Tuesday, October 27, 2009

Perceraian di Mata Saya

Orang tua saya berpisah ketika saya berusia empat tahun. Penyebab dari perpisahan mereka, sejauh yang saya tahu, adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ada yang mengatakan, seharusnya ibu melahirkan enam anak, namun akibat kekerasan yang terus dialaminya, janin yang sanggup bertahan di rahimnya hanya dua. Saya dan adik saya.

Tidak lama setelah melahirkan adik saya, ibu lari dari rumah karena tidak tahan dengan kekerasan yang semakin menjadi-jadi. Beliau sempat terkapar di rumah sakit dengan sekujur tubuh lebam. Saya sendiri baru mengetahui peristiwa ini setelah beliau meninggal lima tahun silam. It remained a mystery for more than 20 years. Setelah keluar dari rumah sakit, beliau membawa adik saya yang masih bayi dan pulang ke rumah orang tuanya. Beberapa tahun kemudian, saya menyusul dan tinggal bersama ibu.

Saya tidak tahu apakah pernyataan ini akan terdengar kontroversial, namun sebagai seorang anak yang mengalami dampak perceraian, saya justru berharap orang tua saya bercerai lebih dini. Seandainya ibu memiliki keberanian untuk pergi lebih awal, mungkin ia tidak perlu terkapar di rumah sakit dengan memar di sekujur tubuh. Seandainya perpisahan itu dilakukan lebih awal, mungkin ia tidak perlu dihantui trauma dan luka batin seumur hidup. Meski beliau tidak pernah membicarakannya, saya tahu, luka itu ada.

Banyak orang mengatakan, kebahagiaan anak seharusnya diprioritaskan di atas kebahagiaan orang tua. Saya justru berharap sebaliknya. Seandainya sejak awal ibu memprioritaskan kebahagiaannya di atas kebahagiaan saya, barangkali kisah hidup beliau akan berakhir lain. Saya pernah membaca sebuah tulisan, bahkan anak-anak yang orangtuanya tidak mengalami KDRT dan mempertahankan pernikahan ‘demi kebahagiaan anak’, dapat merasakan apa yang sesungguhnya terjadi pada orang tua mereka. Kenyataannya, duduk bersama di meja makan, masuk ke kamar yang sama setiap malam, datang bersama ke acara-acara sekolah, dan banyak sandiwara lain yang dilakukan demi sang buah hati, tidak cukup untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari batin anak yang bersangkutan. They just know. They can feel it. At least, that’s what I read. Di sisi lain, bahkan sebagai anak kecil yang belum mengerti apa-apa, saya turut terkena efek psikologis dari setiap kejadian buruk yang dialami ibu, karena saya membagi aliran darah yang sama dengannya.

Saya tidak tahu dengan orang-orang lain yang orangtuanya juga bercerai. Apa yang mereka rasakan bisa saja berbeda. Namun, saya bersyukur orang tua saya bercerai.

Dalam sebuah obrolan santai beberapa tahun silam, ibu bercerita kepada saya dan adik tentang beberapa orang yang sempat dekat dengannya sebelum beliau bertemu ayah saya.

“Yang naksir Mama itu dulu mulai dari dokter sampai pengusaha. Nggak tahu gimana, bisa jadinya sama Papi kamu,” ujarnya.

Mendengar itu, adik saya nyeletuk, “Kenapa Mama nggak jadian sama yang pengusaha aja? Kan lebih enak!”

“Kalau Mama nggak kawin sama Papi kamu, nggak bakalan ada kamu,” beliau menjawab enteng. Ibu saya bukan orang yang ekspresif. Beliau cenderung keras dan dingin dalam mendidik anak-anaknya, namun saat itu saya yakin, saya mendengar senyuman dalam jawabannya.

Ibu mungkin akan lebih bahagia menikah dengan dokter atau pengusaha. Mereka yang mencintainya dan tidak memukulinya seperti ayah saya yang pemabuk. Namun dengan begitu, tidak akan ada saya. Tidak akan ada adik saya. Dan sama seperti saya tidak menyesali keputusan yang diambilnya berpuluh tahun silam, saya tidak menyesali keputusannya untuk bercerai. Karena perceraian beliau memberikan saya ayah terbaik di seluruh dunia.

Bagi Anda yang mengikuti blog ini dan mulai bertanya-tanya, ya, pria yang saya panggil ‘Ayah’, yang saya cintai segenap jiwa dan berkali-kali muncul dalam tulisan-tulisan saya, bukanlah ayah kandung saya. Beliau menikah dengan ibu setelah ibu dan ayah kandung saya bercerai. Dan beliau adalah satu-satunya orang yang berada di sisi ibu ketika wanita tersayang itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

Kami, anak-anaknya, tidak ada di sisinya. Ibu saya meninggal didampingi laki-laki yang mencintainya sampai akhir hayatnya, yang menerimanya apa adanya dengan tanggungan dua orang anak dan tidak pernah –satu kali pun—mendaratkan pukulan di tubuhnya. Laki-laki yang pernah dikucilkan keluarganya selama bertahun-tahun karena orang tua dan saudara-saudaranya tidak bisa menerima keputusannya untuk menikahi ibu saya. Laki-laki yang pernah kehilangan mata pencaharian karena sang ayah yang jengkel terhadapnya menarik toko obat yang sedang ia kelola dan memberikannya kepada saudaranya yang lain. Laki-laki yang rela tidak memiliki anak dari pernikahannya dengan ibu, dan tetap mencintai saya dan adik seperti anak kandungnya sendiri. Laki-laki yang sampai hari ini masih menyimpan foto ibu saya di ponselnya. Laki-laki itu tidak hanya saya panggil ‘Ayah’. Darinyalah saya belajar memaafkan dan mencintai.

Saya menulis artikel ini setelah membaca sebuah diskusi di internet yang membahas perceraian dua figur publik di Amerika Serikat. Selain keputusan yang cukup mendadak dan memancing reaksi para anggota forum, yang paling banyak dibicarakan adalah dampak perceraian mereka terhadap anak-anak yang berusia 9 dan 6 tahun. Pendapat yang dilontarkan pun beraneka ragam. Ada yang bisa memahami, ada yang mendukung, ada yang kecewa, ada pula yang terang-terangan mencela mereka sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab, egois, menelantarkan kebahagiaan anak, dan sebagainya.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan anak-anak itu kelak. Mungkin orang-orang di forum itu benar. Mungkin juga mereka salah. Yang saya tahu hanya, dalam daftar hal yang paling saya syukuri di dunia, perceraian orang tua saya menduduki peringkat awal. Saya bahkan mengagumi ibu yang dengan tegar berjuang melepaskan diri dari siksaan dan dengan berani menjadi orang pertama dalam keluarga besar kami yang menandatangani surat cerai.

Perceraian bagi sebagian orang mungkin merupakan simbol dari kesedihan, penderitaan, bahkan tragedi. Tidak bagi saya. Perceraian telah mengajarkan saya tentang kejujuran dan cinta, dan pada akhirnya, mengajarkan saya untuk berdamai dengan hidup.

:-)

-----

23 comments:

Herli said...

:-)

dnok said...

hei jenny..
saya seneng baca blog kamu, bisa membuat saya terdiam sejenak. dan agak kaget juga ternyata ada kejadian seperti ini. tapi saya salut, kamu berani menuliskan hal ini. dan lebih salut lagi, kamu bisa berdamai dengan hal ini :)

saya sedang berusaha menerima dan memahami keberadaan bapak saya. memang beliau bukan bapak yg sempurna, yg sebaik ayah jenny. beliau juga tidak bisa jd contoh buat anak2nya. tapi setidaknya, beliau tidak melakukan tindak kekerasan.

orang tua berdampak bgt buat anak2nya. dan seringkali, dampak yg tidak baik. beberapa bahkan menimbulkan luka yg ga bisa dihilangkan. tapi, saya percaya, hidup yg diberikan Tuhan buat saya, adalah sebuah harapan, bukan penyesalan.
dan kalaupun pernah ada penyesalan, saya memilih untuk memaafkan.
saya ga bisa mengubah bapak saya. tapi, kami sekeluarga memilih untuk tidak lagi sakit hati sama sifat bapak. ya begitulah beliau adanya. dan beliau tetap bapak saya.

makasih ya postingannya.
salam kasih selalu,
:)

All About Love and Friendship said...

bukan cuma rada dalem
tapi emang DALEM....

Re said...
This comment has been removed by the author.
Re said...

"Karena bapak memikirkan kalian, anak-anak bapak..." Itu yang Ayahku katakan waktu aku tanya mengapa beliau tidak menceraikan Ibu yang telah berselingkuh dari Ayah. Dan aku tahu, sejak saat ini beliau bukan sosok Ayah yang sama lagi di mata ku.

-maynot- said...

Aaah! Now I understand what makes you such a tender-hearted young woman with mellow inclination :)

Satu hal, Jen, jika mamamu mengambil keputusan lebih dini, mungkin "ayah" tidak akan ada dalam hidupmu :) You must be grateful that your mom took the decision at that particular time, not sooner, and not later :)

PerempuanLangit said...

Aku selalu percaya pada setiap luka Tuhan akan memiliki cara penyembuhan yang paling indah. Tapi terkadang penyembuhan itu tak menghilangkan luka, karena luka bisa sembuh tapi pasti membekas.
Ayahmu laki-laki yang hebat mbak, ia bisa menyembuhkan luka dari Perempuan yang telah begitu terlukai oleh laki-laki. Tolong pastikan laki-laki yang kamu panggil ayah itu memang benar manusia, bukan malaikat. He's like your guardian angel...

PerempuanLangit said...

Aku selalu percaya pada setiap luka Tuhan akan memiliki cara penyembuhan yang paling indah. Tapi terkadang penyembuhan itu tak menghilangkan luka, karena luka bisa sembuh tapi pasti membekas.
Ayahmu laki-laki yang hebat mbak, ia bisa menyembuhkan luka dari Perempuan yang telah begitu terlukai oleh laki-laki. Tolong pastikan laki-laki yang kamu panggil ayah itu memang benar manusia, bukan malaikat. He's like your guardian angel...

Lex dePraxis said...

Sangat.. menyentuh..

Brokoli sehat said...

i feel you j. Kita sama-sama dibesarkan oleh disfungsional family. Dan mungkin kita adalah bagian dari sekelompok orang yang menganggap bahwa perceraian tidak selalu buruk

Brahm said...

Cerita yg menyentuh. Memang selalu ada hikmah di balik musibah. Tp jangan berpikir sebaliknya. Jangan pernah berharap musibah itu datang ke kita, meski tujuannya buat memperoleh hikmah. ^_^

Sitta Karina said...

Jenny yang pertama kali saya kenal dulu: ketakutan dan disorientasi. Sekarang dia sudah menjadi kupu-kupu yang tidak hanya indah tapi memiliki sepasang sayap yang kuat. Ternyata sayap itu kuat bukan karena terbuat dari baja, tapi karena berhasil melewati badai demi badai.

Berdamai dengan kehidupan.. sungguh pilihan yang bijak :)

Denta Felli Ananda said...

@ Sitta karina...
Ketakutan dan disorientasi? :) mengingatkan saya pada kondisi diri sendiri beberapa waktu yang lalu...
Ternyata memang yang menguatkan seseorang adalah bagaimana dia melewati setiap rintangan dan ujian dengan bijaksana dan mengambil pelajaran dari situ
Dear Jenny :
satu lagi alasan kenapa blogmu begitu inspiratif buat saya....Ternyata, kita melihat sebuah pelajaran yg sama dari kejadian yang hampir sama :)

T.R. Dewi said...

Sebelum menikah saya mengira hidup dalam pernikahan itu mudah karena ada cinta (Eros). Ternyata tidak. Bukan hanya tahun demi tahun tapi hari demi hari, bahkan detik demi detik rasanya luar biasa sulit.

Tetapi jika kita peka terhadap masalah yang mulai muncul - setiap masalah besar pasti dimulai dari yang kecil - maka tidak ada yang tidak bisa diatasi. Saya bukan orang yang berpendapat bahwa perceraian itu boleh atau tidak boleh. Tergantung kasus per kasus. Tergantung kecil atau besar/parahnya permasalahan. Tergantung kekuatan mental orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saya pribadi bersyukur karena tidak sampai bercerai ketika badai datang menerpa pernikahan saya tetapi malah membuat saya semakin mampu mencintai suami dengan kasih Agape bukan sekedar kasih Eros seperti ketika masih berbulan madu.

minidoor said...

Hey, mbak Jenny... saya sering main sini, tapi nggak pernah ninggalin komen :)

saya terharu dan sejujurnya kaget saat baca entri postingan yang ini. saya sering baca tulisan mbak yang tentang Ayah itu, dan seperti ikut merasakan juga gregetnya jatuh cinta kepada ayah.
ayah saya dulu juga ringan tangan, tapi Puji Tuhan.. karna campur tangan Tuhan, Tuhan pulihkan karakter itu dan sekarang meski ayah kena stroke, saya selalu bersyukur buat smua itu.
mungkin jawabannya hanya, mengampuni dan kasih yaa ;)

Keluarga adalah sebuah kado terindah dari Tuhan dan disanalah karakter kita terbentuk.

salut untuk mbak Jenny. slalu semangat ya mbak, dan tulisanmu menginspirasi banyak orang ;)

Jesus bless u abundantly =)

plainami said...

:)

Indah said...

Hmm.. dulu gua juga selalu berpendapat kalo penting untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga.. demi anak2.

Tapii.. sekarang gimana yaa?

Menurut gua sih lebih penting lagi itu antara suami and istri punya hubungan yang baik.

Karena anak2 punya radar untuk menangkap "emosi" yang ada di antara kedua orangtuanya, walaupun mereka ngga mengatakannya.

Kalo dibilang anak2 broken home itu pasti jadi anak2 yang "rusak", aahh.. ngga jugaa.. banyak dari mereka yang tumbuh menjadi sosok pribadi yang kuat.

Sama halnya banyak juga anak2 dari keluarga yang masih tetap "utuh" malah menjadi sosok dewasa yang menyimpan "luka hati".

Apapun itu.. setiap kejadian pasti ada maksudnya, yang mungkin baru bisa kita liat nanti.. di masa mendatang..

Makasih atas sharing-nya yang menginspirasi, Jenny :)

dayu said...

what a tough lady.

luka membuat sebagian orang (perempuan) justru terlahir kuat.

punyajeungipi said...

saya setuju, perceraian tdk selalu buruk. Saya bersyukur ortu saya bercerai dan ibu saya tdk perlu lg menderita di samping ayah saya. Saya bersyukur setelah mereka cerai saya diasuh oleh bude saya. Saya bersyukur dgn segala musibah akibat perceraian, hdp saya tertempa lebih mandiri dan lebih bijak dalam menyikapi hidup

mesya said...

saya meneteskan air mata ketika membaca tulisan mba kali ini..

orang tua saya juga bercerai,tapi yng uniknya antara ayah kandung saya dan papi saya sekarang malah bisa bersahabat..

dan ketika ayah kandung saya meninggal setahun yg lalu pun,papi saya lah yang pertama kali merengkuh saya dalam pelukkannya..

tidak pernah sekali pun saya menganggap beliau sebagai ayah tiri saya,sama seperti mba yang begitu menyintai papa mba..

Esie said...

thanks for posting this :)

catastrovaprima said...

:(

Anonymous said...

Jen,ibu sy bertahan di pernikahan yg 'sengsara' dg alasan yg penting anak lulus sekolah. Kami bertiga lulus sma, hanya kk sy yg selesai akademi.sy membiayai kuliah sy sendiri. Akibat dr rumah tangga yg dipaksakan itu, sy jd orang yg defensif. Krn sy ga mau jd spt ibu sy yg selama 21thn diinjak2 oleh bpk saya dan keluarganya.
Skrg sy sdh menikah,punya 1 anak, 1lg sedang di kandungan 7bln, sy jg akan meminta cerai dg suami sy krn dia selalu merasa hebat dan kuasa hny krn dia yg mencari nafkah. Sy ga mau saya kehilangan waktu sy hanya dg terus2an berbaikan dan menganggap omongan dia bkn masalah. Mumpung sy msh muda dan msh mampu bekerja dan mengurusi anak2 sy,
Sy akan meninggalkan suami sy.