Thursday, August 27, 2009

Cambuk

Dalam perjalanan, aku melihat seorang lelaki menyeret keluar sesosok makhluk dari dalam kandang. Keempat kakinya dirantai, sehingga pendek-pendek langkahnya. Makhluk itu besar dan tampak kuat, namun sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Darah merembes dan mengering di bulu-bulunya, menciptakan duri-duri kecil yang lengket.

Aku tidak berani mendekat. Dia tampak menyedihkan. Luka-lukanya seperti tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh. Makhluk itu memandangku, menyadari kehadiranku. Aku mendapati diriku mundur selangkah dan mengambil ancang-ancang untuk lari. Namun ia hanya memandangiku sesaat, sebelum meraung keras.

Aku terkesiap. Belum lagi hilang kagetku, setitik darah jatuh di punggung tanganku. Lelaki itu baru saja menciptakan luka baru di tubuhnya. Cambuk itu kini bernoda darah.

Aku gemetar. Cambuk apa yang bisa melukai separah itu?

“Hentikan.” Susah payah aku bicara.

Lelaki itu bahkan tidak menoleh. “Dia harus dihukum. Dia telah gagal.”

Cambuk kembali mendarat dengan bunyi ‘plak’ keras. Bulu romaku bangkit ketika makhluk itu kembali meraung.

“Kau menyiksanya!” Aku memekik.

“Tidak,” lelaki itu menjawab tenang, “Aku melatihnya. Setiap cambukan mengajarinya sesuatu. Setiap cambukan membuatnya bertambah kuat. Setiap cambukan akan membuatnya berterima kasih padaku kelak.”

Ia pasti melihat kedua tanganku mengepal, karena ia memberiku isyarat untuk mendekat.
“Kemari dan lihatlah sendiri. Dia bertambah kuat.”

Aku menggerakkan kakiku yang gemetar. Menghampiri makhluk yang kini berdiri tidak bergerak. Mengamati darah yang menetes-netes dari luka barunya.

Si lelaki mengacungkan cambuknya, menunjuk garis merah tua di punggung makhluk itu. Bilur yang baru akan sembuh.

“Setiap luka menciptakan parut tebal yang melindungi dirinya dari serangan badai, cuaca dingin, sengatan matahari, dan cakar makhluk lain. Kau lihat, aku melakukan yang terbaik untuknya.”

“Kau gila.”

“Tidak,” lelaki itu tersenyum menatapku, “Aku tahu yang kulakukan. Mungkin kau harus belajar dariku, Anak Muda.”

Aku tidak mengindahkan kata-katanya. Kutelusuri bulu-bulu kasar makhluk itu dengan telapak tangan. Kusentuh darah lengket yang menyatukan bulu-bulunya, merasakan cairan hangat yang amis mengalir melalui jari-jariku.

Aku bergerak maju. Mendekati kepala makhluk itu. Ia bergeming. Hanya sepasang mata kuningnya menatapku lekat. Mata kami bertemu.

Aku terhenyak.

Aku menjerit.

Aku meraung.

Kesadaranku lumpuh. Tungkai kakiku kehilangan kemampuan menopang. Aku terbanting ke tanah. Debu beterbangan. Sakit yang hebat menderaku sampai ke sum-sum.

Aku mengerang.

Aku meronta.

Aku merintih.

Hewan itu bergeming.

Ia tidak melakukan apa pun. Hanya sepasang mata kuningnya menatapku lekat.

Ketika pandangan kami bertemu, ketika matanya menyambut mataku, aku tahu,

Akulah makhluk itu.

*****

Maafkan saya, Jenny, atas penderitaan yang saya timbulkan karena menuntutmu untuk

sempurna
cerdas
bijaksana
terstruktur
manis
berbakti
mendedikasikan hidup
tunduk
taat
patuh
normal
menjadi 'baik-baik saja'
berpasangan di usia sekian
memiliki kondisi hidup tertentu
memiliki suasana hati tertentu
memiliki sekian rupiah
menyenangkan orang lain
bersimpati pada penderitaan orang
bersukacita atas kebahagiaan orang
bertahan pada satu titik spiritual
terus mengalami peningkatan
terus menulis
kreatif
eksis/dikenal
sehat
dicintai
diprioritaskan
diterima
dihargai
menjaga perasaan orang
setia pada norma sosial
jadi juara
meneladani orang lain
meredam emosi
bertindak hati-hati
meyakini sesuatu
setia
berperforma maksimal
bekerja keras
memiliki keluarga ‘normal’
menjadi sama dengan orang lain
meraih mimpi
menguasai konsep spiritual tertentu
berbuat baik
beramal
tersenyum
tertawa
berbasa-basi
merasa aman
percaya diri
teratur
bersih
rapi
mendapat pencerahan
merasa lega
merasa nyaman
berhemat
diperhatikan
diperlakukan istimewa
diberi
dipuji
diperlakukan baik
menolong
menyelamatkan
bertanggung jawab
berbuat sesuatu demi orang lain
tidak merepotkan orang lain
tidak mengatakan ‘tidak’
mencapai target
tidak melekat dengan apa pun
berwawasan luas
bersosialisasi
berdisiplin
bahagia
benar
dewasa
bersikap sopan
menjaga sikap
berlaku adil
berkorban
menyukai orang lain
melepas ekspektasi
menemukan jalan keluar
memecahkan masalah
sembuh
lebih banyak memberi
mencapai sesuatu
berhasil/sukses
kuat
tidak menangis
produktif
rajin
tekun
pantang menyerah
bebas konflik batin
bebas masalah
meringankan beban orang lain
menerima apa adanya
bertumbuh
mencari nafkah
memiliki status sosial tertentu
ikhlas
pasrah
menjadi anak yang dibanggakan
menjadi kakak teladan
menjadi teman yang baik
menjadi pekerja yang budiman
menjadi penulis yang menginspirasi
menemukan cinta
memiliki semangat
membalas budi
menjalani rutinitas
memprioritaskan orang lain
sependapat
stabil
bertenggang rasa
menepati janji
tidak berubah
konsisten
sembuh
waras
masuk akal

...dan banyak lagi.

Maaf atas segala luka yang saya timbulkan ketika saya mengharuskanmu menjadi seperti yang saya inginkan. Maafkan saya karena telah menderamu. Maafkan saya karena berpikir tahu yang terbaik bagimu, sedang kamu sudah begitu lama kesakitan.

Maafkan saya karena tidak menghapus airmatamu saat kamu mengaduh dan mengeluh. Maaf atas segala persyaratan yang saya tetapkan hanya untuk bisa menerimamu. Maaf karena telah mencintaimu dengan segudang harap dan pinta.

Beri saya kesempatan untuk mencintaimu lagi. Kali ini apa adanya.

Dengan penuh cinta,



Dirimu Sendiri

-----

12 comments:

Nugdha Achadie said...

Hi Jen,

Sebuah perenungan diri yang dalam, yang sanggup membuka mata hati kita untuk menerima dan menyayangi diri sendiri apa adanya.

Dengan menerima dan menyayangi diri sendiri apa adanya, maka kita akan berkesempatan untuk mencicipi bagaimana nikmatnya menerima dan menyayangi orang dan makhluk lain apa adanya, tanpa syarat.

Semoga tulisan Jenny ini bisa menjadi "pengingat" bagi kita semua.

Have a blessed moment :)

Nugdha

Denta Felli Ananda said...

Kadang kita sering nggak sadar, harapan baik kita untuk orang lain justru menyakii mereka... Karena menerima orang lain dan mencintai mereka sebagaimana mereka apa adanya....nggak semua orang bisa. Salut Jen...

inspiring , as always.

ezra said...

nice work, j.
*membayangkan jj memutar bolamata ke arah dalam*

word verification:
capalang..
sdh capalang basah, ya sdh mandi sekalian.
hoho..

Natalia said...

huahhh...
ga bisa berkata-kata!
perenungan yg sgt dalam!
niceee.. ^^

-maynot- said...

Very nice writing!

Jujur, Jen, dari sekian banyak tulisan loe yang udah gw baca, tulisan ini adalah yang gw rasa paling "dalem". Paling "mencambuki" perasaan gw :)

Bahkan lebih "dalem" daripada ketika loe bicara dengan segala mumbo jumbo teknik meditasi itu :)

Jenny Jusuf said...

Nugdha: Terima kasih sudah mampir, Mas. It's such a long journey, isn't it? :-)

Ezra: verifikasi kali ini: comagg. Kalo puasa paling bagus minum Comagg, untuk mencegah sakit maag.

Jeung May: sama, gue juga pas nulis berasa kesilet2 sendiri :-D BTW, the funny thing about the mumbo jumbos is I actually forget them after a while. Dan abis itu adaaa aja yang ngingetin, "Kamu kan pernah nulis gini..." *garukgaruk*

okke said...

hey, like this, so much :)
nampol bok.

maya sitorus said...

rasanya sangat senang bila kita diterima apa adanya ,,,,

Kabasaran Soultan said...

Tanpa sadar kita memang sering sekali menyakiti diri sendiri dengan segala harus, dengan segala mesti, dengan segala ideal yang seringnya bukan ditentukan oleh diri.
Duh diri sampai kapan selalu menganiaya diri ( sendiri ).
kebudayaan memang sedang menggiring kita kepada keadaan yang cenderung membunuh kita dengan cambuk-cambuk ideal ( baca pelan-pelan )

CJ said...

Bukankah justru karena mencambuk diri maka kita bisa maju? Bukankah karena luka itu yang membuat kita bisa menjadi lebih dewasa?

luphz said...

mantap.

wongiseng said...

Menyesal baru menemukan blog ini sekarang bukannya dari dulu.