Thursday, December 14, 2006

Obrolan Tentang Rumah


Matius 7:25.

Tidak perlu buka Alkitab dulu, karena saya enggak akan membahas ayat di sini. Saya hanya tertarik pada 3 kata di dalamnya: hujan, banjir, dan angin. Gembala Sidang saya merumuskan definisi ketiga kata ini dengan fantastis: Hujan = serangan yang ditujukan kepada atap; Banjir = serangan yang ditujukan kepada fondasi; Angin = serangan yang ditujukan kepada dinding. Karenanya, kita perlu memiliki atap, fondasi, dan dinding rohani yang kokoh. Hebat euy, pikir saya. Sederhana, tapi bikin ‘melek’.

Saya tinggal di kompleks perumahan kecil di pinggiran Jakarta Barat, nyaris terkucil dari peradaban -- mengingat tidak satu pun supir Bluebird (yang pool-nya di luar Jakarta Barat) mengetahui eksistensi pemukiman sederhana ini. Kenapa saya bilang sederhana? Wong airnya masih air tanah. Keruh kecokelatan dan membuat acara mandi jadi menyebalkan. Tidak ada fasilitas apapun, kecuali lapangan basket dan taman yang ditata seadanya. Rumah saya tidak besar, tidak mewah. Terletak di ujung gang, yang bikin maling ogah masuk saking terpencilnya. Tapi saya bersyukur, karena kami sekeluarga aman di dalamnya. Terlindung dari panas terik. Mau hujan enggak masalah, mau banjir silakan, mau badai hayuk.

Kalau ditanya, maukah punya rumah yang lebih gede? Tentu saya akan menjawab IYA (memangnya siapa yang enggak mau?) Tapi sebelum Yang Di Atas menganugerahi hunian yang lebih ‘wah’, terlebih dulu saya harus puas dengan apa yang ada sekarang. Dan daripada berangan-angan tentang enaknya tinggal di pemukiman elit Pondok Indah, lebih baik saya berfokus pada remeh-temeh seperti: memperkuat fondasi rumah, menambal retakan dinding, memulas warna tembok yang sudah pudar, dan memperbaiki atap yang bocor. KENAPA? Karena seperti yang Mas Matius (dan Gembala saya) bilang; atap, fondasi, dan dinding adalah 3 hal utama yang menentukan kokoh-tidaknya sebuah bangunan.

Hujan, banjir, dan angin adalah fenomena alam yang familiar dengan kehidupan manusia (kita belum ngomong badai, tsunami, angin puyuh, bahorok, puting beliung, dan gunung meletus, lho). Dengan kata lain, setiap orang pasti mengalami 3 hal tersebut. Minimal, Anda dan saya pernah ngerasain yang namanya kehujanan dan masuk angin. Kita enggak akan bisa mencegah hujan datang, karena emang udah kodratnya hujan pasti turun. Selama hukum alam masih berlaku, kita boleh yakin hujan akan senantiasa turun, angin bertiup, banjir melanda. Yang jadi pertanyaan bukanlah bagaimana cara meredakan fenomena alam tersebut, melainkan cara ‘mempertahankan rumah’ dan ‘melindungi diri’ agar tidak kebasahan dan kedinginan.

HOW?? Lagi-lagi sederhana. Kalau kita tidak bisa mencegah hujan datang, lebih baik pasang genteng yang kokoh. Kalau kita tidak bisa menghentikan angin bertiup, jangan punya dinding gedhek (itu lho, anyaman bambu). Kalau kita tidak tinggal di kawasan bebas banjir, sediakan budget untuk meninggikan fondasi rumah. Lebih baik mengeluarkan 5 juta untuk membangun fondasi, daripada 5 milyar untuk membangun rumah di atas fondasi seharga 500 ribu. Nilai sebuah rumah tidaklah lebih dari harga beton dan semen yang dipakai untuk membuat fondasinya. Dan sebagus-bagusnya rumah, siapa yang mau beli kalau atapnya dari rumbia??

Sebelum Tuhan mempercayakan rumah mewah di kawasan Menteng, mari bersyukur dengan sepetak hunian yang menjadi berkat kita saat ini. Pastikan fondasi, atap, serta dindingnya terbangun dengan kokoh. Minimal, cukup untuk melindungi kita dari terpaan hujan, banjir, dan angin. Kalau atap dan fondasi yang sekarang aja belum kuat, ngapain punya rumah 5 milyar?

p.s: ‘rumah’ di sini hanya metafora. Bentuk implisitnya? Monggo direnungkan :)

2 comments:

Anonymous said...

Build your foundation on solid Rock :)

Meiggy said...

wuah Jen, postingannya bagus sekali.hehehe.
Jen, buat tagboard jadi bisa ngobrol2 ria. oh iya, kalo jenny mau ganti skin blog, saya bersedia membantu.tenang, tulus kok.hehehe.
aku link ya blog Jenny.

GBU