Wednesday, February 4, 2009

Kids Forever

“MAU JADI KECIL!”

Itu jawaban yang diserukan putra kawan saya yang baru berumur empat tahun, ketika ditanya oleh ayah-ibunya, mau jadi apa kalau sudah besar nanti.

Lucu, iya. Polos, iya. Tapi, bagi saya, jawaban itu jauh lebih 'dalam' dari sekadar keluguan bocah balita.

Buktinya? Coba, ngacung, siapa yang umurnya sudah di atas seperempat abad, dan belum pernah sekaliii saja merasa ingin balik ke masa kanak-kanak lagi? Siapa yang pernah melihat anak kecil yang asyik bermain dan tertawa sepuasnya, dan tidak sedikit pun berkhayal enaknya jadi dia?

Kalau ada yang belum pernah merasa begitu, selamat, Anda orang paling berbahagia di dunia. Saya sendiri sudah berkali-kali menelan ludah, iri pada putra kawan saya yang baru empat tahun itu. Sering berkhayal, seandainya saya bisa mencicipi kehidupan seperti dia, sehari saja. Bisa bergoyang dangdut sambil gendangan tanpa takut dicela orang, bisa menari-nari gila sambil berloncatan sepuasnya (sekarang juga masih bisa, tapi harus di ruangan tertutup yang jauh dari keramaian ;-D), bisa menikmati hidup seutuh-utuhnya, lepas tanpa beban, tanpa keharusan memikirkan hari esok, bebas dari berbagai pengkondisian yang diciptakan lingkungan sekitar, dan sebagainya.

*By the way, tentang terbebas dari pengkondisian, memang harus diakui tidak semua anak bisa mendapatkan ‘kemewahan’ ini, karena beberapa anak kecil yang saya kenal malah sudah hidup dalam berbagai disiplin sejak usia satu tahun. Untungnya, kawan saya tipikal orang tua yang cukup tolerir; bisa mendidik anak, tapi tidak terlalu ribet menerapkan segala jenis aturan.*

Kebebasan adalah salah satu syarat kebahagiaan, itu kalimat yang saya dengar beberapa bulan lalu. Saya lupa persisnya, tapi intinya kira-kira begitu. Barangkali itu juga yang membuat saya sangat suka memandangi mata seorang bocah. Mata yang bahagia. Mata yang penuh kebebasan, meski lambat laun pengkondisian yang diberikan lingkungan sekitar dapat meredupkan binarnya. Begitu sukanya saya pada mata kanak-kanak, setiap kali melihat anak kecil yang matanya berbinar-binar, saya sering berbisik dalam hati, “Nggak usah cepat-cepat gede ya, Nak...”

:-)

Saya sering berkhayal, alangkah menyenangkan jika waktu bisa diputar kembali, sebentaaar saja, supaya saya bisa kembali menjadi kanak-kanak. Atau, alangkah enaknya jika seseorang bisa menjadi anak-anak selamanya. Seperti Peter Pan. Saya tidak butuh debu peri, dan saya tidak perlu kemampuan terbang atau bertarung dengan bajak laut. Jadi anak-anak selamanya saja sudah cukup.

Khayalan itu lantas membuat saya merunut ke belakang: kapan ya terakhir kali saya bertingkah seperti anak-anak? ‘Bertingkah’ di sini maksudnya bukan merengek-rengek manja, ngambekan, atau mewek jerit-jerit teu puguh lho, ya, melainkan bebas menjadi diri sendiri, apa adanya, murni, tanpa prasangka, serta menikmati kehidupan di saat ini sepenuhnya – tanpa separuh benak menggantung di masa lalu, sebagian di masa kini, dan sisanya di masa depan.

Kapan terakhir kali saya bersenang-senang dan bergembira layaknya seorang anak kecil? Mungkin belasan tahun yang lalu, atau duapuluh tahun yang lalu.

Seingat saya, sejak duduk di bangku SD, saya selalu bercita-cita ingin cepat besar. Memasuki usia belasan, saya ingin cepat-cepat merasakan berumur tujuhbelas dan punya KTP sendiri, serta menyandang predikat ‘dewasa’ (padahal faktanya, setelah betul-betul berumur tujuhbelas, kelakuan ya tetap sama aja). Lewat usia tujuhbelas, saya ingin cepat-cepat berulangtahun keduapuluh. Ingin tahu bagaimana rasanya ‘berkepala dua’, dan titel ‘puluh’ di belakang angka somehow memiliki arti yang sangat besar buat saya waktu itu. Semacam gerbang menuju kedewasaan, dimana saya akan resmi menjadi perempuan matang (telooor, kali) dan bukan lagi remaja tanggung nan culun. Lalu, saya ingin cepat-cepat bekerja, ingin tahu bagaimana rasanya mencari uang dan membiayai hidup sendiri.

Time flies. Sekarang, semua sudah tercapai. Saya sudah berusia seperempat abad, sudah bekerja, dan sudah bisa hidup mandiri (meskipun tentyunya tidak pernah menolak rezeki dari orang tua, kalau ada. Hehehe!). Segala yang pernah saya lamunkan sudah terpenuhi. Saya tidak pernah lagi berkhayal, “Ingin cepat-cepat jadi…”. Kepikiran aja nggak pernah. Saya menjalani hari demi hari apa adanya. Ikut bergulir bersama perputaran roda hidup, mengalir bersama waktu. Sampai saya tiba di detik ini.

Mendadak, saya sadar, saya sangat rindu menjadi kanak-kanak lagi. Kangen masa-masa ‘golden age’ itu. Reality bites. Sekian puluh tahun dijalani hanya untuk bermimpi kembali ke masa kecil; mengulang saat-saat bahagia dimana hidup penuh dengan tawa riang tanpa perlu banyak berpikir.

Saya ingat pernah melontarkan komentar nyelekit pada seorang kawan yang sangat suka bercanda, iseng, dan hobi joget-joget gila: “Grow up!”, karena sebal dengan kelakuannya yang menurut saya (waktu itu) nggak banget, padahal usianya sudah di atas tigapuluh. Sekarang, saya sendiri ingin kembali ke masa kecil. Ah, well... satu lagi pelajaran untuk tidak terlalu cepat menjatuhkan penilaian. ;-)

Saya rindu masa kanak-kanak saya. Saya bisa memahami perasaan Peter Pan – the boy who refuses to grow up. Bukan karena hidup terlalu berat untuk dijalani, karena saya pun mensyukuri kehidupan saya sekarang, apa adanya. Bukan karena malas menjalani tanggung jawab sebagai orang dewasa, karena saya pun mensyukuri usia yang semakin bertambah dan kepercayaan yang muncul daripadanya kecuali kalau sedang didonder supaya cepat dapat jodoh. Melainkan karena saya rindu masa-masa dimana dunia terlihat begitu cerah ceria dan menakjubkan, dan saya tidak perlu memikirkan apa pun tentang kemarin dan hari esok, karena ‘tugas’ saya hanya ‘hidup’.

:-)

Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan.

Kalimat ini pernah sangat populer beberapa tahun lalu, dan saya termasuk salah satu yang mengamininya. Tapi, sekarang saya berubah pikiran.

Meski terdengar konyol bagi beberapa orang, saya ingin menua tanpa perlu jadi dewasa. Saya tidak ingin memilih untuk jadi dewasa.

Saya ingin memiliki kesederhanaan anak kecil yang melihat dunia sebagai wahana bermain raksasa dan menikmati setiap detik di dalamnya sepenuh hati. Tanpa prasangka. Tanpa pretensi. Tanpa banyak berpikir. Tanpa penuh pertimbangan. Hanya mengetahui saat ini, hidup di masa kini, dan menyambut apa pun yang terjadi sebagaimana adanya; tanpa menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan...

...seperti putra kawan saya, yang wajahnya selalu bercahaya. Yang matanya selalu berbinar. Yang tawanya selalu lepas. Yang selalu ‘hidup’.

Ah, mendadak saya kangen dia.

Jangan cepat-cepat jadi dewasa ya, Nak...

-----

21 comments:

Galuh Riyadi said...

Kapan terakhir kali gw bertingkah kaya anak kecil??
Humm... Dua hari yang lalu... Gw main kejar2an sama temen gw sambil menari dibawah hujan... Dan bisa dibilang, gw pengen waktu berhenti disitu....

Brokoli sehat said...

nyet, cita-cita gw juga sama dengan anak dalam cerita lu, gw gak mau jadi gede. Jadi anak kecil itu enak, minta apa aja dikabulin, segala-gala dimaklumin. Sejak kecil gw udah ngeliat kalo jadi orang dewasa itu ribet. Seandainya punya pilihan, gw pengen jadi anak kecil terus

Jenny Jusuf said...

Galuh: bilang2 napa? SMS kek, "Jen, gue lagi main ujan, mo ikutan ga?" gitu...

Popi: hhh... lu bikin gw makin pengen balik ke masa itu nyeeet

ezra said...

mommy told me to act my age waktu melihat saya berlari" anjing karena suasana hati sdg bagus.
"well, i am, mom".
hehe...
anak" adalah kebenaran yg telanjang. ga perlu susah payah ingin jadi orang lain

fny_w said...

enaknya jadi anak2 itu bener seperti kata mba jenny
mereka ngga mikirin kemarin atau besok, mereka benar2 menikmati saat ini
ah....pengen terus menggenggam perasaan waktu masih kecil

Andri Journal said...

Jen,orang yg pengin jd anak kecil lg itu tandanya masa kecilnya kurang bahagia.Ya to? :D Aku gak maw jd anak kecil lg soalnya masa kecil sudah kulewati dg sukses. :D :D Tiap fase kehidupan itu harus dinikmati sebaik2nya.Betul tidak? :)

Jenny Jusuf said...

Andri: tidak juga. Bisa juga sebaliknya. Menurut saya, tidak ada rumus yang mutlak dalam hal ini, karena kebahagiaan sifatnya relatif dan sangat mungkin berbeda untuk setiap orang. Sebenarnya, saya justru berpendapat, setiap manusia 'seyogianya' bisa kembali menjadi 'anak kecil' yang bebas dari pengkondisian. Kita tumbuh dewasa untuk kembali menjadi anak-anak :-)

KABASARAN said...

anak-anak bagaikan mata air di hulu sungai ..bening, berbinar, jernih dan belum terkontaminasi apapun sementara orang dewasa adalah hilir sungai yang mengeruh, kotor dan terbebani oleh sampah-sampah kehidupan ....weleh .ngak nyambung ya ?

any way ..renungannya dalem ..inspiring

-maynot- said...

Tapi kalau gw sih rada setuju tuh dengan pendapatnya Andri Journal: nikmatilah setiap tahap perkembangan, karena masa2 itu tidak akan terulang dan ada hal yang menyenangkan di tiap tahapnya :)

Kebahagiaan itu relatif dan sangat mungkin berbeda untuk tiap orang, tapi kerelativan dan keberbedaan itu tetap selalu dalam batas koridor tahap perkembangan :) Contoh ekstrimnya: buat anak kecil, hujan2an sampai sakit itu membahagiakan. Tapi mosok iya atas nama kerelativan dan keberbedaan menjadi sah2 saja jika seseorang meninggalkan meeting untuk bermain hujan2an kayak anak umur 4 thn ;)?

Gw termasuk yang nggak pernah ingin jadi kecil lagi, karena gw menikmati menjadi dewasa - dengan segala hal yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkannya :)

Reza Gunawan said...

Jenjus,

Saya gak ingat apakah sepotong kalimat itu muncul dari percakapan kita. But for me "Kebebasan bukanlah sumber kebahagiaan, namun prasyarat kebahagiaan." Semua yang kita berhasil capai, tidak akan bisa dinikmati dan disyukuri tanpa kebebasan.

Anyway, mungkin metaforanya begini, kalau usia biologis seorang anak, umumnya pasti "be a child", kalau udah dewasa, seringkali "be childish", dan kalau sudah mencapai pencerahan, mereka menjadi "childlike", lain dengan childish.

Childlike, artinya memiliki kebijakan dan pengalaman hidup orang dewasa, dan memelihara kepolosan nir nilai bagaikan jiwa polos seorang anak. Gampang diucap, cuma perlu seumur hidup untuk tiba disana. Saya beruntung, bisa bertemu lebih dari 1 guru dalam hidup saya yang sudah (atau minimal mendekati) titik ini.

Terimakasih untuk inspirasi tulisannya.

Reza

PS: bicara kebebasan, termasuk kebebasan untuk sobek duit, ya gak Maynot? miss you...:)

Galuh Riyadi said...

Ah, urusan sobek duit hendak dimulai lagi nii.... Hahahaha...
Masa kecil gw bahagia kok... Sungguh!! Dan gw juga ngga menyesal karena harus tumbuh, menjadi tua dan (berusaha) berpikir dewasa.... Tapi ada saatnya tiba2 gw rindu sama masa kanak2, bukan karena pengen kembali... Tapi, menjalani hidup tanpa beban, seneng terus, ngga mikir apa dan bisa ikhlas bangun pagi untuk sekolah itu emang ngga ternilai rasanya...
Btw, Jen... Urusan mandi ujan... Gw ngga mau bikin lo iri... Hahahaha.... Cepat pulaaaaaang!!

Jenny Jusuf said...

Bu May: ada yang kangen tuh Jeung! Ahahahaa... senangnya melihat kalian berkumpul lagi

Reza: udah dibetulin. :-) Thanks koreksinya... *daaan, inti dari keseluruhan komen adalah SATU kalimat terakhir, bukan begitchu? ;-D*

Galuh: ntaaaaar!

CURCOL
Gak penting sih. Cuma mau marah aja. Saya lagi di Jawa sekarang, tepatnya Magelang. Edaaaaan, masa mau liat sunrise di Borobudur aja MAHAL bangeeet? TIGA RATUS RIBU bok. Anjrit.

Huuuh.

Andri Journal said...

Otomatis romantis! Setelah jadi lansia nanti kan sifatnya kayak bayi lagi. Liat aja ntar. :D

Galuh Riyadi said...

JenJus.....

Kalo cm mau liat sunrise, di rooftop (gaya bahasa gw) rumah gw ajaa...
Gratis!! Dapet sarapan, kopi, sm free internetan.... cuma belakangan lagi ngga ada, ujan mulu soalnya... hehehe....

Enggar Eka Praptiwi said...

oh ternyata pas lo gw tlp lg di internet itu lg bkin blog ya buk?msh smpet ya g ngntuk?gw itu jg baru tdr mlmnya kok.sibuk,,btw kl kecil trs ga kawin2 dunk??maklum bawaan mo kawin jd gmongnya g jauh dr kawin,,grrrr

Indah said...

Setujuu.. Setujuu.. Setua apapun kita, tetap perlu keep the inner child alive, uhuyy ^o^

Salam kenal yaa, Jenny ;)

Met menikmati sisa hari Minggu ini, semoga menyenangkan :D

Jenny Jusuf said...

Andri: weeew.. lama bener, hihihi

Galuh: siap! tanggal 8?? ;-)

Enggar: iyaaaaa deh, yang mau kawin!

Indah: salam kenal juga, selamat menikmati sepanjang minggu ini :-)

Galuh Riyadi said...

tgl 8?? ada apa di tgl 8?? hahahaha...
86..!! Mari menjadi AGJ di tgl 8.... Huehehehehe

jono said...

mau ngelepas stres lg gak. masì bnyk cucian nie. hehehehe

Ade said...

Jadi inget dulu waktu masih SD pernah kepikiran, ga mau jadi orang dewasa, maunya jadi anak2 terus :-D

ribka said...

hi jenny, setiap tulisan kamu ttg anak2 emeng selalu dalem. i love it. aku suka benget sama anak2 dan karena aku guru anak 3 thn aku selalu dikelilingi oleh dunia mereka 5 kali dalam seminggu.

but, only a little thought to rewind my childhood. i'm just proud to have the chance to show them the world that they need to understand and to keep them growing as their age. not over it or under it:)

everything is beautiful in its time, jen. but i truly know the feelings.