Thursday, March 11, 2010

Surat untuk Ayah

Ayah tersayang,

Hari ini seorang teman bertanya, “Pernahkah kamu menyesali keputusanmu untuk pergi?”

Saya terdiam, dan ingatan tentangmu kembali berhamburan. Tentang kalian. Tentang kita.


Ayah tersayang,

Meninggalkan kalian adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan. Dua tahun nyaris berlalu dan air mata ini belum juga habis. Namun jawaban atas pertanyaan itu adalah tidak; saya tidak menyesal.


Ayah tersayang,

Maafkan saya atas segala luka yang saya timbulkan. Maafkan saya karena tidak sanggup memenuhi janji untuk terus bersama sampai Tuhan memanggil salah satu dari kita. Maafkan saya karena harus menjadi orang pertama yang pergi, dan perpisahan itu bukan disebabkan oleh maut.

Maafkan saya karena tidak mampu memenuhi harapan-harapanmu. Maafkan saya karena telah mengecewakanmu begitu rupa. Maafkan saya atas segala air mata, kesedihan, dan rasa sakit yang timbul karena saya tidak bisa lagi menjadi seseorang yang dibanggakan.

Namun Ayah, saya tidak menyesal.

Dua tahun ini adalah tahun paling menakjubkan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya bisa mengambil keputusan tanpa bertanya kepada siapa pun. Untuk pertama kalinya saya bisa melakukan apa yang saya kehendaki tanpa menunggu persetujuan orang lain. Untuk pertama kalinya saya bisa pergi ke mana pun saya suka tanpa khawatir akan pendapat orang. Untuk pertama kalinya saya bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memikirkan perbedaan yang harus dijembatani.

Untuk pertama kalinya saya benar-benar tahu apa itu bahagia.

Dan Ayah, saya jatuh cinta.

Jatuh cinta ternyata perasaan yang luar biasa. Perasaan yang membuat seseorang rela mendaki gunung demi terjun bebas dari bibir jurang, remuk-redam babak-belur, lalu berjuang mendaki lagi hanya untuk mengulangi hal yang sama setibanya di atas.

Saya jatuh cinta kepada hidup.

Untuk pertama kalinya pula, saya benar-benar bersyukur. Hati saya bernyanyi dengan sendirinya. Tanpa ia perlu disuruh. Tanpa perlu diingatkan untuk berterimakasih.


Ayah tersayang,

Hidup memang tidak mudah. Dan lebih dari sekali saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya saya tidak pernah memilih untuk pergi. Apa yang terjadi seandainya kita masih terus bersama.

Hidup barangkali akan jauh lebih mudah. Rasa aman tersedia duapuluhempat jam dikali tujuh hari. Kita akan duduk di meja yang sama setiap hari, di ruangan yang sama. Tapi saya akan membenci kalian. Saya akan membenci diri saya sendiri—seperti saya membencinya sedemikian rupa sebelum akhirnya saya memutuskan untuk pergi.

Hidup memang tidak mudah, dan berkali-kali saya membayangkan apa rasanya kembali berada dalam perlindunganmu, naungan kasihmu, belaian tanganmu. Namun kini saya belajar percaya. Sesuatu yang dulu tidak pernah bisa saya lakukan. Saya belajar mempercayai diri sendiri. Saya belajar mengandalkannya. Saya belajar menjadi jujur pada perasaan dan kebutuhan saya. Dan saya belajar mencintainya apa adanya. Ternyata, mencintai diri sendiri itu tidaklah buruk.


Ayah tersayang,

Di sini saya belajar

Bahwa setiap detik dan hirupan nafas adalah keajaiban.

Bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa didikte berdasarkan buku panduan.

Bahwa cinta bukanlah sekumpulan teori yang menjamin hasil sama bagi mereka yang mengalaminya.

Bahwa perbedaan ada bukan untuk dihilangkan atau dibenci, melainkan dihargai dan diterima apa adanya—karena setiap manusia sama berharganya.

Dan bahwa Tuhan tidak seperti yang kita perbincangkan selama ini.

Saya belajar mengenal-Nya dengan cara yang sama sekali berbeda, namun kini Ia terasa jauh lebih nyata. Sangat dekat … dan ada.


Ayah tersayang,

Surat ini adalah apa yang tidak berani saya katakan selama dua tahun terakhir, karena pertemuan selalu membuat lidah saya kelu dan bibir saya terkunci. Maafkan saya karena hanya bisa menyampaikannya dengan cara ini. Mudah-mudahan Ayah tidak keberatan.


Ayah tersayang,

Saya baik-baik saja di sini. Saya bahagia.

Semoga itu cukup. :-)

-----

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

12 comments:

Ragil Cahya Maulana said...

bagi saya, ayah lebih rumit n sulit dimengerti daripada ibu....

penyelamat_biologi said...

saya berpikir.. sy jg perlu menulis surat utk ayah saya.. di surga :)

Ferry Prima said...

speechless. ga tau harus bilang apa. postingannya tajam banget.

susterNarsis said...

Oh girl. please stop it.. I really can't take it anymore it's so touching.

ndha said...

ternyata butuh " keberanian " untuk "menyakiti" orang-orang tercinta demi sebuah " keyakinan ".

eh, Jen... sang AYAH buka blog juga nggak ? Sebagai ibu, aku nangis baca suratmu ini lho... soooo touching... deep inside !!!

rental mobil said...

very nice....thanks

maya sitorus said...

aku jug pengen keluar dr rumah, dan merasakan jatuh cinta dgn kehidupann...

tapi entahlah, apakah aku yg tdk punya keberanian atau belum waktunya??

putriastiti said...

kadang pengen juga sih pergi dari rumah untuk kehidupan yang kita inginkan.
Tapi, saya masih merasa punya kewajiban buat orang-orang di rumah.
Mereka berbuat banyak untuk saya, saya harus kasi sesuatu untuk balasan. Bukan untuk jadi sopan, tapi itu keinginan saya.
Eh, atau jangan-jangan saya ga perlu ke luar rumah untuk cari kehidupan dan cinta karena saya sudah menemukannya di rumah...? :\
Mungkin saya bisa menemukan cinta dan kehidupan additional saja di luar. hihi!!

Qhienn said...

Saya suka ayah saya, tapi saya sadar saya bukan anak yang baik. I reallly need to apologize...

Nice post

.icut.chacot.icha.ica.nisa. said...

ih samaaa,,,aku juga paling nggak 'klop' sama ayah di rumah. Mungkin justru karena kami ini sama. sama-sama keras kepala.

kadang saya bisa ngerasa benci sebenci bencinya sama ayah, bahkan pernah bikin puisi yang justru bikin ayah nangis balik.
tapi di saat lain, pasti saya bisa melihat 'cinta' ayah untuk saya juga nggak bisa diremehkan.

doh, jadi panjang.
anw, salam kenal ya mbak!

jessica said...

I feel you. Literally.

Salam kenal mba Jenny.. I do follow your writings : )

sewa organ tunggal said...

Artikel nya lumayan menyentuh jiwa! thanks for sharing