Saturday, April 19, 2008

The Dreamers

“Adududuh, panasnyaaa!”

Amira menoleh sekilas kepada Erin yang sibuk menaungi wajah dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri sibuk mengipasi tengkuk dengan selembar brosur les Inggris yang dilipat dua. Tindakan yang sia-sia karena matahari siang itu memang nggak main-main gaharnya.

Di samping Erin, Katya juga sibuk menurunkan suhu tubuh dengan gerakan yang tidak kalah demonstratif, membuat Amira geleng-geleng geli.

“Duh, gue berasa bau,” keluh Katya. Kaus olahraganya yang bersimbah keringat tampak lengket. Bagian depannya kotor oleh bola basket yang dipeluknya.

“Bentar lagi juga bisa pulang, terus mandi,” timpal Amira. “Tinggal 1 pelajaran lagi.”

“Kenapa sih mereka nggak bisa pake otak dikit?” cela Erin, kali ini ditujukan pada tim guru penyusun jadwal pelajaran. “Kenapa juga jam olahraga gak ditaruh pas deket-deket pulang sekalian, biar kita bisa langsung cabut? Konyol banget kalo kayak gini, udah bau-keringetan masih harus belajar Sejarah!”

Amira menyetujui celaan itu. Emang keterlaluan, sih. Bayangin, jam setengah duabelas siang, dengan tubuh penuh keringat dan bau matahari (belum lagi kalau ada yang lupa pakai deodoran... iiih!), perut lapar dan capek, masih harus ngikutin pelajaran Sejarah yang amit-amit nyebelinnya.

Untung, guru olahraga mereka siang ini cukup pengertian dengan membubarkan murid-muridnya 15 menit sebelum pelajaran berakhir, sekadar memberi mereka waktu untuk mendinginkan badan dan ganti baju.

Mereka juga diizinkan untuk keluar dari area sekolah dan membeli jajanan yang tidak tersedia di kantin -seperti es kelapa muda dan siomay- asalkan tidak terlambat masuk kelas. Pak Sugiri –si guru olahraga—sudah mewanti-wanti dengan ancaman squad jump 100 kali jika ada murid yang nekat cabut dan tidak kembali ke kelas.

Dan di situlah mereka bertiga nyangkut – di tukang minuman dingin yang menjual berbagai softdrink dan jus, membersihkan gelas masing-masing dari es kelapa muda. Minum dengan kecepatan tinggi, karena setelah ini mereka masih harus ganti baju.

“Balik, yuk,” ucap Amira. “Ntar nggak keburu gantinya, lho.”

Belum habis kalimatnya terucap, 2 orang cowok berpostur tinggi-besar dan berkaus kutung lusuh nongol di samping gerobak jualan si tukang es.

“Kacang ijo satu,” ucap salah satu dari mereka. Erin melirik sekilas. Lengan atas cowok itu dihiasi tato ular berwarna hijau-merah. Rambutnya yang semi-gondrong tampak lengket dan berminyak. Lagaknya sejuta banget, petantang-petenteng. Temannya, yang memakai 3 anting di telinga kiri dan rantai perak di celana, sebelas-dua belas gayanya.

“Eh, ada nona-nona cantik,” siul si cowok ketika menyadari kehadiran mereka bertiga.

Sambil membayar minuman mereka, Katya melirik Amira. Wajah Amira berubah tidak nyaman, sementara Erin santai saja menghabiskan sisa buah kelapa di gelasnya.

“Cepetan, Rin,” desak Amira. Erin menurut dan meletakkan gelasnya.

“Eh, kok udahan? Buru-buru amat,” sergah si cowok bertato. Temannya cengengesan di sampingnya. “Temenin kita dong!”

Refleks, Amira menggamit lengan sahabat-sahabatnya, mengajak pergi. Gestur itu ditangkap oleh si cowok yang kemudian berjalan maju dan mem-blok langkah mereka.

Dengan cepat Katya melirik si tukang minuman, minta bantuan. Laki-laki itu langsung buang muka, pura-pura sibuk meracik es kacang hijau.

“Permisi,” Erin berkata dingin. “Kita mau balik ke sekolah.”

Teman si cowok bertato ikut melangkah maju. “Anak Bina Mulia?” ia meneliti postur Erin dan teman-temannya. Ditatapi begitu, Amira kontan mengkeret, risih. Ia yang cuma memakai kaus olahraga dan celana pendek sepaha tiba-tiba merasa salah kostum banget.

“Sekolahnya orang kaya,” komentarnya lagi. “Yang anak-anaknya pada belagu.”

Erin berjalan memutar, namun langkahnya lagi-lagi diblok oleh si cowok bertato.

“Cantik juga lu,” cetus cowok itu dengan tampang mupeng, yang bikin Erin tergoda menaboknya. “Seksi, lagi. Walo rada bau keringet.”

“Tolong minggir,” kali ini Katya bersuara. “Gue dan temen-temen gue udah telat masuk.”

Si cowok beranting bersiul, melecehkan. “Sapa suruh maen jauh-jauh.”

“Lo mau duit?” tanya Erin, tapi bukan dengan gestur ketakutan. Malah sebaliknya, menantang.

Amira merasa telapak tangannya berkeringat. Duh, Erin, Katya... udah dong jangan ditantangin. Kasih aja apa yang mereka mau, biar bisa cepetan pergi...

Angka di jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11:20. Bentar lagi mereka nggak nongol di kelas, alamat squad jump 100 kali deh!

Si cowok bertato menggeleng-geleng sambil nyengir. “Duit? Lu kira gua mau duit lu, hah? Dasar cewek kaya belagu...”

Digertak begitu, Erin sama sekali tidak mundur. “Kalo gitu tolong minggir,” ucapnya, kali ini dengan intonasi yang lebih hati-hati, mengingat 2 cowok preman ini bisa saja berbuat yang lebih fatal pada mereka.

Cowok bertato itu tidak menjawab. Ia malah berjalan maju, dan sebelum Erin sempat menghindar, ia mengulurkan tangannya yang besar dan kotor ...dan memegang payudara Erin.

Amira menjerit tertahan, ketakutan setengah mati, sementara Katya sontak melangkah mundur dan Erin mati-matian berusaha menahan diri untuk tidak berteriak.

Ditatapinya cowok itu dengan sorot setajam silet, dan tanpa ragu-ragu Erin meludahi wajahnya.

Si cowok bertato terperanjat. Temannya bersiul lagi, antara kaget dan senang. Katya melirik sadis ke arah cowok beranting yang tampak sangat menikmati scene itu, tapi juga tidak berani berbuat apa-apa. Salah-salah nanti gantian ia yang kena!

“Cewek bangsat,” desis si Tato murka. “Berani lu ngeludahin gue.”

“Tangan lo perlu disekolahin,” balas Erin enteng, “dan tadi itu pelajaran pertama.”

“BERANI LU AMA GUA, HAH?! LU GAK TAU GUA SIAPA?!”

“Erin? Katya?”

Suara itu membuat mereka berenam –termasuk tukang minuman yang dari tadi cuma menonton adegan itu tanpa berani ngapa-ngapain—menoleh.

Pak Sugiri berjalan ke arah mereka, setengah berlari. Ekspresinya campuran antara kaget dan marah, entah karena fakta bahwa 3 muridnya yang ngilang begitu aja dari pelajaran Sejarah ternyata ada di sini, atau karena melihat mereka dikepung oleh 2 preman cap kapak.

Tidak jauh di belakang Pak Sugiri, muncul Parto dan Bahri, satpam sekolah.

Si cowok bertato mendengus kesal, lalu meraih gelas kacang hijaunya dan berjalan pergi, seolah tidak terjadi apa-apa. Temannya mengikuti.

Amira mendesah lega, hampir menangis. Tinggal si tukang minuman yang panik, karena 2 begajulan itu membawa pergi gelas-gelasnya, tanpa bayar pula!

Ajaibnya, Pak Sugiri tidak bertanya apa-apa. Mungkin karena melihat Amira yang mukanya sudah seputih mayat. Digiringnya mereka bertiga kembali ke sekolah, dan –sama sekali di luar dugaan—ia menyuruh mereka istirahat di kantin.

“Gila banget,” gumam Katya sambil menyedot es teh manis.

“Kamu... nggak pa-pa, Rin?” tanya Amira hati-hati.

Erin mengaduk-aduk orange juice-nya, sesaat tampak geram. “Dasar anjing,” makinya pelan. “Otak mesum. Babi goblok.”

Amira menatap sahabatnya, heran. Kalau ia yang mengalami pelecehan kayak gitu, mungkin sekarang ia sudah nangis-nangis nggak karuan, merasa kotor dan helpless. Tapi Erin sama sekali tidak kelihatan terpukul -- ‘cuma’ marah.

“Gue udah pernah ngalamin beginian juga, pas SD,” ucap Erin. “Tapi waktu itu gue gak bisa ngapa-ngapain. Kalo yang tadi, seenggaknya masih sempet ngasih cinderamata,” ia nyengir membayangkan wajah berang si Tato waktu diludahi.

Amira melotot sampai es batu yang dikulumnya nyaris loncat keluar.

“Dan kamu nggak kenapa-napa ngalemin hal kayak gitu?”

“Marah, sih. Abis itu gue ngadu ke nyokap, dan nyokap nerusin perkara itu ke Kepsek sampe si brengsek itu dikeluarin dari sekolah. Puas banget gue,” Erin bercerita santai.

“Kamu nggak stres? Nggak down? Nggak ngerasa hina?” Amira terus mencecar walau ia tahu sebenarnya itu tidak sopan, apalagi sahabatnya baru mengalami hal yang sama -- sekali lagi.

“Ngapain?” Erin merespon balik, sama santainya. Kali ini bahkan sambil membuka sebungkus roti cokelat-keju. “Buat apa juga ngerasa hina, bukan gue yang salah kok.”

“Tapi kan kamu yang jadi korbannya.”

“Justru itu,” ucap Erin sambil mengigit roti. “Gue korban, bukan penjahat. Hina itu kalo ngelakuin sesuatu yang kotor, yang jahat. Ngapain ngerasa hina untuk sesuatu yang bukan salah lo. Mereka aja yang otaknya kotor.”

“Setuju!” timpal Katya. “Sepupu gue juga pernah kayak gitu tuh, padahal dia gak ngapa-ngapain, cuma lagi nunggu bis di pinggir jalan. Dasar orang-orang sinting gak pake otak, gak punya nurani.”

Lagi-lagi mata Amira membulat, shocked.

“Ngerasa kotor, hina dan stres hanya bikin kita ngabisin lebih banyak energi. Ruginya 2 kali lipet,” tandas Erin.

“Tapi... kamu nggak nyesel pernah digituin?” Amira tidak habis pikir. Kalau ia yang ngalamin itu, mungkin seumur-umur ia bakal menyesali diri, kenapa itu bisa terjadi, di mana salahnya, mengapa harus ia yang mengalami, dan seribu pertanyaan lain.

Erin mengerling. “I have better things to do,” ia menjawab keheranan yang terpancar di wajah sahabatnya dengan kalem. “Gue punya mimpi dan cita-cita. Mendingan gue ngabisin energi untuk ngejar mimpi gue daripada nyeselin keadaan dan mikir yang nggak-nggak.”

And what is your dream?” Katya meraih sisa roti di tangan Erin dan memakannya.

Ditodong begitu, Erin malah nyengir.

My dream is... bahwa suatu hari nanti dunia bakal berada dalam genggaman gue.”

“Hah?” lagi-lagi Amira melongo dengan suksesnya.

“Caranya?” Katya –si cuek yang mulutnya setajam silet—bertanya sambil nyengir, dengan ekspresi sedikit menantang.

Erin tersenyum balik. Ia merogoh saku celana olahraganya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat empat. Katya meraih kertas itu dan membacanya, lalu ternganga heran.

No kidding, Rin! Ini kan...”

“Gue berhasil masuk semifinal ‘HighLite! Look’. Doain, ya,” Erin menatap ketiga sahabatnya penuh semangat, sementara Amira merebut kertas itu dari Katya dan membacanya dengan ekspresi yang nggak kalah dodolnya. “Kalo gue jadi model ngetop kan elo-elo juga yang bangga.”

“HEBAAAT!” Katya bersorak dan melebarkan tangan, memeluk erat-erat sahabatnya yang bau keringat.

“Selamat ya, Rin,” Amira berkata tulus, salut banget akan sahabatnya yang punya determinasi kuat dan semangat juang tinggi ini.

Erin tertawa gembira. “Thanks. Gue juga seneng banget. Ini tahap awal pencapaian mimpi gue.”

“Hidup para pemimpi!” Katya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Gue juga, ah, mau berjuang buat ngewujudin mimpi gue bertualang keliling dunia! VENICE, INDIA, NEPAL, HERE I COOOME!”

“Untuk para pemimpi,” Katya mengangkat orange juice-nya yang tinggal seperempat. “Semoga mimpi kita jadi kenyataan!”

Mereka bersorak heboh sampai Ibu Kantin melongok keheranan.

“Kalo elo, mimpi lo apa, Mir?” tanya Erin setelah mereka menghabiskan minuman masing-masing.

Mimpi aku...?

Amira berpikir-pikir. Sejenak kemudian ia tersenyum lebar, sangat yakin. “Jadi penulis besar kayak Dewi Lestari dan Seno Gumira Ajidarma!”

5 comments:

rina said...

Jen, ceritanya bagus. Sepertinya aku pernah baca deh, hanya saja yang dulu itu ialah kisah nyata di postingan lama kamu, tentang pelecehan seksual. Kadang sebal ya, sebagai mahluk lebih lemah sering terkena. Semoga Tuhan melindungi kita, dan orang terkasih di sekitar kita senantiasa, amin. Sedang bikin proyek apa nih?

Jenny Jusuf said...

Hai Rin ;-) sekarang lagi nulis2 novel, sebangsa chicklit gitu deh, hehehe.. sambil ngerevisi draft lama dari jaman baheula ;-) Rina apa kabar?

MACCHIATO said...

«squad jump »

istilah yg bener err... squat jump.

allo jennyjusuf, sori kalo diriku sok tau. maap seribu maap.

Jenny Jusuf said...

Makasiiih ;-D BTW, mau jadi editor saya gak? Hehehe ;-)

nita said...

keren, jen :)