Thursday, January 13, 2011

Cerita Gadis

Gadis duduk di sudut tempat tidur, bergelung serupa bola. Di sekitarnya, bola-bola putih tersebar di atas kasur, bantal, lantai.

Gadis mengambil dua lembar tisu sekaligus dan membersit cairan dari hidungnya. Kepalanya pening dan ia baru sadar, sedari pagi perutnya belum terisi makanan. Hanya beberapa butir cokelat warna-warni yang kemarin dibelinya di toko kecil serba ada. Namun ia tak peduli.

Kalender di sisi meja rias penuh coretan merah. Kalender yang nyaris disobek-sobeknya namun urung mengingat akhir tahun masih lama dan ia tak punya kalender cadangan. Kalender tempat ia menghitung bulan, minggu, hari demi hari, menuju sebuah tanggal keramat.

Ulang tahunnya.

Sekaligus tanggal perjumpaannya dengan Lelaki.

Pria yang telah mengisi hidupnya satu tahun terakhir. Yang sudah ratusan kali menjadi alasannya menangis dan membenci hidup. Pria yang dicintainya setengah mati, yang meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Pria yang berjanji menghadiahinya makan malam sebagai peringatan satu tahun perjumpaan mereka. Pria yang menghilang sebulan sebelum tanggal itu tiba, lenyap seperti direnggut angin, membawa hatinya, menyerpih jiwanya.



Berhari-hari, Gadis bagaikan lumpuh. Teman-temannya mulai menyadari perbedaan pada dirinya.

“Kamu kurus sekali sekarang, Dis?”

“Ah, masa sih?” Gadis menjawab ceria, berharap mereka tak menyadari redup matanya. Tak semua orang perlu tahu.

Hari berlalu lambat.

Gadis tak lagi bisa membedakan kekuatan yang membuatnya mampu bangun setiap pagi dan menjelang hari dengan senyum—penyangkalan, perih yang ditutup-tutupi, atau tanda kesiapan bahwa ia bisa meneruskan hidupnya tanpa dibayang-bayangi Lelaki?

Jika itu tanda, mengapa air matanya masih turun setiap malam? Mengapa perih membuatnya menghabiskan lagi setengah pak tisu di tempat tidur, bergelung seperti anak kesakitan dan membuat amarahnya bergolak hingga nyaris dilemparnya benda-benda ke dinding?



Nada dering yang tak asing menggugah kesadarannya. Nada dering itu dipasang khusus untuk orang-orang terdekat—keluarga, sahabat dan siapa lagi kalau bukan Lelaki.

Jantungnya berdetak cepat.

Mungkinkah itu Lelaki?

Mungkinkah nuraninya tergugah?

Mungkinkah ia menelepon untuk mengucapkan maaf, atau sekadar menyapa?

Sigap, Gadis meraih benda mungil seukuran tak lebih dari telapak tangan itu.

Di seberang sana terdengar isak tangis.

Jantungnya bagai membeku.

Isak tangis itu semakin keras. Gadis menggenggam telepon dengan hati tak karuan.

Sahabatnya, seorang perempuan, baru saja kehilangan bayinya. Sepuluh menit lalu dokter meninggalkan kamar rumah sakit tempatnya berbaring dengan sebuah vonis: bayi mungil mereka tak lagi punya denyut nadi. Lilitan tali pusar di lehernya telah mengambil nyawanya.

Delapan bulan usia janin itu, siap menjenguk dunia, yang harus pergi hanya beberapa hari sebelum ulang tahun ibunya. Hadiah paling berharga yang sudah dinanti-nantikan itu kini harus direlakan, entah bagaimana caranya.



Gadis tergugu. Tak sepatah kata pun sanggup terucap.

Embun hangat jatuh pelan-pelan. Menyusuri pipinya. Menderas, jatuh ke pangkuan.

Mendadak, perihnya lenyap tak tersisa. Mendadak, yang ia inginkan hanya berlari, secepat kedua kakinya sanggup membawa, atau terbang sekalian kalau bisa, ke sisi sahabatnya untuk memeluk dan menggenggam tangannya.

Mendadak, segala kalut dan sengsaranya tak lagi punya arti.

Mendadak, Gadis tersadar.

Barangkali, air matanya malam ini, adalah cara Semesta memberitahu.

-----

6 comments:

nike said...

sumpah..aku sekali dengan ini..bagaimana kamu menggambarkan masalah yg sebelumnya terasa begitu besar menjadi nggak berarti..kadang kita suka menganggap diri kita 'pusat semesta' di mana hanya kita yg sakit atau terluka..
nice, jen :)

Deby said...

good .. waiting for your other books :-)

'solitudetimes' said...

Nice writing! Memang cerita yg baik itu melibatkan unsur psikologi yg baik juga. :)

Stefany said...

Postingnya bukan 'rada dalem' lagi tapi memang bener-bener dalem, Kak.
Menegur dan menyadarkan sekali.
:-)

Artikel Komputer said...

Ceritanya menarik mbak, sepertinya ada bakat jadi cerpenis ...

Lidya Beauty said...

INFO TOKO KESEHATAN DAN KECANTIKAN BEST SELLER


TOKO KESEHATAN
*************************

OBAT PEMBESAR PENIS

OBAT PENYUBUR SPERMA

OBAT PRIA PERKASA

ANEKA KONDOM


ALATBANTU SEXUALITAS

SOLUSI KLUARGA HARMONIS

OBAT LIBIDO / PERANGSANG WANITA

ALAT TERAPI PEMBESAR DAN PANJANG PENIS


TOKO KECANTIKAN
**************************

PEMUTIH WAJAH

PEMUTIH BADAN

PEMBESAR PAYUDARA

OBAT PELANGSING BADAN

OBATPENGHILANG TATTO

PERAPAT VAGINA / KEPUTIHAN

Tips Dan Trik Dalam Bercinta
****************************************