Saturday, May 26, 2007

Geeling Fuilty*

Semua orang yang kenal dekat dengan saya pasti tahu, saya ini biangnya ceroboh dan sering melakukan hal-hal clumsy. I’m like, queen of silly things.
Meski begitu, secara saya termasuk orang yang cuek-sebodoh-amat, saya justru menganggap hal-hal tolol tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Dan kata orang, sih, ‘kemampuan’ menertawakan diri sendiri itu justru bagus, karena menunjukkan rasa percaya diri yang sehat (bener nggak, sih?).

Sampai kemarin siang, ketika saya ngobrol dengan seorang teman dan menceritakan sebuah kekonyolan yang tanpa sengaja saya lakukan beberapa menit berselang.

Saya menertawakan kebodohan saya itu.
Teman saya menatap saya dengan pandangan yang susah diartikan dan berujar, ”It wasn’t funny. It was painful.
Saya bengong, nggak mudeng. Apanya yang ‘painful’?
“Rasanya nggak enak, kan? Ngelakuin hal-hal kayak gitu pasti bikin kesel sama diri sendiri, toh?” Ia meneruskan, blah blah blahh

Saya diam.
Kalimatnya itu jadi membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri: Emang iya, ya? Gue ngerasa kesel sama diri sendiri gituh? Was it painful?

Dan jawabannya… Nggak, kok!

Really, I found those clumsy things rather funny.
Bukan karena saya badut pelawak yang kerjaannya mbikin orang ketawa, tapi karena… well, apa, ya? Susah dijelaskan. Yang pasti, saya tidak terlalu ambil pusing dengan segala ‘kebodohan’ yang saya lakukan, seperti: salah masuk mobil orang, tidak sengaja membawa kunci rumah teman (di luar kota!), lupa menautkan tali helm yang saya pakai hingga benda itu melayang dan hancur terlindas mobil, tergesa-gesa menutup pintu angkot sampai kaki saya terjepit, dan banyak lagi.

Tapi, merasa bersalah nggak? Ya iyalah, pasti.
Saya selalu merasa bersalah jika ada orang yang dirugikan akibat kekeliruan saya. Saya merasa bersalah pada orang-orang di dalam mobil yang shocked berat lantaran saya nyelonong membuka pintu tanpa permisi. Saya merasa bersalah pada teman saya dan keluarganya, karena mereka tidak bisa ganti sepatu selama 2 hari akibat kuncinya saya bawa. Saya merasa bersalah karena telah menyebabkan helm teman saya hancur.

Tapi setelah semuanya berlalu, ya sudah.
Saya menyesal, saya minta maaf, bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama, and that’s it.
Saya tidak pernah berpikir seperti yang diucapkan teman saya itu, sampai saya mendengarnya kemarin siang.

Iseng, saya mengambil handphone dan mengirim pesan pendek secara masal:
Clumsy ada obatnya nggak, sih? Anyone? :D

Pesan terkirim.
Selama menunggu balasan, saya jadi gelisah sendiri -- entah kenapa. Perkataan teman saya terus terngiang-ngiang, membuat saya tidak enak hati. Padahal sebelumnya saya baik-baik saja.
Dan saya jadi mulai mempertanyakan, ini yang ‘nggak pas’ sebenernya persepsi saya, atau dia?

“Rasanya nggak enak, kan?”
--> Hmmm, ya, kadang-kadang memang membuat saya berpikir, “Duh, dasar clumsy..”

Tapi…

“Ngelakuin hal-hal kayak gitu pasti bikin kesel sama diri sendiri, toh?”
--> Well, sometimes… tapi setelahnya ya sudah. Saya justru bisa tertawa.

It wasn’t funny. It was painful.”
--> Nggak, ah.

And it wasn’t a denial. I really love myself for who and what I am.
Kesalahan konyol yang saya lakukan tidak sampai membuat saya berlarut dalam penyesalan. Lagipula, buat apa?

Saya percaya rasa bersalah adalah sesuatu yang baik, yang bersumber dari kesadaran (dan keinginan) untuk melakukan apa yang benar. Rasa bersalah adalah rambu yang akan menjagai dan memberikan sinyal agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Rasa bersalah adalah tanda bahwa hati kecil ini masih mampu berbisik, mengingatkan dan menegur. Bahwa nurani ini masih terus terjaga.

Yang diperlukan hanya kebesaran hati untuk mengakui dan menerima apa yang telah terjadi (lengkap dengan segala konsekuensinya), dan berpaling dari kesalahan itu. Memperbarui diri dengan segenap kesungguhan, dan terus menjelang hidup dengan berani. Tidak berkubang dalam 'why oh why gue begini, begitu, blablabla', namun bertekad untuk jadi lebih bijaksana dan menyongsong hari dengan kekuatan yang baru. Kekuatan yang membuat kita bisa terus tersenyum, bahkan di tengah kegagalan dan airmata.

Tapi kalau salah lagi gimana?
Kalau kejeblos lagi gimana?!

Selama matahari masih bersinar, selama pagi terus menjelang dan selama masih ada nafas di tubuh kita; yakinlah, akan selalu ada kesempatan baru. :)

As for clumsy little mistakes, akhirnya saya memilih untuk ngutip Gus Dur: Gitu aja kok repot!! :DD
*sama dengan: Juk jerus, tambel serasi, ngurak bas… ngikuttt yaks, Mbak! :D

Friday, May 18, 2007

'Cantik' Itu Apa?

Kemarin siang, dalam perjalanan ke toilet dari ruang seminar di sebuah mall, saya melihat pemandangan mengerikan.

Okay, hiperbola. Bukan pemandangan seram ala Hantu Jeruk Purut atau Suster Ngesot, melainkan (hanya) lomba fashion show anak-anak.

Tapi baju-bajunya dong booooo…

Kebanyakan mengenakan busana model bikini (yeppp, hanya menutupi dada dan bagian bawahnya paling panjang sepaha) berwarna mencolok (merang terang, kuning cerah, hijau ngejreng) dengan pengikat berupa spaghetti strap di punggung. Make-up mereka pun abnormal untuk ukuran anak usia 8-12 tahun, karena tidak jauh beda dari yang sering saya lihat di wajah-wajah penerima tamu pada resepsi pernikahan (kenapa, ya, penerima tamu selalu dirias secara berlebihan?) dengan warna yang lebih mendekati putih-pink (hasil sapuan foundation, bedak dan blush on) ketimbang warna kulit normal layaknya.

Seakan itu semua belum cukup menyebabkan halusinasi penglihatan, model-model cilik ini bergaya sensual dan meliuk-liukkan tubuh di atas panggung, dalam kilatan blitz kamera para orangtua yang bangga. Sejujurnya, saya malah gerah.

Saya tidak anti dengan lomba peragaan busana, kegiatan modeling, pemilihan Miss Universe, atau apapun. Ketika heboh-heboh RUU APP saya nggak ikutan ribut, pun saat Mbak Inul dicerca orang sejagat raya gara-gara goyang ngebornya yang bombastis. Saya tidak peduli dengan semua itu, dan selalu berprinsip ada banyak hal di dunia ini yang lebih penting untuk diributkan dan dipusingkan.

Tapi, ketika melihat anak-anak kecil itu berjalan di panggung dengan gaya sensual yang over-PeDe, mendadak saya jengah.

Mereka terlalu polos untuk bergaya setua itu. Kostum yang melekat di tubuh mereka seharusnya pakaian yang cocok dipakai bermain tanpa perlu takut kotor, bukannya spaghetti strap bikini dengan aksen bulu-bulu yang memamerkan tubuh dan membuat masuk angin (plus terlihat seperti -maaf- pudel). Alas kaki mereka seharusnya sandal/sepatu yang nyaman, bukannya boots setinggi lutut berwarna metalik. Wajah-wajah itu seharusnya tertawa riang, ceria apa adanya tanpa senyum genit yang dibuat-buat. Mata-mata itu seharusnya bersinar gembira sewajarnya seorang bocah, bukannya menatapi penampilan saingan-saingan mereka dengan cemas campur sirik.

Siapapun yang menang dalam lomba itu akan membawa pulang piala simbol kebanggaan yang semu maknanya. Kemenangan itu hanya diukur dari seberapa piawai si bocah berjalan meliuk di panggung dan seberapa heboh busana yang dikenakannya; tidak lebih.

Sisanya, yang kalah, mungkin akan menangis dan menghabiskan beberapa jam (atau hari) untuk berpikir, kok dia yang menang? Kenapa bukan aku? Bajuku kurang dimananya? Gayaku kurang apanya?
Atau lebih buruk, aku nggak cantik, ya? Makanya nggak menang.

Okay, ini memang imajinasi saya semata. Tapi sepertinya tidak terlalu muluk untuk jadi realita, kan?

Dan kalau memang itu yang terjadi, konsep apakah yang (selanjutnya) akan terbentuk di otak anak-anak ini tentang ‘kriteria’ sebuah penerimaan, kesuksesan dan standar cantik masa kini?

Apa yang terjadi 20 tahun dari sekarang, kalau hare gene bocah-bocah sekecil ini sudah ‘dicekoki’ paham bahwa apa yang tampak secara lahiriah-lah yang menentukan ‘kelayakan’ mereka untuk diterima dan dianggap berhasil?

Apa yang akan terbentuk?
Generasi yang hedonis, konsumtif, insecure dan self-centered dengan kadar humanisme yang rendah? Semoga tidak.

Kalaupun iya, jangan salahkan mereka. Mereka mewarisinya dari kita, sadar atau tidak.

Saturday, May 12, 2007

Finding Finest Match c'',)

Beberapa hari lalu saya bertandang *halah* ke rumah 2 orang sahabat –sepasang suami istri- dan ngobrol-ngobrol santai sambil menikmati sup daging ‘khas Bandung’ (entah dimana khasnya, pokoknya begitulah, hehe).

Ya, akhirnya saya mengakui bahwa saya ini ternyata orang yang bawel (halo, djeng :DD), karena percakapan ringan di meja makan yang tadinya hanya berkisar ‘cuaca kok panas banget ya hari ini?’ secara ajaib berubah menjadi diskusi panjang-lebar mengenai kehidupan pernikahan. Jauh ya, bo. :) Entah bagaimana, yang jelas saya jadi menyadari bahwa saya memang cerewet, haha! Maklum, kodrat wanita (halah! Nyalahin kodrat).

Sahabat saya bercerita, ia sering terlibat percakapan dengan sesama ibu muda saat sedang menunggui anak-anaknya di sekolah. Yang menarik perhatian saya adalah celetukannya, “Kalo denger yang lain pada ngobrol tentang keluarga masing-masing, urang teh suka bingung, kok ceritanya pada kayak Cosmo(politan) ya? Permasalahannya ada-adaaa aja, persis di majalah. Tapi perasaan kok kita adem-ayem aja ya Pi, nggak ada kasus yang aneh-aneh…”

Selanjutnya, topik berkembang menjadi ‘betapa pentingnya membangun sebuah fondasi dalam kehidupan pernikahan’ – sedemikian rupa, sampai ketika kita masuk ke dalamnya, pernikahan yang ada akan menjadi kokoh dan terbentengi dari segala bentuk perpecahan (shaelah!).

Bukan berarti tidak ada konflik atau perbedaan lho, ya; itu mah nggak riil. Yang namanya menikah adalah mempersatukan 2 orang yang berbeda. Pasti akan ada friksi. Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana mempertemukan perbedaan (prinsip, nilai hidup, perspektif, de-es-be) tersebut dan mengambil keputusan yang terbaik bagi masing-masing pihak.

Saya pikir, inilah pentingnya berpasangan dengan orang yang seiman (yang sering kali ditentang sebagian orang). Saya nggak bermasalah dengan mereka yang tidak menyetujui pemikiran tersebut, hanya saja, saya berpendapat, keyakinan yang sama dalam hal iman dapat dijadikan acuan untuk mempertemukan 2 pemikiran yang berbeda di tengah-tengah dan memakainya sebagai tolok ukur keseimbangan sebuah pengambilan keputusan, sehingga pilihan yang dihasilkan dapat membawa kebaikan bagi masing-masing pihak. Tidak ada yang merasa dirugikan, tidak ada yang merasa dikalahkan, juga tidak ada yang merasa disalahkan, karena pengambilan keputusan itu jelas dasarnya dan ‘sah hukumnya’ – ya berdasarkan kesamaan iman itu.

First off, salah dua ‘kriteria’ yang -menurut saya- dibutuhkan untuk menjalani hubungan yang serius (kalau masih dalam taraf main-main atau ‘for fun’ ya nggak masyalah, bebasss.. =D) adalah adanya kematangan dan kedewasaan dari masing-masing pihak. Dan 2 hal ini tidak serta-merta didapat dari usia yang terus bertambah. Usia sangat menentukan banyaknya asam-garam yang telah dicicipi seseorang, tapi tidak bisa dijadikan patokan dalam menilai kedewasaan seseorang.

Berdasarkan pemikiran saya pribadi, ada 3 hal yang bisa dipakai untuk mengukur seberapa matang/dewasa pasangan kita (dan kita sendiri, tentunya!). Perlu diingat lho, entry ini tidak bertujuan untuk dipakai meneropong kelemahan dan kekurangan calon pasangan. Saran saya, pakailah untuk menilik keberadaan kita lebih dahulu, sebelum menujukan pandangan ke orang lain. Halah, jadi panjang. Menang betul saya ini bawel, ya. :) Anywaaaay, balik lagi, 3 hal yang dapat dijadikan tolok ukur dalam menilik tingkat kedewasaan seseorang adalah: cara kita meresponi suatu masalah, cara kita menanggulangi sebuah tantangan dan cara kita bereaksi dalam menghadapi sesuatu yang buruk.

Yep, it’s all about how you respond. Bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, bukan seberapa banyak pengalaman yang kita punya, bukan seberapa cerdas kita dalam menganalisa sesuatu, bukan seberapa pintar kita melihat akar masalah, namun seberapa baik respon yang kita tunjukkan saat menghadapi sesuatu. Dan biasanya hal ini baru sungguh-sungguh terlihat saat seseorang ada di bawah pressure maupun masalah yang berat.

Saya selalu percaya, ‘tekanan’ dapat memunculkan keaslian seseorang -- lepas dari apapun yang kelihatan secara lahiriah. Sebongkah batubara akan muncul sebagai berlian ketika selesai melewati proses yang panjang dan berat. Sebentuk cincin emas, walaupun dibuang (maaf) ke kotoran babi dan diinjak-injak, tetaplah emas. Kualitasnya tidak akan berubah. Tekanan yang kita alami akan menentukan, kita ini emas betulan atau sekedar perhiasan imitasi. Sama, dalam hal memilih pasangan. Jangan nilai seseorang dari seberapa fasih dia merayu sambil ngegombal, dan jangan lihat dari seberapa cepat dia mampu menaklukkan hati kita dengan rangkaian kata-kata menyentuh hati. Itu semua tidak menjamin, trust me. Justru Anda harus ‘alert’ kalau ada orang yang terlampau menggebu-gebu menyatakan cinta dalam berbagai bentuk gesture. Bisa jadi ‘pengalaman’nya udah segudang, bo!

Secondly, saya menyebutnya dengan istilah memiliki hati yang lembut dan mau berubah (‘berubah’ di sini maksudnya ke arah yang positif lho, ya). Ini penting, bo. Seenggaknya, dengan patokan ini kita tidak akan mendapatkan (atau menjadi orang) yang kepala batu, egois dan mau menang sendiri. Seseorang yang lembut hatinya dapat dengan mudah membuka diri terhadap prinsip yang esensial, dan tidak sulit menerima perspektif baru (walau sudut pandang itu mungkin berbeda dengan apa yang dipercayainya selama ini). Secara otomatis penilaiannya akan jauh lebih objektif, dan caranya menyikapi suatu masalah (balik lagi ke respon, deh) akan jauh lebih bijak. Andai tidak setuju pun, orang yang lembut hati tidak akan main bantah atau bersikap seenak jidat. He/she is not a slonong kind of guy/woman (apa sih, Jen? =D). Hati yang lembut akan meminimalkan konflik dan luka dalam sebuah hubungan.

Please don’t get me wrong... Saya tidak bilang bahwa kita harus mengkompromikan segala sesuatu. Ada hal-hal tertentu dalam hidup yang tidak akan bisa dikompromikan, contohnya panggilan hidup (yang bisa sangat esensial bagi tiap-tiap orang, dan kalau nggak ada bisa bikin ‘mati’) dan idealisme. Yang mau saya tekankan, hati yang lembut dan mau berubah akan mengkondisikan kita untuk melihat segala sesuatu dengan objektif dan terbuka. Punya idealisme itu penting, tapi kalau sampai nyerempet saklek (dan kebablasan cupet), malah akan menimbulkan ranjau dalam sebuah hubungan. Dan jangan bilang, “Ah, tapi selama kita bisa saling menghormati, ya nggak masyalah kan, tetap jalan dengan prinsip sendiri-sendiri?” Pertanyaan selanjutnya, kalau di kemudian hari timbul masalah yang berkaitan dengan paham esensial tersebut, bagaimana mencari jalan keluarnya? Pertanyaan yang tidak kalah penting untuk persiapan hari tua, anak lo nanti mau diajarin ngikut prinsipnya siapa? Percayalah, cepat atau lambat pasti akan terjadi perang mulut, itu minimal.

Thirdly, lihat dan amati cara calon pasangan kita menjalin hubungan dan bersikap pada orang-orang terdekatnya (keluarga dan sahabat-sahabatnya). Kalau ia care dan sungguh-sungguh tulus menyayangi mereka, Anda aman. Kalau ia cuek bin acuh (bahkan cenderung kasar, manipulatif dan tidak menghargai) orang-orang terdekatnya, berhati-hatilah.

Sederhana saja. Sebagaimana ia memperlakukan mereka, seperti itulah ia akan memperlakukan Anda (vice versa. Kalau sekarang toh elo cinta mati sama dia, suatu saat nanti lo pasti akan memperlakukannya sama seperti memperlakukan orang-orang terdekat lo selama ini). Logikanya, kalau ia bersikap ‘kurang baik’ pada orang-orang yang seumur hidup dikenalnya (yang notabene merupakan bagian dari dirinya dan yang paling dekat dengannya), kenapa ia harus bersikap ‘lebih baik’ pada Anda yang baru memasuki kehidupannya selama sekian bulan – atau sekian tahun?

Saran saya, amati juga cara ia bergaul dengan sahabat-sahabatnya.
Heh, kemana aja lu? Anjing, baru keliatan sekarang!”
Cepat atau lambat, Anda akan menerima perlakuan yang (kurang-lebih) serupa. Dan percayalah, ketika hal itu terjadi dalam sebuah hubungan (or worse, marriage), rasanya akan menyakitkan. Baginya, itu tidak lebih dari panggilan akrab. Candaan semata. Buat Anda belum tentu, kan? Demikian pula sebaliknya.

Don’t get me wrong here. People can change, saya percaya itu. Saya tidak menyarankan Anda untuk bersikap ‘paranoid’. Hanya saja, jika Anda merasa tidak nyaman dengan kelakuannya, sebaiknya bicarakan dari awal. Jika titik tengahnya tidak ketemu, pertimbangkan ulang keputusan Anda untuk memilihnya -- kecuali jika Anda bersedia mengesampingkan faktor yang satu itu, tentunya. Kalau memang seperti itu, ya silakeun-silakeun saja diteruskan (permisif mode: ON). :)

Selanjutnya, jangan menjadikan hal-hal eksternal sebagai patokan dalam memilih pasangan. Saya tidak menentang pemilihan berdasarkan fisik. Percayalah, saya nggak akan menampik jika disodori brondong tampan, dan tidak akan menentang hubungan yang didasari pertimbangan secara fisik -- secara saya termasuk manusia berspesies Permisifus Bangetus yang mencintai para Brondongus Lucus, haha! (Nyontek istilahnya ya, jeng. ^_^) Tapi sekali lagi, menurut saya hal ini seyogianya tidak dijadikan acuan utama dalam sebuah hubungan yang serius -- yang dijalankan dengan kesungguhan. Pertimbangan kemapanan secara materi juga sebaiknya tidak dijadikan tolok ukur dalam menetapkan calon pasangan. Dan maaf, walau mungkin agak bikin gerah bagi beberapa orang, faktor latar belakang keluarga (maupun orang yang bersangkutan itu sendiri) tidak dapat dijadikan patokan untuk menilai keberadaannya secara utuh dan objektif. Jika kita mendasarkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang tampak secara lahiriah belaka, besar kemungkinan kita mengalami kekecewaan setelah menikah.

Saya memiliki seorang teman yang kehilangan kegadisannya pada usia 13 tahun, dan sejak itu tidak henti-hentinya ‘berpindah’ dari satu pria ke pria lainnya dan menyerahkan tubuhnya dengan alasan yang sangat sederhana, “Gue pengen diterima.” Bisa dibayangkan betapa ‘hancur’ kondisinya secara emosional, walau ia selalu bisa menutupinya dengan baik. Sekali waktu, ia bertemu seorang pria dan sungguh-sungguh jatuh cinta. Saya ingat betul kalimatnya yang diucapkan dengan mata berbinar-binar, “Dia sayang gue apa adanya, gue nggak perlu ngelakuin gituan cuma untuk diterima…” Ketika hubungan mereka mulai ‘menanjak’, teman saya memutuskan untuk bersikap jujur. Ia membuka masa lalunya yang kelam dan mengembalikan keputusan pada sang calon pasangan. Guess what? Si calon pasangan tidak keberatan. Sebaliknya, ia membantu teman saya melalui masa-masa sukar di mana ia bergumul dengan trauma, konflik batin, dan gejolak emosi yang naik-turun bagaikan rollercoaster. Tidak lama kemudian, pria baik hati itu melamarnya. Mereka menikah Juni 2006 lalu.

Kawan adik saya dengan teganya mengumbar kejelekan sang istri di depan teman-temannya. Istrinya adalah wanita yang sangat cantik, semua orang mengakui itu. Tapi tidak semua orang sadar bahwa zaman sekarang, apa sih yang nggak bisa ‘dibagusin’ dengan pertolongan make-up? Kawan adik saya terpikat pada kecantikan sang calon istri, dan entah bagaimana tidak pernah melihat wajah asli yang tersembunyi di balik lapisan foundation dan bedak itu… sampai malam pertama pernikahan mereka. Ia shocked mendapati wajah istrinya ‘berubah’ setelah make-upnya dicuci bersih. Entah karena kekecewaan yang besar atau emang dasarnya ‘jahat’, dengan teganya ia menyebarkan kisah malam pertama mereka pada teman-temannya disertai imbuhan, “Gila, taunya bini gua jelek banget!”

Saya cuma bisa geleng-geleng prihatin, kok ada ya suami yang tega membongkar kekurangan istri sendiri sampai sebegitunya? Tapi, apapun alasan di baliknya, saya yakin sumbernya sederhana saja: kecewa dan merasa ‘tertipu’. Kenapa bisa begitu? Karena ‘pengharapan’ sang suami hanya didasarkan pada apa yang kelihatan secara lahiriah. Ketika sang istri gagal memenuhi pengharapan tersebut dan keasliannya tersingkap, semua rasa cinta, kagum dan hormat (yang seharusnya ditujukan kepada si istri) serta-merta lenyap begitu saja.

Such things happened, ya know.

Studi kasus ketiga adalah sahabat saya yang lain. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan kondisi yang bisa dibilang minus. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana dan hanya memiliki sebuah tempat tidur, meja rias, dan karpet. Hanya itu. Mereka memilih tidak membeli barang menggunakan sistem kredit, melainkan menabung untuk ‘mencicil’ perabotan sedikit demi sedikit. Beberapa kali saya melihat dengan mata kepala sendiri, uang yang tersisa di dompet mereka tidak lebih dari selembar limapuluh ribuan. Bahkan pernah, bo, dua ribu perak! Biasanya, perempuan lah yang paling cerewet dalam hal-hal seperti ini, namun sahabat saya tidak pernah mengeluh. Dari mulutnya tidak pernah sedikitpun terlontar kata penyesalan, apalagi omelan. Baginya, inilah proses yang harus mereka lalui, dan ia bersedia menjalani porsi yang masih sedikit itu dengan sukacita. Beberapa tahun kemudian, sang istri hamil dan melahirkan. Bentuk tubuhnya berubah, dan karena memang dari sono-nya punya bakat gemuk, setelah melahirkan tubuhnya sulit kembali ke postur semula. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan selama itu pula sang istri ‘bergumul’ dengan rasa tidak percaya diri. Di saat-saat yang tidak mudah itu, dukungan terbesar datang dari suaminya yang tidak pernah menjadikan hal lahiriah sebagai bagian terpenting dalam kehidupan pernikahan.

‘Hal-hal lahiriah’ di sini juga termasuk perilaku dan pembawaan yang ditunjukkan selama masa pendekatan maupun proses penjajakan. Saat seseorang sudah kepalang cinta, ia akan rela melakukan ‘apa saja’ dan menjadi ‘siapa saja’ demi orang yang ia cintai. Persoalannya, hal-hal yang membuat mabuk kepayang itu sering kali tidak permanen dan ‘tidak riil’. Akibatnya, saat pernikahan betul2 dilangsungkan; saat kita mulai melihat pasangan kita dari dekat 24 jam sehari, barulah semua ‘penyamaran’ (pardon my words!) yang dilakukan salah satu pihak akan tersingkap dan kita dapat melihat diri pasangan kita seutuhnya -- demikian pula sebaliknya. Pada saat ini, seluruh sifat, perilaku dan keberadaannya yang sesungguhnya akan terlihat jelas, dan itulah yang menetukan apakah kita merasa bersyukur telah mendapatkannya, atau justru merasa ‘terjebak’ dalam penyesalan seumur hidup. Hal ini berpotensi menimbulkan luka baru, dan fondasi terkuat yang bisa dimiliki sebuah pernikahan –rasa saling mempercayai—dapat menjadi goyah karena salah satu pihak merasa ‘tertipu’ dengan keberadaan si pasangan yang ternyata tidak sesempurna yang dilihat/dialaminya selama masa-masa pacaran!

Last but not least, hal yang sering dianggap sepele tapi (sebetulnya) amat besar artinya:
Libatkan orangtua dalam pengambilan keputusan. Intuisi orangtua sangatlah penting dan dapat dipercaya. Kita-nya aja yang kadang-kadang songong karena merasa ‘lebih’ dari mereka. Padahal sejatinya, seorang Presiden sekalipun, ketika pulang ke rumah orangtuanya ya tetaplah kembali pada posisinya sebagai anak -- nothing more.

Walaupun orangtua kita (mungkin) tidak lebih pandai/terpelajar dari kita, mereka tetap memiliki segudang pengalaman dan telah merasakan pahit-manis kehidupan yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan pilihan. Dan kalau itu semua dirasa belum cukup, ingatlah, sebagai orangtua yang melahirkan, merawat dan membesarkan kita dengan segenap cinta dan pengorbanan, mereka memiliki naluri yang lebih tajam dibanding kita. Hormati mereka. Mintalah pendapat mereka, dan dengar apa yang mereka katakan.

Dengan melakukan ini, Anda juga akan membuat mereka merasa jadi orangtua paling bahagia sedunia. Percayalah.. :)

Izinkan saya menutup entry ini dengan definisi yang saya simpulkan secara pribadi:

'Mencari pasangan berbicara tentang menemukan orang yang dapat kita sebut sebagai ‘belahan jiwa’, yaitu seseorang yang akan dapat melengkapi dan menyempurnakan hidup kita, untuk kemudian mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan untuk menjalani kehidupan ini bersama-sama dan mencapai apa yang telah digariskan Sang Pencipta pada hari kita dilahirkan ke dunia – maksud, tujuan dan panggilan yang ditetapkanNya atas hidup kita masing-masing.'

I know, it’s easier said than done. Sebagai orang yang sejak dulu sampai kini masih masuk kategori Kejora (kelompok jomblo ceria), sejujurnya saya tidak berani cuap-cuap seakan sayalah yang paling benar. Setiap orang berhak punya persepsi, definisi dan pendapat sendiri, dan masing-masing bebas menentukan pilihan berdasarkan apa yang ia percayai. Saya hanya menawarkan alternatif berpikir dari apa yang saya anggap benar, dan semoga apa yang saya jabarkan ini bisa menolong kita dalam proses pencarian yang panjang… :)

Weleh, weleh… kok jadi dalem gini ya, bo? ;)
Ya suds… sampai ketemu di entry mengenai ‘proses menjalin hubungan (sampai ke tahap pranikah)’.


Terima kasih untuk para sahabat yang telah membuka diri dan mengizinkan saya
melihat realita sebuah hubungan (bahkan sampai ke jenjang pernikahan), dan
belajar daripadanya.

Tuesday, May 8, 2007

Buat Sahabat :)

Untuk SMS-SMS berisi salam kocak di pagi hari maupun ucapan tidur sederhana yang selalu berhasil menarik garis lengkung di bibir saya:
Terima kasih.

Untuk percakapan hangat hingga jam 4 pagi via telepon; jam 2:30 subuh di kasur yang nyaman; jam 3 dinihari sambil nonton TV yang menyiarkan acara-acara nggak jelas (siapa juga yang masih melek jam segitu?!):
Terima kasih.

Untuk obrolan santai di Starbucks, JCo, warung tenda pinggir jalan, mobil, kamar tidur, sofa ruang tamu, dan tempat-tempat lainnya:
Terima kasih.

Untuk lelucon-lelucon konyol yang selalu membuat kita ngakak bak orang gila: Terima kasih.

Untuk berbagi tawa saat kita bicara tentang ‘ngeceng’, ‘brondong lucu’, ‘kabur-kaburan’, dan saling mencela tanpa pernah memasukkannya ke hati:
Terima kasih.

Untuk celaan-celaan yang tabu di telinga yang lain, namun justru menjadikan kita lebih dekat dari saudara:
Terima kasih.

Untuk telinga yang selalu mendengar dengan sabar dan tak pernah menghakimi:
Terima kasih.

Untuk menceritakan rahasia-rahasia terdalam yang tak seorang pun selain kita yang tahu:
Terima kasih.

Untuk mempercayai saya dengan membuka diri dan mengizinkan saya melihat diri kalian apa adanya:
Terima kasih.

Untuk membuat saya merasa nyaman, diterima dan mampu menjadi diri sendiri tanpa perlu ‘berpura-pura’:
Terima kasih.

Untuk mengenal saya luar-dalam, lengkap dengan segala hal ‘ajaib’ yang tersembunyi dari tatapan orang lain dan tetap mengasihi saya seutuhnya:
Terima kasih.

Untuk setiap koreksi, kritik dan teguran atas kekurangan-kekurangan saya, dan tetap menghargai apapun keputusan saya:
Terima kasih.

Untuk tidak menuntut dan memaksa saya menjadi ‘seperti yang seharusnya’, namun memandang perbedaan yang ada sebagai warna yang menjadikan hidup lebih semarak:
Terima kasih.

Untuk mengulurkan tangan saat saya terjerembab dan menarik saya berdiri tanpa mengatakan “Tuh, apa gue bilang!”:
Terima kasih.

Untuk tidak mengizinkan perbedaan (suku, konsep pikir, sifat, selera, dan sebagainya) menciptakan jurang pemisah di antara kita:
Terima kasih.

Untuk mengizinkan saya menjadi diri sendiri dan menemukan separuh jiwa saya yang lain dalam diri kalian:
Terima kasih.

Untuk secercah kehangatan di sisi terdalam hati saya ketika mengingat kalian, dan untuk rasa syukur bahwa saya memiliki makna terindah dari persahabatan:
Terima kasih.

... untuk setiap senyum, airmata, tawa, senang, takut, dan khawatir yang kita bagi bersama:
Terima kasih.







Starbucks picture taken from: http://aishanatasha.multiply.com

Wednesday, May 2, 2007

Permisif!

Akhir Agustus lalu, seorang sahabat menelepon sambil menangis dan curhat urusan patah hatinya. Kami ngobrol sampai jam 4 pagi dan saya sempat ikutan mewek -- terenyuh dengan ceritanya. Sejak malam itu, hidup sahabat saya bagaikan roller coaster. Bukan cuma harus menanggulangi sakit hatinya; ia juga harus berurusan dengan gosip-gosip yang lumayan ‘sadis’ -secara ia orang yang cukup ‘dikenal’ di komunitas kami (terkutuklah kalian wahai para penggosip!)- dan menanggulangi tekanan dari berbagai pihak.

Di saat-saat seperti itu, banyak orang menghampirinya untuk memberi nasehat. Kebanyakan berupa kritik dan dorongan yang menuntutnya untuk bisa secepatnya keluar dari masalah tersebut.

'Harus begini, harus begitu. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Pokoknya jalani seperti ini, titik.'

Bukannya sembuh, sahabat saya justru makin tertekan. Kondisinya bertambah buruk bukan karena sakit hati saja, melainkan karena tuntutan-tuntutan yang dirasanya terlalu berat dan ‘sama sekali tidak mengerti kondisinya’.

Waktu sedang iseng, terlintas di benak saya untuk mengumpulkan SMS-SMS curhatnya dalam 1 folder khusus di handphone. Hanya dalam beberapa bulan, SMS yang terkumpul mencapai 500 lebih, dan call duration saya membentur angka 92 (jam!).

Sekali waktu ia bercerita, seorang kawan meneleponnya (cuma) untuk ngomel dengan nada tinggi. Alasannya, gemas dengan sikap sahabat saya yang dinilai kurang tegas. Level tuntutan itu rupanya sudah berubah. Bukan lagi sekedar saran, namun sudah menjadi ‘perintah’ -- yang kalau tidak dituruti, ya siap-siap aja mendapat omelan berikutnya.

Ini terjadi lebih dari sekali. Kawan yang sama juga beberapa kali menanyai saya perihal kondisi sahabat saya itu, sampai akhirnya saya jengah sendiri dan berbohong dengan mengatakan ‘tidak tahu’ (ya maab deeeh…) - daripada diinterogasi terus?! Kalaupun saya punya jawaban atas pertanyaan tersebut (dan emang punya sih, sebenernya.. *wink*), nggak mungkin kaleee saya membocorkan urusan pribadi sahabat sendiri!

Don’t get me wrong here. Kritik dan tuntutan tersebut tidak sepenuhnya salah. Saya percaya hal-hal ini muncul dari niat baik (dan tulus) orang-orang yang bersangkutan. Masalahnya, sahabat saya sedang berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan tidak siap dibombardir dengan berbagai hal yang terlampau berat.
Kasarnya, simpati yang dijalankan tanpa dibarengi empati.

Selama masa-masa sulit itu saya hanya bisa membantu semampunya. Saya memberikan advice secara ringan, yang sering kali saya ‘bungkus’ dalam candaan. Buat apa lagi menuntutnya macam-macam? Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia memiliki kehendak bebas untuk membuat keputusan demi kebaikannya sendiri. Tugas saya sebagai sahabat adalah mengingatkannya agar selalu memilih yang terbaik, menghormati keputusannya, mendukung dan mendoakannya; bukan ngomel maupun nuntut ini-itu yang akhirnya malah menambah barisan sakit hati.

Akhir Desember, saya menerima SMS berisi ucapan selamat natal darinya. Isinya sedikit out of topic, tapi cukup ampuh untuk membuat saya senyum-senyum terharu:
Met natal jen..jujur gw seneng bget pny temen yg ga jaim n ngertiin gw bnget..n btw thanks jg y buat smua waktu yg elo sediain buat gw waktu gw ada di titik terendah dalam hidup gw,n thanks buat pengertian yg elo ksih ktika lo ga nuntut gw tuk bgini n bgitu..thanks y jen..

Beberapa hari lalu, saya ngobrol via telepon dengan seorang teman (who seems to be my next best friend ^_^ hai, jeng!), dan ia melontarkan 1 istilah yang nempel di otak saya detik itu juga: Permisif.

“Gue mah orangnya permisif banget, apa-apa boleh!” Cetusnya.

Saya tergelak dan langsung merasa lega.

Ternyata masih ada juga orang yang permisif di dunia ini (baca: di lingkup pergaulan saya) -- yang tidak memandang tuntutan, perintah dan omelan sebagai hal terpenting yang harus segera dijatuhkan pada orang-orang yang ‘sedang berada di titik terendah’.

Percayalah, kadang yang mereka butuhkan bukan vonis, kritik pedas maupun teguran mentah-mentah. Yang mereka perlukan hanya telinga yang mendengar dan hati yang cukup luas untuk memberi arahan terbaik -- untuk kemudian mengembalikan keputusan ke tangan mereka, membiarkan mereka memilih dan menghormati (serta tetap menerima) mereka, apapun hasilnya.

Saya sendiri sudah mengalaminya.


‘Tuk djeng OP (eh, boleh nyebut nama gak sih?), thanks so much, yup… for being permissive!! :) Our conversation made me feel 'accepted' for who I am and it was sooo relieving. Thanks for helping me gain my confidence back! (dan kayaknya gue udah ketularan lo nih.. cari gara-gara –-plus cari ribut-- nulis beginian segala! ^_^)

Untuk para penuntut jaya (jika kalian membaca entry ini – walau saya berharap TIDAK), please, understand us. Give us some space. Kami bukan pemberontak, kok. Cuma segelintir orang yang pengen sekali-sekali bisa hidup ‘bebas’ tanpa dibebani urusan-urusan riweh… (dan please jangan bilang, “kalau gitu ngapain masih bareng-bareng kita?!”)

Last but not least, untuk pengunjung blog tercinta yang mungkin sudah penasaran, dari tadi ngomong ‘tuntutan’, ‘tuntutan’ melulu.. emang kayak apa sih tuntutannya? Maaf saya enggak bisa menjabarkannya di sini, karena: (1) kepanjangan (2) tindakan mempublikasikan hal tersebut secara detil hanya akan menambah kesulitan saya seandainya entry ini dibaca oleh pihak-pihak tertentu. (I know, I know.. 'kalo takut ngapain ditulis?!') Ya maabbb… :)

Thursday, April 26, 2007

Kenalkan, Pahlawan Saya.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih SMP kalau nggak salah -- lagi senang-senangnya menggandrungi bintang film Asia dan membeli berbagai majalah yang memuat profil mereka – saya menemukan artikel mencengangkan tentang sepasang gadis kembar siam yang hidup dengan satu tubuh.

Waktu itu, nama mereka hanya ditulis sebagai Evy dan Betty. Tidak ada keterangan lain, yang ada hanya uraian mengenai kisah sepasang keajaiban ini -- yang tidak terlalu panjang karena mereka masih berumur 5 tahun. Tulisan dan foto-foto di sana sangat menyentuh hati sehingga saya menyimpan majalah itu secara terpisah. Bertahun-tahun kemudian kecintaan saya terhadap aktor-aktor Asia memudar, sehingga saya menyingkirkan koleksi majalah yang berdebu itu. Tapi artikel tentang Evy dan Betty tidak saya buang. Saya simpan dan masih ada hingga kini.

Selama bertahun-tahun, saya senang mengeluarkan potongan artikel itu, membacanya ulang, mengamati foto-foto di dalamnya, dan mereguk berbagai inspirasi dari kehidupan sepasang kembar yang unik ini.
Salah satu yang paling menyentuh hati saya adalah komitmen mereka untuk tidak mau dipisahkan melalui operasi. Kenapa? Karena jika pembedahan dilakukan, salah satu di antara mereka akan meninggal, dan yang lainnya hidup cacat.

Mereka ingin tetap bersama selamanya. Gadis-gadis cilik ini tahu mereka tidak akan pernah lepas dari tatapan (bahkan celaan) orang, namun toh mereka ingin terus menjelang hidup. Mereka punya cita-cita dan impian layaknya gadis-gadis kecil lain, dan mereka ingin menggapainya berdua.

Selama itu juga, berkali-kali saya bertanya dalam hati, gimana kabarnya ya mereka sekarang?
Masih hidupkah, atau sudah… ah, saya tidak mau memikirkan itu. Mudah-mudahan mereka masih hidup, dan tentunya sudah beranjak besar. Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi, lebih baik saya tidak usah tahu. Karena saya ingin mereka tetap eksis dalam ingatan saya. Saya ingin tetap merengkuh inspirasi dari dua bocah yang lucu-lucu itu.

Semalam, ketika menunggu seorang teman di warnet, iseng-iseng saya membuka e-mail.
Ada 1 e-mail yang membuat jantung saya berdegup lebih kencang. Judulnya ‘Girl With Two Heads’. Saya membuka e-mail tersebut, dan langsung menemukan jawaban atas rasa penasaran saya selama bertahun-tahun.

Itu dia. Evy dan Betty.
Mereka masih hidup, dan sudah tumbuh dewasa.

Selama beberapa menit saya hanya memelototi gambar-gambar pada attachment dengan kegembiraan meluap-luap. Hanya 3 kata itu yang berulang kali singgah di otak saya: Mereka masih hidup.

Nama sepasang kembar siam itu Abigail Loraine Hensel dan Brittany Lee Hensel. Mereka tinggal di Amerika Serikat dan tahun ini genap berusia 17 tahun. Bocah imut-manis-menggemaskan yang saya lihat di artikel itu sudah menjelma jadi gadis remaja yang cantik dan percaya diri.

Saya menatap mata mereka. Di situ masih tersimpan harapan yang sama; mereka akan terus menjelang kehidupan berdua. Tak terpisahkan.

Ketika kembali ke rumah, dengan ‘kalap’ saya mengconnect internet dan membuka Google. Saya menemukan lebih banyak foto (yang langsung saya save di PC dengan eforia berlebihan) dan terus memandanginya. Tersenyum-senyum mirip orang gila dan mengamati foto-foto itu seolah saya bisa bicara pada mereka.

Evy dan Betty –bukan, Abigail dan Brittany--, teruslah hidup. Teruslah memberi inspirasi. Kita tidak saling kenal, namun kalian telah menularkan semangat dan makna baru dalam diri saya. Saya ingin kalian tetap hidup. Bahagia berdua, selamanya, sampai maut menjelang.”

Akhirnya, saat hendak mengetikkan beberapa address untuk memforward email tersebut, saya tercenung.
Saya menghapus judul yang tertera di sana --‘Girl With Two Heads’—dan menggantinya dengan ‘Two Heads, One Body’.

Abigail dan Brittany bukan hasil rekayasa alam yang gagal; juga bukan ‘makhluk aneh’ yang layak dijadikan tontonan. Mereka sama seperti saya; seperti kita semua.
Yang membedakan hanya, mereka telah belajar arti kehidupan sebelum Anda dan saya memahaminya.















Lala, makasih ya atas kiriman e-mailnya. You've been such a blessing to me! :)

Wednesday, April 18, 2007

Badai Pasti Berlalu

Kalimat itulah yang saya ketikkan di SMS untuk menguatkan seorang sahabat yang sedang gundah.
Setelah berkali-kali disakiti oleh orang yang disayanginya, akhirnya ia mengambil keputusan tegas untuk berpisah. Bukan hal yang mudah bagi sahabat saya. Walau tidak banyak bicara, saya tahu ia terluka.

Kalimat itu juga yang diucapkan seorang teman kala saya meneleponnya sambil menangis, akhir Oktober lalu. Saya masih ingat betul apa yang ia katakan: “Badai pasti berlalu, enggak mungkin selamanya. Setelah ini akan ada kesenangan, juga badai-badai lain...

Saya mengingatnya seperti baru kemarin, karena kalimat itu selalu terngiang di benak saya saat menghadapi berbagai masalah yang sulit diatasi; yang sering kali membuat sedih, kesal, kecewa, bahkan frustrasi (hayyyahh...).

Sahabat saya terpaksa melepaskan orang yang disayanginya karena ada terlampau banyak luka dan masalah yang tidak terselesaikan di antara mereka berdua. Saya yakin, sangat menyakitkan berpisah dengan orang yang sekian waktu lamanya ia sayangi dan percayai dengan segenap hati. Namun, seandainya sahabat saya tetap berpegang pada rasa 'sayang'nya, badai itu (mungkin) tidak akan berlalu dari hidupnya.

Kadang ada badai yang tidak bisa kita hindari, betapapun kita mencoba menangkisnya.
Kadang ada airmata yang tetap luruh, betapapun kita mencoba menahannya.
Kadang ada peristiwa tidak enak yang terjadi, betapapun kita mencoba menghindarinya.
Dan kenyataan tetaplah kenyataan, betapapun kita mencoba mengingkarinya.

Dalam kasus sahabat saya, keputusannya untuk berpisah-lah yang akan menyelamatkannya dari badai yang lebih besar. Dalam kasus Anda maupun saya, mungkin dibutuhkan cara penanganan dan perspektif yang berbeda.

Apapun itu, tetap dibutuhkan sebuah pengambilan keputusan.

Saya tidak mengatakan pengambilan keputusan Anda akan membebaskan Anda dari badai tersebut sepenuhnya; namun setidaknya, Anda akan terhindar dari badai-badai lain yang lebih besar. Itu kalau Anda mengambil keputusan dengan benar.

Sahabat saya memilih untuk mengesampingkan perasaan emosionalnya, menilik dengan bijak dan mengambil keputusan yang tepat.
Hal yang sama bisa kita lakukan.
Anda dan saya.
Pertanyaannya, maukah kita?

Saya membaca penggalan kalimat itu sekali lagi, dan sambil nyengir menambahkan kalimat berikutnya:
'at least, bersyukur bahwa pembawa badai itu sudah tersingkir'.

Saya membaca SMS tersebut untuk terakhir kali, tersenyum dan menekan tombol ‘send’.



Tuhan tidak pernah berjanji langit akan selalu cerah.
Namun justru saat langit tidak cerah, kita bisa melihat pelangi.


Monday, April 9, 2007

Semalam Bersama Sahabat

Mau nangis.
Itu yang saya rasakan beberapa hari ini. Entah karena PMS yang mulai menggila, entah karena banyaknya pressure (halah, pressure!) yang akhir-akhir ini rasanya tidak pernah berhenti menghantui (bo, ada apa sih dengan bahasa gue?)

Pagi ini, seorang teman menemui saya dengan pesan dari atasan:
“Nanti sore, kita semua ke rumah duka rame-rame.” (ada rekan yang ayahnya meninggal, dan malam ini diadakan ibadah penghiburan terakhir)

Oh, no. OH, NO.

Saya paling anti dengan 2 tempat itu: rumah sakit dan rumah duka.
Entah kenapa. Mungkin sebagian disebabkan ‘trauma’ yang saya alami saat Ibu tercinta sakit (dan akhirnya meninggal) karena kanker.
Mungkin sebagian karena saya memang nggak suka aja dengan ‘hawa’ kedua tempat itu -- yang selalu penuh kesedihan dan rasa takut.
Pokoknya, saya ogah ke rumah sakit, apalagi ke rumah duka.
Mendingan saya diajak ke mall, pantai, atau luar negeri, daripada harus ke 2 tempat itu! *eh, salah ya?!*

Saya mencoba bernego dengan atasan.
Mulai dari alasan ‘kemaleman’, sampai jurus paling mutakhir yang (saya sangka) ampuh: Salah Kostum!!! (hari ini saya memakai kemeja warna merah ngejreng. Cari gara-gara aja kan, ngelayat pakai kostum begituan)

Usaha saya gagal. Saya tetap harus ikut.
Dan jadilah, kami sekantor beramai-ramai ke rumah duka.

Entah sugesti atau bukan, trauma saya langsung kambuh begitu melihat ruangan yang didekor putih itu. Semua kenangan muncul ke permukaan, dan saya mencoba meredamnya begitu rupa demi tidak kelihatan ’aneh’. Tidak mudah melakukannya, apalagi saat duduk di deretan kursi untuk mengikuti kebaktian. Mengingatkan saya betapa dulu saya harus duduk di tempat serupa setiap hari, selama Ibu disemayamkan. Berjabat tangan dengan para pelayat dan berusaha tetap tegar di depan semua orang. Menabahkan diri untuk tidak menangisi kepergian beliau, padahal saya sama hancurnya dengan Ayah dan adik saya. Saya tidak menangis. Saya berhasil tersenyum pada semua orang. Saya bahkan bisa tertawa. Saya hanya menangis di kamar, saat sendirian dan semua lampu sudah dimatikan. Tidak ada yang tahu, hanya saya dan Sahabat saya.

Hari ini, ketika saya duduk di sana dengan peti jenazah hanya beberapa meter di depan saya, semua kenangan itu muncul lagi. Saya merasa tersiksa.

Selama khotbah disampaikan, saya hanya mendengarkan tanpa sekalipun memandang wajah si pembicara. Saya bergumul dengan diri saya sendiri: trauma saya, kesedihan saya, ketakutan saya.
Begitu khotbah selesai, saya meraih tas dan pulang. Saya tidak sanggup tinggal lebih lama.

Selang beberapa jam, setelah merasa nyaman di kamar sendiri, saya menyalakan komputer. Ada deadline yang harus saya selesaikan, dan ada beberapa email yang belum sempat saya baca. Saya mengconnect ke internet, dan sambil menunggu inbox Yahoo! terbuka, saya iseng masuk ke blog djeng ini.

Ada entry baru di sana. Judulnya ‘Jatuh Cinta Pada Sahabat’.
Saya membaca, terus membaca, dan tidak bisa berhenti sampai kalimat terakhir.

Saya terdiam lama. Dan menangis.

Selama beberapa menit saya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memelototi entry tersebut. Saya kembali ke Yahoo!, namun otak saya blank. Saya tidak tahu harus membuka email yang mana, membaca yang mana, membalas yang mana. Asli, blank. Akhirnya saya kembali ke halaman tadi, dan terus membacanya. Menikmati setiap kalimatnya, menghayati keteduhannya, dan (lagi-lagi) menangis.

Alangkah mellownya saya malam ini.
Tapi, mellow yang ini berbeda dari mellow-mellow kemarin.
Saya merasa hangat sekaligus sejuk pada saat yang sama.

‘Jatuh Cinta Pada Sahabat’ telah membuat saya jatuh cinta lagi.

Akhirnya, saya memutuskan untuk melupakan sejenak semua beban (dan deadline) yang menghimpit.
Itu bisa menunggu.
Malam ini, saya ingin bersama Sahabat tercinta.

Draw me close to You
Never let me go
I lay it all down again
To hear You say that I’m Your friend

You are my desire
No one else will do
Cause nothing else could take Your place
To feel the warmth of Your embrace

Help me find the way
Bring me back to You

You’re all I want
You’re all I’ve ever needed
You’re all I want
Help me know You are near


Makasih ya djeng Okke, buat inspirasinya... :))

Song lyrics by: Kelly Carpenter

Saturday, March 24, 2007

Nothing Beats the Warmth of A Happy Family



Sepupu-sepupu heboh yang selalu saya kangenin...



Ponakan tersayang yang sumpah cakep banget!




Kakak-kakak sepupu & Nenek tercinta. I love you forever.. :)


JENUH. Mungkin itu kata yang paling pas untuk menggambarkan perasaan saya 2 minggu terakhir ini. Setelah berbulan-bulan begadang (hampir) setiap hari hingga lewat tengah malam demi memenuhi deadline, berusaha menyaring ide walau otak sedang butek dan mengumpulkan inspirasi meski pikiran sedang penat, saya sampai pada 1 titik: SAYA BUTUH REFRESHING.

Kebebasan sejenak dari deadline yang menumpuk.
Penyegaran setelah sekian bulan begadang demi mengumpulkan ide segar dan menyatukan mood -- yang terkadang malah bikin saya lebih penat dari sebelumnya.

Hal pertama yang singgah di otak saya: LIBURAN.
Yang kedua: PANTAI.
Pantai yang bersih, hangat dan sepi, dengan pasir putih lembut dan laut biru tenang, seluas mata memandang.

Saya membayangkan suara debur ombaknya.
Saya membayangkan senangnya berjalan di atas butiran pasir halus.
Saya membayangkan nikmatnya ‘terisolasi’ sejenak dari segala rutinitas yang menjemukan.
Saya membayangkan bahagianya terbebas (sementara) dari lingkungan yang (kadang kala) begitu penuh basa-basi, tawa dibuat-buat, dan image yang dijaga selangit.
Saya tidak anti dengan itu semua. Saya menghormati mereka yang melakukannya. Tapi kali ini saya bosan dan penat. Saya ingin memisahkan diri, sebentar saja. Saya ingin bisa merasa nyaman tanpa perlu ‘terusik’ dengan polah di sekitar saya. Saya ingin sendiri. Cuma saya, dan diri saya.

Ketika seorang sahabat menceritakan niatnya liburan ke Bandung saat long weekend, langsung saja saya minta ikut. Lumayan, pikir saya. Biarpun bukan pantai, at least saya tetap bisa menghirup segarnya udara luar kota, tidak perlu terus-terusan mengisap hawa Jakarta yang penuh polusi, dan bisa menyegarkan pikiran bersama soulmate tersayang ini. Jadilah kami membuat perencanaan dengan semangat: mau berangkat hari apa? Naik apa? Jam berapa? Nginap di mana? Mau ke mana aja? Ngapain aja selama di sana? ... dan banyak lagi.

Semalam, Nenek saya tercinta berulangtahun ke-75, dan dirayakan di restoran sederhana di Jakarta Pusat. Saya ikut hadir, walau sebagian pikiran masih terfokus pada deadline dan lebih banyak ‘pongo’ selama perjalanan. Begitu sampai di tempat, kami tidak bisa langsung menikmati hidangan (jangan tanya kenapa, ‘rusuh’ lah pokoknya ;p), dan walau sempat ngomel-ngomel karena kelaparan, akhirnya saya dan para sepupu memutuskan untuk menerima dengan lapang dada...
*halaah tuh bahasa*
Yang ada, kami jadi ngobrol seru sambil bercanda-canda gila, saling nyela, ketawa heboh tanpa ujung pangkal. Lupa umur, lupa diri. Kegilaan terus berlanjut ketika makanan datang dan kami mulai bersantap. Suasananya agak kacau untuk ukuran pesta makan-meja yang (seharusnya) formil, tapi sangat menyenangkan.

Nenek, yang semalam tampil jauh lebih muda -baru nyemir rambut bo..- tampak bahagia. Wajahnya berbinar-binar. Katanya, senang melihat cucu-cucunya sudah besar dan dewasa (lah...? Nggak tau aja kerusuhan di meja pojok...). Juga tidak lupa menyelipkan wejangan yang selalu diwanti-wanti pada setiap cucu perempuan: “Cepet dapet jodoh, laki-laki yang baik, yang sayang sama kalian. Popo (sebutan kami untuknya) pengen lihat kalian pada kawin…”

Acara berakhir dengan tiuplilin-potongkue-fotopakeHP-salingtransferviabluetooth yang heboh.
Waktu bergulir sangat cepat dalam derai tawa dan kehangatan (kok gue berasa kayak Ebiet sih nulis beginian).
Saat itu, barulah saya sadar, betapa saya merindukan kenyamanan seperti ini…

Rasa nyaman yang tidak bisa ditukar dengan banyaknya senyum basa-basi. Rasa nyaman yang tidak bisa diciptakan dengan image yang dijunjung tinggi. Tidak juga dengan uang sebanyak apapun, dan liburan kemanapun.

Malam itu, saya pulang dengan secercah kehangatan.
Ternyata yang saya butuhkan bukanlah pantai.
Bukan juga udara sejuk luar kota.
Penyegaran itu datang dari kehangatan sebuah keluarga.
Kebahagiaan itu muncul dari cinta tulus yang tidak mengenal syarat.

Saturday, March 17, 2007

Semut Merah Kupret

Kemarin, waktu lagi asyik-asyiknya mencermati laporan stok produk di ruangan manajer (yang harus direvisi karena kecerobohan saya – darn!), mendadak saya digigit semut merah.

Sakitnya nggak seberapa, kayak disuntik zaman TK (doooh!), dan semutnya juga langsung mati tertindih lengan saya. Tapi gatalnya… duh.

I began to scratch, and couldn’t stop. Bekas gigitan yang tadinya hanya bentol kecil, mulai membesar. Akhirnya saya mengoleskan minyak kayu putih dan belagak bego.

Things gone smoothly, saya menyelesaikan tugas-tugas hari itu, pulang, mandi, makan, de-el-el – samasekali lupa tentang si bentol. Sampai tadi pagi saya bangun, dan mendapati –OH, NO— bentol tersebut sudah berubah jadi bengkak merah yang guatelllll tenan...

Setelah mengoleskan minyak tawon (yang katanya manjur untuk mengobati segala jenis gigitan serangga – you can write it down… in case ^_^), saya misuh-misuh sejenak sambil mengamati bengkak. Awalnya, semua kesalahan tentu saja ditimpakan pada semut kampret itu. Lalu saya mikir, “Ah sudahlah, udah mati juga. Mungkin gigitannya ini adalah upaya terakhir membela diri sebelum ‘game-over’ ketimpa.”



Kalau melihat dari sudut pandang si semut (yang mungkin sekarang lagi nyukurin saya dari ‘alam sono’), kayaknya ia pantas berbangga hati, karena perjuangannya yang terakhir ini tidak sia-sia – bahkan bisa dibilang membanggakan.


I admired that stupid ant, though.
Badan seuprit itu, gigitannya bisa bikin bengkak kayak gini

’Tuk si semut merah: semoga berbahagia di alam sana… jangan kirim teman-temanmu, ya!