Monday, February 9, 2009

Bertolak ke Mendut

Saya tidak pernah tahu secara spesifik apa yang membuat saya menamai anak pertama saya Vajra. Sebelum kata itu muncul dan menimbulkan kesan mendalam, saya sudah punya beberapa alternatif judul, antara lain ‘Fireworks’ dan ‘2016’. Keduanya adalah judul cerpen yang terdapat di dalam buku, yang kalau dipikir-pikir, sebenarnya lebih pas dan ‘gaul’ (baca: menjual) ketimbang Vajra.

Vajra saya temukan dalam salah satu entri di blog ibu ini, kurang lebih dua tahun yang lalu. Saya rajin membaca blog tersebut karena menyukai karya-karya beliau dalam Filosofi Kopi, kendati setiap kali menemukan entri bermuatan spiritual saya hanya sanggup mencerna separuh-separuh, dan sisanya membatin, “Opo tho, ‘ki?”

Lepas dari ceteknya pengetahuan saya tentang meditasi, spiritualitas dan segala macamnya, Vajra yang dituliskan lengkap dengan maknanya berhasil memikat saya, sampai kata itu terekam berhari-hari di otak. Akhirnya, saya menggunakannya sebagai judul dan bersiap-siap seandainya ditolak penerbit, atau diganti judul lain. Ternyata, naskah tersebut diterima, sejudul-judulnya, dan setahun kemudian kumpulan cerpen saya terbit.

Saya, yang waktu itu sudah mulai tertarik pada hal-hal spiritual (spiritual ya, bukan klenik), lantas nekat mengirim e-mail kepada ibu ini untuk bertanya tentang meditasi. Bukan jawaban singkat yang saya terima, melainkan balasan yang cukup panjang ...beserta brosur retreat meditasi intensif selama tiga hari di Mendut, Jawa Tengah.

Ohmaigod.

Saya masih ingat desir-desir yang timbul di perut ketika menerima e-mail tersebut. Antara kegirangan mendapat balasan dari penulis favorit (serasa balik ke jaman SD waktu surat saya dibalas oleh Bertrand Antolin, meski isinya cuma fotokopian biodata ;-P), bersemangat menyimak penjelasan tentang meditasi, sekaligus jiper berat membaca keterangan di dalam brosur.

Sumpah, buat saya, isi brosur itu sangat menakutkan. Terutama bagian ini: “Selama program meditasi berlangsung, peserta tidak dibenarkan berbicara atau berkomunikasi dengan bahasa isyarat dengan sesama peserta, mem­baca, menulis, melihat arloji/jam, menelepon/menerima telepon, dan sebagainya.

Tiga hari tanpa komunikasi, tidak boleh membaca, menulis, bahkan melirik jam? Bunuh aja saya. Setelah membaca sampai habis, saya langsung menyimpulkan bahwa retreat ini sama sekali tidak cocok untuk saya. Namun saya tetap menyimpan si brosur di komputer, tidak sampai hati mendeletenya. Bo, mau ketemu untuk minta tanda tangan aja susahnya setengah mampus, e-mail dan brosurnya pun jadilah, untuk kenang-kenangan. Brosur tersebut saya simpan rapi dalam sebuah folder, dan tidak pernah saya buka lagi.

Siapa sangka, dua tahun kemudian, saya benar-benar bertemu dengan ibu ini dan menjadi asistennya. Hidup memang mirip komedi. Lucunya, beberapa bulan sebelum perjumpaan pertama kami, saya tergelitik untuk kembali mencari informasi tentang meditasi dan bertanya-tanya pada seorang teman yang mendalaminya. Sayang, informasi yang saya dapatkan tidak detil, mungkin karena ia juga baru belajar. Saya mencoba menjelajah dunia maya, tapi malah jadi ilfeel melihat banyaknya informasi yang simpang siur. Saya pun menjajal meditasi dengan mengandalkan feeling, yang hasilnya kira-kira sebanding dengan belajar bikin kue tanpa resep. Acak-acakan, dan saya lebih sering ketiduran ketimbang bermeditasi – tapi setidaknya saya sudah mencoba.

Lalu, setelah bertemu dengan ibu ini dan (calon) suaminya, saya mulai rajin mengikuti meditasi yang diadakan seminggu sekali oleh institusi ini. Saya seperti anak kecil bertemu mainan baru; dengan penuh semangat mengeksplorasi berbagai teknik meditasi yang selalu berbeda-beda setiap minggu. Kami menyebut sesi meditasi mingguan ini sebagai ‘Arisan Rabu’, atau ‘Sekte Rabu’.

Sekian bulan mendalami meditasi (sekali seminggu selama dua jam, disertai latihan-latihan sederhana di rumah), saya mulai merasakan ‘kebutuhan’ untuk mengikuti retreat meditasi intensif. Kebutuhan apa tepatnya, saya tidak tahu. Saya hanya merasa perlu pergi. Meskipun masih jiper lantaran peristiwa traumatis dua tahun silam *superlebay*, saya mulai berani membayangkan, seperti apa kira-kira rasanya berada di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, tanpa sarana komunikasi, tanpa menjalankan aktivitas lain – hanya bermeditasi selama berhari-hari.

Pada saat yang sama, bapak ini mengumumkan akan mengadakan retreat meditasi intensif di Ubud selama empat hari. Selain excited karena belum pernah mengunjungi Pulau Dewata, saya langsung merasa ini waktu yang paling ‘pas’ untuk saya.

*Okay, jangan ada yang berani bilang: “Hah, belum pernah ke Bali?! Kasian amat!” ;-D*

Namun, setelah mengkalkulasi, saya mendapati bahwa retreat di Ubud bukan pilihan yang tepat, kendati waktunya pas. Tabungan saya memang mencukupi, tapi saya tidak berani mengambil resiko jadi fakir miskin sepulangnya dari sana. Jadilah saya memutar otak dengan sia-sia dan berkhayal, seandainya ada retreat meditasi intensif di tempat yang lebih bersahabat, dan perginya nggak perlu pakai pesawat. Saya tidak keberatan dengan akomodasi ala hostel dan makanan seadanya, selama ramah kantong. Benar-benar mentalitas backpacker.

Pucuk dicinta, ulam tiba (ada yang bisa memberitahu kenapa harus ‘pucuk’ dan ‘ulam’?). Suatu pagi, saya bangun dengan malas-malasan, menyalakan komputer, dan mengakses internet. Sebuah e-mail nangkring dengan manisnya di baris teratas kotak masuk. E-mail tersebut berasal dari milis Meditasi Mengenal Diri yang saya ikuti, berisi pengumuman tentang retreat meditasi intensif yang akan diadakan selama tiga hari di Mendut, tanggal enam sampai delapan Februari. Ya, retreat yang sama, yang brosurnya pernah saya terima dua tahun lalu.

Saya membaca pengumuman singkat itu berkali-kali sambil melongo. Pertama, karena selama ini saya telah menjadi anggota milis tersebut tanpa ngeh bahwa brosur lawas yang tidak pernah mau saya buka itu berasal dari institusi yang sama. Kemana saja saya selama ini? Planet Mars? Kedua, karena keinginan saya benar-benar menjadi kenyataan. Timing yang tepat, jarak tempuh yang bersahabat, perginya nggak perlu pakai pesawat, dan sudah pasti ramah kantong karena diadakan di sebuah vihara.

*Nooow, jangan ada yang tanya, “Vihara?! Emang agama lo sekarang apa, sih?” Tolong jauhkan dulu yang satu itu. Saya tidak berminat pindah agama, lagipula retreat meditasi ini bersifat lintas agama. Save the ‘nyinyir’ tone for yourself, please.*

Siang itu juga, saya menelepon ibu ini. Apalagi kalau bukan minta ijin ‘cuti’, karena meski pekerjaan saya sekarang jauh lebih fleksibel dari segi waktu, retreat meditasi selama tiga hari akan mengharuskan saya berpisah dari segala bentuk alat komunikasi seperti handphone, komputer, internet, dan e-mail, sedangkan keempat hal itu mutlak saya perlukan untuk bekerja.

Saya mendapat ijin dengan sangat mudah dan cepat. Seriously, ini bukan menjilat karena saya tahu ia akan membaca entri ini, ya. Moral of the story: carilah pekerjaan yang boss-nya punya minat serupa dengan kita dan tidak saklek tentang jam kerja. Dijamin minta cutinya jauh lebih gampang.

*Dan semua orang beramai-ramai mengejar saya sambil bawa batu dan teriak, “NGOMONG MAH ENAK, NYEEET!”*

:-D

Setelah mendapatkan tiket, tanggal lima sore saya berangkat ke Jawa dengan bis. Tiba pukul setengah enam pagi di Jombor, Yogyakarta, dan langsung mencari warnet duapuluh empat jam untuk facebook-ing dan yahoo-ing beristirahat sambil menunggu warung pinggir jalan dibuka.

Saya hanya menghabiskan beberapa jam di Yogya. Pukul setengah sebelas, saya berangkat ke Vihara Mendut dan sukses menjadi peserta yang datang paling awal. Saya hanya bengong melihat bangsal yang sudah disekat menjadi bilik-bilik kecil –tempat para peserta tidur— kosong tanpa satu orang pun, karena awalnya saya mengira akan langsung berjumpa dengan peserta-peserta lain.

Setelah mandi dan mengisi perut, saya berkeliling Vihara, mengitari apa saja yang menarik perhatian sampai kaki lelah. Akhirnya, saya memutuskan untuk beristirahat. Ketika memasuki bilik dan merebahkan tubuh di matras berseprai cokelat polos, mendadak saya merasakan kedamaian yang menenangkan. Atmosfir vihara itu memang sangat nyaman.

Saya tidak mudah tidur di tempat baru, selelah apa pun tubuh saya. Namun, di sana, saya segera terlelap beberapa menit setelah kepala menyentuh bantal. Saya masih ingat, di saat-saat terakhir menjelang ‘take-off’, saya menaruh kedua telapak tangan di atas perut dan tersenyum lebar sambil memejamkan mata. Agak mirip orang sinting memang, tapi rasanya saya mulai tahu, untuk apa saya berada di sini.


(Bersambung ke episode selanjutnya minggu depan ‘Merunut Langkah di Mendut’)

7 comments:

Andri Journal said...

Hampir tiap hari aku jg meditasi.Dimulai dg membaca doa di malam hari dan merokok di pagi harinya..hwehe.

Galuh Riyadi said...

JenJus is Baaaaaack....!!!!!

Welcome home, Teman...... =)

Ditunggu lanjutannya.. Dan yak, benar... Selama lo pergi, hafalan gw meningkat drastis..!! ;p

vendy said...

ngomong2 soal batu, gw jadi pengen ikutan nimpuk =))

ngomong2 soal Bali........ *ga jadi ah.. soalnya bukan cmn loe doang yg blom pernah ke Bali*

but seriously, loe jadi bikin gw pengen nyoba atmosfir sana =)

Jenny Jusuf said...

Andri: ;-D

Galuh: kok gw punya feeling kalo ada apa-apa sama kelulusan lo, gw bakal disamber geledek yak? ihihihi

Vendy: it's REALLY good. Lo kudu nyoba Ven. Super lah, kalo kata Mario Teguh

Galuh Riyadi said...

Ahahahaha... Iya Jen.... Emang bener, lo bikin ngga konsen!! >=/ Tapi bukan berarti SMS unpenting kita, diperpanjang lohhh cutinyaaa.... ;p

Btw, belom pernah ke Bali? Samaaaa..... Gw juga belom pernah (taun ini...) Hehehe.. Padang dulu deeeyh... Bukit Tinggi.... Oks.. Oks??

oksigenhitam said...

nama anak kita sama "vajra" dan mungkin banyak juga orang yang menanyakan artinya ya bu ? salam kenal. saya juga suka mendalami masalah spiritual, dan kebetulan beberapa kali dalam hidup ini pernah mengalami moment "satori" juga, ada yang bertahan hingga tiga bulan... nice blog..

Jenny Jusuf said...

oksigenhitam: salam kenal juga. Senang bisa bertemu di sini. Barangkali kapan2 boleh di-share momen satorinya :-)