Thursday, December 3, 2009

Dear Nuel,

Apa kabar?

Belakangan ini gue sibuk dengan calon buku kedua gue. Buku itu akan terbit tahun depan. Di dalamnya ada artikel tentang elo. Judulnya ‘Farewell’, karena artikel itu gue tulis setelah kita berpisah. Sejujurnya, dari sekian banyak tulisan yang jadi pengisi buku itu, gue lupa bahwa ‘Farewell’ ada di sana. Sampai malam ini, ketika gue mengedit artikel itu.

Nel, gue nggak nangis waktu kita pisah. Gue bahkan nggak nangis waktu ninggalin elo. Gue pikir lo udah bahagia. And I did believe so. Lo tampak tenang sekali di sana, di peti itu. Lo kurus, tapi lo seperti tersenyum. Seakan pingin bilang ke semua orang, “Gue udah nggak apa-apa. Kalian bisa berhenti khawatir.” Tapi sekarang gue nangis. And I cry hard.

Nel, gue kangen elo. Kangen banyolan-banyolan lo. Kangen senyuman lo. Kangen minta tolong lo bawain barang lagi (karena lo yang paling berotot di antara kita semua dan gue yang paling cungkring). Kangen lihat lo ngangkat-ngangkat boom segede dosa itu. Kangen ngelihat lo dan Lala pacaran lagi kayak dulu. Kangen makan bareng lagi. Kangen ketawa-ketawa lagi.

Nel, kenapa gue nangis ya? Kenapa malam ini air mata gue nggak bisa berhenti inget elo? Berapa bulan sejak lo pergi? Sembilan? Sepuluh?

Bahkan sebelum lo pergi kita udah jarang ketemu. Lala bilang, lo sempet nanyain gue. Dan sekarang rasanya gue rela ngasih apa aja supaya bisa ketemu lo sekali lagi… ketika lo masih bisa senyum. Ketika gue masih bisa bercandain elo. Dan kita bisa sama-sama ketawa.

Di atas sana kayak apa, Nel? Indah? Lo ketemu nyokap gue? Sampaikan salam gue buat dia, ya. I miss her so damn much. Tell her I’m happy. Gue tahu dia tahu. Gue cuma pingin bilang aja. :-)

Nel, gue nggak pernah dapet kesempatan untuk ngomong ini ke elo. Tapi sekarang gue mau bilang.

Terima kasih karena udah ada di hidup gue. Terima kasih udah jadi temen gue. Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang kita lewati bareng-bareng. Terima kasih untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita bagi, yang masih bisa gue kenang sampai sekarang ketika lo udah nggak ada. Lo nggak akan pernah tahu betapa berartinya itu semua. Ketika segalanya lenyap, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan itu kita jaga, karena kita belum mau lupa.

…..



Hhhh.

Udah, ah. Gue udah selesai mewek. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Kalau kata Mitch Albom, gue yang curhat, lo yang dengerin. Ketika waktunya tiba nanti, kita bakal bisa lagi, kok, ngobrol dua arah.

:-)


Nel…

Gue kangen. Banget.

-----

7 comments:

Ribkha said...

and i cry so bad pas baca ini. bagus kak jenny :)

tazz said...

dan gw pun berkaca-kaca membaca ini...

Jenny Jusuf said...

Ribkha & Tazz: Thanks. Aku pun nulisnya sambil bercucuran air mata, hehe. Kangen sekali.

Teppy said...

-______________-

sedih amat Jen... :(

had he gone long?

He and your mom would just be alright up there, watching you live from above :)

*peluk*

Jenny Jusuf said...

Teppy: Maret tahun ini perginya, bu. Sakitnya udah lumayan lama, but we thought he was going to be alright. Dia sama temen gue yg satu lagi udah pacaran 7 tahun, udah mau nikah.

-maynot- said...

Gw juga selalu membayangkan, mereka2 di atas itu ngapain aja ya? Saling bertemu dan membicarakan kita kah?

Dan kadang gw berpikir, kalau gw udah di atas sana, dan kangen sama anak2 gw, apa ya yang akan gw lakukan? Apakah turun mendampingi mereka? Dan gimana ya, rasanya, ada di dekat mereka tapi mereka nggak tahu?

mey said...

sedih..sesedih-sedihnya baca postingan ini,
tiba-tiba rasa kangennya nular lho :(((