Friday, October 12, 2007

‘Stila-Aria: Sahabat Laut’ vs. Mayer Complex

Jelang lebaran, saya sudah pasrah dengan kenyataan bahwa libur kali ini saya harus tinggal di rumah layaknya satpam, karena orang rumah punya acara sendiri-sendiri yang tidak bisa diganggu-gugat.

Saya nggak keberatan, sebetulnya. Malah senang, karena saya termasuk spesies yang demen ngendon di rumah. Mencari damai *tsah* dengan setumpuk DVD, novel, hot cocoa dan Chitato.

Tahun ini, selain memanjakan diri dengan hal-hal di atas, saya –yang sedang terobsesi menyelesaikan novel perdana- berniat menghabiskan waktu di depan komputer; menulis dan mengunduh riset sebanyak 100 halaman *sedap!* yang belum tersentuh kemarin-kemarin. Kenap nap harus pakai riset segala? Itulah hasil kesombongan penulis pemula yang dengan belagu menciptakan setting nan ribet.

;-D

Anyway, selain menulis, rencananya saya akan menghabiskan waktu dengan leyeh-leyeh sambil menonton ulang Desperate Housewives dan membaca novel terbaru Sitta Karina yang terbit awal bulan ini. Rencana itu tersusun dengan rapinya, dan saya bergirang hati saban membayangkan bahwa lebaran kali ini akan jadi liburan yang damai-tenteram-menyenangkan…

… sampai saya mampir ke blog Haqi, 2 hari menjelang lebaran, dan baru sadar kalau… novel itu belum kebeli.

Halah.

Padahal, waktu pengumuman tentang novel itu muncul di milis, saya sempat menelepon penerbitnya untuk memesan di muka. Saya suka memesan novel-novel terbitan Terrant Books secara langsung, karena selain dapat diskon 25%, buku dikirim ke rumah tanpa dikenakan biaya sedikit pun. Ngirit, bo. :-)

Sayangnya, beberapa kali menghubungi Terrant Books, saya selalu mendapat jawaban yang sama: harga buku belum bisa dipastikan. Saya menelepon terlalu awal.

Ya wis, sebagai orang yang senantiasa menggampangkan perkara, saya pun berpikir, sutralah, nanti aja deh…

Sialnya, saya lupa bahwa selain sindrom penggampangan perkara, saya juga menderita Mayer Complex. Berpedoman pada rumusan Jeng May yang senantiasa tajam-akurat-terpercaya, mungkin saya bisa menyimpulkan Mayer Complex sebagai sebuah anomali psikologis yang ditandai dengan kerapnya si penderita mengalami distraksi fokus dan melakukan tindakan-tindakan impulsif yang berujung pada kedodolan tingkat tinggi dan degredasi memori akut.

*Do I sound smart?* ;-D

Jadi begini…

Pengumuman terbitnya novel sengaja tidak saya hapus dari e-mail, dengan tujuan mengingatkan saya agar segera memesan ke pihak yang berwenang. Setiap hari saya membuka e-mail. Setiap hari juga saya melihat e-mail dengan subjek yang sama. Dan saya tetap lupa.

Saya beberapa kali mengunjungi situs Sitta Karina. Cover novel yang bersangkutan terpampang jelas pada halaman muka, dan saya tetap nggak ngeh.

Parah?

Belum seberapa.

Puncak Mayer Complex ini adalah beberapa hari lalu, ketika saya membahas sesuatu dengan Mbak Sitta melalui SMS, di mana sepanjang proses jempol memencet keypad, mencari nama dalam phone book, memasukkan nomor, menekan ‘send’, menerima delivery report dan mendapat pesan balasan; saya sama sekali tidak ingat bahwa saya punya rencana luhur berkaitan erat dengan sang penerima pesan: membeli novelnya untuk pengisi liburan.

Gedubrak.

Yes, saya baru benar-benar ngeh waktu membaca reviewnya di blog Haqi.

Sejutatopanbadai.

Kalau pesan ke penerbit sekarang, novel baru akan saya terima -paling cepat- beberapa hari setelah lebaran. Sama juga bohong.

Maka, demi rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari, saya pun melanggar komitmen suci atas nama ngirit.

Karena mobil dipakai adik saya ke Puncak, motor adalah alternatif satu-satunya untuk mencapai Gramedia terdekat di Puri Indah. Setelah menuntaskan beberapa daily chores, jam 11 saya sudah siap tempur untuk mendapatkan ‘Stila-Aria’ (yup, judul novelnya). Sebelum berangkat, dengan pintar saya menelepon Gramedia, memastikan novel itu ada di sana. Well, you know… just in case.

Saya mengganti kostum rumah dengan jins dan kaus, menyambar kunci, dan baru sadar…

…helm satu-satunya ketinggalan di kantor.

Aaaarrrghhhhh.

Dengan menyalahkan Mayer Complex, saya pun memutuskan untuk nekat pergi. Di lampu merah perempatan, hal pertama yang saya lakukan adalah clangak-clinguk memastikan tidak ada polisi. Betapa leganya ketika melihat 2 orang ibu dan 1 Mas-mas yang juga tidak pakai helm. At least, sesial-sialnya (baca: kalau sampai ketangkep), penderitaan yang ditanggung bersama akan terasa jauh lebih ringan.

Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum (walau masih menganut prinsip bahwa menghindari polisi adalah alasan dominan untuk penggunaan helm *wink*), akhirnya saya berhenti di toko pinggir jalan untuk membeli helm a la tukang bangunan seharga 12 ribu rupiah. Jiwa tenteram, hati sejahtera.

Semua kedodolan berakhir ketika saya sampai di rumah 2 jam kemudian, dengan Stila-Aria di tangan.

Pfiuuuuuh... :-)

Now, the review.

Walau saya merasa Stila-Aria tidak se’nampol’ Lukisan Hujan dan Pesan Dari Bintang, saya sangat menikmati novel terbaru dari Sitta Karina ini. Novel ini penuh dengan pesan moral yang diselipkan di mana-mana tanpa berkesan menggurui -yang sangat khas Sitta Karina- dan dialog-dialognya sukses membuat saya kangen pada kejayaan masa sekolah. Stila-Aria disajikan secara lugas dan cerdas, dengan taburan informasi yang memperluas wawasan. *sedap gak bahasanya?* Novel remaja ini sukses membuat saya yang sudah tidak remaja berkali-kali senyum-senyum edan, tertawa, terharu, surprised… plus tergoda untuk mencoba neenlit lagi. (halah, novel satu aja nggak kelar-kelar mau ganti haluan.)

Four thumbs up for Sitta Karina! ;-D
*Tuh, Dol, gue masih pake ‘remaja’! Gyahahahahah.

12 comments:

Sitta Karina said...

Jenny, thanks for your wonderful review :)

haqi said...

kita sama Mbak
harus berjuang ekstra keras bwat dapetin Stila Aria :)

jenny jusuf said...

Mbak Arie: Sama2 Mbak. Review lengkapnya ntar lewat japri ya :)

Haqi: IYA! Hahahaha. Gw juga pas nyampe, cuma nyamber buku itu, bayar trus pulang :)

BTW, buat yang baca ini dan punya pengalaman seru untuk ngedapetin Stila-Aria, boleh tuh di-share. Huahahahahahah.

Dodol Surodol said...

Perasaan gua udah komen di sini deh. Apa itu perasaan sini aja ya? :-/

jenny jusuf said...

Lu komen di entri yang sebelom ini kali? Sama2 ada Mayernya ;P

Dodol Surodol said...

Bukan tentang Mayer *Mayer siapa sih?* kok, tentang remaja.

jenny jusuf said...

Bloggernya kali yang ngaco. Comsys suka error, gw jg dah beberapa kali nyoba komen di blog org ga masuk.

BTW, lebaran susah banget nyari makan. Gua makan mie ayam 4 kali dalam 3 hari. Edan. Abis itu eneg liat mie ;D

ibunyaima said...

Jeeen.. nggak usah nonton ulang Desperate Housewives ;) Season 4-nya udah keluar lho.. biarpun baru 1 keping (2 episode) ;)

jenny jusuf said...

Oyaaaaa??

Huaaaaa... BELI!!! :D

BTW, ada tuh spoiler 2 episode pertamanya di wikipedia, hahahah.

Eh tapi kenap nap sejak season 3 keluarnya sepotong2 gitu ya? Dan bukannya sekeping biasanya isi 3 episode?

oktaendy said...

Salam kenal... lagi blogwalking nich..

seru banget perjuangan buat dapetinnya... :D, aku juga suka baca, tapi lebih suka yang berbau detektif, misteri atau nyangkut2 ke teknologi. hihihihi...

Abu Salman said...

Bagus dong jen ada riset terlebih dahulu, pramoedya kalo bikin roman juga riset dulu, trus Bram Stoker author-nya Dracula malah 8 tahun riset sebelum nulis Dracula yang terkenal, gimana?

jenny jusuf said...

Yo'i. Riset emang penting. Saya-nya aja yang belom terbiasa, main copy-paste gak pake mikir. Hahaha.. Padahal setelah diunduh lagi, dari 100 halaman yang bener2 kepake cuma 9 halaman. :-DD