Saturday, February 24, 2007

Senyum Itu Nggak Mahal, Kok...


Tadi sore saya mampir ke mal Taman Anggrek. Niatnya sih CUMA pengen beli Starbucks lantaran ‘ngidam’ Vanilla Latte-nya, sekaligus cari novel di Gramedia. Yang ada, saya malah ‘nyasar’ di Metro, asyik melototin lilin-lilin lucu, dan end up beli tiga biji, hihihi…

Jadilah saya antri di kasir, di belakang dua ibu-ibu. Awalnya, saya nggak terlalu memperhatikan mereka. Saya sibuk dengan pikiran sendiri. Tapi lama-lama, jadi merasa terusik juga. Tunggu punya tunggu, kok antrian di depan gue ini gak gerak-gerak yaaa... Mandek. Usut punya usut, ternyata ada perdebatan seru di meja kasir.

Yang mengantri persis di depan saya kayaknya ibu rumah tangga biasa (dari cara berpakaian dan belanjaannya – 3 buah piring). Yang di depannya lagi, mungkin ibu rumah tangga juga, tapi yang ‘luar biasa’. Ibu terakhir ini (sebut aja ‘Ibu X’) sepertinya kurang percaya dengan harga belanjaannya, sedangkan para petugas kasir (sekitar 4 orang) yakin bahwa mereka enggak salah harga. Kebayang, dong?

Ibu X bicara dengan nada tinggi.
Mbak di balik meja kasir berusaha tetap ramah dan sabar.

Ibu X mencondongkan badan ke atas meja, melotot.
Seorang karyawan pria mengambil alih kasir, mencoba menjelaskan duduk persoalan se-clear mungkin.

Setelah bermenit-menit.....

Ibu X: “Hhhh... ya udah deh. Gak salah, kan?! Nih." (membuka dompet, mengeluarkan credit card dengan dagu sedikit terangkat)
Petugas kasir: “Terima kasih, Bu. Barangnya mau dibawa atau dititipkan dulu?” (karena yang dibeli si Ibu adalah beberapa buah kalung)
Ibu X: “Bungkus aja deh! Saya mau langsung ke mobil.”
Sebelum si petugas sempat merespon, Ibu X sudah keluar dari antrian. Dagunya terangkat, keningnya berkerut, wajahnya jutek.

Yang ada di otak saya cuma satu, kasihan bener nasib karyawan nggak bersalah itu. Sudah capek melayani orang sepanjang hari (berdiri di meja kasir berjam-jam bukan pekerjaan enteng, apalagi pas weekend begini. FYI, di Metro lagi ada sale. Kebayang kan ramenya..), harus nerima omongan sinis dan wajah jutek mentah-mentah, dan setelahnya tetap harus melayani pembeli dengan ramah.

Saya cuma bisa maklum ketika Mbak kasir tidak bersikap seramah biasanya. Ketika menyerahkan kembalian saya, ia mengucapkan terima kasih dengan lirih dan senyum dipaksa.

Saya membawa belanjaan kecil saya menuruni eskalator. Di sana, sambil memandang orang yang sibuk lalu-lalang di antara tulisan sale dan karyawan-karyawan berseragam putih, muncul pemikiran kedua:
Apa salahnya, ya, kalau kita bersikap baik terhadap orang-orang yang sudah melayani kita dengan ramah? Nggak ada salahnya, kan? Being nice to customers memang sudah jadi kewajiban mereka, tapi kayaknya, seulas senyum yang kita berikan dengan tulus bisa membuat hari-hari mereka yang melelahkan terasa lebih berarti...


Ponakanku yang super ngguanteng --->
Nothing compares to your smile, Beyb! *halahhh*
Miss you so much :)

2 comments:

okke said...

duh.. senyum itu emang mahal kalo di 'kota besar'. :(

anastashia said...

ihhh ibu2 ituu nyebeliiinnn bgt!
gw mahh manaa tahann kalo jadii mba2 kasirnyaa! =X