Thursday, September 27, 2007

Berani Bermimpi

Saya sangat suka menonton film Denias: Senandung di Atas Awan, dan tidak pernah bosan memutarnya berulang kali.

Buat saya, Denias itu te-o-pe be-ge-te. Kalau Roeper & Ebert memberi 'two thumbs up' untuk film-film box office, saya memberi ‘four thumbs up’ (iya, jempol kaki juga dihitung ;) ) untuk bocah dari pedalaman Papua ini - bocah biasa dengan tekad yang luar biasa. Saya selalu mendapat insight baru setiap menonton ulang film ini, dan (sebagai penyandang predikat ratu mellow) tentunya selalu termehe-mehe menjelang akhir cerita. :)

Setahun terakhir, ada seseorang lagi yang menjadi sumber inspirasi saya. Bukan karena pencapaiannya, bukan karena prestasinya, tapi karena mimpinya.

Audrey Clarissa hanya seorang gadis biasa yang dibesarkan di Sukabumi. Yang membedakannya dari gadis-gadis lain di Sukabumi (dan seluruh Indonesia) adalah keberaniannya untuk bermimpi.

Keberanian itu diawali oleh sebuah keinginan: ingin Indonesia terdaftar sebagai anggota Organisasi Mahasiswa Farmasi Sedunia setelah organisasi ini berdiri selama puluhan tahun. Cita-citanya sederhana, namun besar: ingin melihat Indonesia eksis dalam dunia farmasi internasional – atau setidaknya, diakui keberadaannya.

Audrey bukanlah orang pertama yang menginginkan hal tersebut, tapi (saya rasa) ialah orang pertama yang memiliki cukup driving force dan tekad untuk mewujudkan impian itu.

Niatnya tidak surut meski langkah awalnya tertunda selama setahun karena wabah SARS. Sebaliknya, keinginan itu terus menggelora dan menciptakan driving force yang lebih kuat lagi. Berdasarkan pertimbangan akal sehat, hanya ‘orang gila’ yang berani mengajukan ide untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan simposium salah satu organisasi internasional tertua di dunia, persis ketika negaranya baru saja terdaftar sebagai anggota –setelah puluhan tahun tidak diakui eksistensinya- sekaligus menyanggupi untuk bertanggung jawab sebagai ketua panitia.

Keberanian dan driving force yang sama kini telah menghantar Audrey menjadi presiden International Pharmaceutical Students’ Federation yang pertama dari Asia. Seorang gadis sederhana dari Sukabumi telah mengharumkan bukan hanya Indonesia, namun Asia secara keseluruhan – karena ia berani bermimpi.

Saya selalu salut dengan mereka yang berani bermimpi besar, dan bangkit untuk mengejar mimpi itu. Bukan hanya bermimpi dan patah arang di tengah jalan, bukan sekedar berangan-angan dan melupakannya ketika hambatan datang, namun berani berjuang sampai mimpi itu betul-betul terwujud.

Denias tidak menunggu kesempatan. Ia bahkan tidak mau menunggu guru pengganti dari Jawa. Ia bangkit untuk mengejar mimpinya ke sekolah fasilitas, meski berdasarkan logika adalah mustahil untuk belajar di sekolah yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu dengan biaya yang tidak sedikit.

Audrey tidak menunggu kesempatan. Ia tidak menunggu dunia farmasi melirik Indonesia. Ia datang ke sana membawa Indonesia. Ia tidak menunggu dunia farmasi memberinya peluang. Ia menyodorkan diri kepada mereka, dan mereka memberinya kesempatan.

Denias dan Audrey tidak berbeda dengan orang-orang lain yang ada di sekitar mereka, pada waktu dan tempat yang sama. Hidup di tanah yang sama. Berdiri di negeri yang sama. Makan, minum dan menghirup udara yang sama. Yang menjadikan mereka berbeda adalah keberanian untuk bermimpi dan bangun dari tidur untuk mewujudkan mimpi itu.

Mereka tidak menunggu. Mereka mengejar mimpi. Mereka siap meraih kesempatan, namun ketika kesempatan tidak kunjung menyapa, mereka menciptakan kesempatan.

Saya selalu suka menonton film Denias, dan tidak pernah bosan memutarnya berulang kali.

Seperti dia, saya pun ingin terus belajar. Belajar bermimpi.

Tapi, yang paling penting, saya ingin bangun dari setiap mimpi dan mulai mengejarnya - satu demi satu. Seperti Denias. Seperti Audrey. Seperti jutaan orang lain di masa lalu dan masa kini, yang meraih impian karena belajar menciptakan kesempatan.

Dan saya mulai berpikir.

Mungkin… mungkin yang dibutuhkan bangsa ini bukan orang-orang spektakuler. Bukan peluang raksasa. Bukan janji-janji muluk. Bukan uluran tangan penuh belas kasihan.

Sesulit dan separah apapun kondisi suatu bangsa, saya percaya akan selalu ada harapan, selama masih ada orang-orang yang sanggup bermimpi -- mereka yang menggantung cita-cita dan bersedia menempuh proses untuk menggapainya, berapapun harga yang harus dibayar.

Saya juga selalu percaya bahwa anak-anak adalah pilar penopang bangsa. Apa yang telah diraih dan diwujudkan generasi sekarang akan diteruskan dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Apa yang kita capai pada masa kini akan diestafetkan kepada generasi di bawah kita, dan demikian seterusnya.

Saya percaya kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh bagaimana mereka membangun masa kini dan mempersiapkan masa depan. Berlari sebaik mungkin, dan melatih (calon) pemegang tongkat estafet berikutnya untuk melanjutkan perjalanan yang telah dimulai.

Mungkin yang dibutuhkan bangsa ini sebenarnya hanya orang-orang biasa dengan tekad yang luar biasa.

Yang berani bermimpi dan bangun dari tidur untuk mewujudkannya, untuk kemudian meneruskan mimpi dan kekuatan yang sama kepada generasi di bawah mereka.

Mimpi untuk terus bangkit, bergerak maju dan berjuang menjadi lebih baik.

Kekuatan untuk terus mengejar mimpi, dan setelah berhasil meraihnya, menggunakannya bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membangun bangsa dan negara.

Denias berani bermimpi. Audrey berani bermimpi.

Mari, belajar bermimpi.

“Beranilah bermimpi, dan bangunlah untuk mengejar mimpi-mimpi itu. Jika kesempatan menghampiri, itu baik. Namun jika tidak, ciptakan saja kesempatan itu.”
*Au, if you read this: Thanks for being an inspiration. Ditunggu makan-makannya, Neng ;-)

Thursday, September 20, 2007

Manusia-Manusia Super

Tadinya mau posting entri lain, tapi berubah pikiran gara-gara begadang semalam.

Tadi malam saya lagi-lagi menginap di kamar Alex, setelah desperate menghadapi para penghuni kamar tempat saya beramai-ramai tidur selama training di kantor.

Saya bisa mentolerir dengkuran seseorang yang tidur persis di sebelah saya (ya mau diapain lagi, bow, udah dari sononya ‘kali), tapi mbok yaaaaao tidurnya jangan sambil nyetel radio! Kalaupun teuteub mau nyetel, tolong ya itu radionya jangan diumpetin entah di mana. G-A-N-G-G-U. Saya sedang menimbang-nimbang untuk membangunkan si pemilik radio, ketika handphone orang yang tidur di seberang saya berbunyi. Setelah berdering dengan frekuensi yang membuat saya tergoda mencelupkan handphone ke bak mandi, teman saya akhirnya mengangkat benda keparat itu. Dan ngobrol dengan asyiknya.

Edan. *untuk memperhalus kata geblekmonyongkampret*

Demi kesejahteraan jiwa, jadilah saya hijrah ke kamar Alex.

Bocah itu sedang tidur dengan pulasnya ketika saya mengendap-endap masuk dan merebahkan diri di alas karet bongkar-pasang tempat bermainnya. Kurang nyaman, tapi lumayan lah. Saya menutupi tubuh dengan selimut tebal dan bersiap-siap tidur

...ketika Alex mendadak bangun, dengan kronologis sebagai berikut:

30 detik pertama: guling-guling di ranjang.
30 detik kedua: mulai memanggili Ncus.
30 detik ketiga: Ncus terbangun dan menghampiri Alex.
30 detik keempat: Alex menolak ditidurkan kembali.
30 detik kelima: Alex merengek dan mulai menangis.
30 detik keenam: Ncus berusaha mendiamkan.
30 detik ketujuh: Alex menjerit.
30 detik kedelapan: Alex semakin keras menjerit.
30 detik kesembilan: Alex masih betah menjerit.
30 detik kesepuluh: Mommy dan Daddy keluar kamar.

30 detik kesebelas sampai seterusnya, terjadi adu mulut paling menegangkan sedunia antara Mommy-Daddy dan Alex.

Hancurlah istirahat malam yang tenang dan syahdu.

Saya? Pasrah di balik selimut. Lha mau ngapain lagi?

Jangankan ikut campur, tindakan paling gagah yang saya lakukan cuma mengintip sahabat saya yang sedang duduk di meja makan dengan ekspresi desperate, sementara sang suami masih keukeuh adu suara dengan si bocah.

Pukul 3 pagi, akhirnya Alex capek dan terlelap - setelah dibuai di kamar, ruang tamu, ruang makan, teras dan dapur (seriously).

Dan menangis lagi pada pukul 8.

What a day.

Hari ini, sahabat saya (Daddy-nya Alex) kembali mengajar dalam training, seperti biasa. 3 session pagi-siang, 1 session malam. Plus menjadi narasumber sebuah program radio yang menyita seluruh waktu istirahat sorenya. Saya cuma geleng-geleng heran melihatnya cuap-cuap dengan intensitas yang tidak menurun sedikit pun. Kok bisa, ya? FYI, menurut si Ncus, rewelnya Alex ternyata sudah berlangsung selama beberapa malam dan dengan suksesnya menjadikan sahabat-sahabat saya makhluk nokturnal.

Hari ini Alex didisiplin; tidak boleh main keluar rumah dan tidak boleh ikut para Auntie & Uncle jalan-jalan ke mall seperti yang sempat dijanjikan kemarin sore. Sebagai gantinya, DVD anak-anak siap menemaninya bermain dan makan siang.

Si bocah kriwil berlari gembira ketika saya dan dua orang teman datang ke rumah. Dia berlari-lari menyambut sambil minta diajak pergi, yang sayangnya, kali ini tidak bisa kami penuhi.

Dia tertawa-tawa memamerkan gigi yang belum semuanya tumbuh sambil memeluk boneka 'Sweet Banana' erat-erat, bikin geli sekaligus gemas.

Namun, dari semuanya, yang paling menyentuh adalah pemandangan di siang hari, ketika Daddy pulang ke rumah untuk makan siang.

Daddy menjenguk Alex yang asyik bermain di kamar bersama Ncus.

Begitu melihat ayahnya, Alex segera berdiri di atas tempat tidur, memanggil-manggilnya sambil berloncatan gembira.

Daddy tersenyum lebar dan mengembangkan tangan. “Sini, hug Daddy.”

Alex berlari ke pelukan Daddy dan menghadiahkan 2 ciuman, pipi kiri dan kanan. Adu mulut paling menegangkan sedunia yang baru terjadi 10 jam sebelumnya terlupakan sama sekali. Di balik punggung Daddy, Mommy tersenyum menyaksikan scene itu. Mengintip sambil tertawa.

Buat saya, mereka ini adalah manusia-manusia super. Mereka, dan semua orangtua di seluruh belahan dunia – karena orang-orang ini mampu berkali-kali merasa kesal, capek, jenuh, letih, jengkel, marah dan menangis tanpa pernah kehilangan cinta.

Thursday, September 13, 2007

Karena Hidup Memang GOKIL


“Banyak orang yang nggak sadar kejadian-kejadian lucu bisa didapat dari hidup sehari-hari, bahkan yang tragis dan memalukan. Contohnya di dalam buku ini, terdapat 20 Cerita Gokil yang semuanya membuat sesuatu yang sebenernya simpel-simpel saja menjadi hal yang pantas untuk ditertawakan. Duapuluh cerita ini, dengan angle penceritaan yang berbeda-beda, menggeser persepsi, mencari celah, dengan lihai memainkan kata-kata yang pada akhirnya berujung pada satu tawa panjang pembaca.

Summing up, silakan bilang tengkiu yang sebesar-besarnya terhadap tertawa, karena tertawa bisa ngebuat kebodohan kita sehari-hari dan printilan nggak penting jadi tampak begitu menyenangkan.

Read on and laugh on.”
(Raditya Dika, penulis bestseller Kambing Jantan)

Saya, tanpa bermaksud menyalahkan alter ego, pada kenyataannya memang tidak sebijaksana yang tampak dalam entri-entri di blog ini (itu juga dengan catatan kalau ada yang nganggep bijaksana. Kalau nggak, ya maab, jangan disambit ;-)).

Saya, pada kehidupan nyata, sering sekali melakukan hal-hal konyol di luar batas kesadaran yang tidak jarang menimbulkan efek samping seperti yang tertulis di sini.

Saya, tidak malu mengakui bahwa saya clumsy. Ceroboh. Panikan. Impulsif. Dodol. Sedikit sarap.

Beberapa bulan lalu, seorang sahabat* yang sudah kenyang dengan kecacatan saya mengirim e-mail berisi pemberitahuan tentang Sayembara Cerita Gokil yang diadakan sebuah penerbit. 20 cerita yang terpilih akan dibukukan.

Tanpa pikir panjang, saya mengetik sebuah cerita -kisah nyata yang juga melibatkan sahabat* yang sama dan ditulis dengan hiperbola, tentunya- kemudian mengirimkannya ke si penerbit. Tanpa diedit, tanpa dipikir.

Beberapa minggu kemudian, to my surprise, saya mendapat telepon. Saya sudah lupa sama sekali tentang draft Cerita Gokil yang saya kirim, sehingga dialog yang terjadi antara saya dan pihak penerbit adalah:

“Dengan Mbak Jenny?”
“Betul, siapa ini?”
“Saya dari Mediakita. Selamat, cerita yang Mbak Jenny kirimkan ke Sayembara terpilih, dan akan kami bukukan.”
“.....”
“Sekali lagi, selamat. Dan cerita itu nantinya ak… …hallo? Mbak Jenny…?”
“Mmm… maaf Pak… tapi CERITA YANG MANA YA?”

Hehehe. Sumpah lupa, bow!

;-D

Anyway, busway

Hidup memang penuh dengan hal-hal tak terduga. Bagi saya, hidup juga penuh dengan hal-hal kecil yang bisa membuat kita tertawa setiap hari. Sebagian mungkin menyebalkan. Sebagian lagi menjengkelkan. Yang lain mungkin bikin malu tujuh turunan. Apapun itu, saya percaya hidup selalu terdiri dari rangkaian kisah yang tidak akan habis direncah maknanya. Untuk dipelajari. Untuk dikenang. Untuk dihargai. Untuk ditertawakan.

So, quoting Raditya Dika, READ ON. Laugh on.

Dan jangan pernah berhenti untuk ‘belajar’ tertawa. Karena hidup itu GOKIL, Jendral. ;-)

*Tengkyuuu ya, Djeung! ;-)

Monday, September 10, 2007

Cerita Sebatang Pohon

Salah satu wanita yang paling saya kagumi di dunia adalah Tante saya, a.k.a putri sulung dari 9 bersaudara yang menikah pada usia 18 tahun, langsung memiliki anak dan menjalani kehidupan yang tidak bisa dibilang mudah.

Beliau dan 8 saudaranya (termasuk Ibu saya) dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan. Cerita yang paling sering saya dengar adalah sup kacang hijau yang dicampur banyak air dan es batu supaya encer, sebutir telur ceplok yang dibagi 6, bikin prakarya nebeng teman (bukan karena males ngerjain sendiri, tapi karena tidak punya uang untuk membeli bahan), berjualan es mambo, sampai nonton TV beramai-ramai di rumah seorang sepupu dan diolok-olok karenanya. Belum lagi Kakek saya yang sangat keras dalam mendidik anak.

Setelah menikah, kehidupan yang dijalani Tante saya tetap tidak gampang, karena beliau menikah dengan seorang pria yang supersederhana. Ia membesarkan ketiga anaknya dalam rumah mungil berlantai tanah yang kerap kebanjiran.

“Kalau banjir, Tante selalu was-was,” kisahnya. “Soalnya tiap habis banjir, suka banyak binatang masuk rumah.”

Binatang di sini, salah duanya adalah ular dan cacing-cacing kecil yang suka bersembunyi di lipatan kasur. Saking seringnya, beliau hafal suara gemersak yang ditimbulkan seekor ular. Tiap kali bunyi itu terdengar, mereka tidur dengan was-was dan esok paginya bergerilya membongkar rumah untuk mencari si ular. Sebelum anak-anaknya pergi tidur, Tante saya akan menelusuri jengkal demi jengkal kasur kapuk, memastikan tidak ada cacing yang melata di sana.

Begitulah beliau hidup. Sialnya lagi, Oom saya semasa mudanya adalah jelmaan Buto Ijo. Nyeremin. Emosi beliau sangat mudah terpancing, bahkan oleh hal paling sepele. Sebagai ayah yang sangat menyayangi anak, sifat perfeksionis dan temperamen meledak-ledak adalah kombinasi berbahaya. Oom saya sanggup mengomel dari terbit matahari sampai pada masuknya, hanya karena di tubuh anaknya terdapat SATU GIGITAN NYAMUK.

Bukan memar, bukan luka sobek, bukan goresan. Bukan sulap, buk... *ah, sudahlah* ;-D
Satu gigitan nyamuk cukup untuk membuat Oom saya naik darah sepanjang hari. Dan gigitan nyamuk yang sama sempat membuat Tante berniat mengajukan gugatan cerai karena tidak tahan dengan kelakuan si Oom.

Suatu siang, Tante mengamati anaknya yang sedang bermain dan nyaris bunuh diri melihat TIGA GIGITAN NYAMUK di wajah si bocah. Saking hebatnya gejolak batin itu *tsah*, rasa takut yang selalu muncul mendadak berubah menjadi kemarahan. Ketika Oom pulang, hal pertama yang dilakukan si Tante adalah membuka pintu lebar-lebar dan berseru sekeras-kerasnya,

“TUH! ANAK KAMU DIGIGIT NYAMUK LAGI! BUKAN SATU. TIGA! TUH LIAT BENTOLNYA TIGA!!! SEKARANG KAMU MAU APA?! MAU NGAPAIIIN???!!”

Shocked, Oom saya cuma bisa bengong dan berkata pelan,”Ya udah, mau diapain lagi…” -- yang disambut bahagia oleh Tante,

“NAH, GITU DONG!! KENAPA GAK DARI DULU NGOMONG KAYAK GITU.”

Hihihihihi.

Seiring bertambahnya usia pernikahan, lambat laun keduanya berubah. Pelan tapi pasti, Oom saya menjadi figur suami terpuji dan ayah teladan yang sabar dan sangat mencintai keluarga. Kehidupan mulai berbelok. Puluhan tahun setelah mengucapkan janji sehidup-semati dan tinggal di rumah berlantai tanah, mereka berhasil menghantar anak-anak meraih gelar Master di Negeri Paman Sam dan menggapai kesuksesan. Sekarang ketiga sepupu saya sudah menikah, dan Tante mulai menempuh fase baru dalam hidupnya: menjadi seorang nenek.

Oom dan Tante saya mengawali babak baru dalam hidup dengan serba kekurangan. Yang mereka punyai hanya benih dari spesies tumbuhan bernama Kasih Sayang, yang disirami dengan Kesabaran dan diberi pupuk Kebesaran Hati, hari demi hari. Kini pohon itu telah tumbuh kuat. Menaungi Oom dan Tante. Membuat mereka tak lagi rentan terhadap hujan dan sengatan matahari.

Saya tidak pernah bosan mendengar cerita-cerita Tante dan membiarkan imajinasi saya berkembang menjadi sebuah harapan yang semoga tidak terlalu muluk untuk diwujudkan.

Pernikahan saya nanti, mungkin bukanlah pesta mewah di hotel bintang lima yang biayanya setara dengan rumah 3 lantai, karena saya adalah manusia pelit yang lebih memilih punya rumah sendiri dan tabungan untuk membiayai pendidikan si kecil - kalau sudah punya anak nanti. Saya tidak ingin berkeluh-kesah karena tagihan kartu kredit yang tidak kunjung lunas (seperti yang diucapkan seorang teman kemarin, “Nikahnya kapaaan, lunasnya kapan.”), pun tidak ingin deg-degan saat merancang repelita anak saya kelak. (Akur, Jeng? ;-D)

Seandainya diberi kelebihan (dan kemudahan) untuk ‘hidup lebih leluasa’, puji Tuhan. Saya bukan tipikal sosok rendah hati pun baik budi seperti kontestan reality show yang ketika ditanya “Kalau menang, uangnya buat apa?” jawabannya adalah, “Buat bangun Gereja dan Mesjid.” Saya, seperti banyak perempuan lain di muka bumi, menginginkan pernikahan dan kehidupan yang lebih dari layak.

Tapi, di atas segalanya, yang paling saya dambakan adalah kehidupan pernikahan yang terus bertumbuh - seperti pohon yang berasal dari sebutir benih. Mungkin sederhana, tapi memiliki akar yang kuat.
Mungkin tidak sempurna, tapi dapat terus menjulang sampai menjadi pohon yang kokoh dan rindang.
Tidak goyah diterpa angin, tidak gentar menghadapi badai, tidak kalah melawan terik sang Surya, mampu memberi perlindungan bagi burung-burung kecil, dan meneduhkan siapa pun yang bernaung di bawahnya.

Semoga.

Thursday, September 6, 2007

Sepenggal Cerita Akhir Pekan ;-)

Akhir pekan.
Tumpukan kertas, tugas dan deadline.
Restoran bergaya kapitalis tidak jauh dari kantor.
Saya dan seorang sahabat.

Setelah memesan makanan, kami sama-sama diam. Sesuatu yang janggal karena selama saya bersahabat dengannya, setiap pertemuan selalu diwarnai obrolan heboh, canda sinting dan tawa gila.

Saya tidak berusaha mengisi keheningan itu. Saya hanya menyentuh cangkir berisi teh madu panas dan membiarkan kesunyian terus mengambang.

Saya menatapnya. Wajah itu pucat dan kehilangan rona. Setahun belakangan, wajah itu sering sekali dihiasi ekspresi yang sama, tapi malam ini adalah puncaknya.

Sahabat saya terduduk lemas. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya berminyak tanpa make-up. Sesuatu yang biasa untuk saya, mengingat saya termasuk dalam spesies perempuan cuek yang tidak peduli penampilan. Tapi tidak bagi dia. Sahabat saya sangat memperhatikan penampilan. Malam ini menjadi luar biasa karena ia rela terlihat berantakan di sebuah restoran mewah.

Ia terdiam. Matanya memandang kosong ke sebuah sudut. Saya tidak berniat mengusiknya. Juga tidak ingin bertanya.

Makanan datang. Kami menghabiskannya tanpa banyak cakap. Sesi makan malam itu terasa tidak menyenangkan. Bukan karena penyanyi berusia setengah baya dengan kepala nyaris botak yang melantunkan ‘Terajana’ dengan suara super-fals di pojok ruangan (seriously!), bukan juga karena keheningan yang terus mendominasi meja mungil kami. Tapi karena mata itu begitu hampa. Karena senyum yang biasa bermain di sana tidak ada lagi. Karena wajah di depan saya begitu pias. Karena, tanpa perlu diucapkan, saya tahu hatinya sangat sakit.

“Jelek banget,” gumam saya saat ‘Terajana’ kembali melengking, memperkosa telinga dengan nada patah-patah. “Mending elu aja yang nyanyi.”

Sahabat saya punya suara yang bagus. Berbeda dengan saya yang berpotensi menimbulkan kekacauan massal begitu menyanyi.

Ia tersenyum. Tipis.

“Boleh aja kalo diizinin mah.”

Saya nyengir kuda. Sangat yakin bahwa manajer restoran tidak akan keberatan posisi penyanyinya digantikan selama 5 menit oleh seorang perempuan dengan kemampuan vokal setara Celine Dion. (okay, okaaay… hiperbola.)

Saya menghampiri si Manajer dan mencolek bahunya.

Benar, kan, dia setuju. ;-)

“Elu gila, ah,” bisik sahabat saya, ketika saya menyeretnya mendekati si penyanyi. Ia melangkah keluar restoran. Saya menahannya.

“Apaan sih lo,” protesnya.

Saya kembali menunjukkan wajah kuda tertawa.

“Tadi katanya mau. Udah dibolehin, tuh!” Saya menggamit lengannya. “Trust me, you’re gonna feel better. Lepasin semuanya. Let it go.”

.....

Malam itu, lagu yang pernah dipopulerkan Ruth Sahanaya mengalun dengan keindahan yang menyaingi penyanyi aslinya. Beberapa pengunjung menoleh dengan raut terkesan. Seorang Ibu mencolek anaknya dan menunjuk-nunjuk ke arah kami. Sisanya tampak lega karena terbebas dari keharusan mendengarkan lagu-lagu Ratu dan Naff yang dinyanyikan secara tidak wajar oleh pria setengah uzur.

Suara itu memenuhi ruangan dengan indah, menutupi denting keyboard yang tidak sempurna lantaran pemainnya kurang menguasai lagu.

Gelombang kesedihan menerpa saya. Setiap kata mewakili rasa sakit yang tersembunyi selama lebih dari 12 purnama.

Saya menemaninya menghabiskan malam. Saya tidak berusaha mengorek. Biarlah. Saya juga tidak memupuk kesedihannya. ia tidak perlu itu. Yang diperlukannya hanya seseorang untuk berbagi malam. Untuk memahaminya dalam hening.

Selang beberapa jam, sebuah pesan mampir di inbox saya. SMS dari sahabat saya yang lain, yang sedang bersukaria di negeri tetangga.

Baru naik sepeda, berenang & sunbathing. Sekarang lagi di atas genteng, liat bintang, ngopi, denger MP3 player. Hidup ini syedap Kakak!
sender: sobatgokil

Saya cengar-cengir sendiri, antara iri, sebal dan geli. Membayangkan tumpukan pekerjaan yang mustahil diabaikan dan terus-menerus membunyikan sinyal peringatan di otak.

Lalu saya tertawa.

Betapa beruntungnya saya, punya sahabat seperti mereka. Orang-orang yang selalu menyentuh hidup saya dengan cara yang khas; membuat saya terharu dan tertawa pada saat yang sama.

Mereka yang selalu bersedia berbagi tawa dan sedih, senang dan susah, gembira dan kesal dalam berbagai cara. Entah itu sekedar banyolan nyeleneh, canda gila nan absurd, obrolan santai yang sungguh tak penting, diskusi gak-jelas-juntrungannya, curhat berujung ngomel, sampai berbagi keheningan di restoran kapitalis diiringi ‘Terajana’.

Semuanya indah. Semuanya berarti. Karena mereka sahabat saya.

Saya membalas SMS itu dengan cepat. Satu kata, sepenuh jiwa.

Kampreeeet!

;-D

Semoga kami akan terus berbagi.

*OOT: Buat yang nanyain kabarnya Alex, ini foto terbarunya, bareng Mommy & Daddy. ;-)*

Friday, August 31, 2007

Kala Membaca ;-D

Bandung, Mei 2007.

+ “Lu baca deh…”
- “Apaan?”
+ ”Novel gua.”
- “Mana, mana?” (semangat)
+ ”Nih. Kasih komen ya.”
- “SIP!”

*membaca*

+ ”Kenapa lu?!”
- “He? Apa?” (males nengok - masih konsen)
+ ”Senyum-senyum gitu…”
- “Oh… yang ini nih…” (ga jelas)
+ ”Emang lucu ya?”
- “He eh.”

*meneruskan baca*

+ “Bo, elu ‘napa sih??!”
- “Apanya?” (merasa keganggu)
+ “ITU! Cengar-cengir sendiri!”
- “Inih LUCU!”
+ “Yang mana siiih?”
- “Ini. Sama ini juga.” (nunjuk asal)
+ “Ah, lucu di mananya?!”
- “Ya pokoknya lucu!”

*.......*

+ “ELU SEREM IH!”
- “Ih emang ga boleh ketawa?!”
+ “Lha tapi elu ketawanya ga jelas gituh dari tadi!”
- “Ih biarin. Orang lucu.”
+ “.....”
- “HUAHAHAHAHAHAHH!!!”
+ “GILA.”

*membaca sampai SELESAI*

+ ”Dah kelar?”
- “Udah.”
+ ”Makan yuk. Gua LAPER.”
- “Ayuk.”
+ ”Makan di mana?”
- “Mana aja jadi lah. Eh, ‘ni laptop mo dibawa?”
+ ”Ga, males. Tinggal aja.”

Begitulah, Saudara-saudara…

Hasil percakapan gak penting gak jelas ini sekarang bisa dilihat di sini.

:-))

Apa…?

Pembahasan komen??

Gak ada. Yang ada cuma dua perempuan sarap yang buru-buru keluar rumah untuk merampok warteg terdekat, berhubung malam semakin pekat.

Gyahahahahahahahahah! ;-D

CONGRATS, Jeng!

Thursday, August 30, 2007

Riding Roller Coaster

Bulan Agustus betul-betul membuat hidup saya 'meriah'. Banyak kejadian tidak terduga yang sukses membuat saya termehe-mehe, kaget, senang, sebal. Semuanya dalam waktu yang berdekatan.

Saya dipercaya untuk menangani sebuah project yang cukup besar dalam tenggat waktu yang sangat sempit, sendirian. Sebuah kehormatan yang bikin hidung kembang-kempis, sekaligus deg-degan setengah mampus sampai kebawa mimpi.

Seorang teman yang tinggal di Bangka mengabari bahwa ia hamil, beberapa minggu menjelang ulang tahun pernikahannya yang pertama.

Seorang teman lain -sahabat semasa SMU- juga memberi tahu bahwa ia hamil. ‘Pengumuman’nya cukup ajaib – dengan mengirim SMS panjang berisi puisi supermellow (sumpah!), sementara saya selalu mengenalnya sebagai sosok yang tomboi, gokil dan cuek abis. Being a Mom does change someone, right?

Novel solo sahabat saya rilis dan sudah beredar di toko buku. ('Indonesian Idle' - Gagas Media. Get it now!)

Membaca entri yang bikin mehe-mehe ini dan berkhayal seandainya saya ada di tempat yang sama. :)

Ngomel-ngomel nggak penting karena kasus penculikan yang menurut saya biadab dan konyol. (Bo, plis deh, anggota komunitas keagamaan nyulik anak umur 5 tahun?!)

Seorang sahabat lain merasa tersinggung dengan sikap saya (yang saya anggap wajar, sementara menurut dia tidak). Alhasil, sudah beberapa minggu saya merasa ‘baru kenal’ dengan orang yang ‘mendadak asing’ ini.

Adik saya putus dari pacarnya (well, bukan kejadian luar biasa sebetulnya, kalau saya tidak pernah mendengar kata ‘nikah’ tercetus dari si Bontot ini).

Sepupu saya divonis menderita kanker kelenjar getah bening stadium tiga, dan tante seorang teman yang lain divonis mengidap tumor otak.

Ayah kawan baik saya meninggal dunia. Saya mengetahui ini dari commenting system di blog-nya dan hanya bisa mengirim ucapan turut berdukacita melalui SMS.

Bulan ini juga, saya mulai menabung gila-gilaan untuk sebuah rencana besar yang akan saya lakukan pertengahan tahun depan. Banyak hal yang dulu ‘sah-sah aja’ saya lakukan, sekarang terpaksa dipapas di sana-sini demi memperkecil pengeluaran. I believe it’s worth the cost, though. :)

Dan masih banyak peristiwa lain yang tidak bisa ditulis di sini.

Bulan ini bagaikan roller coaster buat saya. Banyak kejadian yang membuat saya termehe-mehe, kaget, senang dan sebal dalam waktu berdekatan. Lucu rasanya, duduk di depan komputer dan mengingat-ingat semuanya.

Apapun itu, peristiwa di sepanjang Agustus ini sekali lagi menyadarkan saya tentang pentingnya mensyukuri hidup dan segala warnanya –baik itu cerah, terang, kelabu maupun gelap- dan tidak memandang sesuatu dari ‘permukaan’ nya saja.

Mensyukuri setiap tarikan nafas yang memberi saya kesempatan untuk mencecap hidup lebih lama.
Mensyukuri udara segar yang mengingatkan saya bahwa hari ini tercipta untuk dijalani sebaik-baiknya.
Bersyukur atas matahari, saat ia bersinar lembut maupun terik membakar.
Bersyukur bahwa semua panca indera saya masih berfungsi dengan baik.
Bersyukur bahwa saya masih bisa menuliskan ini, karena tandanya saya masih mampu berterima kasih.

Dan apapun yang terjadi, entah senang atau sedih, manis atau pahit, terang atau mendung; saya yakin pada akhirnya semua pasti akan baik-baik saja. :)

*Lah, tadi perasaan nyalain komputer untuk mberesin kerjaan, kenapa jadi posting?*

Monday, August 27, 2007

Proses Itu Tak Pernah Berhenti

Beberapa hari lalu, saya iseng melihat-lihat entri yang saya posting di blog saya yang lain. (Iya, saya punya dua blog, tapi yang satu lagi khusus untuk mencurahkan unek-unek, buka isi perut). Saya tertawa-tawa melihat entri yang berjumlah 40-an, yang hampir semuanya berisi hal-hal nggak penting. Salah duanya adalah foto koleksi Seri Kumbang-nya Enid Blyton dan foto cover CD bajakan yang menampilkan tulisan ‘Copying This CD Without Permission Is A Crime’ (dan ditayangkan di Museum ini, haha!). Sisanya kebanyakan berisi celoteh nggak penting yang jauh dari bermakna.

Saya mesam-mesem sambil membaca ulang entri-entri itu satu persatu dan berpikir, kok tulisan saya yang di sini, beda ya dengan entri di blogspot? Entri-entri saya di blogspot sangat serius, mellow dan kadang ‘sok bijak’. Mungkinkah saya punya alter ego seperti Beyonce Knowles atau seorang blogger old-skool *hai, Teh! :)* yang memposting hal serupa di sini? Maka mulailah saya berkhayal gila, seandainya punya alter ego, saya akan menamakannya Janice. (Ha!) ;-D

Kemarin saya membaca entri seorang sahabat yang berjudul Sekolah Kehidupan. Isinya sangat menggugah. Sekolah yang terbaik di dunia adalah Universitas Kehidupan - lengkap dengan mata kuliah yang beragam, yang semuanya memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan; bagaimana menilik hidup dari sudut yang berbeda, memandang dengan bijaksana dan menjadi orang yang lebih baik.

Saya pernah menjalani sebuah fase dalam hidup, di mana saya ‘terobsesi’ dengan makhluk bernama Kesempurnaan. Segala sesuatu pada diri saya harus sempurna. Bukaaaan, bukan dari segi penampilan atau penampakan lahiriah. Saya tidak terlalu peduli dengan keindahan tampak-luar, yang menjadi ‘obsesi’ saya adalah kesempurnaan perilaku.

Kedengaran aneh?

Itulah yang saya kejar, dulu. Saya berusaha terlalu keras menjadi figur yang sempurna di depan keluarga dan teman-teman. Saya menjaga sikap, pembawaan dan tutur kata sedemikian rupa agar selalu tampil tanpa cacat-cela. Alasannya sederhana, saya ingin menjadi seorang teladan terpuji. Seseorang yang bisa memberi contoh perilaku mulia.

Masalahnya adalah, tanpa sadar motivasi itu bergeser dan saya mulai menganggap diri saya lebih baik dari orang-orang lain. Saya menganggap diri saya yang paling benar, paling sempurna, tanpa cacat.

Usaha terlalu keras itu berhasil, awalnya. Orang-orang yang saya temui memberi komentar baik tentang saya. Beberapa bahkan diungkapkan secara berlebihan, dan saya enjoy saja dengan semua itu. Ini berlangsung bertahun-tahun, dan saya tenggelam dalam sindroma ‘look-at-me-I-am-damn-good’… sampai saya sadar, ‘kesempurnaan’ itu telah menjauhkan saya dari keluarga saya sendiri.

Adik, sepupu-sepupu, bahkan pacar sepupu saya (!) jadi segan berdekatan dengan saya. Somehow, perilaku dan sikap sempurna yang saya tunjukkan mulai mengintimidasi mereka sampai taraf tertentu. Ya iyalah, gimana nggak, saya memang kelewatan, bow. Saya sangat menjaga omongan. Saya menjaga cara saya tertawa, bercanda dan berkomunikasi, bahkan saat berkumpul dengan orang-orang terdekat.

Saya memasang ‘garis pembatas’ yang sangat sempit, padahal sumpah mati, diva Indonesia aja nggak segitunya, 'kali. Saya memasang batasan yang ketat dalam berteman. Saya memilih teman-teman saya. Hal yang sama saya terapkan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, bahkan standarnya lebih tinggi lagi (jangan tanya berapa kali saya pacaran selama masa kesintingan itu). Mungkin yang paling ekstrim adalah ketika saya memutuskan untuk tidak nonton bioskop sama sekali, namun dengan gilanya tetap berburu DVD bajakan di kaki lima. Saya menjadi figur yang terpuji di mata banyak orang, namun hati kecil ini mengakui bahwa saya tak lebih dari orang saklek. Songong karena merasa diri ini lebih baik dari orang lain.

Saya mendapat pujian dari banyak orang, namun mulai kehilangan keakraban dengan orang-orang terdekat. Adik saya menjaga jarak dengan saya. Sepupu saya menjaga sikap setiap bertemu dengan saya. Dan dengan sintingnya saya mengira sudah berhasil memberi teladan bagi mereka. Untungnya, kegilaan ini berakhir tidak lama kemudian, ketika saya mulai serius menekuni pelajaran di Universitas Kehidupan.

Saya mengambil mata kuliah ‘Membuka Diri’, ‘Memahami Perbedaan’ dan ‘Tenggang Rasa’. Saya belajar untuk tidak menganggap diri sendiri yang paling benar. Saya belajar membuka mata dan hati seluas-luasnya. Saya belajar melihat keindahan dalam setiap ketidaksempurnaan.

Dan ternyata memang benar, ketidaksempurnaan itu indah adanya.

Saya tidak lagi menghakimi ketika seorang teman memasang anting di hidung dan bibir. Saya tidak lagi mengernyit kepada mereka yang merajah tubuh dengan tattoo. Saya yang dulu selalu mencibir, kini membukakan mobil untuk teman yang kebelet merokok saat bertamu ke rumah seorang kenalan baru (secara tuan rumahnya wanita paruh baya yang superramah lagi baik budi, rasanya agak kurang pas ajaaa menjadikan terasnya tempat buangan asap rokok pada pertemuan pertama gitu, ganti). Saya tidak lagi anti dengan gedung bioskop. Dan saya tetap berburu DVD bajakan di kaki lima. *wink*

Saya belajar bahwa hidup adalah pilihan, dan setiap orang memiliki kehendak bebas untuk memilih secara sadar (serta bertanggung jawab atas pilihan itu, tentunya). Perlahan, saya mulai merasa damai karena hati ini tidak lagi gemar menghakimi.

Saya masih terus belajar. Saya percaya tidak ada satu orang pun yang akan lulus dari Universitas Kehidupan, karena proses belajar di tempat ini tidak pernah berhenti.

Harapan saya cuma satu: saya bisa menjalani setiap mata kuliah yang saya ambil dengan baik dan memperoleh nilai yang memuaskan. Tidak harus sempurna, tapi minimal baik. Dan siapa tahu, kita akan bertemu di salah satu kelas. :)

Selamat belajar! :)

Wednesday, August 22, 2007

Never Quit. Never Give Up.

Pria berusia awal empatpuluhan itu berdiri dengan wajah berseri-seri. Rambutnya yang tersisir rapi dan pembawaannya yang sangat khas anak muda sempat membuat saya terkecoh saat menafsirkan umurnya.

Ia sangat santai. Bibirnya hampir tidak pernah berhenti tersenyum, dan setiap kali ia tertawa matanya membentuk garis lengkung yang jenaka. Ia sangat ramah pada siapa saja, termasuk saya yang baru pertama kali dikenalnya. Humor-humornya selalu segar dan tidak pernah membosankan. Jujur, ketika pertama kali mengobrol dengannya, saya pikir ia bukanlah tipe pria yang bisa diajak berdiskusi serius dalam waktu lama.

“Saya mengenal satu keluarga,” Ia memulai ceritanya siang hari itu. Saya mengalihkan pandangan dari buku yang sedang saya pegang dan menatapnya, tapi sejujurnya saya tidak terlalu memperhatikan ucapannya.

“Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki.” Ia meneruskan. “Ketika bocah itu berumur 4 tahun, mereka menyadari bahwa ia cacat.”

Saya diam, mendengarkan. Sebagian perhatian saya masih terfokus pada buku yang sedang saya baca sebelum ia memulai konversasi itu.

“Anak laki-laki itu tidak bisa mendengar,“ lanjutnya, “Juga tidak bisa bicara. Yang bisa ia lakukan hanya lari kesana kemari sambil berteriak, seperti ini.” Ia mencontohkan dengan meniru jeritan yang menyakitkan telinga. Saya tertawa sambil mengernyitkan dahi. Sumpah, jeritan itu sangat tidak enak didengar.

“Ia juga menderita dyslexia,” sambungnya. Saya mengangguk. Saya pernah mendengar tentang penyakit itu (eh, penyakit atau bukan, ya? Pokoknya semacam kelainan yang menyebabkan si penderita kesulitan merangkai huruf; tidak bisa membaca, apalagi menulis). “Tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan pada seorang anak yang bisu-tuli, tidak bisa membaca, dan selalu lari sambil berteriak.”

Kali ini saya membisu. Novel di tangan saya terlupakan.

“Suami-istri itu membawa anak mereka ke berbagai dokter. Tapi dokter angkat tangan dan menyuruh mereka membawanya pulang. Semua dokter mengatakan, tidak ada yang bisa dilakukan terhadap anak itu. Ia tidak akan sembuh.”

Sampai di sini saya berpikir, betapa teganya orang-orang yang mengucapkan kalimat seperti itu terhadap orangtua yang sedih dan putus asa. Dasar nggak punya perasaan. Tapi, ternyata saya salah.

“Sesampainya di rumah, sang istri berkata pada suaminya, ‘Dokter bisa menyerah, tapi kita tidak akan menyerah.’”

“Bayangkan, punya anak seperti itu…” ia meneruskan. Lagi-lagi saya hanya diam. “Bayangkan perasaan mereka - punya anak yang tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar, tidak bisa membaca, dan selalu berlarian sambil menjerit-jerit. Tapi mereka menolak untuk menyerah.” Mata laki-laki itu kembali berbinar.

“Mereka berdoa setiap hari. Mereka membacakan ayat-ayat Firman untuk putra mereka; tidak peduli ia mendengarnya atau tidak. ‘Kamu adalah seorang juara’, mereka berkata, ‘Kamu akan disembuhkan.’ Mereka terus melakukan itu, setiap hari. Lagi dan lagi. Terus seperti itu.”

“Setelah beberapa waktu, tidak ada perubahan apapun. Tapi mereka tetap menolak untuk menyerah. Kepada setiap orang yang menanyakan keadaan si bocah, mereka selalu menjawab, ‘Ia sudah membaik. Memang belum terlalu kelihatan, tapi sudah lebih baik.’ Selalu seperti itu, hari demi hari, 4 tahun lamanya.”

“Ketika anak laki-laki itu berumur 8 tahun, orangtuanya kembali memasukkannya ke sekolah…” sampai sini, ia memotong kalimatnya. Matanya bersinar jenaka. Saya tidak. Saya menunggu kalimat berikutnya dengan tidak sabar sambil ngomel-ngomel dalam hati atas kelakuannya yang sengaja membuat saya penasaran.

“Sejak saat itu, setiap tahun ia memenangkan penghargaan. Ia mendapat nilai tertinggi dalam setiap ujian di sekolah. Ia bahkan mengajar di kelas-kelas motivasional, memberi dukungan pada orang-orang yang mengalami kegagalan. Kalimat andalannya adalah: ‘Jangan pernah menyerah.’ Dan itu yang selalu ia ucapkan -- sampai hari ini, ketika ia berusia 15 tahun: Jangan pernah berhenti. Jangan menyerah.’

Senyumnya merekah lebar. Sejak awal saya sudah menebak, pasti cerita ini berakhir bahagia. Tapi, melihat ekspresinya yang begitu hidup, tiba-tiba saya merasa hangat.

“Orangtua anak itu membawanya kembali pada ahli terapi yang pernah menolaknya. Ahli terapi itu keluar dengan bingung dan mencetus, ‘Ini bukan anakmu!’
Si ayah balik bertanya, ‘Memangnya kenapa?’
Ahli terapi itu menjawab, ‘Anakmu, yang kamu bawa dulu itu, tidak bisa bicara. Anak ini tidak mau berhenti bicara!’”

Kami terbahak-bahak. Wajah teman baru saya berbinar-binar dan sedikit memerah. Keningnya berkilap oleh keringat. Setelah puas tertawa, ia berhenti. Tatapannya berubah intens, sementara saya menunggu dengan penasaran, apalagi yang akan dia ceritakan?

Rautnya berubah teduh. Wajahnya masih berbinar, namun kehangatan kini mendominasi ekspresi riangnya.

Saya menunggu.

Senyumnya kembali merekah.

Saya tidak akan melupakan sinar di matanya, saat dengan lembut ia berkata, “Anak laki-laki itu adalah putra saya.”
To Brother Francis -a devoted father and beloved friend- thank you so much for sharing this wonderful story. May God richly bless you and your family!

Thursday, August 16, 2007

Absolut, Kalau...

“Nin, lo udah beli Conan yang bulan ini, kan?”
Sapaan itu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu penghubung antara ruang makan dan teras belakang. Kolam renang tampak gemerlap tertimpa sinar bulan. Nina duduk di pinggirannya dengan kaki terendam. Ia menoleh sekilas. Steve muncul dari balik pintu geser, berkeringat dan masih memakai baju basket.
“Pinjem dong, Conannya!”

“Selamat malam juga.” Balas Nina sarkastis.
“Yeee, nyindir.”
“Siapa suruh dateng-dateng nyebelin! Jorok lagi!”
“Ini mah bukan jorok!” Protes Steve nggak rela. “Keringetan doang, dan tidak mengurangi kegantengan!”
“Njis. GR banget sih!” Maki Nina. “Jauh-jauh sono, jangan ganggu gueeee!”

Bukannya beranjak, Steve malah duduk di samping adiknya. Melonjorkan kaki dengan malas, membiarkan jari-jarinya menyentuh air kolam. Air itu berkecipak sedikit.

“Awas kalo sengaja nyiprat-nyiprat!” Ancam Nina judes.
“Lo salah makan ya?”
“Bukan urusan lo.”
Steve tertawa mendengar respon yang diucapkan sambil cemberut itu. Ia mengacak rambut Nina. “Napa sih, sensi amat?”
“…”
“Gak cakep lagi tuh, kalo manyun gitu.”
“Emang.”
“He?”
“Mo manyun kek, senyum kek, gak ngaruh. Gue kan jelek.”
“Kok?”
“TADI LO YANG BILANG GITU!”

Steve mengusap wajahnya dengan mimik kocak. “Yang sabar… yang sabar…”
“Kalo gak sabar pergi sana!”
“Gue kan gak bilang lo jelek. Siapapun kalo ngambek plus marah-marah gak jelas, bentakin orang sambil teriak-teriak, pasti gak cakep lagi mukanya.”
“Agnes Monica apa kabarnya?”
“Ya itu mah lain, hehehe…”
“HUH!”

Seriously…” Steve mengubah posisi duduknya sedikit, menghadap Nina yang wajahnya makin tertekuk, “Lo kenapa, Dek?”

Nina membuang muka. Cahaya bulan yang menimpa air kolam menciptakan refleksi indah di wajahnya.
Jeda itu mengambang di antara mereka, dan Steve tidak berusaha mengisinya. Biarkan saja.

“Windy bilang…”
“Windy yang cheerleader?”
“Emang ada berapa Windy di sekolah? Orang lagi ngomong denger dulu kek!”
“…”
“Dia sekarang jalan sama Donnie.”
“Mantan lo itu?”
Nina mengangguk.
“Lo masih sayang dia?”
I’m totally over him,” geleng Nina. “The thing is…” ia menggigit bibir bawah sebelum meneruskan, seolah takut dengan apa yang akan diucapkannya. “Windy nyebarin ke semua anggota cheerleaders… kalo Donnie mutusin gue karena, well… karena gue jelek.”

Steve mengerutkan kening. Cewek tuh, kalo udah sirik, serem ya kelakuannya?
“Lo sakit hati karena itu?”
Nina menggeleng. “Gue udah tau -dari sejak pacaran- secara fisik gue gak memenuhi standarnya Donnie. Dia suka cewek yang putih, rambutnya lurus, hidungnya mancung… semua itu gak ada di gue. Donie sering bandingin gue dengan anak-anak cheers lain, suruh gue rebonding, pake lotion pemutih kulit…”

Tanpa sadar tangan Steve mengepal. Darahnya menderas. That son of bi**h. Kalo gue tau… Kenapa baru cerita sekarang, Nin?!
Tapi ia menahan lidah demi melihat gumpalan bening di sudut mata Nina.
“Gue gak terlalu peduli…” Nina mengusap mata, ”gue bangga dengan diri gue sendiri. Gue nyaman jadi diri sendiri, apa adanya. Dan gue gak mau berubah. Itu yang bikin Donnie mutusin gue. At that time gue masih mikir, kalau cuma itu alasannya, well… berarti dia emang shallow and I deserve better. Gue gak nyesel dia pergi, karena hidup gue jadi lebih baik tanpa dia. Gue malah ngerasa bebas…”

“Gue gak ngerti, Dek,” Steve merendahkan intonasi, berusaha keras terdengar (agak) lembut, “kalo gitu, apa yang bikin elo mewek kayak gini?”
“…”
It’s OK if you don’t want to answer, though.”
“Setelah berita itu nyebar ke anak-anak cheers dan seluruh angkatan –lo tau kan anak-anak cheers sekolah kita kayak gimana mulutnya-…”
Steve mengangguk sambil mendengarkan. Nggak heran. Waktu putus sama Manda aja, gosip yang beredar adalah Manda hamil di luar nikah dan dikeluarkan dari sekolah! Padahal mereka putus karena Manda harus cabut ke luar negeri, ikut Papanya yang pindah tugas ke San Fransisco.
“Cara mereka liat gue, bisik-bisik di belakang gue… somehow itu kayak negesin, bahwa gue emang gak pantes jalan sama Donnie. Gak heran Donnie mutusin gue. Karena gue jelek. Gue gak menarik.”

... ...

“Hari gini fisik bukan patokan lagi, Nin.” Steve berkata lembut.
“Tapi itu yang pertama diliat kan, Mas?” Nina berbisik, perih.
Steve menatap adiknya lekat-lekat. Gumpalan bening di mata Nina membuatnya ingin sekali menonjok cowok leboi yang sudah merendahkan harga sebuah hubungan demi penampilan fisik. Tapi itu tidak ada gunanya. Sekarang Nina yang paling penting.
Attitude always comes first, Nin.”
“Fisik kan penting juga! Itu yang pertama keliatan mata!”
“Tapi bukan segalanya.” Steve berkata tenang. “Gue pribadi, kalo menilai cewek bakal lihat dari kelakuannya dulu. Cantik tapi manjanya setengah mati, ya malesin. Atraktif tapi kelakuan minus, ya lewat.”

Nina mengerutkan kening, sama sekali tidak menduga jawaban yang menurutnya ‘dalem’ itu. “Emang apa yang lo lihat dari seorang cewek, selain kelakuan?”
Steve mengulurkan tangan, menyentuh ringan kening adiknya dengan jari telunjuk.
“Otak. Dan hati.”
“…”
“Itu yang menentukan apakah seorang cewek keliatan cantik di mata gue atau nggak.”

“Tapi kan itu kata lo.” Protes Nina.
“He?”
“Iya. Itu kan menurut lo. Di mana-mana juga, cantik itu relatif, jelek itu mutlak.”
“Siapa bilang?” Tangkis Steve, dalam hati bersyukur karena Nina kini tampak lebih tertarik pada objek diskusi mereka yang baru ketimbang mewek. Walau itu adiknya sendiri, Steve paling kagok menghadapi perempuan yang menangis.
“Ada tuh di majalah.”
“Majalah didengerin. Prioritas mereka kan cari duit.” Cibir Steve, yang membuahkan tonjokan ringan di pundaknya. “Makanya pilih bacaan yang bener dong… kayak GameMania, Conan…”
“Heuuuuu, gak lucu!!”

“Eh, tapi seriously, Nin…” Steve menatap adiknya lekat-lekat. “Percaya gue. Kecantikan gak diukur dari fisik doang. Tuhan itu nyiptain setiap manusia spesial. Setiap orang menarik dengan cara sendiri-sendiri. Dan elo…” Ia mengacak lembut rambut wavy Nina, “Lo cantik. Beneran.”

“Trus tentang teori itu, gimana? Cantik relatif, jelek mutlak?”
“Itu salah,” jawab Steve santai, membuahkan kerut kesekian di wajah adiknya. “Yang bener, cantik itu yang mutlak.”
“Kok?!”
“Ya iya. Cantik itu absolut, kalo lo pikir lo cantik. Dan nggak ada yang bisa merubah itu. Nggak orang lain, nggak gosip, nggak apa kata majalah.”
Nina terdiam, mendadak takjub dengan perubahan abangnya malam ini. Kesambet jin bijak kali, ya?

“Udah ah, gue mau mandi!” Steve melompat berdiri, membuat Nina terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. “Mana Conannya?! Pinjem dong!”
“Huh!” Cibir Nina. “Ntar aja abis lo mandi. Nanti komik gue bau kena keringet!”
“Alaaah pelit! Dipegang doang mana bau sih…” Steve mengusap keningnya yang penuh titik-titik air… ...dan mencipratkannya ke arah Nina dengan gerakan kilat, “Kalo begini tuh baru!!!”

“STEEEEEEVE… AWASSS LO YAAAAA!!!!!!!!”

---------

*Terinspirasi sebuah percakapan di kanal maya. Hey GABAN, kalo lo baca ini; elo bener banget. :)