Thursday, April 30, 2009

Maaf

Tak pernah kuduga saat ini akan tiba
Tak pernah kubayangkan hari ini akhirnya datang
Saat aku berdiri tegak di sini
Memandangmu dengan syukur, tanpa sesal dan perih

Maaf itu akhirnya hadir tanpa kuusahakan
Maaf itu akhirnya ada tanpa kuupayakan


Dan barangkali, inilah maaf yang sejati
Kala aku tak perlu lagi bergumul untuk memaafkanmu
Barangkali, inilah pendamaian yang sesungguhnya
Kala aku tak perlu lagi mencoba melupakanmu

Terima kasih untuk semua.
Pelajaran hidup yang kupetik dari aku, kamu, kita.

Terima kasih telah ada, dan pernah ada.

Aku
Telah memaafkanmu.

-----

Gambar, seperti biasa, dari sxc.hu

Tuesday, April 21, 2009

Sehari di Situ Gintung

“Ada apa, Mas?”
“Nggak apa-apa. Tadi saya liat sesuatu. Saya pikir kaki. Taunya bukan.”
“Kaki?”
“Iya. Kalo bener, mau saya ambil.”
“Hah? Caranya?”
“Dibuntel.”
“Hah?! Pakai apa?”
“Ya pakai apa aja, yang ada di sini.”


Jawaban terakhir itu membuat saya mingkem dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Saya mempercepat langkah sambil terus merunduk, berhati-hati agar tidak menginjak paku atau benda tajam yang menyembul dari retakan lumpur. Di depan, relawan yang berbaik hati mengajak saya turun ke lokasi bencana paling parah di Situ Gintung terus berjalan dengan langkah-langkah mantap. Sesekali ia menoleh untuk memastikan saya tidak tertinggal, dan sekali-dua kali mengulurkan tangan untuk membantu saya berjalan di atas lumpur licin.

Sambil berjalan, ia terus bercerita. Tentang arwah-arwah yang mendatangi para relawan dan penduduk setempat untuk memberitahu dimana jasad mereka terkubur. Tentang satu keluarga yang tidak mampu menyelamatkan diri sehingga mereka semua meninggal di tempat. Tentang seorang laki-laki yang ditugaskan keluar kota dan kembali hanya untuk mendapatkan rumahnya telah berubah menjadi timbunan puing. Tentang seorang ayah yang anak-istrinya tewas mengenaskan. Tentang seorang ibu dan bayinya yang sampai sekarang belum ditemukan. Tentang seorang anak yang selamat gara-gara tersangkut di pohon nangka, sementara seluruh keluarganya tewas. Tentang seorang tukang bakso yang kehilangan istrinya yang sedang mengandung, lantaran pegangannya tak cukup kuat untuk menyelamatkan mereka berdua.

Saya mendengarkan sambil membisu. Mendadak saya tak tahu harus mensyukuri atau menyesali keputusan saya turun ke lokasi paling parah ini, ditambah lagi, kami hanya berdua. Relawan-relawan lain memilih untuk tetap tinggal di posko sambil menunggu beberapa rekan menyelesaikan tugasnya. Saya, yang sejak awal sudah penasaran ingin menyambangi lokasi, tidak menyia-nyiakan ajakan seorang relawan yang sudah khatam setiap inci daerah pusat bencana tersebut.

Media cetak dan elektronik telah membuat musibah Situ Gintung tampak lebih bombastis –kalau tidak bisa dibilang gigantis— dari kondisi sebenarnya, dan tidak sedikit pihak yang memanfaatkan peristiwa yang berdekatan dengan Pemilu ini untuk menangguk keuntungan pribadi; namun lepas dari apa pun yang saya amati, lepas dari derasnya informasi yang membombardir otak seperti senapan mesin, saya menyadari satu hal: luka itu nyata.

Beberapa saat sebelum terapi relaksasi ‘Tentram Ikhlas’ untuk para korban bencana dimulai, koordinator regu kami memberikan pengenalan singkat kepada puluhan warga yang berkumpul untuk menerima santunan di sebuah posko. Lima menit waktu yang diberikan. Baru semenit ia berbicara –bahkan belum sempat menuntaskan kalimatnya— seorang wanita paruh baya yang duduk di pojokan sudah berkali-kali menyusut mata dengan kain jarit yang dipakainya. Beberapa warga memandanginya dengan nanar. Ada pula yang membisu dengan sorot mata hampa. Luka itu ada, dan terlalu nyata untuk diabaikan.

Berjam-jam kemudian, saat terapi berbasis metode Tapas Acupressure Technique (TAT) diberikan kepada sekitar delapanpuluh warga, saya terpukau sendiri melihat perubahan rona wajah orang-orang yang silih berganti mendatangi posko tempat kami berpraktek. Kebanyakan dari mereka masuk dengan ekspresi sarat beban, mata sayu, langkah setengah diseret, dan sebagainya. Setelah terapi diberikan, mereka keluar dengan air muka yang sama sekali berbeda. Penderitaan itu belum hilang sepenuhnya, namun mata mereka tidak lagi hampa. Mereka mampu berjalan lebih tegak, dan harapan baru yang bersinar di sana menghangatkan hati saya.

Selama proses, berkali-kali saya merasakan haru yang besar. Terbersit pula keinginan untuk mendalami metode terapi sederhana ini. Siapa tahu kelak saya bisa menggunakannya untuk menolong orang lain, atau setidaknya, menolong diri saya sendiri, karena TAT tidak hanya diperuntukkan bagi korban bencana. Teknik yang masuk ke Indonesia pada tahun 2006 ini dapat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis trauma, alergi, masalah batin, dan banyak lagi.

Selama proses itu pula, berkali-kali saya membayangkan, apa saja yang telah dialami orang-orang tersebut. Apakah mereka kehilangan anggota keluarga? Apakah mereka kehilangan rumah? Apakah mereka kehilangan seluruh harta benda? Apakah mereka menyaksikan kejadian mengerikan itu dengan mata kepala sendiri? Separah apa trauma yang mereka alami?

Salah satu relawan bercerita, seorang bocah mendadak lari terbirit-birit ketika melihat air mineral, dan seorang ibu berteriak-teriak ketakutan melihat air mengucur dari keran. Musibah itu telah memicu rasa takut yang demikian hebat pada air, dan trauma yang ditimbulkannya dapat menyebabkan ‘kerusakan’ yang lebih parah dari sekadar kerugian fisik dan materi.

Melihat dan mendengar itu semua membuat saya berkali-kali membisikkan terima kasih; bukan saja karena saya tidak mengalami bencana dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik, melainkan karena saya bisa menjadi bagian dari rombongan kecil ini. Sekumpulan orang yang tidak berasal dari organisasi mana pun, tidak dikomando siapa pun, dan tidak mewakili kepentingan pihak mana pun. Yang kami punya hanya niat dan tenaga, dan sepenuh hati saya bersyukur diberi kesempatan untuk berada di sana.

-----

Relawan yang memandu saya memperlihatkan lebih banyak lagi reruntuhan dan puing, lantas mengajak saya menyeberangi lahan luas. Di ujung lahan ini terdapat jalan setapak yang akan kami tempuh untuk kembali ke posko. Nyaris tidak ada bangunan utuh di atasnya. Lahan yang dulunya pemukiman padat penduduk telah menjadi tanah rata.

Ralat. Lumpur kering rata. Lahan itu tertutup lumpur kering yang meretak akibat panas matahari.

“Sekarang mah mendingan Mbak, udah bisa buat jalan. Dulu lumpurnya basah, kalo nggak pake sepatu bot, nggak boleh masuk ke sini,” ujar pemandu saya. Saya terdiam. Teringat pada ceritanya sebelum kami berdua sampai ke situ. Hingga hari ini, masih ada beberapa warga yang hilang dan diperkirakan tewas tertimbun lumpur.

“Ada kemungkinan warga yang belum ketemu itu ketimbun di bawah sini?” Mendadak tenggorokan saya seret.

Pemandu saya mengangguk. “Bisa jadi. Tapi udah susah dicari, sih…” ia berjalan mendahului saya. Perlahan, saya menjejakkan kaki di atas lumpur, berusaha mencerna kemungkinan bahwa tanah yang saya pijak masih menyimpan jasad-jasad yang belum sempat dievakuasi. Jasad yang dulunya punya nyawa. Hidup. Manusia. Seperti saya.

Di bawah sini mungkin ada orang.
Di sana pernah ada rumah.
Di situ dulunya kos-kosan tingkat dua...
...dan sebulan yang lalu, mereka semua masih ada.

Kaki saya terus melangkah, namun benak saya tidak henti-hentinya melisankan begitu banyak hal.

Sesampainya kami di posko, rekan-rekan relawan sudah menunggu untuk meninggalkan lokasi. Setelah berpamitan kepada warga setempat, kami berjalan beriringan ke tempat parkir.

“Seneng, udah berhasil lihat tempatnya?” Sahabat saya –penggagas kunjungan ini sekaligus koordinator regu kami— bertanya sambil nyengir.

“Puas, iya. Seneng, nggak,” sahut saya.

Keinginan saya memang kesampaian, namun rasa sakit itu terlalu pekat untuk ditanggung berlama-lama. Luka itu ada dimana-mana. Saya merasa ‘perih’ hanya dengan menjejakkan kaki di atas lumpur kering yang pernah mengubur begitu banyak orang. Saya bersyukur bisa menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri, namun saya tidak yakin ingin kembali ke puing-puing itu.

"Thanks ya, udah bantuin,” celetuk sahabat saya. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan itu seharian ini. Saya mengiyakan. Namun suara kecil di sudut hati saya berbisik, sayalah yang seharusnya berterimakasih.

Waduk yang jebol, bangunan yang luluh lantak, rumah-rumah yang tinggal puing dan rangka, lahan berlumpur yang menyimpan begitu banyak duka dan cerita perih di bawahnya, para korban yang menanggung derita, sorot wajah redup, sinar mata sayu, dan kaki-kaki yang berjalan setengah terseret; kepada kalianlah saya berhutang terima kasih. Bukan karena kalian menyadarkan betapa beruntungnya saya, melainkan karena kalian telah mendekatkan saya kepada hidup.

Tak lama berselang, saya dan sahabat berkendara pulang. Hari semakin sore. Mobil melaju perlahan, bersaing mencapai gerbang tol dengan ratusan kendaraan lain yang menyemuti jalan. Badan saya mulai berteriak-teriak minta istirahat karena malam sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam, namun pikiran saya tidak sudi tenang.

Saya duduk tegak, menatap sahabat saya yang sibuk memindahkan persneling.

"Can you imagine, losing everything in one night?”

Retoris. Saya tahu. Saya hanya harus mencetuskannya, agar benak saya kembali punya cukup ruang untuk memproses berbagai pemikiran yang menyerbu silih berganti. Pemikiran yang mengusik dan menantang saya untuk menilik kembali daftar prioritas yang selama ini tersusun rapi dalam sel-sel kelabu otak saya.

Situ Gintung telah meluluhlantakkan daerah sekitarnya dan menelan korban ratusan jiwa. Menyisakan timbunan lumpur setinggi dua meter, bocah-bocah yang menangis kehilangan orang tua, suami yang kehilangan istri, ibu yang kehilangan anak, dan entah berapa keluarga yang kehilangan tempat berteduh dan harta benda. Pada saat yang sama, ia mengajarkan saya untuk mengalir.

Bila umur memang tidak dapat ditebak, bila tidak ada yang bisa menggaransi berapa sisa waktu saya di dunia, bila saya tidak pernah tahu kapan perjalanan ini akan tiba di ujungnya, bila setiap detik yang berharga ini tidak akan bisa diulang kembali, dan bila perpisahan dengan hidup bisa menggedor pintu saya kapan saja, barangkali daftar prioritas saya memang layak ditata ulang. Dan kali ini, saya tidak menginginkannya tersusun rapi-matang-terencana.

I want a journey. A real one. A grand one. It doesn’t have to be beautiful, but I want it to be real.

Sore itu, saya menggeser beberapa hal yang selama ini bertengger di urutan pertama daftar prioritas saya. Bersamaan dengan itu, runtuh pula sebuah keyakinan yang selama ini saya genggam erat.

Yang terpenting bagi saya ternyata bukan mengisi hidup dengan hal berguna sebanyak-banyaknya. Bukan lagi berpacu dengan waktu untuk memenangkan apa yang disebut kesuksesan. Bukan pula menumpuk amal dan kebaikan. Bahkan, bukan mengisinya dengan jam-jam ibadah panjang demi selembar tiket emas ke Surga.

Yang terpenting bagi saya kini adalah mengalir bersama hidup. Sebaik-baiknya. Seutuhnya. Menjalani setiap momen sebagai sesuatu yang baru tanpa terus terlempar ke masa lalu dan terseret ke masa depan. Menjelang setiap detik sebagai anugerah.

Hidup sepenuh-penuhnya. Itu saja.

Sahabat saya menggeleng, “No.”

Perlahan, saya merebahkan kepala ke sandaran kursi yang dingin terpapar AC. Membiarkan pertanyaan itu tergusur oleh kemacetan Minggu sore dan mobil-mobil yang merayap padat. Membiarkannya tergerus tuntas, karena yang saya perlukan memang hanya melontarkannya agar hati ini kembali lapang.

I can’t, either.

But one thing I know for sure;
Life is precious. Go with the flow.


*Gambar dipinjam dari http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=22257&page=0

Saturday, April 18, 2009

Dilarang Buang Sampah Sembarangan

Sebagai seseorang yang belum lama beredar di blogosphere (dua tahun? Nggak ada apa-apanya itu mah, dibanding ibu ini, jeung ini, dan bapak ini – hai, Senior! ;-D), saya tidak terlalu paham kebiasaan para peselancar maya ketika berinteraksi melalui commenting system. Sejauh yang saya tahu, comsys merupakan sarana interaksi antara seorang blogger dengan para pembaca blog-nya, juga wadah komunikasi antar sesama blogger. Itu thok.

Di awal perintisan karir (halah!), saya sering sekali ‘meloncat’ dari satu blog ke blog lain, melihat-lihat isinya sekilas, dan tancap gas setelah meninggalkan jejak di comsys. Tujuannya? Biar eksis ateuh. Saya sendiri sangat suka membaca komentar-komentar yang dituliskan orang di comsys saya, entah itu respon pembaca, sesama blogger yang juga sedang berjuang untuk eksis, atau sekadar balasan basa-basi dari pemilik blog yang pernah saya singgahi.

Setelah menjalin pertemanan dengan beberapa blogger, kebiasaan saya berkomen-ria-supaya-eksis digantikan dengan kegemaran baru: menyampahi blog orang. Salah dua rumah maya yang sering saya ‘sampahi’, tentunya milik ibu ini dan jeung ini.

Maksud ‘nyampah’ di sini adalah meninggalkan komentar garing atau celetukan omong-kosong nan sektoral yang tidak ada kaitannya dengan entri yang dipublikasikan. Atau, kalaupun ada, porsinya kecil. Yang penting bukan korelasi antara komentar dengan entri, tapi ya... sekadar memeriahkan suasana. Dan walaupun sudah dianggap basi oleh sebagian blogger senior orang, saya tetap suka menuliskan PERTAMAX kalau kebetulan menemukan entri baru yang masih gersang. ;-D

Di satu sisi, meskipun judulnya ‘nyampah’, saya selalu berusaha memperhatikan rambu-rambu etika dalam berkomentar, seperti tidak mendiskreditkan siapapun, tidak mencela orang (dalam konotasi negatif ya, kalau bercanda mah sering), dan kalau kebetulan tergerak untuk berkomentar dengan benar mengungkapkan pendapat –meskipun perspektif saya berseberangan dengan penuturan sang empunya blog— saya selalu berusaha menuliskannya dengan baik. Minimal sopan. Setidaknya, saya menghindari unsur-unsur brutalisme dalam komentar yang saya berikan (maksudnya brutalisme? Kasar, sradak-sruduk, main hakim sendiri, main hajar).

Sebagai peselancar ranah maya yang juga punya blog sendiri, saya tidak memungkiri bahwa setiap tulisan yang saya taruh di blog –begitu ia muncul di halaman utama sebagai sebuah entri— secara otomatis menjadi ‘milik umum’ yang bisa dibaca dan dikomentari siapa saja. At least, itu konsekuensi dari mempublikasikan tulisan yang bisa diakses semua orang.

Sampai sekarang, saya belum berminat memoderasi comsys, meski beberapa teman sudah melakukannya dari jauh-jauh hari. Saya juga tetap anteng ketika seorang kawan berkomentar, “Tunggu aja, nanti juga ada waktunya kamu harus moderasi komen-komen yang kamu terima.”

Sejauh ini, saya belum pernah mendapatkan komentar ngajak berantem yang langsung di-posting di blog saya, meski comment box tidak dimoderasi. Namun, saya sempat merasa prihatin ketika menjelajah blog milik beberapa teman, yang karena satu dan lain hal, menuai cukup banyak komentar miring. Bahkan tidak hanya di comsys.

Seorang teman baru-baru ini menutup shout box di blog-nya, lantaran tidak tahan dengan sampah yang terus dijejalkan ke sana oleh orang-orang tanpa identitas jelas yang -entah bagaimana- merasa berhak ikut campur dalam kehidupan pribadinya seenak jidat. Kasar. Nyinyir. Semena-mena. Main hakim sendiri. Kadang sampai melontarkan kata-kata yang tidak pantas dituliskan di blog pribadi orang lain. Pasalnya sederhana saja, persepsi yang dimiliki teman saya tidak bisa diterima oleh para pengunjung blog-nya. Tidak sejalan dengan paham yang mereka yakini. Tidak seiring dengan konsep ideal mayoritas. Atau semata-mata dianggap berseberangan dengan logika. Dan lucunya, para pengunjung blog ini seolah lupa bahwa mereka hanyalah tamu di rumah maya milik orang lain.

Saya membaca komentar-komentar itu dan bertanya-tanya, begitu tipiskah toleransi yang kita miliki atas kesenjangan persepsi, perbedaan prinsip, atau apa pun yang terjadi di rimba internet tanpa batas ini? Yup, dunia maya yang kita diami bersama ini memang bagai hutan rimba. Tanpa batasan. Tanpa aturan baku. Tanpa hukum. Yang ada hanya lajur tipis etika tanpa label yang muncul dari kesadaran pribadi para penghuninya dan mereka yang senang bermain-main di dalamnya. Dan, sejauh yang berhasil saya amati, memang hanya itu yang menjadi pagar kita dalam berinteraksi satu sama lain: kesadaran pribadi.

Tidak ada salahnya mengadu perspektif yang kita miliki. Tidak ada salahnya mengungkapkan pendapat secara blak-blakan. Tidak ada salahnya melontarkan ketidaksetujuan atas suatu hal. Tidak ada salahnya berseberangan pendapat dan mendiskusikannya secara terbuka. Semua patut dihargai. Semua patut mendapat perhatian. Objektif atau subjektif. Benar atau salah. Semua menjadi relatif, dan tidak ada yang keliru dengan itu. Namun, ketika kesenjangan persepsi dikomunikasikan dengan sesuka hati -melalui beragam asumsi dan komentar yang main hajar semaunya dan main hakim sendiri- bagi saya ada sesuatu yang tidak sehat di sana. Komentar-komentar semacam ini bukan lagi ‘sekadar’ pendapat yang layak memperoleh perhatian, melainkan sampah yang mengganggu. Bukan lagi tak sedap dibaca, namun sudah mencemari batin. Menjadi polusi hati dan pikiran. Mengundang penyakit.

Saya tidak ingin berceloteh panjang-lebar tentang bagaimana menyikapi perbedaan perspektif. Saya tidak akan mengoceh tentang prinsip-prinsip kesopanan seperti guru Pendidikan Moral jaman baheula yang jawaban ulangannya selalu ketebak. Saya tidak menuliskan ini untuk menggurui.

Saya hanya satu dari sekian banyak penghuni ranah maya yang mencintai lahan tempat saya bermain-main ini. Mungkin memang terlalu muluk untuk mengharapkan yang indah-indah di hutan rimba ini, tapi setidaknya saya ingin memelihara harapan itu sedikit lebih lama. Dan untuk itu, saya cuma punya satu pesan, yang mudah-mudahan layak mendapat tempat di hati kita semua, atau paling tidak, berhasil mencuri sepotong perhatian agar upaya saya menuliskan ini tidak sia-sia.

Rimba ini, meski tak berpagar dan tak memiliki undang-undang, adalah tempat yang patut kita jaga bersama agar tetap nyaman ditinggali.

Caranya?

Sederhana saja.

Jangan buang sampah sembarangan kecuali monyet.

-----

Tuesday, April 14, 2009

Catatan Kecil Buat Tuhan

Terima kasih untuk selalu menjadi tempat berpulang saat saya mendamba kehangatan rumah.

Terima kasih untuk senantiasa menjadi sauh saat kapal kecil ini kehilangan haluan.

Terima kasih untuk cinta tanpa syarat yang tidak pernah menuntut balasan.

Terima kasih karena selalu ada. Di dalam sini.

Dan yang terpenting, terima kasih untuk selalu mengingatkan, lagi dan lagi, mengapa saya jatuh cinta kepadaMu.

Ya. Sampai detik ini, saya masih jatuh cinta. :-)


You feel that you are lonely
It doesn’t prove that you are alone
You feel that nobody wants you
It doesn’t mean that no one cares about you

Listen to the word I say
That I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
‘Cause I love you so

You think that you are nothing
But for Me you are something beautiful
You think that you can’t do anything
But you can do a lot of things with Me

Listen to the word I say
That I will always be by your side
You mean everything to Me
And I will never leave you
‘Cause I love you so

No more fear about the future
And blame for the past
I’ll give everything
W
hen I say that I love you

When I say that I love you
I really do.

(When I Say That I Love You – Franky Sihombing)


*Inspired by this song, and this.

**Thanks to Franky Sihombing, jenius pencipta lagu-lagu di atas. Lo emang juaranya, Bang!
:-)

***Gambar masih dari www.sxc.hu.

Sunday, April 12, 2009

Bebas Merdeka

“Bingung kenapa hari gini masih ada orang yang jadi Golput! Heran kenapa sih udah punya hak, disuruh milih aja gak mau? Apa salahnya mempertahankan kemerdekaan? Belum juga disuruh perang!"

Omelan yang saya baca di sebuah situs pertemanan itu membuat saya cengar-cengir. Versi aslinya lebih puanjang dan galak, yang tentunya saya diskon untuk ditampilkan di sini in case kebaca sama yang nulis demi terjaganya perdamaian dunia.

Maaf kalau terkesan menyepelekan patriotisme, namun bagi saya, omelan itu menggelikan sekaligus mengundang niat usil. Tapi, berhubung koneksi internet sedang jelek, saya tidak jadi memberikan komentar.

Sejujurnya, saya tidak merasa ada yang salah dengan menjadi Golput. Tidak memilih adalah sebuah pilihan juga. Dan alasan di balik keputusan untuk ‘menjadi putih’ tentunya hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan, toh?

Kelucuan kedua, somehow saya merasa, urusan pilih-memilih ini tidak ada hubungannya dengan mempertahankan kemerdekaan. Silakan protes, tapi sungguh, bagi saya, memilih atau tidak memilih tidak lantas menjadikan seseorang berjiwa patriotik ataupun anti-kemerdekaan. Lepas dari berbagai pemikiran yang melatari keputusan seseorang untuk ‘mutih’, ia hanya menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih. Itu saja.

Membaca omelan tersebut, saya jadi bertanya-tanya sendiri, memang apa sebenarnya arti kemerdekaan? Istilah itu sangat familiar, karena saya murid teladan yang sejak SD tidak pernah absen upacara bendera dan tidak pernah melewatkan 17 Agustus-an. Tapi, entah kenapa, kata ‘merdeka’ sering sekali membuat telinga saya gatal. Mengganjal di pikiran. Kalau menurut ilustrasi teman saya, seperti upil yang ngegantung di dalam hidung. Kecil tapi ganggu. ;-D

Merdeka?

Memangnya sudah?

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu, saya begitu sibuk ‘bertempur’. Betapa sering saya merasa kurang, harus mencapai lebih, selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan berusaha mati-matian untuk berubah demi menyenangkan orang yang saya sayangi. Tidak pernah ada yang cukup dari diri saya, dan saya selalu bergumul untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang saya buat.

Entah berapa lama ini berlangsung. Seingat saya, pergumulan itu sudah ada sebelum saya menginjak usia remaja, dan stadiumnya semakin menanjak seiring bergulirnya waktu. Terus, dan terus. Sampai akhirnya saya terkapar.

Suatu malam, setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan dengan rasa frustrasi yang kian menumpuk, saya mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya.

Saya lelah bergulat dengan diri sendiri. Saya lelah lari. Saya lelah 'berperang', bahkan untuk sekadar membela apa yang saya anggap benar. Bukan karena saya tidak lagi percaya, bukan pula karena tidak ingin bertahan, melainkan karena ‘kebenaran’ yang dijejalkan terus menerus membuat saya penat.

Saya sampai pada satu titik dimana saya tidak lagi memiliki energi untuk melangkah; saya mengkerut di pojokan, bersimbah peluh, terengah-engah, dan di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya: “Buat apa?”.

Di sana, untuk pertama kalinya, saya tersadar, bahkan seandainya saya meraih segala hal yang saya perjuangkan, ketidakmampuan untuk berdamai dengan diri sendiri tidak akan membuat saya bahagia. Tidak akan membuat saya berhenti. Saya hanya akan menagih untuk mendapatkan lebih dan lebih, karena saya terus merasa kurang dan kurang. Dan apa gunanya semua yang saya capai, jika saya bahkan tidak bisa beristirahat untuk menikmatinya?

Di sanalah, untuk pertama kalinya, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Jawaban itu sederhana saja.

Saya ingin bebas.

Dan jawaban yang sama telah memutar hidup saya 180 derajat, hingga detik ini.

:-)

Bagi saya, bebas (atau merdeka, mumpung masih anget Pemilu ;-D) adalah ketika saya dapat jujur sepenuhnya kepada diri sendiri dan orang lain mengenai apa yang saya rasakan. Merdeka adalah ketika saya sanggup menyampaikan isi hati saya dengan tuntas, jelas, dan lengkap tanpa menuntut untuk dipahami.

Merdeka adalah ketika saya mampu mengalir dan berserah sepenuhnya kepada Hidup. Mengijinkan setiap rasa hadir tanpa berusaha menolak atau mencengkeram. Menerima jatah yang telah digariskan bagi saya sesuai dengan jalan yang saya pilih sebelum menandatangani kontrak dengan dunia.

Merdeka adalah ketika saya menatap diri saya di cermin dan mencintai sosok yang terpantul di sana, apa adanya, seutuhnya. Meski ia tidak serupa dengan gambaran mengenai kecantikan atau postur tubuh ideal.

Merdeka adalah ketika saya mampu berkata, “Saya bahagia, dan tidak ada yang ingin saya ubah dari hidup saya”, dan pada saat yang sama membuka tangan dan hati lebar-lebar untuk mengijinkan kebahagiaan pergi jika sudah waktunya.

Merdeka adalah ketika saya sanggup berkata kepada orang-orang yang saya cintai, “Saya sayang kamu, apa adanya”, dan menyediakan telinga bagi mereka tanpa menilai, tanpa menghakimi, karena tempat mereka bukan di otak, melainkan di hati.

Merdeka adalah ketika saya melongok ke dalam batin, menjumpai apa pun yang ada di sana dan mampu menerimanya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bertumbuh dan berproses. ‘Jenny’ tidak harus selalu baik. ‘Jenny’ tidak harus manis. ‘Jenny’ tidak harus senantiasa berwarna-warni cerah. Label itu tidak perlu ada.

Merdeka adalah ketika saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya dan merasakan kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama mereka.

Merdeka adalah ketika saya mengalami secara langsung apa yang saya sebut sebagai ‘kebenaran’, tanpa melalui tangan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dan mampu hidup di dalamnya tanpa berniat menjejalkan kebenaran yang sama kepada orang lain.

Saya paham jika kemudian timbul protes: “Jen, ‘merdeka’ versi lo dengan kemerdekaan bangsa lain kaleee konteksnya.” Memang. Namun, bagi saya, kemerdekaan sejati hanya bisa dimulai dari diri sendiri. Dan kemerdekaan bangsa pun tidak semata ditentukan oleh status ‘bebas-mandiri’ yang disahkan melalui teks proklamasi. Selama peperangan di dalam diri belum berhenti, barangkali makna ‘kemerdekaan’ yang kita ketahui patut dikaji ulang. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk mulai mempertanyakan, sudahkah kita merdeka? :-)

Semua orang berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, dan tulisan ini tidak dibuat untuk menetapkan ‘standar’ bagi siapa pun. Tulisan ini hanya proyeksi dari konsep personal yang saya miliki tentang kebebasan dan kebahagiaan, dan setiap orang bebas memiliki serta menyuarakan konsep masing-masing.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari hidup saya adalah kesempatan untuk menulis yang terus ada. Bagi saya, menulis adalah sarana pencarian jati diri, dan pada saat yang sama ia memberi saya peluang untuk menguras apa saja yang tersangkut dalam batin, membersihkan sumbat pikiran, dan melapangkan hati. Setiap kali saya membuka komputer untuk menulis, selalu ada lapisan-lapisan baru yang tersingkap. Selalu ada permata yang berhasil saya gali, dan salah satunya baru saja saya temui.

Malam ini, selagi benak dan jemari saya berlomba merangkum dan menuliskan kata demi kata, saya semakin tahu mengapa saya mencintai meditasi.

*"Meditasyi lagi, meditasyi lagiii... mbok yaaaaaa." Come on, say it! Hehehe.*

Meditasi mempertemukan saya dengan diri sendiri. Meditasi mempertemukan saya dengan ‘Jenny’ yang bukan hasil pengkondisian lingkungan sekitar. Saya mampu terbang mengatasi ranah ideal dimana konstruksi citra didewakan di atas segalanya, dan meski saya tidak bisa meninggalkan ranah itu untuk selamanya, sepasang sayap ini akan terus ada.

Meditasi memperkenalkan saya pada kehidupan yang sejati. Saya belajar mencintainya apa adanya, dan di sana, untuk pertama kalinya, saya sungguh-sungguh tahu, apa itu merdeka. :-)


*Gambar (masih) dipinjam dari http://www.sxc.hu

Monday, April 6, 2009

Wajah Jakarta

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah yang hilir mudik memainkan kecrekan sambil menempelkan wajah di jendela mobil pada suatu siang yang panas terik, sementara tak jauh dari situ seorang bayi kurus menggeliat dalam gendongan seorang perempuan di perempatan lampu merah.

Wajah Jakarta adalah tongkat bergagang besi yang mengoreki tempat sampah semen. Pemiliknya adalah pemulung yang harap-harap cemas berebut rezeki dengan kucing gendut, tikus got dan lalat.

Wajah Jakarta adalah aroma menyengat di bantaran sungai yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah berdinding papan. Bila kau pasang telingamu baik-baik, dapat kau dengar dari dalam isakan bocah perempuan yang sudah dua hari panas demam.

Wajah Jakarta adalah pisau dingin berkarat yang dipakai menakut-nakuti pelajar berseragam dan wanita berkalung emas di angkutan kota. Sebuah pelajaran berharga bisa kau petik dari sana: jangan menaruh HP di saku celana, jangan memakai perhiasan di dalam bis, dan simpan dompetmu jauh-jauh di tempat yang tak terogoh.

Wajah Jakarta adalah pengamen yang bernyanyi sumbang di bis oranye sambil menadahkan kantung bekas keripik dan preman yang menadahkan tangan minta uang dengan paksa. Pelajaran berharga kedua: selalu siapkan recehan lebih dari cukup. Kita tak pernah tahu.

Wajah Jakarta adalah kelelahan yang menggurat wajah seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan map berisi surat lamaran kerja yang mulai lecek setelah ditenteng seharian. Di rumah, anak-istrinya menunggu dengan penuh harap. Hari ini Ayah pasti pulang bawa rejeki.

Wajah Jakarta adalah letusan kembang api yang gegap-gempita membelah angkasa dan bisa kau saksikan dari jarak belasan kilometer pada malam pergantian tahun, yang kata tetangga sebelah, “Nggak mahal kok, delapan juta aja.”

Wajah Jakarta adalah jendela-jendela mobil yang kacanya dihitamkan sehingga mustahil untuk sekadar diintip. Hawa di dalam situ tak pernah segarang terik matahari. Udaranya sejuk dan selalu wangi parfum, dan selalu tersedia air mineral penangkal dahaga jika kau haus.

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah berseragam yang menenteng telepon genggam dan permainan elektronik, sementara pengasuhnya berjalan di belakang membawakan tas sekolah, botol minum, dan kotak bekal makanan.

Wajah Jakarta adalah remaja belasan tahun bergaya Harajuku yang sakunya terisi kartu kredit warisan orang tua dan Blackberry seri terkini yang baru saja di-upgrade. Dan jangan lupakan Louis Vuitton KW-1 yang sesekali mereka tenteng dalam gaya yang berbeda.

Wajah Jakarta adalah butik berskala internasional yang dengan mudah kau temui di pusat perbelanjaan raksasa, yang menempelkan label puluhan hingga ratusan juta pada sebuah tas cantik dari kulit.

Wajah Jakarta adalah langkah tergesa kaki-kaki yang dibungkus sepatu berhak tinggi dan pantofel berkilap yang bersanding dengan tangan-tangan menengadah di jembatan penyeberangan.

Wajah Jakarta adalah gemerlap lampu warna-warni yang berpendar diiringi musik menghentak dan cairan merah di gelas-gelas kristal dalam geliat malam yang masih muda.

Wajah Jakarta adalah anak laki-laki berbaju kusam yang menatap iri saat kita bergandengan tangan menyusuri trotoar di sebuah malam minggu sambil makan es krim. Wajah Jakarta adalah senyumnya yang terkembang saat kau gandeng tangan mungilnya ke abang penjual es dan mempersilakannya memilih rasa yang ia suka.

Wajah Jakarta adalah pengemis berkaki buntung yang tak henti-henti mengucapkan terima kasih saat kau cemplungkan selembar ribuan ke gelas plastiknya. Dalam syukurnya ada doa agar panjang umurmu selalu.

Wajah Jakarta adalah anggukan tulus pedagang kaki lima saat kau bayarkan sejumlah rupiah sebagai penglaris jualannya pagi ini tanpa minta kembalian.

Tahukah kau apa yang terlintas di benakku hari ini, saat memandangi Jakarta dan pencakar-pencakar langitnya dari kaca gedung bertingkat tempat kita menghabiskan sembilan jam dalam sehari?

Jakarta sesungguhnya tak pernah miskin. Ia hanya lupa menoleh pada yang terpinggir.


(suatu malam, dalam keramaian sebuah festival musik di jantung ibukota)


*Gambar dipinjam dari: http://media.photobucket.com/image/monas,%20foto/dave_win2/jakarta/monas.jpg

Friday, April 3, 2009

Bahagia Versi Saya

...adalah ketika saya melihat hidup saya, diri saya, apa adanya, dan menyadari tidak ada sesuatu pun yang ingin saya ubah.

Hidup tidak selalu indah. Tapi ia sempurna. Dan untuk itu, kata yang paling pas barangkali hanya "Terima kasih".

Sungguh, Tuhan. Tidak ada yang lain.

.....

Well, setidaknya untuk saat ini. ;-)



*Gambar dipinjam dari www.sxc.hu.

Monday, March 30, 2009

Hadiah Paling Sempurna

Senja di taman. Dinaungi pohon rindang, aku bersimpuh. Tidak pada siapa-siapa. Aku sedang memanjatkan doa.

Hatiku rindu dia. Lama aku tak menjumpainya. Tak berbicara kepadanya lewat sembahyang, kendati kutahu ia selalu ada, dan tak perlu ritual untuk menemuinya.

Rindu kini membuncah, membuncit, sampai aku mau meledak. Tak bisa tidak, aku harus bercakap dengannya, meski hanya sepatah. Maka, di sinilah aku. Bersimpuh tidak pada siapa-siapa.

Mataku masih setengah terpejam saat kurasakan ada sosok lain mendekatiku. Aku terperanjat. Taman ini biasanya kosong. Aku tak ingin diganggu.

“Ini aku,” demikian sapa itu.

Aku menghentikan rapalanku, membuka mata, dan di situlah ia berdiri. Cahaya putih dari jubahnya, kulit yang bak pualam, dan wajah bersinarnya, memberi keyakinan tak terbantahkan.

“Aku sudah datang. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Matanya begitu lembut, dan aku terpesona.

Sesaat kemudian, kami sudah berbincang akrab, layaknya sahabat lama. Aku punya begitu banyak pertanyaan, dan ia mendengarkan dengan sabar. Dibiarkannya kepalaku bersandar di pundaknya sementara ia meladeni setiap ocehanku. Dipeluknya aku erat, tubuhku aman dalam lengan-lengannya, dan seketika aku merasa nyaman, seperti gadis kecil di dekapan ayahnya.

Mendapati penerimaannya, sirna sudah segala bimbangku. Dan kuberanikan diri mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah berabad-abad tabu.

“Haruskah aku mengabdi kepadamu?”

Kini kau tahu mengapa aku menyebutnya tabu. Manusia waras mana yang berani mempertanyakan keyakinan terhadap Sang Maha sebagai satu-satunya jalan sah menuju surga. Tempat peristirahatan abadi yang hanya bisa kau masuki dengan kunci bernama agama.

Di luar dugaanku, ia tertawa. Sembari ia pererat pelukannya di tubuhku, matanya berbinar menatapku.

“Tidak.”

Jawaban itu hanya satu kata. Aku terperangah, namun senyumnya tak terbantah.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Terbata karena tak percaya, aku kembali bertanya.

“Tidak ada.”

Perbincangan itu tidak lama, karena sisa waktu yang ada kupakai untuk bersandar di dadanya. Pertanyaan telah lama lenyap dari benakku dan yang kuinginkan hanya berada bersamanya. Di sini. Sekarang. Yang lain tidak penting lagi.

Seandainya saja. Seandainya saja bisa kucegat Penjaga Waktu dan kurampas bandul raksasanya agar berhenti bergerak. Seandainya saja bisa kutekan tombol ‘pause’ layaknya pemutar cakram agar momen sempurna ini berhenti di sini, selamanya.

-----

Saat matahari tenggelam sempurna di ufuk barat, ia longgarkan pelukannya di tubuhku. Dengan mata bertanya kuikuti kemana ia bergerak.

Ia bangkit, meluruskan jubah putihnya, dan mengucapkan pamit.

“Jangan pergi,” protesku. “Aku masih ingin bersamamu.”

“Aku tak pernah pergi jauh,” jawabnya. “Aku selalu bersamamu.”

“Tapi sekarang kau akan pergi,” rengekku, seperti bocah kecil yang tidak rela ditinggal ibunya. “Kau akan meninggalkan aku,” tuduhku.

Suara tawanya menggelitikku. Ia membungkuk di depanku, menjajari wajah marahku.

“Jangan cari aku di luar,” diletakkannya tangannya di dadaku. “Temukan aku di dalam sini.”

Dan aku mengerti.

Aku memang mengerti. Aku hanya tidak ingin ia beranjak, karena semenit bersamanya jauh lebih berharga dari tahun-tahun terbaik hidupku.

Namun, kini tiba waktunya untuk melepas. Ia harus kembali. Entah pada siapa. Mungkin pada tugas-tugasnya sebagai penguasa jagat. Mungkin masih banyak orang yang harus dikunjunginya. Mungkin jatahku memang hanya sampai di sini.

Tubuh itu berbalik, pergi.

“Pertanyaan terakhir...” aku tidak kuasa menahan diri.

Ia menoleh. Mengurungkan langkah dan kembali mendekatiku.

“...apa yang kau inginkan dariku?”

Pertanyaan sempurna untuk mengakhiri hari yang sempurna. Dan apa pun yang ia katakan nanti, aku rela berkorban raga dan nyawa untuk memenuhinya.

Berlutut hingga wajahnya sejajar dengan dadaku, ia berbisik,

“Hadiah terbesar yang bisa kau berikan kepadaku adalah dengan menjadi dirimu sendiri.”

Aku memandangnya, tidak percaya.

Aku baru saja menawarkan seluruh hidupku kepadanya. Tidak mungkin hanya itu yang ia inginkan. Namun, matanya, dan senyumnya, berkata bahwa ia tidak menginginkan yang lain.

“Tapi, tidakkah kau ingin aku mengubah dunia bagimu?”

Seumur hidup aku telah diajar bahwa dunia adalah tempat yang rusak. Kejam dan tak berperikemanusiaan orang-orang di dalamnya. Seseorang yang kusebut guru pernah mengajar, karena dunia telah rusak, adalah kewajiban kami untuk memperbaikinya. Menjadikannya tempat yang lebih layak untuk ditinggali bagi semua, dengan menaikkan kebenaran yang kami percayai ke puncak tertinggi.

Berperang dan menjadi martir bagi keyakinan suci. Hanya itu satu-satunya cara, demikian diajarnya kami. Dan aku sungguh percaya.

Namun, kini ia berdiri di depanku. Ia, yang diperkenalkan guruku sebagai Sang Agung yang kekuasaannya tak terbatas, yang untuknya kami harus martir tanpa menyayangi nyawa, baru saja berkata sebaliknya.

Tatapannya lembut. Dan senyumnya bukan senyum seorang panglima. Senyumnya adalah yang tampak di wajah seorang sahabat, dan aku mengenalinya.

“Mengubah dunia? Aku memiliki dunia.”

Seakan menjawab keterkejutanku, ia menambahkan, dan mengulangi,

“Aku memiliki dunia, namun dirimu –engkau— adalah milikmu. Hadiah terbaik yang bisa kauberikan bagiku adalah dengan menjadi dirimu sendiri.”

Dengan kalimat itu, dan dengan senyum yang sama, ia berlalu.

Aku terpekur. Lidahku kelu.

Mendadak, taman itu tak lagi sesepi biasanya. Atau barangkali, jiwaku yang tak lagi sunyi.



Cintanya selalu tanpa syarat, hatiku menyimpulkan. Manusialah yang membuatnya bersyarat. Dan kini, aku telah menemukan jawabannya.


Gambar dipinjam dari gettyimages.com

Monday, March 23, 2009

The Best Gift

Satu kalimat yang diucapkan Reza sebelum memulai meditasi pada hari pertama retreat, 26 Februari 2009, adalah, “Lihat ke sekeliling kalian, setiap orang di ruangan ini adalah hadiah bagi satu sama lain.”

Mustahil. Itu yang dibisikkan benak saya saat saya menebarkan pandangan, bertukar tatapan dan senyum kepada peserta-peserta lain yang duduk membentuk lingkaran. Bagaimana mungkin empatbelas orang yang datang dari berbagai latar belakang berbeda, yang masing-masing membawa setumpuk persoalan –batin maupun fisik—dan tidak saling akrab bisa menjadi hadiah bagi satu sama lain?

Esoknya, dan berhari-hari sesudahnya, keraguan saya berangsur pupus. Empat hari bersama empatbelas orang yang kini menjadi sahabat-sahabat saya ternyata memberi begitu banyak pengalaman dan pembelajaran berharga, jauh melebihi yang saya bayangkan ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Ubud.

Meditasi intensif yang saya ikuti di Mendut menggunakan teknik tunggal yang diterapkan oleh para peserta selama tiga hari penuh. Dalam retreat yang dipimpin Reza, teknik yang digunakan dalam tiap sesi hampir selalu berbeda. Sebagian besar teknik tersebut cukup sering kami gunakan dalam Meditasi Mingguan. Kadang, saya menyambutnya dengan antusias, namun tak jarang pemikiran yang mampir hanya sebatas, “Oh, teknik ini lagi.”

Beberapa kali saya mengeluh dalam hati ketika teknik yang sama diulang lebih dari sekali. Lambat laun, segala ekspektasi yang saya simpan pun bertransformasi menjadi bosan, lelah, jenuh, penat, bahkan muak. Kondisi ini lazim disebut sebagai fase krisis yang nyaris selalu dijumpai dalam meditasi intensif. Umumnya, fase krisis hadir selama retreat berlangsung, setelah retreat usai, bahkan tak jarang hingga berbulan-bulan sesudahnya (saya sendiri sampai hari ini masih mengalami berbagai fase krisis yang cukup fluktuatif).

Perjalanan mengenal diri bisa jadi sesuatu yang amat melelahkan, bahkan membuat frustrasi. Dan perjalanan ini pulalah yang sesungguhnya ditempuh oleh setiap orang di muka Bumi. Hidup tak lain dari proses panjang untuk menemukan siapa diri kita yang sejati, dan sayangnya, pengetahuan itu takkan datang dari referensi orang, buku self-help, lingkungan sekitar, bahkan didikan orang tua, kendati seringkali kita mengira sebaliknya.

Diri Sejati hanya dapat dijumpai melalui pengalaman pribadi yang bersifat otentik, dan proses pencarian itu bisa makan waktu jauh lebih lama dari yang dapat dibayangkan. Diri Sejati tidak pernah beranjak dari kita. Ia selalu ada, namun berbagai lapisan yang tertumpuk di permukaan kesadaran -yang disebabkan oleh begitu banyak hal dalam hidup- membuat kita perlu berupaya ekstra keras untuk ‘merogoh’ lebih dalam dan ‘menyelam’ ekstra jauh demi bersua dengan Diri.

Segala upaya yang kita lakukan pun pada akhirnya harus dipasrahkan, karena gerbang menuju pengenalan Diri Sejati tidak ubahnya sebuah istana tanpa pintu. Kita dapat mengerahkan segala daya untuk mencapainya, namun ketika tiba di ambangnya, kita hanya bisa menyerahkan hasilnya kepada Sang Pemilik Hidup. Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Barangkali terdengar klise, namun sungguh itulah yang saya rasakan dan alami selama pencarian panjang ini.

Dari bermacam teknik meditasi yang pernah saya lakukan, Dyad selalu mendapat tempat khusus di hati saya, karena selain dilakukan berpasangan, sejauh pengalaman saya inilah salah satu teknik meditasi yang memiliki daya gali paling dalam. Pengelupasan lapisan batin secara menyeluruh dimungkinkan oleh teknik meditasi yang satu ini, meskipun teknik-teknik lainnya juga memiliki daya kuras yang cukup dalam. Segala hal bisa terjadi dalam Dyad. Dan dalam retreat kali ini, dimana kami melakukan enam sesi Dyad (masing-masing terdiri dari enam ronde dimana kami bergantian menjadi komunikator dan pendengar), saya mendapati begitu banyak permata berharga ketika kami bersama-sama berproses dan mengeruk lapisan batin masing-masing.

Bagi saya, Dyad merupakan sarana sekaligus wadah yang membebaskan setiap orang untuk mengekspresikan apa pun yang muncul di permukaan kesadarannya dengan utuh. Orang yang berperan sebagai komunikator bertugas menyampaikan dengan jujur, tuntas, dan lengkap apa pun yang timbul sebagai hasil dari pengamatan dan kontemplasinya atas sebuah instruksi: “Beritahu saya siapa diri Anda”. Sederhana, mudah diingat, dan selalu sama. Saya telah mengikuti sekitar duabelas ronde Dyad selama tujuh bulan terakhir, dan instruksi itu tidak pernah berubah.

Kadang, apa yang disampaikan oleh komunikator berupa curhat nonstop selama bermenit-menit. Atau luapan emosi berupa tangis, tawa, bahkan amarah. Tak jarang pula muncul berbagai fenomena dan ‘tingkah ajaib’ selama proses. Nyaris tidak ada kejadian sama persis yang terulang dalam tiap sesi Dyad, kecuali bila komunikasi yang disampaikan dalam ronde sebelumnya belum cukup tuntas sehingga kembali muncul di permukaan kesadaran dalam putaran berikutnya. Karena itu pula, Dyad menjadi ajang terwujudnya segala ‘kegilaan’, ‘kesintingan’, dan ‘ketakwarasan’ (wait... gila, sinting dan nggak waras itu sama aja, ya? ;-D) yang barangkali tidak akan dijumpai di ‘dunia normal’. Bukan hal aneh apabila di tengah putaran Dyad terdengar jeritan, rengekan, racauan, bebunyian aneh, dialek bahasa asing, dan sebagainya dari seluruh penjuru ruangan.

Selama sang komunikator menyampaikan apa yang muncul dalam medan kesadarannya, pasangan Dyad-nya –sang pendengar—bertugas menyediakan telinga, hati dan keberadaannya secara penuh. Ia bertugas mengamati total, tanpa menilai, tanpa menghakimi. Ia bahkan tidak diijinkan memberi pendapat, saran, pertanyaan, atau instruksi selain lima kata tersebut. Ia hanya hadir sepenuhnya, dan meski terdengar sederhana, ini sama sekali bukan hal mudah. Menahan diri dari bereaksi ketika pasangan Dyad meluapkan perasaan (plus melakukan berbagai hal yang tidak lazim) bisa jadi sesuatu yang amat sulit dilakukan.

Uniknya, teknik meditasi yang kerap diwarnai ledakan emosi ini senantiasa memberikan dampak yang luar biasa bagi para peserta yang terlibat. Tak terkecuali saya. Dalam salah satu sesi, saya terpingkal-pingkal selama tigapuluh menit saat mendengarkan penuturan partner saya (dalam Dyad, hal ini diperbolehkan, selama sang pendengar mampu menjaga fokusnya dan tidak memberikan reaksi yang melampaui intensitas komunikasi pasangannya). Saya terbahak-bahak sampai perut kram. Lucunya, setelah kenyang tertawa, yang muncul berikutnya bukan rasa senang, melainkan hampa. Seakan-akan seluruh energi saya terkuras sampai tidak ada tenaga yang tersisa untuk berpikir dan bergerak. Ketika saya terbingung-bingung dan mulai merasa frustrasi akibat perubahan ganjil tersebut, mendadak kesadaran murni mengambil alih perhatian saya dan menghadirkan pencerahan yang selanjutnya saya tulis dalam entri ini.

Sekalipun saya dapat menjelaskan teknik dan ‘aturan bermain’nya, pengalaman Dyad termasuk yang paling sulit digambarkan dengan kata-kata. Satu-satunya cara untuk memahami Dyad secara utuh adalah dengan mengalami langsung. Barangkali salah satu faktor yang membuat Dyad memiliki daya kuras yang amat besar adalah karena di dalamnya tercampur empat aspek terpenting yang sangat esensial dalam proses pencarian Diri, yakni meditasi, kontemplasi, komunikasi jujur, dan mendengarkan sepenuh hati.

Meditasi dan kontemplasi adalah sesuatu yang bisa dipraktekkan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, karena untuk melakukannya tidak dibutuhkan kehadiran seorang rekan. Namun berkomunikasi secara jujur dan mendengarkan sepenuh hati mustahil dilakukan tanpa kehadiran seseorang. Dan, sungguh, kedua hal ini sama sekali tidak sepele artinya, kendati kehidupan (di kota besar khususnya) kerap membuat kita mempercayai sebaliknya.

Salah satu kendala terbesar untuk mengkomunikasikan isi hati secara jujur, utuh dan tuntas adalah kekhawatiran atas reaksi yang akan dimunculkan oleh lawan bicara kita. Dan salah satu hambatan untuk mendengarkan sepenuh hati adalah godaan untuk mengajukan pendapat dan memberikan penilaian, meski hanya sebatas dalam batin. Rasanya tidak berlebihan bila saya berpendapat bahwa komunikasi yang jujur dan mendengarkan sepenuh hati bagaikan barang langka dalam kehidupan sehari-hari, dimana setiap hari kita bergulat di bawah tekanan dan berhadapan dengan berbagai jenis manusia yang kadang-kadang kelakuannya lebih setan daripada setan. Dalam Dyad, kedua hal itu dimungkinkan, dijalani, dan dialami sepenuhnya. Hasilnya, mereka yang pernah melakukan meditasi berpasangan dengan teknik Dyad berpotensi menjadi pendengar yang lebih baik, sekaligus komunikator yang lebih jujur dari sebelumnya.

Selain Dyad dan teknik meditasi lainnya, sesi diskusi dan berbagi pengalaman juga memberi manfaat yang tidak kecil bagi seluruh peserta retreat. Di sini, setiap peserta bebas menceritakan apa saja yang ia rasakan dan alami ketika berproses. Karena fase krisis adalah hal yang sangat lumrah terjadi dalam meditasi intensif, tak jarang sesi diskusi berubah menjadi ajang curhat.

Uniknya, sekalipun curhat identik dengan sampah batin, kami justru merasa sedang bercermin dalam pengalaman satu sama lain. Entah bagaimana, kami mampu saling memahami dengan begitu mendalam. Pelan namun pasti, puzzle yang kosong di sana-sini mulai mengutuh, memperlihatkan kepada setiap orang –dengan cara yang berbeda-beda— lukisan apa yang dijatahkan hidup bagi mereka. Murni, apa adanya. Utuh, tanpa selubung.

Pada hari keempat, menjelang berakhirnya kebersamaan kami, Reza kembali mengingatkan bahwa kami semua adalah hadiah bagi satu sama lain. Apa pun yang kami alami, pencerahan apa pun yang muncul, semuanya terjadi karena kehadiran cermin-cermin jiwa yang membantu setiap orang untuk melongok lebih jauh ke dalam diri. Dalam keheningan, kami telah menjadi rekan dan penolong terbaik untuk satu sama lain.

Kali ini, saya tak menyanggah pernyataan itu. Empat hari di Ubud, bergeming bersama empatbelas rekan yang menjelajah ke dalam diri di keheningan yang bening, telah menyadarkan saya, betapa sesungguhnya saya tak pernah sendirian, kendati perjalanan ini amatlah sunyi.

Ada begitu banyak mutiara yang saya dapatkan selama retreat, kendati sebagian dari mereka saya temukan dalam fase krisis dimana jenuh dan muak mendominasi. Meski saya berusaha berbagi dan bercerita sebaik mungkin, nyaris semua pengalaman meditasi mustahil diungkapkan dengan kata-kata, dan pada akhirnya, sama seperti hal-hal lain dalam hidup, pengalaman ini pun akan berlalu.

Pengalaman ini boleh datang dan pergi kapan pun, dan di saat yang sama, ia tetap ada. Ia dapat tertimbun oleh debu batin, meredup dan mengusam oleh waktu, namun ia tak lekang oleh jaman. Tidak akan ada perbendaharaan kata yang cukup untuk menampung semua rasa dan pengalaman yang didapat dalam keheningan. Pada akhirnya, yang tersisa dari semua upaya dan usaha hanya kebenaran paling sejati, yang otentik dan sah bagi sang pengamat.

Di pagi pertama bulan Maret, ketika denting bel menyudahi masa hening di tepi sungai, ketika kami saling menyelamati dan mengungkapkan cinta dan terima kasih kepada satu sama lain, hati saya diliputi haru. Ternyata Vajra tak hanya ada di dalam jiwa. Ia juga hadir dalam wujud sahabat, dimana kita bercermin dan menemukan pantulan Diri.

Setelah keheningan resmi berakhir, kami beramai-ramai menceburkan diri ke sungai. Puas bermain air, kami meniti tambang untuk pergi ke air terjun di balik bebatuan. Di bawah birunya langit Ubud, di antara gemuruh arus dan percikan air besar-besar, saya menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dalam empat hari, saya mendapatkan empatbelas saudara baru.

:-)

Untuk kalian semua, rekan-rekan seperjalanan yang dengan cara masing-masing telah merintis setapak ke dalam jiwa saya: terima kasih banyak. Kalian adalah permata hati. Each one of you. Terima kasih karena kehadiran kalian telah melengkapi ruang kosong dalam teka-teki gambar raksasa ini. Terima kasih karena melalui kalian saya menemukan pantulan Diri Sejati. Terima kasih telah berbagi pengalaman, pembelajaran, kejujuran, air mata, tawa, hening… dan di atas segalanya, terima kasih telah ada.

Untuk sahabat-sahabat saya, Reza Gunawan dan Dewi Lestari: terima kasih telah menjadi kawan sejiwa dalam menapaki lingkaran tak berujung ini, yang senantiasa saya syukuri sepenuh hati. Kita tak perlu lebih banyak kata. Sungguh. Kegemingan, dan kebeningan ini, sudah lebih dari cukup.

Have a safe journey.

-----

Tuesday, March 17, 2009

Menyimak Tepian Sungai

Dalam retreat meditasi yang saya ikuti di Ubud belum lama ini, setiap peserta memperoleh waktu istirahat yang cukup panjang seusai makan siang, yang bisa digunakan untuk tidur atau melakukan kegiatan bebas. Pada hari kedua, saya memutuskan untuk sedikit bertualang. Setelah melanggar sebuah peraturan (tidak boleh berbicara dengan siapa pun selama masa hening) dengan meminta petunjuk jalan dari karyawan hotel, saya menuruni tangga batu yang berkelok-kelok hingga tiba di pinggir sungai. Udara panas membuat saya langsung mencelupkan kaki tanpa berpikir dua kali.

Saya duduk bergeming. Matahari bersinar terik. Nyaman sekali membiarkan kulit terpanggang sementara kaki terendam air dingin. Sesekali, saya kucurkan air mineral dari botol untuk membasahi betis.

Ketika memandang aliran sungai, saya tertegun. Di permukaan air berkilau ribuan permata mungil. Pendarnya lebih indah dari berlian mana pun yang pernah saya lihat (*ahem* kayak sering ngeliat berlian ajaaa ;-D). Saya tak sanggup mengalihkan mata dari pemandangan itu. Air kecoklatan yang sesekali menghantarkan daun layu kehitaman dan serpihan kulit kayu ternyata bisa memantulkan cahaya matahari dengan indahnya. Terik matahari yang menyiksa kulit ternyata sanggup menyulap sungai menjadi tambang permata. Lama, saya terpekur.

Sejurus kemudian, panas di tubuh saya lenyap. Sinar matahari meredup, tertutup awan. Spontan, saya mendongak. Langit mengelam. Permata di permukaan air ikut hilang. Sungai tak lagi berpendar. Namun, lagi-lagi, semua hanya sesaat. Tak lama kemudian, matahari kembali muncul dan membuat semua bercahaya. Demikian seterusnya. Entah berapa lama saya duduk di pinggir sungai, mengamati pantulan sinar matahari yang terus datang dan pergi. Permata-permata mungil yang silih berganti ada dan lenyap.

Bangkai laba-laba yang mengambang mengalihkan perhatian saya. Serangga itu terbawa riak air yang menerpa pergelangan kaki saya. Sejenak, saya terpesona menontoni derasnya arus yang dihantarkan air terjun dari belakang bukit batu. Saya sendirian, namun gemuruh itu sama sekali tidak terdengar menakutkan. Ini pertama kalinya saya bersentuhan dengan sungai, dan panggung kayu yang saya duduki terus bergoyang didera air. Di sekeliling saya banyak bebatuan yang cukup besar, namun entah kenapa tak terbersit sedikit pun rasa khawatir. Tiba-tiba, semua terasa …apa adanya.

Arus sungai ini, gemuruh ini, pancangan kokoh batu kali, derai air terjun di balik bukit, mendung di langit, sinar yang memanggang kulit, pantulan berlian di bawah kaki, bangkai serangga, kulit kayu, daun layu, ranting pohon… semua terasa apa adanya.

Mendadak, mendungnya langit menjadi sama berharganya dengan pancaran sinar mentari. Mendadak, kilau permata di permukaan air menjadi sama berharganya dengan riak kecoklatan yang menghantarkan bangkai serangga dan sampah sungai. Mendadak, batu-batu tajam di sekitar sungai menjadi sama berharganya dengan bebatuan warna-warni yang menghiasi anak tangga tempat saya turun. Mendadak, arus deras yang bergemuruh menjadi sama berharganya dengan aliran air yang datar dan tenang.

Mendadak, benak saya kehilangan kemampuan untuk melabeli apa pun yang saya jumpai di pinggir sungai. Mendadak, saya tak lagi punya keinginan untuk memilah apa pun yang saya lihat ke dalam kategori; bersih-kotor, indah-buruk, aman-bahaya, menakutkan-menyenangkan. Mendadak, segalanya terasa begitu netral.

Tidak ada yang buruk atau baik dari sungai. Ia hanya memantulkan dan menghantarkan apa pun yang diserahkan alam kepadanya. Sinar matahari, sampah, serangga, pasir. Bersih atau kotor, indah atau buruk, aman atau berbahaya, menyenangkan atau menyeramkan, menyegarkan atau melelahkan, semua adalah hasil bentukan persepsi yang secara otomatis saya berikan kepada segala hal yang saya temui. Ketika batin saya berhenti memberi label, semua menjadi sama berharganya. Ketika pikiran saya berhenti menilai, semua menjadi sama bermaknanya.

Lagi-lagi, saya tercenung.

Barangkali, itu juga yang terjadi pada kehidupan dan segala sesuatu di dalamnya. Tidak ada yang baik, buruk, benar, atau salah, kendati kita tak henti-hentinya berusaha melekatkan label pada semua yang kita lihat, alami, dan rasakan. Kita menarik garis berdasarkan citra tentang baik-buruk-benar-salah, dan berupaya meniti garis tersebut dengan harapan hidup akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kendati demikian, hidup adalah sungai. Ia hanya mengalirkan apa yang ‘dititipkan’ kepadanya, seada-adanya. Dan seringkali, ‘yang terbaik’ yang dijatahkan hidup tidak sesuai dengan ‘yang terbaik’ versi kita sendiri. Barangkali itu sebabnya kita menderita.

Barangkali, itu sebabnya kita tetap tak kuasa mencegah kematian sekalipun kita berjuang sekuat tenaga menepis maut. Barangkali, itu sebabnya kita tetap tak mampu menghindari perpisahan sekalipun kita mati-matian mempertahankan kesatuan. Barangkali, itu sebabnya duka tetap hadir meski kita berusaha meraih bahagia. Dan barangkali, tidak ada yang salah atau buruk dari perpisahan, kematian, atau kesedihan. Karena ia hanya sesuatu yang dihantarkan arus sungai kepada kita. Ia hadir secara alami. Ia tiba, karena memang sudah waktunya. Label yang kita lekatkan kepadanyalah yang membuatnya memiliki ‘arti lebih’, seperti cap yang juga kita tempelkan pada pertemuan, kelahiran, dan kebahagiaan.

Sepanjang hidup, tak henti-hentinya kita menempelkan label. Tak henti-hentinya kita bergulat. Tak henti-hentinya kita bergelut. Kita bergumul menghindari luka dan kesedihan, dan berusaha keras mempertahankan kebahagiaan dan kesenangan. Toh, akhirnya, semua akan berlalu pada waktunya.

Kapan terakhir kali kita datang ke sungai dengan tangan kosong? Kapan terakhir kali kita membersihkan saku dari berbagai label, cap dan stempel? Kapan terakhir kali kita menjalankan peran sebagai penonton yang hanya duduk di tepian; sekadar mengamati dan membiarkan semua berlangsung sebagaimana adanya?

Jika hidup adalah permainan, barangkali ada baiknya sesekali kita melipir ke pinggir lapangan. Menyingkir sejenak dari arena untuk sekadar menonton. Bukan untuk mempelajari strategi baru, bukan untuk menyoraki mereka yang sedang bermain, bukan untuk mencatat dan menghitung skor. Hanya duduk menonton.

Esok harinya, saya kembali ke sungai bersama beberapa teman. Duduk di panggung kayu yang sama -kali ini dalam posisi menyamping- saya kembali termenung.

Seumur hidup, saya dibesarkan di Jakarta, dimana sungai dan alam bukan alternatif lahan bermain nomor satu. Seumur hidup, baru kali ini saya merendam kaki di sungai yang mengalir deras. Di kota besar, sungai identik dengan sampah, banjir, penyakit, dan aroma tak sedap. Di tempat ini, sungai adalah tempat saya merenung. Berdoa. Bersyukur.

Selama empat hari berada di Ubud, tiga kali saya menyambangi sungai, setiap kali dengan kawan yang berbeda. Di hari pertama, saya sendirian. Di hari kedua, saya pergi dengan beberapa teman. Di hari terakhir, saya turun ke sungai dengan seluruh peserta retreat untuk bersama-sama mengakhiri keheningan panjang yang telah kami jalani.

Sebelum masa hening resmi berakhir, kami duduk bermeditasi di pinggir sungai. Di tengah gemuruh dan gemercik air yang melanda telinga, sepenuh hati saya berdoa.

Entah sendirian, entah berdampingan, tolong ingatkan saya untuk senantiasa ‘datang ke sungai’ sepulangnya saya kelak. Jika tak mungkin untuk tinggal selamanya, setidaknya izinkan saya sesekali kembali. Duduk di tepian untuk menontoni arus dan membiarkannya mengalir, apa adanya. Ia tak perlu jernih. Ia tak perlu bening. Ia tak perlu tenang. Ia tak perlu berkilau bak permata. Ia ada, dan itu sudah cukup.

-----