Saturday, February 2, 2008

Reno dan Bella

“Stop di sini, Pak.”

Taksi berwarna biru metalik yang kunaiki berhenti di depan rumah besar bercat putih. Bangunan yang sangat familiar dan kurindukan selama setahun terakhir.

Pak Marno bergegas membukakan pintu pagar untukku. Senyum gembira merekah di wajahnya. “Non Delia. Pulang, Non?” sapanya ramah.

“Iya, Pak.” Aku balas tersenyum dan membiarkan koper-koperku diambil alih oleh tukang kebun berwajah sumringah itu.

Aku meraih handel pintu utama dan baru akan membukanya, ketika telingaku menangkap suara-suara asing di balik pintu.

… itu?

Aku menoleh, baru hendak mengajukan pertanyaan kepada Pak Marno ketika pintu membuka, menampakkan seraut wajah yang sangat kurindukan.

Mama tersenyum lebar dan mengembangkan kedua tangannya. Aku memeluk Mama erat-erat sementara beliau mengusap kepalaku penuh sayang. Akhirnya aku bisa mencium aroma tubuh Mama lagi. Aroma yang harum dan selalu ngangenin.

Tapi Mama tidak sendirian menyambutku. Di belakangnya ada satu …tidak, dua sosok yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mengerutkan kening. Mama bergeser. Sosok-sosok itu melangkah maju dan menatapku dengan ekspresi polos dan penuh semangat. Mata mereka membulat, seakan-akan mempelajariku dengan seksama. Aku balas menatap mereka, bergantian.

“Kenalin, Del. Ini Reno. Umurnya 3 tahun,” Mama mengusap kepala salah satu dari mereka. “Yang ini Bella. Dia baru 2 tahun.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Papa muncul dan langsung memelukku erat-erat. “Welcome home, Sayang…” ia menjauhkanku sedikit agar bisa mengamati wajahku, “wah, putri Papa udah gede!”

Aku nyengir. “Delia udah 23, Pa.”

Aku menangkap kerling jenaka di wajah Papa dan tertawa. Kerlingan usil itu berarti: ‘You-will-always-be-my-little-girl’.

Reno menyeruak di antara aku dan Papa. Senyumku segera menghilang. Mama-Papa berhutang penjelasan padaku.

Melihat perubahan pada wajahku, Papa segera berkata, “Tentunya kamu sudah kenalan dengan Reno dan Bella. Mulai sekarang mereka bagian dari keluarga kita, Delia.”

“Sejak kapan?” aku tidak bermaksud begitu, namun suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar dingin.

“Sejak Oma Rheine meninggal bulan lalu.” Papa menjawab seraya menatapku penuh arti.

Oma Rheine adalah wanita tua yang tinggal tidak jauh dari rumahku, hanya berselang beberapa blok dari sini. Wanita tua yang sedih dan merana, menurutku, karena menantu dan anak satu-satunya tewas dalam kecelakaan setahun lalu. Belum termasuk penyakit diabetesnya yang perlu mendapat perawatan serius dan kondisi keuangannya yang tidak menentu. Untuk alasan yang tidak kuketahui, Papa menyayangi Oma Rheine seperti ibu kandungnya sendiri dan sering sekali menjenguk wanita itu, sekedar untuk bercakap-cakap atau memberi bantuan materi kepadanya.

Aku menghela nafas. Papa menyayangi Oma Rheine. Kasihan padanya. OK. Tapi, masa sih sampai segitunya?

“Reno dan Bella tidak punya siapa-siapa lagi, Del.” Aku mengenali ketegasan yang tersimpan di balik intonasi lembut itu. Aku memandang Papa. Tarikan di wajahnya tidak memberiku pilihan selain menerima kedua monster cilik itu.

Great.

Well, mungkin aku berlebihan, menyebut Reno dan Bella monster. Aku bahkan belum kenal mereka. Tapi bukan salahku kalau sejak awal aku membenci mereka. Papa dan Mama harusnya tahu kalau aku tidak akan menyukai keputusan itu.

Pikiranku buyar ketika Papa mendaratkan ciuman di keningku dan membelai rambutku dengan sayang. Dia selalu tahu bagaimana membuatku luluh. Kurasa dalam hal itu Papa memang benar: I will always be his little girl.

Aku tersenyum dan memeluknya. Mata Papa bersinar-sinar di balik kacamatanya kala ia merangkulku menuju ruang makan. “Sekarang kamu harus cerita. How’s Chicago? Om Rianto sama Tante Sarah? Semua baik-baik?”

* * *

Now I officially hate those little monsters.

Liburan yang seharusnya indah rusak total gara-gara dua monster itu: Reno dan Bella.

Tadinya aku membayangkan hari-hari yang tenang, nonton DVD seharian sambil ngemil segala makanan di kulkas, bangun siang, bersantai di rumah, dan sebagainya.

Santai apanya!

Setiap pagi, waktu aku masih lelap, Reno akan membuat keributan di depan kamar sampai aku terbangun dan membukakan pintu. Setelah itu dia akan melenggang masuk dengan santai seolah-olah kamar ini miliknya. Kalau aku nekat tidak membuka pintu, dia akan terus ribut. Di dalam kamar Reno hanya mondar-mandir sambil mengambili barang-barang yang tergeletak di lantai (dia tidak bisa menjangkau barang-barang di atas meja rias karena terlalu tinggi baginya – syukurlah!) seperti slippers atau sisir yang terjatuh, dan memainkannya dengan berisik. Damn.

Pernah aku lupa mengunci pintu kamar, dan terbangun jam 5 pagi dengan slippers di samping bantal. Reno mengambilnya, menjatuhkannya di sebelah kepalaku dan menarik bed cover sampai aku nyaris menjerit. Aku sudah siap meneriakinya karena jengkel, tapi Mama buru-buru mencegah, “Reno nggak bermaksud mengganggu kamu, Del. Dia hanya ingin main sama kamu. Salah sendiri kamu tidur nggak ngunci-ngunci pintu.”

Yeah right. Now I’m the bad guy. Aku menarik bed cover sampai menutupi kepala, uring-uringan. Mama dan Papa membuat keputusan sepihak dengan mengambil Reno dan Bella tanpa memberitahuku sama sekali, dan sekarang mereka mengharapkan aku berbaik-baik pada kedua makhluk itu, padahal mereka tahu aku sangat benci…

…ah, sudahlah. Percuma.

* * *

Aku menaikkan kaki ke atas sofa dan sedang bersiap menggigit sandwich ketika Bella menghampiriku dan menatapku dengan matanya yang bulat besar, menampilkan ekspresi minta dikasihani. Dasar perayu!

Aku mengunyah sarapanku dengan cuek, tidak mempedulikannya. Bella terus menatapku tanpa bergerak sama sekali. Matanya tidak lepas dari sandwich di tanganku. Dasar rakus. Padahal dia sudah sarapan!

Aku membawa piringku ke dapur. Bella membuntutiku, tapi aku menutup pintu keras-keras tepat di depan wajahnya. Sukurin!

Sorenya, kejadian yang sama terulang lagi. Aku baru membuka lapisan alumunium pembungkus cokelat –bahkan belum sempat menggigitnya—ketika Bella muncul di depanku, lagi-lagi dengan ekspresi minta-mintanya.

Please deh.

“Nggak ada cokelat buat kamu,” ucapku ketus. “Pergi sana, main aja sama Reno!” aku membuat gerakan mengusir dengan tanganku, tapi Bella diam saja.

Aku menggigit cokelat. Bella mendekatiku. Matanya tak lepas dari cokelat di genggamanku.

“Eh, bandel! Disuruh pergi malah ngedeket. Sana!” aku memelototinya.

Kalau sebelumnya aku berpikir bahwa Reno-lah yang paling nakal di antara mereka berdua, maka Bella adalah biangnya keras kepala. Dia sama sekali tidak bergeming mendengar omelanku.

Aku berjalan ke dispenser, mengambil segelas air. Bella mengikutiku kemana pun aku melangkah, seperti bayang-bayang. Aku menghempaskan diri ke sofa. Bella mematung, tapi dalam sekejap dia sudah berada di sebelahku.

That’s it. Enough is enough.

Aku berdiri, sudah siap memukul dan melontarkan sumpah serapah ketika pandangan kami bertemu. Kali ini bukan cokelat. Bella memandangiku dengan kedua matanya yang besar.

Ia menatapiku tanpa berkedip, dengan ekspresi polos yang selalu ditampilkannya sejak hari pertama kami bertemu. Raut yang tidak pernah berubah: lugu dan minta dikasihani.

Aku melempar cokelat ke atas meja, menunggu reaksinya. Bella hanya memandang cokelat itu sekilas, lalu kembali menatapiku. Aku diam mematung. Mendadak sebersit rasa tidak tega melintas di hatiku. Bagaimana pun, seperti kata Papa, dia sebatang kara sekarang. Mungkin aku harus lebih lunak kepadanya.

“Sudahlah.” kataku ketus. “Tapi kamu tetap nggak boleh makan cokelat. Makan yang lain aja, OK?”

Dengan patuh Bella berjalan mengikutiku ke kulkas.

* * *

“Hei! Sejak kapan elo deket sama Reno dan Bella?”

Aku tidak mengacuhkan komentar usil Fey –adik semata wayangku-- yang melintas di ruang tamu dengan kaus penuh keringat. Aku menoleh sekilas, lalu kembali berfokus pada talkshow di TV. Reno dan Bella duduk di sampingku, ikut mencerna acara tersebut dengan raut sok serius.

“Tumben, Mbak. Biasanya kan elo paling anti sa…”

“Shut up,” aku melempar bantal sofa ke arah Fey. “Mendingan lo mandi. Baunya sampe ke sini, tuh.”

“Don’t change the subject,” goda Fey si mulut jahil. “Sejak kapan lo jadi Nona Penyayang gini?”

“People change.” Aku bergumam, setengah terkejut karena jawaban yang kaluar dari bibirku.

People change?

Maybe yes. Aku tidak bisa menahan diri untuk melirik Reno dan Bella yang memandangi layar TV tanpa berkedip. Senyumku mengembang perlahan.

Entah bagaimana awalnya, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba aku tidak terlalu merasa keberatan lagi dengan kehadiran dua pengganggu itu. Malah sebenarnya, aku agak senang mereka ada di sini, seperti sekarang. Aku senang ketika mereka mendekatiku, untuk meminta makananku atau sekedar minta disayang. Aku senang ketika mereka menatapku dengan wajah polos yang menggemaskan. Aku senang ketika mereka masuk ke kamarku setiap pagi dan mengajakku bermain. Aku bahkan tidak ragu membelai mereka dengan sayang. Aku… jatuh hati.

Ya, aku jatuh hati. Pada mereka yang kubenci. Padahal aku baru pulang 4 hari.

“Ati-ati, Mbak,” lagi-lagi Fey muncul dengan gaya selebornya yang khas ketika aku asyik mengelus kepala Bella, “ntar kalo udah balik ke Chicago lo bisa kangen berat sama mereka.”

Aku tidak menjawab. Sepertinya sih iya. Aku pasti akan kangen. Tapi itu kan masih lama. Masih ada 3 minggu sebelum aku kembali ke sana.

“Delia, Fey, ayo makan dulu!” Mama berseru. “Makanannya udah siap! Ayo, nanti keburu dingin nggak enak, lho!”

Aku dan Fey saling bertukar pandang, menggeleng-geleng heran. Mama selalu lupa bahwa anak-anaknya tidak berumur 7 tahun lagi.

Aku bangkit dari sofa dan berjalan ke ruang makan. Fey menduluiku, setengah berlari. Aku menoleh ke arah Reno dan Bella yang masih asyik di depan TV.

“Reno, Bella, sini!” seruku sambil terus berjalan.

Dua anjing golden retriever melompat turun dari sofa dan mengibaskan ekor dengan gembira. Sinar matahari yang menerobos dari jendela menciptakan siluet indah saat Reno dan Bella mengikutiku dengan lincah sambil berebut menjilatiku.

Wednesday, January 30, 2008

Memasuki Tahun Ke-24 :-)

Tahun ke-24. Terima kasih, Tuhan.

Lagi dan lagi, tak henti-hentinya saya bersyukur atas semua yang telah saya rasakan dan lalui sepanjang hidup. Atas setiap tetes nikmat dan anugerah yang tidak pernah berhenti tercurah dalam hidup ini. Atas aroma segar tanah sebelum hujan, dan pelangi indah setelah tetes terakhir jatuh ke bumi. Atas hari baru yang dibawa matahari dan embun setiap pagi. Atas kemurahan dan kebaikan Sang Mahabesar yang terjadi dalam tiap detik kehidupan saya, bahkan ketika saya terlalu sibuk untuk menyadarinya. Atas ‘sosok’ Tuhan yang saya jumpai di mana-mana, dan membuka mata hati saya terhadap begitu banyak hal yang sering terlewat dalam cepatnya perputaran roda kehidupan.

Tangan seorang gadis berbaju lusuh yang menjinjing tas kotor dalam bis antarkota yang mengulurkan sekeping rupiah kepada setiap pengamen tanpa terhalang kepapaannya sendiri – itulah tangan Tuhan.

Kerelaan untuk mengabdikan diri di daerah rawan konflik tanpa kompensasi yang memadai; serta kesediaan untuk mengambil dan merawat orang-orang gila yang terbuang untuk menyayangi mereka seperti keluarga sendiri – itulah hati Tuhan.

Cinta seorang Ibu yang rela memberikan nyawa bagi anak-anaknya dan kasih seorang sahabat yang selalu menerima dan mendukung tanpa mengharap pamrih sekejap pun – itulah cinta Tuhan.

Pelangi yang muncul setelah hujan dan mencerahkan Bumi dengan warna-warna indah, bunga yang tumbuh dan mekar setiap hari, sinar mentari yang menghangatkan tubuh dan setia terbit di ufuk, tetes-tetes embun di pucuk daun yang menjadi pertanda datangnya hari baru; itulah kebesaran Tuhan, dan masih banyak lagi ‘sifat-sifat’ Tuhan yang saya temukan setiap hari, dalam berbagai peristiwa dan individu.

Sahabat Mahakeren dan Kekasih Mahabaik yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan kasih yang tidak terbatas, tangan yang selalu terulur memberi kekuatan (dan tidak pernah sekejap pun meninggalkan saya, bahkan saat saya berada pada ‘titik terendah’ hidup saya) -- itulah Tuhan, bagi saya. Yang berkali-kali membuat saya jatuh cinta. Yang membuat saya mengerti bagaimana menjalani hidup. Yang menguatkan dan selalu menopang, sampai saya dapat berjalan tanpa terjatuh (dan ketika saya tersandung, lagi-lagi Dia ada di sana).

Terlalu sederhana? Mungkin iya :-) Yang pasti, saya bersyukur bahwa hati ini masih bisa terus merasakan cinta-Nya, yang akhirnya menjadi mutiara yang membingkai jiwa saya.

Saya bersyukur bahwa mata ini masih dapat menilik kebesaran-Nya yang tersembunyi dalam alam semesta dan sering kali luput dari perhatian.

Saya bersyukur bahwa kepingan jiwa ini masih mampu mengapresiasi makna kebaikan sebelum menjatuhkan penilaian terhadap sesama, dan masih mampu melihat garis keperakan pada setiap awan gelap yang menunjukkan secercah harapan dalam kemustahilan.

Saya bersyukur saya masih bisa belajar dari hal-hal sederhana yang ditawarkan kehidupan, detik demi detik.

Saya bersyukur bahwa kini saya mengerti arti ‘bijaksana’ melebihi tahun-tahun sebelumnya, di mana saya hanya melihat kehidupan dari balik lensa berwarna. Lebih dari saat-saat ketika saya hanya menganalisa dengan subyektif, sementara hidup ini begitu kaya warna.

Lebih dari segalanya, saya bersyukur bahwa saya terus bertumbuh bersama kehidupan. Tidak berlari, melainkan melangkah setapak demi setapak sambil menikmati keindahan di sepanjang jalan. Merengkuh keyakinan saya erat-erat sambil tetap membuka mata dan hati, karena bagaimanapun, hidup tidaklah terdiri dari hitam dan putih belaka.

Tahun ke-24.

Terima kasih, Tuhan. Untuk selalu berada di sisi saya. Untuk selalu menguatkan dan memberi yang terbaik bagi saya. Terima kasih buat cinta yang tidak pernah berhenti menghangatkan hati dan anugerah yang selalu tercurah, yang memampukan saya untuk menilik hidup dengan bijak dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dan yang terpenting, terima kasih karena telah mengajarkan saya tentang cinta, dengan mencintai saya seutuhnya sehingga saya bisa membagikan cinta yang sama kepada orang-orang lain -- tanpa tersekat perbedaan. Semoga proses belajar itu tak pernah berhenti... :)

Monday, January 28, 2008

Setitik Embun, Semalam.

“Bisa tolong ceritakan keadaan di dalam, Bu?”
“Ya… ada keluarganya, dekat kaki Pak Harto. Ada Mbak Tutut juga, terus saya lihat Pak Moerdiono…”
“Bagaimana Ibu bisa masuk ke dalam?”
“Digilir, Mbak. Sepuluh-sepuluh. Yang pakai baju Muslim duluan, jadi saya masuk sama teman-teman pengajian.”
“Mbak sempat lihat jenazah Pak Harto?”
“Cuma sekilas, Mbak. Ndak tahan saya…”

Mata itu berkaca-kaca dan sembab, seolah merasakan pedih akibat ditinggal sanak keluarga atau sahabat terkasih.

Tangisnya tumpah semalam. Untuk sosok kaku yang terbujur dengan kain putih panjang.

Airmatanya jatuh semalam. Untuk seseorang yang bahkan tak pernah dikenalnya secara pribadi.

Dia berduka atas seseorang yang telah menuai hujat dan amarah penghuni negeri. Dan dalam doanya, dia memohonkan ampun.

Wanita berjilbab hitam itu menghela nafas. Berat.

Di depan layar kaca, saya termangu.

Siapa bilang kita tak lagi punya harapan?

Di tengah padang yang mulai meranggas ini, masih berkilau setitik embun.

Masih ada hati yang mau memberi maaf.


Selamat Jalan, Pak Harto.

Sunday, January 20, 2008

Oleh-oleh Perjalanan

“Si Anu tuh baik ya. Orangnya nggak pelit, kalo pergi-pergi suka bawa oleh-oleh banyak banget.”

Saya tersenyum kecut mendengar komentar itu, karena sama seperti si Anu, saya juga baru saja kembali dari perjalanan, tapi tanpa membawa oleh-oleh (kecuali t-shirt untuk si kecil Alex). Si Anu, walau hanya mengunjungi 1 kota, membawa oleh-oleh cukup banyak untuk seluruh anggota keluarganya. Saya, yang wara-wiri ke 3 kota, pulang dengan tangan kosong dan baju kotor. *wink*

Rasa bersalah sempat berkelebat di hati, karena tiba-tiba saya merasa ‘pelit’. Lha, buktinya, pergi 5 hari, ke 3 tempat pula, masa nggak ada buah tangan yang dibawa?

Tapi, setelah dipikir-pikir, nggak ah, bukannya pelit kok. Alasan kenapa saya nggak membawa buah tangan untuk teman dan keluarga adalah... ...ya karena males aja berburu oleh-oleh.

Hehehe.

Jadi ingat konversasi dengan seorang sahabat pertengahan tahun lalu, ketika saya main ke kotanya dan menginap di rumahnya.

Waktu itu dia bertanya, “Mau beli baju gak? Kalo mau ntar gue temenin ke factory outlet.”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Beneran kok.”

“Kalo belanja?”

Yang ada saya malah balik nanya, “Belanja apa?”

“Apa kek, siapa tau lo mau beli apa gitu.”

“Nggak, ah.”

“Beli makanan buat oleh-oleh?”

Lagi-lagi saya menggeleng.

Saya baru bergerak ketika adik saya SMS minta dibawakan makanan khas kota itu.

Sumpah, alasannya bukan karena nggak mau keluar uang. Simply karena saya kurang suka merambah sudut-sudut kota hanya untuk berbelanja. Saya lebih senang menghabiskan waktu untuk menikmati udara segar, sambil leyeh-leyeh dan ngobrol panjang-lebar bersama sahabat (karena tinggal berbeda kota tentunya membuat komunikasi jadi terbatas, kan? Makanya kalau ketemu dipuas-puasin.. :-)). Atau makan di luar, mencicipi makanan khas daerah setempat. Itu thok. Kalau ada kesempatan, saya juga suka mengunjungi tempat-tempat menarik di kota yang saya singgahi, dengan catatan BUKAN factory outlet, pusat perbelanjaan atau tempat beli oleh-oleh.

Makanya, adik dan anggota keluarga saya yang lain hampir tidak pernah menanyakan oleh-oleh setiap kali saya pulang dari bepergian. Kalau mereka ingin sesuatu, mereka tinggal memesan lewat telepon/SMS, dan saya akan berusaha untuk mendapatkannya. Itu juga dengan embel-embel, “Kalau nemu, ya. Nggak janji pasti dapet.”

Hehehe.

Jadi, apa dong yang bisa dibagi dari perjalanan-perjalanan saya?

Cerita. Pengalaman.

Dua hal itu nggak bisa dibeli di tempat oleh-oleh mana pun, bos. Dan berbagi cerita setelah kembali dari perjalanan adalah hal yang paling saya sukai, ketimbang memberikan kantung plastik berisi oleh-oleh.

Cerita-cerita dan pengalaman yang saya dapatkan selama perjalanan bukan sesuatu yang ‘wah’ atau luar biasa. Kebanyakan sangat sederhana, namun selalu berkesan dan memberikan nutrisi untuk hati saya, serta bisa membuat saya cengar-cengir sinting mengingatnya.

Seperti ketika saya malas menenteng tas pakaian yang berat-gila sembari menunggu teman, dan dengan nekat menitipkannya di sebuah factory outlet dengan modal senyum manis kepada karyawan toko *halah* (dan kembali setengah jam kemudian untuk… numpang nge-charge handphone. Hahaha!).

Atau ketika saya mengetes keberanian dengan menjalani Fear Factor a la sendiri: sok beramah-tamah pada anjing-anjing setinggi paha dan akhirnya histeris ketika diterjang sampai jatuh. Bo, kayaknya dulu ngebayangin digigit anjing itu serem banget. Sekarang, gampang aja lho tangan saya masuk ke mulut anjing... dan digigit!

Atau ketika saya ketinggalan travel dan terpaksa naik bis umum, yang awalnya bikin jengkel karena udara yang gerah dan bis yang penuh sesak menguarkan aroma yang membelai hidung dengan aduhainya selama 4 jam. Tapi kekesalan itu hanya sementara, karena saya bertemu dengan seorang anak yang sangat manis, dan duduk dekat anak itu selama beberapa jam cukup membuka mata saya atas berbagai hal dalam hidup yang selama ini saya abaikan (that’s another story).

Atau ketika saya bertemu pengamen-pengamen cilik (yang sepertinya) adik-kakak dalam bis antarkota dan tersentuh dengan tingkah polah mereka.

Atau ketika saya dengan songongnya merasa ‘kuat’ setelah berhasil menenggak wine tanpa mabuk (sementara yang lain sebaliknya) dan dengan PD mencoba Bailey yang (sialnya) kadar alkoholnya jauh lebih tinggi dan akhirnya… kleyengan juga :D

Atau ketika saya berjumpa dan berkenalan dengan orang-orang baru yang seru-seru, kreatif, gila dan super-fun.

Atau ketika menginap beramai-ramai di rumah seorang kenalan baru, dadakan, tanpa membawa apa pun dan tidur di lantai tanpa ganti baju (iya, jorok, tapi seru!).

Atau ketika duduk di pinggir jalan saat hujan gerimis -tanpa menghiraukan kendaraan yang lalu-lalang- sambil memuaskan hasrat banci kamera.

Atau ketika menggigil kedinginan sambil menikmati harum jagung rebus, sementara di luar hujan lebat disertai kabut.

Atau ketika makan jagung bakar -dengan mentega dan susu kental manis yang banyak- di pinggir pantai sambil bercengkerama, dan setelahnya menyusuri kota sambil minum es kelapa muda.

Atau sekedar duduk bersama sahabat-sahabat saya, ngobrol segala sesuatu yang tidak penting, membahas hal-hal tak berguna sambil terbahak-bahak gila sampai sakit perut, obral curhat dan bertukar cerita hingga pagi menjelang.

Itu semua adalah hal-hal berharga yang tidak ingin saya tukar dengan belanja di factory outlet atau berburu oleh-oleh – walau resikonya saya dicap pelit dan ‘nggak-inget-orang’. *wink*

Itu semua, buat saya, adalah oleh-oleh perjalanan yang tidak ternilai dan tidak bisa dibeli.

Dan, meski kedengarannya egois, saya senang karena sifat ogah-belanja saya ini lumayan menekan pengeluaran selama di luar kota, sehingga saya bisa menabung untuk perjalanan berikutnya. Hahaha!

Saturday, January 12, 2008

Tentang Pelecehan dan Dilecehkan

Sudah ada entri yang saya tulis dan siap dipublikasikan di sini. Tapi begitu membaca ini, mendadak saya berubah pikiran.

Pelecehan seksual memang bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan korbannya bisa siapa saja *perasaan ini kayak iklan layanan masyarakat apa gitu, ya?*.

I had been there, too.

Pelakunya? Bukan pacar, bukan orang asing, bukan penjahat kelamin. Saya mengalami pelecehan seksual ketika duduk di bangku SD. Pelakunya orang yang sangat dekat dengan keluarga saya dan sudah dianggap keluarga sendiri oleh orang tua saya, sehingga akses keluar-masuk rumah dan kamar (!) terbuka lebar.

Di sisi lain, orang tua saya super-sibuk, mereka hampir tidak pernah ada di rumah dan kualitas komunikasi kami kurang baik (okay, jelek). Saya sendiri, ya namanya juga anak kecil, mau diapain juga terserah.

Peristiwa tersebut terjadi berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama, dan saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi – boro-boro lapor ke Komnas HAM, mikir aja nggak. Yang saya tahu hanya, setiap kali itu terjadi, saya merasa aneh. Saya merasa tidak nyaman, that’s it.

Waktu saya beranjak besar, saya mulai mengerti... dan akhirnya sakit hati. Ya iyalah, siapa juga yang mau dilecehkan? Kalau mau, mah, namanya bukan pelecehan :-D

Beberapa tahun lalu, seorang teman bercerita kepada saya sambil nangis bombai. Ia mengalami pelecehen seksual di kamar hotel. Usut punya usut, teman saya berterus-terang bahwa ia baru berkenalan dengan laki-laki setanjahanam itu --sebut saja Pak Anu-- dan mereka baru bertemu sekali dalam rangka business meeting. Dalam pertemuan kedua, teman saya (yang waktu itu sedang menginap di hotel) tanpa curiga mengiyakan perubahan rencana yang diusulkan Pak Anu (dari yang awalnya janjian di suatu tempat, lalu pindah ke lobby hotel tempat teman saya menginap). Setengah jam berbincang di lobby, Pak Anu mengeluh bahwa suasana yang agak ramai membuatnya tidak nyaman. Dan teman saya, tanpa curiga sedikit pun, mengajaknya pindah ke... kamar.

Halah.

Setelah diinterogasi lebih lanjut (baca: ditanya pelan-pelan dengan penuh simpati), teman saya bercerita bahwa dari awal bertemu, memang ada sesuatu yang tidak beres. Pak Anu, alih-alih membicarakan masalah bisnis, malah merayu teman saya dengan memuji-muji kecantikannya, mengata-ngatai mantan pacar teman saya, sampai akhirnya obrolan nyangkut ke urusan ranjang.

Saya: “Trus, lo gak curiga?”
Teman saya: “Nggak. Ya gue pikir doi simpati aja ama gue, gara-gara gue baru putus.”
Saya: “Lha, terus urusan bisnisnya?”
Teman saya: “Gak kebahas bo, yang ada malah ngomongin gituan deh...”
Saya: “.....”

Kasus lain, sepupu saya –mahasiswa kedokteran nan alim lagi baik budi dan rajin menabung (seriously!)—mengalami pelecehan waktu sedang menunggu taksi dalam perjalanan ke kampus. Dia dibekap dari belakang, sedemikian rupa sampai tidak bisa bergerak, dan payudaranya diremas-remas. Untungnya dia cukup sadar untuk tidak panik berlebihan. Setelah meronta sekuat tenaga, sepupu saya berhasil mencakar tangan si Setanjahanam dan kabur menyelamatkan diri.

Respon pertama keluarga besar saya (selain mencaci maki Setanjahanam itu tentunya):

“Jalanan situ tuh emang bahaya, sepi-sepi gitu, suka banyak orang jahat.”

Masalahnya, mau sepi kek, ramai kek, bahaya kek, aman kek, sepupu saya tetap harus melewati rute yang sama tiap kali berangkat kuliah, karena itulah satu-satunya jalan untuk mencapai kampusnya. Tidak ada jalan tikus, tidak ada jalan lain, tidak ada alternatif kecuali kalau dapat tebengan gratis.

Meski sempat trauma, akhirnya sepupu saya kembali menempuh rute yang sama setiap hari. Berdiri di pinggir jalan yang sama (cuma tempatnya bergeser beberapa meter, hehehe), menunggu taksi pada jam-jam yang sama, dan demikian seterusnya. Apa boleh buat. Menyalahkan situasi sudah tidak ada gunanya, yang ada malah bikin tambah stress.

Meski pelecehan yang saya alami tidak pernah berujung pada penetrasi/pemerkosaan, ketika saya beranjak dewasa peristiwa itu menimbulkan bekas yang cukup dalam. Saya terluka dan sakit hati. Saya menghabiskan waktu untuk mengutuki Tuhan, membenci-Nya karena membiarkan hal itu terjadi pada saya. Mau menyalahkan diri sendiri nggak mungkin, karena semuanya terjadi di luar kendali saya sebagai bocah. Saya hanya bisa memaki 2 sosok itu: si pelaku dan Tuhan.

Masalah beres? Boro-boro. Sementara hidup terus berjalan, saya menjelma jadi nenek sihir bitchy yang mengutuk segala sesuatu dalam kemarahan.

Sampai akhirnya saya sadar, tidak ada gunanya menyalahkan siapa pun; Tuhan, diri sendiri, keadaan. Walau kedengaran klise, life goes on. Ketika saya sibuk menyalahkan situasi, kehidupan tidak akan berhenti berputar.

Meski sempat berdarah-darah, akhirnya saya belajar bahwa kejadian itu bukan kesalahan saya, bukan salah situasi, dan sama sekali bukan salah Tuhan. Itu hanya sebuah peristiwa, yang terjadi pada suatu masa dan kurun waktu tertentu dalam kehidupan. Tidak lebih.

Salah si pelaku? Umm... iya juga sih, hehehe.

Intinya, saya cuma mau bilang pada seluruh perempuan di muka bumi yang pernah mengalami pelecehan dalam bentuk apa pun: Stop blaming yourself. Stop blaming your situation. Being abused is bad enough, don’t make it worse. Percayalah, itu tidak ada gunanya. Been there done that :)

Dan jangan pernah merasa nista. Nista itu kalau mencuri, menggelapkan uang orang, memfitnah, memperkosa, mencari nafkah dengan cara haram, dan masih banyak lagi yang bisa dikategorikan nista. Tapi menjadi korban pelecehan jelas bukan salah satunya.

Tidak ada yang salah dengan merasa shocked. Menangis bisa melegakan, dan sah-sah saja jadi cengeng. I cried, too. Sepupu saya menangis. Teman saya apalagi. Tapi, jangan lupa bahwa hidup harus terus bergulir.

Hari esok akan tetap menjelang, apa pun yang terjadi. Karenanya, hadapi semua dengan berani dan percaya diri. Tapi, kalau kedua hal itu terlalu sulit untuk dilakukan, setidaknya cara yang satu ini bisa menjadi resep yang ampuh untuk bangkit kembali:

Cry, and get over it.

:)

Friday, January 4, 2008

PR Liburan

16 hari. Cukup panjang untuk liburan akhir tahun. Saya dan beberapa rekan sekantor langsung membayangkan, enaknya liburan ini diisi dengan apa, mau apa, dan kemana.

17 Desember. Hari terakhir masuk kerja di tahun 2007. Kami semua dipanggil -- rapat akhir tahun, sekaligus pembagian hadiah natal. Kado-kado dalam bungkus cantik dibagikan, dengan nama setiap orang di atasnya. Semua hadiah itu berbentuk persegi panjang. Isinya buku.

“Baca di rumah, jadikan PR, dan buat ringkasannya. Dikumpul pada hari pertama kerja, awal tahun depan.” Itulah kalimat penutup rapat akhir tahun yang diucapkan atasan kami.

Yang pertama terlintas di otak saya adalah, “PR? Nggak salah?” Berasa balik ke jaman SD. ;D

Kami kembali ke ruangan masing-masing. Kertas kado disobek. Buku dikeluarkan. Hal pertama yang dilihat? Tentu tebal bukunya.

“Punya gue tebal banget,” cetus seorang rekan.

“Punya gue juga lumayan, nih,” cetus yang lain. “Lo, Jen?”

“Lumayan,” sahut saya, setengah nggak konsen.

Saya membolak-balik buku saya, mengamati isinya sejenak sebelum menutupnya kembali. Pikiran saya masih terfokus pada stok opnam yang harus saya lakukan, first thing in the morning. Dan laporan-laporan yang menunggu untuk dikerjakan. Belum lagi komputer yang mendadak ngadat dan berpotensi menyebabkan gangguan jiwa. Seandainya bisa, saya ingin berteriak pada komputer itu, “TOLONG JANGAN RUSAK SEKARANG. GUE MAU LIBURAN!!!”

Minggu berikutnya, saya berkutat dengan kartu stok dan timbunan barang di gudang, sementara kantor sudah sepi. Sejujurnya, saya malah senang, karena suasana sepi membuat saya lebih mudah berkonsentrasi. Tak lupa, demi menghibur diri karena masih masuk saat yang lain sudah libur, saya meluangkan waktu untuk nonton di mal yang tak jauh dari kantor.

Pikiran saya terus beradu. Pada komputer pengacau yang tak berbelaskasihan. Pada laporan yang tak kunjung selesai. Pada stok opnam yang melelahkan. Pada pernikahan seorang saudara yang tinggal menjelang hari, di mana saya bertugas sebagai penerima tamu (dan meskipun judulnya ‘cuma’ menerima tamu, minimal saya harus menyiapkan tenaga untuk stand by seharian penuh, dengan high heels dan kebaya). Belum lagi ringkasan buku ini.

Ah, sudahlah. Makin dipikir, makin numpuk rasanya. Tak usahlah dipusingkan. Kerjakan saja.

Stok opnam selesai. Laporan selesai. Komputer saya crash (aaaarrrghhhh!). Saya hanya punya waktu sehari untuk pulang (yup, selama lembur saya menginap di kantor) dan beristirahat, untuk kembali menggeber tenaga esok harinya di pernikahan saudara.

Saya meriang. Mungkin karena pergantian cuaca. Mungkin juga karena kecapekan. Apa pun penyebabnya, saya tak mungkin minta dikeroki, seperti kebiasaan saya jika masuk angin. Kebaya yang sudah dimodifikasi itu akan menampilkan sebagian punggung atas saya. Tak mungkin saya memperlihatkan loreng-loreng merah dalam resepsi pernikahan.

Sehari setelah pesta usai, saya pergi ke gereja. Bertemu dengan beberapa rekan kantor (yup, kami beribadah di tempat yang sama). Pertanyaan pertama yang saya dengar bukan “Apa kabar?”, melainkan “Bukunya sudah sampai mana?”

Saya cuma cengar-cengir dan menjawab seadanya. Buku saya baru tersentuh seperempatnya.

Esok paginya, saya berangkat ke Puncak untuk liburan selama 5 hari. Tanpa buku. Tanpa ingat bahwa saya punya PR yang harus dikumpulkan pada hari pertama masuk kantor. Saya ingin menikmati liburan dan tak ingin terdistraksi oleh apa pun.

Begitu bis yang saya tumpangi –sekembalinya dari perjalanan- berhenti di terminal, saya jelalatan mencari ojek. Di benak saya hanya ada 1 kalimat: Pulang, mandi air hangat, baca buku. Buku PR, tentunya.

Ternyata, buku PR tidak se’rumit’ yang saya bayangkan. Awalnya saya ketar-ketir membandingkan tebalnya dengan sisa waktu yang saya punyai sebelum masuk kerja. Keburu nggak, ya?

Namun kekhawatiran itu tidak terjadi. Ternyata saya bisa menikmati buku itu, jauh melebihi yang saya bayangkan. Isinya bagus dan sangat cocok untuk saya, sampai saya berpikir jangan-jangan atasan saya punya indra keenam. Sekejap saja saya sudah tenggelam dalam keasyikan membaca. Saya lupa bahwa buku itu adalah PR. Yang saya tahu, saya menyukainya. Buku ini sangat bermanfaat dan akan banyak gunanya di kemudian hari.

Lalu saya mulai menulis.

Tulis, tulis, tulis. Ketik, ketik, ketik.

Saya menikmatinya, dan bertekad menjadikan PR ini bukan sekedar ‘tugas’ maupun ‘ringkasan’ belaka. Saya akan membaca ulang hasil pekerjaan saya di kemudian hari, dan saya akan menjadikannya berguna untuk kemajuan diri saya sendiri. Performa dan kinerja saya akan mengalami peningkatan drastis setelah ini, itulah yang saya pikirkan. Dan pemikiran itu menyuntikkan semangat baru bagi saya -- setiap waktu, setiap saat.

Tiba-tiba saya sadar: untuk itulah pemimpin saya memberikan buku sebagai hadiah sekaligus pekerjaan rumah.

Buku itu bukan sekadar tugas. Ringkasan itu bukan sekadar PR untuk mengisi liburan. Buku itu berisi prinsip-prinsip dan ‘bekal’ yang besar faedahnya bagi kami semua. Kenapa harus dijadikan PR? Ya iyalah. Kalau saya diberi buku semacam itu ‘hanya sambil lalu’, yang akan saya lakukan paling banter hanya membacanya sebagian, setelah itu bosan dan membiarkannya tertumpuk bersalut debu. Karena ada deadline di penghujung hari, saya jadi terpacu menyelesaikannya dan berhasil memetik manfaatnya.

Saya salah. Atasan saya tidak punya indra keenam. Yang mereka punyai adalah hati yang peduli.

:)

Hari Minggu tiba lagi. Saya kembali bertemu dengan rekan-rekan sekantor. Pertanyaan yang diajukan masih sama.

“Bukunya sudah sampai mana?”
“Sudah bab berapa?”
“Udah mulai ngeringkas, atau masih baca-baca?”

Saya menjawab sekenanya, dengan cengar-cengir yang sama. Entah kenapa, mendadak saya tak lagi menganggapnya sebagai tugas. Sisa liburan yang sedianya akan saya manfaatkan untuk facial dan potong rambut memang jadi terpakai untuk menyelesaikan dan meringkas buku, tapi rasanya saya tak keberatan. Saya sedang berinvestasi.

Ringkasan tersebut selesai tepat sehari sebelum saya kembali bekerja. Saya sangat bangga. Saya' menang' terhadap diri sendiri, walau dalam skala yang kecil.

Lagi-lagi, pertanyaan senada memenuhi udara pagi yang segar di awal Januari, ketika rekan-rekan saya saling bertukar ‘informasi’: sudah sampai bab berapa, sudah meringkas atau belum, bagaimana cara menulisnya, harus sepanjang apa, dan sebagainya.

Pimpinan saya masuk ke ruang meeting. Pertanyaan pertamanya adalah, “Bagaimana PR-nya, sudah dikerjakan atau belum?”.
Selesai rapat, semua segera berhamburan ke meja masing-masing. Berkutat dengan buku dan komputer sampai jelang makan siang, bahkan ada yang lembur sampai malam, lantaran bukunya nyaris belum tersentuh sama sekali.
Atasan saya geleng-geleng kepala. Saya sempat mendengar beliau bergumam, "Gimana sih.. itu buku kan dikasih buat dikerjain di rumah."

Saya tersenyum lebar.

Ringkasan saya, sepanjang 6 halaman dengan font 11 dan spasi 1,5, sudah tergeletak manis di atas meja.

:)

Friday, December 28, 2007

Perjalanan Dadakan dan Pilihan Tahun 2008

“Milih aja lama.” cetus seorang teman ketika kami mengantri di sebuah gerai kopi, tepat di belakang remaja-remaja bawel yang ribut memilih pesanan sambil bercanda.

Beberapa sibuk memilih kopi, membatalkan pesanan untuk memilih yang lain, kemudian berdiskusi muffin mana yang paling enak. Sisanya sibuk ngobrol dengan berisik tanpa berniat menyingkir, menyebabkan antrian mandek di situ.

“Baru milih kopi, belum milih hidup.” tambah teman saya, yang langsung saya setujui.

Beberapa minggu terakhir, banyak banget kejadian menyebalkan yang saya alami (entah memang nyebelin, atau saya-nya aja yang mulai senewen), mulai dari komputer rusak, berurusan dengan manusia-manusia paling ngeselin sedunia yang kelakuannya bikin pengen garuk-garuk tanah, sampai hal-hal sepele yang dengan mudahnya bikin saya naik darah dan bawaannya pengen nyolot.

Demi kesehatan jiwa, saya memutuskan untuk berlibur.

Awalnya saya berniat pergi ke Jawa Tengah. Traveling sendirian, keliling-keliling sampe bego, miskin-miskinan kalau perlu (yang diketawain semua orang dan bikin saya bolak-balik mikir: Emang salah gitu, kalo gue jalan-jalan bukan buat shopping?).

Niat itu agak goyah setelah saya ngobrol via SMS dengan seorang kawan yang baru kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan masa jabatan di Belanda. Setelah lama tidak berjumpa *alah*, saya pikir seru juga kalau ketemuan, mumpung liburan dan Neng Supersibuk ini sedang punya waktu luang.

Niat ke Jawa Tengah sama sekali berubah ketika kawan lain mengajak jalan-jalan ke Puncak. Saya mengiyakan dan langsung mengepak pakaian untuk perjalanan selama 5 hari dengan rute Puncak-Bandung-Sukabumi.

(FYI, keputusan diambil sehari sebelum perjalanan. Super dadakan. Don’t ask why.)

24 Desember, pukul 9 pagi, saya turun dari mobil dan menarik nafas dalam-dalam, menghirup kesegaran hawa Puncak. Saat yang lain asyik melihat-lihat kaktus mini dan anggrek, saya menyelinap ke kamar mandi dan membasuh wajah dengan air dingin. Segar sekali. Tidak lama kemudian, poffertjes manis-gurih dan secangkir cokelat mengepul datang –- sajian pertama dalam liburan-menyejukkan-hati.

Saya menyesap cokelat panas, mengunyah sepotong poffertjes, melihat rimbunan pohon dan pucuk gunung di luar jendela, dan merasa kepenatan saya pelan-pelan menguap. Sebagian.

Udara sejuk. Titik-titik gerimis di kaca mobil dan di permukaan kulit. Hujan lebat yang membasuh bumi dari debu polusi. Kuda-kuda yang ditudungi plastik agar tak kedinginan. Rumah peristirahatan aneka rupa dan bentuk. Nasi timbel hangat dan teh panas. Pisang goreng bersalut keju dan cokelat. Puding nikmat diguyur vla dan kue dengan rhum yang banyak. Chardonnay dengan es batu. Bercanda dan tertawa sampai sakit perut. Mengobrol sampai mulut terasa kering. Semuanya menyegarkan hati.

Esok paginya, saya sampai di Bandung. Kali ini sendirian.

Nasi goreng sosis yang gurih. Milkshake cokelat yang menyegarkan. Menitipkan tas di sebuah factory outlet supaya bisa jalan-jalan dengan santai. Numpang men-charge handphone di tempat yang sama (mokal? Iya lah. Abis gimana lagi, kepepet, hahaha!). Berburu oleh-oleh untuk si kecil Alex sambil harap-harap cemas, mudah-mudahan tas saya aman. Bertemu si Jeng yang baru kembali dari misi-menunaikan-panggilan-hati. Mencicipi Starbucks lagi, setelah berbulan-bulan (kayak di Jakarta nggak ada aja :D). Lukisan seniman tattoo yang bikin terkagum-kagum. Cerita-cerita kocak sambil cekikikan. Menghitung mobil berplat B di parkiran mal. Membahas segala hal yang tak penting. Semuanya menenteramkan hati.

Malamnya saya berangkat ke Sukabumi.

Bertemu lagi dengan Jeng ini. Shocked mendapati ternyata dia memelihara DELAPAN anjing, sementara saya paling takut dengan hewan satu itu. Sok Berakrab ria dengan anjing-anjing demi menghilangkan fobia, dan jerit-jerit ketika diterjang sampai jatuh dan digigit (nggak sakit sebenernya, malah lebih kerasa malunya, hehehe), serta belajar menghafal kebiasaan masing-masing anjing. Nasi uduk ungu plus teh panas. Pangsit pengantin dan soto mie di pinggir jalan. Lapis legit dan tiramisu lembut dengan Bailey. Menyimak foto dan cerita perjalanan. Menyusuri Sukabumi di bawah siraman air dari langit pukul 3 sore. Ngobrol sampai jam 4 pagi. Maraton menyetel dorama sampai jam 2 subuh.

Ketika saya tersadar, semua penat sudah hilang. Lenyap entah ke mana. Mungkin terbawa hembusan angin dingin yang membuat saya merapatkan jaket. Mungkin pergi bersama uap teh panas dalam hujan bulan Desember. Mungkin menyingkir ketika saya larut dalam alur dorama. Atau ketika saya cengar-cengir norak campur senang setiap kali anjing-anjing menggemaskan itu datang untuk minta disayang (dan menjilati saya dengan lidah yang basah dan hangat)...

-----

Saya memandang keluar dari balik kaca mobil.

Kabut mulai turun. Makin lama makin tebal, sampai tidak terlihat apa-apa kecuali gumpalan putih yang membatasi jarak pandang. Beberapa orang yang tadinya tidur terbangun, duduk tegak sambil mencoba memperhatikan jalan – dan sia-sia karena kabut sangat pekat dan nyaris tidak bisa ditembus lampu mobil. Mobil-mobil lain tidak terlihat. Pohon dan pembatas jalan lenyap dari pandangan, tertutup kabut putih dingin yang bergulung-gulung.

Mobil terus bergerak. Pelan dan hati-hati. Menembus kabut tanpa suara. Merayap pasti.

Menjelang tikungan, kabut mulai menipis. Setelah melewati tikungan, gumpalan putih itu hilang sama sekali, meninggalkan pemandangan yang bersih dan jernih. Semua orang dalam mobil mendesah lega.

Sambil memandang keluar –ke jalanan yang basah oleh rintik dari langit, saya membuat sebuah keputusan untuk tahun yang akan datang. Bukan resolusi dengan daftar panjang, bukan rancangan hebat disertai target, bukan pula rencana liburan selanjutnya. Hanya sebuah pilihan sederhana untuk 2008 yang akan segera menjelang.

Saya telah menetapkan untuk terus melangkah maju, ada atau tanpa kabut.


Feliz Navidad y Año Nuevo!
Merry Christmas and Happy New Year! :)

Thursday, December 20, 2007

Si Nyolot Janet

“DUUUH, DUNIA SEMPIT BANGET SIH!”

Saya menoleh, spontan mencari sumber suara itu. Teriakan itu terasa agak mengganggu, karena diucapkan dengan nada tajam dan *ehem* nyolot di antara kerumunan anak Sekolah Minggu berusia antara 2 sampai 12 tahun yang memadati aula gereja dalam rangka perayaan Natal.

There she was, duduk di atas tempat tidur dengan beberapa anak perempuan lain, sibuk menghias kaus kaki Natal dengan bahan seadanya. Dalam perayaan kali ini, semua anak diwajibkan menghias kaus kaki flanel yang nantinya akan diisi hadiah dan mereka semua menginap di aula yang sudah disulap jadi lautan matras.

Namanya Janet. Rambutnya pendek dan ia satu kepala lebih tinggi dari anak-anak seusianya. Sekilas melihat saja, ia sudah tampak menonjol. Begitu ia buka mulut, semua orang menoleh.

Sumpah, cara bicaranya sangat nyolot untuk ukuran anak SD.

Beberapa anak yang sudah selesai dengan pekerjaan masing-masing menghampiri kerumunan kecil itu dan asyik menonton sambil berceloteh ribut.

“KITA HARUS SABAR YA LON, BIKIN PRAKARYA DI RUANGAN KAYAK GINI!”

Ilona -anak yang diajak bicara- tidak menyahut. Beberapa pasang mata menatap Janet dengan sorot terganggu, tapi ia tidak peduli. Nggak nyadar, malah.

Semakin banyak anak yang datang berkerubung. Matras dan bantal diinjak-injak. Janet melirik matrasnya yang tidak jauh dari situ.

“TERUS AJA INJEK-INJEK RANJANG GUA! BIKIN TANGAN GATEL AJA PENGEN MUKUL!”

Saya menoleh ke arah yang dimaksudnya, dan melihat bocah yang dengan inosen enjot-enjotan di atas matras Janet.

Si kecil Alex.

Hayyyah.

“Janet, kamu itu terlalu jujur kalo ngomong,” cetus Ilona, yang pembawaannya halus dan sangat lembut.

“Emang.” Janet membalas cuek.

“Menurut aku kamu terlalu kasar,” sela adik Ilona.

Janet diam saja. Saya sempat mikir, “Dalem bo, daleeeem” dan menyangka Janet akan menghentikan polahnya.

Seorang guru Sekolah Minggu menghampiri Janet, memperhatikan pekerjaan tangannya dan berkomentar di depan anak-anak lain, “Ini manik-maniknya kalo ditempel di sini, warnanya jadi mati.”

(FYI, guru Sekolah Minggu ini adalah seorang bapak dua anak yang mengajar di kelas Senior.)

“TERUS AJA KASIH TAU SEMUA ORANG!!”

Buset dah.

Setelah puas melihat-lihat, saya meninggalkan mereka.

Tadi pagi, saya kembali untuk menonton anak-anak itu berburu kado Natal dan menghias ginger bread.

Setiap anak mendapat sepotong ginger bread, whipped cream, permen dan cokelat aneka bentuk untuk menghias kue masing-masing. Setelah berkeliling, saya kembali nyangkut di tempat Janet dan kawan-kawan.

Cukup lama Janet menunggu giliran untuk menyaluti kuenya dengan whipped cream, karena sendoknya hanya satu. Ketika tiba gilirannya, Janet memulas kuenya dengan hati-hati dan rapi. Setelah seluruh permukaan kue tersalut whipped cream, ia mulai mengambil cokelat mungil berbentuk bulat.

Saya terus mengamatinya bekerja. Boleh juga. Sangat cermat dan telaten, jauh lebih rapi dibanding teman-temannya.

Lumayan deh, biar galak seenggaknya kerjaannya bagus, pikir saya usil.

Tiba-tiba, seorang gadis cilik menghampiri kelompok Janet dan langsung berjalan ke arahnya.

Janet sedang berkonsentrasi menyusun cokelat supaya tidak merusak lapisan whipped cream yang mudah sekali tercecer. Badannya membungkuk, keningnya berkerut-kerut.

Bocah itu duduk persis di sebelah Janet, nyaris menempelkan tubuh ke lengan Janet, mengacungkan ginger bread yang bentuknya nggak karuan sambil berseru lantang:

“CICI JANET, LIAT DEH PUNYA AKU.”

Mampus dah.

Saya sungguh iba pada nasib si bocah tak berdosa.

Tapi Janet tidak berteriak.

Ia menoleh, memperhatikan ginger bread yang nggak jelas wujudnya itu dan berkata pelan, ”Iya, nanti ya, lagi ngerjain ini dulu.”

Bocah itu menarik tangannya dan duduk nyaman di sisi Janet, masih dengan posisi hampir lendotan di lengan Janet.

Bocah kedua datang dan melakukan hal yang sama: menunjukkan hasil karyanya kepada Janet dan menunggu komentar gadis itu.

Lalu bocah ketiga datang, dan begitu seterusnya. Janet meladeni mereka dengan sabar sambil terus berkonsentrasi menyelesaikan ginger bread-nya.

Akhirnya kue berbentuk boneka itu selesai dihias. Janet menyingkirkan sisa cokelat dan memandang ‘prakarya’nya dengan bangga. Saat itu, di sekelilingnya sudah berkumpul anak-anak kecil yang usianya tak lebih dari 5 tahun.

Saya melongo bego.

Kemana monster kecil yang tadi malam?

Usai perayaan, saya duduk di meja makan dan ngobrol dengan seorang guru Sekolah Minggu yang juga kawan saya. Saya bertanya tentang Janet dan sikapnya semalam.

“Oh, Janet. Iya tuh, semua orang nanyain tentang Janet.” Ucap kawan saya sambil cengar-cengir. “Anaknya emang gitu, tapi sebenernya dia baik. Sama anak kecil ngemong banget, malah.”

Saya kembali bengong dengan blo’on.

Di pojok ruangan, Janet sedang sibuk berfoto dengan Ilona dan adiknya memakai kamera handphone dalam berbagai gaya. Setiap kali kamera selesai dijepretkan, mereka akan berebut mengamati hasilnya sambil tergelak-gelak seru. Semuanya, termasuk Janet.

Dia tidak ada bedanya dengan anak-anak lain. Polos, heboh, ceria dan sama berisiknya.

Saya memandangnya, dan langsung merasa malu karena terlalu cepat menghakimi.

:)

Wednesday, December 12, 2007

Buon Compleanno!

Hari ini, persis setahun yang lalu, saya mulai ‘aktif’ di blogosphere, menjadi satu dari sekian ribu blogger di Indonesia (belum bisa ngomong ‘juta’, soalnya target belum tercapai -- bukan begitu, Panitia? *wink-wink*). Terinspirasi ini dan ini, saya mulai menulis entri saya yang pertama. Yayaya, saya memang suka ikut-ikutan, so what? :)

Entri ini nggak penting, tapi buat saya penting. Ulang tahun pertama selalu paling berkesan, toh?

:)

Untuk para bloghopper yang sudah meluangkan waktu untuk mampir dan mengintip blog ini –baik silent reader maupun yang merespon lewat comment box dan email- terima kasih banyak. Dukungan dan masukan kalian besar banget artinya buat saya. Tahu nggak, saya sering banget membaca ulang komentar di blog dan e-mail, dan komen-komen tersebut selalu menyemangati saya untuk tetap menulis saat saya merasa nggak PD. Terima kasih karena telah menjadi energy booster buat saya, jauh melebihi yang dapat kalian bayangkan.

Jadi, selamat ulang tahun, blog tersayang. Semoga ke depannya saya bisa terus mengisi halaman demi halaman dengan hal-hal yang berguna, di samping ngomel-ngomel curhat colongan tentunya. :)

Ti amo!

Thursday, December 6, 2007

Menemukan Surga

We just can’t be separated.”

Itu jawaban singkat teman saya beberapa minggu lalu, waktu saya keheranan melihatnya gloomy berat akibat ditinggal suami keluar kota selama 4 hari. Gak tanggung-tanggung bo, ‘perpisahan’nya pakai nangis segala.

Pengantin baru?

Nggak juga. Mereka sudah menikah selama 1,5 tahun, tapi (memang) belum pernah berpisah semalam pun.

Awalnya saya nggak habis pikir. 4 hari gitu loh. Saya sempat meledeknya,”Baru juga 4 hari. Kalo 2 minggu gimana coba?”

“Nggak boleh.” Teman saya menjawab tandas. Saya ngakak.

“Lah, tapi kalo tugas kantor kan mau gak mau?” Pancing saya.

I’ll make him say ‘no’.” Lagi-lagi ia menjawab tegas, “kecuali gue boleh ikut,” tambahnya cuek. Singkat, padat dan bikin bengong.

Mendengar jawaban itu, saya jadi terdiam.

Mungkin memang ada orang-orang seperti itu, yang saking cintanya sampai nggak bisa pisah sehari pun -- mereka yang menemukan ‘surga’ dalam diri pasangannya dan tidak sanggup ‘kehilangan’ walau sebentar saja. Sejujurnya, saya nggak bisa membayangkan apa jadinya kalau si suami harus pergi selama 10 hari, misalnya. Benar-benar nggak kebayang.

Di sisi lain, saya merasa menemukan ‘hal baru’ yang membuat saya bertanya-tanya: Kalau gue nikah nanti, kira-kira bakal kayak gitu nggak, ya?

*Uhmm… mudah-mudahan nggak. Tersiksa bo! Hehehe.

Anyway, selain gloomy berat, teman saya jadi kehilangan semangat selama ditinggal suami. Males kerja, males makan, males ngapa-ngapain. Kalau kehilangan ‘surga’, hidup rasanya kayak di ‘neraka’ kali ya? :-)

Tadi siang saya menonton acara TV yang meliput panti perawatan khusus orang cacat mental di Jawa Tengah (namanya lupa). Bukan rumah sakit jiwa, melainkan semacam asrama yang diperuntukkan bagi mereka yang menderita gangguan jiwa. Pendiri sekaligus pengelola panti itu adalah seorang pria berpenampilan ‘nyentrik’ yang sekilas tampak sangar. Tapi, ketika wajahnya di-close up dalam wawancara, sepasang matanya bersinar lembut.

“Dulu panti ini cuma diisi 5 orang,” ia memulai ceritanya, disusul tayangan yang menampilkan aktivitas sehari-hari para penghuni panti: mendengarkan ceramah, melakukan pekerjaan ringan atau sekedar duduk-duduk di beranda.

“Cara kami merawat dan menyembuhkan mereka adalah melalui pendekatan agamis,” ia kembali bertutur. Rambut keriting yang terurai panjang dan jenggot yang dibiarkan dalam keadaan serupa tidak menutupi ketulusan yang terpancar dari matanya.

“Untuk penghuni yang baru datang dan belum bisa mengendalikan tingkah laku, kami siapkan ruangan khusus berbentuk seperti sel. Kami tempatkan mereka di sana selama 3 hari, maksimal 7 hari. Setelahnya kami lepaskan, dengan syarat mereka harus membawa sebuah bangku kemana-mana. Tujuannya untuk menguji dan melihat sejauh mana mereka bisa dipercaya. Setelah itu, kami bebaskan mereka sepenuhnya di dalam panti.”

Kalimat-kalimat itu sempat membuat saya bergidik, ditambah gambar seorang wanita yang menangis keras-keras di balik pintu berterali besi. Tapi, sekali lagi, ada ketulusan dalam suara laki-laki itu. Kedengarannya kejam, tapi apa yang dilakukannya semata-mata demi kebaikan seluruh penghuni panti.

Saya terkesima.

Tidak banyak yang berani bergaul dengan orang gila, namun pria bersahaja ini menghabiskan setengah hidupnya untuk merawat puluhan orang yang terkucil dari masyarakat dan terlunta-lunta akibat gangguan jiwa.

Sebagian dari kita mungkin akan mengernyit jika melihat orang gila berkeliaran di pinggir jalan. Sebagian lagi mungkin cepat-cepat menyingkir. Sebagian lagi mungkin memilih untuk cuek. Tidak dengan pria ini, karena orang gila adalah dunianya.

Lagi-lagi saya teringat dengan teman yang mewek karena ditinggal suami selama 4 hari.

Baginya, sang suami adalah segalanya.

Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan Alex, putra sahabat saya (sekaligus satu-satunya anak kecil yang namanya paling beredar di sini ^_^). Belum lama ini, Alex ditinggal daddy-nya untuk perjalanan dinas selama hampir sebulan penuh (tiap minggu pulang, tapi cuma sebentar). Di minggu terakhir, Mommy menyusul. Jadilah saya menginap di rumah mereka, menjaga si kecil bersama nanny-nya.

Sebelum menginap di sana, saya sudah sering bermain dengan Alex, membacakannya buku, menemaninya jalan-jalan atau sekedar nonton TV. Tapi menjumpainya first thing in the morning, mendengarnya mengucapkan “Morning, Auntie” dengan suara cadel, memandikannya karena ia ngotot “Da au bui Ncus, bui Auntie” (terjemahan bebas: Nggak mau mandi sama Suster, mau sama Auntie), membacakannya buku sementara ia bersandar di dada saya, memeluknya, menggendong, memangku dan merasakan tubuh mungilnya bergelung nyaman dalam pelukan saya, adalah hal-hal yang sama sekali berbeda.

Mendengarkan rengekannya, menenangkannya, mengusap punggungnya ketika ia kangen pada Mommy dan Daddy mendadak menjadi sesuatu yang priceless buat saya. Mendengar gelak tawanya saat bermain kereta-keretaan, mendiamkan saat ia menangis dan membujuk sambil mengelus-elus kepalanya tiba-tiba menjadi sangat menyentuh dan meninggalkan kesan mendalam, padahal saya sudah mengenal bocah ini sejak ia lahir.

Bersama Alex menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Merasakannya bersandar di tubuh saya dan membiarkannya naik ke pangkuan saya (lalu meringkuk di sana) selalu memberikan sensasi menyenangkan yang susah diungkapkan. Kalau menurut Mbakyu ini, sepertinya itulah yang dinamakan keajaiban.

Sepotong surga dalam dunia.

Indah, bos. :-)

Iklan terakhir selesai ditayangkan (iya, ini mikirnya selama jeda iklan :-)). Wajah laki-laki bersahaja itu kembali muncul di layar. Pertanyaan terakhir si pewawancara adalah: Bagaimana rasanya hidup dengan begitu banyak orang gila?

Ia tersenyum.

“Orang gila adalah teman-teman saya. Nafas saya. Orang gila adalah surga saya.” Itulah caranya menjawab.

Saya ikut tersenyum.

Semua orang mencoba memaknai hidup dengan mencari surga dalam wujud yang berbeda-beda, menurut rupa yang terlihat oleh hati. Berbahagialah mereka yang menemukannya. :-)

Gambar diambil dari gettyimages.com