Thursday, June 21, 2007

I Am Different, and I Am Proud Of It.

Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung sekilas keinginan saya untuk menjadi relawan di daerah konflik pada seorang teman. Sambil cengar-cengir, saya berkata, “Seru lho, mau ikutan gak?”

Ia menatap saya lekat-lekat, dengan pandangan aneh dan kening berkerut, lalu bertanya “Ngapain?!” dengan intonasi meninggi. Padahal sumpah, itu ajakan biasa yang saya lontarkan dengan ringan.

Bagi saya, tidak ada yang aneh dengan keinginan itu. Saya sendiri mendengar tentang hal ini dari seorang kawan yang sudah melakukannya lebih dulu. Kawan saya kecanduan dengan pengalaman dan pencerahan yang didapatnya saat menjadi relawan. Cerita-ceritanya sangat menggugah, dan menurut saya, sama sekali tidak ada yang salah dengan keputusan untuk mengabdikan diri sesuai panggilan hati – entah itu menjadi relawan, misionaris, biarawati, atau apapun.

Tidak ada yang salah dengan itu, karena setiap orang terlahir dengan tujuan berbeda. Passion yang dimiliki tiap orang pun berbeda-beda, dan saya menghormati keragaman dalam hidup –apapun bentuknya- sebagai sesuatu yang menjadikan dunia ini kaya warna. Hidup ini indah karena berbagai rasa dan warnanya, saya selalu percaya itu.

Sejujurnya, saya sering merasa ‘berbeda’. Saya senang mempertanyakan hal-hal yang jarang dipikirkan (bahkan dilirik) orang lain. Saya mempertanyakan ‘konsep ideal’ yang berlaku di masyarakat. Saya mempertanyakan siklus kehidupan. Saya mempertanyakan implikasi banyak hal, dalam banyak hal (opo toh ‘ki? ^_^). Saya senang dengan segala sesuatu yang membangkitkan rasa penasaran, menggugah nalar dan membedah nurani. Saya tertarik pada hal-hal yang dapat menawarkan alternatif baru dalam menilik makna kehidupan. Saya suka menggali arti tersembunyi dari segala sesuatu; dari yang jelas sampai tidak jelas, penting sampai tidak penting.

Tapi seiring bertambahnya waktu, pelan tapi pasti, saya mulai merasa diri ini ‘aneh’. Kenapa? Karena saya ‘lain sendiri’. Saya berbeda, dan terasing dalam perbedaan itu.

Berkali-kali saya menerima respon tidak enak -bahkan dari orang-orang terdekat saya- semata karena pemikiran saya tidak bisa mereka terima.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas hal ini. Sebagaimana saya melihat keragaman sebagai sesuatu yang indah, saya pun menghargai setiap perspektif yang dimiliki masing-masing individu – termasuk usaha mereka untuk mempertahankan ‘keyakinan’ tersebut. Mungkin tatapan aneh, kernyitan dan komentar menusuk yang saya terima hanya salah satu usaha untuk menjaga apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Tapi, di sisi lain, batin saya mulai ‘terusik’. Jadi berbeda ternyata tidak sepenuhnya enak.

Saya harus siap menghadapi tentangan dari lingkungan yang tidak sepaham. Satu-satunya cara untuk meminimalkannya adalah dengan bicara sesedikit mungkin, agar tidak perlu memancing perdebatan maupun respon bernada aneh. Dan memang itulah yang saya lakukan. Namun akibatnya, saya merasa ‘terpenjara’; bahkan untuk sekedar membuka mulut pun harus dipikir seribu kali dulu. Kebebasan mengutarakan pendapat mulai menjadi sesuatu yang istimewa, karena kesempatan seperti itu jarang saya dapatkan.

Tapi, efeknya adalah, saya jadi mulai meragukan ‘keyakinan’ saya sendiri. Dulu saya tahu saya berbeda, dan tidak ambil pusing dengan fakta itu. Saya merasa nyaman dengan keberadaan dan pemikiran-pemikiran saya, yang seringkali tidak sejalan dengan kebanyakan orang. Saya percaya diri, dan saya bangga. Sekarang kepercayaan diri itu mulai goyah, dan kebanggaan menjadi mahal.

Rasa frustrasi itu perlahan merambat naik. Memberitahu bahwa ‘ada yang tidak beres’ dengan diri saya. Menyadarkan bahwa tentangan-tentangan yang saya alami disebabkan oleh ‘kekeraskepalaan’ saya untuk bertahan menjadi berbeda. Menantang nalar saya dengan pertanyaan, ‘Mau sampai kapan seperti ini?’.

Sungguh, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Menyerah dan berkompromi? Ikut menganut paham yang diyakini orang-orang lain? Turut mengamini konsep ideal yang berlaku di masyarakat? Menyerah pada tuntutan lingkungan dan mengubah jalan berpikir saya? … menjadi sama seperti kebanyakan orang?

Konflik batin itu berhenti hari ini, ketika saya menerima jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan pada seorang kawan melalui pesan pendek, “Menurut lo, gue ini aneh gak sih?”

Jawabannya datang dalam sebuah kalimat simpel.

“Kalo lo mikir lo aneh, maka aneh lah elo. :)”

Kesederhanaan itu membuat saya terdiam. Iya, rasanya seperti ditampar.

Selama ini, saya merasa diri saya ‘aneh’ karena tidak bisa memenuhi tuntutan lingkungan sosial untuk bertransformasi –menjadi sama- seperti mereka.

Ternyata saya salah.

Saya merasa aneh, karena saya mengizinkan pikiran saya berkata “Kamu aneh.”

Saya merasa abnormal, karena saya membiarkan benak saya teracuni dengan intimidasi.

Saya merasa tertekan, karena secara tidak langsung saya membiarkan tekanan itu menghimpit diri saya.

Padahal, sebenarnya semua berada dalam ‘kendali’ saya.

Orang boleh memiliki persepsi berbeda, bertindak sesuka hati dan mengatakan apapun yang mereka mau tentang saya, tapi pembentukan citra diri saya yang sesungguhnya tidak bergantung pada semua itu.

Saya adalah sebagaimana yang saya pikirkan.

Pesan pendek itu masih terasa menampar hingga detik saya menuliskan kalimat ini. Namun bedanya, kini saya terbebas dari himpitan konflik batin.

Saya unik.

Saya berbeda, dan saya bangga dengan perbedaan itu.


*Dipersembahkan bagi semua orang yang ‘terasing’ karena berbeda. Tidak ada yang
salah dengan itu, karena setiap perbedaan menciptakan warna yang memperkaya
keindahan dunia. Jadi, mari berbagi pencerahan ini. Kita unik karena kita
berbeda
. :)

1 comment:

Paula said...

Saya melihat kebesaran Allah dalam perbedaan. Keunikan setiap individu menyatakan kreatifitas dan kecerdasan dan betapa 'luasnya' Sang Pencipta. 'Penyeragaman' adalah perbuatan manusia,bukan Allah. Kita memuliakan Allah dalam ekspresi dari keunikan diri kita. Kita unik. Kita BEBAS. Dan kita DICIPTAKAN UNTUK BERBAHAGIA.