Saturday, July 12, 2008

Bintang yang Senantiasa Bersinar

Punya sahabat itu… gokil, Jendral.

;-)

Minggu lalu, handphone saya berdering ketika saya sibuk mengutak-atik laptop, (sok) menyibukkan diri supaya pikiran teralihkan *baca: nggak kebablasan mikir yang macem-macem* karena belakangan ini saya sering mumet jaya menghadapi persoalan yang cukup berat dan kompleks - lebih ribet dari benang kusut basah.

Telepon tak terduga itu berasal dari seorang sahabat. Saya tak menyangka ia akan menelepon, karena setahu saya ia sedang sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti ujian farmasi (dimana ujian dilaksanakan dalam 3 tahap dengan sistem gugur – yang agak mengingatkan pada kontes-kontes pemilihan idola Indonesia *wink*). Kebanyakan mahasiswa yang menempuh ujian ini sudah menyiapkan diri sejak setahun sebelumnya (!), tapi ia belum melakukan persiapan apa-apa karena kegiatan yang superpadat.

Selain kerja praktek di Rumah Sakit, ia juga memimpin kepanitiaan dari sebuah konferensi internasional, plus mengemban tanggung jawab penting di organisasi mahasiswa internasional (baca: mbenahin segudang masalah-njelimet-ruwet-edan dengan bonus begadang setiap hari).

Saya pernah menemaninya bekerja menjelang akhir pekan, memperhatikannya berkutat dengan laptop sampai lewat tengah malam untuk menjawab e-mail-e-mail dengan subyek yang bikin kening berlipat-lipat (beda banget dengan e-mail saya yang isinya obrolan-obrolan nggak penting via milis dan joke garing ‘Humor di Tempat Kerja’ ;-D), meeting via messenger dan sebagainya, sementara sejak pagi ia sudah sibuk di Rumah Sakit.

Sepanjang malam handphonenya terus-terusan berbunyi. Sempat tergoda juga untuk mencelupkan HP-nya ke dalam gelas - baru kali ini saya mendengar telepon sesering itu dalam waktu yang tidak lazim untuk menelepon. Ternyata dampaknya buruk untuk kesehatan jiwa, karena bikin senewen. ;-D Jam 12 malam nelepon untuk meeting? Gila kali. I mean, for God’s sake, she is 23, not 32. Tapi, menurutnya, memang itulah ‘makanan’nya sehari-hari.

"Ini masih mending. Waktu di Belanda, tahun lalu, gue sering tidur 2 jam semalem. Atau, malah nggak tidur samasekali," cetusnya.

Ketika kami (akhirnya) naik ke tempat tidur, saya berkomentar, “Kerjaan lo serem.”

Ia hanya tertawa. “Udah banyak yang bilang begitu,” jawabnya simpel.

Namun, lepas dari kesibukan yang segudang, ia tetap menyempatkan diri untuk menelepon dan menanyakan kabar saya, serta masalah yang sempat saya ceritakan dalam konversasi terakhir kami di rumahnya.

Meski cukup lama bersahabat, saya sering enggan merepotkannya dengan masalah saya, mengingat segala aktivitasnya yang menuntut energi dan fokus penuh. Tapi ia tak menutup telepon. Ia di sana, mendengarkan. Dan akhirnya isi perut saya berhamburan juga. Ia tetap mendengarkan.

Sorry jadi curhat-curhat gini,” gumam saya, agak malu karena merasa ‘salah tempat’ – curhat pada orang supersibuk, “padahal lo banyak kerjaan.”

Ia tertawa kecil. “Untuk yang kayak gini, gue bakal selalu ada.”

Tiba-tiba saya teringat pada kejadian setahun lalu, ketika ia menelepon untuk curhat dan menangis karena masalah keluarga. Waktu itu, saya mendengarkannya sambil pelan-pelan (berusaha) menenangkan. Kini, lucunya, tiba giliran saya. Bedanya, ketika ia menangis, saya mendengarkan dalam kondisi santai, tidak sedang ngapa-ngapain. Ketika saya curhat, ia sedang menghadapi timbunan tugas, masalah, serta deadline. Dan ujian itu...

“Lo kan belum belajar? Ntar gue ganggu.”

Lagi-lagi ia tertawa. “Gue akan selalu ada kalau buat elo. Lo udah kayak keluarga gue, dan gue nggak akan ‘menghilang’ untuk hal-hal seperti ini. Kapanpun.”

Beberapa hari kemudian, kami kembali bersua, kali ini di kanal maya. Usai berbincang ngalor-ngidul –mulai dari lagu-lagu keren paporit, youtube sampai diskusi basi tentang film Fitna- saya pamit untuk sign-out, sekaligus mengucapkan terima kasih atas telepon dadakannya beberapa hari lalu.

Hening sejenak, lalu kalimat ini muncul di baris terbawah percakapan virtual kami:

“I'm always ready for you anytime.”

Mendadak, saya seperti menemukan bintang di langit pekat.

:-)

-----

Malam ini, saya kembali melihat ke atas. Ke langit yang belakangan ini selalu gelap, nyaris gulita.

Ah, itu dia.

Setitik cahaya -kecil, namun nyata- bersinar di sana. Menyapa ramah, hangat, membuat kegelapan di sekitarnya sedikit bias.

Saya menajamkan penglihatan, ingin melihat lebih jelas.

Lalu, cahaya mungil lain mulai menampakkan diri, tersenyum malu-malu. Berkelip terang, seakan mengacungkan jari, “Aku di sini.”

Lalu muncul kerlip ketiga, mengedip jenaka. Disusul yang keempat. Kelima. Dan seterusnya.

Kemudian saya sadar. Di sekeliling saya ada banyak bintang. Tak hanya satu. Tak cuma segelintir. Dan mereka terus bercahaya.

Bintang-bintang itu selalu ada di sana. Tak pernah berhenti bersinar meski saya mengalihkan perhatian. Mereka ada, sepanjang malam, di langit terkelam sekalipun. Bersinar dalam kegelapan yang paling pekat. Menemani tanpa pernah pudar.

Saya tidak suka kegelapan, kecuali saat mematikan lampu semenit menjelang tidur. Kegelapan selalu memberi kesan mencekam dan membatasi jarak pandang. Saya bertekad kalau punya rumah sendiri nanti, setiap ruangan harus terang-benderang. Nggak ada cerita lampu temaram. I even hate the idea of ‘cozy, romantic date’ with dim light. ;-)

Namun kali ini, khusus kali ini, saya tak keberatan menghadapi gelap. :-)

Gelap itu masih mencekam. Menyesakkan. Menakutkan, karena saya tak bisa melihat jauh ke depan. Membuat saya bertanya-tanya, ada apa di depan sana, dan seperti apa perjalanan saya nantinya. Namun kegelapan yang sama, entah mengapa, kini tak terlalu ingin saya hindari...

...karena kegelapan itu membuat saya bisa melihat bintang-bintang yang senantiasa bersinar. :-)


When you're down and troubled
And you need some loving care
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

If the sky above you
Grows dark and full of clouds
And that old north wind begins to blow
Keep your head together
And call my name out loud
Soon you'll hear me knocking at your door

Ain't it good to know that you've got a friend
When people can be so cold
They'll hurt you, and desert you
And take your soul if you let them
Oh, but don't you let them

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

(You’ve Got a Friend – Salena Jones)

1 comment:

Audrey said...

True friends are those who never leaves you at time of trouble....and I'm glad that I have a friend like you - even you are more than a friend to me, a SISTER... Selalu semangat Jenny. Btw, lihat ID YM and MSN gua? "There is Solution for Every Problem"
and I believe it sooo much.....