Thursday, March 11, 2010

Surat untuk Ayah

Ayah tersayang,

Hari ini seorang teman bertanya, “Pernahkah kamu menyesali keputusanmu untuk pergi?”

Saya terdiam, dan ingatan tentangmu kembali berhamburan. Tentang kalian. Tentang kita.


Ayah tersayang,

Meninggalkan kalian adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan. Dua tahun nyaris berlalu dan air mata ini belum juga habis. Namun jawaban atas pertanyaan itu adalah tidak; saya tidak menyesal.


Ayah tersayang,

Maafkan saya atas segala luka yang saya timbulkan. Maafkan saya karena tidak sanggup memenuhi janji untuk terus bersama sampai Tuhan memanggil salah satu dari kita. Maafkan saya karena harus menjadi orang pertama yang pergi, dan perpisahan itu bukan disebabkan oleh maut.

Maafkan saya karena tidak mampu memenuhi harapan-harapanmu. Maafkan saya karena telah mengecewakanmu begitu rupa. Maafkan saya atas segala air mata, kesedihan, dan rasa sakit yang timbul karena saya tidak bisa lagi menjadi seseorang yang dibanggakan.

Namun Ayah, saya tidak menyesal.

Dua tahun ini adalah tahun paling menakjubkan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya bisa mengambil keputusan tanpa bertanya kepada siapa pun. Untuk pertama kalinya saya bisa melakukan apa yang saya kehendaki tanpa menunggu persetujuan orang lain. Untuk pertama kalinya saya bisa pergi ke mana pun saya suka tanpa khawatir akan pendapat orang. Untuk pertama kalinya saya bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memikirkan perbedaan yang harus dijembatani.

Untuk pertama kalinya saya benar-benar tahu apa itu bahagia.

Dan Ayah, saya jatuh cinta.

Jatuh cinta ternyata perasaan yang luar biasa. Perasaan yang membuat seseorang rela mendaki gunung demi terjun bebas dari bibir jurang, remuk-redam babak-belur, lalu berjuang mendaki lagi hanya untuk mengulangi hal yang sama setibanya di atas.

Saya jatuh cinta kepada hidup.

Untuk pertama kalinya pula, saya benar-benar bersyukur. Hati saya bernyanyi dengan sendirinya. Tanpa ia perlu disuruh. Tanpa perlu diingatkan untuk berterimakasih.


Ayah tersayang,

Hidup memang tidak mudah. Dan lebih dari sekali saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya saya tidak pernah memilih untuk pergi. Apa yang terjadi seandainya kita masih terus bersama.

Hidup barangkali akan jauh lebih mudah. Rasa aman tersedia duapuluhempat jam dikali tujuh hari. Kita akan duduk di meja yang sama setiap hari, di ruangan yang sama. Tapi saya akan membenci kalian. Saya akan membenci diri saya sendiri—seperti saya membencinya sedemikian rupa sebelum akhirnya saya memutuskan untuk pergi.

Hidup memang tidak mudah, dan berkali-kali saya membayangkan apa rasanya kembali berada dalam perlindunganmu, naungan kasihmu, belaian tanganmu. Namun kini saya belajar percaya. Sesuatu yang dulu tidak pernah bisa saya lakukan. Saya belajar mempercayai diri sendiri. Saya belajar mengandalkannya. Saya belajar menjadi jujur pada perasaan dan kebutuhan saya. Dan saya belajar mencintainya apa adanya. Ternyata, mencintai diri sendiri itu tidaklah buruk.


Ayah tersayang,

Di sini saya belajar

Bahwa setiap detik dan hirupan nafas adalah keajaiban.

Bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa didikte berdasarkan buku panduan.

Bahwa cinta bukanlah sekumpulan teori yang menjamin hasil sama bagi mereka yang mengalaminya.

Bahwa perbedaan ada bukan untuk dihilangkan atau dibenci, melainkan dihargai dan diterima apa adanya—karena setiap manusia sama berharganya.

Dan bahwa Tuhan tidak seperti yang kita perbincangkan selama ini.

Saya belajar mengenal-Nya dengan cara yang sama sekali berbeda, namun kini Ia terasa jauh lebih nyata. Sangat dekat … dan ada.


Ayah tersayang,

Surat ini adalah apa yang tidak berani saya katakan selama dua tahun terakhir, karena pertemuan selalu membuat lidah saya kelu dan bibir saya terkunci. Maafkan saya karena hanya bisa menyampaikannya dengan cara ini. Mudah-mudahan Ayah tidak keberatan.


Ayah tersayang,

Saya baik-baik saja di sini. Saya bahagia.

Semoga itu cukup. :-)

-----

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

Sunday, February 28, 2010

180 Menit

… tanpa koneksi internet, percakapan dengan siapa pun, atau banjir informasi yang tiada berhenti.

180 menit yang sunyi, kendati hiruk-pikuk di sekitar saya mengalahkan keramaian Pasar Minggu.

180 menit bersama secangkir kopi beraroma hazelnut, langit sore, dan koran edisi terbaru.

180 menit yang memberi tahu saya bahwa

Para barista di gerai kopi ini tampaknya sudah melewati seleksi tampang sebelum diterima bekerja.

Barista jangkung berkulit putih dan berambut spikey punya senyum yang melelehkan hati.

Petugas kebersihan berseragam kotak-kotak tak henti-hentinya mengelapi kaca yang sama.

Pengki yang digunakan petugas kebersihan berwarna merah muda.

Arloji lelaki berperut buncit di meja seberang berwarna coklat keemasan yang berkilau ditimpa sinar mentari.

Gadis-gadis pra-remaja yang datang dengan teman atau orangtua hampir semuanya mengenakan Crocs merah jambu dalam berbagai gradasi warna.

Sebagian besar pengunjung menenteng BlackBerry dengan cover beraneka warna. Ungu. Hijau. Kuning. Putih. Biru.

Pria dan wanita di meja sebelah tidak saling bicara sejak mereka duduk.

Masih ada dunia selain semesta maya sumber informasi yang berada dalam jangkauan kita duapuluhempat jam sehari.


Juga bahwa

Senja ini indah sekali, kendati langit tak cerah

Dan saya tak henti-hentinya tersenyum.


-----


*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

Monday, February 15, 2010

Sederhana

Kamu bagaikan gula-gula kapas
Manis, legit, memikat
Membuat ketagihan
Kendati kutahu kehadiranmu tak bertahan lama

Kamu seperti pasir
Datang dan sirna dibawa ombak
Lepas berhamburan
Jika terlalu erat digenggam

Kamu layaknya api
Membakar dan menghanguskan
Namun tetap saja aku mendekat kepadamu
Mencari hangat dan pijarmu

Kamu tak ubahnya rembulan
Hanya bisa dipandangi
Tak tergenggam,
Tak sanggup kumiliki.

Aku tak paham puisi-puisi rumit
Dan aku bukan penggemar Sapardi
Namun kamu membuatku mengerti isi hati pujangga
Dan mengapa mereka bisa mencipta larik seindah bunga.

Izinkan aku menyayangimu dengan sederhana
Entah kamu gula-gula kapas, pasir, api, atau rembulan
Karena dengan kamu dalam dekapku
Aku tak lagi peduli akan siapa dan mengapa

Maka, biarkan hatiku jatuh bebas
Entah ia terjun, menukik, berputar
Terjerembab, tersandung, terpelintir
Biru lebam, berdarah, atau berkilau

Biarkan rasa ini ada
Selama aku masih diizinkan menggenggam
Selama ia masih ingin berlabuh
Selama ia masih mampu mengalir

Dan izinkan aku menyayangimu dengan sederhana.

~ Februari 2010, untuk Hari Kasih Sayang. Terinspirasi oleh puisi ini. ~

-----


*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

Tuesday, February 2, 2010

Ho'oponopono

Kurang-lebih satu tahun lalu, saya mengikuti sebuah retreat meditasi di mana instrukturnya adalah sahabat saya sendiri. Dalam sesi pembuka dari retreat yang berlangsung selama empat hari itu, ia mengajak seluruh peserta melakukan Ho’oponopono, sebuah teknik penyembuhan berbasis meditasi yang berasal dari Hawaii.

Ho’oponopono terdiri dari empat kalimat singkat “I’m sorry”, “Please forgive me”, “I love you”, dan “Thank you” yang diucapkan secara berurutan sambil menyadari masalah yang sedang dihadapi. Setiap peserta bebas mengucapkan apa pun yang menjadi ganjalan batinnya dan mengakhiri curhat singkat itu dengan empat kalimat tadi.

Bukan hal mudah bagi saya untuk melakukan teknik sederhana itu. Saya sedang menjalani proses penyembuhan dari perpisahan yang saya alami berbulan-bulan sebelumnya—perpisahan menyakitkan yang diiringi banyak air mata dan membuat saya menangis hampir setiap hari. Saya kecewa. Saya marah. Saya terluka. Saya menyalahkan. Dan kini saya harus mengucapkan “I’m sorry, please forgive me...”? Tidak bisa.

Saya bergumul selama sesi berlangsung. Beberapa minggu setelah retreat, dalam pertemuan pribadi dengan sahabat saya, saya berkata terus terang, “Saya tidak sanggup berkata 'I’m sorry' dan 'Please forgive me' dengan tulus karena apa yang terjadi bukan kesalahan saya. Sayalah yang terluka. Sayalah yang menjadi korban. Saya bahkan belum bisa memaafkannya, bagaimana mungkin saya harus minta maaf kepadanya?”

Sahabat saya menjawab dengan tenang, “Ho’oponopono tidak ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kamu. Kamu tidak sedang meminta maaf kepadanya. Teknik ini baru akan berhasil ketika dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa kita memiliki andil dalam setiap penderitaan kita.”

Saya menatapnya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin saya memiliki andil dalam penderitaan saya sendiri—atau dengan kata lain, saya turut bertanggungjawab atas penderitaan ini? Jelas-jelas bukan saya yang salah. Jelas-jelas saya disakiti. Jelas-jelas sayalah korbannya. Konsep itu sama sekali tidak masuk akal.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa betul-betul memahami esensi dari pernyataan tersebut.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa menyadari bahwa orang lain memang tidak bisa membuat saya menderita. Harapan dan ketakutan sayalah yang membuat saya menderita.

Untuk sadar bahwa orang lain bisa melakukan hal yang paling nista terhadap saya, namun saya bertanggungjawab atas setiap kemarahan, ketakutan, kekhawatiran, harapan, rasa tidak aman, dan banyak hal lain yang timbul dari batin saya sendiri.

Untuk sadar bahwa ketika saya menuntut orang lain untuk berubah menjadi seperti yang saya inginkan, tidak peduli label apa yang saya lekatkan di atasnya, itu bukanlah cinta.

Untuk sadar bahwa saya tidak pernah memiliki kendali atas hidup orang lain. Saya tidak bisa mengubah satu orang pun, dan akhirnya saya tersakiti bukan oleh tindakannya, melainkan oleh pengharapan saya sendiri.

Untuk sadar bahwa setiap pilihan mengandung resiko dan konsekuensi, namun saya tidak perlu mencicil keduanya lebih awal hanya karena saya hidup dalam harapan dan kekhawatiran.

Untuk memahami bahwa cinta memang tidak bersanding dengan harapan dan ketakutan. Ada perbedaan yang sangat besar di antara tiga hal tersebut, sekalipun saya teramat sering mencampurkan ketiganya dan menyebutnya cinta.

Untuk sadar bahwa cinta tidak pernah tumbuh dari masa lalu atau terkubur di masa depan. Ia hanya ada di sini dan sekarang.

Untuk sadar bahwa cinta tidak perlu dicangkangi. Seperti kita tak berusaha mewadahi awan atau mengandangi sinar mentari.


***

Hari ini, ketika saya menuliskan artikel ini, setitik air mata jatuh perlahan.

Untuk rasa syukur karena saya tak lagi perlu menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami. Untuk hidup yang telah memberi begitu banyak keajaiban dengan caranya sendiri; yang telah mengizinkan saya untuk mengalaminya, bersentuhan dengannya, dan bertumbuh darinya.

Untuk mereka yang menangis karena suami yang berselingkuh, kekasih yang abusif, pacar yang semena-mena, sahabat yang mengkhianati kepercayaan, anak yang berlaku kurang ajar, orang tua yang tak pernah menunjukkan rasa sayang, dan banyak lagi.

Untuk harapan-harapan yang tak pernah mati dan kekhawatiran yang datang menghantui setiap malam. Bagaimana jika dia kembali berselingkuh. Bagaimana kalau dia sedang bersama wanita lain. Bagaimana kalau dia menyakiti saya lagi. Bagaimana jika dia ternyata belum berubah. Bagaimana jika saya dikhianati lagi. Dan sejuta ‘bagaimana’ lain.

Untuk kekecewaan yang hadir tatkala harapan tidak terpenuhi dan getir yang merampok batin ketika ketakutan benar-benar menjelma nyata.

Untuk mereka yang berjuang keras mencinta dan mempertahankan cinta.

Untuk setiap luka.

Untuk setiap pedih.

Untuk setiap harapan.

Dan ketakutan.


“I’m sorry.”
“Please forgive me.”
“I love you.”
“Thank you.”


Bukan tentang ‘apa’, ‘siapa’, atau ‘mengapa’. Tapi tentang kita.

-----

*Sebuah catatan yang diinspirasi oleh tulisan ini.

Tuesday, January 5, 2010

Saya dan (T)

Saya mulai bertanya tentang Tuhan ketika berusia duabelas tahun.

Pertanyaan pertama saya muncul di bangku SMP kelas satu. Saat itu, sekolah saya mewajibkan seluruh siswa menghadiri kebaktian yang diadakan setiap Minggu sore di aula. Khotbah yang disampaikan dalam kebaktian harus dirangkum menjadi catatan yang dibubuhi tanda tangan pengkhotbah, dan jumlah rangkuman tersebut turut menentukan nilai yang tertera pada mata pelajaran Agama di rapor. Bagi yang poinnya defisit, bisa dipastikan nilainya tekor dan mendapat bonus dipanggil ke kantor Kepala Sekolah.

Saya, yang paling malas menghadiri kebaktian karena merasa hari Minggu adalah jatahnya libur, selalu mencari alasan untuk mangkir. Saya bahkan nekat berkali-kali memalsukan tanda tangan di buku saya (nggak pernah ketahuan, by the way :-D). Namun, sebandel-bandelnya anak, ada batasnya juga. Suatu hari—entah tergerak oleh apa—saya pergi ke sana.

Saya duduk diam sepanjang kebaktian. Pertama, karena tidak tahu lagu-lagu yang dinyanyikan. Kedua, tidak tahu harus berbuat apa. Ketiga, tidak paham isi khotbahnya. Tidak lama setelah naik ke mimbar, sang pengkhotbah meninggalkan kutipan ayat-ayatnya dan melontarkan lelucon mengenai pemeluk agama lain.

Mereka tidak sebaik kita. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kebenaran. Mereka bodoh dan patut dikasihani.

Jemaat tertawa.

Sore itu, saya meninggalkan aula dengan pertanyaan besar: apakah mereka tidak berpikir bahwa yang menghadiri kebaktian bukan hanya orang yang seagama? Apakah mereka tidak berpikir bahwa ada anak-anak yang datang hanya untuk mengumpulkan tanda tangan? Kenapa mereka harus menertawakan orang-orang yang berbeda keyakinan? Memangnya agama lain itu salah? Memangnya Tuhan pilih kasih? Katanya Tuhan tidak pandang bulu?

Saya ngambek dan mogok kebaktian selama berbulan-bulan. Saya berang terhadap ibadah Minggu dan segala tetek-bengeknya. Namun, di sisi lain, keingintahuan saya akan agama yang satu ini semakin memuncak.

Setiap akhir bulan, di Sabtu sore, seluruh siswa dikumpulkan di lapangan sekolah dan duduk berjejalan di bangku-bangku kayu yang dijejer membentuk setengah lingkaran untuk memperoleh siraman rohani selama dua jam. Biasanya, sebagian besar waktu tersebut saya habiskan untuk berkirim surat dengan teman kanan-kiri, ngobrol berbisik-bisik, atau menertawakan potongan rambut si pengkhotbah yang keriting nanggung. Seiring meningkatnya rasa penasaran, lambat laun saya mulai mendengarkan khotbah-khotbah itu dengan saksama. Saya lebih banyak diam, dan saya mulai rajin duduk di barisan depan bersama guru-guru dan sederet anak alim.

Dua bulan setelah ulangtahun saya yang ketigabelas, saya memutuskan untuk berpindah agama, sekaligus menjadi pemberontak pertama di keluarga besar saya. Orang tua saya tidak melarang, meski juga tidak rela.

Masa SMP dan SMU saya lewatkan dengan menjalani berbagai aktivitas rohani, mulai dari pertemuan doa, pertemuan pengerja, ibadah rutin, mengikuti berbagai seminar, sampai pelayanan gereja.

Dua bulan sebelum saya lulus dari SMU, saya mendatangi Ibu dan berkata bahwa saya tidak ingin melanjutkan kuliah. Saya akan mendaftar ke sekolah Alkitab, dan semuanya akan saya jalani dengan biaya sendiri.

Ibu saya diam sejenak, lalu menjawab tenang, “Mama tanya Papa dulu.”

Seperti yang sudah-sudah, mereka tidak melarang. Ibu sangat ingin melihat saya menjadi sarjana, namun beliau tidak memaksakan kehendaknya. Belakangan saya tahu, Ibu sering menangis diam-diam—menyesali anak sulungnya yang keras kepala. Ketika akhirnya saya ditahbiskan menjadi pendeta muda pada usia 18 tahun, beliau kembali menangis. Kali ini karena bangga melihat putrinya berbicara di belakang mimbar.

Dua setengah tahun saya habiskan dengan mempelajari Alkitab dan berkhotbah. Memasuki tahun ketiga pelayanan, saya berhenti berkhotbah dan hanya mempelajari Alkitab. Selama tahun-tahun itu pula, segala pertanyaan seperti lenyap begitu saja dari benak saya. Saya begitu bersemangat. Tidak ada ruang untuk pertanyaan. Tidak ada waktu untuk bertanya. Saya seperti kuda yang sedang berpacu di arena balap. Saya terus berlari. Secepat-cepatnya.

Hingga tibalah saat itu. Tahun 2007, tanpa penyebab spesifik, tanpa asal-muasal, tanpa permisi lebih dulu, sejumlah pertanyaan kembali berlompatan dan menggedor-gedor benak saya. Saya tidak tahu bagaimana bisa begitu. Barangkali saya mulai jenuh. Barangkali saya mulai kelelahan. Atau, barangkali, memang sudah waktunya.

Berbeda dengan sebelas tahun sebelumnya, kali ini pertanyaan itu tidak langsung muncul dalam bentuk kalimat tanya, melainkan rasa di hati.

Saya tak paham kenapa saya merasa ‘perih’ ketika menghadiri pemakaman orang tua seorang sahabat yang berbeda agama dengan anaknya, dan mendengar seorang pelayat bertanya, “Yang penting Papa sudah terima Tuhan, kan?”. Saya tak paham mengapa orang yang baik harus dijebloskan ke neraka hanya karena ia tidak menyembah Tuhan yang sama.

Saya tak paham kenapa surga hanya diciptakan untuk orang-orang yang seagama dengan saya, karena saya sangat yakin ada begitu banyak orang yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan saya, dan itu bukan salah mereka. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di tempat-tempat yang belum terjamah? Akankah mereka direbus di neraka hanya karena mereka tidak tahu Tuhan saya ada?

Saya tak paham kenapa saya merasa aneh ketika seorang kawan mengomentari teman-teman saya yang berbeda keyakinan dan berkata, “Ih, kok kamu mau sih gaul sama mereka?” dan ketika saya terdiam, ia meneruskan, “Kalau aku sih nggak bakal mau.”

Saya tak paham kenapa saya harus menginjili satu persatu anggota keluarga saya supaya kami bisa berkumpul di surga kelak. Ibu saya anak kelima dari sembilan bersaudara, dan saya mempunyai enambelas Oom dan Tante, lebih dari duapuluh sepupu, juga Nenek dan Kakek yang hampir semuanya berbeda agama dengan saya. Kebayang, dong? Selain itu, meski saya mempunyai pengalaman sebagai ‘tukang obat keliling’, saya tidak pernah berhasil mempertobatkan satu orang pun melalui penginjilan pribadi. Entah mengapa. Statistik saya sangat buruk dalam hal penginjilan one-on-one. Saya tak pernah tahu mengapa setiap kali saya hendak melakukannya lidah saya mendadak kelu.

Saya tak paham kenapa saya harus hidup dalam batasan baik-buruk, benar-salah, suci-dosa, dan hitam-putih, sementara dunia begitu penuh warna. Saya tak paham mengapa kami harus seragam, sementara perbedaan justru tampak begitu menarik dan memperkaya hidup. Saya tak paham kenapa saya harus selalu ‘baik-baik saja’ sementara hidup selalu punya banyak sisi dan rasa.

Saya tak paham kenapa saya disebut pemberontak karena memiliki banyak pertanyaan dan keingintahuan atas hal-hal yang dilarang agama. Bukan karena sengaja ingin membelot atau tak mau patuh, melainkan karena saya terus dikejar dengan berbagai ‘kenapa’. Kenapa nggak boleh? Kenapa harus? Kenapa jangan? Kenapa begitu? Dan banyak lagi. Saya tak paham kenapa saya dicap pembangkang, sementara yang saya inginkan hanya penjelasan yang masuk akal. Salahkah bertanya? Salahkah meminta alasan?

Saya tak paham kenapa saya dituntut untuk terus berubah, menjadi semakin seragam, semakin serupa dengan konsep ideal, dan semakin sempurna—meski kedengarannya memang menyenangkan. Saya tak paham, kenapa Dia yang dulu membuat saya jatuh cinta dengan penerimaan tak bersyarat kini menetapkan begitu banyak perintah, larangan dan aturan. Saya tak paham kenapa saya harus mengorbankan hidup saya untuk menyenangkan-Nya—tidakkah Dia ingin saya bahagia?

Saya tak paham kenapa saya tidak boleh bergaul terlalu akrab dengan mereka yang tidak seiman; kenapa saya harus senantiasa berhati-hati dalam bersikap agar ‘tidak ketularan’, dan kenapa saya harus terus berusaha ‘mengubahkan’ orang-orang di sekeliling saya menjadi sama seperti saya.

Saya tak paham, dan semakin bingung, ketika akhirnya saya sadar bahwa saya tidak pernah betul-betul ingin mempertobatkan satu orang pun, atau mempengaruhi siapa pun, kendati saya tumbuh dengan berbagai prinsip dan nilai yang (seharusnya) bisa mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pun ketika otak saya berkata orang-orang yang saya cintai akan mendarat di neraka karena saya gagal ‘membawa mereka’ (dimana kesalahan itu akan menjadi tanggung jawab saya), saya tetap tidak ingin mengubah apa pun dari mereka.

Saya tak paham kenapa ada begitu banyak duka dan darah yang tumpah atas nama Tuhan yang identik dengan cinta, welas asih dan pengampunan.

Saya tak paham kenapa manusia saling menghakimi, mengecam dan menuding atas nama Tuhan, jika kasih-Nya tidak membedakan.

Saya semakin tidak paham ketika otak saya berkata “Kamu salah”, sedangkan hati saya membisikkan hal sebaliknya.

Tanda tanya yang sama akhirnya menghantarkan saya pada lebih banyak pertanyaan mengenai Tuhan dan hidup.

Tigabelas tahun berlalu sudah. Saya memutuskan untuk tidak lagi menjerat-Nya dalam sebuah kotak.

Inilah yang saya maksud ketika saya berkata, “Saya tidak perlu mengenal-Nya.” Bukan karena saya berhenti mencari, namun karena saya tidak ingin tanda tanya itu berubah menjadi titik. Saya tidak ingin air itu membeku keras dan kehilangan kemampuannya mengalir. Saya tidak ingin memerangkapnya dalam sebuah wadah tunggal.

Saya ingin melihat-Nya dimana-mana, karena itu saya tidak ingin memanggil-Nya dengan sebuah nama. Saya ingin menjumpai-Nya dalam berbagai rupa, karena itu saya mencopot label dari sosok berjubah putih yang bisa membelah laut dan berjalan di atas air. Saya ingin mengenali-Nya ketika bertemu dengan-Nya di jalan, karena itu saya menanggalkan berbagai predikat yang selama ini saya gantungkan pada-Nya. Pernyataan ini boleh jadi sulit diterima, bahkan absurd, namun begitulah adanya—setidaknya bagi saya pribadi.

Inilah sejumput perjalanan saya dengan Tuhan, yang sekaligus merupakan tulisan paling bongkar-isi-perut di blog ini. Sangat sedikit orang yang mengetahui kisah ini sebelumnya. Lalu, mengapa sekarang saya menuturkannya?

Karena seumur hidup saya, saya diajar bahwa tidaklah baik menjadi diri sendiri apa adanya.

Karena separuh hidup saya, saya diajar bahwa bertanya itu salah.

Karena beberapa dari Anda yang membaca tulisan ini mungkin memiliki pertanyaan yang sama, kebimbangan yang sama, pergumulan yang sama, dan saya ingin berkata: “It’s OK.”

:-)

Tulisan ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan agama tertentu atau pihak mana pun, dan saya tidak sedang berupaya meneguhkan atau melucuti keyakinan siapa pun. Semua ini hanya bagian dari ilusi yang saya mainkan di atas panggung bernama Kehidupan, dimana saya menari dan menjalankan peran yang saya pilih, termasuk mempertanyakan Tuhan dan segala hal dalam hidup.

Pertunjukan belum usai, permainan belum tamat, dan perjalanan masih panjang. Perjalanan ini bukan tanpa rintangan, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi sangat melelahkan, namun, pada saat yang sama, saya berharap pencarian ini takkan pernah berakhir.

-----

Dan (T),
Tahukah Kamu,
Belum pernah seumur hidup
Aku jatuh cinta seperti ini.

Terima kasih.


-----

Wednesday, December 23, 2009

Infotainment yang Saya Kenal

Beberapa hari terakhir, infotainment dan situs jejaring pertemanan (Twitter, Facebook) diramaikan oleh pemberitaan mengenai Luna Maya dan status Twitter-nya yang penuh kecaman terhadap infotainment. Para blogger pun ikut bersuara. Ibu ini dan Mbak ini menuliskan artikel dengan judul ‘Luna ... ’ – mengupas kasus tersebut dari berbagai sudut pandang.


Dalam entri ini, saya sengaja tidak berkomentar tentang Luna *ehmm, mungkin iya, tapi sedikiiit banget*. Sejujurnya, saya tidak kaget dengan reaksi yang dimunculkannya. Bagi saya, kemarahan Luna sama sekali tidak berlebihan, kendati dilontarkan dengan ceroboh. Bukan ceroboh dalam arti kurang bijak dalam menghina meluapkan amarah, melainkan ceroboh karena ia melupakan keberadaan monster bermata hijau Undang-undang ITE.


Sebelum entri ini semakin mirip dengan artikel-artikel gosip, mari saya jelaskan bahwa tujuan saya menulis entri ini adalah untuk membagi beberapa peristiwa yang pernah saya alami saat berurusan secara langsung dengan media gosip. Artikel ini pertama kali saya tulis pada akhir tahun 2008. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak menyelesaikannya, karena semakin ditulis, kemarahan saya semakin menumpuk. Demi kesehatan jiwa, saya memutuskan untuk menyimpan draft setengah jadi itu dan mempublikasikan tulisan ini sebagai gantinya. Bagaimanapun, insiden Luna dengan infotainment kembali menyulut niat saya untuk membagi cerita ini dengan Anda, yang (barangkali) selama ini terpaksa puas dengan suguhan satu arah dari media gosip.


Kenapa ‘satu arah’? Karena apa yang Anda lihat, dengar dan baca selama ini adalah hasil ramuan media gosip—pencampuran antara fakta, fiksi, skenario, dan narasi yang dirajut dengan apik membentuk ‘informasi faktual’. Sebagai penonton, kita hanya melihat hasil liputan yang sudah jadi. Yang tertangkap oleh indera penglihatan dan pendengaran kita hanya apa yang tampak di layar televisi dan tabloid. Kita tidak pernah betul-betul tahu apa yang sesungguhnya terjadi ketika kamera berhenti merekam, ketika halaman terakhir selesai kita baca, ketika proses penyuntingan berlangsung.


Saya bercerita bukan dari sudut pandang seorang selebriti. Bukan juga dari sudut pandang media. Saya hanya orang biasa yang—kebetulan—bekerja dengan figur publik dan saya tidak memihak siapa-siapa. Semoga apa yang saya ceritakan di sini bisa memberikan perspektif segar untuk kita semua agar lebih bijak dalam menyikapi pemberitaan media gosip.


1.
Pertengahan November 2008, tidak lama setelah Reza dan Dewi melangsungkan pernikahan di Australia, mereka kembali ke Jakarta dan beristirahat di rumah selama beberapa hari. Saya belum bertemu dengan mereka berdua dan komunikasi sepenuhnya kami lakukan melalui telepon dan SMS. Kami belum sempat bertukar cerita mengenai pernikahan yang baru saja berlangsung, dan sangat sedikit yang saya ketahui tentang pernikahan tersebut.


Malam itu, ponsel saya tak henti-hentinya berdering. Pukul sepuluh malam, seorang pekerja infotainment dari program ‘S’ meminta saya untuk bersedia diwawancarai saat itu juga.


“Posisi Mbak di mana sekarang? Kami sudah siap kamera dan peralatan, Mbak tinggal sebut Mbak ada di mana.” Ketika saya menjelaskan bahwa saya tidak bisa menyanggupi permintaan tersebut, mereka mendesak, “Kami butuh sekarang karena liputannya mau ditayangkan besok pagi. Nggak bisa ditunda lagi. Mbak cuma perlu mengonfirmasi apakah betul Reza dan Dewi sudah menikah.”


Saya menjawab, “Kalau hanya butuh konfirmasi, saya bisa berikan sekarang tanpa perlu pengambilan gambar. Lagipula ini sudah malam.”


Namun mereka bersikeras mengambil gambar saya. Saya pun menolak dan memutuskan sambungan telepon. Ponsel saya kembali berdering tanpa henti. Akhirnya saya menegaskan bahwa saya HANYA bersedia memberi konfirmasi via telepon, tanpa pengambilan gambar. Pertanyaan yang akan saya jawab pun hanya pertanyaan mengenai benar atau tidaknya Reza dan Dewi melangsungkan pernikahan. Sejurus kemudian, sambungan telepon kembali terputus—tanpa ada kepastian dari pihak infotainment.


Beberapa menit setelahnya, ponsel saya kembali berdering, namun yang berbicara di seberang sana adalah orang yang berbeda. Suaranya halus, tutur katanya sopan dan terjaga; sementara orang yang sebelumnya berbicara dengan nada mendesak dan memaksa. Mendadak, saya merasa ada yang tidak beres, namun tidak tahu apa.


Pertanyaan pertama yang diajukan adalah benar atau tidaknya Reza dan Dewi menikah pada tanggal 11 November. Saya mengiyakan pertanyaan itu.


Pertanyaan kedua adalah apakah pernikahan tersebut memang berlangsung di Australia. Saya kembali mengiyakan, namun entah bagaimana, saya merasa wawancara ini direkam tanpa seizin saya, dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan berhenti sampai sebatas ‘memberi konfirmasi’. Saya pun berpura-pura kehilangan sinyal dan memutuskan sambungan telepon.


Esok paginya, wawancara tersebut ditayangkan di ‘S’. Wawancara itu memang direkam tanpa seizin saya. Nama saya tertulis besar-besar, dan karena mereka tidak berhasil mendapatkan gambar saya, yang tampak di layar hanya sebuah pesawat telepon yang memperdengarkan wawancara tersebut.


Setelah dua pertanyaan pertama (berikut jawabannya) diperdengarkan, pertanyaan ketiga, keempat dan seterusnya pun bermunculan. Saya terperanjat karena orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan saya. Suara tersebut bukan suara saya. Saya tidak tahu siapa yang meneruskan wawancara tersebut. ‘Jenny’ menjelaskan bahwa pernikahan tersebut berlangsung di Sydney, di rumah paman Reza, dan seterusnya. Saya menyimak semuanya sambil terbengong-bengong, karena saya sendiri TIDAK TAHU di kota mana Dewi dan Reza menikah, di rumah siapa, dan dihadiri siapa.


2.
Peristiwa berikutnya terjadi ketika Dewi menyanyi di sebuah stasiun televisi dalam program yang ditayangkan secara live. Dewi dijadwalkan untuk menyanyikan dua lagu. Setelah lagu pertama selesai dan jeda iklan tiba, kami kembali ke backstage karena Dewi perlu merapikan rambutnya. Di tengah jalan, kami ditemui beberapa orang berseragam hitam yang meminta kesempatan untuk wawancara. Di belakang mereka, seorang juru kamera mengambil gambar kami tanpa izin.


Sambil tersenyum Reza dan Dewi menolak permintaan tersebut. Ketika mereka mendesak, Reza menjelaskan bahwa mereka tidak bersedia diwawancarai dan Dewi harus merapikan riasan wajah dan rambutnya di backstage.


Ketika kami kembali ke panggung, si juru kamera membuntuti kami. Ia mengambil gambar dari jarak yang sangat dekat. Kemana pun Reza dan Dewi melangkah, kamera ikut bergerak. Reza mengulurkan selembar tisu. Dewi menghapus keringatnya. Kami berbincang-bincang. Kami bergurau. Kami tertawa. Semuanya diabadikan dari jarak sangat dekat, kurang dari tigapuluh sentimeter.


Setelah beberapa menit, Reza yang merasa terganggu meminta juru kamera itu mengambil gambar dari jarak yang lebih jauh. Ia pun melipir dan duduk bersama rekan-rekannya, sekitar empat meter dari tempat kami berdiri.


Ketika Dewi selesai menyanyi dan kembali ke backstage, sejumlah pekerja infotainment merubung dan mencoba menerobos masuk ke backstage—area yang seharusnya bersih dari media. Manajer Dewi dan beberapa staff dari stasiun televisi yang bersangkutan menghalau mereka, namun satu orang berhasil masuk dan menempatkan kameranya tepat di depan ruangan kecil tempat kami menunggu. Setiap kali kami memandang melalui celah pintu, terlihat mikrofon dan kamera yang bergeming dengan lensa terbuka. Reza pun menelepon supir untuk menjemput kami agar kami bisa langsung naik ke mobil sekeluarnya dari backstage.


Ketika kami keluar dari backstage, sejumlah pekerja infotainment—lengkap dengan mikrofon dan kamera masing-masing—langsung memburu kami. Mereka menjajari langkah kami seraya berusaha menempatkan mikrofon sedekat mungkin dengan kami. Seorang wartawan bahkan menempelkan mikrofonnya di punggung Dewi. Seorang lagi menempatkan mikrofonnya di lengan kiri saya. Saya melirik cepat ke atas, sebuah mikrofon tepat berada di atas kepala saya. Seorang juru kamera mengambil gambar sambil berjalan mundur di depan Reza.


Sambil menjajari kami, mereka berteriak-teriak. Sebagian mengajukan pertanyaan, sebagian minta agar kami berhenti, sebagian lagi marah karena kami terus berjalan secepat mungkin. Saya berusaha memusatkan perhatian pada punggung Dewi yang berada tepat di depan saya. Tidak mudah. Seseorang nekat menyelinap di celah sempit antara saya dan Dewi. Saya mendorongnya dan menggunakan lengan kiri saya sebagai tameng untuk menciptakan jarak antara mereka, Dewi, dan diri saya sendiri.


Ketika akhirnya kami tiba di mobil, mereka merangsek maju. Reza mencoba menghindar dari seorang juru kamera yang berdiri terlalu dekat dan menutupi lensanya dengan telapak tangan. Ia membuka pintu agar Dewi bisa masuk lebih dulu ke dalam mobil. Saya berusaha membuka pintu depan dan gagal, karena seorang juru kamera bertubuh besar menghalangi pintu dengan badannya sambil terus menyorotkan kamera.


“Permisi, Mas,” tegur saya sedikit gugup. Teriakan-teriakan dari belakang kami semakin keras dan bernada tidak sabar. Sang juru kamera bergeming. Saya menarik handel lebih keras. Pintu terbuka sedikit. Saya merangsek maju dan akhirnya ia mengalah—bergerak ke pinggir sambil tetap menyorotkan kamera, mencoba mengambil gambar Reza dan Dewi yang sudah duduk di kursi belakang.


Kami telah aman berada dalam mobil, namun seruan-seruan di luar makin menjadi. Beberapa dari mereka tampak gusar. Seorang juru kamera berteriak, “WOY! GAK BISA BEGITU DONG! LU KAN ARTIS!” Seolah tak cukup, seruan itu diulangnya berkali-kali. “EH, LU ITU ARTIS! LU ITU ARTIS!!” Demikian, terus-menerus. Sebagai aksi penutup, ia mengakhirinya dengan memukul mobil dengan kamera yang dibawanya.


Mobil melaju meninggalkan tempat itu. Saya mengira mereka akan berhenti ketika mobil mulai berjalan, namun teriakan para pekerja infotainment itu masih terdengar hingga belasan meter jauhnya.


Esoknya, infotainment beramai-ramai mempublikasikan peristiwa itu dengan berbagai julukan yang dialamatkan kepada Reza dan Dewi. Arogan, tidak etis, angkuh, kasar, temperamental, dan sebagainya. Sebuah situs media gosip bahkan menyatakan tindakan Reza menutup lensa kamera sebagai kemarahan tanpa sebab, dan terbenturnya kamera di mobil adalah perbuatan Reza—bukan ulah juru kamera yang dengan sengaja memukulkannya.



3.
Beberapa minggu berselang, Dewi menyanyi di stasiun televisi lain. Tidak lama setelah kami memasuki ruang tunggu artis, wartawan infotainment dan juru kamera menghampiri kami dan minta diberikan waktu untuk wawancara tentang album dan buku terbaru Dewi (Rectoverso). Dewi pun menyetujui dengan catatan pertanyaan yang diajukan HANYA seputar album dan buku—bukan kehidupan pribadi.


Setelah selesai dirias, Dewi keluar dari ruang tunggu untuk diwawancara. Wawancara berlangsung kurang-lebih duapuluh menit. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkisar tentang proses penciptaan lagu, penulisan cerpen, serta proses produksi Rectoverso secara keseluruhan. Memasuki lima menit terakhir, sang wartawan bertanya, “Dari 11 lagu yang ada di album ini, adakah yang Dewi buat untuk orang terdekat?”


Dengan halus, wawancara pun bergulir memasuki ranah personal Dewi. Kehidupan setelah pernikahan, rencana ke depan, dan si kecil Keenan pun turut dikulik. Esoknya, wawancara tersebut ditayangkan di stasiun televisi yang sama. Namun wawancara mengenai proses pembuatan album dan buku Dewi tidak ditayangkan. Bagian yang ditayangkan dimulai dari pertanyaan yang saya tuliskan di atas, serta pertanyaan-pertanyaan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan atau album terbaru Dewi. Wawancara asli sepanjang duapuluh menit disunat menjadi lima menit dengan topik yang berkebalikan dengan apa yang telah disepakati Dewi dan pekerja infotainment sebelumnya.


***


Semua yang saya ceritakan di atas tidak dapat Anda temukan di layar kaca maupun di tabloid yang Anda baca. Hanya orang-orang yang terlibat dan berada langsung di lokasi yang tahu apa yang sebenarnya terjadi—apa yang berada di balik pemberitaan media gosip. Sayangnya, tidak seperti gosip dan skandal yang memperoleh tempat begitu luas di ranah hiburan tanah air, kenyataan yang faktual seringkali tidak mendapat kesempatan untuk bersuara. Itu sebabnya saya memutuskan untuk membaginya di sini.


Saat ini, saya tidak lagi menaruh perhatian secara khusus pada pemberitaan media gosip. Sesekali saya menyempatkan diri untuk menonton, namun saya tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bukan karena saya tidak peduli dengan apa yang sedang ramai dibicarakan orang, bukan pula karena saya tidak mau tahu apa yang sedang berlangsung di ranah hiburan, namun karena saya paham apa yang sesungguhnya terjadi di balik pemberitaan penuh sensasi itu—secuil fakta yang dipelintir di sana-sini dan diramu sedemikian rupa dengan banyak bumbu.


Jika ada pelajaran yang saya tarik dari pengalaman di atas, maka itu adalah bagaimana menyikapi begitu banyak pilihan yang disodorkan di tengah kebebasan yang kita miliki. Pada akhirnya, keputusan memang berada di tangan kita. Sejauh remote control yang kita genggam, dan sejauh akal sehat yang bersemayam di balik tempurung kepala ini.

-----
*Gambar dipinjam dari http://gettyimages.com

Wednesday, December 16, 2009

Ruri dan Pak Dokter

Ruri adalah seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang bekerja sebagai salesgirl. Keperawanannya direnggut oleh kekasih lamanya ketika ia berusia 18 tahun. Kepada pacarnya yang sekarang, Ruri mengaku masih perawan karena takut ditinggalkan. Masalah baru muncul ketika sang pacar mengajaknya bertunangan. Ruri yang ketakutan rahasianya terbongkar memilih untuk menempuh jalan pintas: melakukan operasi selaput dara. Pacarnya tidak perlu tahu. Orangtuanya apalagi. Cukup dengan sekian juta rupiah, ia bisa mendapatkan kembali keperawanannya dan menjadi perempuan utuh. Perempuan sempurna yang didambakan setiap lelaki.

Ruri adalah tokoh rekaan saya. Ia hidup dalam benak saya dan dalam korespondensi yang berlangsung selama beberapa minggu antara saya dengan seorang dokter ‘spesialis’ operasi selaput dara. Saya menemukan website-nya dari blog seorang teman, yang karena pertimbangan tertentu tidak saya cantumkan di sini.

Ketika pertama kali membuka situs tersebut, saya hanya bisa melongo. Pertama, karena alamat dan nama situsnya yang sumpah mati malesin (saya harus menutupi layar laptop ketika membukanya di tempat umum—saking mokal-nya). Kedua, karena artikel-artikel di sana ditulis dengan gaya bahasa dan kosakata yang jauh dari kesan profesional bin terpercaya. Ketiga, karena background website tersebut berupa gambar perempuan seksi dengan ekspresi seduktif. Keempat, karena meskipun di sana tercantum kalimat ‘mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan’, tidak ada unsur identitas yang cukup meyakinkan mengenai Pak Dokter dan klinik yang didirikannya. Satu-satunya ‘identitas’ yang ada hanya sepenggal nama (tanpa nama belakang), alamat e-mail, dan sebaris panjang nomor ponsel yang nggak ada cantik-cantiknya (baca: tipikal nomor yang gampang dibeli di mana saja dengan modal 10.000 perak).

Website itu berisi sejumlah penjelasan tentang operasi selaput dara, berbagai bentuk selaput dara, alasan tentang perlunya melakukan operasi selaput dara, testimoni dari pasien-pasien yang pernah ‘digarap’ Pak Dokter, dan tak lupa, pendapat dari pemuka agama mengenai operasi selaput dara ditinjau dari pemahaman kitab suci. Intinya, para perempuan yang telah kehilangan mahkotanya bisa mendapatkan kembali keperawanannya melalui operasi sederhana yang tidak menghabiskan biaya. Cukup dengan beberapa juta rupiah (yang relatif lebih murah dibandingkan operasi sejenis di luar negeri), selaput dara kembali utuh, kehormatan terjaga, dan tidak perlu khawatir ditinggal suami (atau calon suami) yang kecewa karena istri (atau calon istri) ternyata tidak perawan lagi.

Hal itulah yang menggelitik saya untuk mengirimkan e-mail kepada Pak Dokter. Ruri membutuhkan pertolongan. Saya membutuhkan pemuas rasa ingin tahu.

E-mail yang saya kirimkan di siang hari dibalas malam itu juga. Dengan tutur kata halus dan sopan santun terjaga, Pak Dokter mengungkapkan bahwa biaya operasi selaput dara sebesar 5 juta rupiah, dengan waktu yang bisa ditentukan sendiri oleh ‘Adik Ruri’. Alamat klinik akan diberikan menjelang tanggal operasi.

Ruri sempat terkesima, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya ia meminta operasi dilakukan besok pagi di Surabaya, misalnya. Namun ia mencoba untuk mengerti. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Praktis dan serba rahasia karena tidak ingin direpotkan oleh pasien.

Saya punya tabungan sebesar 5 juta rupiah, namun Ruri tidak. Ruri hanya mahasiswi sederhana yang keuangannya pas-pasan. Tabungan dari hasil bekerja sebagai salesgirl tidak bisa menutupi biaya operasi. Maka, Ruri mengirim e-mail kedua kepada Pak Dokter, memohon agar diberi keringanan.

Balasan kembali datang. Kali ini, Pak Dokter tidak seramah semula. Tulisannya singkat dan dingin, tanpa salam pembuka atau salam penutup. Hanya beberapa kalimat pendek yang menyatakan bahwa harga terakhir yang diberikannya adalah 4 juta rupiah, dengan catatan operasi harus dilakukan selambatnya 2 minggu setelah e-mail dikirimkan.

Ruri yang lega dan kegirangan langsung mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan hati Pak Dokter. Tanggal operasi pun ditentukan: 7 November. E-mail berikutnya yang diterima Ruri dari Pak Dokter berisi pernyataan bahwa ia wajib membayarkan uang muka sebesar 200 ribu rupiah sebelum tanggal operasi yang sudah disepakati.

“Hitung-hitung uang bensin, sekaligus menguji apakah Adik serius atau tidak. Untuk orang yang serius, 200 ribu bisa ditanggulangi dengan mudah, tapi orang iseng akan berpikir 1000 kali untuk mengeluarkan uang. Dokter makan uang segitu nggak akan kaya. Maaf ini pengalaman, karena pernah diberi kelonggaran kepada pasien, malah ngelunjak (tidak datang, padahal Dokter sudah datang, sudah beli alat, sudah sterilkan alat operasi, dan lain-lain, jadi Dokter rugi kalau pasien tidak datang dan cuma iseng.” tulis Pak Dokter sedikit curcol.

Tentu saja Ruri tidak keberatan. Apalah artinya 200 ribu rupiah dibandingkan dengan keperawanan yang kembali utuh dan hubungan yang harmonis dengan calon tunangannya. Ruri berjanji akan membayarkan uang muka pada awal bulan setelah menerima gaji. Ia juga meminta nomor rekening Pak Dokter.

Setelah janji diberikan, Pak Dokter kembali bersikap manis. Pak Dokter berjanji tidak akan mengecewakan Adik Ruri, namun nomor rekening tidak dapat diberikan sebelum tanggal pembayaran uang muka. Ruri pun maklum. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Inginnya yang pasti-pasti saja.

Saya menikmati jalannya korespondensi itu dari balik layar. Pelan namun pasti, saya terheran-heran sendiri dengan munculnya berbagai rasa yang tidak saya sangka-sangka. Awalnya, saya merasa keisengan ini amatlah lucu. Ketika mendapat balasan untuk pertama kalinya, saya terpingkal-pingkal sampai taksi yang sedang saya naiki nyaris nyasar ke kompleks tetangga.

Saat korespondensi berlanjut, rasa yang mendominasi bukan lagi geli dan penasaran. Saya sebal dengan sikap Pak Dokter yang berubah drastis ketika penawaran dilakukan. Keliatan bener pengen duitnya, meskipun Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Dokter kok ditawar, lo kira beli ikan di pasar?

Saya juga kesal dengan tenggat waktu yang ditentukannya. Mentang-mentang boleh nawar, langsung dibatesin 2 minggu. Namun, lagi-lagi, Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Udah bagus didiskon. Jangan ngelunjak, Jeeek.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya ikut-ikutan sebal dan kesal. Mungkin karena seperti Ruri, saya pun perempuan, kendati saya tidak ambil pusing dengan urusan perawan atau tidak perawan. Utuh atau terkoyak. Sempit atau longgar. Baru atau bek... uuups.

Korespondensi yang (awalnya) berlangsung atas nama iseng itu akhirnya membuat saya merenung sendiri: apa yang akan saya lakukan jika berada di posisi Ruri. Seandainya saya membohongi pacar saya dengan mengatakan bahwa saya masih perawan, akankah saya meneruskan kebohongan itu ketika ia mengajak saya menikah? Bahkan seandainya saya mendapatkan kembali ‘keperawanan’ saya dengan jalan operasi—dan tidak seorangpun tahu kecuali saya dan Pak Dokter—akankah saya tega membohonginya seumur hidup? Tegakah saya menyenangkan suami saya dengan membiarkannya mengira tetesan darah dan erangan yang saya keluarkan pada malam pertama kami adalah perlambang kesucian yang saya persembahkan hanya untuknya? Dan sanggupkah saya menjalani kehidupan rumah tangga nantinya, sementara saya sadar fondasi yang melandasinya amatlah rapuh?

Ruri memilih menghubungi Pak Dokter untuk menyelesaikan masalahnya. Akankah saya memilih jalan yang sama?

Sayangnya, saya tidak suka berandai-andai. Hidup, bagi saya, bukan naskah novel yang memerlukan outline sebelum ditulis. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya bukan Ruri. Biarlah Ruri yang menjawabnya sendiri.

Tanggal 31 Oktober—2 hari sebelum uang muka dibayarkan dan 7 hari sebelum tanggal operasi—Ruri mengirimkan e-mail terakhirnya kepada Pak Dokter.

Yth. Pak Dokter,

Dengan ini, saya hendak menginformasikan pembatalan operasi yang tadinya dijadwalkan pada 7 November.

Tadi malam pacar saya berkunjung ke rumah, dan saya menceritakan semua kepadanya, termasuk rencana operasi selaput dara ini. Saya tidak tega membohongi dia. Kalau kami bertunangan nanti, bahkan sampai menikah, saya tidak mau rumah tangga saya dilandasi dengan kebohongan. Lebih baik saya jujur daripada membohongi orang yang saya cintai, meskipun dia memutuskan saya. Ternyata, pacar saya tidak keberatan. Dia memang kecewa, tapi dia bersedia menerima saya apa adanya. Dia bilang dia tetap menyayangi saya meskipun saya sudah tidak perawan, karena selain keperawanan, ada hal-hal yang lebih penting di dunia. Cinta kami salah satunya. Saya lega dan bahagia sekali.

Terima kasih banyak atas kebaikan Pak Dokter selama ini, mulai dari membalas e-mail saya, memberi keringanan biaya, dan sebagainya. Saya sangat menghargai itu.

Salam,

Ruri


Saya membaca ulang e-mail yang baru saja terkirim, dan tersenyum sendiri. Drama singkat ini telah memberi pelajaran kepada saya jauh lebih banyak dari yang saya kira.

:-)


P.S. Pak Dokter membalas e-mail terakhir ini dengan memberi diskon tambahan sehingga tarif operasi menjadi 3 juta rupiah saja. Ada yang berminat? ;-)

-----

Thursday, December 3, 2009

Dear Nuel,

Apa kabar?

Belakangan ini gue sibuk dengan calon buku kedua gue. Buku itu akan terbit tahun depan. Di dalamnya ada artikel tentang elo. Judulnya ‘Farewell’, karena artikel itu gue tulis setelah kita berpisah. Sejujurnya, dari sekian banyak tulisan yang jadi pengisi buku itu, gue lupa bahwa ‘Farewell’ ada di sana. Sampai malam ini, ketika gue mengedit artikel itu.

Nel, gue nggak nangis waktu kita pisah. Gue bahkan nggak nangis waktu ninggalin elo. Gue pikir lo udah bahagia. And I did believe so. Lo tampak tenang sekali di sana, di peti itu. Lo kurus, tapi lo seperti tersenyum. Seakan pingin bilang ke semua orang, “Gue udah nggak apa-apa. Kalian bisa berhenti khawatir.” Tapi sekarang gue nangis. And I cry hard.

Nel, gue kangen elo. Kangen banyolan-banyolan lo. Kangen senyuman lo. Kangen minta tolong lo bawain barang lagi (karena lo yang paling berotot di antara kita semua dan gue yang paling cungkring). Kangen lihat lo ngangkat-ngangkat boom segede dosa itu. Kangen ngelihat lo dan Lala pacaran lagi kayak dulu. Kangen makan bareng lagi. Kangen ketawa-ketawa lagi.

Nel, kenapa gue nangis ya? Kenapa malam ini air mata gue nggak bisa berhenti inget elo? Berapa bulan sejak lo pergi? Sembilan? Sepuluh?

Bahkan sebelum lo pergi kita udah jarang ketemu. Lala bilang, lo sempet nanyain gue. Dan sekarang rasanya gue rela ngasih apa aja supaya bisa ketemu lo sekali lagi… ketika lo masih bisa senyum. Ketika gue masih bisa bercandain elo. Dan kita bisa sama-sama ketawa.

Di atas sana kayak apa, Nel? Indah? Lo ketemu nyokap gue? Sampaikan salam gue buat dia, ya. I miss her so damn much. Tell her I’m happy. Gue tahu dia tahu. Gue cuma pingin bilang aja. :-)

Nel, gue nggak pernah dapet kesempatan untuk ngomong ini ke elo. Tapi sekarang gue mau bilang.

Terima kasih karena udah ada di hidup gue. Terima kasih udah jadi temen gue. Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang kita lewati bareng-bareng. Terima kasih untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita bagi, yang masih bisa gue kenang sampai sekarang ketika lo udah nggak ada. Lo nggak akan pernah tahu betapa berartinya itu semua. Ketika segalanya lenyap, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan itu kita jaga, karena kita belum mau lupa.

…..



Hhhh.

Udah, ah. Gue udah selesai mewek. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Kalau kata Mitch Albom, gue yang curhat, lo yang dengerin. Ketika waktunya tiba nanti, kita bakal bisa lagi, kok, ngobrol dua arah.

:-)


Nel…

Gue kangen. Banget.

-----

Sunday, November 29, 2009

The Power of Mind

Saya dan seorang teman berencana pergi bersama. Belum lagi niat itu terlaksana, saya merasa terganggu dengan aroma bawang yang menguar dari tubuhnya. Bukan ‘bawang’ yang merupakan kiasan bau badan, tapi bawang yang sebenarnya. Celakanya, saya tidak tahan dengan aroma bawang.

“Kamu baru masak pakai bawang, ya?” saya bertanya setengah menuduh. Aroma itu semakin tajam, benar-benar mengganggu. Saya menatapnya dengan bimbang. Lebih baik tidak jadi pergi daripada tersiksa sepanjang jalan.

“Iya. Kamu nggak suka, ya?” ia mendekatkan tangan ke hidung dan mengendusnya. Ketika saya mengiyakan, ia berkata enteng, “Kalau aku sih udah biasa masak pakai bawang.”

Detik berikutnya, saya membuka mata. Saya sedang berada di tempat tidur, bergelung seperti bayi dengan selimut tebal. Di luar hujan. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Berarti baru 4 jam saya tidur, setelah semalaman begadang membaca novel.

Bukan mimpi itu yang membangunkan saya, melainkan kenyataan bahwa hidung saya benar-benar mencium aroma bawang yang tajam menyengat. Selama beberapa detik saya melongo—antara percaya dan tidak.

Saya keluar dari kamar. Seseorang baru selesai memasak dan aromanya memenuhi kamar saya yang tepat berseberangan dengan dapur. Saya menghela nafas. Bukan saja saya tidak bisa kembali tidur; saya harus ‘membersihkan’ sarang saya dari aroma itu sebelum masuk lagi ke sana.

Sambil menunggu aroma bawang lenyap, saya melamun sendiri memikirkan mimpi aneh tadi.

Indra penciuman saya telah menangkap aroma bawang yang saya benci ketika saraf-saraf saya yang lain—yang masih terlelap—belum menyadarinya. Dengan mekanisme yang tidak saya pahami, otak saya menyeleksi aroma asing itu dan mengelompokkannya ke dalam kategori ‘bau-bauan tidak enak’, lantas menciptakan ilusi berupa mimpi untuk ‘mengalihkan’ perhatian saya. Sebuah mimpi yang memang berhasil menahan tidur saya selama beberapa menit sebelum akhirnya saya sungguhan terjaga.

Sepanjang pagi, tidak habis-habisnya saya merenungi kejadian itu dan merasa kagum sendiri atas kemampuan pikiran (alam bawah sadar—atau apa pun namanya) yang supercepat, supertanggap dan superkreatif dalam ‘menanggulangi’ sebuah masalah—bahkan sebelum kesadaran saya mampu mencerna masalah tersebut. Agar saya tidak perlu terbangun, diciptakanlah mimpi yang mengonfirmasi ketidaksukaan saya, dan lucunya, orang yang berinteraksi dengan saya di mimpi itu adalah orang yang sedang bertengkar dengan sahabat saya di kehidupan nyata. Beberapa hari terakhir, sahabat saya rutin mengadukan kekesalannya atas ulah seorang kawan, dan meski saya berusaha netral, sedikit banyak saya ikut terpengaruh oleh peristiwa tersebut. A ditambah B, dan voila, pikiran saya dengan kreatif memasok ilusi masakan bawang yang dibuat oleh orang yang tidak saya sukai demi menutupi fakta sederhana bahwa tepat di depan kamar saya seseorang (hanya) sedang memasak.

Saya termangu mendapati betapa sederhananya kenyataan itu, dan betapa kompleksnya cara kerja pikiran dalam (berusaha) menanggulangi sebuah masalah—di mana yang disebut ‘masalah’ sesungguhnya tidak lebih dari sesuatu yang tidak saya sukai.

Lucu, bagaimana perangkat yang didesain untuk menolong manusia berevolusi dan menapaki perjalanan hidup sebagai makhluk berakal budi sanggup menciptakan berbagai ilusi yang mengaburkan pandangan dari kenyataan sederhana yang sebenarnya terjadi. Jangan-jangan, sebenarnya tidak pernah ada yang salah dengan hidup ini. Jangan-jangan, segala sesuatu yang terjadi hanyalah ‘ada apa adanya’. Jangan-jangan, kita sebenarnya bertanggungjawab atas ilusi yang diciptakan pikiran ini, sementara pada saat yang sama kita menudingkan jari pada begitu banyak hal di luar sana yang kita anggap sebagai sumber masalah—sedangkan apa yang disebut ‘masalah’ sebenarnya tidak lebih dari sesuatu yang tidak kita sukai.

Jangan-jangan. Saya sendiri tidak tahu. Namun kemungkinan itu ada.

Anda yang membaca judul di atas barangkali berasumsi bahwa saya menulis artikel self-help mengenai kekuatan pikiran dan bagaimana memaksimalkan potensi tersebut untuk menolong seseorang mencapai keberhasilan. Sebut saya naif, namun saya berpendapat, mustahil untuk hidup dalam kekuatan pikiran yang sejati jika seseorang tidak betul-betul memahami cara pikirannya bekerja. Jangan-jangan, segala konsep motivasional yang kita kenal selama ini tidak lebih dari ilusi yang diaminkan dengan mata setengah terpejam, karena apabila segala faktor yang melatari konsep tersebut dirunut ke belakang, kita hanya membentur sebuah alasan yang sama: kita ingin bahagia.

Jika demikian adanya, lantas apa hubungan antara kebahagiaan dengan kesuksesan? Kebahagiaan dengan mencapai hal-hal tertentu yang kita inginkan? Mengapa kita memerlukan kondisi tertentu agar bisa bahagia? Mengapa kita harus meraih ini dan itu dulu; atau memiliki anu dan inu? Mengapa kita tidak bisa bahagia sekarang? Mengapa kita sulit untuk bahagia—begitu saja?

Dan pertanyaan yang sama pun kembali berulang di benak saya: are you happy, Jen?

* * *

Pagi itu, saya duduk di dekat jendela dengan novel di pangkuan dan semangkuk mi instan mengepul. Di luar hujan terus mendera bumi. Saya kedinginan, tapi teh manis panas perlahan-lahan menghangatkan tubuh. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, mendadak saya merasa bahagia. Sangat bahagia.

Saya tidak tahu kenapa saya bahagia. Mungkin karena novel baru yang belum selesai dibaca. Mungkin karena semangkuk mi instan dan secangkir teh panas. Mungkin karena rintik hujan yang membuat suasana jadi romantis. Mungkin karena mimpi barusan secara tidak langsung telah mengingatkan bahwa saya tidak perlu terjerat ilusi dalam menjalani permainan hidup; bahwa saya bisa bernafas lebih lega dan melangkah lebih ringan. Atau mungkin karena kebahagiaan sesederhana cuaca; datang dan pergi pada waktunya. Saya tidak perlu tahu kenapa dan kapan.

Mungkin. Entahlah. Saya tidak berminat mencari tahu. Yang saya tahu hanya, pagi itu saya tidak butuh banyak untuk bisa bahagia.

:-)

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com.

-----

Sunday, November 22, 2009

Siapa Bilang Jadi Vegetarian itu Susah?

Menjadi vegetarian adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas di benak saya sama sekali. Saya cukup sering membaca berbagai tulisan dan artikel tentang vegetarian, dan pernah pula tergoda menjajal berpuasa daging ketika mendengar Oprah Winfrey menjadi vegetarian, namun semuanya hanya sebatas mampir di otak. Berkelebat sekilas dan lenyap tanpa bekas.

Sebagai pelahap sejati ayam bakar, empal goreng, bistik, gulai otak, hamburger, dan segala jenis makanan berdaging lain, saya menjadikan daging menu utama dalam hidangan sehari-hari. Saya bahkan sanggup menyantap menu yang sama selama berhari-hari, selama racikan bumbunya pas dan sesuai dengan lidah saya, dan yang terpenting, berdaging.

Perkenalan saya yang pertama dengan makanan tanpa daging terjadi kira-kira sepuluh bulan yang lalu, ketika saya menjalin pertemanan dengan dua herbivora vegetarian. Yang satu sudah menjadi vegetarian selama tiga tahun, sedangkan satunya lagi sudah delapanbelas tahun.

Kunjungan yang cukup sering membuat saya tergoda mencicipi hidangan yang tersaji di meja makan mereka. Saya masih tidak bisa membayangkan rasanya makan tanpa daging, namun setelah dicoba, rasanya tidak seburuk yang saya duga. Ketika bepergian bersama, saya memilih menu tanpa daging untuk menghormati mereka. Ternyata, saya menikmatinya. Lewat beberapa bulan, tubuh saya pun mulai merasakan manfaatnya. Entah sugesti atau bukan, saya merasa lebih sehat dan penyakit jarang mampir.

Saya pun memutuskan untuk tidak lagi berfoya-foya menyantap daging. Dalam seminggu, saya membiasakan diri untuk berpuasa daging selama dua hari. Setelah beberapa bulan, saya mampu berpuasa daging selama empat hari. Selama itu pula tubuh saya menjadi jauh lebih segar dan tidak rentan penyakit. Perlu diketahui bahwa sejak kecil saya mudah jatuh sakit dan saya terbiasa mengonsumsi antibiotik sejak berusia dua tahun. Kebiasaan itu terbawa hingga dewasa dan menyebabkan saya bergantung dengan obat-obatan. Sejak menekuni meditasi dan mengurangi konsumsi daging, kondisi tubuh saya berangsur-angsur mengalami perubahan.

Saya yang dulu sering terkena flu, kini jarang sekali sakit. Kalaupun sakit, tidak lebih dari dua atau tiga hari. Lebih dari sekali saya mengalami gejala flu dan masuk angin yang hanya bertahan kurang dari duapuluhempat jam tanpa pengobatan apa pun. Saya yang dulu membawa dompet berisi berbagai macam obat –mulai dari jamu sampai kapsul— di dalam tas, kini mulai berani bepergian tanpa segala peralatan perang itu. Saya yang dulu ‘fakir obat’ sekarang tidak pernah lagi minum obat. Seakan-akan tubuh saya kembali menemukan kemampuan alamiahnya untuk menyembuhkan diri sendiri. Tidak hanya tubuh, hati saya pun terasa lebih lapang, karena menyantap daging hewan –pada esensinya yang sejati— sama dengan memindahkan energi yang dimiliki oleh hewan tersebut ke tubuh dan batin kita. Hewan yang diternakkan secara tidak alamiah, misalnya, biasanya mengalami stres yang ikut berpindah ke diri kita ketika kita menyantapnya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengeliminasi daging dari menu sehari-hari. Bukan hanya beberapa kali seminggu, melainkan setiap hari. Saya memberi penjelasan kepada anggota keluarga yang mempertanyakan keputusan tersebut. Meski awalnya terkejut, lambat laun mereka mulai terbiasa dengan gaya hidup saya yang baru.

Kekhawatiran yang tadinya saya miliki tentang apa-kata-orang ternyata tidak terbukti. Sebaliknya, menjadi vegetarian memberi saya kesempatan untuk belajar berkomunikasi. Saya belajar menyampaikan dengan jujur dan apa adanya alasan saya untuk tidak mengonsumsi daging. Saya menjelaskan pilihan yang saya ambil kepada teman-teman saya. Ternyata mereka dapat menerimanya dengan baik. Setelah beberapa bulan, dua sahabat saya yang awalnya sangsi menjadi tertarik dan ikut mengurangi menyantap daging.

Kebahagiaan saya bertambah dengan menjamurnya restoran vegetarian di berbagai tempat, yang berarti, pilihan untuk menikmati makanan enak dan sehat juga semakin bertambah. Restoran-restoran lain yang mulai menyediakan menu vegetarian di samping menu biasa juga semakin membuat saya berseri-seri. Sungguh, menjadi vegetarian ternyata tidak sesulit yang saya duga.

Beberapa bulan lalu, saya membereskan kamar. Di sudut meja, saya menemukan sebuah dompet berisi berbagai macam obat. Saya terheran-heran sendiri, sejak kapan benda itu tergeletak di sana. Benda yang dulu tidak pernah saya tinggalkan barang sehari, kini telah terlupakan. Barulah saya ingat, saya pernah mengeluarkannya dari tas karena malas membawa terlalu banyak barang. Saat itu, saya merasa cukup sehat dan yakin alergi saya tidak akan kambuh, tidak akan terserang masuk angin, mual mendadak, dan sebagainya. Saya mengeluarkannya dan menaruhnya di atas meja. Sejak itu, saya tidak pernah menyentuhnya lagi.

Saya tersenyum, lantas mengosongkan isi dompet tersebut. Saya merasa seperti narapidana yang baru keluar dari penjara. Saya bebas.

Setiap hari, saat melihat makanan di piring --apa pun isinya-- hati saya bernyanyi dan bersyukur. Rasa syukur itu tidak hanya datang dari tubuh yang sehat dan dompet obat yang kosong, melainkan dari pilihan yang saya ambil dan jalani setiap hari dengan penuh kesadaran. Sayur nangka, jamur goreng, kentang masak kecap, telur balado, pepes oncom, tempe mendoan, semur tahu, perkedel kentang, dan semangkuk sayur berkuah adalah surga kecil saya sekarang.

Dulu, saya sempat khawatir untuk menyebut diri vegetarian, namun kini saya mengucapkannya dengan percaya diri. Dulu, saya memiliki berbagai kekhawatiran untuk menjalani gaya hidup tanpa daging. Kini, saya sering tersenyum dan membatin, “Tau gitu, dari dulu aja.”

Ya. Siapa bilang jadi vegetarian itu susah?

:-)

*Artikel ini dimuat di majalah Info Vegetarian edisi IV/2009.

**Gambar dipinjam dari gettyimages.com.

----