, kalau ditanya sekarang, pilih mana?
Tentu saya akan mengakui, lebih enak jadi anak belasan tahun dalam seragam putih-abu. Segala sesuatu tampak lebih mudah, dan sederhana. Enggak perlu ribet mikir cari penghasilan, karena setiap bulan ada jatah khusus dari orangtua. Enggak perlu kerja, karena tugas kita hanya sekolah (dan dapat nilai bagus, tentunya, hehe…) Masalah yang dialami, ya paling berkutat di seputar wilayah seragam putih-abu itu. Nilai jeblok, putus pacar, berantem sama teman, diomeli ortu, dan titik. Hidup jauh lebih simpel.

Tapi, kalau kembali ke pertanyaan awal – mau pilih mana? Saya akan memilih kehidupan saya yang sekarang.
Dulu saya naif, sekarang saya lebih bijaksana. Dulu saya kekanak-kanakan, sekarang saya lebih dewasa. Dulu saya cengeng, sekarang saya lebih tough. Dulu saya bertindak sesuka hati, sekarang saya belajar merespon dengan sepatutnya. Dulu saya rapuh, sekarang saya lebih kuat. Dulu saya berada dalam cangkang kayu, kini saya siap menghadapi dunia. Semakin bertambah usia, saya belajar artinya melihat dengan mata yang bijak dan memiliki hati yang besar.

Melalui interaksi dengan berbagai jenis orang dan situasi yang berbeda, saya belajar arti kehidupan. Melalui keberhasilan, saya belajar tetap membumi. Melalui kegagalan dan rasa sakit, saya belajar arti konsistensi dan ketekunan, yang akhirnya menjadikan saya pribadi yang tidak mudah menyerah. Melalui harum bunga dan hangat mentari, saya belajar makna kebahagiaan sejati. Melalui awan gelap, saya belajar bersabar menanti pelangi. Dan hidup itu sendiri --terlepas dari apapun yang saya alami-- tetaplah indah, karena hidup adalah hadiah terbesar dari Sang Pencipta.

Sekarang saya sudah 23, dan lebih dewasa. Tapi 1 doa saya, semoga usia yang terus bertambah ini tidak membuat saya kehilangan kesederhanaan untuk menilik hidup dari mata seorang anak kecil. Mata yang penuh ketulusan dan terus berharap. Mata yang selalu murni dan penuh cinta. Mata yang tidak terkontaminasi oleh kerasnya hidup, melainkan sungguh-sungguh percaya. Mata yang tidak memandang badai sebagai sesuatu yang menakutkan, namun justru melihat asyiknya bermain hujan.


There’s a kid in every grown-up.
Semoga sisi kanak-kanak ini tidak akan pernah hilang dari diri saya.

Saturday, January 27, 2007

Kala Mati Lampu

Tadi malam, waktu sedang asyik-asyiknya mengedit cerpen terbaru, tiba-tiba ‘pett…’ lampu mati. Setelah diam beberapa saat dan mata mulai terbiasa dengan kegelapan, saya mengambil handphone (yang untungnya masih nyala, padahal baterainya sudah sekarat), lantas mendial sebuah nomor.

Enggak sampai semenit, saya sudah ngomel-ngomel pada petugas PLN pertama yang cukup apes untuk mengangkat telepon. Si petugas hanya bisa pasrah – atau cuek (mengingat suara belernya yang khas baru bangun tidur), dan meresponi sekedarnya. Sama sekali tidak cukup untuk mengikis kejengkelan saya setelah lampu mati untuk KETIGA KALINYA hari itu.

Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali cuci muka dan bersiap tidur. Udara supergerah. Akhirnya saya naik ke tempat tidur dan melotot sampai nyaris jam 4 pagi -- sama sekali nggak bisa tidur. Well, seperti banyak peristiwa lain yang selalu bisa diambil hikmahnya kalau kita mau, saya lantas memanfaatkan ‘kesempatan’ ini untuk menyepi sejenak.

Saya berpikir. Saya merenung. Saya mencoba menelaah, ditemani iPod yang baterainya tinggal separuh. Yang ditelaah? Macam-macam. Setengah jam pertama, saya sibuk nggerundeng dalam hati, mengutuk kinerja petugas PLN yang sama sekali tidak sepadan dengan nominal yang dibayarkan setiap bulan (menurut saya lho). Bayangkan, dalam seminggu kompleks saya ini bisa 2-3 kali mati lampu. Menyebalkan, terutama karena gardunya beda sendiri dengan kompleks-kompleks tetangga. Kalau mati lampunya massal, masih lumayan. Yang ngeselin kalau tiba-tiba ‘pett…’, dan saudara/teman yang juga tinggal di daerah sini (tapi beda kompleks dan beda gardu) ngeledek, “rumah gue terang-terang aja, tuh!” Tapi sebetulnya, yang paling jadi masalah bukan mati listrik, melainkan peranti elektronik yang otomatis jadi menyusut umurnya kalau terus-terusan on-off macam ini. Mau marah rasanya, tapi sama siapa? Ya paling sama petugas-petugas PLN yang kurang beruntung itu.

Walau jarang terlisan, saya sering menyayangkan etos dan kinerja yang dianut banyak sekali orang di negara tercinta ini. Mulai dari pelayanan di tempat-tempat umum macam minimarket, mal, de-es-be-nya; pekerja profesional (kantor, perusahaan, pabrik, dst); fasilitas milik negara (karena walaupun judulnya ‘punya pemerintah’, kadang kala dijalankan dengan cara yang jauh dari mewakili imej tersebut); sampai para aparat negara -- yang sebetulnya punya otoritas untuk selalu membawa pengaruh dan perubahan ke arah yang lebih baik, bukannya ‘ngerampok’ para pelanggar aturan dengan excuse ‘win-win solution’ (BAH!)

Well, sebagai masyarakat biasa yang nggak kuasa berbuat banyak (dan cari aman juga), saya hanya bisa ngomel dalam hati.
Nggak guna memang, tapi mau gimana lagi? Toh nggak penting buat dipikirin juga, batin saya. Setiap orang kan punya cara kerja yang beda-beda. Mungkin memang saya yang saklek.

Semalam, akhirnya saya punya cukup waktu untuk menilik ulang pemikiran tersebut.
Betulkah nggak penting? Kalau nggak penting, kenapa kondisi negara ini tidak juga mengalami perubahan signifikan? (halahh… gue kayak yang kerjaannya bantuin SBY ngurus negara aja) Kenapa dari waktu ke waktu, hal-hal seperti ini justru menjalar seperti kanker yang menggerogoti negara yang (sedang) ingin bangkit dari keterpurukan? Kita ingin membangun Indonesia Baru, tapi mentalitas dan core values yang terlanjur terbentuk dalam masyarakat (saya enggak berani pakai istilah yang lebih tinggi dari ‘masyarakat’) menawarkan ending yang sama sekali berbeda dari terciptanya Indonesia Baru. Sebagian orang bilang, itu namanya mentalitas penjajahan. Menurut sebagian yang lain, itu dampak dari keberadaan kita sebagai bangsa kelas tiga. Komentar-komentar yang lain, terlalu kasar untuk ditulis di sini.

Sebagai warga Indonesia yang mencintai tempat kelahiran ini, saya tidak setuju dengan pendapat yang lebih banyak nyela-nya daripada ngasih solusi. Tapi, izinkan saya mengungkapkan unek-unek yang sudah sekian lama terpendam. Bukan berniat sok-sokan, bukan juga merasa yang paling benar. Hanya sekedar pemikiran pribadi: Tanpa perubahan mendasar pada mentalitas dan values dalam aspek-aspek tertentu di masyarakat, kok ya sepertinya perubahan signifikan masih akan lama sekali kita lihat.

Make-up 4 lapis bisa membuat seseorang kelihatan cantik, tapi tidak membuat wajah aslinya berubah. Mungkin karena itulah kita lebih suka menumpuk foundation dan bedak ketimbang memberi perhatian ekstra pada kulit ini. Kita suka pada perubahan instan yang fantastis. Kita memilih membayar mahal untuk serangkaian produk kecantikan yang bisa membuat kita berkilau dalam hitungan menit, namun ketika kembali ke rumah dan mengoleskan susu pembersih ke wajah, diri kitalah yang paling tahu, apa yang sebetulnya terdapat di balik semua lapisan itu. Tapi, sekali lagi kita mengabaikan yang kita lihat, dan lebih suka menikmati sensasi kecantikan artifisial. Dan seperti itulah kita menjalani hidup, hari demi hari. Memoles permukaan yang kasat mata seapik mungkin, dan mengingkari kebenaran di baliknya.

Kaitannya dengan pembahasan di atas?
Silakan renungkan sendiri.
At least, lepas dari apapun yang bakal jadi perspektif dan pendapat Anda, ada 1 hal yang saya dapat -- hasil ‘perenungan’ semalam.
Saya bertanya, ‘kenapa’, ‘kenapa’, dan ‘kenapa’.
Jawabannya muncul dengan amat simpel.
Bukan berupa ‘karena’, bukan juga pernyataan panjang lebar.

‘Kenapa??’
‘Untuk itulah kalian ada.’

Friday, January 5, 2007

"Ga Pa-pa-pa-pa!"


Ini adalah Alex, putra sahabat saya. Usianya hampir 1,5 tahun, dan kata pertama yang dikuasainya (selain Mommy, Daddy dan Gukguk) adalah “Ga pa-pa-pa-pa!”

Pasalnya, setiap kali si bocah lari dan terjatuh, itulah kalimat pertama yang diucapkan ayah-ibunya. Sahabat saya selalu menenangkan putranya dengan berkata, ”enggak apa-apa, enggak apa-apa.” Lama-lama, Alex paham. Kalau jatuh, ia akan segera bangkit sendiri, tersenyum lebar sambil berkata, “ga pa-pa-pa-pa!”.

Tahun 2006 bagi saya adalah tahun ‘jatuh bangun’, juga tahun ‘ups and downs’. Saya berusaha keras agar cerpen-cerpen yang selama ini hanya tersimpan di komputer bisa lolos seleksi dan dipublikasikan. Tahun ini juga, saya diterima bekerja, setelah sekian lama jadi ‘pengacara’. Tahun ini saya banyak tertawa, juga banyak nangis. It’d been like a rollercoaster ride to me, and I’m not ashamed to admit it :)

Cerpen saya yang pertama dimuat di majalah Cerita Kita, edisi Juni 2006. Akhir Desember, cerbung saya dipublikasikan oleh majalah kristiani remaja, GFresh. Belasan lain, yang saya kirim ke berbagai majalah maupun lomba, sukses ditolak.

Di kantor, saya mengulang monthly report selama 2 bulan karena kesalahan yang cukup fatal, dan pada akhir bulan kewalahan mengerjakan stock opname seorang diri. Tapi, sebagai ‘kompensasi’nya, saya memperoleh begitu banyak pengalaman berharga di tempat kerja saya ini. Selain mengembangkan kapasitas dan mengasah potensi diri, saya belajar menjadi profesional. Saya belajar menjadi orang yang bukan cuma tough, namun juga trained. Saya belajar merespon dengan benar. Saya belajar memposisikan diri. Saya belajar menjadi dewasa.

Tahun 2006 memberi begitu banyak kesan buat saya. Tapi mungkin pelajaran paling berharga dari semuanya adalah, saya belajar melihat dengan mata yang bijaksana. Menyesali diri dan berkubang dalam kekecewaan adalah hal yang biasa. Tapi yang menjadikan kita luar biasa adalah pengambilan keputusan untuk bangkit dari keterpurukan itu. Tidak kabur dari kenyataan, melainkan menerima dengan hati berserah dan bibir tersenyum. Tidak terjebak untuk mengasihani diri sendiri, melainkan berdamai dengannya, dan belajar mencintai hidup apa adanya sebagai anugerah terbesar yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita. Tidak terpaku pada kesalahan maupun kegagalan, melainkan menikmati setiap proses berikut ‘ups & downs’nya dengan jiwa yang besar. Tidak terpesona dengan keberhasilan, namun memandangnya sebagai berkah yang patut disyukuri dan senantiasa ‘dikembalikan’ kepada Si Pemberi Berkat.

Saya percaya tahun 2007 akan sekali lagi memberikan banyak hal –maupun kesan- mendalam bagi kita. Akan ada proses. Akan ada ‘ups & downs’. Akan ada kerja keras, dan mungkin juga airmata. Tapi di balik itu semua, saya yakin keberhasilan dan kebahagiaan sudah menunggu, seperti pelangi menanti kemunculannya seusai hujan.

Jangan takut dengan kerja keras. Jangan pernah menyerah dengan kegagalan. Jangan pernah putus asa. Jangan takut untuk bangkit dan mencoba lagi. Kalau terjatuh, angkat dagu tinggi-tinggi dan tersenyumlah. Sambil berdiri, mungkin enggak ada salahnya sekali-sekali bilang, “ga pa-pa-pa-pa!” kayak Alex.
Trust me, it’s comforting :)

Friday, December 29, 2006

Akhirnya...


Hari ini saya dapat kejutan. Waktu sedang asyik menikmati brunch (yaelaa… gaya bener. Bilang aja sarapan sekaligus makan siang, gara-gara ketelatan bangun), saya terusik oleh deru mesin motor dan seruan “Bu… Ibu…” dari pintu depan. Awalnya saya cuek, karena mengira itu suara tamu tetangga. Ketika seruan itu tak kunjung berhenti, saya memutuskan untuk meninggalkan lontong sayur dan membuka pintu. Ternyata bukan tamu tetangga, melainkan Pak Pos – mengantar paket untuk saya.

Saya bisa menebak apa isinya. Dengan tidak sabar saya merobek amplop cokelat besar itu, lupa pada lontong sayur yang masih separuh. Paket itu berisi majalah yang memuat edisi pertama cerita bersambung karangan saya, Kerlip Bintang Shiloh.

Brunch terlupakan. Perhatian saya terfokus sepenuhnya pada judul yang tercetak besar-besar di halaman kuning cerah. Tulisan saya akhirnya dipublikasikan. Setelah menunggu sekian tahun, inilah kedua kalinya saya berbahagia mencium harum majalah baru, mengetahui bahwa dalam lembaran-lembaran halusnya terdapat buah karya saya (yang pertama kali dimuat dalam majalah Cerita Kita, Juni 2006).

Thank you, dear Savior. Thanks a lot. This is for You.
Terima kasih, GFresh.

Untuk pembaca blog tercinta, percayalah, kerja keras dan ketekunan selalu ada hasilnya.

Monday, December 25, 2006

Topeng-Topeng Ceria

Di situ mereka duduk. Sekumpulan topeng ceria.

Si Badut tersenyum jenaka, membiarkan orang menertawakan dirinya dan turut tergelak absurd, tak peduli apa objeknya, dan mengapa.

Si Mafioso tersenyum simpul, matanya tajam menganalisa setiap celah bagai ular mengintai mangsa, sementara bibirnya tak lepas menyungging menghanyutkan.

Si Penyihir menyeringai, mengulurkan apel ranum yang disambut sukacita walau mematikan.

Si Don Juan tersenyum menawan, menebar pesona pada siapa saja yang mau terpikat dan percaya, tanpa peduli berapa banyak tangis akan keluar dari mata-mata indah bercelak itu.

Si Robin Hood tersenyum jumawa, memamerkan emas dan menuai kagum dari mereka yang memujanya bak pahlawan. Namun tak ada yang tahu bahwa harta itu takkan sampai ke melarat malang yang membutuhkan, melainkan aman di kantung kulitnya dengan sebilah belati tersembunyi, siap dihunuskan kapan saja pada kecoak pengganggu.

Di situ mereka duduk. Topeng-topeng ceria, bersuka ria. Memotong kue tar, menikmati tanpa sempat meliriknya. Menelan sepotong keindahan untuk dikeluarkan sebagai sampah esok paginya. Membuang lilinnya karena waktu tak berarti apa-apa, dan penandanya pun jadi tak berguna.

Di sudut sepi, seorang pengelana duduk sendiri. Matanya sarat arti, namun tubuh rentanya membuatnya tak layak dipandang. Di depannya juga terletak sepotong tar indah. Lilinnya masih utuh. Glazurnya bahkan tak tersentuh.

“Mengapa tak dimakan?” Tanya pramusaji.
Ia menggeleng. “Terlalu indah, Nona. Sayang bila esok sudah jadi kotoran tubuhku yang lemah ini.”
Pramusaji menatapnya tak mengerti. “Tapi tar memang untuk dinikmati. Akan rusak bila tidak, dan mubazir.”
Pengelana tersenyum lembut. “Aku tahu, Nona. Karena itu tak kusentuh keindahan ini. Kusimpan bagi si melarat malang yang terlupakan. Perut seperti itu, Nona, lebih layak menerimanya.”

Monday, December 18, 2006

Salah Satu Hari Terbaik

Hari ini adalah salah satu hari terbaik saya. WHY? Karena pagi tadi, saya (akhirnya) ketemu lagi dengan seorang sahabat. Ia sedang menetap di Belanda, dan komunikasi kami selama ini amat dibatasi jarak (dan tarif telepon yang mahalnya selangit).

Ia pulang ke Indonesia untuk memperpanjang visa. Bawaannya? Dua buah koper. Tapi bukan berisi pakaian, bukan juga buah tangan, melainkan setumpuk arsip. "Balik Indo bukan buat liburan," katanya sambil tertawa lepas ketika saya menyinggung tentang holiday season. Jam kerja sahabat saya ini memang super duper padat. Hampir bisa dibilang 24/7, dan tak kenal istilah 8 to 5. Selain menyita energi dan waktu, pekerjaannya menuntut stamina dan kesiapan tinggi, karena salah satu 'tugas'nya adalah melanglang buana ke berbagai negara dan benua, untuk istilah-istilah 'berat' macamnya simposium & conference.

Namanya Audrey. Ia adalah Presiden Mahasiswa Farmasi Sedunia yang pertama dari Asia. Prestasi yang luar biasa, mengingat selama puluhan tahun Indonesia gagal mengukir prestasi di mata dunia dalam bidang farmasi, dan baru kali inilah Asia 'menelurkan' presiden wanita pertama bagi organisasi internasional raksasa ini. Terlebih luar biasa lagi kalau mengingat usianya baru 21 tahun, dan sahabat saya ini besar di sebuah kota kecil bertajuk Sukabumi.

Ketika melihat wajahnya pagi ini, saya bertanya dalam hati, berubahkah ia?
Berubahkah Au-au yang saya kenal sebelum berangkat ke Den Haag?
Saya tak ingin ia berubah. Tapi, bagaimanapun, ia lebih 'canggih' dari selebriti Indonesia sekarang.

Audrey datang.
Dalam balutan sederhana kemeja cokelat-putih dan celana panjang hitam, tanpa pulasan make-up, dengan rambut tergerai polos.
Seseorang menyapanya 'Ibu Presiden'. Seorang teman bahkan memperkenalkan anak balitanya dengan kalimat, "Kenalin, ini Tante Presiden."

Audrey tergelak lepas. Sama sekali tak memancarkan binar jumawa, apalagi keangkuhan.

Sorot matanya tetap sama.
Senyumnya tetap sama.
Tawanya tetap sama.
Candanya tetap sama.
Kalimat-kalimatnya tetap sama.
Sederhana, membumi apa adanya.

Ia tak pernah berubah.

Hari ini adalah salah satu hari terbaik saya.
Di tengah gemerlap keberhasilan dan popularitas yang menyilaukan, sahabat saya tetap tak artifisial.