Friday, January 5, 2007

"Ga Pa-pa-pa-pa!"


Ini adalah Alex, putra sahabat saya. Usianya hampir 1,5 tahun, dan kata pertama yang dikuasainya (selain Mommy, Daddy dan Gukguk) adalah “Ga pa-pa-pa-pa!”

Pasalnya, setiap kali si bocah lari dan terjatuh, itulah kalimat pertama yang diucapkan ayah-ibunya. Sahabat saya selalu menenangkan putranya dengan berkata, ”enggak apa-apa, enggak apa-apa.” Lama-lama, Alex paham. Kalau jatuh, ia akan segera bangkit sendiri, tersenyum lebar sambil berkata, “ga pa-pa-pa-pa!”.

Tahun 2006 bagi saya adalah tahun ‘jatuh bangun’, juga tahun ‘ups and downs’. Saya berusaha keras agar cerpen-cerpen yang selama ini hanya tersimpan di komputer bisa lolos seleksi dan dipublikasikan. Tahun ini juga, saya diterima bekerja, setelah sekian lama jadi ‘pengacara’. Tahun ini saya banyak tertawa, juga banyak nangis. It’d been like a rollercoaster ride to me, and I’m not ashamed to admit it :)

Cerpen saya yang pertama dimuat di majalah Cerita Kita, edisi Juni 2006. Akhir Desember, cerbung saya dipublikasikan oleh majalah kristiani remaja, GFresh. Belasan lain, yang saya kirim ke berbagai majalah maupun lomba, sukses ditolak.

Di kantor, saya mengulang monthly report selama 2 bulan karena kesalahan yang cukup fatal, dan pada akhir bulan kewalahan mengerjakan stock opname seorang diri. Tapi, sebagai ‘kompensasi’nya, saya memperoleh begitu banyak pengalaman berharga di tempat kerja saya ini. Selain mengembangkan kapasitas dan mengasah potensi diri, saya belajar menjadi profesional. Saya belajar menjadi orang yang bukan cuma tough, namun juga trained. Saya belajar merespon dengan benar. Saya belajar memposisikan diri. Saya belajar menjadi dewasa.

Tahun 2006 memberi begitu banyak kesan buat saya. Tapi mungkin pelajaran paling berharga dari semuanya adalah, saya belajar melihat dengan mata yang bijaksana. Menyesali diri dan berkubang dalam kekecewaan adalah hal yang biasa. Tapi yang menjadikan kita luar biasa adalah pengambilan keputusan untuk bangkit dari keterpurukan itu. Tidak kabur dari kenyataan, melainkan menerima dengan hati berserah dan bibir tersenyum. Tidak terjebak untuk mengasihani diri sendiri, melainkan berdamai dengannya, dan belajar mencintai hidup apa adanya sebagai anugerah terbesar yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita. Tidak terpaku pada kesalahan maupun kegagalan, melainkan menikmati setiap proses berikut ‘ups & downs’nya dengan jiwa yang besar. Tidak terpesona dengan keberhasilan, namun memandangnya sebagai berkah yang patut disyukuri dan senantiasa ‘dikembalikan’ kepada Si Pemberi Berkat.

Saya percaya tahun 2007 akan sekali lagi memberikan banyak hal –maupun kesan- mendalam bagi kita. Akan ada proses. Akan ada ‘ups & downs’. Akan ada kerja keras, dan mungkin juga airmata. Tapi di balik itu semua, saya yakin keberhasilan dan kebahagiaan sudah menunggu, seperti pelangi menanti kemunculannya seusai hujan.

Jangan takut dengan kerja keras. Jangan pernah menyerah dengan kegagalan. Jangan pernah putus asa. Jangan takut untuk bangkit dan mencoba lagi. Kalau terjatuh, angkat dagu tinggi-tinggi dan tersenyumlah. Sambil berdiri, mungkin enggak ada salahnya sekali-sekali bilang, “ga pa-pa-pa-pa!” kayak Alex.
Trust me, it’s comforting :)

2 comments:

a white lily said...

pas aku baca kayaknya ngena banget.hehehe.thanks jen for this good post.take care and GBU.

debora said...

nice one..
keep inspiring many people with ur blog yo..