Wednesday, December 16, 2009

Ruri dan Pak Dokter

Ruri adalah seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang bekerja sebagai salesgirl. Keperawanannya direnggut oleh kekasih lamanya ketika ia berusia 18 tahun. Kepada pacarnya yang sekarang, Ruri mengaku masih perawan karena takut ditinggalkan. Masalah baru muncul ketika sang pacar mengajaknya bertunangan. Ruri yang ketakutan rahasianya terbongkar memilih untuk menempuh jalan pintas: melakukan operasi selaput dara. Pacarnya tidak perlu tahu. Orangtuanya apalagi. Cukup dengan sekian juta rupiah, ia bisa mendapatkan kembali keperawanannya dan menjadi perempuan utuh. Perempuan sempurna yang didambakan setiap lelaki.

Ruri adalah tokoh rekaan saya. Ia hidup dalam benak saya dan dalam korespondensi yang berlangsung selama beberapa minggu antara saya dengan seorang dokter ‘spesialis’ operasi selaput dara. Saya menemukan website-nya dari blog seorang teman, yang karena pertimbangan tertentu tidak saya cantumkan di sini.

Ketika pertama kali membuka situs tersebut, saya hanya bisa melongo. Pertama, karena alamat dan nama situsnya yang sumpah mati malesin (saya harus menutupi layar laptop ketika membukanya di tempat umum—saking mokal-nya). Kedua, karena artikel-artikel di sana ditulis dengan gaya bahasa dan kosakata yang jauh dari kesan profesional bin terpercaya. Ketiga, karena background website tersebut berupa gambar perempuan seksi dengan ekspresi seduktif. Keempat, karena meskipun di sana tercantum kalimat ‘mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan’, tidak ada unsur identitas yang cukup meyakinkan mengenai Pak Dokter dan klinik yang didirikannya. Satu-satunya ‘identitas’ yang ada hanya sepenggal nama (tanpa nama belakang), alamat e-mail, dan sebaris panjang nomor ponsel yang nggak ada cantik-cantiknya (baca: tipikal nomor yang gampang dibeli di mana saja dengan modal 10.000 perak).

Website itu berisi sejumlah penjelasan tentang operasi selaput dara, berbagai bentuk selaput dara, alasan tentang perlunya melakukan operasi selaput dara, testimoni dari pasien-pasien yang pernah ‘digarap’ Pak Dokter, dan tak lupa, pendapat dari pemuka agama mengenai operasi selaput dara ditinjau dari pemahaman kitab suci. Intinya, para perempuan yang telah kehilangan mahkotanya bisa mendapatkan kembali keperawanannya melalui operasi sederhana yang tidak menghabiskan biaya. Cukup dengan beberapa juta rupiah (yang relatif lebih murah dibandingkan operasi sejenis di luar negeri), selaput dara kembali utuh, kehormatan terjaga, dan tidak perlu khawatir ditinggal suami (atau calon suami) yang kecewa karena istri (atau calon istri) ternyata tidak perawan lagi.

Hal itulah yang menggelitik saya untuk mengirimkan e-mail kepada Pak Dokter. Ruri membutuhkan pertolongan. Saya membutuhkan pemuas rasa ingin tahu.

E-mail yang saya kirimkan di siang hari dibalas malam itu juga. Dengan tutur kata halus dan sopan santun terjaga, Pak Dokter mengungkapkan bahwa biaya operasi selaput dara sebesar 5 juta rupiah, dengan waktu yang bisa ditentukan sendiri oleh ‘Adik Ruri’. Alamat klinik akan diberikan menjelang tanggal operasi.

Ruri sempat terkesima, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya ia meminta operasi dilakukan besok pagi di Surabaya, misalnya. Namun ia mencoba untuk mengerti. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Praktis dan serba rahasia karena tidak ingin direpotkan oleh pasien.

Saya punya tabungan sebesar 5 juta rupiah, namun Ruri tidak. Ruri hanya mahasiswi sederhana yang keuangannya pas-pasan. Tabungan dari hasil bekerja sebagai salesgirl tidak bisa menutupi biaya operasi. Maka, Ruri mengirim e-mail kedua kepada Pak Dokter, memohon agar diberi keringanan.

Balasan kembali datang. Kali ini, Pak Dokter tidak seramah semula. Tulisannya singkat dan dingin, tanpa salam pembuka atau salam penutup. Hanya beberapa kalimat pendek yang menyatakan bahwa harga terakhir yang diberikannya adalah 4 juta rupiah, dengan catatan operasi harus dilakukan selambatnya 2 minggu setelah e-mail dikirimkan.

Ruri yang lega dan kegirangan langsung mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan hati Pak Dokter. Tanggal operasi pun ditentukan: 7 November. E-mail berikutnya yang diterima Ruri dari Pak Dokter berisi pernyataan bahwa ia wajib membayarkan uang muka sebesar 200 ribu rupiah sebelum tanggal operasi yang sudah disepakati.

“Hitung-hitung uang bensin, sekaligus menguji apakah Adik serius atau tidak. Untuk orang yang serius, 200 ribu bisa ditanggulangi dengan mudah, tapi orang iseng akan berpikir 1000 kali untuk mengeluarkan uang. Dokter makan uang segitu nggak akan kaya. Maaf ini pengalaman, karena pernah diberi kelonggaran kepada pasien, malah ngelunjak (tidak datang, padahal Dokter sudah datang, sudah beli alat, sudah sterilkan alat operasi, dan lain-lain, jadi Dokter rugi kalau pasien tidak datang dan cuma iseng.” tulis Pak Dokter sedikit curcol.

Tentu saja Ruri tidak keberatan. Apalah artinya 200 ribu rupiah dibandingkan dengan keperawanan yang kembali utuh dan hubungan yang harmonis dengan calon tunangannya. Ruri berjanji akan membayarkan uang muka pada awal bulan setelah menerima gaji. Ia juga meminta nomor rekening Pak Dokter.

Setelah janji diberikan, Pak Dokter kembali bersikap manis. Pak Dokter berjanji tidak akan mengecewakan Adik Ruri, namun nomor rekening tidak dapat diberikan sebelum tanggal pembayaran uang muka. Ruri pun maklum. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Inginnya yang pasti-pasti saja.

Saya menikmati jalannya korespondensi itu dari balik layar. Pelan namun pasti, saya terheran-heran sendiri dengan munculnya berbagai rasa yang tidak saya sangka-sangka. Awalnya, saya merasa keisengan ini amatlah lucu. Ketika mendapat balasan untuk pertama kalinya, saya terpingkal-pingkal sampai taksi yang sedang saya naiki nyaris nyasar ke kompleks tetangga.

Saat korespondensi berlanjut, rasa yang mendominasi bukan lagi geli dan penasaran. Saya sebal dengan sikap Pak Dokter yang berubah drastis ketika penawaran dilakukan. Keliatan bener pengen duitnya, meskipun Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Dokter kok ditawar, lo kira beli ikan di pasar?

Saya juga kesal dengan tenggat waktu yang ditentukannya. Mentang-mentang boleh nawar, langsung dibatesin 2 minggu. Namun, lagi-lagi, Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Udah bagus didiskon. Jangan ngelunjak, Jeeek.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya ikut-ikutan sebal dan kesal. Mungkin karena seperti Ruri, saya pun perempuan, kendati saya tidak ambil pusing dengan urusan perawan atau tidak perawan. Utuh atau terkoyak. Sempit atau longgar. Baru atau bek... uuups.

Korespondensi yang (awalnya) berlangsung atas nama iseng itu akhirnya membuat saya merenung sendiri: apa yang akan saya lakukan jika berada di posisi Ruri. Seandainya saya membohongi pacar saya dengan mengatakan bahwa saya masih perawan, akankah saya meneruskan kebohongan itu ketika ia mengajak saya menikah? Bahkan seandainya saya mendapatkan kembali ‘keperawanan’ saya dengan jalan operasi—dan tidak seorangpun tahu kecuali saya dan Pak Dokter—akankah saya tega membohonginya seumur hidup? Tegakah saya menyenangkan suami saya dengan membiarkannya mengira tetesan darah dan erangan yang saya keluarkan pada malam pertama kami adalah perlambang kesucian yang saya persembahkan hanya untuknya? Dan sanggupkah saya menjalani kehidupan rumah tangga nantinya, sementara saya sadar fondasi yang melandasinya amatlah rapuh?

Ruri memilih menghubungi Pak Dokter untuk menyelesaikan masalahnya. Akankah saya memilih jalan yang sama?

Sayangnya, saya tidak suka berandai-andai. Hidup, bagi saya, bukan naskah novel yang memerlukan outline sebelum ditulis. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya bukan Ruri. Biarlah Ruri yang menjawabnya sendiri.

Tanggal 31 Oktober—2 hari sebelum uang muka dibayarkan dan 7 hari sebelum tanggal operasi—Ruri mengirimkan e-mail terakhirnya kepada Pak Dokter.

Yth. Pak Dokter,

Dengan ini, saya hendak menginformasikan pembatalan operasi yang tadinya dijadwalkan pada 7 November.

Tadi malam pacar saya berkunjung ke rumah, dan saya menceritakan semua kepadanya, termasuk rencana operasi selaput dara ini. Saya tidak tega membohongi dia. Kalau kami bertunangan nanti, bahkan sampai menikah, saya tidak mau rumah tangga saya dilandasi dengan kebohongan. Lebih baik saya jujur daripada membohongi orang yang saya cintai, meskipun dia memutuskan saya. Ternyata, pacar saya tidak keberatan. Dia memang kecewa, tapi dia bersedia menerima saya apa adanya. Dia bilang dia tetap menyayangi saya meskipun saya sudah tidak perawan, karena selain keperawanan, ada hal-hal yang lebih penting di dunia. Cinta kami salah satunya. Saya lega dan bahagia sekali.

Terima kasih banyak atas kebaikan Pak Dokter selama ini, mulai dari membalas e-mail saya, memberi keringanan biaya, dan sebagainya. Saya sangat menghargai itu.

Salam,

Ruri


Saya membaca ulang e-mail yang baru saja terkirim, dan tersenyum sendiri. Drama singkat ini telah memberi pelajaran kepada saya jauh lebih banyak dari yang saya kira.

:-)


P.S. Pak Dokter membalas e-mail terakhir ini dengan memberi diskon tambahan sehingga tarif operasi menjadi 3 juta rupiah saja. Ada yang berminat? ;-)

-----

6 comments:

Victor said...

Ada-ada aja emang manusia jaman sekarang... hahaha :D

Karena dosa tambah variatif, bisnis yang berhubungan dengan "penebusan" dosa juga tambah variatif (indulgensia modern). Ya operasi selaput darah lah, perdagangan kondom lah, gadis lolipop, dan lain-lainnya (yang buat saya akhir-akhir ini memuji kepintaran Lucifer dan anak buahnya).

Semoga 2012 cepat datang :)

PS. Saya setuju sama pemikiran anda, tentang "perawan atau tidak."

boy said...

nice ending ;)

lisalatief said...

wih, ngga nyangka ada yg beginian..

putriastiti said...

bagus ceritanya mbak jenny...
Aku suka dimana kau meletakkan titik. pas banget.... hehe!
Bikin aku baca sampai cerita habis.

Anonymous said...

Wah bagus ni,bs mnta alamat emailnya?

Anonymous said...

Happy Ending,

wanita juga manusia, manusia tidak ada yg sempurna, jika takaran wanita baik2 hanya dinilai dari perawan, itu salah besar.

mungkin saja disaat itu wanita itu hilaf, dan kl nasi sudah menjadi bubur mau dibilang apa.
asalkan wanita itu sudah bertobat dan bertobat itu urusan manusia dengan sang pencipta (Allah).

walaupun saya tidak setuju SEX DILUAR NIKAH, tapi kl loe nyaman jalan dengan cewek yang kenyataannya udh ngak perawan???, yang penting kenyamanan hati sob.

pilih mana perawan tapi hati ngak nyaman, atau ngak perawan tapi hati loe nyaman ?

kl ane pilih yang nyaman dihati, karena ini yang buat loe nyaman dirumah.

dapet Perawan dan hati nyaman (nah kl ini perawannya bonus tuh).

saya salut ama kejujuran mba ini, karena saya tau bener kejujuran memang sakit tp itu lah modal ngejalanin hidup tenang didunia ini. "modal hidup itu adalah kejujuran"

lelaki pendaki sejati.