Sunday, October 28, 2007

Sunset

“Mau nambah lagi?”
Ingga menunjuk gelas fruit punch di depan Nadine dengan dagunya. Gelas jenjang itu sudah kosong sejak tadi. Isinya berganti menjadi gumpalan-gumpalan tisu yang terus dijejalkan Nadine sejak 1 jam yang lalu.

Nadine menggeleng sekilas dan kembali mengalihkan pandangan ke laut lepas. Ingga melakukan hal yang sama sambil bertopang dagu, bersyukur bahwa mereka makan di tepi pantai yang panoramanya indah. At least ada yang cukup menarik untuk dilihat dalam suasana awkward begini.

Sejak mereka tiba di Pulau Dewata kemarin siang, Nadine tidak henti-hentinya bersikap seperti orang yang mau mati besok. Pandangannya nyaris selalu kosong. Sorot matanya mirip orang yang siap bunuh diri. Untung diajak ngomong masih nyambung, walau untuk yang satu ini Ingga memilih menahan diri karena obrolan pasti akan didominasi topik yang sama.

Ingga memasukkan daging kelapa terakhir ke mulutnya, mengunyah malas-malasan. Mereka berada di salah satu tempat wisata terindah di dunia, di pantainya yang terkenal. Segala keindahan yang bisa ditawarkan hidup ada di sini, namun sikap Nadine yang terus-terusan gloomy merusak suasana liburan yang (seharusnya) nikmat ini. Dan Ingga terpaksa stuck di sini demi menjaga sahabat sehidup-sematinya agar tidak melakukan perbuatan tolol seperti menenggelamkan diri di laut atau loncat dari balkon kamar hotel.

Ingga tersenyum kecil, mendadak ingat pada Lintang Triwardhana, sepupu yang usianya hanya terpaut 2 tahun dengannya.

Seperti Nadine dan dirinya, Lintang juga sangat dekat dengan Ingga. Praktis hampir seumur hidup Ingga bergaul dengan kedua orang ini. Nadine adalah sahabatnya sejak kecil, sedang Lintang dan Mamanya pernah tinggal di rumah Ingga untuk waktu yang cukup lama.

Lintang adalah sosok perempuan yang mandiri, super cuek, blak-blakan dan keras kepala. Sampai sekarang ia belum pernah pacaran, karena 1 alasan yang sangat simpel: Pacaran itu ribet.

Lintang mencintai kebebasan seperti mencintai hidupnya sendiri. Mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, walau judulnya ‘cuma’ pacaran, menurutnya hanya akan membatasi dirinya. Lintang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang berpotensi mengekang kebebasan. Ingga hanya bisa manggut-manggut blo'on kala sepupunya mengutarakan hal itu, meski baginya pendapat Lintang agak berlebihan.

Tapi Nadine adalah cerita yang sama sekali berbeda. Paradoks segala paradoks. 2 tahun sudah cinta pertamanya kandas di tengah jalan. Cinta pertama adalah cinta terindah yang paling sulit dilupakan. Okay, mungkin itu benar. Tapi, hellowwww… 24 bulan?!

Perempuan lain mungkin akan marah dikhianati orang yang sangat dicintai. Atau kecewa. Sedih. Mengutuk. Semua adalah reaksi normal dari seorang gadis yang baru kehilangan cinta pertama. Tapi menangisi sampai 2 tahun? Itu cuma Nadine yang bisa.

Okay, mungkin Ingga agak keterlaluan membanding-bandingkan sahabatnya dengan orang lain, karena toh setiap orang memiliki pembawaan dan karakter yang berbeda. Tapi sikap Nadine bukan hanya menyusahkan dirinya sendiri, namun juga orang-orang yang menyayanginya. Keluarganya. Sahabat-sahabatnya. Juga seorang pria berinisial S yang berinisiatif mendekati Nadine dan mundur teratur saat menyadari sang putri tidak sanggup berpaling dari cinta pertamanya.

Nadine kembali menyusut matanya dengan selembar tisu. Tisu yang sama kemudian pindah ke hidungnya, sebelum masuk ke dalam gelas fruit punch sebagai persinggahan terakhir. Gelas itu hampir penuh. Ingga memperhatikan semuanya dalam diam, meski ia ingin sekali bertanya, ‘nggak capek ya nangis terus?’.

Padahal semalem udah maraton nangisnya. Sejak siaran berita Liputan 6 sampai 'Satu Nusa Satu Bangsa', which is, jam 2 pagi! Sayangnya, volume yang dikeraskan Nadine demi menyembunyikan isakannya malah membuat Ingga sukses begadang sampai subuh.

Thanks ya, Ing…” ucap Nadine lirih. Mata sembap itu lagi-lagi digenangi air. “Thanks udah jadi orang yang ngertiin gue selama ini, yang selalu paham kondisi gue…”

Ingga tidak tahu harus berkata apa.

Paham? Sebenarnya tidak. Entah sudah berapa kali ia meminta, membujuk, bahkan memohon agar Nadine merelakan pengharapan yang masih terus disimpannya bagi Pangeran Cinta, terlebih karena pengharapan itu tidak mungkin terwujud.

Pangeran Cinta sudah menemukan Putri Cantik belahan jiwanya. Ia tidak lagi berlayar di samudera luas karena sauh telah ditambatkannya di altar pelaminan. Nadine menerima undangan itu seminggu yang lalu. Dan itulah alasan mereka berada di Jimbaran sekarang, menatap laut yang terhampar indah tanpa bisa menikmatinya. Duduk di pantai berpasir lembut sambil sibuk dengan pikiran masing-masing. Ini sama sekali bukan liburan. Ini misi menyembuhkan hati, yang kalau dilihat dari sudut manapun, sepertinya si penderita malah tidak ingin sembuh.

Hari semakin gelap. Matahari sudah terbenam sejak tadi. Ingga sempat berdecak kagum melihat pemandangan fantastis yang tersaji di depan matanya saat sunset menjelang. Ia melirik Nadine, namun reaksi gadis itu datar saja. Sama seperti sunset yang memperoleh tepuk tangan meriah dari bule-bule yang berjajar di pinggir pantai, 2 tahun ini berbagai keindahan yang ditawarkan hidup seperti lewat begitu saja di depan Nadine. Terlihat, tapi tak tampak. Ada, namun tak disadari.

Tetapi, sekali lagi, hidup adalah pilihan. Setiap orang berhak untuk menjalani hidup dengan cara masing-masing. Apapun itu.

Ingga meraih ujung-ujung jari Nadine yang terasa dingin dan menggenggamnya. “Lo tahu, apapun yang terjadi, lo selalu punya gue.”

Nadine menatap sahabatnya dengan rasa terima kasih yang besar. “Thanks, Ing. Lo emang sahabat yang paling ngerti gue.”

Ingga tersenyum. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengusap lembut punggung tangan Nadine, menularkan dukungan dan kekuatan. Hanya Nadine yang bisa menolong dirinya sendiri. Bukan Ingga, bukan keluarganya, bukan sahabat-sahabatnya yang lain.

Ingga berharap itu akan segera terjadi. Dan ketika hari itu tiba, mungkin mereka akan bisa menikmati sunset dengan cara yang berbeda.

-----

Saturday, October 20, 2007

Menjaga Hati

Saya selalu nggak habis pikir kagum dengan orang-orang yang bisa selalu menahan diri dalam menghadapi sesuatu yang tidak enak atau menyakitkan tanpa pernah terpancing untuk membalas, atau setidaknya melampiaskan emosi. Jujur, walau saya nggak suka berantem, saya termasuk manusia yang tidak sabaran dan mudah naik darah, walau sering kali kekesalan saya hanya terlafalkan dalam hati, tidak sampai terucap.

Saya punya beberapa teman yang seperti itu: supersabar, nggak pernah marah, tutur katanya selalu halus, ramah budi bahasa, nggak pernah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, ringan tangan (dalam arti suka menolong, bukan ngegampar orang)… pokoknya TOP lah, sampai saya sering merasa minder sendiri berdekatan dengan mereka, karena meski termasuk golongan Pencinta Damai, tidak jarang saya mengeluarkan kalimat protes maupun celaan *uuups* dalam menghadapi hal-hal tertentu yang melanggar batas kesabaran saya, mulai dari yang paling nggak waras (komat-kamit ngedumel nggak jelas), curhat ke teman, sampai ngomel langsung ke orang yang bersangkutan.

Sejujurnya, tiap selesai menyalurkan kejengkelan, sering saya menyesal dan berpikir, “Ya elah Jen, segitu aja kok dibawa kesel…” dan saya lantas membuat janji pada diri sendiri untuk lebih menguasai temperamen dan menjaga lidah, walau seringnya… gagal lagi.

Salah 1 hal yang paling cepat memancing emosi saya adalah jika saya merasa sudah melakukan yang terbaik, namun tindakan itu justru disalahpahami oleh orang yang bersangkutan, apalagi jika diembel-embeli prasangka. Duuuh, berasa disilet, hehehe. Menyangkut hal ini, seorang teman pernah berkata dengan bijaknya, “Kalau kita melakukan yang terbaik dan disalahpahami, biarkan saja. Itu malah bisa menguji keikhlasan kita. Kalau kita-nya betul-betul ikhlas, mau dianggap bagaimana pun, diperlakukan kayak apapun seharusnya nggak terpengaruh.”

Dia mengucapkan itu setahun yang lalu, ketika kami bercakap-cakap persis sehari setelah lebaran. Saya terdiam. Sampai hari ini, 12 bulan setelah mendengar kalimat itu, saya masih mengakui: itu nggak gampang, bok.

Sama sekali tidak gampang.

Menjaga nurani agar selalu bersih dan murni bukanlah sesuatu yang mudah. Menjaga hati dari kontaminasi agenda pribadi, walau terdengar sepele, sama sekali bukan hal remeh yang dapat dilakukan sekejap mata. Berkali-kali, dalam banyak hal, saya merasa tertohok menyadari bahwa tindakan saya dimotori oleh ketidaktulusan yang meski tidak kasat mata, tetap diketahui oleh suara kecil bernama nurani ini. Berkali-kali juga saya menegur diri agar lebih mampu melindungi hati dari motif terselubung, setiap kali saya melakukan sesuatu yang (menurut saya) baik.

Menjaga hati, lidah, tindakan dan khususnya menjaga nurani adalah sesuatu yang masih terus saya ‘gumuli’ hingga detik ini. Bukan untuk menjadi manusia serba sempurna yang tidak pernah berbuat kesalahan, namun untuk menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Saya ingin menjadi manusia yang lebih baik, terutama dalam hal-hal sederhana seperti lebih banyak bersyukur, bermurah hati memberi maaf, melupakan kesalahan (it’s easier to forgive than forget, right?), tidak mudah terbawa emosi, menjaga perkataan, sikap, tindakan maupun pikiran agar senantiasa tulus, melapangkan hati, dan yang terpenting, terus mendengarkan bisikan kecil yang bersemayam jauh di dalam kalbu tanpa tergoda untuk menepisnya demi sesuatu yang bernama ego.

Semoga saya bisa… :)

*Dedicated to Steven & Elly Agustinus, manusia-manusia terbaik yang saya kenal, yang telah menjadi 'rumah' bagi begitu banyak orang. Terima kasih karena tak pernah lelah mengingatkan, menegur serta memberi inspirasi. Dan terima kasih untuk sebuah 'kamar' yang senantiasa tersedia bagi saya... :)

Friday, October 12, 2007

‘Stila-Aria: Sahabat Laut’ vs. Mayer Complex

Jelang lebaran, saya sudah pasrah dengan kenyataan bahwa libur kali ini saya harus tinggal di rumah layaknya satpam, karena orang rumah punya acara sendiri-sendiri yang tidak bisa diganggu-gugat.

Saya nggak keberatan, sebetulnya. Malah senang, karena saya termasuk spesies yang demen ngendon di rumah. Mencari damai *tsah* dengan setumpuk DVD, novel, hot cocoa dan Chitato.

Tahun ini, selain memanjakan diri dengan hal-hal di atas, saya –yang sedang terobsesi menyelesaikan novel perdana- berniat menghabiskan waktu di depan komputer; menulis dan mengunduh riset sebanyak 100 halaman *sedap!* yang belum tersentuh kemarin-kemarin. Kenap nap harus pakai riset segala? Itulah hasil kesombongan penulis pemula yang dengan belagu menciptakan setting nan ribet.

;-D

Anyway, selain menulis, rencananya saya akan menghabiskan waktu dengan leyeh-leyeh sambil menonton ulang Desperate Housewives dan membaca novel terbaru Sitta Karina yang terbit awal bulan ini. Rencana itu tersusun dengan rapinya, dan saya bergirang hati saban membayangkan bahwa lebaran kali ini akan jadi liburan yang damai-tenteram-menyenangkan…

… sampai saya mampir ke blog Haqi, 2 hari menjelang lebaran, dan baru sadar kalau… novel itu belum kebeli.

Halah.

Padahal, waktu pengumuman tentang novel itu muncul di milis, saya sempat menelepon penerbitnya untuk memesan di muka. Saya suka memesan novel-novel terbitan Terrant Books secara langsung, karena selain dapat diskon 25%, buku dikirim ke rumah tanpa dikenakan biaya sedikit pun. Ngirit, bo. :-)

Sayangnya, beberapa kali menghubungi Terrant Books, saya selalu mendapat jawaban yang sama: harga buku belum bisa dipastikan. Saya menelepon terlalu awal.

Ya wis, sebagai orang yang senantiasa menggampangkan perkara, saya pun berpikir, sutralah, nanti aja deh…

Sialnya, saya lupa bahwa selain sindrom penggampangan perkara, saya juga menderita Mayer Complex. Berpedoman pada rumusan Jeng May yang senantiasa tajam-akurat-terpercaya, mungkin saya bisa menyimpulkan Mayer Complex sebagai sebuah anomali psikologis yang ditandai dengan kerapnya si penderita mengalami distraksi fokus dan melakukan tindakan-tindakan impulsif yang berujung pada kedodolan tingkat tinggi dan degredasi memori akut.

*Do I sound smart?* ;-D

Jadi begini…

Pengumuman terbitnya novel sengaja tidak saya hapus dari e-mail, dengan tujuan mengingatkan saya agar segera memesan ke pihak yang berwenang. Setiap hari saya membuka e-mail. Setiap hari juga saya melihat e-mail dengan subjek yang sama. Dan saya tetap lupa.

Saya beberapa kali mengunjungi situs Sitta Karina. Cover novel yang bersangkutan terpampang jelas pada halaman muka, dan saya tetap nggak ngeh.

Parah?

Belum seberapa.

Puncak Mayer Complex ini adalah beberapa hari lalu, ketika saya membahas sesuatu dengan Mbak Sitta melalui SMS, di mana sepanjang proses jempol memencet keypad, mencari nama dalam phone book, memasukkan nomor, menekan ‘send’, menerima delivery report dan mendapat pesan balasan; saya sama sekali tidak ingat bahwa saya punya rencana luhur berkaitan erat dengan sang penerima pesan: membeli novelnya untuk pengisi liburan.

Gedubrak.

Yes, saya baru benar-benar ngeh waktu membaca reviewnya di blog Haqi.

Sejutatopanbadai.

Kalau pesan ke penerbit sekarang, novel baru akan saya terima -paling cepat- beberapa hari setelah lebaran. Sama juga bohong.

Maka, demi rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari, saya pun melanggar komitmen suci atas nama ngirit.

Karena mobil dipakai adik saya ke Puncak, motor adalah alternatif satu-satunya untuk mencapai Gramedia terdekat di Puri Indah. Setelah menuntaskan beberapa daily chores, jam 11 saya sudah siap tempur untuk mendapatkan ‘Stila-Aria’ (yup, judul novelnya). Sebelum berangkat, dengan pintar saya menelepon Gramedia, memastikan novel itu ada di sana. Well, you know… just in case.

Saya mengganti kostum rumah dengan jins dan kaus, menyambar kunci, dan baru sadar…

…helm satu-satunya ketinggalan di kantor.

Aaaarrrghhhhh.

Dengan menyalahkan Mayer Complex, saya pun memutuskan untuk nekat pergi. Di lampu merah perempatan, hal pertama yang saya lakukan adalah clangak-clinguk memastikan tidak ada polisi. Betapa leganya ketika melihat 2 orang ibu dan 1 Mas-mas yang juga tidak pakai helm. At least, sesial-sialnya (baca: kalau sampai ketangkep), penderitaan yang ditanggung bersama akan terasa jauh lebih ringan.

Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum (walau masih menganut prinsip bahwa menghindari polisi adalah alasan dominan untuk penggunaan helm *wink*), akhirnya saya berhenti di toko pinggir jalan untuk membeli helm a la tukang bangunan seharga 12 ribu rupiah. Jiwa tenteram, hati sejahtera.

Semua kedodolan berakhir ketika saya sampai di rumah 2 jam kemudian, dengan Stila-Aria di tangan.

Pfiuuuuuh... :-)

Now, the review.

Walau saya merasa Stila-Aria tidak se’nampol’ Lukisan Hujan dan Pesan Dari Bintang, saya sangat menikmati novel terbaru dari Sitta Karina ini. Novel ini penuh dengan pesan moral yang diselipkan di mana-mana tanpa berkesan menggurui -yang sangat khas Sitta Karina- dan dialog-dialognya sukses membuat saya kangen pada kejayaan masa sekolah. Stila-Aria disajikan secara lugas dan cerdas, dengan taburan informasi yang memperluas wawasan. *sedap gak bahasanya?* Novel remaja ini sukses membuat saya yang sudah tidak remaja berkali-kali senyum-senyum edan, tertawa, terharu, surprised… plus tergoda untuk mencoba neenlit lagi. (halah, novel satu aja nggak kelar-kelar mau ganti haluan.)

Four thumbs up for Sitta Karina! ;-D
*Tuh, Dol, gue masih pake ‘remaja’! Gyahahahahah.

Tuesday, October 9, 2007

Desperate Housewives Season 3

Baru menamatkan Desperate Housewives Season 3, dan agak kecewa dengan endingnya. Tapi, biar gimana juga, serial ini akan selalu jadi favorit saya dan tidak akan membosankan untuk ditonton berulang-ulang. Kalau Ibu ini menyamakan diri dengan Bree Van de Kamp (eh, sekarang Bree Hodge ya?) yang living the life of Lynette Scavo, maka figur yang paling pas buat saya adalah Susan Mayer (when you meet me in person, you will know why. Hahaha!).


Life sucks and they deal with it.

Itulah yang paling saya suka dari serial ini. Selain plot yang selalu sukses membuat saya mehe-mehe dan sok mikir keras untuk nebak ‘ini pasti nyambungnya ke sini, ntar pasti jadinya kayak gini, de-es-te’ (yang ternyata salah ;-D), saya sangat suka dengan karakter-karakternya yang kuat dan kutipan-kutipan dalam dialog maupun narasi yang nggak pernah ada matinya. Dalem, bok!

Banyak scene dalam season 3 ini yang menjadi favorit saya, di antaranya ketika para housewives ini berusaha melakukan yang terbaik untuk diri mereka dan malah mengakhirinya dengan kesalahan besar -- seperti Susan yang memutuskan untuk kencan dengan pria lain setelah sia-sia menunggui Mike yang koma selama 6 bulan dan mendapati bahwa Mike siuman justru ketika ia pergi berlibur dan Edie Britt telah menggantikan tempatnya saat ia kembali; atau seperti Bree, yang berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ia cintai, dan justru mendapati hasil berkebalikan.


Bree: I’m so tired of feeling like the worst mother who ever lived. I’ve tried so hard to set a good example. I’ve done the best to teach you kids right from wrong. Why isn’t it taking?
Andrew: It took. I mean, we know the difference between right and wrong. We just chose wrong.
Bree: Why?
Andrew: Sometimes when you push a kid really hard to go one way, the other way starts to look more entertaining.

Somehow, saya menemukan korelasi antara para desperate housewives ini dengan percakapan saya dan seorang teman, beberapa minggu lalu, ketika lagi-lagi membahas tentang pilihan hidup.

+ “Terus, kalo pilihan yang kita buat ternyata salah, gimana? Shouldn’t we regret it?”
- “Ngapain nyesel? Berguna? Nggak kali. Hidup itu untuk jalan maju terus, keputusan adalah awalnya. Kalo gak seneng sama apa yang dijalanin, ya bikin keputusan lain aja. Ganti arah.”

Entah korelasi beneran atau saya aja yang nyambung-nyambungin, tapi kok ya sepertinya tidak ada yang lebih tepat untuk merefleksikan kalimat nyebelin-tapi-bener teman saya itu, selain dialog Lynette dengan Caroline Bigsby saat ia disandera di supermarket.

Lynette: What is the matter with you?
Caroline: Have you not been paying attention? My husband cheated on me!
Lynette: Who cares? We all have pain, but we deal with it! We swallow it and get going with our lives! What we don’t do is go around shooting strangers!

Okay, ini nggak penting, tapi saya sampai memutar episode yang sama 3 kali cuma untuk nonton scene ini, bow. :-)

Moral of the story?
1. ‘Desperate Housewives’ ROCKS.
2. Do your best. When life sucks, hang on. Deal with it, swallow it and get going. :-)

*Eh, eh, gue udah punya Fesbuk! YAY! :-D*

Gambar diambil dari http://www.starpulse.com/

Wednesday, October 3, 2007

Di Bawah Langit (Tanpa) Bintang

Kemarin malam, saya duduk sendirian di teras rumah seorang teman. Sambil mengeringkan rambut yang basah setelah keramas, saya menengadah ke langit.

Kosong. Yang ada cuma hamparan gelap dengan dua titik cahaya. Sesepi rumah yang sedang saya tunggui, yang ditinggalkan pemiliknya mudik ke Jawa Tengah.

Sumpah, susah banget nemu langit berbintang di kota yang penuh polusi seperti Jakarta. Tapi, somehow saya merasa cukup dengan keheningan yang tenteram itu.

Kemarin, saya lelah berpikir. Lelah mempertanyakan segala sesuatu. Lelah menguras emosi.

Saya hanya ingin beristirahat dan membiarkan sel-sel otak bernafas lega.

So there I was, sitting alone. Menikmati setiap menit yang diberikan malam sunyi tanpa bintang.

Dan saya merasa damai.

Sesaat, saya ingin waktu berhenti supaya saya bisa lebih lama menikmati keheningan itu. Keheningan yang menggerakkan saya untuk memulai dialog sederhana dengan Sang Pencipta, yang kerap terlupa oleh egoisme atas nama kesibukan.

Kemarin, saya kembali diingatkan.

Bahwa bersyukur, meski terdengar remeh, dapat mengangkat begitu banyak beban.

Bersyukur tidak menyelesaikan masalah, namun membuat kita mampu menghadapinya tanpa menjadi terlalu penat.

Bersyukur tidak menghilangkan persoalan, namun membuatnya terasa jauh lebih ringan.

Kemarin, di bawah langit tanpa bintang, saya kembali diingatkan.

Bersyukur itu tidak bisa cuma sekali.

Thursday, September 27, 2007

Berani Bermimpi

Saya sangat suka menonton film Denias: Senandung di Atas Awan, dan tidak pernah bosan memutarnya berulang kali.

Buat saya, Denias itu te-o-pe be-ge-te. Kalau Roeper & Ebert memberi 'two thumbs up' untuk film-film box office, saya memberi ‘four thumbs up’ (iya, jempol kaki juga dihitung ;) ) untuk bocah dari pedalaman Papua ini - bocah biasa dengan tekad yang luar biasa. Saya selalu mendapat insight baru setiap menonton ulang film ini, dan (sebagai penyandang predikat ratu mellow) tentunya selalu termehe-mehe menjelang akhir cerita. :)

Setahun terakhir, ada seseorang lagi yang menjadi sumber inspirasi saya. Bukan karena pencapaiannya, bukan karena prestasinya, tapi karena mimpinya.

Audrey Clarissa hanya seorang gadis biasa yang dibesarkan di Sukabumi. Yang membedakannya dari gadis-gadis lain di Sukabumi (dan seluruh Indonesia) adalah keberaniannya untuk bermimpi.

Keberanian itu diawali oleh sebuah keinginan: ingin Indonesia terdaftar sebagai anggota Organisasi Mahasiswa Farmasi Sedunia setelah organisasi ini berdiri selama puluhan tahun. Cita-citanya sederhana, namun besar: ingin melihat Indonesia eksis dalam dunia farmasi internasional – atau setidaknya, diakui keberadaannya.

Audrey bukanlah orang pertama yang menginginkan hal tersebut, tapi (saya rasa) ialah orang pertama yang memiliki cukup driving force dan tekad untuk mewujudkan impian itu.

Niatnya tidak surut meski langkah awalnya tertunda selama setahun karena wabah SARS. Sebaliknya, keinginan itu terus menggelora dan menciptakan driving force yang lebih kuat lagi. Berdasarkan pertimbangan akal sehat, hanya ‘orang gila’ yang berani mengajukan ide untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan simposium salah satu organisasi internasional tertua di dunia, persis ketika negaranya baru saja terdaftar sebagai anggota –setelah puluhan tahun tidak diakui eksistensinya- sekaligus menyanggupi untuk bertanggung jawab sebagai ketua panitia.

Keberanian dan driving force yang sama kini telah menghantar Audrey menjadi presiden International Pharmaceutical Students’ Federation yang pertama dari Asia. Seorang gadis sederhana dari Sukabumi telah mengharumkan bukan hanya Indonesia, namun Asia secara keseluruhan – karena ia berani bermimpi.

Saya selalu salut dengan mereka yang berani bermimpi besar, dan bangkit untuk mengejar mimpi itu. Bukan hanya bermimpi dan patah arang di tengah jalan, bukan sekedar berangan-angan dan melupakannya ketika hambatan datang, namun berani berjuang sampai mimpi itu betul-betul terwujud.

Denias tidak menunggu kesempatan. Ia bahkan tidak mau menunggu guru pengganti dari Jawa. Ia bangkit untuk mengejar mimpinya ke sekolah fasilitas, meski berdasarkan logika adalah mustahil untuk belajar di sekolah yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu dengan biaya yang tidak sedikit.

Audrey tidak menunggu kesempatan. Ia tidak menunggu dunia farmasi melirik Indonesia. Ia datang ke sana membawa Indonesia. Ia tidak menunggu dunia farmasi memberinya peluang. Ia menyodorkan diri kepada mereka, dan mereka memberinya kesempatan.

Denias dan Audrey tidak berbeda dengan orang-orang lain yang ada di sekitar mereka, pada waktu dan tempat yang sama. Hidup di tanah yang sama. Berdiri di negeri yang sama. Makan, minum dan menghirup udara yang sama. Yang menjadikan mereka berbeda adalah keberanian untuk bermimpi dan bangun dari tidur untuk mewujudkan mimpi itu.

Mereka tidak menunggu. Mereka mengejar mimpi. Mereka siap meraih kesempatan, namun ketika kesempatan tidak kunjung menyapa, mereka menciptakan kesempatan.

Saya selalu suka menonton film Denias, dan tidak pernah bosan memutarnya berulang kali.

Seperti dia, saya pun ingin terus belajar. Belajar bermimpi.

Tapi, yang paling penting, saya ingin bangun dari setiap mimpi dan mulai mengejarnya - satu demi satu. Seperti Denias. Seperti Audrey. Seperti jutaan orang lain di masa lalu dan masa kini, yang meraih impian karena belajar menciptakan kesempatan.

Dan saya mulai berpikir.

Mungkin… mungkin yang dibutuhkan bangsa ini bukan orang-orang spektakuler. Bukan peluang raksasa. Bukan janji-janji muluk. Bukan uluran tangan penuh belas kasihan.

Sesulit dan separah apapun kondisi suatu bangsa, saya percaya akan selalu ada harapan, selama masih ada orang-orang yang sanggup bermimpi -- mereka yang menggantung cita-cita dan bersedia menempuh proses untuk menggapainya, berapapun harga yang harus dibayar.

Saya juga selalu percaya bahwa anak-anak adalah pilar penopang bangsa. Apa yang telah diraih dan diwujudkan generasi sekarang akan diteruskan dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Apa yang kita capai pada masa kini akan diestafetkan kepada generasi di bawah kita, dan demikian seterusnya.

Saya percaya kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh bagaimana mereka membangun masa kini dan mempersiapkan masa depan. Berlari sebaik mungkin, dan melatih (calon) pemegang tongkat estafet berikutnya untuk melanjutkan perjalanan yang telah dimulai.

Mungkin yang dibutuhkan bangsa ini sebenarnya hanya orang-orang biasa dengan tekad yang luar biasa.

Yang berani bermimpi dan bangun dari tidur untuk mewujudkannya, untuk kemudian meneruskan mimpi dan kekuatan yang sama kepada generasi di bawah mereka.

Mimpi untuk terus bangkit, bergerak maju dan berjuang menjadi lebih baik.

Kekuatan untuk terus mengejar mimpi, dan setelah berhasil meraihnya, menggunakannya bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membangun bangsa dan negara.

Denias berani bermimpi. Audrey berani bermimpi.

Mari, belajar bermimpi.

“Beranilah bermimpi, dan bangunlah untuk mengejar mimpi-mimpi itu. Jika kesempatan menghampiri, itu baik. Namun jika tidak, ciptakan saja kesempatan itu.”
*Au, if you read this: Thanks for being an inspiration. Ditunggu makan-makannya, Neng ;-)

Thursday, September 20, 2007

Manusia-Manusia Super

Tadinya mau posting entri lain, tapi berubah pikiran gara-gara begadang semalam.

Tadi malam saya lagi-lagi menginap di kamar Alex, setelah desperate menghadapi para penghuni kamar tempat saya beramai-ramai tidur selama training di kantor.

Saya bisa mentolerir dengkuran seseorang yang tidur persis di sebelah saya (ya mau diapain lagi, bow, udah dari sononya ‘kali), tapi mbok yaaaaao tidurnya jangan sambil nyetel radio! Kalaupun teuteub mau nyetel, tolong ya itu radionya jangan diumpetin entah di mana. G-A-N-G-G-U. Saya sedang menimbang-nimbang untuk membangunkan si pemilik radio, ketika handphone orang yang tidur di seberang saya berbunyi. Setelah berdering dengan frekuensi yang membuat saya tergoda mencelupkan handphone ke bak mandi, teman saya akhirnya mengangkat benda keparat itu. Dan ngobrol dengan asyiknya.

Edan. *untuk memperhalus kata geblekmonyongkampret*

Demi kesejahteraan jiwa, jadilah saya hijrah ke kamar Alex.

Bocah itu sedang tidur dengan pulasnya ketika saya mengendap-endap masuk dan merebahkan diri di alas karet bongkar-pasang tempat bermainnya. Kurang nyaman, tapi lumayan lah. Saya menutupi tubuh dengan selimut tebal dan bersiap-siap tidur

...ketika Alex mendadak bangun, dengan kronologis sebagai berikut:

30 detik pertama: guling-guling di ranjang.
30 detik kedua: mulai memanggili Ncus.
30 detik ketiga: Ncus terbangun dan menghampiri Alex.
30 detik keempat: Alex menolak ditidurkan kembali.
30 detik kelima: Alex merengek dan mulai menangis.
30 detik keenam: Ncus berusaha mendiamkan.
30 detik ketujuh: Alex menjerit.
30 detik kedelapan: Alex semakin keras menjerit.
30 detik kesembilan: Alex masih betah menjerit.
30 detik kesepuluh: Mommy dan Daddy keluar kamar.

30 detik kesebelas sampai seterusnya, terjadi adu mulut paling menegangkan sedunia antara Mommy-Daddy dan Alex.

Hancurlah istirahat malam yang tenang dan syahdu.

Saya? Pasrah di balik selimut. Lha mau ngapain lagi?

Jangankan ikut campur, tindakan paling gagah yang saya lakukan cuma mengintip sahabat saya yang sedang duduk di meja makan dengan ekspresi desperate, sementara sang suami masih keukeuh adu suara dengan si bocah.

Pukul 3 pagi, akhirnya Alex capek dan terlelap - setelah dibuai di kamar, ruang tamu, ruang makan, teras dan dapur (seriously).

Dan menangis lagi pada pukul 8.

What a day.

Hari ini, sahabat saya (Daddy-nya Alex) kembali mengajar dalam training, seperti biasa. 3 session pagi-siang, 1 session malam. Plus menjadi narasumber sebuah program radio yang menyita seluruh waktu istirahat sorenya. Saya cuma geleng-geleng heran melihatnya cuap-cuap dengan intensitas yang tidak menurun sedikit pun. Kok bisa, ya? FYI, menurut si Ncus, rewelnya Alex ternyata sudah berlangsung selama beberapa malam dan dengan suksesnya menjadikan sahabat-sahabat saya makhluk nokturnal.

Hari ini Alex didisiplin; tidak boleh main keluar rumah dan tidak boleh ikut para Auntie & Uncle jalan-jalan ke mall seperti yang sempat dijanjikan kemarin sore. Sebagai gantinya, DVD anak-anak siap menemaninya bermain dan makan siang.

Si bocah kriwil berlari gembira ketika saya dan dua orang teman datang ke rumah. Dia berlari-lari menyambut sambil minta diajak pergi, yang sayangnya, kali ini tidak bisa kami penuhi.

Dia tertawa-tawa memamerkan gigi yang belum semuanya tumbuh sambil memeluk boneka 'Sweet Banana' erat-erat, bikin geli sekaligus gemas.

Namun, dari semuanya, yang paling menyentuh adalah pemandangan di siang hari, ketika Daddy pulang ke rumah untuk makan siang.

Daddy menjenguk Alex yang asyik bermain di kamar bersama Ncus.

Begitu melihat ayahnya, Alex segera berdiri di atas tempat tidur, memanggil-manggilnya sambil berloncatan gembira.

Daddy tersenyum lebar dan mengembangkan tangan. “Sini, hug Daddy.”

Alex berlari ke pelukan Daddy dan menghadiahkan 2 ciuman, pipi kiri dan kanan. Adu mulut paling menegangkan sedunia yang baru terjadi 10 jam sebelumnya terlupakan sama sekali. Di balik punggung Daddy, Mommy tersenyum menyaksikan scene itu. Mengintip sambil tertawa.

Buat saya, mereka ini adalah manusia-manusia super. Mereka, dan semua orangtua di seluruh belahan dunia – karena orang-orang ini mampu berkali-kali merasa kesal, capek, jenuh, letih, jengkel, marah dan menangis tanpa pernah kehilangan cinta.

Thursday, September 13, 2007

Karena Hidup Memang GOKIL


“Banyak orang yang nggak sadar kejadian-kejadian lucu bisa didapat dari hidup sehari-hari, bahkan yang tragis dan memalukan. Contohnya di dalam buku ini, terdapat 20 Cerita Gokil yang semuanya membuat sesuatu yang sebenernya simpel-simpel saja menjadi hal yang pantas untuk ditertawakan. Duapuluh cerita ini, dengan angle penceritaan yang berbeda-beda, menggeser persepsi, mencari celah, dengan lihai memainkan kata-kata yang pada akhirnya berujung pada satu tawa panjang pembaca.

Summing up, silakan bilang tengkiu yang sebesar-besarnya terhadap tertawa, karena tertawa bisa ngebuat kebodohan kita sehari-hari dan printilan nggak penting jadi tampak begitu menyenangkan.

Read on and laugh on.”
(Raditya Dika, penulis bestseller Kambing Jantan)

Saya, tanpa bermaksud menyalahkan alter ego, pada kenyataannya memang tidak sebijaksana yang tampak dalam entri-entri di blog ini (itu juga dengan catatan kalau ada yang nganggep bijaksana. Kalau nggak, ya maab, jangan disambit ;-)).

Saya, pada kehidupan nyata, sering sekali melakukan hal-hal konyol di luar batas kesadaran yang tidak jarang menimbulkan efek samping seperti yang tertulis di sini.

Saya, tidak malu mengakui bahwa saya clumsy. Ceroboh. Panikan. Impulsif. Dodol. Sedikit sarap.

Beberapa bulan lalu, seorang sahabat* yang sudah kenyang dengan kecacatan saya mengirim e-mail berisi pemberitahuan tentang Sayembara Cerita Gokil yang diadakan sebuah penerbit. 20 cerita yang terpilih akan dibukukan.

Tanpa pikir panjang, saya mengetik sebuah cerita -kisah nyata yang juga melibatkan sahabat* yang sama dan ditulis dengan hiperbola, tentunya- kemudian mengirimkannya ke si penerbit. Tanpa diedit, tanpa dipikir.

Beberapa minggu kemudian, to my surprise, saya mendapat telepon. Saya sudah lupa sama sekali tentang draft Cerita Gokil yang saya kirim, sehingga dialog yang terjadi antara saya dan pihak penerbit adalah:

“Dengan Mbak Jenny?”
“Betul, siapa ini?”
“Saya dari Mediakita. Selamat, cerita yang Mbak Jenny kirimkan ke Sayembara terpilih, dan akan kami bukukan.”
“.....”
“Sekali lagi, selamat. Dan cerita itu nantinya ak… …hallo? Mbak Jenny…?”
“Mmm… maaf Pak… tapi CERITA YANG MANA YA?”

Hehehe. Sumpah lupa, bow!

;-D

Anyway, busway

Hidup memang penuh dengan hal-hal tak terduga. Bagi saya, hidup juga penuh dengan hal-hal kecil yang bisa membuat kita tertawa setiap hari. Sebagian mungkin menyebalkan. Sebagian lagi menjengkelkan. Yang lain mungkin bikin malu tujuh turunan. Apapun itu, saya percaya hidup selalu terdiri dari rangkaian kisah yang tidak akan habis direncah maknanya. Untuk dipelajari. Untuk dikenang. Untuk dihargai. Untuk ditertawakan.

So, quoting Raditya Dika, READ ON. Laugh on.

Dan jangan pernah berhenti untuk ‘belajar’ tertawa. Karena hidup itu GOKIL, Jendral. ;-)

*Tengkyuuu ya, Djeung! ;-)

Monday, September 10, 2007

Cerita Sebatang Pohon

Salah satu wanita yang paling saya kagumi di dunia adalah Tante saya, a.k.a putri sulung dari 9 bersaudara yang menikah pada usia 18 tahun, langsung memiliki anak dan menjalani kehidupan yang tidak bisa dibilang mudah.

Beliau dan 8 saudaranya (termasuk Ibu saya) dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan. Cerita yang paling sering saya dengar adalah sup kacang hijau yang dicampur banyak air dan es batu supaya encer, sebutir telur ceplok yang dibagi 6, bikin prakarya nebeng teman (bukan karena males ngerjain sendiri, tapi karena tidak punya uang untuk membeli bahan), berjualan es mambo, sampai nonton TV beramai-ramai di rumah seorang sepupu dan diolok-olok karenanya. Belum lagi Kakek saya yang sangat keras dalam mendidik anak.

Setelah menikah, kehidupan yang dijalani Tante saya tetap tidak gampang, karena beliau menikah dengan seorang pria yang supersederhana. Ia membesarkan ketiga anaknya dalam rumah mungil berlantai tanah yang kerap kebanjiran.

“Kalau banjir, Tante selalu was-was,” kisahnya. “Soalnya tiap habis banjir, suka banyak binatang masuk rumah.”

Binatang di sini, salah duanya adalah ular dan cacing-cacing kecil yang suka bersembunyi di lipatan kasur. Saking seringnya, beliau hafal suara gemersak yang ditimbulkan seekor ular. Tiap kali bunyi itu terdengar, mereka tidur dengan was-was dan esok paginya bergerilya membongkar rumah untuk mencari si ular. Sebelum anak-anaknya pergi tidur, Tante saya akan menelusuri jengkal demi jengkal kasur kapuk, memastikan tidak ada cacing yang melata di sana.

Begitulah beliau hidup. Sialnya lagi, Oom saya semasa mudanya adalah jelmaan Buto Ijo. Nyeremin. Emosi beliau sangat mudah terpancing, bahkan oleh hal paling sepele. Sebagai ayah yang sangat menyayangi anak, sifat perfeksionis dan temperamen meledak-ledak adalah kombinasi berbahaya. Oom saya sanggup mengomel dari terbit matahari sampai pada masuknya, hanya karena di tubuh anaknya terdapat SATU GIGITAN NYAMUK.

Bukan memar, bukan luka sobek, bukan goresan. Bukan sulap, buk... *ah, sudahlah* ;-D
Satu gigitan nyamuk cukup untuk membuat Oom saya naik darah sepanjang hari. Dan gigitan nyamuk yang sama sempat membuat Tante berniat mengajukan gugatan cerai karena tidak tahan dengan kelakuan si Oom.

Suatu siang, Tante mengamati anaknya yang sedang bermain dan nyaris bunuh diri melihat TIGA GIGITAN NYAMUK di wajah si bocah. Saking hebatnya gejolak batin itu *tsah*, rasa takut yang selalu muncul mendadak berubah menjadi kemarahan. Ketika Oom pulang, hal pertama yang dilakukan si Tante adalah membuka pintu lebar-lebar dan berseru sekeras-kerasnya,

“TUH! ANAK KAMU DIGIGIT NYAMUK LAGI! BUKAN SATU. TIGA! TUH LIAT BENTOLNYA TIGA!!! SEKARANG KAMU MAU APA?! MAU NGAPAIIIN???!!”

Shocked, Oom saya cuma bisa bengong dan berkata pelan,”Ya udah, mau diapain lagi…” -- yang disambut bahagia oleh Tante,

“NAH, GITU DONG!! KENAPA GAK DARI DULU NGOMONG KAYAK GITU.”

Hihihihihi.

Seiring bertambahnya usia pernikahan, lambat laun keduanya berubah. Pelan tapi pasti, Oom saya menjadi figur suami terpuji dan ayah teladan yang sabar dan sangat mencintai keluarga. Kehidupan mulai berbelok. Puluhan tahun setelah mengucapkan janji sehidup-semati dan tinggal di rumah berlantai tanah, mereka berhasil menghantar anak-anak meraih gelar Master di Negeri Paman Sam dan menggapai kesuksesan. Sekarang ketiga sepupu saya sudah menikah, dan Tante mulai menempuh fase baru dalam hidupnya: menjadi seorang nenek.

Oom dan Tante saya mengawali babak baru dalam hidup dengan serba kekurangan. Yang mereka punyai hanya benih dari spesies tumbuhan bernama Kasih Sayang, yang disirami dengan Kesabaran dan diberi pupuk Kebesaran Hati, hari demi hari. Kini pohon itu telah tumbuh kuat. Menaungi Oom dan Tante. Membuat mereka tak lagi rentan terhadap hujan dan sengatan matahari.

Saya tidak pernah bosan mendengar cerita-cerita Tante dan membiarkan imajinasi saya berkembang menjadi sebuah harapan yang semoga tidak terlalu muluk untuk diwujudkan.

Pernikahan saya nanti, mungkin bukanlah pesta mewah di hotel bintang lima yang biayanya setara dengan rumah 3 lantai, karena saya adalah manusia pelit yang lebih memilih punya rumah sendiri dan tabungan untuk membiayai pendidikan si kecil - kalau sudah punya anak nanti. Saya tidak ingin berkeluh-kesah karena tagihan kartu kredit yang tidak kunjung lunas (seperti yang diucapkan seorang teman kemarin, “Nikahnya kapaaan, lunasnya kapan.”), pun tidak ingin deg-degan saat merancang repelita anak saya kelak. (Akur, Jeng? ;-D)

Seandainya diberi kelebihan (dan kemudahan) untuk ‘hidup lebih leluasa’, puji Tuhan. Saya bukan tipikal sosok rendah hati pun baik budi seperti kontestan reality show yang ketika ditanya “Kalau menang, uangnya buat apa?” jawabannya adalah, “Buat bangun Gereja dan Mesjid.” Saya, seperti banyak perempuan lain di muka bumi, menginginkan pernikahan dan kehidupan yang lebih dari layak.

Tapi, di atas segalanya, yang paling saya dambakan adalah kehidupan pernikahan yang terus bertumbuh - seperti pohon yang berasal dari sebutir benih. Mungkin sederhana, tapi memiliki akar yang kuat.
Mungkin tidak sempurna, tapi dapat terus menjulang sampai menjadi pohon yang kokoh dan rindang.
Tidak goyah diterpa angin, tidak gentar menghadapi badai, tidak kalah melawan terik sang Surya, mampu memberi perlindungan bagi burung-burung kecil, dan meneduhkan siapa pun yang bernaung di bawahnya.

Semoga.

Thursday, September 6, 2007

Sepenggal Cerita Akhir Pekan ;-)

Akhir pekan.
Tumpukan kertas, tugas dan deadline.
Restoran bergaya kapitalis tidak jauh dari kantor.
Saya dan seorang sahabat.

Setelah memesan makanan, kami sama-sama diam. Sesuatu yang janggal karena selama saya bersahabat dengannya, setiap pertemuan selalu diwarnai obrolan heboh, canda sinting dan tawa gila.

Saya tidak berusaha mengisi keheningan itu. Saya hanya menyentuh cangkir berisi teh madu panas dan membiarkan kesunyian terus mengambang.

Saya menatapnya. Wajah itu pucat dan kehilangan rona. Setahun belakangan, wajah itu sering sekali dihiasi ekspresi yang sama, tapi malam ini adalah puncaknya.

Sahabat saya terduduk lemas. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya berminyak tanpa make-up. Sesuatu yang biasa untuk saya, mengingat saya termasuk dalam spesies perempuan cuek yang tidak peduli penampilan. Tapi tidak bagi dia. Sahabat saya sangat memperhatikan penampilan. Malam ini menjadi luar biasa karena ia rela terlihat berantakan di sebuah restoran mewah.

Ia terdiam. Matanya memandang kosong ke sebuah sudut. Saya tidak berniat mengusiknya. Juga tidak ingin bertanya.

Makanan datang. Kami menghabiskannya tanpa banyak cakap. Sesi makan malam itu terasa tidak menyenangkan. Bukan karena penyanyi berusia setengah baya dengan kepala nyaris botak yang melantunkan ‘Terajana’ dengan suara super-fals di pojok ruangan (seriously!), bukan juga karena keheningan yang terus mendominasi meja mungil kami. Tapi karena mata itu begitu hampa. Karena senyum yang biasa bermain di sana tidak ada lagi. Karena wajah di depan saya begitu pias. Karena, tanpa perlu diucapkan, saya tahu hatinya sangat sakit.

“Jelek banget,” gumam saya saat ‘Terajana’ kembali melengking, memperkosa telinga dengan nada patah-patah. “Mending elu aja yang nyanyi.”

Sahabat saya punya suara yang bagus. Berbeda dengan saya yang berpotensi menimbulkan kekacauan massal begitu menyanyi.

Ia tersenyum. Tipis.

“Boleh aja kalo diizinin mah.”

Saya nyengir kuda. Sangat yakin bahwa manajer restoran tidak akan keberatan posisi penyanyinya digantikan selama 5 menit oleh seorang perempuan dengan kemampuan vokal setara Celine Dion. (okay, okaaay… hiperbola.)

Saya menghampiri si Manajer dan mencolek bahunya.

Benar, kan, dia setuju. ;-)

“Elu gila, ah,” bisik sahabat saya, ketika saya menyeretnya mendekati si penyanyi. Ia melangkah keluar restoran. Saya menahannya.

“Apaan sih lo,” protesnya.

Saya kembali menunjukkan wajah kuda tertawa.

“Tadi katanya mau. Udah dibolehin, tuh!” Saya menggamit lengannya. “Trust me, you’re gonna feel better. Lepasin semuanya. Let it go.”

.....

Malam itu, lagu yang pernah dipopulerkan Ruth Sahanaya mengalun dengan keindahan yang menyaingi penyanyi aslinya. Beberapa pengunjung menoleh dengan raut terkesan. Seorang Ibu mencolek anaknya dan menunjuk-nunjuk ke arah kami. Sisanya tampak lega karena terbebas dari keharusan mendengarkan lagu-lagu Ratu dan Naff yang dinyanyikan secara tidak wajar oleh pria setengah uzur.

Suara itu memenuhi ruangan dengan indah, menutupi denting keyboard yang tidak sempurna lantaran pemainnya kurang menguasai lagu.

Gelombang kesedihan menerpa saya. Setiap kata mewakili rasa sakit yang tersembunyi selama lebih dari 12 purnama.

Saya menemaninya menghabiskan malam. Saya tidak berusaha mengorek. Biarlah. Saya juga tidak memupuk kesedihannya. ia tidak perlu itu. Yang diperlukannya hanya seseorang untuk berbagi malam. Untuk memahaminya dalam hening.

Selang beberapa jam, sebuah pesan mampir di inbox saya. SMS dari sahabat saya yang lain, yang sedang bersukaria di negeri tetangga.

Baru naik sepeda, berenang & sunbathing. Sekarang lagi di atas genteng, liat bintang, ngopi, denger MP3 player. Hidup ini syedap Kakak!
sender: sobatgokil

Saya cengar-cengir sendiri, antara iri, sebal dan geli. Membayangkan tumpukan pekerjaan yang mustahil diabaikan dan terus-menerus membunyikan sinyal peringatan di otak.

Lalu saya tertawa.

Betapa beruntungnya saya, punya sahabat seperti mereka. Orang-orang yang selalu menyentuh hidup saya dengan cara yang khas; membuat saya terharu dan tertawa pada saat yang sama.

Mereka yang selalu bersedia berbagi tawa dan sedih, senang dan susah, gembira dan kesal dalam berbagai cara. Entah itu sekedar banyolan nyeleneh, canda gila nan absurd, obrolan santai yang sungguh tak penting, diskusi gak-jelas-juntrungannya, curhat berujung ngomel, sampai berbagi keheningan di restoran kapitalis diiringi ‘Terajana’.

Semuanya indah. Semuanya berarti. Karena mereka sahabat saya.

Saya membalas SMS itu dengan cepat. Satu kata, sepenuh jiwa.

Kampreeeet!

;-D

Semoga kami akan terus berbagi.

*OOT: Buat yang nanyain kabarnya Alex, ini foto terbarunya, bareng Mommy & Daddy. ;-)*