Friday, July 24, 2009

Di Pihak Siapa?

Mari maju, maju, maju
Ke medan peperangan
Tiada waktu untuk santai

Mari maju, maju, maju
Ke tanah perjanjian
Puji nama-Nya dan rebut kemenangan

S’bab Tuhan ada di pihak kita
Kuasa-Nya selalu menolong kita
Maju, kemenangan bagi kita

Biarlah dunia 'kan melihat
Biarlah dunia 'kan mendengar
Biarlah dunia akan tahu
Bahwa Allah kita gagah perkasa

Gagah perkasa
Gagah perkasa


Lagu di atas pernah menjadi favorit saya beberapa tahun silam. Lagu yang selalu diiringi hentakan drum itu senantiasa berhasil memicu adrenalin dan membuat saya bersemangat. Saya meloncat-loncat tanpa jeda sepanjang lagu dinyanyikan (yang bisa diulang berkali-kali dari awal sampai akhir), berteriak sampai suara parau dan leher sakit, bertepuk tangan sekeras-kerasnya sampai telapak dan pergelangan saya memerah, dan berjingkrakan sampai tubuh terasa panas.

Hingga pada satu titik, saya tersadar.

Jika ada ‘kita’, berarti ada ‘mereka’.

Jika ada ‘Allah kita’, berarti ada ‘Allah mereka’.

Siapa yang dimaksud dengan ‘mereka’? Apakah Tuhan lebih dari satu?

Jika Tuhan lebih dari satu dan mereka berperang, lantas siapa yang akan menang? Adakah Tuhan yang satu lebih kuat dari Tuhan lainnya?

Jika Tuhan hanya ada satu, lalu ‘kita’ dan ‘mereka’ berperang, lantas kepada siapa Ia berpihak?

Lantas, adakah gunanya dunia tahu Tuhan siapa lebih berkuasa atas Tuhan siapa? Adakah gunanya dunia sadar mana yang lebih kuat mana yang lebih lemah?

Dan apa yang dimaksud dengan kemenangan? Pihak yang satu menduduki pihak lainnya? Pihak yang satu berkuasa atas pihak lainnya? Lantas, apa yang akan dilakukan kepada pihak yang kalah?

Lagu itu pernah menjadi kesukaan saya, sampai saya mulai bertanya.

-----


*Hhh. Susah emang kalau punya bakat cari gara-gara. Berserah sih berserah, penasaran teteub, nanya-nanya jalan terusss.

**Cuma sebuah pemikiran iseng di Jum’at sore. Nggak usah ditanggap serius, tapi kalau ada yang berminat ngasih jawaban, monggo lho.

***Maaf nggak mencantumkan nama pencipta lagunya, karena saya nggak tahu siapa.

8 comments:

ine said...

Ada yang cari gara-gara....ngacir ah...

Jenny Jusuf said...

Makasih Neeeeng, huahahahah!

Ikan_ikan said...

hi Jen, salam kenal

salute buat kamu yang berani menulis ini, ini bkn mencari mslh tapi mengajak kita semua merenung.
selama ada punya-mu dan punya-ku pasti selalu sekat antara kita. agama berasal dari kata A dan GAMA. A berarti tidak dan GAMA=kacau,jadi agama berarti tidak kacau. melihat kondisi sekarang apa Agama adalah 'Agama'?

selama kita terlalu ekstrem maka Agama tidak akan menjadi 'Agama'.
mengutip perkataan lao zi: " orang yang mengenal dao(kebenaran) tidak membicarakannya, orang yang tidak mengenal dao membicarakannya".
jika dao=Tuhan maka...

semoga kita sebuah bisa merenung, dan semoga tidak ada lagi aksi brutal, kekerasan, bom di Indonesia. selama kita tidak bisa memahami agama dengan benar maka agama bukanlah 'agama'

peace

Jenny Jusuf said...

Ikan_ikan:

Saya pernah diajar, agama adalah usaha manusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Barangkali kalau kita bisa terhubung dengan-Nya secara langsung, sekat-sekat itu bisa dileburkan. :-)

blueismycolour said...

topic yg sangat berani..
ada sebuah cerita tentang seorang ank kecil yg membuat sy merinding.

begini kira2 cerita na:
anak kecil ini sdg berada di final sbh pertandingan. Sblm pertandingan mobil2an berlangsung,dy melipat kedua tangannya n berdoa.
Lalu ternyata si anak keluar sbg pemenang.
MC berkata, kamu pasti meminta kemenangan dlm doamu y?

lalu si anak menjwab..
hmmm.. tidak! Rasanya tidak adil jika saya berdoa agar saya menang, yg berarti mendoakn org lain kalah.
Saya hy memnita kepada Tuhan, spy saya kuat utk tdk menangis seandainya saya kalah.

Petikan doa si anak tersebut sell membuat saya bercermin ttg doa yg selama ini sy ajukan!
hahaha...

ezra said...

witts... cadas ni.. hehe..
tp iya jg c. kalo menurut saya menonton "kingdom pf heaven" lebih dapat mempertebal iman saya daripada mengikuti kegiatan keagamaan.
;)

btw, word verification: calin
calin kundang.. anak durhaka
ahahaha..

Christnadi said...

Jadi teringat ama JJ yang dulu pernah mengeluarkan pernyataan "Ada kalanya kita menemukan jawaban saat berhenti bertanya" di salah satu majalah Kristen...

Jenny Jusuf said...

Christnadi: Silakan baca ulang artikel yang saya tulis di majalah tersebut. Kalau kamu cermati, JENIS PERTANYAAN yang saya maksudkan dalam artikel itu dan dalam entri ini adalah dua hal yang samasekali berbeda.