Monday, July 26, 2010

Rotan

Suatu senja di Jahanjang, Kalimantan Tengah
Dia membersihkan rotan dengan sarung kumal dan rantai
Pakaiannya seadanya, mukanya masih tersaput bedak
Hasil beramai-ramai menyambut rombongan yang datang dari Jawa


Dia bekerja sambil tersenyum
Sadar bahwa kamera mengintai, siapa tahu nanti bisa masuk TV
Ketika ditanya upahnya
Dia menjawab lugas


“Seharian begini bisa dapat empatpuluh sampai enampuluh…”


Ribu rupiah, maksudnya
Untuk empat ratus pucuk rotan berukuran tiga kali lipat tinggi badannya
Yang dibersihkan dengan cara ditarik dan digerus rantai
Sehari penuh, tak henti, tanpa jeda


Matahari terik menyengat
Tak sanggup ditahan terpal rombeng di atas kepala
Kakinya beralas sandal usang
Barangkali sudah kebal disengat duri rotan


Saya tergugu
Kamera cuma mampu mengambil sebuah gambar
Mata saya membasah
Teringat segelas kopi berharga sama yang mudah saya reguk tanpa kerja keras


Hidup memang tidak adil buat sebagian orang,
Mungkin kau bilang begitu
Tapi senyum di wajahnya
Tak bisa kau beli, kawan.


2 comments:

-maynot- said...

Huaaaa.... gw baru mendapatkan pengalaman yang sama, Jen, dalam setting yang berbeda. Tetapi pikiran kita sama: tentang segelas kopi berharga sama yang seringkali kita anggap wajar2 saja.

Selalu kagum pada orang2 seperti mereka.... suatu rasa kagum yang kemudian berganti malu saat "bercermin" :)

Almarhum Damai said...

senyum dan perjuangan..nice :)

mbak, udah nyoba nulis disini.
mungkin temukan yang beda

http://www.kompasiana.com/welcome