Saturday, June 20, 2009

Malaikat Kecil

Malaikat kecil itu bernama Keenan.

Saya pernah memandangnya dengan iba. Ayah-ibu saya sudah lama bercerai, dan saya bisa memahami rasanya tinggal bersama orangtua yang tak lagi lengkap. Ternyata saya salah. Orang bilang, perpisahan selalu berujung luka. Tidak bagi dia. Untuknya, perpisahan adalah sebuah awal baru. Dari keluarga besar yang dulu tidak dimilikinya. Dari kebahagiaan yang semakin bertambah seiring bergulirnya waktu. Dari seorang ayah dan seorang ibu, kini dia punya dua ayah dan dua ibu, seorang adik laki-laki, dua calon adik bayi yang belum ketahuan jenis kelaminnya, dan seekor kucing bernama Tjondro.

Malaikat kecil itu bernama Keenan.

Senyumnya menerbitkan hangat di hati, layaknya mentari yang tak pernah jemu membagi sinar. Jika anak-anak seusianya sering malu bertemu orang baru, dia takkan segan mempertontonkan segala jenis keahlian, mulai dari bergoyang dombret, bernyanyi lagu Batak keras-keras, menggebuk drum di udara, sampai berjoget-joget lincah. Rambut kriwilnya tak pernah diam, sama seperti tubuhnya yang selalu bergerak kesana-kemari.

Malaikat kecil itu bernama Keenan.

Rabu malam pukul sepuluh adalah saat yang selalu saya nantikan, karena malaikat kecil itu akan berjingkrak-jingkrak di depan pintu begitu mendengar suara mobil mendekati rumah. Dia akan menunggu dengan manis, lalu menyambut kami layaknya pahlawan pulang dari medan perang. Hangat, gembira, penuh kebahagiaan. Setelah itu, ia akan mengucapkan kalimat pendek yang selalu diulangnya: “Mbak Jenjus, peluk.” Dan saya akan mendekapnya erat sambil membaui rambutnya yang wangi.

Malaikat kecil itu bernama Keenan.

Dia bercahaya, dan dia benderang. Kehangatan itu tak pernah habis untuk dibagi. Dia akan segera tumbuh dewasa, dan sinarnya akan berpijar semakin terang. Dia tak perlu mentari, karena dialah sang empunya surya. Sayap-sayapnya akan menjadi kuat dan mengepak. Dia akan membubung tinggi dan ketika saat itu tiba, saya berharap saya bisa mengantarnya sambil tersenyum lebar.

Malaikat kecil itu bernama Keenan.

Lihatlah dia di sana. Tertawa riang sekali.

Di bangku-bangku itu, empat orang tak lepas menatapinya dengan senyum bangga. Bukan cuma dua.

:-)


*Picture taken from Keenan’s Fan Page.

6 comments:

vendy said...

dalam satu aspek, gw jadi kepengen tanya sama elu: pengen punya anak? ;D

keyword: tratifi
tratifi jam = traffic jam :))

Jenny Jusuf said...

Pengen! Tapi harus nyari calon bapaknya dulu kayaknya, huahahah *too much information*

Anonymous said...

saya suka fotonya keenan. mukanya campuran ibu bapaknya ya. pertama liat ada kesan mukanya dewi. tapi lama2 ada kesan marcelnya juga.

biyan said...

mukanya marcel banget lagi :)

BTW, gile, udah punya fan-page aja tuh. Anak selebriti, anak selebriti... xixixi...

natazya said...

kalau semua anak dari keluarga bercerai terbesarkan begini rasanya ga perlu ada cerita broken home segala ya :D

-maynot- said...

Kutip "Ternyata saya salah. Orang bilang, perpisahan selalu berujung luka."

Skripsi gw dulu tentang "Psychological Well-being on the Children of Divorce", dan salah satu hipotesa yang berhasil gw buktikan adalah: usia anak ketika orang tuanya bercerai serta dukungan sosial dari orang di sekitarnya berperan besar dalam menentukan well-beingnya.

How old was Keenan when his parents divorced? Around four years? Itu usia yang "tergolong aman" buat anak, apalagi anak laki2. Dengan demikian satu aspek sudah mendukung Keenan untuk meminimalkan dampak.

Tapi seandainya Keenan punya adik/kakak, belum tentu si adik/kakak itu menunjukkan hasil yang sama; meskipun orang tuanya sama :)