Friday, May 8, 2009

Persatuan dan Kesatuan di Negara Republik Indonesia

Rabu malam, pukul setengah sebelas.

Saya merapatkan tangan di depan dada, melindungi diri dari hawa dingin yang menusuk. Hujan baru saja reda, dan celana jeans saya yang terciprat air belum kering. Saya duduk dengan hati-hati di atas motor yang terus melaju, berjaga-jaga agar tidak ada genangan air yang luput dari pandangan. Jeans saya baru dicuci. Saya tidak rela bercak-bercak kotor itu bertambah lebar.

Motor menikung dengan cepat. Sebentar lagi saya akan sampai di kos-kosan. Saya menyusun rencana di kepala, apa saja yang harus dilakukan setibanya di sarang yang nyaman. Mandi, berberes, menyalakan komputer, mengecek e-mail

Kerumunan orang di depan membuat saya menyipitkan mata, mencoba melihat dengan jelas di sela-sela hembusan angin. Di kiri-kanan jalan, orang-orang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Tidak jauh dari situ, sepeda motor terparkir asal-asalan, dan aparat-aparat keamanan berseragam cokelat mengelilingi mereka.

Saya menghela nafas, sadar apa yang akan saya alami dalam hitungan detik. Saya mengumpat dalam hati karena tidak mengenakan helm. Razia versus Tidak Pakai Helm. Satu ditambah satu sama dengan dua.

Tukang ojek yang saya tumpangi (motornya ya, catet) mengurangi kecepatan sedikit. Sambil mengangguk sopan kepada polisi-polisi tersebut, ia menyerukan semacam salam bernada permisi. Santun dan cukup keras sehingga mereka semua bisa mendengar. Polisi-polisi itu memandang kami sekilas, kemudian membiarkan kami berlalu.

Beberapa meter di depan, kami kembali bertemu polisi. Si tukang ojek mengulangi hal yang sama. Tiga atau empat kali, sampai jalan yang kami lalui benar-benar bebas polisi.

Saya terbengong-bengong dengan jayanya mendapati kami meluncur mulus di jalanan becek itu, sementara di kiri-kanan banyak motor diparkir seenaknya karena para pemiliknya sedang berurusan dengan aparat.

“Kok kita nggak di-stop, Bang?” Seru saya.

“Apa, Neng?” Si tukang ojek berseru balik.

“Kok kita bisa lolos? Nggak ikut di-stop? Padahal saya nggak pakai helm?” Saya memberondong dengan penasaran.

“Kan saya pribumi,” si tukang ojek menjawab kalem.

Saya terdiam.

Rasanya seperti disengat. Pedih.

Kalau pengendara motor yang saya naiki bukan pribumi, apakah kami juga akan dihentikan, disuruh memarkir motor di pinggir jalan, diminta menunjukkan kartu identitas, lantas disuruh membayar sejumlah uang ditilang?

Kalau saya tidak menyembunyikan kepala di balik punggung si tukang ojek, apakah kami akan dihentikan karena wajah saya memperlihatkan sepasang mata yang sipit?

Kalau saja kami tidak berkendara pada pukul setengah sebelas malam, melainkan setengah sebelas siang, apakah kami akan dihentikan karena sinar matahari tidak bisa menyembunyikan warna kulit saya yang terang?

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan yang bersifat homogen. Di rumah, di lingkungan sekitar, di sekolah, saya selalu bertemu orang-orang yang ‘sama’ seperti saya. Begitu pula ketika saya tumbuh dewasa, lulus dari bangku sekolah dan mulai bekerja. Atasan saya, rekan-rekan kerja saya, semua berasal dari suku yang sama dengan saya, dan saya hanya mengenal dua kata pengganti untuk memanggil mereka yang berusia lebih tua: Koko dan Cici.

Kerusuhan Mei 1998 adalah momen yang cukup besar dalam hidup saya, ketika untuk pertama kalinya saya dan keluarga mengalami dampak kebencian hebat yang sudah berakar di negeri tercinta yang semboyannya (konon) mengagung-agungkan persatuan dan kesatuan ini.

Usaha yang dikelola Oom dan Tante saya musnah dalam semalam karena toko mereka dibakar. Bengkel Oom saya yang lain nyaris diserbu massa; untungnya penduduk setempat berbaik hati melindungi mereka hingga kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu berat. Selama berbulan-bulan setelah peristiwa itu, saya tidak pernah keluar rumah tanpa mendapat sedikitnya satu ejekan bernada merendahkan. Pelecehan seksual yang diumbar secara verbal, panggilan-panggilan kasar, berbagai kalimat menyakitkan yang terus mengingatkan betapa bencinya mereka kepada kami –barangkali karena kami dianggap parasit dan tidak layak dibiarkan hidup tenteram— menjadi makanan sehari-hari yang harus ditelan mentah-mentah.

Selama berbulan-bulan, saya dan keluarga hidup dalam gelisah, cemas, dan takut. Saya, yang waktu itu duduk di bangku SMP, mendadak merasa dunia menjadi tempat yang tidak aman lagi. Dan saya tidak tahu harus berlindung kemana.

Rasa takut itu perlahan berubah menjadi kebencian. Rasa cemas itu menjelma menjadi kemarahan. Untungnya, tidak lama berselang saya menghadiri sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani berskala nasional yang mengusung tema persatuan. Di acara yang bertajuk ‘Jadikan Kami Satu’ itu hati saya kembali terbuka. Kebencian bukan jawaban bagi penderitaan umat manusia. Kemarahan tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi. Di sana, saya belajar memberi maaf.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai berjumpa dengan orang-orang yang ‘berbeda’ dengan saya, dan meskipun saya tidak terbiasa, saya belajar menerima dan menghargai mereka apa adanya. Lambat laun, saya bukan hanya mengenal orang-orang ini. Saya berteman dengan mereka. Saya bersahabat dengan mereka.

Orang tua saya mulai terbiasa bertemu dengan kawan-kawan saya yang berkulit lebih gelap. Keluarga saya mulai terbiasa melihat saya membawa (bahkan mengajak menginap) teman yang matanya tidak sesipit saya. Yang tidak mengenal berbagai istilah dalam bahasa Mandarin (saya sendiri tidak bisa berbahasa Mandarin, namun dalam percakapan sehari-hari ada beberapa istilah yang selalu kami gunakan). Yang tidak tahu kenapa orang yang sudah menikah memberikan angpau kepada kerabat yang masih lajang pada hari raya Imlek. Yang tidak paham tradisi, kebiasaan dan adat-istiadat yang dianut saya dan keluarga. Yang memanggil sepupu-sepupu saya yang lebih tua dengan kaku karena lidahnya tidak terbiasa menyebut ‘Koko’ dan ‘Cici’. Yang berbeda dengan kami.

Waktu terus bergulir, dan hidup membawa saya mengalir.

Saya mendapat pekerjaan baru. Kali ini, atasan saya tidak berasal dari suku yang sama dengan saya. Saya memperoleh teman-teman baru, dan mereka tidak sesipit saya. Saya berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kalangan, dan mereka tidak bisa memakai istilah-istilah yang saya gunakan, sama seperti saya tidak memahami kata-kata yang mereka ucapkan dalam bahasa Sunda, Batak, Manado, dan sebagainya. Namun, semua itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk menjalin hubungan baik. Saya tidak pernah menganggap perbedaan tersebut sebagai masalah besar. Saya bahkan bangga. Saya menganggap diri saya ‘kaya’.

Saya belajar memanggil atasan dan teman perempuan yang lebih tua dengan sebutan ‘Mbak’. Saya belajar memanggil kawan pria yang lebih tua dengan sebutan ‘Mas’. Kepada mereka yang bukan orang Jawa, saya memanggil dengan sebutan ‘Teteh’, ‘Kakak’, atau ‘Abang’. Saya bahkan pernah terpeleset menyebut teman saya ‘Mbak’ ketika saya seharusnya memanggilnya ‘Cici’. Saya sudah demikian terbiasa, hingga perbedaan itu rasanya nyaris tak pernah ada.

Sahabat-sahabat terbaik saya adalah pribumi. Ambon. Batak. Jawa. Sunda. Padang. Saya bangga berteman dengan mereka, meski warna kulit mereka tidak seterang kulit saya. Dan mereka mencintai saya apa adanya, meski mata saya tidak selebar mata mereka.

Di kos-kosan tempat saya tinggal, saya adalah satu-satunya penghuni yang bukan pribumi, dan hubungan saya dengan teman-teman sudah demikian akrab – tak ubahnya saudara ketemu gede. Jika beberapa hari saja saya tidak pulang, mereka akan mengirim SMS, menanyakan dimana saya berada dan kapan kembali. Merekalah yang berpesan “Hati-hati di jalan” setiap saya pamit untuk pergi. Merekalah yang membelikan makanan saat saya terkapar sakit. Mereka juga yang mendengarkan keluh-kesah saya dan selalu ada untuk saya, sebagaimana saya ada untuk mereka. Warna kulit kami berbeda, bahasa yang kami pakai berlainan, namun cinta itu sama. Karena cinta memang tidak pernah butuh alasan.

Saya pikir, saya telah melampaui semua batasan itu. Saya telah membangun jembatan di atas jurang perbedaan, dan saya telah menyeberanginya. Saya sampai dengan aman. Saya berhasil. Saya menang. Perbedaan tidak bisa mengalahkan saya. Dan di atas segalanya, persatuan ternyata memang ada. Butir ketiga Pancasila tidak berbohong.

Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Kejadian sederhana di Rabu malam itu memberitahu saya dua hal: pertama, saya harus segera membeli helm. Secepatnya. Kedua, di suatu tempat di negeri ini, saya tetap diperlakukan tidak adil karena warna kulit saya berbeda. Dan di belahan lain negeri ini pula, ada orang-orang yang tidak diterima apa adanya karena mereka yang ‘sejenis’ dengan saya menolak mengakui persamaan derajat di antara kami.

Malam itu, saya sadar.

Kita memang belum merdeka. Kita bahkan belum bersatu. Kita hanya diikat menjadi satu dengan selembar kain separuh merah separuh putih dan status legal yang terdiri dari tiga kata: Warga Negara Indonesia.

Warna kulit –dan persepsi kerdil yang terpenjara dalam batok kepala ini— barangkali akan selamanya menjadi pembeda yang memisahkan kita.

-----

Gambar tentunya masih meminjam dari sxc.hu.

19 comments:

vendy said...

karenanya, bisa jadi ini sebuah alasan mengapa rata-rata orang Indonesia memilih kabur ke luar. demi sebuah sistem yang betul2 enggak se-bullshit PPKN (hari gini PPKN? :))

dan buat gw, taon 98 udah lebih dari cukup. kalo kejadian lagi, Indonesia bakalan dianggap negara non-sense.

Jenny Jusuf said...

Kayaknya namanya udah bukan PPKN lagi yak? Jadi 'Budi Pekerti' atau apa gitu? ;-D

Barusan gue googling tentang kerusuhan Mei 1998, tadinya hanya untuk nyari link buat entri ini. I found more than that. Hampir sebelas tahun, dan luka itu masih ada.

supriyanto danurejo said...

Hiii salam kenal, i'm one of your follower. Wah wah bahasannya dalem banget, menurutku kita semua sudah mengkotak-kotakkan apapun itu, etnis, agama, kasta ,pendidikan dan lainnya, Dengan semangat primordialisme di masing-masing kelompok itu telah didogmakan dengan dalam pada setiap anggotanya, meski tanpa suatu kampanye atau orasi yang lantang dan selebaran, cukup dengan mata dengan bahasa tubuh, atau kata-kata singkat. Saya merasainya dilingkungan rumah, kerja bahkan negara, tersudut karena saya lain di tempat kerja, terpojok karena saya miskin di lingkungan rumah dan sebagainya. Padahal saya hidup dengan orang-orang yang tidak kalah bermoral (atau pengakuannya saja) yang berpendidikan tinggi. pada akhirnya saya berfikir bahwa toleransi hanya sebuah kata, dan dengan perlakuan seperti itu mau seidealis apapun akhirnya terjebak juga dalam mengkotakkan.

ine said...

Percaya atau tidak bahkan amerika negara 'super power' itupun membedakan warna negaranya berdasarkan warna kulit. Percaya atau tidak bahwa afrika membedakan warga negaranya dari warna kulit dan besar tidaknya mata. Percaya atau tidak negara serukun malaysia yang katanya multietnis pun ternyata mengkota-kotakan warga negaranya dengan sebutan bumi putera, china dan mamak. Pada dasarnya pengkotak2an ini terjadi dibelahan bumi manapun. Dan ternyata yang melakukan itu kebanyakan adalah orang2 yang pernah 'menikmati' pendidikan tinggi. Coba pergi ke kampung nan desa bin dusun, qta hanya akan diterima apa adanya. Karena mereka tidak pernah diajarkan bahwa mereka cina dan kita pribumi. So, selamat anda adalah warga dunia. Selamat datang...... hehehehehe

ine said...

Itu comment diatas yang tulis g ya kok bahasanya beda gindang ye bo...hahahahaha

Jenny Jusuf said...

Supriyanto: ya, dalam banyak aspek, ujung2nya toleransi memang hanya mentok sebagai konsep aja, meski nggak selalu demikian juga. Pada akhirnya, semua kembali ke masing2 kita sebagai manusia, pengen milih jadi seperti apa? :-)

Ine: sedaaaaap! Demen gue neeeng! You're right, memang pengkotak2an pada dasarnya terjadi di seluruh belahan dunia. Karena gue penduduk Indonesia, ya gue ngomel2nya tentang Indonesia. ;-D

Verifikasi: emenci *masiiih*

mynameisnia said...

Warna kulit –dan persepsi kerdil yang terpenjara dalam batok kepala ini— barangkali akan selamanya menjadi pembeda yang memisahkan kita.

v
v
v

Jujur, gue sedih baca tulisan ini.

Jenny Jusuf said...

Mynameisnia: gue juga sedih nulisnya. :-) Eniwei, teman saya pernah bilang, hidup (pada dasarnya) adalah rangkaian ilusi. Jadi, mari tertawa. Karena apa yang kita sedihkan -atau tertawakan- saat ini sesungguhnya tak lebih dari mimpi belaka. Meskipun waktu saya menulis ini, sejujurnya, saya sedang bermimpi buruk. ^_^

-maynot- said...

Jen, si tukang ojek itu mungkin justru gak kena razia karena penumpangnya bukan pribumi. Polisinya takut dianggap diskriminatif dan melecehkan kalau ngerazia cewek jam setengah sebelas malem... HAHAHAHA...

Eh, nggak lucu ya ;)?

Tapi gw setuju katanya Ine di atas bahwa even di Amrik aja, negara yang dengan bullshit-nya mengagungkan HAM, ada diskriminasi. Itu adalah salah satu hal yang membuat kemenangan Obama begitu emosional.

Dan... dalam lingkup yang lebih kecil, di Indonesia tercinta ini, kalau loe pergi ke Medan mungkin beda lagi. Dalam lawatan2 kerja gw ke Medan, kenyang gw dapat makian dari saudara2 keturunan Tionghoa bahkan sebelum gw bisa menjelaskan maksud gw datang ke rumahnya.

Seiring waktu, gw belajar menerima itu sebagai fact of life. Gw berhenti bermimpi akan "ebony and ivory sit together in perfect harmony". Gw cukup puas kalau "ebony and ivory doesn't kill each other"... hehehe...

Anonymous said...

Hai Jenny, saya Dewi, tinggal di Manokwari. Saya juga keturunan China seperti Jenny. Waktu di Surabaya saya juga mengalami "hal-hal" itu. Tapi ketika saya di Manokwari, saya sangat surpraise karena orang pribumi di sini (Papua, yang hitam, keriting itu) sama sekali tidak pernah meremehkan orang China. Jika ada yang bertanya kepada saya tentang asal-usul maka tanpa beban saya bisa menjawab : saya orang China Surabaya... Ternyata masih ada tempat bagi kita-kita di republik ini. BAru tadi pagi saya menulis tentang hal ini di blog saya : http://pikirandanrasa.blogspot.com

SANTI said...

Hi Jenjus... Salam kenal.
Gue chinese juga tapi punya kulit gelap, jadi ada yang kirain gue jawa, guru SMA dulu malah pikir gue blok M alias Madura...hehehe... kuliah dulu gue baur ama teman multi etnis, ada kejadian lucu, gue en temen mau nyari komputer ke glodok, trus dia ajak teman kelasnya yang belom kenal gue banget. Dalam perjalanan Depok ke Kota dengan KRL temanku nyelutuk kalo dia paling benci ke Glodok, sebel aja liat cina-cina yang menurutnya gak tahu diri karna numpang di Indonesia tapi bisa hidup enak.... belom selesai dia bicara, teman akrab gue langsung menepuk bahunya... hei, ngomong apa sih lu, emang ada apa dengan orang cina? Santi kan juga cina... Gue gak tahu warna muka gue jadi apa, yang pasti teman gue itu kaget abis dan jadi salah tingkah..akhirnya dengan bijak gue nyelutuk : "hehehe... mungkin kamu ada pengalaman kurang menyenangkan ya dengan orang Cina.."
Dan dia menjawab : "Sori ya.. soalnya orang cina di daerah Ambon suka judi, mabuk-mabukan dan hidup foya-foya saja..." Ohhhh.... catatan: teman yang nyelutuk itu orang Padang yang tinggal dan besar di Ambon.

biyan said...

i can feel you, sistahhh! :) been a loyal silent reader for months. great blog.

Selly said...

Mbak jenny,
ntah knp ya semua perusahaan yg dikelola pribumi bermata segaris selalu membedakan gaji yg matanya sipit dgn yg lebar. Tentunya si sipit gajinya lbh gede, kerjanya nyante, perintah sana-sini gak keruan. Padahal kalo masalah kualitas krj pribumi mata lebar lbh bisa diandalkan.
Can you explain that?

Kerusuhan mei 98 memang sgt disayangkan, menimbulkan resah dan rasa benci. Tp pernahkah terpikir apa yg menyebabkan semua itu? Bisa jd jg disebabkan rasa benci atas 'ketidakadilan' yg dirasa org kecil. Terutama dlm perekonomian, yg tlh didominasi oleh org2 mata sipit dan membuat frustasi org2 terlantar.

Coba deh perhatikan, org yg pinjam modal ke bank jauh lbh 'dimudahkan' kalo matanya sipit dan kulitnya terang. Walo tanpa jaminan yg memadai.

Saya salut sama mbak jenny yg bisa berbaur tdk hanya dgn ras yg sama thok. Krn kebanyakan memang seperti itulah tipikal org2 mata sipit, selalu berkelompok dan tak ingin menyatu dgn pribumi. Serasa ada jenjang..
Mudah2an ke depannya bisa lebih baik ya.

denny said...

saya batak setengah cina,,

dan saya jadi ambigu terhadap diri saya,,

:D

ah, tapi sudahlah
tak usah dianggap,

yg mengkotak2 itu cenderung orang2 bodoh yg tidak berpikiran luas saja,

bukankah semua manusia itu awalnya dari 1 dan kembali ke 1 itu juga,

tulisannya keren,
ayah teman saya juga kena kerusuhan mei di solo.
dan sampai sekarang masih bangkrut dan susah hidupnya,
hebat ya ras itu..

:D ironis.
ketika kita harusnya bangga akan perbedaan kita, kita justru mengeliminasi tubuh indonesia itu sendiri,

Jenny Jusuf said...

Dear Selly dan teman-teman lain,

Menulis entri ini (dan membaca komentar2 di sini) membuat saya sadar bahwa yang namanya perbedaan sampai kapan pun memang akan tetap ada. Entah di Indonesia, entah di luar – bahkan di negara adidaya seperti Amerika sekalipun. Perbedaan bisa muncul di segala aspek, tidak hanya warna kulit saja, tapi juga agama, nilai-nilai sosial, dan banyak sekali aspek lain, dan perbedaan2 tersebut berpotensi menimbulkan konflik.

SARA memang topik sensitif yang sangat mudah menyulut api konflik. Namun, jangankan topik sesensitif SARA, bahkan perbedaan-perbedaan yang lebih kecil seperti beda pendapat dan beda persepsi pun terjadi setiap hari, tanpa kenal warna kulit. Kita bisa bertengkar dengan ‘sesama’ kita karena berbeda persepsi, kita bisa bermusuhan dengan orang yang seagama karena beda kepercayaan (seagama bukan berarti kepercayaannya selalu sama, ya), kita bahkan bisa bunuh-bunuhan karena adu pendapat. Intinya, perbedaan -setelah saya telusuri lebih jauh- memang selalu ada dimana-mana. Potensial atau tidaknya perbedaan itu untuk menyulut konflik, sangat ditentukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Sekadar berbagi, sahabat terbaik saya adalah orang Ambon tulen. Kami berbeda dalam segala hal, mulai dari warna kulit, bentuk mata, karakter, pembawaan, selera, usia yang terpaut jauh (dia 9 tahun di atas saya), sampai berbeda kepercayaan, meski kami seagama. Kami bahkan tidak sering bertemu, karena dia tinggal di luar pulau sedangkan saya di Jakarta. 2009 ini, tepat 10 tahun kami bersahabat. Beberapa hari lalu, kami berbincang sambil tertawa-tawa, salah satunya mengobrolkan entri ini, dan saya tahu alasan kami bersahabat sekian lama adalah karena cinta, bukan hal lain, bahkan bukan karena persamaan (kami justru banyakan bedanya daripada samanya, hehehe). Warna kulit yang berbeda tidak akan pernah menjadi alasan untuk berpisah. And that’s enough for me. :-)


BTW, verifikasi kali ini: pecal. Dan waktu masukin, saya nggak sengaja mengetik kata 'pecel'. ;-D

ine said...

Love u too my dear... Peace,teutep dong ah

ezra said...

satu hal yg dpt saya tangkap stelah membaca entry ini dan komen-komennya adalah bahwa kita masih membentuk lingkaran dimana kita saling berhadapan. sebesar apapun lingkaran itu, yang dapat kita lihat hanyalah kaum kita; satu agama, satu suku, satu prinsip, satu pendapat, satu warna kulit, dll.
kenapa tidak membentuk lingkaran dimana kita saling membelakangi? bukankah dgn begitu kita membuka diri terhadap orang lain, pribadi lain, kultur lain, keyakinan lain, bangsa lain?
saya percaya pepatah lama bahwa tak kenal maka tak sayang.
saya jg percaya bahwa bila ada orang yg berbuat hal yg tidak baik, kejahatan dll dsb, maka itu adalah tindakan personal yg dilakukan oleh oknum, misalnya: tdk semua orang bertato itu adalah perampok keji. bagi saya penggeneralisasian adalah suatu dosa.

btw, verifikasi kali ini adalah contiess. emilia contiessa.
ahahaha...

masbro said...

... baik dan buruk, sama dan beda atau kita bisa menyebutnya an OPPOSITES WORLD sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita. Descrates bilang:"Aku berfikir maka aku ada" Kalau 'aku' ada maka 'si dia' muncul. Pikiran menciptakan perpisahan. Lalu konflik muncul.

Aku ada karena aku berfikir. Bagaimana bila aku 'tidak berfikir', apa yang ada? Yang ada adalah DON'T KNOW! This 'don't know' is very beautiful. Coz in the don't know mind there is no separation, no opposite world. ONLY don't knooow. This don't know is your original face.

Don't know bukan berarti tidak tahu apa-apa. Don't know berarti whatever u do just do it. Kita tidak bisa memahaminya dengan pikiran. Don't think. Thinking is suffering. Only go straight don't know. Don't think artinya jangan melekati sesuatu.

Aku keturunan jawa. Kamu keturunan cina. Kita sama atau beda? Put it all down, ok. Hiduplah tanpa beban pikiran.

Be free...

Dewi Pinatih said...

aku sahabat deket banget bertiga. Aku, Bali asli dan Hindu, 2 orang temanku satu Muslim satu Nasrani. kami sahabatan udah lebih dari 10 taun. Ada 2 orang lagi yg juga sahabat dekat kami. yg satu nasrani yang satu Buddha.

Dari kita berlima, ga ada yg satu suku. tapi malah enak... hari rayanya jadi banyak... banyak acara makan makan deh :D