Sunday, September 14, 2008

RECTOVERSO - Sentuh Hati dari Dua Sisi

Sebagai penikmat buku dan musik sejati -yang ditandai dengan menumpuknya bacaan di lemari dan ratusan lagu di playlist- membaca dan mendengarkan musik adalah bagian dari keseharian saya. Meja di kamar kos dan rak di rumah saya tak pernah sepi dari buku. Earphone nyaris tak pernah absen dari telinga, baik ketika sedang berjalan sendirian di mall, duduk santai di angkot, berdiri dalam antrian panjang di bank, atau saat harus berhadapan dengan aktivitas paling menyebalkan sedunia: menunggu. Bagi saya, kedua hal itu adalah rutinitas tetap yang tanpanya hidup akan seribu kali lebih membosankan.

Ketika pertama kali mendengarkan Rectoverso, sejujurnya saya tak tahu apa yang harus saya harapkan. Meski telah lama menjadi pengagum tulisan-tulisan Dewi ‘Dee’ Lestari, saya nyaris tak pernah menyimak versi non-tekstual dari karya-karya penulis yang satu ini. Setelah melahap habis sebelas cerita pendek dalam bukunya, saya mendengarkan lagu-lagunya tanpa ekspektasi apa pun.

Dan terjadilah ‘keajaiban’ itu. Bermula dari satu-dua lagu yang meninggalkan kesan mendalam dan saya putar lebih dari sekali, kecanduan saya terhadap makhluk hibrida ini pun dimulai.

Karya yang hadir secara terpisah dan awalnya saya nikmati sendiri-sendiri ini mulai menunjukkan pertaliannya, bagaikan paket combo yang saling melengkapi dan membentuk kesatuan utuh. Dewi Lestari telah meracik dan menyuguhkan sajian ini dengan amat terampil. Perlahan, aktivitas mendengarkan saya yang mulanya hanya terbatas pada ‘menyimak’ bertransformasi menjadi ‘menghayati’, dan akhirnya ‘melebur’.

Rectoverso berulangkali membuat saya jatuh cinta. Menangis. Tertawa. Merenung. Terdiam dalam hening. Terhanyut di dalamnya hingga kata-kata kehilangan makna.

Sebelas kisah di dalamnya tak membosankan untuk dibaca berulang-ulang, dan sebelas lagunya telah sukses menjadikan saya pecandu dalam beberapa hari saja. Merasa hidup tak lengkap jika tak menyetelnya begitu bangun tidur dan mendengarkannya hingga mata siap menutup.

Mungkin ilustrasi yang cukup pas untuk menggambarkan sensasi yang muncul dari pengalaman membaca dan mendengarkan Rectoverso adalah bagai menaiki rollercoaster yang bergerak lambat. Merasakan energi dan adrenalin terstimulasi, terpompa dan termanifestasi dalam berbagai wujud. Terus bergerak naik-turun tanpa perlu membangkitkan bulu roma. Atau seperti mengonsumsi narkoba dalam jumlah sedikit namun rutin. Rasa yang diberikannya membuat hati terus menagih untuk menikmati lebih dan lebih lagi.

Jika Supernova adalah virus, maka Rectoverso bagi saya adalah zat adiktif. Candu bagi jiwa. Racun yang tak butuh penawar. Suplemen hati yang bebas dikonsumsi sepuasnya tanpa khawatir overdosis.

Jujur, ini adalah review paling berkesan yang pernah saya tulis, karena belum pernah sebelumnya saya menikmati sebuah karya dengan begitu mendalam dan mengapresiasinya sedemikian rupa. Urgensi untuk menuliskan ini hampir tak tertahankan dan saya tak peduli jika harus menjelma jadi makhluk nokturnal demi mengurainya.

Kali berikut saya bertemu penulisnya, saya akan bertanya ramuan rahasia apa yang ia pakai. Barangkali saya bisa mencobanya, agar naskah-naskah saya bisa keluar dari rahim inkubasinya dan menghirup udara dunia. Barangkali ia akan rela membagi satu-dua resep yang bisa saya uji coba. Barangkali kejeniusan yang sama bisa sedikit menular pada saya, meski saya ragu akan pernah menghasilkan sesuatu sebrilian ini.

Barangkali saya akan berkata kepadanya, dunia butuh lebih banyak orang sepertinya. Yang mampu menciptakan keindahan sekaligus menyuarakan desau jiwa sama baiknya.

Selamat, Mbak Dee. Sayang saya hanya punya empat jempol. :-)

8 comments:

nikenike said...

aku juga setuju :)
rectoverso berhasil "menyentuh" hati dan meninggalkan rasa dengan cara yang sederhana.
gaya penulisannya tidak rumit dan pretensius. mungkin karena itu juga paling tidak pembaca bisa merasa dekat dengan seluruh atau sebagian kisah-kisahnya.

Dewi Lestari said...

Hi Jenny,

Wow. So far this has been one of the most original "long comment" or review on RV. My deepest gratitude.

Hehe, boleh ya review-mu ini kujadikan proyek percontohan bagi lomba review RV kelak. Berhubung kamu udah jadi orang dalam terpaksa nggak boleh ikut sayembara :)

Untuk entry-mu ini... hmm, what to say, ya? Hmm. Saya hanya juga punya empat jempol. Bagaimana kalau kita gabungkan keempat jempol kita dan mengacungkan delapan bagi diri kita masing-masing? Wakakak! Pathetic attempt of a narcissist.

~ D ~

Jenny Jusuf said...
This comment has been removed by the author.
Jenny Jusuf said...

Monggo dipakai Mbak, dengan senang hati :-)

Narcissist?? It's in our blood.. and we don't need Oprah! ;-D *sektoralll*

Pasifik said...

Hi Jenny,

Sangat menarik apa yang kamu tulis di blog kamu. Saya lihat kamu punya beberapa blog. Apa kamu juga sudah mengenal apa yang disebut dgn INTERNET MARKETING? Kegemaranmu blogging bisa memberi keuntungan buat kamu juga spt yg sudah dan akan saya kembangkan terus kedepannya.

Happy blogging,

BEST WOMAN CARE

San said...

Saran gw, kemarin gw bli dari situs ini:
http://pestabuku.info/?page_id=3&category=7&product_id=117
tapi laaaamaaa, bgt! Kata pestabuku siy karna dee cetaknya terbatas, iya gitu?

Jenny Jusuf said...

Hai San,

Sebenarnya dibilang mencetak terbatas nggak juga, karena cetakan pertama terdiri dari 10.000 eksemplar. Saat ini memang stok agak menipis dan Rectoverso sedang bersiap memasuki cetakan kedua. Ditunggu aja, ya. :-)

Thanks atas infonya...

Anonymous said...

hai mbak Jenny,,
ak rasa mbak bisa bantu ak dalam penggarapan tugasku untuk mendalami rectoverso. hehhe,,
bagaimana rectoverso dipandang dari sudut psikologis pengarang,, gitu deh kira2 mbak,,
agak membingungkann yaa... thx for respon :D