Saturday, April 12, 2008

Zebra, Jajan dan Sebuah Pelajaran

Iya, jajan.

Bukan sekali-dua kali saya dibilang ‘perut naga’, lantaran kebiasaan yang sudah mendarah daging ini. Hidup untuk makan, atau makan untuk hidup? Saya mah nggak pusing dengan pertanyaan itu, karena saya hidup untuk JAJAN. Hehehe.

Jajan itu nikmat, bos. Teman-teman sekantor sudah hafal dengan kebiasaan saya yang sering menyelinap keluar pada jam kerja *uuups* untuk mampir ke toko buah di ruko sebelah (yang juga menjual snack dan es krim), sekadar untuk membeli cemilan.

*Eh, by the way, sebagai karyawan yang baik budi, saya tahu diri untuk tidak kabur lebih dari 10 menit, lho. :-D*

Sekali lagi, jajan itu nikmat, Jendral. Nggak tahu ya kalau orang lain, tapi saya sering sekali menyetok makanan di kantor, di rumah, bahkan di tas, saking sukanya jajan.

-----

Kemarin, Alex merengek minta diperlihatkan foto ketika wisata ke Taman Safari. Dia sangat suka gambar binatang, dan selembar foto patung zebra segera menarik perhatiannya. Berulangkali dia memperhatikan foto itu sambil berceloteh sendiri.

Merasa dapat ide jenius, saya mengeluarkan sebungkus Astor.

“Liat nih Auntie punya COKELAT ZEBRA!!!”

(Go on, laugh.. ;-D)

Benar saja. Dalam sekejap dia langsung terfokus pada bungkusan merah itu dengan raut ingin. Awalnya saya ragu, karena anak ini tidak terlalu suka makanan manis. Tapi, setelah mencicipi, ternyata Alex malah minta tambah.

Di ruangan sebelah, Daddy dan Mommy-nya sedang berdiskusi dengan 2 orang tamu. Sejak dulu, Alex selalu diajar: “Kalau Daddy dan Mommy lagi meeting, nggak boleh ganggu.” Jadilah dia bermain hanya ditemani Ncus dan teddy bear.

Ketika sedang mengunyah Astor ketiga, tiba-tiba Mommy menjenguk dari balik pintu. Spontan si kecil melonjak girang dan menghambur ke pelukannya.

“Awek mamam zebwa!” lapornya dengan mata berbinar-binar. Tangan kanannya terulur bangga, memamerkan ‘cokelat zebra’.

Sebatang Astor berpindah ke mulut Mommy. Alex memang suka memberi dan tidak pelit (walaupun mood-nya sangat menentukan, hihihi). Tidak lama kemudian, sang Mommy kembali meeting bersama tamu-tamunya.

Astor keempat kini sudah di tangan, tapi Alex tidak mau melahapnya.

“Buat Daddy,” katanya. Dan batangan cokelat bergaris-garis itu tetap digenggam, sama sekali tidak dimakan.

Kami bermain lagi, tapi gerakan Alex tidak leluasa karena tangannya terus memegang Astor. Sesekali si kecil berlari ke luar untuk mengintip Mommy dan Daddy, yang terus berbincang serius. Lalu dia kembali meneruskan permainan dengan Astor di genggaman.

“Buat Daddy,” ulangnya. Dia bahkan tidak mau menitipkannya pada Ncus.

“Alex makan aja,” saya cengar-cengir geli. “Nanti Auntie kasih yang baru untuk Daddy, kalau meeting-nya udah kelar.”

“Ga mau,” tolak Alex. “Buat Daddy.”

Berulangkali dia melirik makanan itu, tapi tidak digigitnya. Saya dan si Ncus saling berpandangan. Kira-kira tahan berapa lama?

Alex terus saja bermain. Tangan kanannya yang menggenggam Astor tidak bisa digunakan, tapi dia tidak peduli. Semua dilakukan dengan tangan kiri. Justru saya dan si Ncus yang geregetan melihat tingkahnya. Ribet bo.

“Alex makan dulu aja itu Astor-nya, biar nggak susah mainnya,” bujuk Ncus.

Alex menggeleng. “Buat Daddy,” katanya kekeuh. Dia kembali beranjak ke ruang sebelah, mengintip Daddy yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai meeting, dan bermain lagi dengan satu tangan.

Meeting itu selesai berjam-jam kemudian, saat Alex sudah berganti baju tidur dan siap terbang ke pulau mimpi. Dia sudah lupa pada Astor-nya. Makanan itu sudah tidak karuan rupanya, karena Astor cepat melempem jika terlalu lama terpapar udara.

Daddy tidak jadi mendapat cokelat zebra, tapi matanya berbinar ketika diberitahu bahwa bocah semata wayangnya rela tidak makan Astor demi membaginya dengan sang ayah. Sebagai ganti Astor yang tidak jadi diberikan, Alex mendapat pelukan dan ciuman sayang dari Daddy.

:-)

Hari itu saya kembali belajar, bahwa kasih sayang bisa mengalahkan rasa egois dan keinginan yang berpusat pada diri sendiri. Menginginkan sesuatu untuk diri sendiri bukan hal yang salah, namun keinginan itu menjadi lebih indah bila dibagi dengan orang yang dicintai. Memberi –bahkan berkorban—menjadi tidak sulit untuk dilakukan bila dilandasi dengan hati yang penuh cinta. Alex telah membuktikan itu dengan caranya sendiri.

Ah, Alex. Kemarin saya belajar dari seorang remaja. Sekarang saya belajar dari bocah berumur 2 tahun.

Tapi, bukankah kehidupan memang sebuah proses belajar? ;-)

3 comments:

gadisbintang said...

:)
benar ya, Tuhan berbicara dengan berbagai cara. dan lewat berbagai medium. ;)

Jenny Jusuf said...

Tulll! ;-)

Anonymous said...

Halo Mba, aku Ica,
Aku mau taya dong dimana dapetin cokelat zebra! ya ampuunn... aku cari2 gak nemu2.
mohon informasinya ya...
e-mail aja ke aesthetica.adityaputri@feminagroup.com
makasi banget mba...